Selasa, 09 Juni 2015

Dikenal seolah Terkenal

Dia memang tidak terkenal
Tapi ia selalu disebut-sebut
Seolah terkenal
Namanya menyejuki sesiapa pencerita
Dari tutur-sikap-anggun miliknya
Ingin pula dimiliki banyak orang
Dia memang tidak terkenal
Tapi mengenal banyak orang adalah dia
Sehingga dia banyak pengenal pula
Maka jadilah dia dikenal
Dikenal membuatnya lebih dari sekedar terkenal
Juni dalam Itibar, 2015
Tentang Cint

Di Bawah OKURA, Ku Bayar Sebuah Percaya


“El, nih Kak Dila SMS.”
Jadi El ke hotel Dek? Coba tanyakan.
“Aku balas yaa,” Hujannya baru reda Kak, ketikku sambil bersuara.
“Ih, bohong yaaa,” tanya Rini.
“Emang sejak tadi hujan kok!” jawabku. Lagian, Rini pun baru bangun, makanya dia nggak nyadar kalau sejak tadi gerimis.
Bilang sama El ya suruh cepat dia soalnya jam 1 kakak udah check out dari hotel, takutnya nggak terkejar. Udah mandi si bandit itu? heheh
“Rin, masa aku dibilang bandit sama Kak Dila? Yang bandit itu kan Rini. Bukannya akuuu.”

***
Aku sudah sampai di depan MTQ dan segera ku SMS kak Dila. Eh, ternyata dia masih di hotel, ngepak barang karena mau langsung check out katanya. Huft! Akhirnya aku muter lagi. Untung aja nggak jauh-jauh amat jaraknya. Sesampainya di lobi hotel, aku mengabari kak Dila bahwa aku ingin menunggunya di lobi aja, nggak mau naik-naik ke lantai 3, capek karena nggak ada liftnya! Huaahhh…
NEW SEPUPU SATRIA HOTEL
Aku kembali tersenyum menatap plang berwarna ungu di samping hotel ini. Plang itu menandakan bahwa hotel yang dimaksud berada di dalam gang tersebut. Aku tersenyum karena menurutku nama hotelnya unik sekaligus aneh. Semalam, aku pun sudah membahasnya dengan Rini,
“Rin, besok kita bikin hotel yang namanya; RINI ADIK IPAR ELYSA ya?. Ahhaha.”
“Iyuuuuhhh,” jawab Rini, malas.

Nasehat: 2 Guna Waktu

Pada setiap hari di hadapanmu ada saat-saat istimewa di pagi hari, juga di sore hari, serta di saat-saat sahur. Di waktu-waktu itu jiwamu yang bersih bisa meninggi ke langit dan engkau pun bisa mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Di hadapanmu juga ada musim-musim ketaatan, hari-hari untuk ibadah, malam-malam untuk taqarrub, yang telah diajarkan oleh kitab sucimu, juga Rasulmu yang mulia. Maka jadilah engkau di waktu-waktu mulia itu sebagai orang yang banyakak berdzikir, bukan orang yang banyak lalai. Jadilah orang yang banyak beramal, dan bukan orang yang banyak malasnya. Manfaatkanlah waktu, sesungguhnya waktu bagaikan pedang, jangan menunda dan berjanji ‘akan’, karena tidak ada yang lebih berbahaya dari menunda-nunda.
(Hasan Al-Banna)

Tahun adalah batang pohon. Bulan adalah dahan-dahannya. Hari-hari adalah ranting-rantingnya. Jam-jam adalah daun-daunnya. Dan nafas-nafas adalah buah-buahnya. Barangsiapa yang nafas-nafasnya untuk ketaatan, maka buah pohonnya pasti baik. Barangsiapa yang nafas-nafasnya untuk kemaksiatan, maka buahnya pasti pahit. Musim panennya adalah hari pembalasan. Pada saat panen, di situlah akan jelas mana buah yang manis dan mana buah yang pahit. Maka bagaimanakah buah dari umur kita?. Sebelum usia kita berakhir, sebelum segalanya menjadi terlambat, dan agar kita tidak memanen usia dengan buah yang pahit di hari pembalasan, maka tanamlah di lahan-lahan waktu kita dengan pohon-pohon yang baik. Belajarlah kiat-kiat mendayagunakan waktu yang telah dipraktikkan oleh para salaf, generasi awal Islam. Karena mereka telah membuktikan, bahwa tidak ada waktu mereka yang berlalu sia-sia. Waktu mereka selalu terisi dengan ketaatan, kebaikan dan produktifitas.

(Ibnu Qoyyim)
dikutip dari: https://hayunhasanah.wordpress.com/2014/05/08/dua-nasihat-tentang-waktu/