Aku pernah mendengar kalimat ini; Sains itu mengasah ketajaman pemikiran sedangkan seni itu mengasah ketajaman rasa. Di antara hikmah menulis dengan gaya santai itu adalah melmbutkan hati. Alhamdulillah, di beberapa kondisi kritis aku udah merasakan efeknya. Mungkin aku bisa aja marah dan berapi-api, tapi ketika itu justru marahku seketika berubah jadi kalimat-kalimat indah di dalam hati. Bukan sedang memikirkan tentang kondisi yang tak diharapkan itu, tapi berusaha menyaring amarah dengan menerjemahkannya ke dalam pengertian yang lebih santun. *agak rempong ya kalimatnya? hehe. Yang jelas, kebiasaanku menulis dari hati ini membuatku lebih bis amenekan amarah, meski pun nggak selalu juga sih, tapi setidaknya lumayanlah dibanging duluku yang dipenuhi sakit hati, keegoan tak bertepi dan amarah yang tak bisa ditandingi! Alhamdulillah, sekarang aku jadi seolah punya banyak alasan untuk nggak marah serta merta. Seni telah mengajarkanku cara menyaring ampas perasaan!
"El! bangunlaah. Udah jam setengah 5 loh!"
Ntah ini upaya Rini yang keberapa untuk membangungkanku. Aku menggeliat,
"Duluan ajalah sahurnya Riinn. Aku cepat nyaa makannya."
"Aku udah makan kok weee!"
"Hah? Seiruslah? Emangnya ini jam berapa?"
"Jam setengah 5! Cepatlah!"
Seketika, suara lantunan ayat Al-Quran mulai terdengar. Aku sudah pasti lebih terkejut dari biasanya (cara bangunnya). Cuma cuci muka, cuci tangan dan langsung hap hap hap.... Takut lahapku didahului oleh azan.
Sempat ngeblog setelah sholat Subuh sebelum akhirnya tewas sampai pukul...
"El! Woy! Udah jam setengah sembilan loh!"
ALAMAK! Lama betul aku tertidur rupanya. Padahal akunya nggak niat loh, cuma keceplosan doank tadi. Laptop sedang dipake sama empunya, nggak mungkin aku bilang kalau aku mau ngeblog. Paling-paling Rini akan jawab lagi: Bacalah buku-buku itu! Beli buku tapi nggak dibaca. Tapi, alhamdulillah aku dapat kesempatan juga waktu si Rincuy nyuci piring dan mandi. hihiii.
Jam 10.00wib aku siap-siap untuk memenuhi rencana mengadakan care and share buat adik-adik di FKIP seputar penulisan cerpen. Yudi dan Romcek udah ku mintai untuk ngisi pagi ini. Tapi, suasana pagi ini memang begitu menggoda, semilir dibersamai gerimis. Siapa pun pasti tergoda untuk melelap. Aku sms Yudi tapi nggak dibalas-balas. Ah, pasti perkataannya semalam benar, dia bakal tertidur pagi karena nonot bola semalam. Romcek juga nggak dibalas-balas. Semalam cuma mc bentar ntar apa pula maksudnya. Ah, aku juga paling males pergi dan bersiap-siap untuk sesuatu yang nggak maksimal. Siap-siap, ngeluarin motor, perjalanan ke FKIP dan ditambah masa tunggu kalau disubstitusikan ke tulisan udah menghasilkan 3 halaman A4 juga tuh coy!
Aku terus saja mengetik sampai Romi ngabarin bahwa dia terjebak hujan dan Yudi baru bangun tidur. Fine! ini udah jam 11 lewat. Kayaknya emang nggak ada juga yang datang sih pesertanya soalnya nggak ada yang ribut nanyain nih. Ah, jadi atau nggak pun nggak ngaruh apa-apa sih buat aku. alu jadi ya tinggal pergi, kalau nggak jadi aku lanjut nulis, hehe.
"Tadi malam ada suara yang aneh nggak?" tanya Rini.
"Kayaknya nggak ada. Soalnya aku lebih cepat tidurnya dan ngidupin musik juga pas ngetik. Jadi nggak terlalu jelas deh."
Resiko orang yang bergadang emang kayak gitu. Kemarin malamnya, aku denger suara2 aneh di samping kamar, menjalar ke tanggga dan ke lantai 2. nggak lama menjelma jadi suara gemericik air dan berderit seperti suara tempat tidur yang digeret. Aku takut sebenarnya, tapi nggak terlalu. Karena insya allah aku punya Allah di sampingku.
"Rin, meja punya si kawan itu ku pake aja kali ya sementar waktu? Biar pewe aku ngetiknya Rin."
"Ya udah, ambil aja. Lagian udah lama kan di depan pintu kamar itu. Kalau kak Dewi emang mau make kan pasti udah dipindahinnya ke kamarnya."
Meja itu adalah milik sudah tidak di sini lagi. Kalau dia tahu aku meminjamnya (meski pun memang sengaja ditinggal di sini), mungkin dia tidak akan mengizinkannya. Atau, kalau pun itu mungkin terjadi, akulah yang lebih tidak berniat untuk meminjamnya kepadanya. Setelah niat bulat untuk membawanya ke kamar, eh ternyata mejanya udah nggak ada lagi ditempatnya. Aku nanya ke adik di kamar sebelah dan dugaannya adalah dipindahkan kak Dewi. Ah, memang nggak rezekiku. Ya Allah, hamba sangat butuh meja itu loh! Udah sejak lama sebenarnya hamba menginginkannya. Tapi, selalu aja berfikir sekian kali untuk membelinya. Yah, namanya anak kos, paling-paling nulisnya di atas tempat tidur doank sambil dipangku hehehe.
Laptop kembali dikuasai pemiliknya sejak sebelum Zuhur sampai sebelum Ashar. Huh, rempongnya kalau numpang-numpang ngetik pake laptop tetangga ni yaaa. Mau gimana lagi? Kalau nggak diangsur-angsur, ntar kewajibanku semakin menumpuk dan ide-ideku berserakan. Tadi, Rini sempat bilang gini: "Mau nulis apa lagi? Blog? Alah, bukannya ada yang mau diceritakan pun. Kan El nggak kemana-mana hari ini." Nah, yang mau ku ceritakan itu sebenarnya tetap ada walau pun hari ini nggak kemana-mana. Terutama cerita tentang Okta Loreng.
"kak, kawan Kakak itu sedang demam loh!" Okta, semenjak MAWAPRES kemarin selalu ngatain aku 'diikuti' sesuatu. Dan, betapa terkejutnya aku kali ini ketika Okta berkata demikian.
"Adek!!! Udah ah, mainnya. Kakak nggak mau dengarrr! Lagian yang demam itu kakk Rini loh bukan yang aneh-aneh itu."
"Nah, Kak Rini itu demam karena terkontaminasi dia Kak. Dia sekarang dekatnya dengan kak RIni, karena Kakak selalu nyuekin dia. Katanya, kak Rini itu lucu orangnya."
"Adeek...Udah ah, kak Nggak mau dengar!"
"Kak Rini sedang baring di samping Kakak kan? ( ku jawab: iya), rambut kak Rini terurai kan? (ku jawab: iya), rambut Kakak sedang diikat kan? (ku jawab: iya). Nah, dia sedang duduk di antara kalian berdua, Kak."
"Adeeeeeekkkk," pekikku.
"Kak, Kakak nggak boleh lupa bahwa kita nggak hidup sendirian loh Kak. Ada makhluk lain juga yang hidup berdampingan dengan kita. Nah, selama mereka nggak mengganggu, biarlah! Kak, setelah kejadian ada darah di sepatu Kakak kemarin, Kakak ada merasakan hal yang aneh nggak, Kak?"
"Nggak ada tuh! Biasa aja."
"Ya karena Kakak orangnya cuek dan nggak memperhatikan hal-hal itu, makanya Kakak nggak merasakan apa-apa."
Setelah telvon ditutup, giliran Rini yang penasarn dengan apa yang udah ku obrolkan dengan Okta.
"She is following you and closer to you rather than me. She is fever now and she contaminate you on this condition. She like you more because you are funny," jelasku kepada Rini. Mata Rini membelalak dan aku juga jadi ngeri-ngeri sedap, hhee.
"Rin, mengenai obrolan kita kemarin tentang si Jodoh, aku tiba-tiba aja menyimpulkan bahwa kita sebenarnya hanya ingin mendapatkan orang yang visioner, punya tujuan hidup yang jelas. Nggak hanya seperti air yang mengalir aja."
"Hemmmm...araasoooh."
"Bukan maksud kita kejam untuk mengajukan pertanyaan semacam itu ke dia, tapi justru karena kita sangat peduli dengan kehidupan yang matang dan dewasa. Ya nggak cuy?"
"Bener-bener-bener."
Hari ini, selain ngeblog dan baca buku, aku juga mendesain blognya Teguh. Dia cemburu ternyata ketika kemarin aku mamerin blognya Yudi yang baru kubuatkan. heeh. Ya aku mana tahu kalau dia pun mau didesainkan blognya. Aku fikir dia udah dangat fix dengan desain dari temannya itu. hikssss. Karena aku adalah Emak yang adil dengan kasih sayang terhadap anak-anaknya, maka siang ini ku buatkan yang terbaik untuknya. Seperti yang lainnya (Lia, Santi, Okta, Joni, Andin, Yudi, Tian) aku pun memberikan bonus berupa kata pengantar di halaman utama. Ini sedekah sekaligus keharusan, tujuannya supaya aku bisa mendesain tampilan tulisan dan judul postingannya sekaligus.
Alhamdulillah, Teguh suka dan katanya Amazing banget blognya sekarang, heeh. Syukurlah! Oh ya, bang Saide ngomen statusku yang tulisannya; Gerakan One people One Blog. Beliau menyarankan untuk mengubah blogspot.com menjadi .com atau .net dibelakang link-ku. Aku sih Yes kala itu GRATIS. Meski pun cuma Rp 89.000 setahun kata bang Saide, tapi yang jadi soal adalah isi blogku memang bukan tulisan-tulisan ilmiah (kalau alasannya untuk meningkatkan Ucer Accaptance). Karena, kalau orang mau cari rujukan untuk menulis ilmiah mah emang bukan di sini tempatnya.
"Rin, blogku memang tidak menyajikan DATA, tetapi blogkku menyajikan RASA," kataku belagak kayak host SILET. hehee
"Aku ingin menyajikan cerita-cerita jujur, sederhana dan tanpa keangkuhan di sini Rin. Setiap orang bisa membacanya dan mengambil hikmahnya. Itu saja. Kadang, aku pernah merasa minder ketika membuka link-nya orang-orang hebat, misalnya kak Fani. Wah, pasti si Kakak ini ngeri nih tulisannya, ntah apalah ya prestasi dia dan keluarbiasaannya yang belum aku tahu? Belum apa-apa kita kadang udah minder duluan. Nah, aku nggak mau pembacaku merasa seperti itu, Rin. Aku ingin menyajikan sesuatu yang sederhana dan jauh dari keangkuhan. Aku ingin membuat mereka nyaman dengan tulisan-tulisanku dan ketagihan terus untuk membacanya lagi dan lagi."
Untuk menu bebukaan, aku dan Rini beli mie goreng Brebes di jalan Manyar Sakti. Empet lihat si abang di depan warung, udah ku teriakin tapi dianya nggak noleh karena keasyikan ngobrol dengan penjual baru yang mangkal di depan warung. Aku jadi teringat masa-masa itu, tapi sekejap saja. Karena, ada perih yang tak tersembuhkan ketika ku usik kembali kenangan komplit itu. Azan bergema ketika kami masih separuh perjalanan,
"Nggak usah lah beli jus Rin, lama nunggunya. Kita minta air putih aja di tempat abagn Brebes untuk buka ya."
Eh, ternyata si Rincuy pesen minas. Ya syudah deh. Eh, btw kami selalu langganan beli di sini karena selain rasanya enak, banyak dan abangnya ramah. Bukankah setiap pembeli senantiasa mengharapkan hal-hal demikian? Sekejap saja, pesanan kami udah selesai dan lanngsung ku tarik gas.
"Rini tahu nggak asal-usul breakfast itu apa maknanya?"
Rini diam aja. Aku tahu, dia sok-sok ngambek karena jusnya nggak ku kabulkan tadi.
"Ciyeee..marah dank! Ya udah, marahlah sampai kamu puas. Tapi dengerin aku ya, hehe. Jadi, breakfast itu artinya adalah buka puasa. Orang-orang barat itu menganggap nggak makan sejak setelah makan malam sampai sarapan pagi itu adalah masa puasa. Jadi, breakfast itu artinya buka puasa."
"Ohh gittuu."
Aku mampir mendadak waktu ngelewatin Pro Computer untuk ngambil casan.
"Nggak bisa lagi diperbaiki Kak. Banyak kali konsletnya. Pas pula di tempat lalu lintas arus listriknya itu."
Otaku langsung berfikir keras, gimana caranya aku beli casan yang baru dengan uang sendiri tanpa minta lagi sama mami. Nggak mungkin kan aku terus-terusan minjam laptopnya si Rincuy.
"Oh, mampi ke tukang service sempat. Tapi, belikan jus aku aja nggak sempat? Oh jadi gitu?"
Tapi, ke-ngambekannya Rini sirna seketika aku ngebut di jalanan tanah yang bikin dia terpaksa harus memgang pinggangku sambil teriak-teriak. haha, tuh kan nggak bisa marah lagi! wekkk! Ah, tapi orang-orang di ujung jalan semen tadi mungkin terkejut juga mendengar suara hentakan motorku yang main hantam aja. Rini selalu ngatain motorku ntar pada rontok bautnya kalau caraku mengendarainya tetap kayak gitu. huaaahhhh.
Malam ini ditutup dengan curhat colonganya Okta.
"Kak, ntah apa yang aa di diri Kakak ya. Kenapa Okta selalu nggak bisa nolak ajakan Kakak. Ikut Duta Bahasa ini contohnya, kak Vivien dan bang Hendra itu udah berbuih-buih nyuruh Okta ikut tapi Okta selalu nolak. Ya Allah Kak, andaikan aja kita sama-sama menang Kak, mari kita dedikasikan diri kita untuk Balai Bahasa ini Kak. Ayoklah Okta ajarkan Kakak juga nyiar berita dan Radio. eheemmm... Semoga aja kita bisa mempersiakan semuanya dengan matang ya Kak."
"Amiin Dek. Eh, KPNnya gimana nih? Kalau emang besok terakhir ngantarin berkasnya, kayaknya rempong deh Dek. Soalnya persyaratannya lumayan juga, ada surat aktif kuliah, surat keterangan sehat juga, SKCK dan proposal kebaharian. Nah, proposal aja Kakak belum kefikiran Dek. Masa Kakak pakai proposal yang tahun kemarin juga?"
"Hah? Jadi Kakak udah pernah ikut?"
"Udah Dek. ini adalah kali ketiga, kalau jadi."
"Kak, Kakak pernah nggak terfikir bahwa kekalahan Kakak itu bukan karena prestasi Kakak rendah. Ibarat kata, presatasi Kakak itu udah bisa diunggulkan tapi Kakak nggak terpilih itu karena pakaian Kakak. Pernah nggak terfikir hal itu Kak?"
"Pernah Dek. Ini Kakak sedang ngelihatin foto 4 orang delgeasi Riau ke Raja Ampat tahun lalu. Mereka pakai baju Melayu berwarna pink, pakai songket. Ceweknya pakai jilbab tapi dimasukkan ke dalam bajunya. Kaka berfikir, kalau Kakak diposisi itu, bisakah Kakak menolaknya? Karena Dek, menari itu udah pasti ditampilkan setiap berlayar, Dek. bang Hendra juga pernah bilang bahwa tarian itu adalah representasi dari seluruh unsur budaya."
"Hal inilah Kak yang sangat mengganjal di kepala okta. Kami pernah belajar sejarah tentang budaya dan seluruh wilayah Asia Tenggara adalah Melayu. Indonesia juga seluruhnya adalah Melayu kecuali Papua, Kak. Jadi, semua suku-suku di Indonesia ini pasti punya rujukan Adat Bersendi Syarak, Syarak Beersendi Kitabullah. Khususnya orang Melayu Riau, baju kurung perempuannya itu sebnarny awajib berjilbab. Sudah jelasdi Al-Quran bahwa wanita itu wajib berjilbab dan menutupi dadanya. Sedangkan, yang ditusuk-tusuk sunting itu bukan jilbab Kak, itu jaring-jaring aja yang membalut kepala. Bukan Jilbab, Kak. Nah, sekarang pertanyaannya adalah: benarkah adat bersendi syarak ataukah syarak bersendi adat? Kalau nulis artikel, Okta pengen nulis itu dengan judul; Polemik Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah."
"Dekkkkk, Adek ituuu udah cocok banget loh jadi Duta Bahasa. Wawasan Adek tentang bahasa itu udah luas banget loh. Bahkan Kakak harus berguru dlu nih sama Adek sebelum hari H. Allah itu udah mempersiapkan tahun ini sebagai milik Adek. Tinggal Adeknya mau menjemput atau nggak. Kalau nggak ya rezekinya buat orang lain lagi deh."
"Ya Allah Kak, aamiin. Kak, gimana kalau KPN-nya kita cancle dulu? Kita fokus ke Duta Bahasa dulu ya Kak. Semoga bisa maksimal dan langkah untuk ikut KPN tahun depan jadi semakin mudah. aamiin. Okta teringat seseorang pernah bilang ingin ke Okta; sebelum mengikuti kegiatan, kita harus bersedekah terlebih dahulu dan minta restu dari kedua orang tua sekalipun orang tua kita nggak ngerti tentang apa yang kita ikuti. Insya Allah besok waktu Okta pulang, Okta akan pamitan dengan orang uta Okta Kak dan kalau ibu nanya, Okta akan jelaskan. Kakak ingat nggak siapa yang ngomong kayak gitu Kak?"
"Ingat donk! Si anu kan?"
"Anu siapa ni? Itu Kakak yang bilang loh Kak dan Okta nggak pernah lupa itu."
Rasanya, kalau dikumpulin, nasehat-nasehat yang direkam dan diingat baik oleh Okta pasti sangat banyak jumlahnya. Terhadap nasehatku aja udah banyak banget yang diakui selalu diingatnya. Belum lagi nasehat dari kak Vivien dan bang Hendra serta yang lainnya. Kemarin juga Okta bilang gini;
"Kak, Okta selalu terngiang kata-kata kakak yang ini; Dek, selesaikanlah dulu diri kita sebelum kita menyelesaikan urusan yang lebih besar! Dan, Kakak bilang bahwa Kak Vivien itu adalah orang yang udah menyelsaikan urusan dengan dirinya. Dia adalah Kakak yang penyayang, rendah hati, ramah, nggak sombong. Kak, Okta akan berusaha menyelesaikan diri Okta sebelum Okta diberikan Allah nikmat lain yang besar di depan sana, Kak! Insya Allah."
"El! bangunlaah. Udah jam setengah 5 loh!"
Ntah ini upaya Rini yang keberapa untuk membangungkanku. Aku menggeliat,
"Duluan ajalah sahurnya Riinn. Aku cepat nyaa makannya."
"Aku udah makan kok weee!"
"Hah? Seiruslah? Emangnya ini jam berapa?"
"Jam setengah 5! Cepatlah!"
Seketika, suara lantunan ayat Al-Quran mulai terdengar. Aku sudah pasti lebih terkejut dari biasanya (cara bangunnya). Cuma cuci muka, cuci tangan dan langsung hap hap hap.... Takut lahapku didahului oleh azan.
Sempat ngeblog setelah sholat Subuh sebelum akhirnya tewas sampai pukul...
"El! Woy! Udah jam setengah sembilan loh!"
ALAMAK! Lama betul aku tertidur rupanya. Padahal akunya nggak niat loh, cuma keceplosan doank tadi. Laptop sedang dipake sama empunya, nggak mungkin aku bilang kalau aku mau ngeblog. Paling-paling Rini akan jawab lagi: Bacalah buku-buku itu! Beli buku tapi nggak dibaca. Tapi, alhamdulillah aku dapat kesempatan juga waktu si Rincuy nyuci piring dan mandi. hihiii.
Jam 10.00wib aku siap-siap untuk memenuhi rencana mengadakan care and share buat adik-adik di FKIP seputar penulisan cerpen. Yudi dan Romcek udah ku mintai untuk ngisi pagi ini. Tapi, suasana pagi ini memang begitu menggoda, semilir dibersamai gerimis. Siapa pun pasti tergoda untuk melelap. Aku sms Yudi tapi nggak dibalas-balas. Ah, pasti perkataannya semalam benar, dia bakal tertidur pagi karena nonot bola semalam. Romcek juga nggak dibalas-balas. Semalam cuma mc bentar ntar apa pula maksudnya. Ah, aku juga paling males pergi dan bersiap-siap untuk sesuatu yang nggak maksimal. Siap-siap, ngeluarin motor, perjalanan ke FKIP dan ditambah masa tunggu kalau disubstitusikan ke tulisan udah menghasilkan 3 halaman A4 juga tuh coy!
Aku terus saja mengetik sampai Romi ngabarin bahwa dia terjebak hujan dan Yudi baru bangun tidur. Fine! ini udah jam 11 lewat. Kayaknya emang nggak ada juga yang datang sih pesertanya soalnya nggak ada yang ribut nanyain nih. Ah, jadi atau nggak pun nggak ngaruh apa-apa sih buat aku. alu jadi ya tinggal pergi, kalau nggak jadi aku lanjut nulis, hehe.
"Tadi malam ada suara yang aneh nggak?" tanya Rini.
"Kayaknya nggak ada. Soalnya aku lebih cepat tidurnya dan ngidupin musik juga pas ngetik. Jadi nggak terlalu jelas deh."
Resiko orang yang bergadang emang kayak gitu. Kemarin malamnya, aku denger suara2 aneh di samping kamar, menjalar ke tanggga dan ke lantai 2. nggak lama menjelma jadi suara gemericik air dan berderit seperti suara tempat tidur yang digeret. Aku takut sebenarnya, tapi nggak terlalu. Karena insya allah aku punya Allah di sampingku.
"Rin, meja punya si kawan itu ku pake aja kali ya sementar waktu? Biar pewe aku ngetiknya Rin."
"Ya udah, ambil aja. Lagian udah lama kan di depan pintu kamar itu. Kalau kak Dewi emang mau make kan pasti udah dipindahinnya ke kamarnya."
Meja itu adalah milik sudah tidak di sini lagi. Kalau dia tahu aku meminjamnya (meski pun memang sengaja ditinggal di sini), mungkin dia tidak akan mengizinkannya. Atau, kalau pun itu mungkin terjadi, akulah yang lebih tidak berniat untuk meminjamnya kepadanya. Setelah niat bulat untuk membawanya ke kamar, eh ternyata mejanya udah nggak ada lagi ditempatnya. Aku nanya ke adik di kamar sebelah dan dugaannya adalah dipindahkan kak Dewi. Ah, memang nggak rezekiku. Ya Allah, hamba sangat butuh meja itu loh! Udah sejak lama sebenarnya hamba menginginkannya. Tapi, selalu aja berfikir sekian kali untuk membelinya. Yah, namanya anak kos, paling-paling nulisnya di atas tempat tidur doank sambil dipangku hehehe.
Laptop kembali dikuasai pemiliknya sejak sebelum Zuhur sampai sebelum Ashar. Huh, rempongnya kalau numpang-numpang ngetik pake laptop tetangga ni yaaa. Mau gimana lagi? Kalau nggak diangsur-angsur, ntar kewajibanku semakin menumpuk dan ide-ideku berserakan. Tadi, Rini sempat bilang gini: "Mau nulis apa lagi? Blog? Alah, bukannya ada yang mau diceritakan pun. Kan El nggak kemana-mana hari ini." Nah, yang mau ku ceritakan itu sebenarnya tetap ada walau pun hari ini nggak kemana-mana. Terutama cerita tentang Okta Loreng.
"kak, kawan Kakak itu sedang demam loh!" Okta, semenjak MAWAPRES kemarin selalu ngatain aku 'diikuti' sesuatu. Dan, betapa terkejutnya aku kali ini ketika Okta berkata demikian.
"Adek!!! Udah ah, mainnya. Kakak nggak mau dengarrr! Lagian yang demam itu kakk Rini loh bukan yang aneh-aneh itu."
"Nah, Kak Rini itu demam karena terkontaminasi dia Kak. Dia sekarang dekatnya dengan kak RIni, karena Kakak selalu nyuekin dia. Katanya, kak Rini itu lucu orangnya."
"Adeek...Udah ah, kak Nggak mau dengar!"
"Kak Rini sedang baring di samping Kakak kan? ( ku jawab: iya), rambut kak Rini terurai kan? (ku jawab: iya), rambut Kakak sedang diikat kan? (ku jawab: iya). Nah, dia sedang duduk di antara kalian berdua, Kak."
"Adeeeeeekkkk," pekikku.
"Kak, Kakak nggak boleh lupa bahwa kita nggak hidup sendirian loh Kak. Ada makhluk lain juga yang hidup berdampingan dengan kita. Nah, selama mereka nggak mengganggu, biarlah! Kak, setelah kejadian ada darah di sepatu Kakak kemarin, Kakak ada merasakan hal yang aneh nggak, Kak?"
"Nggak ada tuh! Biasa aja."
"Ya karena Kakak orangnya cuek dan nggak memperhatikan hal-hal itu, makanya Kakak nggak merasakan apa-apa."
Setelah telvon ditutup, giliran Rini yang penasarn dengan apa yang udah ku obrolkan dengan Okta.
"She is following you and closer to you rather than me. She is fever now and she contaminate you on this condition. She like you more because you are funny," jelasku kepada Rini. Mata Rini membelalak dan aku juga jadi ngeri-ngeri sedap, hhee.
"Rin, mengenai obrolan kita kemarin tentang si Jodoh, aku tiba-tiba aja menyimpulkan bahwa kita sebenarnya hanya ingin mendapatkan orang yang visioner, punya tujuan hidup yang jelas. Nggak hanya seperti air yang mengalir aja."
"Hemmmm...araasoooh."
"Bukan maksud kita kejam untuk mengajukan pertanyaan semacam itu ke dia, tapi justru karena kita sangat peduli dengan kehidupan yang matang dan dewasa. Ya nggak cuy?"
"Bener-bener-bener."
Hari ini, selain ngeblog dan baca buku, aku juga mendesain blognya Teguh. Dia cemburu ternyata ketika kemarin aku mamerin blognya Yudi yang baru kubuatkan. heeh. Ya aku mana tahu kalau dia pun mau didesainkan blognya. Aku fikir dia udah dangat fix dengan desain dari temannya itu. hikssss. Karena aku adalah Emak yang adil dengan kasih sayang terhadap anak-anaknya, maka siang ini ku buatkan yang terbaik untuknya. Seperti yang lainnya (Lia, Santi, Okta, Joni, Andin, Yudi, Tian) aku pun memberikan bonus berupa kata pengantar di halaman utama. Ini sedekah sekaligus keharusan, tujuannya supaya aku bisa mendesain tampilan tulisan dan judul postingannya sekaligus.
Alhamdulillah, Teguh suka dan katanya Amazing banget blognya sekarang, heeh. Syukurlah! Oh ya, bang Saide ngomen statusku yang tulisannya; Gerakan One people One Blog. Beliau menyarankan untuk mengubah blogspot.com menjadi .com atau .net dibelakang link-ku. Aku sih Yes kala itu GRATIS. Meski pun cuma Rp 89.000 setahun kata bang Saide, tapi yang jadi soal adalah isi blogku memang bukan tulisan-tulisan ilmiah (kalau alasannya untuk meningkatkan Ucer Accaptance). Karena, kalau orang mau cari rujukan untuk menulis ilmiah mah emang bukan di sini tempatnya.
"Rin, blogku memang tidak menyajikan DATA, tetapi blogkku menyajikan RASA," kataku belagak kayak host SILET. hehee
"Aku ingin menyajikan cerita-cerita jujur, sederhana dan tanpa keangkuhan di sini Rin. Setiap orang bisa membacanya dan mengambil hikmahnya. Itu saja. Kadang, aku pernah merasa minder ketika membuka link-nya orang-orang hebat, misalnya kak Fani. Wah, pasti si Kakak ini ngeri nih tulisannya, ntah apalah ya prestasi dia dan keluarbiasaannya yang belum aku tahu? Belum apa-apa kita kadang udah minder duluan. Nah, aku nggak mau pembacaku merasa seperti itu, Rin. Aku ingin menyajikan sesuatu yang sederhana dan jauh dari keangkuhan. Aku ingin membuat mereka nyaman dengan tulisan-tulisanku dan ketagihan terus untuk membacanya lagi dan lagi."
Untuk menu bebukaan, aku dan Rini beli mie goreng Brebes di jalan Manyar Sakti. Empet lihat si abang di depan warung, udah ku teriakin tapi dianya nggak noleh karena keasyikan ngobrol dengan penjual baru yang mangkal di depan warung. Aku jadi teringat masa-masa itu, tapi sekejap saja. Karena, ada perih yang tak tersembuhkan ketika ku usik kembali kenangan komplit itu. Azan bergema ketika kami masih separuh perjalanan,
"Nggak usah lah beli jus Rin, lama nunggunya. Kita minta air putih aja di tempat abagn Brebes untuk buka ya."
Eh, ternyata si Rincuy pesen minas. Ya syudah deh. Eh, btw kami selalu langganan beli di sini karena selain rasanya enak, banyak dan abangnya ramah. Bukankah setiap pembeli senantiasa mengharapkan hal-hal demikian? Sekejap saja, pesanan kami udah selesai dan lanngsung ku tarik gas.
"Rini tahu nggak asal-usul breakfast itu apa maknanya?"
Rini diam aja. Aku tahu, dia sok-sok ngambek karena jusnya nggak ku kabulkan tadi.
"Ciyeee..marah dank! Ya udah, marahlah sampai kamu puas. Tapi dengerin aku ya, hehe. Jadi, breakfast itu artinya adalah buka puasa. Orang-orang barat itu menganggap nggak makan sejak setelah makan malam sampai sarapan pagi itu adalah masa puasa. Jadi, breakfast itu artinya buka puasa."
"Ohh gittuu."
Aku mampir mendadak waktu ngelewatin Pro Computer untuk ngambil casan.
"Nggak bisa lagi diperbaiki Kak. Banyak kali konsletnya. Pas pula di tempat lalu lintas arus listriknya itu."
Otaku langsung berfikir keras, gimana caranya aku beli casan yang baru dengan uang sendiri tanpa minta lagi sama mami. Nggak mungkin kan aku terus-terusan minjam laptopnya si Rincuy.
"Oh, mampi ke tukang service sempat. Tapi, belikan jus aku aja nggak sempat? Oh jadi gitu?"
Tapi, ke-ngambekannya Rini sirna seketika aku ngebut di jalanan tanah yang bikin dia terpaksa harus memgang pinggangku sambil teriak-teriak. haha, tuh kan nggak bisa marah lagi! wekkk! Ah, tapi orang-orang di ujung jalan semen tadi mungkin terkejut juga mendengar suara hentakan motorku yang main hantam aja. Rini selalu ngatain motorku ntar pada rontok bautnya kalau caraku mengendarainya tetap kayak gitu. huaaahhhh.
Malam ini ditutup dengan curhat colonganya Okta.
"Kak, ntah apa yang aa di diri Kakak ya. Kenapa Okta selalu nggak bisa nolak ajakan Kakak. Ikut Duta Bahasa ini contohnya, kak Vivien dan bang Hendra itu udah berbuih-buih nyuruh Okta ikut tapi Okta selalu nolak. Ya Allah Kak, andaikan aja kita sama-sama menang Kak, mari kita dedikasikan diri kita untuk Balai Bahasa ini Kak. Ayoklah Okta ajarkan Kakak juga nyiar berita dan Radio. eheemmm... Semoga aja kita bisa mempersiakan semuanya dengan matang ya Kak."
"Amiin Dek. Eh, KPNnya gimana nih? Kalau emang besok terakhir ngantarin berkasnya, kayaknya rempong deh Dek. Soalnya persyaratannya lumayan juga, ada surat aktif kuliah, surat keterangan sehat juga, SKCK dan proposal kebaharian. Nah, proposal aja Kakak belum kefikiran Dek. Masa Kakak pakai proposal yang tahun kemarin juga?"
"Hah? Jadi Kakak udah pernah ikut?"
"Udah Dek. ini adalah kali ketiga, kalau jadi."
"Kak, Kakak pernah nggak terfikir bahwa kekalahan Kakak itu bukan karena prestasi Kakak rendah. Ibarat kata, presatasi Kakak itu udah bisa diunggulkan tapi Kakak nggak terpilih itu karena pakaian Kakak. Pernah nggak terfikir hal itu Kak?"
"Pernah Dek. Ini Kakak sedang ngelihatin foto 4 orang delgeasi Riau ke Raja Ampat tahun lalu. Mereka pakai baju Melayu berwarna pink, pakai songket. Ceweknya pakai jilbab tapi dimasukkan ke dalam bajunya. Kaka berfikir, kalau Kakak diposisi itu, bisakah Kakak menolaknya? Karena Dek, menari itu udah pasti ditampilkan setiap berlayar, Dek. bang Hendra juga pernah bilang bahwa tarian itu adalah representasi dari seluruh unsur budaya."
"Hal inilah Kak yang sangat mengganjal di kepala okta. Kami pernah belajar sejarah tentang budaya dan seluruh wilayah Asia Tenggara adalah Melayu. Indonesia juga seluruhnya adalah Melayu kecuali Papua, Kak. Jadi, semua suku-suku di Indonesia ini pasti punya rujukan Adat Bersendi Syarak, Syarak Beersendi Kitabullah. Khususnya orang Melayu Riau, baju kurung perempuannya itu sebnarny awajib berjilbab. Sudah jelasdi Al-Quran bahwa wanita itu wajib berjilbab dan menutupi dadanya. Sedangkan, yang ditusuk-tusuk sunting itu bukan jilbab Kak, itu jaring-jaring aja yang membalut kepala. Bukan Jilbab, Kak. Nah, sekarang pertanyaannya adalah: benarkah adat bersendi syarak ataukah syarak bersendi adat? Kalau nulis artikel, Okta pengen nulis itu dengan judul; Polemik Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah."
"Dekkkkk, Adek ituuu udah cocok banget loh jadi Duta Bahasa. Wawasan Adek tentang bahasa itu udah luas banget loh. Bahkan Kakak harus berguru dlu nih sama Adek sebelum hari H. Allah itu udah mempersiapkan tahun ini sebagai milik Adek. Tinggal Adeknya mau menjemput atau nggak. Kalau nggak ya rezekinya buat orang lain lagi deh."
"Ya Allah Kak, aamiin. Kak, gimana kalau KPN-nya kita cancle dulu? Kita fokus ke Duta Bahasa dulu ya Kak. Semoga bisa maksimal dan langkah untuk ikut KPN tahun depan jadi semakin mudah. aamiin. Okta teringat seseorang pernah bilang ingin ke Okta; sebelum mengikuti kegiatan, kita harus bersedekah terlebih dahulu dan minta restu dari kedua orang tua sekalipun orang tua kita nggak ngerti tentang apa yang kita ikuti. Insya Allah besok waktu Okta pulang, Okta akan pamitan dengan orang uta Okta Kak dan kalau ibu nanya, Okta akan jelaskan. Kakak ingat nggak siapa yang ngomong kayak gitu Kak?"
"Ingat donk! Si anu kan?"
"Anu siapa ni? Itu Kakak yang bilang loh Kak dan Okta nggak pernah lupa itu."
Rasanya, kalau dikumpulin, nasehat-nasehat yang direkam dan diingat baik oleh Okta pasti sangat banyak jumlahnya. Terhadap nasehatku aja udah banyak banget yang diakui selalu diingatnya. Belum lagi nasehat dari kak Vivien dan bang Hendra serta yang lainnya. Kemarin juga Okta bilang gini;
"Kak, Okta selalu terngiang kata-kata kakak yang ini; Dek, selesaikanlah dulu diri kita sebelum kita menyelesaikan urusan yang lebih besar! Dan, Kakak bilang bahwa Kak Vivien itu adalah orang yang udah menyelsaikan urusan dengan dirinya. Dia adalah Kakak yang penyayang, rendah hati, ramah, nggak sombong. Kak, Okta akan berusaha menyelesaikan diri Okta sebelum Okta diberikan Allah nikmat lain yang besar di depan sana, Kak! Insya Allah."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar