“El, nih Kak Dila SMS.”
Jadi El ke hotel
Dek? Coba tanyakan.
“Aku balas yaa,” Hujannya
baru reda Kak, ketikku sambil bersuara.
“Ih, bohong yaaa,” tanya Rini.
“Emang sejak tadi hujan kok!” jawabku. Lagian, Rini pun baru
bangun, makanya dia nggak nyadar kalau sejak tadi gerimis.
Bilang sama El ya
suruh cepat dia soalnya jam 1 kakak udah check out dari hotel, takutnya nggak
terkejar. Udah mandi si bandit itu? heheh
“Rin, masa aku dibilang bandit sama Kak Dila? Yang bandit
itu kan Rini. Bukannya akuuu.”
***
Aku sudah sampai di depan MTQ dan segera ku SMS kak Dila.
Eh, ternyata dia masih di hotel, ngepak barang karena mau langsung check out
katanya. Huft! Akhirnya aku muter lagi. Untung aja nggak jauh-jauh amat
jaraknya. Sesampainya di lobi hotel, aku mengabari kak Dila bahwa aku ingin
menunggunya di lobi aja, nggak mau naik-naik ke lantai 3, capek karena nggak
ada liftnya! Huaahhh…
NEW SEPUPU SATRIA
HOTEL
Aku kembali tersenyum menatap plang berwarna ungu di samping
hotel ini. Plang itu menandakan bahwa hotel yang dimaksud berada di dalam gang
tersebut. Aku tersenyum karena menurutku nama hotelnya unik sekaligus aneh.
Semalam, aku pun sudah membahasnya dengan Rini,
“Rin, besok kita bikin hotel yang namanya; RINI ADIK IPAR ELYSA ya?. Ahhaha.”
“Iyuuuuhhh,” jawab Rini, malas.
Hemmm… tadi ketika aku memanaskan motor, Okta nelvon dan
ngomong sambil teriak-teriak, “Di mana nyaaaaa?” Aku tanya ada apa, hanya
dijawabnya, “Nggak adaa. Kangeeeen aja.”
Aku pun nggak mau kalah konyol, “Kakak mau ke Ahmad Yani
nih. Tapi ntar Kakak ke sekolah kok. Ntar kita ketemu yaaa.”
Ketika aku sedang fokus mengetik sambil berkhayal, tiba-tiba
suara Sssttttttt mengagetkanku. Aku
membathin ,Siapa sih genit amat? Lalu
ku angkat wajahku dan mendapati seorang laki-laki melintas di hadapanku menuju
meja receptionist sambil tersenyum kepadaku. Dia tidak lain adalah abang
beranak 2 yang ku kagumi kemarin. Hihii
“Eh, Bang?”
“Nunggu siapa Dek?” tanyanya lagi.
“Nunggu Kak Dilla Bang.” Lalu si abang naik lagi ke atas.
Beberapa orang ibu-ibu juga baru saja turun ke bawah sambil menenteng
barang-barangnya. Tak berbeda dengan kak Dila, mereka pun pasti akan check out
sebentar lagi.
Mana nih Kak Dila? Kok
belum turun-turun juga? Apa perlu ku bantu ke atas ya? Jangan-jangan dia
kesusahan..
***
“Kak, sebelum Kakak tadi turun, Elis jumpa lagi sama Abang
ganteng.”
“Siapa?” tanya kak Dila.
“Abang yang kemarin memperbaiki ukiran yang patah gara-gara
El loh, Kak.”
“Oooohh..dia. Iya, dia nginap juga di hotel itu Dek. Lucu
kali semalam istrinya nelvon, ngadu kayak gini, ‘Baang, Adek takuutt di sini
mati lampuuuu’ kami ejek-ejeklah dia. Hahaha.”
“Ihhh..dia so sweeey banget ya Kak..” aku muali ngawur.
“Iyaa..dia penyayang kali sama istrinya. Dibilangnya, ‘kalau
takut pergilah ke rumah Mama aja, Dek’ gitu katanya semalam. Walaupun kemarin
Kakak lihat dia godain cewek-cewek sales rokok tu, tapi dia bilang kalau
istrinya itu segala-galanya baginya, Dek. Mantap kan? Kebetulan pula
cowok-cowok yang jaga stand itu nggak ada yang ngerokok satu pun. Itulah
bagusnya mereka.”
Obrolan terus saja berlanjut dengan renyah dan penuh canda
antara aku dan kak Dila. Tujuan utama dan pertama kami adalah ke toko KAONA di
jalan Ahmad Dahlan. Tapi, sebelumnya aku berniat ngisi minyak di SPBU, eh
ternyata tutup. Selalu aja noh tutup SPBU yang di jalan sudirman, di samping
hotel..hotel apa ya namanyaaa…aku lupa pula, yang jelas warnanya merah dan
anak-anak KOPE 11 pernah diajak pak Riadi Armas ke sana.
“Pak beli minyak,” kataku kepada penjual minya eceran
setelah SPBU yang tutup itu.
“Mau yang Rp 10.000 atau yang Rp 9000 Dek?” tanyanya.
“Lah? Emangnya ada berapa jenis minyak yang Bapak jual,
Pak?”
“Yang ini Rp 10.000 karena isinya Bapak banyakin dikit Dek.”
“Oh gituuuu… kalau gitu yang Rp 10.000 aja deh Pak. Kok
kayaknya ini baru terjadi ya Pak? Tapi nggak apa-apa kok, kreatif banget tuh
Pak!”
“Yak an uang Rp 1000 biasanya nggak selalu ada Dek. Biar
nggak repot aja sih sebenarnya,” kata si bapak sambil menuangkan minyak dari
botol Aqua ke dalam tangki motorku.
Setibanya di KAONA, kak Dila langsung mencari barang
tujuannya; Celana Gunung untuk bang Yaman. Aku mengikuti kak Dila dari
belakang. Sempat curi-curi kesempatan juga untuk berfoto ria di depan kaca
besar di tengah ruangan. Hehe. Ada 1 pashmina rajut berwarna pink yang sangat
aku gilai, tapi kegilaanku itu seketika sirna ketika melihat harga yang tertera
padanya; Rp 75.000. Busyeet dah! Habis uang jajanku untuk seminggu gara-gara
jilbab ini pula bah! Untuk menghilangkan rasa tergila-gilaku, aku mencobanya,
menyelendangkannya di bahuku seperti sebuah syal. *ini baru kreatif, hehe.
“Dek, Kakak tercengang haa, ternyata baju koko untuk Bang
Yaman ini harganya Cuma Rp 100.000, didiskon 50%,” kata kak Dila sambil
menunjukkan struk bukti bayar itu kepadaku. “Murah kali kan? Nggak nyangka
Kakak. Padahal tadi Kakak udah mau nyelonong pergi aja. Eh, tapi dipanggil lagi
sama kasirnya.” Aku sepakat dengan kak Dila. Luar biasa juga ya, fikirku. Ada
harga yang semurah itu diantara banyaknya barang-barang yang high, padahal menurutku kualitasnya
nggak jauh beda dengan barang-barang pasar.
Kami mampir di Istana kerudung, siapa tahu ada celana bang
Yaman di sana. Eh, ternyata tokonya sep bingitttss ciiin. Padahal di labelnya
terpampang berbagai merk-merk islami ternama, tapi isi tokonya kok sepi amat
kayak gitu yak? Kami melaju ke Ramayan, siapa lagi yang memintanya kalau bukan
kak Dila? Ckckkck. Tetap aja celana yang dicari tak ditemui. Tapi terganti oleh
2 buah baju koko yang bagus untuk Fadli dan Tamrin, adiknya kak Dila. Nggak
menyerah sampai di situ, kak Dila mengajakku untuk naik sampai ke lantai 3,
beli Anggur dan kurma. Huft!
Ada kalanya kita tidak
ingin menolak ajakan dari orang tersayang meskipun kita beralasan untuk
menolaknya. Segalanya atas nama CINTA dan demi CINTA ^_^
***
“Hmmm… Maniiisss kaliiiiii satenyaaaaaa Kak!” ujarku
gelagapan.
“Memang gitu Dek. Awal Kakak makan di sini pun ngerasa aneh,
sampai mual rasanya. Makanya, Kakak minta campurkan dengan kuah sate padang
tadi. Kalau udah dicampur gini jadi agak pedas rasanya.”
“Ohhhh…gitu pula ya triknya Kak?”
“Itulah tadi nggak mau tanya-tanya sama Kakak dulu…” kak
Dila mengejekku.
“Mana El tahu kalau tadi ke sana tujuannya Kak. Kan El belum
tahu kalau rasanya satenya kayak gulu gini.”
Kemarin Rp 200.000 Rin. Jadi sisanya Rp 607.000 lagi.
Aku tertegun membaca balasan SMS dari Jimmy, distributor
bakal hardisk-ku. Seingatku, kemarin dia mengatakan bahwa harga hardisknya Rp
900.000. Tapi kok barusan dia bilang kurangnya Rp 600.000? Itu kan artinya
harga hardisknya Cuma Rp 800.000 doank? Ah, lebih baik ku simpan dulu
pertanyaanku itu. Yah, siapa tahu aja kan harganya emang segitu sebenarnya?
Hihii.
Aku kayaknya sempat
deh ke Jalan Riau bro siang ini. Kamu
gimana?
Boleh. Kabari aja
kalau udah di jalan Riau
Ah, syukurlah. Daripada aku harus ke Rumbai atau ke PCR,
lebih baik aku tawarkan solusi pertengahan; ketemu di jalan Riau aja, itu lebih
adil, bukan?
Setelah selesai menyantap sepiring sate super manis dan
secangkir teh es yang nggak kalah manis, kami turun dari ruang VIP di lantai 2
menuju kasir.
“Mbak, mau ngasih saran,” aku menarik seorang pelayan yang
sedang memegang struk pembayaran.
“Apa Mbak?” tanyanya.
“Mau ngasih saran,” ulangku. “Gini Mbak, sate yang kuah
kacang itu manis banget loh Kak.”
“Emang manis Kak,” jawabnya.
“Iya, tapi yang ini manisnya manis bangeeeeeeeet Kak. Hemmm…
,” kataku dengan ekspresi kecut. “Cuma ngasih saran aja, Mbak,” tutupku.
Setelah itu, kami langsung melaju menuju purna MTQ.
Sesampainya di sana, eh udah pada sepi aja. Hari ini hari terakhir expo dan
nanti malam penutupannya. Kata kak Dila, nggak ada pengumuman stand terbaik
kali ini, mungkin inilah penyebab udah banyak banget stand-stand yang kosong
dan berangsur mengosongkan tempat. Termasuk stand Rokan Hilir. Abang-abang
pasukannya kak Dila udah membereskan foto-fot pajangan di tengah stand ini. Ah,
syukurlah daripada nanti aku bersandar lagi di lemarinnya dan akhirnya ambruk.
Heheh.
Abang-abang ini sedang bercanda-tawa, mungkin sedang mengisi
waktu luang atau menangkis kejenuhan. Lantai stand ini basah, karena hujan
semalam dan tadi pagi. Kami segera bergabung bersama mereka dan kak Dila
langsung hitung menghitung total penjualan selama stand ini dibuka. Hemmm…nggak
nyangka ya udah berakhir aja nih acara.
“Kak, buruan sholat kita!” pintaku, mendesak kak Dila.
“Iyaa..yukkk!”
Kami berjalan menuju mushola yang terletak di bawah gedung
Idrus Tintin, di pintu yang menghadap ke arah barat. Ini akan jadi yang
terakhir kalinya kami ke sini (dalam acara ini).
“Dek, Kakak lupa bawa uang loh Dek. Gimana ni?” kata kak
Dila tiba-tiba ketika kami sudah mendekat.
“Nggak apa-apa doh Kak. Nanti kita bilang aja kalau uang
kita ketinggalan dan setelah sholat baru kita jemput uangnya.”
“Nggak mau ah, Dek. Malu Kakak, Dek. Nggak apa-apalah Kakak
balik bentar ke stand.”
Tapi, sebelum kak Dila beranjak, aku mencegahnya, “Kak, ke
sana ajalah yuk kita?” aku menunjuk ke Anjungan Pelalawan, tempat favoritku dan
Rini kemarin. Kebetulan kali ini kak Dila bawa mukena.
“Emangnya di sana nggak bayar Dek?”
“Nggak doh Kak.”
“Yakinlah Dek? Segan Kakak kalau bayar, tapi nggak bawa uang
kita. Biarlah Kakak jemput dulu lah uangnya kalau gitu ndak?”
“Yakinlah sama Elis Kak. Nggak bayar doh.”
Setelah berwudhu dan sholat di altar luas berpilar-pilar
besar di dalam anjungan ini, aku memuaskan rasa khawatir kak Dila tersebut,
“Bang, bayar nggak wudhunya nih Bang?” tanyaku kepada abang yang kemarin pun
ramah kepadaku.
“Nggak tahu Abang, tanyalah sama Bapak ini haaa,” katanya
sambil menunjuk ke arah bapak yang sedang mondar-mandir di beranda belakang.
“Nggak payah bayar doh Dek,” jawabnya kemudian.
“Betullah Pak? Nanti Bapak nggak ikhlas pula kami wudhu di
sini?” tanyaku memastikan.
“Nggak usah bayar lagi,” bapak itu kembali menegaskan. Aku
berbalik badan dan mengode kak Dila tentang itu. Kak Dila lega dan aku nggak
kalah lega karena telah melegakannya *halahhh, rempong betul bahasanya! Hahaa.
***
Lagi-lagi hari ini aku benar-benar nggak bisa ketemu pak
Riadi. Ya Allah, semoga ketika aku sempat ke Prodi besok, pak Riadi ada dan
langsung bisa ku temui. Oh ya, ya Allah, sekaligus semoga besok bisa ketemu
dengan bu ** supaya aku bisa segera meminta maaf kepadanya. Sebenarnya, aku
tahu banget kalau ibu itu kesulitan menghendel adik-adik ekonomi yang
sedemikian banyak mendaftar. Tapi, walau bagaimanapun bu ** nggak mungkin kan meminta
maaf kepadaku atau menegurku duluan sementara dia sudah semarah itu kemarin?
Maka, sebagai seorang anak, sudah sepatutnya aku duluan yang memulai bicara.
^_^ Mudahkanlah ya Allah..
“Dek, kita ke hotel sekarang yuk? Mungkin sebentar lagi
mobilnya jemput Kakak nih,” ajak kak Dila. Hari sudah pukul 15.35wib ternyata.
“Aiii.. copek poi koo? Kojap lai alahaa? Kian kalau mobil tu
dah nak datang dikobanyooo. Mungkin jam 4 atau 5 tuuu bau dijompuik Kak..” kata
abang ganteng dengan logat Bagannya. Intinya dia menghalangi kami untuk
cepat-cepat kembali ke hotel karena travelnya pun belum ngasih kabar bakal
jemput jam segini. Hemmm… ada-ada lawakan yang mereka lontarkan sehingga kami
pun memang larut dan malah ikutan ngelawak.
“Dek, mainlah nanti ke rumah Abang di Bagan.”
“Emang rumah Abang di mana?”
“Di Hotel Bagan.”
“Di Hotel Bagan? Ngapain Abang di sana?” tanyaku. “Oh, di
gudang hotelnya ya? Hahahaha.”
Akhirnya jam 16.00wib, aku dan kak Dila baru sampai di lobi
Green Hotel. Mereka berhasil menunda kepergian kami pemirsaaa…
“Kak, Abang-abang itu nggak ada yang sholat ya?”
“Itulaaah Dek. Itu aja kurangnya mereka. Tapi kalau yang 1,
yang sedang nonton di laptop tadi tu sholat dia. Kalau yang lainnya bercanda
nggak jelas gitu, dia cuma senyum-senyum aja tu.”
“Hemmm…sayang banget ya Kak.” Hemm..semoga mereka sadar dan mendapatkan hidayah. Aamiin ya Allah, lanjutku
di dalam hati.
Aku sholat Ashar di bawah tangga naik ke lantai atas. Cukup
layak dan bersih tempatnya, aku suka, terutama karena warnanya serba hijau.
Setelah sholat, aku kembali lagi ke lobi menemani kak Dila. Hemm… dalam posisi
seperti ini,a ku terlihat seperti orang yang nganggur dan nggak punya target
harian yang harus ku kejar ya
pemirsaaa.. Ini seperti yang ku katakan tadi. Kadang, kita sangat rela waktu
kita berlalu begitu saja ketika bersama orang-orang yang kita sayang. Dan,
beberapa hari inilah contohnya. Kak Dila nggak perlu tahu seberapa banyak
alasanku sebenarnya untuk tidak bersamanya. Hari ini, aku harus ketemu Novi dan
Okta di BEM FKIP sebenarnya, nemuin pak Riadi untuk ngajuin judul, nemuin
penjual Hardisk-ku, beli beberapa persediaan harian yang udah habis bareng
Rini. Tapi… nyatanya aku lebih rela duduk berlamaan di samping kak Dila.
Eitsss, tapi relaku tak sebenar rela yang berbentuk pasrah tanpa berbuat apa.
Seperti yang sedang ku lakukan saat ini; mengetik, adalah caraku membunuh
kesia-siaan. Jadi, jalan-jalan selesai, tulisan juga selesai. Kece kan?
Aku mendekati kak Dila yang duduk di sofa di depanku, “Kak,
Kakak tinggal dijemput aja nyoh kan?”
“Iya Dek, kenapa tu?”
Belum sempat aku memohon diri, telvonnya berdering. Aku
mengode kak Dila dengan gerakan mata; mempersilahkannya mengangkat telvonnya
dulu.
“Ha, apa tadi Dek?” tanya kak Dila setelahnya.
“El mau pulang duluan boleh Kak? Ada janji ketemu kawan sore
ini.”
“Di mana?”
“Di BEM Kak.”
“Ya udahlah, pulanglah.”
“Kakak nggak apa-apa sendirian nunggu mobilnya?” malah aku
yang jadi kasihan pada kak Dila.
“Yam au gimana lagi? El mau pulang tapiii.”
Mendadak, aku jadi puny aide sebelum berpisah dengan kak
Dila, “Kak, kita foto-foto yuk di depan?” ajakku. Awalnya kak Dila menolak
karena khawatir HPnya yang sedang dicas akan hilang.
“Mas, Mas?” yang dipanggil akhirnya menoleh. “Mas, tolong
lihatkan HP ini ya Mas. Kami mau ke depan bentar.”
“Oh ya, Mbak. Silahkan Mbak” katanya. Dia adalah mas-mas
yang kemarin salah ku berikan kunci motorku. Padahal kunci kamar yang
dimintanya ada di tangan kak Dila. *Duh, saya jadi malu nih pemirsa mengingat
kekonyolan hari itu. hikssss..
5 menit aja nggak cukup ternyata untuk berfoto-foto. Tambah
5 menit lagi kami bernarsis ria di halaman hotel ini.
“Kak, tolong fotokan El di pinggir jalaaan!” pekikku.
Permintaanku malah menjadi-jadi.
Kak Dila menurutiku. Barulah kami kembali lagi ke dalam lobi
hotel. Tapi, kali ini fikiran kak Dila berubah drastis dari yang sebelumnya.
“Kak, El permisi pulang dulu yaaa?”
“Tunggulah dulu Dek. Paling-paling 15 menit lagi nyooo.”
“Ntar takutnya kemalaman El ketemu teman El tuuu Kak.”
“Nggak ado malam doh. Sebonta nyooo.”
Aku mah apa atuh? Mana bisa nolak lagi kalau gini. Akhirnya
aku mengalah secara sukarela.
“Kak, Kakak nggak mau baca kisah tentang kita seharian ini? Udah
El tulis nih,”
“Mana, lihat?” pinta kak Dila. Aku menyerahkannya. Sudah ada
6 halaman yang ku ketik disetiap jeda yang ku jumpai sejak tadi pagi.
“Kok nggak ketawa Kak?” tanyaku kepada kak Dila yang
wajahnya serius terus.
“Nanti dulu, belum ketemu yang lucu. Masih yang serius inii.”
Setelah ia selesai membaca, barulah kak Dila tertawa. Oh,
ternyata ketawanya kak Dila pakai sistem akumulasi toh? Jadi, di akhirnya aja
ketawanya, pemirsaaa. Hemm..bagus juga sih, biar nggak mubazir suaranya. Hihiii
"Dek, bikinlah novel Dek. Bisa ini dijadikan novel. Setiap hari El nulis 5 halaman-5halaman, dalam sebulan udah berapa halaman tuh? Wah,banyak dah tu Dek, apalagi dalam setahun."
Kak, kakak adalah orang yang ke sekian yang menyarankan hal itu. Doain aja ya Kak. Mimpi ini sudah meledak-meletup di dalam hati sana Kak.
***
Aku melaju melintasi Ahmad Yani lalu setelah perempatan, aku
berbelok ke kanan ke jalan Arengka 1 menuju perempatan SKA. Saat aku menunggu
lampu merah di perempatan, kak Dila menelvonku. Ada apa ya? Kok perasaanku
nggak enak?
“Dek? HP Kakak ketinggalan loh di receptionist.”
“Hah? Masa iya Kak? Kakak udah di mana sekarang?”
“Kakak baru nyampe di loket mobilnya ini. Kakak minta tolong
Dek ambilkan HP Kakak tu. Tulah tadi waktu Kakak titipkan ke Abang tu, Kakak
udah minta tolong ingatkan Kakak kalau Kakak buru-buru. Eh, ternyata Abang itu
lupa juga. Tolong jemputkan lagi ya Dek?”
“Abang yang mana tu Kak?” suaraku mulai memekik-mekik karena
panik dan deru suara kendaraan semakin riuh.
“Abang yang El salah ngasih kunci kemarin itu loh.”
“Oh dia. Jadi, ntar El antar ke mana Kak HPnya?”
“Kakak udah di Arengka 2 nih. Yang penting jemput aja dulu
Dek HP Kakak itu ya. Maaf ya Dek merepotkan.”
Lampu merah menyala. Aku nggak bisa memilih jalan lain
selain jalan Tuanku Tambusai. Sebenarnya tadi bisa mutar balik lagi ke Arengka
1 lewat lajur kanan, tapi posisi tungguku yang sudah paling ujung sebelah kiri
menyusahkanku untuk berbelok ke lajur kanan. Aku melaju dengan kecepatan
sedang, hari sudah semakin senja dan aku tidak mau menantang bahaya.
Dreett dreeeett
Telingaku kegelian, ketika HP yang masih nangkring di antara
helm dan telingaku bergetar. Feelingku itu adalah panggilan masuk, sebisanya ku
tekan tombol dial,
“Assalamualaikum Dek?”
“Waalaikumsalam Kak..”
“Dah di mana Dek?”
“Ini masih di jalan Tuanku Tambusai Kak. Tadi El udah sampek
SKA waktu Kakak nelvon tuh. Makanya, mutarnya jauh nih jadinya Kak.”
“Oh yalah, nggak apa-apa doh. Nanti titipkan aja HP itu ke
pak ketua koperasi yang tadi Kakak tunjukkan sama El. Jangan bilang kalau itu
HP, bilang aja ada barang Kak Dila yang ketinggalan atau ada kejutan buat Kak
Dila dari El. Pokoknya jangan bilang kalau itu isinya HP ya Dek.”
“Loh jadi Kakak langsung berangkat nih, nggak nunggu HPnya
dulu?”
“Itulah Dek, mana sempat lagi.”
“Eh, titipkan sama Abang ganteng ajalah ndak Kak?” usulku,
kecentilan.
“Ha… terserahlah, nak Abang ganteng, nak Abang jelek, nak
Abang pesek boleh juga. Orang tu pasti masih di stand tuh. Makasih ya Dek.”
Motorku berhenti lagi di perempatan Tuanku
Tambusai-Sudirman, di bawah Fly Over depan
Gramedia. Setelah lampu hijau menyala, aku berbelok ke kanan perlahan. Lalu, di
Fly Over ke-dua, hpku bergetar lagi. Panggilan masuk sepertinya.
“Hallo Dek? Nanti setelah El kasihkan HP Kakak jangan lupa
minta nomor HP Abang tu ya?”
“Nomor HP Abang ganteng kan?”
“Iyaaa. Nanti langsung kirimkan ke Kakak ya biar Kakak
hubungi dia besok untuk ngambil HPnya.”
Di lobi hotel, aku berjalan perlahan-lahan sambil terus
menyelesaikan ketikan pesanku kepada Jimmy, Bro,
aku terhalang lagi untuk ke sana sekarang. Ntar pokoknya kalau aku udah di
sana, pasti ku kabarin ya.
Oke, ntar kabarin
aja.
“Ini Mbak,”
kata Abang receptionist, menyerahkan Andro kak Dila dan casannya.
“Huaahhh,
Abang tadi nggak ngingatkan Kakak itu, sekarang baru saya diminta jemput ke
sini.”
“Udah
berangkat Kakak itu?”
“Udah Bang.
Udah sampai di loket mobilnya katanya. Bang, ada kotak nggak yang bisa muat nih
HP?”
Si abang
menilik ke beberapa tempat, tapi katanya nggak ada kardus atau kotaknya.
Kemudian, aku meminta Koran kepadanya tapi karena dia sedang melayani tamu yang
akan check in, akhirnya dia mengarahkanku supaya bertanya kepada temannya yang
sedang berdiri menyandar di sisi kanan. Ia mengambil setumpuk Koran dari
belakang dan menyerahkannya kepadaku. Tanpa memilah dan memisahkannya, segera
ku gulung dan ku tekuk Koran berisi HP itu. Karet pun hanya ada 2 saja dari si
abang hotel dan putus pula ketika ku coba mengikatkan ke Koran itu. hemmm…akhirnya
ku keluarkan plastik kue pemberian kak Dila dan membalut Koran tadi dengan
palstik tersebut. Clear!
***
Aku kembali
memarkir motor di pelataran ini. Selamat
datang kembali Nona Elysa di Purna MTQ, seolah seperti itulah tempat ini
menyambut kedatanganku kesekian kalinya.
“Nggak ada
uang pas Dek?” tanya Abang tukang parkir ketika ku serahi uang Rp 20.000. Ah,
akhirnya setelah beberapa kali dalam sehari ini kak Dila selalu membuat uang
ini tercegah untuk ke luar, kali ini ia ke luar juga untuk parkir.
“Nggak ada
Bang. Itu satu-satunya.”
Si abang
merogoh kantongnya dan menyerahkan uang Rp 5000, Rp 10.000 dan Rp 1000
kepadaku.
“Loh Bang?
Bukannya parkirnya Cuma Rp 3000 ya?”
“Rp 4000
Kak.”
“Loh? Tadi
siang aja masih Rp 3000 loh Bang?” tanyaku penuh tantang.
“Iya, Rp
4000 nyo Kak untuk jaga parkir ini aja,” ia mencoba menjawab dengan gugup dan
kalimat tidak teratur.
Aku hanya
tersenyum menatapnya yang masih tertunduk, lalu pergi meninggalkannya. Kenapa nggak katakan sejujurnya aja kalau
uang kembaliannya emang nggak cukup Rp 17.000? Aku pasti akan ngasih kok! Hemmm…semoga
uang itu bermanfaat baginya ya Allah. Di stand Rokan Hilir, aku melihat
abang-abang itu sedang ngepak-ngepaki barang-barang pengisi stand. Hemmm… ntah
gimanalah acaranya ini, masa bazaar-bazar pameran diizinkan tutup sebelum
penutupan? Mau sesepi apa ya malam nanti?
“Assalamualaikuuum,
Baaaanggg..” sapaku, mengejutkan mereka.
“Ha? Ada
yang tertinggal ya?”
“Apa yang
tertinggal tu?” sahut yang lainnya.
“Ini Bang,
ada barangnya Kak Dila yang tertinggal jadi kak Dila minta titipkan dengan
Abang-abang di sini,” aku mengedarkan pandangan kepada mereka semua tapi
fokusku hanya ke seseorang *sihiiyyy. “Nah, besok baru diambil Kak Dila HPnya
katanya. Soalnya dia udah berangkat, jadi HPnya cuma bisa dititipkan dengan
Abang laah nii,” jelasku lagi sambil mengulurkan benda persegi panjang berbalut
plastik hitam itu kepada abang ganteng. Sementara abang-abang yang lainnya
masih saling berpandang-pandangan.
Dreett…Dreettt
Kak Dila memanggil, “Iya Kak? Ini udah sampai di stand.”
“Jangan lupa minta nomor HP Abang ganteng ya Dek. Biar mudah
Kakak ngubunginya besok.”
“Oke Kak,” tutupku. “Bang? Kak Dila minta nomor HP Abang
supaya mudah besok jemput HPnya.”
“Ohhhhh… 0823,”
“Sama Abang aja Dek HPnya Kak Dila tuh. Dia udah ada nomor
HP Abang tuh!”
“Oh gittuuu?” duh, hampir aja. hahaha. “Nama Abang siapa?”
“Bilang aja sama Kak Dila, HPnya udah sama Bang Dedi. Dia
udah ada tuh nomornya, Dek.”
“Nggak apa-apa doh, catat aja nomor HP Abang ini siapa tahu
nanti ada perlu kan?” sahut si abang didekat abang Ganteng. Yapp, bener banget tuh Bang!, sahutku di dalam hati. Hihiii.
“Besok kami baru pulang, Dek. Pokoknya bilang ajalah dengan
Kak Dila gitu. Aman HP ini sama kami.”
Rasanya semuanya sudah selesai. Aku nggak punya alasan untuk
tidak segera meninggalkan tempat ini. “Makasih ya Bang..Elisa langsung pulang
ya..”
“Biarlah Abang antar Dek,” sahut abang ganteng. “Mana kunci
motor aku tadi haaa?,” ia belagak seperti sedang kebingungan. Tapi setelah itu
mereka semua tertawa terbahak-bahak. Aku faham mereka hanya bercanda. Setelah
mengucapkan salam, aku berpamitan.
Melintasi tenda-tenda kerucut lalu sampai di halaman tengah
ini membuatku berfikir, mereka yang udah azan maghrib tapi berseliweran dan
duduk-duduk santai ini apa nggak sholat sih? *sama donk kayak aku kalau gitu,
ehhe. Aku segera pergi. Karena kalau aku sholat di Idrus Tintin lagi, pasti
ngantri. Mending aku sholat di dekat TKP aja, biar tenang dan tentram.
Sempat bingung menentukan untuk ke jalan Riau. Ntah kenapa,
hatiku lebih condong ke dekat jembatan Okura saja dan meminta Jimmy datang ke
sana. Itu lebih ideal rasanya karena tempatnya tepat di tengah-tengah
Panam-Rumbai; tidak merepotkanku dan tidak menyusahkannya. Aku sholat maghrib
di mushola unik, letaknya di lantai 2 sebuah ruko. Awalnya aku ragu, ini beneran
mushola atau mushola yang udah jadi rumah? Tapi, setelah ku tanyakan kepada
abang penjual peci di dekat tangga, akhirnya aku yakin untuk sholat di sini.
ATM BRI pun tepat berada di seberang jalan. Benar-benar posisi yang strategis.
***
BRAAAAKKKK!!!
Sebuah motor terjatuh ketika aku sibuk memotret pemandangan
malam dari teras mushola. Aku berlarian untuk membantu menolong bapak itu.
Banyak tanah liat kering di dekat motornya yang rubuh itu. Tapi, aku perhatikan
motornya nggak jorki kayak motorku kok! Oh, mungkin sandalnya kali ya?
*sempat-sempatnya nebak-nebak hal nggak penting disaat genting begini ya El?
“Bapak nggak kenapa-napa Pak?” tanyaku sambil memegangi
motornya.
“Nggak apa-apa Dek,” jawabnya sambil menepuk-nepuk tangan
dan pakaiannya yang berdebu.
Seorang laki-laki ke luar dari dalam mobil merah mengkilap
mendekati bapak ini, “Karena saya mengerem mendadak ya tadi?” tanyanya santai.
Busyeettt dah! Nyantai amat nih orang kaya. Wajahnya china banget dan kulitnya
putih. Ganteng sih, tapi sayang udah bapak-bapak, ehhehe.
“Bapak tu mengerem mendadak, ya saya kan jadi terbawa,
padahal saya mau lurus,” jawab bapak itu, kesal.
Aku tidak mengikuti perkembangan selanjutnya dari mereka
berdua. Segera ku seberangi jalan untuk mengambil uang di ATM.
Maaf transaksi anda
gagal. Ingin bertransaksi lagi?
Aku tekan YA.
Pasti saldoku cuma 600ribuan nih makanya nggak bisa ditarik RP 60.000. Akhirnya
ketika ku cantumkan Rp 500.000, transaksi berhasil. Aku memarkirkan motorku ke
dalam halaman bea cukai supaya lebih aman, daripada nunggu di luar yang penuh
ancaman. Hihii.. Aku menunggu Jimmy di sini, tepat di bawah lengkungan gagah
jembatan OKURA.
“Adek nunggu siapa?” sapa seorang laki-laki rapi yang sejak
tadi mondar-mandir dengan sepeda gunung. Mungkin dia kerja di tempat ini,
fikirku. Pak Satpam membantuku menjelaskan keberadaanku di sini kepadanya.
Setiap kali dia berlalu lalang, aroma harum parfumnya tecium oleh indera
penciumanku. Aroma lembut nan segar, membuat penggunanya seolah-olah baru
mandi.
Jimmy datang…
“Hai? Aku Jimmy,” sapanya sambil menyodorkan tangan dan ku
sambut dengan tangan yang tertangkup.
“Hai juga Jimmy. Oh ya, aku mau tanya nih sebelumnya, harga
hardisknya itu 900 atau 800 sebenarnya Jim?” tanyaku sambil menerima hardisk, silicon
dan pena yang disodorkan Jimmy.
“Kemarin aku bilang 900 ya di awal?” ia terdiam sejenak,
berfikir. “Iya, 900 kan? Aku lupa soalnya.”
“Nah, itu dia, aku kemarin heran juga waktu Jimmy bilang
800. Makanya nih mau ku pastikan.”
Berikutnya aku menjelaskan tentang uangku yang bukan hanya
kurang Rp 100.000, tapi Rp 200.000 kepada Jimmy dan terjadilah proses negosiasi
yang rumit dan pelik dengannya,
“Ya, aku bukannya apa-apa sih, selama ini juga aku jual
barang yang kontan aja. Maaf nih ya, bukan gara-gara kamu temennya Munthe lalu
aku langsung percaya gitu aja, apalagi kita kan baru kenal. Soalnya aku udah
sering ‘kena’ juga sama kawan-kawan aku. Hemmm…”
Lalu aku memberikan pilihan; hardisknya ku terima tapi
uangnya nyusul atau hardisknya ku kembalikan dan ngambilnya setelah aku punya
uang. Tapi, pilihan itu berubah seiring proses; sebenarnya aku sangat butuh hardisk
itu dan Jimmy meminta jaminan kepadaku. Di minta KTM, aku nggak bawa. Aku kasih
ATM, katanya nggak berguna karena toh uangnya nggak bisa diambil. Dia minta
KTP, aku juga nggak bawa. Ku tawarkan cincinku, katanya nggak berani karena
harganya jauh lebih mahal disbanding hardisk ini. Akhirnya dengan berat hati,
ku serahkan kameraku.
“Nggak apa-apa nih? Kan kurangnya uangmu cuma Rp 200.000,
sementara kameran ini lebih berharga. Memangnya kamu percaya sama aku?” persis
banget kayak si engkong-engkong nih Jimmy.
“Aku percaya!” jawabku mantap.
“Oke deh. Eh, seberapa ada aja uangnya. Rp 400.000 juga
nggak apa-apa dulu, ntar aku takut kamu nggak makan lagi gara-gara ini,”
sarannya.
“Nggak, nggak apa-apa, aku pasti bisa makan kok! Ehehhe. Oke
ya, ini Rp 500.000, berarti kurangnya Rp 200.000 lagi. Makasih Jimmy,” kataku
yang lagi-lagi membalas sodoran tangannya kepadaku.
“Eh, maaaf aku lupa,” balasnya. Aku tertawa. Ia berjalan
memungguiku, lalu masuk ke dalam mobil putihnya dan berlalu pergi.
Ya Allah, malam ini aku
baru saja membeli SEBUAH KEPERCAYAAN. Ternyata mahal banget ya harganya? Ajarkan
aku tegas seperti Jimmy, tegas kepada dirinya sendiri dan tegas kepada keadaan!
***
“Kakak udah di kosan?” tanya Okta.
“Udah, barusan aja,” ku lirik jam di HP; pukul 20.45wib.
Mengalirkan segala cerita Okta yang tadi sempat terpotong
karena kedatangan Jimmy. Aku udah menduga sebelumnya, yang akan Okta ceritakan
adalah hal duka.
“Dek, mendengar cerita Adek ini membuat Kakak jadi berfikir;
Setiap orang akan ada masanya sulit untuk disapa seperti biasa, ntah itu karena
kesibukannya, waktunya yang semakin jarang jeda, terhalang biaya untuk bicara.
Itu pasti akan terjadi Dek. Kakak juga sangat takut dengan perpisahan,
perubahan dan jarak, tapi itu mau nggak mau pasti akan terjadi Dek! Pasti!
Tapi, Kakak menginginkan diri Kakak selalu bisa untuk disapa. Caranya ya dengan
tetap teguh nulis blog. Walaupun mungkin Kakak nggak bisa membalas sapaan itu
secara langsung, tapi dengan Kakak menghadirkan tulisan Kakak di blog, semua
orang bisa merasa dekat dengan Kakak karena tulisan itu.”
“Kak, apapun yang terjadi, jangan penah kurangi sayang Kakak
ke Okta ya?” pintanya.
Dek, andai kamu tahu,
sebelum kamu berkata begitu, kakak sudah lebih dulu takut kehilangan sayangmu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar