“Rin, ternyata dengan menyelesaikan hal-hal kecil, kita bisa
menjadi sangat lega dan bahagia. Tapi, meskipun menurut kita kecil, yang
namanya kewajiban itu ya tetap kewajiban yang harus sesegera mungkin
diselesaikan. Dan, aku sangat lega banget udah melakukan 3 hal tadi.”
“Arasssooohh. Kalau kita tumpuk-tumpuk, justru hal-hal kecil
itu jadi beban berat kan di fikiran.”
“Yuhuuu Riin.”
Aku baru saja menemui bu Tiko untuk menyerahkan sertifikat
dan honor juri MAWAPRES kemarin. Aku juga udah selesai legalisir sertifikat PPL
dan udah memfoto kopi persyaratan bebas Pustaka Wilayah. Yuhuuu… makanya, aku
lega banget sekarang dan mungkin akan menjadi jauh lebih lega kalau aku semakin
cepat menyelesaikan yang lainnya. Karena, dalam hukum KEWAJIBAN, sebenarnya
semua KEWAJIBAN adalah KEWAJIBAN; nggak ada yang besar dan nggak ada yang kecil
karena semuanya WAJIB diselesaikan.
“Lah Rin, motor kita kenapa ini?”
“Habis minyak nggak El?”
Aku langsung mengegas motor ini dengan sisa minyak yang ada.
Setidaknya, kalau memang mogok, motor ini udah sampai barrier gate. Jadi, bisa
minta tolong sama satpamnya cariin minyak hehee…
“Yah, yah, yaaaaaaahhh,” GLEK, baru aja motor berhenti.
Langsung aja, tanpa menunggu pertolongan dari siapa-siapa,
ku dorong motorku sejauh 20 meter menuju penjual bensin. Si satpam yang ku
harapkan itu bahkan tidak menegur kami sama sekali. *Emang siapa kali gue harus
ditegur sama mereka? #Ya kan setidaknya mereka nanya, ‘Kenapa motornya Dek?’
Ini nggak ada sama sekali. *Itu mah, ngarep dot kom namanya. Hihii
“I same you same
ya Rin bayarnya.”
“Ukeeehhh,” jawab Rini.