Selasa, 09 Juni 2015

Di Bawah OKURA, Ku Bayar Sebuah Percaya


“El, nih Kak Dila SMS.”
Jadi El ke hotel Dek? Coba tanyakan.
“Aku balas yaa,” Hujannya baru reda Kak, ketikku sambil bersuara.
“Ih, bohong yaaa,” tanya Rini.
“Emang sejak tadi hujan kok!” jawabku. Lagian, Rini pun baru bangun, makanya dia nggak nyadar kalau sejak tadi gerimis.
Bilang sama El ya suruh cepat dia soalnya jam 1 kakak udah check out dari hotel, takutnya nggak terkejar. Udah mandi si bandit itu? heheh
“Rin, masa aku dibilang bandit sama Kak Dila? Yang bandit itu kan Rini. Bukannya akuuu.”

***
Aku sudah sampai di depan MTQ dan segera ku SMS kak Dila. Eh, ternyata dia masih di hotel, ngepak barang karena mau langsung check out katanya. Huft! Akhirnya aku muter lagi. Untung aja nggak jauh-jauh amat jaraknya. Sesampainya di lobi hotel, aku mengabari kak Dila bahwa aku ingin menunggunya di lobi aja, nggak mau naik-naik ke lantai 3, capek karena nggak ada liftnya! Huaahhh…
NEW SEPUPU SATRIA HOTEL
Aku kembali tersenyum menatap plang berwarna ungu di samping hotel ini. Plang itu menandakan bahwa hotel yang dimaksud berada di dalam gang tersebut. Aku tersenyum karena menurutku nama hotelnya unik sekaligus aneh. Semalam, aku pun sudah membahasnya dengan Rini,
“Rin, besok kita bikin hotel yang namanya; RINI ADIK IPAR ELYSA ya?. Ahhaha.”
“Iyuuuuhhh,” jawab Rini, malas.

Hemmm… tadi ketika aku memanaskan motor, Okta nelvon dan ngomong sambil teriak-teriak, “Di mana nyaaaaa?” Aku tanya ada apa, hanya dijawabnya, “Nggak adaa. Kangeeeen aja.”
Aku pun nggak mau kalah konyol, “Kakak mau ke Ahmad Yani nih. Tapi ntar Kakak ke sekolah kok. Ntar kita ketemu yaaa.”
Ketika aku sedang fokus mengetik sambil berkhayal, tiba-tiba suara Sssttttttt mengagetkanku. Aku membathin ,Siapa sih genit amat? Lalu ku angkat wajahku dan mendapati seorang laki-laki melintas di hadapanku menuju meja receptionist sambil tersenyum kepadaku. Dia tidak lain adalah abang beranak 2 yang ku kagumi kemarin. Hihii
“Eh, Bang?”
“Nunggu siapa Dek?” tanyanya lagi.
“Nunggu Kak Dilla Bang.” Lalu si abang naik lagi ke atas. Beberapa orang ibu-ibu juga baru saja turun ke bawah sambil menenteng barang-barangnya. Tak berbeda dengan kak Dila, mereka pun pasti akan check out sebentar lagi.
Mana nih Kak Dila? Kok belum turun-turun juga? Apa perlu ku bantu ke atas ya? Jangan-jangan dia kesusahan..

***
“Kak, sebelum Kakak tadi turun, Elis jumpa lagi sama Abang ganteng.”
“Siapa?” tanya kak Dila.
“Abang yang kemarin memperbaiki ukiran yang patah gara-gara El loh, Kak.”
“Oooohh..dia. Iya, dia nginap juga di hotel itu Dek. Lucu kali semalam istrinya nelvon, ngadu kayak gini, ‘Baang, Adek takuutt di sini mati lampuuuu’ kami ejek-ejeklah dia. Hahaha.”
“Ihhh..dia so sweeey banget ya Kak..” aku muali ngawur.
“Iyaa..dia penyayang kali sama istrinya. Dibilangnya, ‘kalau takut pergilah ke rumah Mama aja, Dek’ gitu katanya semalam. Walaupun kemarin Kakak lihat dia godain cewek-cewek sales rokok tu, tapi dia bilang kalau istrinya itu segala-galanya baginya, Dek. Mantap kan? Kebetulan pula cowok-cowok yang jaga stand itu nggak ada yang ngerokok satu pun. Itulah bagusnya mereka.”
Obrolan terus saja berlanjut dengan renyah dan penuh canda antara aku dan kak Dila. Tujuan utama dan pertama kami adalah ke toko KAONA di jalan Ahmad Dahlan. Tapi, sebelumnya aku berniat ngisi minyak di SPBU, eh ternyata tutup. Selalu aja noh tutup SPBU yang di jalan sudirman, di samping hotel..hotel apa ya namanyaaa…aku lupa pula, yang jelas warnanya merah dan anak-anak KOPE 11 pernah diajak pak Riadi Armas ke sana.

“Pak beli minyak,” kataku kepada penjual minya eceran setelah SPBU yang tutup itu.
“Mau yang Rp 10.000 atau yang Rp 9000 Dek?” tanyanya.
“Lah? Emangnya ada berapa jenis minyak yang Bapak jual, Pak?”
“Yang ini Rp 10.000 karena isinya Bapak banyakin dikit Dek.”
“Oh gituuuu… kalau gitu yang Rp 10.000 aja deh Pak. Kok kayaknya ini baru terjadi ya Pak? Tapi nggak apa-apa kok, kreatif banget tuh Pak!”
“Yak an uang Rp 1000 biasanya nggak selalu ada Dek. Biar nggak repot aja sih sebenarnya,” kata si bapak sambil menuangkan minyak dari botol Aqua ke dalam tangki motorku.
Setibanya di KAONA, kak Dila langsung mencari barang tujuannya; Celana Gunung untuk bang Yaman. Aku mengikuti kak Dila dari belakang. Sempat curi-curi kesempatan juga untuk berfoto ria di depan kaca besar di tengah ruangan. Hehe. Ada 1 pashmina rajut berwarna pink yang sangat aku gilai, tapi kegilaanku itu seketika sirna ketika melihat harga yang tertera padanya; Rp 75.000. Busyeet dah! Habis uang jajanku untuk seminggu gara-gara jilbab ini pula bah! Untuk menghilangkan rasa tergila-gilaku, aku mencobanya, menyelendangkannya di bahuku seperti sebuah syal. *ini baru kreatif, hehe.

“Dek, Kakak tercengang haa, ternyata baju koko untuk Bang Yaman ini harganya Cuma Rp 100.000, didiskon 50%,” kata kak Dila sambil menunjukkan struk bukti bayar itu kepadaku. “Murah kali kan? Nggak nyangka Kakak. Padahal tadi Kakak udah mau nyelonong pergi aja. Eh, tapi dipanggil lagi sama kasirnya.” Aku sepakat dengan kak Dila. Luar biasa juga ya, fikirku. Ada harga yang semurah itu diantara banyaknya barang-barang yang high, padahal menurutku kualitasnya nggak jauh beda dengan barang-barang pasar.
Kami mampir di Istana kerudung, siapa tahu ada celana bang Yaman di sana. Eh, ternyata tokonya sep bingitttss ciiin. Padahal di labelnya terpampang berbagai merk-merk islami ternama, tapi isi tokonya kok sepi amat kayak gitu yak? Kami melaju ke Ramayan, siapa lagi yang memintanya kalau bukan kak Dila? Ckckkck. Tetap aja celana yang dicari tak ditemui. Tapi terganti oleh 2 buah baju koko yang bagus untuk Fadli dan Tamrin, adiknya kak Dila. Nggak menyerah sampai di situ, kak Dila mengajakku untuk naik sampai ke lantai 3, beli Anggur dan kurma. Huft!
Ada kalanya kita tidak ingin menolak ajakan dari orang tersayang meskipun kita beralasan untuk menolaknya. Segalanya atas nama CINTA dan demi CINTA  ^_^

***
“Hmmm… Maniiisss kaliiiiii satenyaaaaaa Kak!” ujarku gelagapan.
“Memang gitu Dek. Awal Kakak makan di sini pun ngerasa aneh, sampai mual rasanya. Makanya, Kakak minta campurkan dengan kuah sate padang tadi. Kalau udah dicampur gini jadi agak pedas rasanya.”
“Ohhhh…gitu pula ya triknya Kak?”
“Itulah tadi nggak mau tanya-tanya sama Kakak dulu…” kak Dila mengejekku.
“Mana El tahu kalau tadi ke sana tujuannya Kak. Kan El belum tahu kalau rasanya satenya kayak gulu gini.”
Kemarin Rp 200.000 Rin. Jadi sisanya Rp 607.000 lagi.
Aku tertegun membaca balasan SMS dari Jimmy, distributor bakal hardisk-ku. Seingatku, kemarin dia mengatakan bahwa harga hardisknya Rp 900.000. Tapi kok barusan dia bilang kurangnya Rp 600.000? Itu kan artinya harga hardisknya Cuma Rp 800.000 doank? Ah, lebih baik ku simpan dulu pertanyaanku itu. Yah, siapa tahu aja kan harganya emang segitu sebenarnya? Hihii.
Aku kayaknya sempat deh ke Jalan Riau bro siang ini. Kamu  gimana?
Boleh. Kabari aja kalau udah di jalan Riau
Ah, syukurlah. Daripada aku harus ke Rumbai atau ke PCR, lebih baik aku tawarkan solusi pertengahan; ketemu di jalan Riau aja, itu lebih adil, bukan?

Setelah selesai menyantap sepiring sate super manis dan secangkir teh es yang nggak kalah manis, kami turun dari ruang VIP di lantai 2 menuju kasir.
“Mbak, mau ngasih saran,” aku menarik seorang pelayan yang sedang memegang struk pembayaran.
“Apa Mbak?” tanyanya.
“Mau ngasih saran,” ulangku. “Gini Mbak, sate yang kuah kacang itu manis banget loh Kak.”
“Emang manis Kak,” jawabnya.
“Iya, tapi yang ini manisnya manis bangeeeeeeeet Kak. Hemmm… ,” kataku dengan ekspresi kecut. “Cuma ngasih saran aja, Mbak,” tutupku.
Setelah itu, kami langsung melaju menuju purna MTQ. Sesampainya di sana, eh udah pada sepi aja. Hari ini hari terakhir expo dan nanti malam penutupannya. Kata kak Dila, nggak ada pengumuman stand terbaik kali ini, mungkin inilah penyebab udah banyak banget stand-stand yang kosong dan berangsur mengosongkan tempat. Termasuk stand Rokan Hilir. Abang-abang pasukannya kak Dila udah membereskan foto-fot pajangan di tengah stand ini. Ah, syukurlah daripada nanti aku bersandar lagi di lemarinnya dan akhirnya ambruk. Heheh.
Abang-abang ini sedang bercanda-tawa, mungkin sedang mengisi waktu luang atau menangkis kejenuhan. Lantai stand ini basah, karena hujan semalam dan tadi pagi. Kami segera bergabung bersama mereka dan kak Dila langsung hitung menghitung total penjualan selama stand ini dibuka. Hemmm…nggak nyangka ya udah berakhir aja nih acara.
“Kak, buruan sholat kita!” pintaku, mendesak kak Dila.
“Iyaa..yukkk!”

Kami berjalan menuju mushola yang terletak di bawah gedung Idrus Tintin, di pintu yang menghadap ke arah barat. Ini akan jadi yang terakhir kalinya kami ke sini (dalam acara ini).
“Dek, Kakak lupa bawa uang loh Dek. Gimana ni?” kata kak Dila tiba-tiba ketika kami sudah mendekat.
“Nggak apa-apa doh Kak. Nanti kita bilang aja kalau uang kita ketinggalan dan setelah sholat baru kita jemput uangnya.”
“Nggak mau ah, Dek. Malu Kakak, Dek. Nggak apa-apalah Kakak balik bentar ke stand.”
Tapi, sebelum kak Dila beranjak, aku mencegahnya, “Kak, ke sana ajalah yuk kita?” aku menunjuk ke Anjungan Pelalawan, tempat favoritku dan Rini kemarin. Kebetulan kali ini kak Dila bawa mukena.
“Emangnya di sana nggak bayar Dek?”
“Nggak doh Kak.”
“Yakinlah Dek? Segan Kakak kalau bayar, tapi nggak bawa uang kita. Biarlah Kakak jemput dulu lah uangnya kalau gitu ndak?”
“Yakinlah sama Elis Kak. Nggak bayar doh.”
Setelah berwudhu dan sholat di altar luas berpilar-pilar besar di dalam anjungan ini, aku memuaskan rasa khawatir kak Dila tersebut, “Bang, bayar nggak wudhunya nih Bang?” tanyaku kepada abang yang kemarin pun ramah kepadaku.
“Nggak tahu Abang, tanyalah sama Bapak ini haaa,” katanya sambil menunjuk ke arah bapak yang sedang mondar-mandir di beranda belakang.
“Nggak payah bayar doh Dek,” jawabnya kemudian.
“Betullah Pak? Nanti Bapak nggak ikhlas pula kami wudhu di sini?” tanyaku memastikan.
“Nggak usah bayar lagi,” bapak itu kembali menegaskan. Aku berbalik badan dan mengode kak Dila tentang itu. Kak Dila lega dan aku nggak kalah lega karena telah melegakannya *halahhh, rempong betul bahasanya! Hahaa.

***
Lagi-lagi hari ini aku benar-benar nggak bisa ketemu pak Riadi. Ya Allah, semoga ketika aku sempat ke Prodi besok, pak Riadi ada dan langsung bisa ku temui. Oh ya, ya Allah, sekaligus semoga besok bisa ketemu dengan bu ** supaya aku bisa segera meminta maaf kepadanya. Sebenarnya, aku tahu banget kalau ibu itu kesulitan menghendel adik-adik ekonomi yang sedemikian banyak mendaftar. Tapi, walau bagaimanapun bu ** nggak mungkin kan meminta maaf kepadaku atau menegurku duluan sementara dia sudah semarah itu kemarin? Maka, sebagai seorang anak, sudah sepatutnya aku duluan yang memulai bicara. ^_^ Mudahkanlah ya Allah..
“Dek, kita ke hotel sekarang yuk? Mungkin sebentar lagi mobilnya jemput Kakak nih,” ajak kak Dila. Hari sudah pukul 15.35wib ternyata.
“Aiii.. copek poi koo? Kojap lai alahaa? Kian kalau mobil tu dah nak datang dikobanyooo. Mungkin jam 4 atau 5 tuuu bau dijompuik Kak..” kata abang ganteng dengan logat Bagannya. Intinya dia menghalangi kami untuk cepat-cepat kembali ke hotel karena travelnya pun belum ngasih kabar bakal jemput jam segini. Hemmm… ada-ada lawakan yang mereka lontarkan sehingga kami pun memang larut dan malah ikutan ngelawak.
“Dek, mainlah nanti ke rumah Abang di Bagan.”
“Emang rumah Abang di mana?”
“Di Hotel Bagan.”
“Di Hotel Bagan? Ngapain Abang di sana?” tanyaku. “Oh, di gudang hotelnya ya? Hahahaha.”
Akhirnya jam 16.00wib, aku dan kak Dila baru sampai di lobi Green Hotel. Mereka berhasil menunda kepergian kami pemirsaaa…
“Kak, Abang-abang itu nggak ada yang sholat ya?”
“Itulaaah Dek. Itu aja kurangnya mereka. Tapi kalau yang 1, yang sedang nonton di laptop tadi tu sholat dia. Kalau yang lainnya bercanda nggak jelas gitu, dia cuma senyum-senyum aja tu.”
“Hemmm…sayang banget ya Kak.” Hemm..semoga mereka sadar dan mendapatkan hidayah. Aamiin ya Allah, lanjutku di dalam hati.

Aku sholat Ashar di bawah tangga naik ke lantai atas. Cukup layak dan bersih tempatnya, aku suka, terutama karena warnanya serba hijau. Setelah sholat, aku kembali lagi ke lobi menemani kak Dila. Hemm… dalam posisi seperti ini,a ku terlihat seperti orang yang nganggur dan nggak punya target harian yang harus ku kejar  ya pemirsaaa.. Ini seperti yang ku katakan tadi. Kadang, kita sangat rela waktu kita berlalu begitu saja ketika bersama orang-orang yang kita sayang. Dan, beberapa hari inilah contohnya. Kak Dila nggak perlu tahu seberapa banyak alasanku sebenarnya untuk tidak bersamanya. Hari ini, aku harus ketemu Novi dan Okta di BEM FKIP sebenarnya, nemuin pak Riadi untuk ngajuin judul, nemuin penjual Hardisk-ku, beli beberapa persediaan harian yang udah habis bareng Rini. Tapi… nyatanya aku lebih rela duduk berlamaan di samping kak Dila. Eitsss, tapi relaku tak sebenar rela yang berbentuk pasrah tanpa berbuat apa. Seperti yang sedang ku lakukan saat ini; mengetik, adalah caraku membunuh kesia-siaan. Jadi, jalan-jalan selesai, tulisan juga selesai. Kece kan?
Aku mendekati kak Dila yang duduk di sofa di depanku, “Kak, Kakak tinggal dijemput aja nyoh kan?”
“Iya Dek, kenapa tu?”
Belum sempat aku memohon diri, telvonnya berdering. Aku mengode kak Dila dengan gerakan mata; mempersilahkannya mengangkat telvonnya dulu.
“Ha, apa tadi Dek?” tanya kak Dila setelahnya.
“El mau pulang duluan boleh Kak? Ada janji ketemu kawan sore ini.”
“Di mana?”
“Di BEM Kak.”
“Ya udahlah, pulanglah.”
“Kakak nggak apa-apa sendirian nunggu mobilnya?” malah aku yang jadi kasihan pada kak Dila.
“Yam au gimana lagi? El mau pulang tapiii.”
Mendadak, aku jadi puny aide sebelum berpisah dengan kak Dila, “Kak, kita foto-foto yuk di depan?” ajakku. Awalnya kak Dila menolak karena khawatir HPnya yang sedang dicas akan hilang.
“Mas, Mas?” yang dipanggil akhirnya menoleh. “Mas, tolong lihatkan HP ini ya Mas. Kami mau ke depan bentar.”
“Oh ya, Mbak. Silahkan Mbak” katanya. Dia adalah mas-mas yang kemarin salah ku berikan kunci motorku. Padahal kunci kamar yang dimintanya ada di tangan kak Dila. *Duh, saya jadi malu nih pemirsa mengingat kekonyolan hari itu. hikssss..
5 menit aja nggak cukup ternyata untuk berfoto-foto. Tambah 5 menit lagi kami bernarsis ria di halaman hotel ini.
“Kak, tolong fotokan El di pinggir jalaaan!” pekikku. Permintaanku malah menjadi-jadi.
Kak Dila menurutiku. Barulah kami kembali lagi ke dalam lobi hotel. Tapi, kali ini fikiran kak Dila berubah drastis dari yang sebelumnya.
“Kak, El permisi pulang dulu yaaa?”
“Tunggulah dulu Dek. Paling-paling 15 menit lagi nyooo.”
“Ntar takutnya kemalaman El ketemu teman El tuuu Kak.”
“Nggak ado malam doh. Sebonta nyooo.”
Aku mah apa atuh? Mana bisa nolak lagi kalau gini. Akhirnya aku mengalah secara sukarela.


“Kak, Kakak nggak mau baca kisah tentang kita seharian ini? Udah El tulis nih,”
“Mana, lihat?” pinta kak Dila. Aku menyerahkannya. Sudah ada 6 halaman yang ku ketik disetiap jeda yang ku jumpai sejak tadi pagi.
“Kok nggak ketawa Kak?” tanyaku kepada kak Dila yang wajahnya serius terus.
“Nanti dulu, belum ketemu yang lucu. Masih yang serius inii.”
Setelah ia selesai membaca, barulah kak Dila tertawa. Oh, ternyata ketawanya kak Dila pakai sistem akumulasi toh? Jadi, di akhirnya aja ketawanya, pemirsaaa. Hemm..bagus juga sih, biar nggak mubazir suaranya. Hihiii
"Dek, bikinlah novel Dek. Bisa ini dijadikan novel. Setiap hari El nulis 5 halaman-5halaman, dalam sebulan udah berapa halaman tuh? Wah,banyak dah tu Dek, apalagi dalam setahun."
Kak, kakak adalah orang yang ke sekian yang menyarankan hal itu. Doain aja ya Kak. Mimpi ini sudah meledak-meletup di dalam hati sana Kak.

***
Aku melaju melintasi Ahmad Yani lalu setelah perempatan, aku berbelok ke kanan ke jalan Arengka 1 menuju perempatan SKA. Saat aku menunggu lampu merah di perempatan, kak Dila menelvonku. Ada apa ya? Kok perasaanku nggak enak?
“Dek? HP Kakak ketinggalan loh di receptionist.”
“Hah? Masa iya Kak? Kakak udah di mana sekarang?”
“Kakak baru nyampe di loket mobilnya ini. Kakak minta tolong Dek ambilkan HP Kakak tu. Tulah tadi waktu Kakak titipkan ke Abang tu, Kakak udah minta tolong ingatkan Kakak kalau Kakak buru-buru. Eh, ternyata Abang itu lupa juga. Tolong jemputkan lagi ya Dek?”
“Abang yang mana tu Kak?” suaraku mulai memekik-mekik karena panik dan deru suara kendaraan semakin riuh.
“Abang yang El salah ngasih kunci kemarin itu loh.”
“Oh dia. Jadi, ntar El antar ke mana Kak HPnya?”
“Kakak udah di Arengka 2 nih. Yang penting jemput aja dulu Dek HP Kakak itu ya. Maaf ya Dek merepotkan.”
Lampu merah menyala. Aku nggak bisa memilih jalan lain selain jalan Tuanku Tambusai. Sebenarnya tadi bisa mutar balik lagi ke Arengka 1 lewat lajur kanan, tapi posisi tungguku yang sudah paling ujung sebelah kiri menyusahkanku untuk berbelok ke lajur kanan. Aku melaju dengan kecepatan sedang, hari sudah semakin senja dan aku tidak mau menantang bahaya.

Dreett dreeeett
Telingaku kegelian, ketika HP yang masih nangkring di antara helm dan telingaku bergetar. Feelingku itu adalah panggilan masuk, sebisanya ku tekan tombol dial,
“Assalamualaikum Dek?”
“Waalaikumsalam Kak..”
“Dah di mana Dek?”
“Ini masih di jalan Tuanku Tambusai Kak. Tadi El udah sampek SKA waktu Kakak nelvon tuh. Makanya, mutarnya jauh nih jadinya Kak.”
“Oh yalah, nggak apa-apa doh. Nanti titipkan aja HP itu ke pak ketua koperasi yang tadi Kakak tunjukkan sama El. Jangan bilang kalau itu HP, bilang aja ada barang Kak Dila yang ketinggalan atau ada kejutan buat Kak Dila dari El. Pokoknya jangan bilang kalau itu isinya HP ya Dek.”
“Loh jadi Kakak langsung berangkat nih, nggak nunggu HPnya dulu?”
“Itulah Dek, mana sempat lagi.”
“Eh, titipkan sama Abang ganteng ajalah ndak Kak?” usulku, kecentilan.
“Ha… terserahlah, nak Abang ganteng, nak Abang jelek, nak Abang pesek boleh juga. Orang tu pasti masih di stand tuh. Makasih ya Dek.”
Motorku berhenti lagi di perempatan Tuanku Tambusai-Sudirman, di bawah Fly Over depan Gramedia. Setelah lampu hijau menyala, aku berbelok ke kanan perlahan. Lalu, di Fly Over ke-dua, hpku bergetar lagi. Panggilan masuk sepertinya.
“Hallo Dek? Nanti setelah El kasihkan HP Kakak jangan lupa minta nomor HP Abang tu ya?”
“Nomor HP Abang ganteng kan?”
“Iyaaa. Nanti langsung kirimkan ke Kakak ya biar Kakak hubungi dia besok untuk ngambil HPnya.”
Di lobi hotel, aku berjalan perlahan-lahan sambil terus menyelesaikan ketikan pesanku kepada Jimmy, Bro, aku terhalang lagi untuk ke sana sekarang. Ntar pokoknya kalau aku udah di sana, pasti ku kabarin ya.
Oke, ntar kabarin aja.

“Ini Mbak,” kata Abang receptionist, menyerahkan Andro kak Dila dan casannya.
“Huaahhh, Abang tadi nggak ngingatkan Kakak itu, sekarang baru saya diminta jemput ke sini.”
“Udah berangkat Kakak itu?”
“Udah Bang. Udah sampai di loket mobilnya katanya. Bang, ada kotak nggak yang bisa muat nih HP?”
Si abang menilik ke beberapa tempat, tapi katanya nggak ada kardus atau kotaknya. Kemudian, aku meminta Koran kepadanya tapi karena dia sedang melayani tamu yang akan check in, akhirnya dia mengarahkanku supaya bertanya kepada temannya yang sedang berdiri menyandar di sisi kanan. Ia mengambil setumpuk Koran dari belakang dan menyerahkannya kepadaku. Tanpa memilah dan memisahkannya, segera ku gulung dan ku tekuk Koran berisi HP itu. Karet pun hanya ada 2 saja dari si abang hotel dan putus pula ketika ku coba mengikatkan ke Koran itu. hemmm…akhirnya ku keluarkan plastik kue pemberian kak Dila dan membalut Koran tadi dengan palstik tersebut. Clear!

***
Aku kembali memarkir motor di pelataran ini. Selamat datang kembali Nona Elysa di Purna MTQ, seolah seperti itulah tempat ini menyambut kedatanganku kesekian kalinya.
“Nggak ada uang pas Dek?” tanya Abang tukang parkir ketika ku serahi uang Rp 20.000. Ah, akhirnya setelah beberapa kali dalam sehari ini kak Dila selalu membuat uang ini tercegah untuk ke luar, kali ini ia ke luar juga untuk parkir.
“Nggak ada Bang. Itu satu-satunya.”
Si abang merogoh kantongnya dan menyerahkan uang Rp 5000, Rp 10.000 dan Rp 1000 kepadaku.
“Loh Bang? Bukannya parkirnya Cuma Rp 3000 ya?”
“Rp 4000 Kak.”
“Loh? Tadi siang aja masih Rp 3000 loh Bang?” tanyaku penuh tantang.
“Iya, Rp 4000 nyo Kak untuk jaga parkir ini aja,” ia mencoba menjawab dengan gugup dan kalimat tidak teratur.
Aku hanya tersenyum menatapnya yang masih tertunduk, lalu pergi meninggalkannya. Kenapa nggak katakan sejujurnya aja kalau uang kembaliannya emang nggak cukup Rp 17.000? Aku pasti akan ngasih kok! Hemmm…semoga uang itu bermanfaat baginya ya Allah. Di stand Rokan Hilir, aku melihat abang-abang itu sedang ngepak-ngepaki barang-barang pengisi stand. Hemmm… ntah gimanalah acaranya ini, masa bazaar-bazar pameran diizinkan tutup sebelum penutupan? Mau sesepi apa ya malam nanti?

“Assalamualaikuuum, Baaaanggg..” sapaku, mengejutkan mereka.
“Ha? Ada yang tertinggal ya?”
“Apa yang tertinggal tu?” sahut yang lainnya.
“Ini Bang, ada barangnya Kak Dila yang tertinggal jadi kak Dila minta titipkan dengan Abang-abang di sini,” aku mengedarkan pandangan kepada mereka semua tapi fokusku hanya ke seseorang *sihiiyyy. “Nah, besok baru diambil Kak Dila HPnya katanya. Soalnya dia udah berangkat, jadi HPnya cuma bisa dititipkan dengan Abang laah nii,” jelasku lagi sambil mengulurkan benda persegi panjang berbalut plastik hitam itu kepada abang ganteng. Sementara abang-abang yang lainnya masih saling berpandang-pandangan.
Dreett…Dreettt
Kak Dila memanggil, “Iya Kak? Ini udah sampai di stand.”
“Jangan lupa minta nomor HP Abang ganteng ya Dek. Biar mudah Kakak ngubunginya besok.”
“Oke Kak,” tutupku. “Bang? Kak Dila minta nomor HP Abang supaya mudah besok jemput HPnya.”
“Ohhhhh… 0823,”
“Sama Abang aja Dek HPnya Kak Dila tuh. Dia udah ada nomor HP Abang tuh!”
“Oh gittuuu?” duh, hampir aja. hahaha. “Nama Abang siapa?”
“Bilang aja sama Kak Dila, HPnya udah sama Bang Dedi. Dia udah ada tuh nomornya, Dek.”
“Nggak apa-apa doh, catat aja nomor HP Abang ini siapa tahu nanti ada perlu kan?” sahut si abang didekat abang Ganteng. Yapp, bener banget tuh Bang!, sahutku di dalam hati. Hihiii.
“Besok kami baru pulang, Dek. Pokoknya bilang ajalah dengan Kak Dila gitu. Aman HP ini sama kami.”

Rasanya semuanya sudah selesai. Aku nggak punya alasan untuk tidak segera meninggalkan tempat ini. “Makasih ya Bang..Elisa langsung pulang ya..”
“Biarlah Abang antar Dek,” sahut abang ganteng. “Mana kunci motor aku tadi haaa?,” ia belagak seperti sedang kebingungan. Tapi setelah itu mereka semua tertawa terbahak-bahak. Aku faham mereka hanya bercanda. Setelah mengucapkan salam, aku berpamitan.
Melintasi tenda-tenda kerucut lalu sampai di halaman tengah ini membuatku berfikir, mereka yang udah azan maghrib tapi berseliweran dan duduk-duduk santai ini apa nggak sholat sih? *sama donk kayak aku kalau gitu, ehhe. Aku segera pergi. Karena kalau aku sholat di Idrus Tintin lagi, pasti ngantri. Mending aku sholat di dekat TKP aja, biar tenang dan tentram.
Sempat bingung menentukan untuk ke jalan Riau. Ntah kenapa, hatiku lebih condong ke dekat jembatan Okura saja dan meminta Jimmy datang ke sana. Itu lebih ideal rasanya karena tempatnya tepat di tengah-tengah Panam-Rumbai; tidak merepotkanku dan tidak menyusahkannya. Aku sholat maghrib di mushola unik, letaknya di lantai 2 sebuah ruko. Awalnya aku ragu, ini beneran mushola atau mushola yang udah jadi rumah? Tapi, setelah ku tanyakan kepada abang penjual peci di dekat tangga, akhirnya aku yakin untuk sholat di sini. ATM BRI pun tepat berada di seberang jalan. Benar-benar posisi yang strategis.

***
BRAAAAKKKK!!!
Sebuah motor terjatuh ketika aku sibuk memotret pemandangan malam dari teras mushola. Aku berlarian untuk membantu menolong bapak itu. Banyak tanah liat kering di dekat motornya yang rubuh itu. Tapi, aku perhatikan motornya nggak jorki kayak motorku kok! Oh, mungkin sandalnya kali ya? *sempat-sempatnya nebak-nebak hal nggak penting disaat genting begini ya El?
“Bapak nggak kenapa-napa Pak?” tanyaku sambil memegangi motornya.
“Nggak apa-apa Dek,” jawabnya sambil menepuk-nepuk tangan dan pakaiannya yang berdebu.
Seorang laki-laki ke luar dari dalam mobil merah mengkilap mendekati bapak ini, “Karena saya mengerem mendadak ya tadi?” tanyanya santai. Busyeettt dah! Nyantai amat nih orang kaya. Wajahnya china banget dan kulitnya putih. Ganteng sih, tapi sayang udah bapak-bapak, ehhehe.
“Bapak tu mengerem mendadak, ya saya kan jadi terbawa, padahal saya mau lurus,” jawab bapak itu, kesal.
Aku tidak mengikuti perkembangan selanjutnya dari mereka berdua. Segera ku seberangi jalan untuk mengambil uang di ATM.
Maaf transaksi anda gagal. Ingin bertransaksi lagi?
Aku tekan YA. Pasti saldoku cuma 600ribuan nih makanya nggak bisa ditarik RP 60.000. Akhirnya ketika ku cantumkan Rp 500.000, transaksi berhasil. Aku memarkirkan motorku ke dalam halaman bea cukai supaya lebih aman, daripada nunggu di luar yang penuh ancaman. Hihii.. Aku menunggu Jimmy di sini, tepat di bawah lengkungan gagah jembatan OKURA.

“Adek nunggu siapa?” sapa seorang laki-laki rapi yang sejak tadi mondar-mandir dengan sepeda gunung. Mungkin dia kerja di tempat ini, fikirku. Pak Satpam membantuku menjelaskan keberadaanku di sini kepadanya. Setiap kali dia berlalu lalang, aroma harum parfumnya tecium oleh indera penciumanku. Aroma lembut nan segar, membuat penggunanya seolah-olah baru mandi.
Jimmy datang…
“Hai? Aku Jimmy,” sapanya sambil menyodorkan tangan dan ku sambut dengan tangan yang tertangkup.
“Hai juga Jimmy. Oh ya, aku mau tanya nih sebelumnya, harga hardisknya itu 900 atau 800 sebenarnya Jim?” tanyaku sambil menerima hardisk, silicon dan pena yang disodorkan Jimmy.
“Kemarin aku bilang 900 ya di awal?” ia terdiam sejenak, berfikir. “Iya, 900 kan? Aku lupa soalnya.”
“Nah, itu dia, aku kemarin heran juga waktu Jimmy bilang 800. Makanya nih mau ku pastikan.”
Berikutnya aku menjelaskan tentang uangku yang bukan hanya kurang Rp 100.000, tapi Rp 200.000 kepada Jimmy dan terjadilah proses negosiasi yang rumit dan pelik dengannya,
“Ya, aku bukannya apa-apa sih, selama ini juga aku jual barang yang kontan aja. Maaf nih ya, bukan gara-gara kamu temennya Munthe lalu aku langsung percaya gitu aja, apalagi kita kan baru kenal. Soalnya aku udah sering ‘kena’ juga sama kawan-kawan aku. Hemmm…”

Lalu aku memberikan pilihan; hardisknya ku terima tapi uangnya nyusul atau hardisknya ku kembalikan dan ngambilnya setelah aku punya uang. Tapi, pilihan itu berubah seiring proses; sebenarnya aku sangat butuh hardisk itu dan Jimmy meminta jaminan kepadaku. Di minta KTM, aku nggak bawa. Aku kasih ATM, katanya nggak berguna karena toh uangnya nggak bisa diambil. Dia minta KTP, aku juga nggak bawa. Ku tawarkan cincinku, katanya nggak berani karena harganya jauh lebih mahal disbanding hardisk ini. Akhirnya dengan berat hati, ku serahkan kameraku.
“Nggak apa-apa nih? Kan kurangnya uangmu cuma Rp 200.000, sementara kameran ini lebih berharga. Memangnya kamu percaya sama aku?” persis banget kayak si engkong-engkong nih Jimmy.
“Aku percaya!” jawabku mantap.
“Oke deh. Eh, seberapa ada aja uangnya. Rp 400.000 juga nggak apa-apa dulu, ntar aku takut kamu nggak makan lagi gara-gara ini,” sarannya.
“Nggak, nggak apa-apa, aku pasti bisa makan kok! Ehehhe. Oke ya, ini Rp 500.000, berarti kurangnya Rp 200.000 lagi. Makasih Jimmy,” kataku yang lagi-lagi membalas sodoran tangannya kepadaku.
“Eh, maaaf aku lupa,” balasnya. Aku tertawa. Ia berjalan memungguiku, lalu masuk ke dalam mobil putihnya dan berlalu pergi.
Ya Allah, malam ini aku baru saja membeli SEBUAH KEPERCAYAAN. Ternyata mahal banget ya harganya? Ajarkan aku tegas seperti Jimmy, tegas kepada dirinya sendiri dan tegas kepada keadaan!

***
“Kakak udah di kosan?” tanya Okta.
“Udah, barusan aja,” ku lirik jam di HP; pukul 20.45wib.
Mengalirkan segala cerita Okta yang tadi sempat terpotong karena kedatangan Jimmy. Aku udah menduga sebelumnya, yang akan Okta ceritakan adalah hal duka.
“Dek, mendengar cerita Adek ini membuat Kakak jadi berfikir; Setiap orang akan ada masanya sulit untuk disapa seperti biasa, ntah itu karena kesibukannya, waktunya yang semakin jarang jeda, terhalang biaya untuk bicara. Itu pasti akan terjadi Dek. Kakak juga sangat takut dengan perpisahan, perubahan dan jarak, tapi itu mau nggak mau pasti akan terjadi Dek! Pasti! Tapi, Kakak menginginkan diri Kakak selalu bisa untuk disapa. Caranya ya dengan tetap teguh nulis blog. Walaupun mungkin Kakak nggak bisa membalas sapaan itu secara langsung, tapi dengan Kakak menghadirkan tulisan Kakak di blog, semua orang bisa merasa dekat dengan Kakak karena tulisan itu.”
“Kak, apapun yang terjadi, jangan penah kurangi sayang Kakak ke Okta ya?” pintanya.
Dek, andai kamu tahu, sebelum kamu berkata begitu, kakak sudah lebih dulu takut kehilangan sayangmu.

Tidak ada komentar: