Aku pernah mendengar kalimat ini; Sains itu mengasah ketajaman pemikiran sedangkan seni itu mengasah ketajaman rasa. Di antara hikmah menulis dengan gaya santai itu adalah melmbutkan hati. Alhamdulillah, di beberapa kondisi kritis aku udah merasakan efeknya. Mungkin aku bisa aja marah dan berapi-api, tapi ketika itu justru marahku seketika berubah jadi kalimat-kalimat indah di dalam hati. Bukan sedang memikirkan tentang kondisi yang tak diharapkan itu, tapi berusaha menyaring amarah dengan menerjemahkannya ke dalam pengertian yang lebih santun. *agak rempong ya kalimatnya? hehe. Yang jelas, kebiasaanku menulis dari hati ini membuatku lebih bis amenekan amarah, meski pun nggak selalu juga sih, tapi setidaknya lumayanlah dibanging duluku yang dipenuhi sakit hati, keegoan tak bertepi dan amarah yang tak bisa ditandingi! Alhamdulillah, sekarang aku jadi seolah punya banyak alasan untuk nggak marah serta merta. Seni telah mengajarkanku cara menyaring ampas perasaan!
"El! bangunlaah. Udah jam setengah 5 loh!"
Ntah ini upaya Rini yang keberapa untuk membangungkanku. Aku menggeliat,
"Duluan ajalah sahurnya Riinn. Aku cepat nyaa makannya."
"Aku udah makan kok weee!"
"Hah? Seiruslah? Emangnya ini jam berapa?"
"Jam setengah 5! Cepatlah!"
Seketika, suara lantunan ayat Al-Quran mulai terdengar. Aku sudah pasti lebih terkejut dari biasanya (cara bangunnya). Cuma cuci muka, cuci tangan dan langsung hap hap hap.... Takut lahapku didahului oleh azan.
"El! bangunlaah. Udah jam setengah 5 loh!"
Ntah ini upaya Rini yang keberapa untuk membangungkanku. Aku menggeliat,
"Duluan ajalah sahurnya Riinn. Aku cepat nyaa makannya."
"Aku udah makan kok weee!"
"Hah? Seiruslah? Emangnya ini jam berapa?"
"Jam setengah 5! Cepatlah!"
Seketika, suara lantunan ayat Al-Quran mulai terdengar. Aku sudah pasti lebih terkejut dari biasanya (cara bangunnya). Cuma cuci muka, cuci tangan dan langsung hap hap hap.... Takut lahapku didahului oleh azan.

