Selasa, 30 Juni 2015

Ramadhan ke-13; 5 Pisang + 3 Kurma


“El, bangun! Udah jam 4.” Rini menggoyang kakiku dari bawah.
Aku tak bergeming. Ah, baru jam 4 pun, fikirku.
“El, bangun! Cepetan, udah jam 4 lewat haa!.” Sesaat kemudian ia mmbangunkanku lagi.
“Nggak ada makanan loh,” jawabku, malas dan lemas.
“Beli nasi aja ke luar atau beli mie,” jawab Rini tak kalah malas.
“Males ah,” keluhku, jauh lebih malas.
Mending kalau Rini mau nemeni aku ke luar nyari makan, lah dia kan sedang nggak puasa. Males banget jalan kaki sendirian ke depan. Bukannya aku takut sih pemirsaaa, cuma nggak enak aja kan surang-surang. Ehhe *modus.
Tapi, akhirnya aku bangun juga. Teringat dengan sejinjing pisang yang ku bawa pulang semalam dari buka bareng KBL. Aku berniat untuk beli mie aja dengan kak Dewi. Tapi, tiba-tiba aku khawatir kak Dewi akan menagih sesuatu dariku yang belum bisa ku penuhi saat ini. Ah, masa aku ngetuk pintu kamar kak Galih? Segan banget. Atau aku bangunkan aja Rini untuk nolong belikan mie sama kak Dewi? Eh, kasihan banget nih bocah, tidurnya aja sampai menganga gitu. Hemmm.. air di dispenser udah panas pula nih!
Setelah difikir-fikir dan ditimbang-timbang, aku memutuskan untuk sahur dengan pisang dan kurma saja. Sekali-kali coba hal baru ah! Bismillah, berkahi makananku ya Allah dan semoga aku kuat menjalankan puasa besok. Dan… habislah 5 buah pisang dan 3 buah kurma. Itu sudah cukup membuatku kenyang ternyata pemisaaa.

Terlalu Banyak

Terlalu banyak hal yang tak terungkap, tak terjelaskan di antara kita. Bahkan, ada beberapa hal yang sengaja ku biarkan tak terucap demi agar kau tak beralasan menjauhiku.

Juni dalam Misteri 2015

Senin, 29 Juni 2015

Kita yang Baru

"Tahun depan, aku akan menggenapi agama ini."
Sudah ntah kali keberapa kau mengulang hajat itu
Belum tahu siapa yang akan menjadi penggenap memang
Tapi niatmu sudah dulu menggenap
Ingat, kita adalah penunggu penjemput!

Aku berusaha biasa saja mendengarmu
Tapi tak bisa.
Inginmu itu sudah mencederai persahabatan ini
Bukan maksudku itu tak pantas
Bukan
Hanya pasti setiap saat akan berubah jadi resah
Kau bisa meninggalkanku tiba-tiba

Banyak mimpi yang ingin ku raih bersamamu
Tapi kini mungkin tak terlalu lagi
Aku memilih sendiri
Kau sudah punya pilihan sendiri
Tak kan bisa lagi 100% bersamaku di sisi
Kuputuskan menjadi baru, Juni 2015

Nasehat: 2 Pusaka dari Lia


“Sebagai temanmu, aku pengen ngasih tahu beberapa hal Cin. Yang pertama, mu harus belajar memahami respon orang. Pernah kemarin ada orang yang ngadu ke aku bahwa mu marah-marah sama dia padahal hari masih pagi.”
“Hah? Siapa? Cewek atau cowok?” tanyaku.
“Iya, bener Liii. Elysa itu sering salah respon. Orang marah, dikiranya biasa aja. Orang biasa aja, dikiranya marah,” celetuk Rini.
“Cowok. Misalnya nih, mu minta seseorang untuk baca blogmu dan setelah dia baca, mu tanya, ‘Gimana komentarnya?’ dan ternyata dia jawab, ‘Nggak ada komentar’ seharusnya mu nggak perlu marah sama dia. Ooh, ya udah, gitu aja Cin ngeresponnya. Intinya, kita nggak berhak marah kepada orang yang nggak punya tanggung jawab lebih kepada kita. Ya, meskipun kita merasa dekat sama dia atau gimana, tapi itu kan hak dia mau berkomentar atau nggak. Ingat kan kemarin waktu mu marah-marah sama kak **s gara-gara dia tumben nggak mau ngasih komentar ke tulisanmu? Mu pernah bilang bahwa setelah mu marah, mu bisa lupa sama sakit hatimu, tapi mungkin orang itu nggak bisa begitu aja lupa Cin. Hati orang siapa yang tahu Cin?”

Ramadhan ke-12; We Are for Our UR

"Cin, mu mau nggak nemenin aku nggak?” tanya Lia setelah kami sahur.
“Ke mana?”
“Kita jangan tidur ya, temenin aku jalan-jalan pagi yuk?”
“Hemm..tapi aku tidur bentar dulu nggak apa-apa ya?”
“Emmm… jangaaan. Nanti aku ikut-ikutan tidur! Kan ntar aku udah pulang, Cin. Sekali aja kita jalan pagi.”
“Nanti mu udah balik ke asrama?”
“Iya. Kan besok anak-anak udah mulai MOS.”
Aku dan Rini mengamini permintaan Lia. pukul 06.00wib, kami meninggalkan kosan.
“Kan, udah teraaang Cin. Apa ku bilang?” kata Lia.
Kesempatan emas bersama pagi ini nggak kami lewatkan begitu saja. Udara segar dan sejuk menyambut kami romantis sekali. Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya perlahan. Nikmat sekali pagi-Mu ini ya Allah.

Minggu, 28 Juni 2015

Selamat Ulang Tahun Mbak Nyi Astuti

Telah bertambah jarak
Dari muasalnya di titik nisbi
Detk-menit-jam telah jadi saksi
Dalam masa-masa yang kini disebut lalu
Adalah ia kita namai anugerah
Pun ingatan tentang sebuah batas

Juni kali ini jadi tuan ruma ramadhan
Mungkin akan berbeda dengan tahun sebelum dan sesudah
Ini adalah momen yang special bukan?
Aku turut berdoa untuk segala genap bahagiamu
Semoga yang belum akan terwujud
Yang nanti akan segera jadi kini
Yang mustahil akan jadi mungkin

Selalu ku sisihkan waktu untuk berbagi kata di momen sejenis ini
Semoga doamu tetap terbagi untukku, Mbak
Pun aku yang kini tak terlihat secara kasat
Tetap baik dan sejahtera dalam segala masa
Juga bahagia dalam segala ada

Selamat ulang tahun Mbak Nyi
Warm Regards: Elysa, adikmu

Ramadhan ke-11; Menyayangi yang Ada di Sisi


“Emangnya udah jam berapa ini?”
“Setengah 6.”
“Laa illa haillallah!. Astaghfirullahal aziim. Kok bisa nggak terbangun sih? Ya allah.”
“Tulah, aku pun nggak sadar sama sekali.”
“Astaghfirullah. Laa illa ha illallah. Ya ampuuuun, yah, nggak sahur berarti.”
“Cin, bangun, bangun! Udah jam setengah 6 haa.”
Lia mencolek tubuhku. Sebenarnya, tanpa dibangunkan pun aku sudah sadar. Bahkan sejak zikir pertama yang diucapkan Lia ketika kaget.
“Bener kan feelingku semalam? Kuat kali firasatku kalau kita nggak terbangun pagi ini,” kataku dengan mata yang masih menyipit.
“Iya ya Cin? Padahal alarm di atas kepala loh,” tambah Lia.
Hemm..alarmku pun di atas kepalaku Cin, tapi hehe, ya beginilah aku adanya.

Nasehat: Hati-hati dengan Arah Kiblat


“...jadi Pak, Buk, kita itu sholat bukan asal-asalan menghadap aja. Kita harus memastikan, apakah benar arah kiblat kita sudah tepat. Karena, meleset saja kita 1 derajat dari ka’bah, itu sama dengan kita udah bergeser arah sejauh 162km. Tahu Pak, berapa jauhnya 162km itu? Macam dari sini ke Bangkinang, lewat lagi.”
Seluruh jamaah sholat Tarawih manggut-manggut menyimak tausiyah tersebut.
“Haa, mushola ini pun nampaknya salah arah ini. Kiblat itu nggak lurus seperti ini, tapi agak miring sedikit lagi ke kanan. sekarang kan zaman sudah canggih, cobalah cek lewat kompas dari android.”
Sebenarnya, kalau benar arah mesjid ini salah, ada jalan lain selain pembongkaran ulang; yaitu pengaturan arah sajadahnya, bathinku.

Sabtu, 27 Juni 2015

Inspirasi: Targetku mau punya apa?


Ngomong-ngomong tentang FB nih, ada sesuatu yang wonderful tadi pagi. Kak Vivien udah resmi punya rumah baru. Tipenya minimalis. Warnanya abu-abu ada sedikit orangenya. Captionnya; Alhamdulillah, niatku terkabul, bisa punya rumah sendiri sebelum wisuda. Meskipun minimalis, tapi ini adalah hasil jerih payahku sendiri. Aku mau bilang, Selamaaat ya kakak, tapi malah jadinya aku yang ngelamun. Lalu, aku bertanya kepada diri, “Kamu mau punya apa El sebelum wisuda?” Dan, itu nggak terjawab.

Ramadhan ke-10; Utang adalah Penghalang


“Cin, aku dulu waktu SMP suka banget loh ngelacak nomor dan paling seneng banget kalau nyambung dan ternyata itu cowok yang ngangkat. Hihiii.”
“Kayaknya kita semua emang pernah mengalami masa-masa kayak gitu lah ya Cin?”
“Mu jugak ya?”
“Iyaaa.. hhaaha.”
“Tulah. Kadang, ada yang baik dan emang mau berkawan. Tapi kadang ada juga yang nyebelin. Aku sering banget membayangkan wajah si cowok itu, ganteng apa ngga ya? Apalagi kan dulu itu nggak ada FB atau HP yang canggih kayak sekarang buat kirim-kiriman foto. HPku aja dulu jadul banget.”
“Dulu kan adanya Friendster Cin. Udah punya mu dulu?”
“Aku tahu Friendster tu waktu SMA Cin. Itu pun cuma tahu, tapi nggak punya. Hehe.”
“Aku punya dulu pun waktu SMA. Dibikinkan sama teman sekelas. Duh, baik banget mereka tuh!”
Kamu sih semua orang dibilang baik Cin. Kamu emang sesuatu banget bagiku! Anugerah.

Selamat Ulang Tahun Nurul Hikmah

Jika jemariku mampu menyampaikan doa, maka akankah aku tetap diam? TIDAK.
Jadi, aku mau mengucapkan serangkai dan senarai selamat kepadamu, @Nurul hikmah.

Ku sapa 4 tahun dalam Juni yang kini
Selalu tersaji nuansa yang sama
Dalam cerita dan cinta yang beda rasa
Pun aku kepadamu
Kita pernah bernaung dalam cita yang sama
Keseharian yang tak jauh berbeda
Hanya kadang waktu saja yang berjeda

Langit Juni tengah terik, Rul...
Tapi semoga usiamu semakin sejuk
Cita-citamu semakin terapal dan terkepal dalam genggaman
Aku pun begitu
Kita sama
Doakan aku pula

Kemana pun kaki melangkah dalam nanti
Aku memintamu untuk tak pernah melupa padaku
Apalagi kepada-Nya
Sebab, kita adalah penumpang di bumi-Nya
Pejalan di jalanan-Nya
Juga menghirup bebas udara-Nya

Semoga umur baru ini semakin membuatmu ingat
Bahwa yang bermula bisa saja segera berakhir
Yang berlangsung bisa saja usai
Dan yang tidak terduga bisa saja hadir.

Selamat ulang tahun Nurul
Barokallahu fi umrik.^_^
Warm Regards: sahabatmu, Elysa

Jumat, 26 Juni 2015

Kini-Nanti


Mempersiapkan yang nanti
Menyegerakan yang kini
Menantikan kini
Mengkinikan nanti

Juni dalam inspirasi, 2015

Ramadhan ke-9; Bureng Keluarga Besar FLP

Aku terjaga pukul 08.00wib. Bangun perlahan, nyabut cas laptop dan kemudian meneruskan kantuk yang masih tersisa. Barulah aku terbangun lagi pukul 08.30wib. *hoaaammm…  selamat pagi dunia. Seketika, aku teringat akan pak Riadi. Kemarin, beliau menyuruhku datang sebelum pukul 9 kalau mau mengajukan judul. Tapi, kali ini aku benar-benar enggan dulu bertemu dengannya. Aku pernah berkata kepada Rini begini, “Rin, ngerasa ngak sih kalau hari Jumat itu adalah hari yang pendek dan singkat?” Kadang, yang mengecewakan hati itu adalah terlau cepatnya staff pelayanan di kampus itu hengkang sebelum jam kantor usai. Intinya, hari ini aku sedang tidak ingin dikecewakan.
Baju kotor di ember sudah menumpuk. Saatnya aku mencuci baju. Lia bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Katanya mau ngurus ujian TOEFELnya.
“Cin, uangnya udah ada belum?” tanya Lia.
“Udah Cin. Alhamdulillah semalam udah dikirim sama Papi. Bawa aja ATM aku ini, ntar ambil aja. passwordnya…”
“Masa aku yang ngambilin Cin? Mu nggak curiga?”
“Ya enggaklah! Haahha.”
Setelah Lia pergi, aku menunggu rendaman sambil menulis cerpen. Sudah cukup lama rasanya aku tidak menulis cerpen dengan serius. Kemarin siang, aku membaca kumpul cerpen majalah TEMPO dan aku benar-benar dibuatnya terkesima. Itu cerpen keren bingitsss cin. Nggak salah kalau Tempo menerbitkannya. Nah, sekarang aku ingin memanfaatkan nuansa hatiku untuk mengasah cerpen ini. Tokoh utamanya bukan aku, tapi Okta. Aku mengangkat konfliknya dari perpaduan konflikku dan konfliknya. Bismillah..semoga kece badai.

Inspirasi: Fengsui

“Rin, pernah perhatiin nggak warung atau tempat usaha yang direnovasi atau pindah tempat itu biasanya nggak selaris yang awal?”
“Nggak perhatiin tuh. Kenape?”
“Beuh, aku selalu perhatiin Rin. Contohnya warung yang di simpang itu. padahal sekarang semakin bagus tempatnya, semakin mendekat ke jalan lintas, tapi justru semakin sepi aja. Kalau kata orang China, Hongsuinya itu nggak cocok.”
“Fengsui.”
“Oh iya, iya. Hong sui itu acara di TV dulu. Heehe.”
“Percaya nggak percaya sih Rin, tapi kayaknya ada benernya bahwa tata letak rumah kita itu mempengaruhi rezeki kita. Mungkin itu yang disebut KESAN.  Tapi banyak juga kok tempat usaha yang semakin laris manis setelah direnovasi. Yah, tergantung bagaimana hasil dan kualitasnya.”

Kamis, 25 Juni 2015

Jeda


Kau terdiam
Aku juga terdiam
Kita sama-sama terdiam
Ini memang kebiasaan kita; memberi jeda pada rasa untuk memaknai kata

Juni dalam Jeda, 2015

Ramadhan ke-8; "Vera Aja Udah, Masa Kakak Belum?"


Semalam aku sudah bercerita kepadamu tentang keadaan rasaku. Tak berniat awalnya, tapi karena terpancing dengan sebuah cerita bertema kecewa, maka akhirnya lisanku berceloteh juga. Aku menjabarkan (meskipun tersirat) tentang sedikit banyaknya rasa sebenar rasa yang teramat diriku.
Aku menakuti perpisahan sama seperti seorang kekasih yang takut ditinggal pasangannya. Sekalipun kau bukan kekasihku, tapi seperti itulah kekhawatiranku terhadapnya. Kadang, aku tak mengerti, apakah kau tidak pernah tahu rasanya ditinggalkan? Apakah kau tidak pernah dikecewakan harapan? Mungkin pernah. Ya, sebagai seorang manusia, aku fikir keduanya pasti pernah dirasakan. Tapi, ntahlah! Kadang, aku merasa asing ketika bercerita denganmu, terutama saat ini. Setiap bedahan rasaku yang tersunting ke dalam cerita, senantiasa kau pertanyakan: Apakah perasaan seperti itu tidak bisa dikendalikan?, Apakah perasaan seperti itu disengaja atau murni hadirnya? Hey, ini bukan adonan kue yang bisa sesukannya diracik oleh pembuatnya!.

Jika aku bisa memilih, aku tentu tidak ingin memiliki perasaan yang ribet seperti ini. Jujur, aku kelelahan oleh rasaku sendiri. Dulu, waktu kita sedang belajar saling mengenal, aku merasa dirimu lebih hangat dan dekat. Untuk itu, aku sering merasa takut dengan dengan fase lanjutan dari pengenalan. Karena biasanya, di sanalah mulai ku tuai kecewa. Ntah harapanku yang tak tahu waktu, atau memang kau yang tak mengimbangiku? Bahkan secara langsung, kau pun pernah melarangku mengkhawatirkan adamu terhadapku. Detik itu, aku merasa tak berbalas. Bukankah seharusnya kau bahagia ketika ada seseorang yang secara tersirat menunjukkan bahwa ia menyayangimu? Bahkan takut kehilanganmu. Kenapa kau tidak membalasnya saja? Tak mesti dengan berteriak: “Aku juga menyangimuuuuuuuu.” Tak mesti. Yaaa mungkin dengan hanya berkata, “Aku akan tetap di sini, selama waktuku ada.” Sederhana, bukan? Karena kesederhanaan balasan itulah yang sebenarnya ku mau.

Nasehat: Sombong tidak Semata Tentang Harta

Detik ini, aku berfikir tentang sesuatu; ternyata ada banyak hal yang bisa membuat kita sombong, bukan hanya harta. Contohnya; menyombongkan waktu luang. Aku sering beranggapan, ‘Ah, nanti ajalah ngerjainnya. Kan hari ini nggak ke mana-mana, ada waktu yang panjang kok!’ See? Atau yang ini, aku juga sering menyombongkan kemudahan, ‘Gampang tuh nyooo! Nggak usah terburu-buru kali. Nyantai aja.’ Padahal siapa yang tahu apa yang akan berlaku di depan sana? Masih banyak hal lainnya yang bisa disombongkan. Coba pemirsa belajar merenungkan. Banyak banget! Ternyata nggak cuma harta yang bisa menyebabkan kseombongan ya.

Ya Allah, maaaf. Hamba banyak dosaa. hikss

Rabu, 24 Juni 2015

Ramadhan ke-7; Bed Rest Suddently

Bagaimana rasanya menunggu giliran tampil dalam suatu pertunjukan/perlombaan? Tentunya deg-degan ya. Aku pernah merasakannya. Bahkan sering. Tapi yang aku alami kali ini berbeda karena aku sedang menunggu giliran dalam pengajuan judul penelitian. Mungkin nggak akan sebegini berdebarnya kalau kenyataannya aku hanya sendirian di ruang tunggu. Kondisinya sekarang, aku berada di antara teman-teman yang sedang mengajukan diri mengikuti sidang skripsi, atau minimal mengikuti ujian hasil. Lah aku? Baru akan mengajukan judul. Perbedaan ini sangat kontras. Aku seperti orang yang asing dengan proses wajib bagi seluruh mahasiswa ini. Sudah pasti karena selama ini aku memilih berjalan dahulu ke tempat berbeda, ke proses yang lain.
“Eh, Lina itu mau ngajuin apa?”
“Dia mau sidang skripsi lagi El.”
“Ohhhh…”
“Eh, Dian itu mau ujian apa besok?”
“Dia juga sidang skripsi El.”
“Oooohhh. Kalau kamu ujian apa setelah ini?”
“Aku mau ujian Hasil lagi El.”
Aku hanya ber-oooo panjang setiap kali mengetahui proses teman-teman di sekitarku. Ntah sudah sejauh mana selama ini aku melangkah  sehingga aku tidak tahu menahu tentang mereka. lebih tepatnya aku yang tidak mau tahu dan mencari tahu. Ya, tentu saja, bukankah aku sendiri yang memilih untuk berbelok arah dulu? Kini, aku tersadar bahwa ternyata aku tidak pernah benar-benar berlari, jangankan untuk melompat tinggi. Karena, di bahuku ada tugas besar yang belum ku selesaikan dan ku pikul ke mana pergi.

Hitung

Ketika kecewa hati ingin berhitung
Hitung-hitung tentang yang tadinya tak terhitung
Dihitung bukan hanya terhitung
Menghitung hitung jadi enggan terhitung
Takut yang dihitung tak lagi terhitung Penghitung
Akhirnya, hatiku urung berhitung

Juni Dalam Jarak, 24-2015

Parodi: Benarkah Maafmu itu Maaf?


Ada beberapa informasi penting yang ku lihat di FB dan beberapa tulisan yang ku update di blog.  Ada sebuah rasa penasaran ketika membaca status seseorang di FB yang serupa ini, Selamat lebaran ya. Mohon maaf lahir dan bathin, kadang diakhiri dengan namanya dan diikuti label ‘keluarga besar’. Lalu, pertanyaannya adalah, “Benarkah dia menuliskan itu dari hatinya dengan penuh kesadaran? Ia meminta maaf kepada semua orang, berarti dia pun sudah melakukan hal yang sama kepada semua orang, bukan?” Dan, kalau kalimat itu ditulis oleh seseorang yang aku tahu tidak menyukaiku, pertanyaan itu akan bertambah menjadi, “Benarkah statusmu itu pun kau tujukan kepadaku? Tapi kenapa sikapmu tak mencerminkannya?”