Senin, 20 April 2015

Inspirasi: Dibandingkan atau Daripada?

"Kak, menurut Kakak kalimat ini benar atau salah: Elysa lebih menyukai daging sapi daripada  ayam. Ada yang salah nggak kira-kira, Kak?" tanya Okta pada suatu pagi nan indah.
"Dagingnya kurang?" tebakku.
"Salah! Bukan masalah dagingnya, Kak. Coba perhatikan lagi ya: Elysa lebih menyukai daging sapi daripada ayam."
"Oooh...lebihnya yang salah?" tebakku lagi.
"Salah, Kak. Gini loh, memangnya Ayam suka daging?"
"Maksudnya, Dek?"
"Memangnya Ayam suka makan daging?"
"Emangnya siapa yang bilang Ayam suka makan daging, Dek?" tanyaku masih tak mengerti.
Lalu, aku merenungi kalimat tadi lagi. Dan, sesaat kemudian barulah aku terkekeh-kekeh.
"Aneh kan, Kak?ahhaaha. Seharunya, Elysa lebih menyukai daging dibandingkan ayam. Karena, "dibandingkan" itu adalah untuk membandingkan 2 objek yang setara kedudukannya, Kak. Sedangkan kalau "daripada" itu artinya membandingkan 2 subjeknya."
"Hemmm....masuk akal, Dek! Wah, ngeri nih kalau ngomong sama orang Bahasa. Banyak kena kritik kita bah! haha."

Body Taller Program

Membuka mata di sisi Lia. ^_^
Setelah sholat Subuh dan menggemakan ayat-ayat agung, aku melanjutkan film New York yang baru semalam ku tonton. Takjub! Luar biasa banget. Film ini mengisahkan tentang FBI yang salah kaprah menyiksa muslim dari berbagai negara yang tinggal di New York dan menuduh mereka sebagai pelaku pemboman gedung WTC, 11 September 2003. Ah, aku miris. Samir terpaksa menjadi teroris untuk membalaskan dendamnya, sakit hatinya dan memperjuangkan hak-hak saudara muslimnya untuk melawan penindasan. Omar, sahabat lamanya terpaksa harus menyelidiki kebenaran sahabatnya yang dicurigai FBI memiliki jaringan teroris. Maya, istrinya yang ternyata tahu pekerjaan suaminya itu sangat ingin suaminya berhenti. Tapi, bagaimana caranya ia menghentikan sementara suaminya tidak pernah bercerita dan dirinya pun harus tetap seperti tidak tahu apa-apa. Akhirnya, FBI kembali melakukan kesalahan dengan menembak Samir dan Maya ketika Samir telah menyerahkan diri. Intinya, membalas kejahatan dengan kejahatan juga hanya akan melahirkan kejahatan-kejahatan selanjutnya. Ah, islam demikian damainya maka kita seharusnya mampu menjadi agen muslim yang baik (kutipan kalimat di film 99 cahaya di Langit Eropa).

Siasat tanpa sesat

Rencana dirancang bukan sembarang. Adalah bahagia yang selalu dituju. Adalah sedih sakit senantiada ditepis. Adakah Tuhan demikian iya kepada pinta kita? Tidak! Ia akan berikan 2 2nya. Hanya hati tak buta yang pandai meretas makna. Sebab, tiadalah tersia kecuali rencana kita.

April 20th 2015, di Kamar Ungu