Senin, 29 Juni 2015

Nasehat: 2 Pusaka dari Lia


“Sebagai temanmu, aku pengen ngasih tahu beberapa hal Cin. Yang pertama, mu harus belajar memahami respon orang. Pernah kemarin ada orang yang ngadu ke aku bahwa mu marah-marah sama dia padahal hari masih pagi.”
“Hah? Siapa? Cewek atau cowok?” tanyaku.
“Iya, bener Liii. Elysa itu sering salah respon. Orang marah, dikiranya biasa aja. Orang biasa aja, dikiranya marah,” celetuk Rini.
“Cowok. Misalnya nih, mu minta seseorang untuk baca blogmu dan setelah dia baca, mu tanya, ‘Gimana komentarnya?’ dan ternyata dia jawab, ‘Nggak ada komentar’ seharusnya mu nggak perlu marah sama dia. Ooh, ya udah, gitu aja Cin ngeresponnya. Intinya, kita nggak berhak marah kepada orang yang nggak punya tanggung jawab lebih kepada kita. Ya, meskipun kita merasa dekat sama dia atau gimana, tapi itu kan hak dia mau berkomentar atau nggak. Ingat kan kemarin waktu mu marah-marah sama kak **s gara-gara dia tumben nggak mau ngasih komentar ke tulisanmu? Mu pernah bilang bahwa setelah mu marah, mu bisa lupa sama sakit hatimu, tapi mungkin orang itu nggak bisa begitu aja lupa Cin. Hati orang siapa yang tahu Cin?”
“Dengerin tuh El?” semprot Rini lagi.
“Hemmmm…oke, teruss apa lagi nasehatnya nih putri keraton?”
“Yang kedua, fikir-fikir lagi sebelum meluapkan marah. Kira-kira dia ni bakal sakit hati nggak ya kalau aku kayak gini? Kira-kira dia ni orangnya pemaaf nggak ya? Jangan sampek kejadian sama kak **s atau **di terulang lagi Cin. Ya, ini nasehat buatmu dan buatku juga. Karena, aku kan nggak di posisimu, kalau aku berada di posisimu pun ntah juga Cin.”
“Aku bener-bener kecolongan banget dengan mereka berdua itu Cin. Mu bayanginlah, setiap kali aku cerita tentang hal-hal nggak enak ke **di, dia selalu meresponnya dengan enteng; ‘Udahlah, ngapain kayak gitu aja difikirin kali? Mending kita bahas projek kita aja’. See? Kadang, aku udah cerita dengan penuh emosi, supaya dia terpancing juga untuk marah, eh dianya malah tetap cool. Bukan hanya itu Cin Rini nih yang udah bertahun-tahun sekelas sama dia pun bilang gini, ‘Dia itu nggak pernah marah loh El, waktu teman kami ada yang nggak pernah datang latihan nari kan kami marah-marah, eh dia Cuma bilang gini, Ya udah, nanti kalau dia datang kita ajarin aj’ simpel banget kan Cin? Dan, lihatlah apa yang udah dia lakukan kepadaku sekarang? Bedaaaaa Ciiin. Bedaaaaaaa jauuuhh kenyataannya. Kak **a juga gitu, aku kenal dia sejak SMA dan dia adalah orang yang ceria, lucu, ramah, tapi lihat apa yang terjadi kepadaku? Cin, aku belajar satu hal dari 2 orang ini; Kita nggak akan pernah tahu bagaimana dia terhadap kita dan siapa kita bagi dirinya, sebelum kita bersalah kepadanya. Kita baru akan tahu sesudahnya. Dan, aku udah tahu sekarang Cin.”
“Hemmm..bener juga ya Cin. Tergantung hubungan dan kepentingan juga ya Cin?”
“Nah, bener banget tuh. Semarah-marahnya si anu kepadamu mungkin akan berbeda dengan semarah-marahnya si anu kepadaku. Karena antara si anu kepadamu dengan si anu kepadaku berbeda kepentingan Cin. Tapi Cin, kita nggak akan pernah kenal orang baik kalau kita nggak pernah ketemu dengan orang jahat.”
“Ya iyalah Cin. Bener itu.”
“Eh, jadi, nasehatmu untukku tadi apa aja?”
“Yang pertama, belajar memahami respon orang dan yang ke dua, fikir matang-matang dulu sebelum meluapkan marah.”
“Oke deh, terimakasih putri keraton. Aku memang butuh orang sepertimu sebagai penetralku"

Tidak ada komentar: