Rabu, 30 September 2015

InspirasiI: Moderator adalah Wakil Rakyat (Peserta acara)

"Rini udah makan?”
“Belum.”
Akhirnya Rini ikutan nimbrung dengan nasi bungkusku. Sambil makan, Rini menceritakan keseruannya di desa KKNnya dan aku menceritakan tentang Teguh yang menjadi moderator hari ini.
“…menurutku Rin, moderator itu umpama wakil rakyat. Rakyat di sini adalah peserta artinya. Moderator harus memposisikan dirinya seperti orang yang sebenarnya tahu tapi ingin banyak tahu. Sepakat nggak Rin?”
Rini manggut-manggut.

Rindu Berdara(h)

Rindu itu tiba-tiba datang
Rindu lama
Tentang seseorang bersebut Rindu
Rindu berdarah
Merah!
Darah yang sudah lama mengering
Jauh hari sebelum rindu ini dituliskan

Penghujung September 2015

Selasa, 29 September 2015

INFO: Luka di Bibir Selalu Jadi Sariawan

"Rin, kalau gusi atau lidah kita udah terluka –ntah itu karena kebablasan waktu nyikat gigi atau kegigit, pasti ujung-ujungnya jadi sariawan kan Rin? Perhatiin nggak?”
“Iya yaaa..”
“Nah, itu karena kuman-kuman di mulut kita menginfeksi luka tadi Rin. Makanya, kalau udah luka, pati jadi sariawan deh. Nggak mungkin nggak.”
“Ohhh…gituuu ya teorinya.”
“Makanya, kalau sikat gigi itu harus hati-hati, makan juga hati-hati, supaya nggak terluka.”

Aku nggak mau Dipoligami!



 “Mbakkkkk, ayoklah kita jalan-jalan. Nanti nggak jadi lagi haaa,” pinta Moza.
“Iyaaa…besok pagi Mbak Ela udah pulaang,” tambah Salsa.
“Yoklahhh Yoookk!” aku segera bangkit, memakai jilbab dan ke dapur.
“Loh, Mbak Ela tadi ke manaa?” Salsa sadar beberapa saat kemudian dan meninjau seisi rumaah.
“Bocah-bocaaaahhhhh… sini kita jalan-jalaaann! Katanya tadi mau jalan-jalaaann,” teriakku dari belakang.
Moza melihatku dari pintu dapur yang langsung mengarah ke pekarangan belakang. “Apalah Mbah Elaa niiii! Nggak nggenah (baca: nggak jelas).”
“Loh, tadi katanya ngajak jalan-jalaaann?” tanyaku kembali sambil terus berjalan ke sana ke mari di sekitar jemuran. Wkwkwkwk.
“Iya, tapi nggak jalan-jalan di sini. Jalannya ke jalan lah kitaaa,” jawab Moza.

Rumus dari Mami

Rumusku :
"Daripada hanya dihampiri sementara, lebih baik jangan hampiri aku sama sekali!"
ternyata salah.
Rumus mami jauh lebih baik :
"Silahkan datang. Silahkan pergi. Aku tak pernah mengundang. Aku tak pernah melarang."

September, apa kabar? 2015

Senin, 28 September 2015

Inspirasi: Menghargai yang Mempercayai


“Kemarin tu sebenarnya ada anak UIN Lis yang mau ngajar les Indah, tapi Kakak ragu. Kakak bilang aja; ‘Sebenarnya ada Adek Kakak yang ngajar les Indah biasanya. Kemarin dia memang nggak bisa, cobalah Kakak hubungi dia dulu ya. nanti kalau memang dia nggak bisa, sama Adek aja Indah lesnya’. Syukurlah ternyata Elis bisa.”
Ya Allah, bagaimana mungkin aku menolak orang yang sangat mengeharapkan dan mempercayaiku seperti ini? Subhanallahi wabikhamdi.

“Dia agak kecewa sih kalau Kakak lihat, tapi mau gimana lagi Lis. Elis tahu sendiri lah gimana rumah ini, anak-anak berdua aja di rumah, Kakak sama Abang jualan sampai malam. Kita kan harus waspada Lis, jangan sampai salah pilih orang.”
“Kakak memang pas banget loh kemarin waktu nawarin ke Elis, soalnya Elis memang lagi pengen ngajar untuk ngisi kekosongan ini Kak. Makasih ya Kak. Elis justru segan karena udah lamaaaa banget nggak main ke sini, takut Kakak marah juga.”
“Ndak apa doh Dek. Kakak bersyukur Elis bisa ngajar les Indah lagi.”
Ya Allah, tolong katakan bagaimana caraku membalas kepercayaan yang satu ini?

Pula

Kalau aku memang salah pemaknaan
Tolong beritahu
Jangan membiarkanku
Nanti ku balas membiarkanmu
Pula
Aku  sedang menilaimu
Bagaimana bisa menawarkan janji pasti
Jika memastikan janji pun kau tak bisa
Sebab janji bukan sekedar janji
Tapi bagaimana sebuah janji
Jangan menmbiarkanku
Nanti ku balas membiarkanmu
Pula


Pula. September 2015. Janji

Minggu, 27 September 2015

Inspirasi: Wanita Seumpama Air Sumur

Perempuan itu seperti sifat air sumur; ia akan terbawa bersama timba yang menimbanya. Timba itu adalah perumpaan untuk si laki-laki. Pada dasarnya, seorang perempuan akan menerima saja seorang laki-laki yang benar-benar siap menikahinya. Benar-benar siap ya, ku ulangi lagi. Sekalipun sebelumnya mungkin tidak ada rencana atau gambaran bahwa ia akan menikah dengan laki-laki tadi, tapi jika ia dengan sepenuh hati diminta; ‘Jadilah istri untukku dan ibu dari anak-anakku’ perempuan mana yang tidak akan luluh hatinya? Bukankah bukti kesungguhan cinta itu adalah PERNIKAHAN? Bukankah pengakhiran terindah dari cinta itu adalah PERNIKAHAN? Bukankah perhentian terakhir dari sebuah pencarian cinta itu adalah PERNIKAHAN?

Jadi, jangan tanya bagaimana caranya agar aku jatuh hati padamu tapi buktikanlah bahwa aku memang layak memilihmu.

Hati jangan Diumbar

Berlebihan itu tidak baik
Walaubagaimana pun, berlebihan itu tidak baik
Boleh saja hati ingin
Tapi jangan mengumbar
Menghubung-jelmakan segala sebagai balada
Cukup kamu dan Kami yang tahu gemuruh itu
Mengumbar tak membuat inginmu tiba-tiba jadi

September dalam terjemahan hati. 2015

Sabtu, 26 September 2015

Serba Diam-diam

Mencintai lewat diam-diam doa
doa diam-diam
Melihat lewat diam-diam mata
mata diam-diam
Mengingat lewat diam-diam kata
kata diam-diam
Merindu lewat diam-diam waktu
waktu diam-diam
Aku memang suka diam-diam
Semoga kelak menyempurna dengan diam

September dalam diam, 2015

Jumat, 25 September 2015

Sekarangku-Sekarangmu

Pantang pisang berbuah 2 kali
Pantang hati bersedih 2 kali
Meskipun rindu
Cukup rindu saja yang tahu
Cukup kamu yang tidak menahu
Ini adalah sekarangku
Itu adalah sekarangmu

Septemberku 2015

Kamis, 24 September 2015

Hinggal Waktu Mengadu

Mata baru terbuka, teriakanmu bermula
Mengarahkan semua
Menugasi setiap kami dalam porsi masing-masing
Setiap hari sudah selalu melulu itu
Terus seperti itu hingga pagi tak hingga
Kami tak luruh-luruh
Masih terus disuruh
Payah!
Seharusnya kini kami mengistirahatkanmu
Tapi belum juga kami mampu
Hanya bisa menghiburmu dengan...
"Omelanmu adalah lagu merdu.."
Sambil menunggu waktu mengadu
Kami memampu


September memampu, 2015

Rabu, 23 September 2015

Selamat Ulang Tahun Cin Lii

Assalamualaikum rabu...
Sehari yang mengawal kamis nan Adha
Akan jadi lebih spesial kalau hari ini adalah esok
Tapi hari ini pun sudah sangat spesial sebenarnya
Sebuah doa tak berparagraf berikut ini untukmu
Selamat berbaru usia
Semoga dirimu semakin tulus mencinta sesiapa
Termasuk aku dalam apa adanya
Sekalipun aku masih berbeda
Semoga segala doa dan cita disegerakan pengabulannya
dan segala dosa dipercepat penghapusannya
Terimakasih telah menjadi seluruh-ku
Setidaknya selama 2 tahun yang hangat ini
Aku belajar darimu yang tak ku dapatkan dari berbagai jiwa
Bermula dari hal terkecil, tersepele dalam pandanganku
Hingga hal besar yang terlampaui perhatianku
Semuanya adalah untukku olehmu
Terimakasih cintaa...

Ditulis seketika oleh jemari, 23 September 2015

Selasa, 22 September 2015

Kita baru sama

Kembali kita nikmati berdua
Biskuit hitam bertabur bulatan coklat
Rasanya masih sama; pahit kegurihan
Kita yang berbeda
Karena baru saja sama

Aku dan kamu dalam Oktober, 2015

Senin, 21 September 2015

Untukmu yang Telah Tuntas Berkuliah

Hari ini adalah tentang kemarin
Tentang 3 atau 4 tahun yang lalu
Ketika sama-sama berada di permulaan
Tapi berbeda dalam pengakhiran

Hari ini masih tetap milik kita
Hanya waktu yang berbeda
Ada yang terdahului dan terbelakangi
Tapi bukan berarti tentang menang atau kalah

Setelah ini, masa depan akan seutuhnya menjadi milikmu
Ada kewajiban baru yang silih menagih
Dan segala cinta baru yang mungkin belum kamu tahu
Di mana pun dirimu, semoga ingatmu tetaplah aku
Selamat berusai studi, kawan...
Semoga jalanmu damai, hidupmu permai.
Dan di syurga kita saling bertemu
aamiinn..


September dalam balutan Syukur, 2015

Sebuah Doa sebagai Penutup Hari



Mungkin karena kita terlalu dekat, kita tidak pandai lagi membedakan mana hal yang harus dipuji dan mana hal yang harus diperingati. Semua hal tentangnya seolah-olah menjadi biasa saja dimata kita; obrolan yang biasa, prestasi yang biasa, perjuangan yang biasa, bahkan luar biasa pun dianggap biasa. Itulah kita. Mungkin kita melihat terlalu dekat dan butuh mundur sedikit supaya bisa melihat kesempurnaan itu.

Aku bukan orang yang haus pujian. Tapi itu tidak berlaku untuk orang-orang yang dekat denganku. Kekuatanku ada pada mereka. Maka, ketika tiba saatnya aku lelah, aku sangat berharap mereka mendukungku. Kalaupun mengkritik, silahkan saja! Tapi bukan kritikan asal jadi yang semakin merendahkan hati. Karena, aku tidak pernah main-main dengan pertanyaanku; “Bagaimana penampilanku tadi? Apa yang harus diperbaiki? Bagian mana yang bagus dariku?” Sejak kecil, aku memang selalu ingin ditunjukkan tentang ‘kelebihanku’ disamping pengkritikan terhadap ‘kekuranganku’.

Minggu, 20 September 2015

Mahalnya sebuah kecewa

Berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah kekecewaan?
Mahal !
Tidak ada yang bisa membayarnya
Kecuali ketiadaan itu sendiri
Ketiadaan itu adalah milik waktu
Dan untuk membayarnya, aku harus kehilanganmu

September akhir, 2015

Workshop Gratis Keliling Dunia; Gagal itu Gratis. Kenapa Takut Mencoba?



Sepi. Sendiri lagi. Di kamar ini. Sepi ini kembali mengajakku merenung, meresapi segala hal yang telah bersebut tadi; tadi pagi, tadi ketika workshop, tadi ketika bahu membahu bersama teman-teman, tadi ketika pulang dan tadi yang tak mungkin terulang. Inilah beragam hikmah ranum yang ku rangkum hari ini;
1.       Ada saatnya kita harus memposisikan diri sebagai orang yang tidak tahu apa-apa tapi ingin tahu segalanya
2.       Berkah hidupmu tak jauh-jauh asalnya; Ibumu
3.       Belajarlah berlapang dada dan ikhlas menerima kritikan. Orang besar harus memiliki hati yang besar
4.       Orang yang berilmu akan selangkah lebih tahu. Tapi orang yang bertindak akan selangkah lebih maju
5.       Kadang, kita harus melebihkan pendengaran dan mengurangi ucapan. Melebihkan pemakluman dan mengurangi tuntutan. Melebihkan penyambutan dan mengurangi pengacuhan.
Selanjutnya, hanya suara tuts keyboard yang terdengar. Hanya ada aku dan kata. Jemariku yang bekerja. Menulis tentang hari yang hampir pergi. 

Sabtu, 19 September 2015

Membantu yang telah membatu

Tiba-tiba ada yang berharap diberi tahu
Tentang peranku dulu
Padahal aku sudah lama membatu
Dari aksi aksara bisu
Sudah berbulan pula tak lagi melagu
Kini bersalah mulai merayapiku
Teringat harusku
Membantu yang telah membatu

Okto dengan Tribun, 2015

AJO; Ayok Ajolah!




 Aku pernah kehilangan seseorang yang telah melewat ribuan hari bersamaku. Sudah 2 tahun berlalu, tapi kehampaan itu masih terasa hingga kini. Hingga aku bertemu denganmu, aku berfikir bahwa kamu tak sama. Kamu berbeda. Meskipun hingga kini pun aku kerap merindukannya lewat sebut-sebut di hadapanmu. Kadang, aku berfikir, jangan-jangan kamu cemburu. Karena selama ini, hanya cemburuku saja yang selalu ku jelaskan dan kau maklumi.

Sekalipun, kau tak pernah mengisahkan bagaimana cemburumu kepadaku. Maka, hingga saat ini aku berkesimpulan bahwa kamu memang bukan pencemburu. Cemburu di matamu mungkin hanyalah tentang kebaikan orang lain yang kau rasa perlu kau tiru. Bukan tentang cemburu-cemburu tak menentu sepertiku. Tapi, inilah kita; Saling menggenapi diantara keganjilan. ^_^

Jumat, 18 September 2015

Lagi-lagi, Ini Bukan Soal Itu



Pukul 21.14wib. Ku coba membuka  FB, tapi leletnya parah! Eh, giliran buka blog, lancarnya pake banget. Emang diwajibkan nulis nih kayaknya. Udah beberapa hari vakum dari diary meskipun tetap ku angsurkan,hanya saja tak selesai.
Aku baru aja nangis dan cerita sama Teguh. Tentang sebuah krisis bangsa. Tentang krisis yang mengiris-iris. Tentang rakyat ini yang rupanya sangat miskin. Apakah kamu akan sepakat denganku atau tidak? Mari ku ceritakan apa yang terjadi…
Tadi, setelah sholat Maghrib aku ditelvon oleh Novi. Ketika kami sedang asyik mengobrol, kak Dewi –penjaga kosku memintaku untuk ke luar sebentar. Ada abang iparnya yang akan menjelaskan tentang bisnis katanya. Aku menangguhkannya sebentar untuk menuntaskan obrolanku dulu dan Novi.
“Ni Abang Ipar Kakak, El…” kata kak Dewi ketika aku sudah berada di bibir pintu.
“Halooo?” sapa bapak itu sambil menyodorkan tangannya kepadaku. Aku hanya balas menangkupkan tangan di dada.
“Jadi, Bapak ingin menawarkan peluang bisnis kepada Adek. Kebetulan, Bapak memang sedang mencari partner mahasiswa karena bisnis ini modalnya kecil tapi peluangnya sangat besar. Baru saja dilaunching semalam dan hari ini membernya sudah lebih dari 40.000 orang.”
Mulailah si bapak menjelaskan tentang modal dan sistem kerja bisnis ini. Persis! Persis banget dengan bisnis-bisnis lain yang pernah ku lihat berkelebatan di internet. Teman-teman boleh buka salah satu contohnya di sini. Intinya gini; kita diminta transfer uang, setelah itu kita dapat web replika persis seperti yang sedang kita baca itu dan tugas kita adalah menyebarkan link itu ke semua orang supaya mereka pun bayar dengan jumlah yang sama, tapi kali ini ke no.rek kita yang udah otomatis tayang di web replika tadi. Mudah kan? Kalau kita bayarnya Rp 100.000 diawal, ya kita akan mendapatkan kelipatannya terus menerus.

Bicara Rindu

Dari perpisahan ini telah ku himpun banyak temu
Temu dengan penemu
Temu dengan tuju
Temu dengan malu
Temu dengan tamu
Kita memang butuh jauh
Supaya rindu memeluk jarak
Ketika temu hanya sibuk bicara rindu

September merindu 2015

Kamis, 17 September 2015

Pemaklum-ku

Kebodohan jenis apa ini?
Tak hendak lelap, tapi dilenakan niat untuk lelap
Apa-apaan ini?
Bukan hanya semenit, dua menit
Tapi 2 jam lamanya
Pagi pula waktunya
Mau jadi apa mimpiku kalau pemimpin-nya pemimpi?
Pemimpi dalam mimpi-mimpi yang sebenar mimpi
Yang nyata tak terjamah
Padahal mimpi harusnya me-nyata
Tuhan... Maafkan kebodohan pagiku ini
Sungguh, hanya Engkau yang ku harapkan sebagai pemaklumku
Padamu, ku kesahkan segala kebodohan
Karena aku yakin Engkau tak hendak menyalahkanku
Di hadapan-Mu, aku tetaplah si kecil kecintaan
Bukankah benar begitu, Tuhan?


September di hadapan Pemaklum. 2015

Milad UR; Nikmat dan Hebat jika Aku Bisa Terlibat



Pukul 17.54wib. Aku baru menyeka air mata setelah mengulangi lagi menonton film bollywood yang satu 1; Peekay. Padahal udah sering ku ulang, tapi tetap saja air mata itu mengulang. Sebenarnya, banyak sekali hal yang wajib ku lakukan. Tapi, pilihanku justru malah memilih untuk nonton. Aku benar-benar nggak produktif hari ini. Tadi nyaris saja aku menolak ajakan Nila untuk mengambil sponsorship ke Azzwars parfum. Untungnya Allah menggagalkan kemalasanku sehingga aku jadi pergi ke sana, rapat sebentar di UMRI, menemui Nilam di pesantren dan terakhir mengantarkan Nila ke tempat mengajarnya privat. 

Okta barusan menelvon. Ia mengaku belum menulis apapun untuk KTInya. Kesibukannya di kepanitiaan MIlad UR sangat menyita waktunya. Ia sudah terlebih dahulu meminta maaf jika nyatanya besok tidak sanggup menyelesaikannya. Lalu aku berpura-pura mengacamnya untuk jangan lagi menyapaku kalau KTInya gagal selesai. Mulailah ia merengek atas ancamanku itu. Teguh ternyata sedang di sampingnya dan mengaku sudah menyelesaikan KTInya. Wawww… aku takjub! Sekaligus geli sendiri. Andai Okta tahu bahwa aku juga belum menulis 1 kata pun, ia pasti akan gantian menertawakanku. 

Baiklah ya Allah… aku ku tunaikan janjiku kepada-Mu malam ini. Aku akan memberimu alasan agar Engkau menjatuhkan ‘pilihan’ itu kepadaku. Terimalah sebab ini. aamiin..

Rabu, 16 September 2015

Disesuaikan dan Tersesuaikan

Butuh dipaksa supaya terbiasa
Butuh disiksa supaya terasa
Kita adalah si penyesuai ulung
Tidak ada yang tak tersesuaikan
Awalnya tidak bisa, akhirnya bisa
Awalnya tidak mungkin, akhirnya mungkin
Awalnya tidak yakin, akhirnya yakin
Kita adalah si penyesuai ulung
Segalanya tertolak sampai segalanya terlampau
Tidak ada satu pun yang tak tersesuaikan
Kita tercipa karena disesuaikan
Kita tiada karena tersesuaikan



September yang tersesuaikan, 2015

Selasa, 15 September 2015

Bagianmu sudah bukan bagianku

Hari ini aku bertambah tahu
Semakin tahu
Totalitas menahu
Tentang aku yang tak dianggap lagi
Bagianmu sudah bukan bagianku
Selama ini sekalipun aku pergi
Masih selalu hati ini ku ikat di sana
Pergiku adalah baktiku yang lain
Tapi hari ini aku benar-benar tahu
Sebenarnya sudah sejak kemarin berfirasat
Tak terlalu ku hiraukan sayangnya
Dan, biarlah kamu menganggapku begitu
Tapi Tuhanku tidak pernah sepertimu
Aku, dianggap Tuhanmu sebagai 'tangannya'
Sudah cukup dan bagiku genap

September hanya bersama-Nya. 2015

Senin, 14 September 2015

Selamat Ulang Tahun yang Tak Tersampaikan

Hari ini kau berulang tahun
Sungguh, aku sungguh terlupa
Ntah dihapus waktu
Atau dihapus oleh rasa kehilangan
Sejak kau menghilangkan hati
Harus bagaimana aku mengucapkan kepadamu?
Katakan kepadaku bagaimana caranya
Sedangkan aku telah kau hapus
Sedangkan aku telah kau jauhi
Sedangkan aku tak punya jalan kembali

September yang hanya doa, 2015

Cangkir yang Tak Dibayangkan



Berjalan.. berlari.. hati tertindih.
Sulit tapi harus aku putuskan
Jalanmu, jalanku belum sempruna
Biar masa depan yang sempurnakan
Suara-suara bathinku melepaskanmu
Lirih-lirih jiwaku membasuh pilu…
Takdir yang Kau beri menguji hatiku
Terasa menyesakkan kehilangan ini
Tangis yang Kau beri membuka mataku
Bahwa cinta yang sebenar cinta hanya ada Satu
Karena kehilangan ini, ku mampu medekat kepada-Mu
Alunan lagu berjudul Mencintai Kehilangan ini menemani pagiku. Masih dini. Sholat Subuh baru saja ku tunaikan. Sendirian. Dan, di menit ini aku kembali merindukan Rini. Semoga di sana, ia tetap sama dalam ibadahnya. Aamiin

Bububuyuuu banguunnnn… Aku mau adek! Auk auk auk auk..
Sayangnya aku belum ada pulsa dan harus membalas pesan Rini dengan membebankan biaya kepadanya. Hehe.
Eke tadi bangunnya jam 04.10wib loh cuyyy. Aku mau adek! Kayaknya aku udah terbiasa bangun cepat nih. Dia udah nelvon? Udah nelvon dia? Simpanse. Bububuyu. Eh, btw flasdis eke di mindring?
Tentang kalimat Dia udah nelvon? Udah nelvon dia? masih ingat kan dengan pembuka di awal cerita ini http://elysarizka.blogspot.co.id/2015/09/one-additional-day-with-you.html ?
Di tas hitamku yang cantik itu, di dalamnya. Isilah pulsa itu wooyyy!
Hahaha.. aku terkekeh membaca balasan Rini ini. hemm.. Iya Cuy, aku akan beli pulsa nanti.

Minggu, 13 September 2015

Seharian Sendiri Bersama Diri



“Kak, Kak Elisaaa. Kaakkk…”
Suara Fajri membangunkanku. Mimpiku barusan seolah terhubung dengan suara ini, tapi ketika aku beranjak dari tempat tidur, seketika mimpiku terlupa. Ntah tentang apa tadi.
“Ya, ada apa Dek?”
“Kak, pinjam motor.”
“Mau ke mana memangnya?”
“Mama mau jumpain Papa.”
Wahhh….gaswat nih. Don’t-don’t (baca: Jangan-jangan) akan ada perkelahian lagi setelahnya. Ah, syudahlah, itu bukan urusanku.
“Nih kuncinya. Nanti pegang aja dulu ya Fajri, Kakak mau lanjut tidur nih.”
Ku picingkan mata, menatap ke layar HP. Ternyata jam 1 dini hari. Huaammmm… ada baiknya kalau aku lanjutkan tidur dulu. Alarm ku set ke jam 3. Kalau sekarang aku ngetiknya, badanku yang bakal sakit ntar. Tapi, untuk beberapa menit selanjutnya, aku belum juga berhasil tertidur. Fikiranku menembus tembok dan menelusuri jalan di sekita kosan ini. Yap, fikiranku terjaga dan berjaga di luar sana, seolah akan menyaksikan apa yang sebentar lagi terjadi.

1 hari setelah Kepergianmu

Ini adalah hari pertamaku setelah kepergianmu
Beda
Memang demikian berbeda
Sosokmu memang adalah 1
Tapi segala sesuatu tentangmu ada demikian banyak
Aku sendirian sekarang
Diamku sempurna diamnya
Keheningan ini menjadi genap
Kalau ku turuti hati, tentulah mata akan ber-air lagi
Kalau ku hayati rasa, tentulah sepi yang akan kian terasa
Aku hanya berupaya menikmati kini-ku
Tidak merasa-rasa sepi
Tidak mereka-reka rindu
Tidak meraba-raba mengapa

September, 13- 2015 di kamar ungu

Sabtu, 12 September 2015

Caraku Melepasmu

Ternyata kamu pun sama
Aku bisa melihat keberatan itu dari caramu
Kita sama-sama berat dan sulit atas perpisahan ini
Tapi berpisah atau tidak, bukan lagi soal pilihan
Tapi kepastian.

Lihatlah, betapa tegarnya aku melepasmu
Tidak ada air mata yang kau lihat, bukan?
Itu karena aku merumusi diriku untuk berbahagia
"Aku mengharapkanmu kembali!"
Itulah yang membuatku mampu berdamai
Sekalipun pengembalian itu tidak pernah lagi ada
Setidaknya aku masih memiliki Pemilik Harapan

Hari ini aku mencoba melepasmu
Dengan mengharapkanmu...
September dalam detik perpisahan, 2015

Mencintai Kehilangan



“Jam berapa El?”
“Tiga.”
Rini siuman karena mendengar gerakanku mencabut cas laptop. Yap, lagi-lagi aku ketiduran dengan keadaan laptop yang masih menyala dan tercas. Hiksss… maafkan aku laptop. Karena merasa bersalah kepada laptop dan juga diri sendiri, aku langsung meraih laptopku dan kembali menggarap blog dengan mata full on.
Ya Allah, mungkin inilah hikmah kalau tidur dibawah jam 23.00wib; aku bisa bangun sedini ini dan menikmati heningnya sepertiga malam.
Waah… ternyata ngetik di jam-jam ini lebih khusyuk dan fokus ya! kayaknya bagus juga nih kalau diterusin untuk membentuk pola keseharianku. Hemmm… patut dicoba!
“Cuy! Tahajudd!” aku membangunkan Rini pukul 4.35wib.
Rini melenguh dan mengulet.
Eh, tiba-tiba aku terfikir, jangan-jangan penyebabku bisa terbangun ini bukan karena tidur lebih awal, tapi karena tidurku belum diniatin. Ibaratnya badanku ini tidur karena nggak sengaja, bukan karena maunya hati. Hikss.. kasihan donk badan ini kalau gitu. Maafin aku, diriku…
Ya Allah, ini adalah tahajud dan sholat subuhku berdampingan dengan Rini. Esok, ketika aku bangun, tidak ada lagi sosoknya di sampingku. Engkau pasti tahu betapa beratnya aku atas semua ini. Tapi, bukankah ini adalah perpisahan menuju tempat yang lebih baik? Bukan karena permusuhan atau kebencian. Hamba mohon, jaga ia di sana dan hebatkan aku di sini. Mungkin, ada sesuatu yang Engkau rencanakan untukku dalam sendiriku ini. Datangkanlah ya Allah. Aamiin.

Jumat, 11 September 2015

Bisa Dipertanyakan

Mencintai dari kejauhan memang perkara keyakinan
Tak mudah
Apalagi ketika merindu
Hati seketika meranggas seperti ranggasnya maple di musim gugur
Kadang, aku sering takut merindu
Meski Rindu tak pernah beralasan, tapi bagiku bisa dipertanyakan
Apakah dia pun merindukanku?
Atau rinduku bertepuk sebelah tangan?
Dan, sering pada akhirnya aku memilik tidak merindu

September tentang Rindu, 2015

One Additional Day with You



“El, tahajud El!”
“Hemmm…”
Aku kembali tertidur sejenak.
“Eh, waktu Rini bangun tadi laptopku masih tercas ya?”
“Iya.”
“Duh! Kaaann…! Hiksss.. maafin aku ya laptop,” kataku penuh sesal sambil mengelus laptop.
Aku segera beranjak dari tempat tidur dan sholat Tahajud.
“Aku pinjam modemnya bentar ya. Bentar ku pinjam modemnya ya,” kata Rini.
Sejak kemarin, kami punya mainan baru yaitu membolak-balikkan tata letak kata-kata dalam kalimat. Terinspirasi dari Comic Story, ketika ada murid les yang nanya ke Babe Cabita, “Kok Mister sering membolak-balikkan kata-kata? Bukannya tenses itu baku ya?” dan dijawab oleh Babe, “Kalau di Indonesia, membolak-balikkan kata-kata itu biasa. Contohnya; Dia udah nelvon? Udah nelvon dia?” dan itulah yang kemarin ku ulas sama Rini akhirnya menjadi bahan lelucon sampai pagi ini. heheh.

Kamis, 10 September 2015

Menyentuhmu Lewat Karya



Aku melihat sajadah sudah terbentang di sampingku. Udah subuh kah? Kok Rini malah main HP dan nggak bangunin aku sih?
“Jam berapa ni Rin?”
“Setengah 5.”
Oh, syukurlah. Aku berniat mau tidur lagi. Tapi, kapan lagi aku sholat Tahajud? Kalau ada kesempatan untuk sholat tapi nggak ku gunakan? Akhirnya, aku beranjak dengan mengucapkan A’uzubillah himinassyaiton nirrojiim..
Setelah selesai berwudhu…
“Rin, aku udah ingat ‘rasaku’ yang kemarin sore tuu!”
“Yang ‘rasaku’ El ulang-ulang bilangnya kemarin?”
“Iya, yang itu. Aku sholat dulu ya! Keywordnya Menyentuh dengan karya , ingat ya Rin! Aku titip ingatanku dulu. Takutnya aku lupa lagi ntar.”
Ya Allah… kuatkan bahuku. Engkaulah sumber kekuatan yang tiada batas. Kalau memang aku harus menghadapi tantangan hidup yang berat di depan sana, izinkan aku untuk menghadapinya, dengan bahu dan jiwa yang kuat. Aamiinn, doaku di penghujung tahajjud.

Izinkan aku Meng-aku-kan diri

Tega-ku ini adalah upaya-ku
Melebihkan diri untuk hal yang teramat aku
Mungkin terkesan kejam dan ego
Tapi ini pun keterpaksaan
Terpaksa tega untuk melebihkan diri
Sebab aku sadar bahwa terlalu banyak kurangku
Nanti pun kelebihan ini adalah untuk dibagi
Bukan ku nikmati seorang diri
Tapi sebelum tiba bisa ku bagi
Izinkanlah aku mengasingkan diri

September dalam genggaman hobi, 2015

Rabu, 09 September 2015

Kado Lama yang Kembali Baru



“Rin, Yudi ngepost pengumuman nih di FB. Pagi ini, ada seminar di puswil tentan Riau Merdeka Asap. Gratis dan dapat makan siang juga.”
“Pergi kita?”
“Yuklah!”
“Cepatlah El siap-siap. Aku tinggal pakai jilbab aja nya ni!”
“Emangnya Rini nggak mandi?”
“Udah loh tadi subuh. Ah, macam mana nyaa! Cepatlah El siap-siap, udahlah pakai jilbab aja 2 jam lamanya. El tu kan nggak mau waktu El terbuang-buang, janganlah buang-buang waktuku juga!”
“Hiksss..terus Rin, aku yang salah?”
“Tengoklah El tu genduut kali haaa! Howalahhh…70 kilo. Bulattt!”
“Biarlah aku bulat, dari pada Rini..”
“Apa?”
“Jajaran genjang.”
“El kayak layang-layang tu!”
“Eh, iya juga Rin. Kan kata Rini kepalaku kecil, bahuku lebar dan kakiku kecil. Udah pas lah tu kayak layang-layang.”
“Hhahaa.a..iya nyaa? Makanya, El tuu berhentilah korupsi sama makananku. Biar kurusan El!”
“Iya. Aku akan diet besok Rin!”
“Selalapnyaa! Diet, diettt… tapi korupsi makanan tetap lanjut. Huh!”

Aku lebih Suka Dibohongi

Perlahan, aku belajar menerima semuanya
Keputusanmu yang berseberangan dengan inginku
Inginku yang berlawanan dengan maumu
Sekarang, tentang pergimu yang akan terlalu cepat
Terutama terlalu cepat kau katakan
Bukankah kau tahu bahwa aku lebih suka dibohongi?
Daripada harus tahu sejak dini
Tentang kenyataan yang tak ku ingini

Kehilangan yang akan, September 2015

Selasa, 08 September 2015

Cepat menyelesaikan Supaya Sempat Memperbaiki



Kalau udah kehilangan, barulah aku berkata; ‘Seharusnya ini, seharusnya itu’ untuk melampiaskan rasa bersalah. Udah sejak hari senin kemarin padahal aku tanya ke Atika kapan ada jadwal ujian. Atika mengatakan tanggal 10 bahkan dia mendesakku untuk segera mendaftar ujian. Tapi……., ya bukan Elysa namanya kalau tidak menunda pekerjaan. Bak kata si kawan lama, ‘Elysa ni suka kali ngerjakan yang sunnah dulu. Utamakanlah yang wajib duluan, El’ sampai sekarang aku masih ingat kata-katanya itu. Kalau sampai saat ini dia masih ada, dia pasti akan bilang, ‘Elysa nggak pernah berubah ya ternyata dari dulu.’

Aku menamai sifatku ini Terlalu Optimis, tapi nggak logis. Kadang, di beberapa kesempatan, aku memang sering beruntung dan mendapatkan miracle. Dan, nggak jarang juga aku bernasib sial karena kehilangan kesempatan. Kemarin, aku terlalu yakin bisa menyelesaikan proposal itu dalam sekejap mata dan baru hari Jumat kemarin aku tersadar bahwa hari ini adalah hari Sabtu; kesempatan terakhirku untuk mendaftar ujian proposal. Nyatanya apa? Keoptimisanku itu lesap seketika. Yang tersisa tinggallah penyesalan diam-diam dan berusaha pura-pura tidak menyesal. Inilah aku yang ku akui.
“Elis harus merubah kebiasaan Elis menunda. Karena belum tentu nantinya Elis selalu beruntung. Kalau nggak beruntung gimana? Mau diperbaiki, Elis udah nggak punya waktu lagi. Kalau cepat selesai kan cepat disempurnakan lagi,” nasehat itu terngiang kembali.
Yap, intinya adalah cepat menyelesaikan supaya sempat memperbaiki.

Selamat Ulang Tahun Teguh-ku

Pagi masih menyisakan cericit unggas-unggas melayang
Pekat asap melekat pada jendela kamar berembun
Dan mata ini baru beranjak dari arah timur
Seketika dihadiahi namamu yang muncul di beranda
Pada sebuah wadah tak bertanah, tak terjamah
Lalu, mulailah ku tuliskan kalimat ini
Semoga umurmu yang bertambah selalu berberkah
Semoga umurmu yang berlalu selalu berSatu
Semoga doamu yang kini selalu berijabahi
Semoga impianmu yang nanti selalu diwujudi
Aamiiin…
Terimakasihku untuk segalamu
Untuk tidak pernah berlebihan berlaku padaku
Untuk tidak pernah berniat pergi dariku
Untuk tidak pernah bermuluk benci
Dan untuk sejuta untuk lainnya


Semoga jiwamu seteguh namamu, 8-2015

Senin, 07 September 2015

Pagi yang Masih Sama

Pagi ini aku masih bisa terbangun di dekatmu
Merasakan dingin subuh bersamaan
Menegakkan pilar tuma'ninah berdua
Aku begitu ngeri membayangkan pagi yang berbeda
Tidak ada lagi kamu ketika aku membuka mata
Hanya kekosongan yang menyertai dalam jaga
Aku tidak kuasa memaksa

September dalam bayang kehilangan, 2015

Minggu, 06 September 2015

Aroma Toilet

Aroma toilet ini masih sama
Aku bisa mencium baumu setiap kali memasukinya
Sabun itu, aromanya tak pernah berbeda sejak dulumu
Jangan tanya kenapa aku terlalu perasa
Karena aku selalu terlalu cinta
Apalagi di saat-saat genting ini
Aku akan 2 kali lipat mengingat
Ah, andai saja kau bisa ku penjarakan
Agar tiada bersebut kehilangan



Untuk Rini yang mencintai September, 2015

Sabtu, 05 September 2015

Mengapa Terlalu Ingin Pergi?

Sebegitu inginkah kau pergi?
Hingga ulang menerus berulang
Ringan nian niat terdendang
Seolah ini tak bernama perpisahan
Aku yang akan ditinggal ini paling terasa
Karena setelahmu belum tentu aku berdua
Ntah siapa selanjut-mu
Bisa jadi semuanya tetap begini
Aku jadi sendiri, menyepi, ditemani dini
Tak sedikit pun seolah sedih
Mungkin telingaku jemu
Hatiku membeku
Lalu ku paksa bisu
Sebab kalau pun ku cegah, tak kan terubah, bukan?


Melatih Kehilangan dalam September 2015

Hidung Anggora dan Rumah Kanker



“Weh, udah jam 09.20wib aja nih. Aku harus menyudahi semua ini supaya nggak terlambat.”
Logo Close di ujung kanan Mozilla segera ku tekan. Meskipun aku belum selesai dengan tulisan-tulisanku ini, aku harus segera menyudahinya. Janji untuk hari ini adalah sebuah penghargaan dan kesempatan yang luar biasa bagiku. Aku tidak boleh terlambat. Semoga 40 menit ke depan cukup untukku bersiap-siap.
Oh iya, Rini kan katanya mau ikut juga…!
“Cuy, jadi ikut kan?”
“Jadi. Duluan lah El siap-siap! Udahlah dia yang lama kali kalan dandan.”
Yap, Rini benar banget. Aku akan bersiap-siap duluan karena ujung-ujungnya nanti aku bakal berbarengan juga selesainya dengannya. “She is so simpel woman”, Okta ever said that too.
“Rin, udah cantik belum?” tanyaku kepada Rini.
Rini membuang muka, pertanda bahwa ia malas menilaiku karena tidak ingin membuatku kege-eran.
“Seriuslah Rin!”
Rini manggut-manggut. Dugaanya ternyata benar karena aku jadi jingkrak-jingkrak-an nggak jelas, ehhe.

MC di Rumah Kanker Alfamart, Pekanbaru

Nama Acara : Perayaan Ulang Tahun anak asuh Rumah Kanker Alfamart
Penyelenggara : Rumah Kanker Alfamart
Waktu : 5 September 2015
Judul Karya : -

Tentang Pencapaian :
Bangga dan bahagia sekali rasanya karena bisa membuat adik-adik penderita kanker berbahagia hari ini. Aku menjadi MC bersama Okta. Rini pun turut, menjadi photographerku selama acara. Ada sekita 15 pasien yang hadir hari ini karena yang lainnya masih belum diizinkan meninggalkan rumah sakit dan belum bisa rawat jalan. Ada bu dokter, guru-guru, orang tua pasien dan teman-teman dari Alfamart juga yang hadir. Acara berlangsung dari pukul 11.00-13.00wib. Ada Albi juga (badut Alfamart) yang turut menyemarakkan suasana. Ada MAWAPRES UR juga yang hadir di tengah-tengah kami –dek Sarah Ovinitha. Alhamdulillah, meskipun leher rasanya sakit banget karena nggak pakai Mic ngomongnya, tapi tak mengurangi keceriaanku selama menjalankan kewajiban.

___Ada kalanya kita harus bersikap seolah tak butuh UANG dan hanya haus dengan KEBERMANFAATAN. Karena tidak ada satu pun kebaikan yang tidak dihitung dan dibalas-Nya. (Truly Elysa)

Jumat, 04 September 2015

Kepergian Bukan Lagi Pilihan

Hampir tiba saatnya saling meninggalkan. Kepergian yang kali ini, bukan pilihan iya atau tidak. Tapi, sebuah kepastian, bahkan keharusan. Bukan saatnya lagi merengek, meratap untuk mengelak, memprotes, mencegahnya. Ini memang saatnya. Hari ini kamu yang pergi. Esok aku yang akan pergi. Esoknya lagi pagi yang akan pergi.

September- belajar mencintai kehilangan. 2015

Kamis, 03 September 2015

Akan Masih Terus Mempuisikanmu

Bahkan setelah berbulan pergimu, aku masih terus mempuisikanmu. Wujud kehilanganku Bukti betapa sulitnya aku. Kau pernah bilang, kau suka puisi tapi takut dengan pembacaan puisi. Nah, ini ku tuliskan puisi tanpa pembacaan kepadamu. Semoga kau suka dan tersenyum kepadaku. Dari kejauhan sekalipun, aku ingin menikmati senyummu.


September yang akan bukan lagi kita, 2015

Evaluasi Gigi



Padahal ini masih pagi banget, tapi Rini sudah sejak tadi mulai merendam pakaian, mencuci tas-tas dan sepatu miliknya. Aku begitu sadar, tapi masih ingin diam saja. Sebuah pertanyaan ingin sekali terlontar sejak tadi.
“El, ini tasku kan? Kok nggak ada ya tali untuk selempangnya?”
“Tapi ku pinjam kemarin. Ni masih ku pake pun.”

Rini melanjutkan aksi beres-beresnya. Aku melanjutkan tontonanku; Haji Backpacker. Sejak awal nonton nih film, aku udah penasaran banget dibuatnya. Apa penyebab si Mada begitu membenci ayahnya? Kakaknya? Sofhia? Bahkan sampai nggak mau balik lagi ke Indonesia. Aku mulai tak sabar menanti penjelasan. Mungkin satu per satu akan terjelaskan seiring bergulirnya jalan cerita.
“Hemmm… udah selesai. Tinggal packing-packing aja besok,” kata Rini setelah sepatu dan tasnya selesai dicuci. “Ah, si Didit ni ntah gimana pun. Kalau nggak mau diambilnya kuali dan yang lainnya ini, bilanglah. Biar ku bawa ke Siantar aja. Nggak jelas kali. Udah setahun pula KKN berlalu,” katanya lagi.
Aku masih diam. Pura-pura nggak mendengarnya, meskipun telingaku sebenarnya panas banget. Film ini tak kalah membuatku panas; ‘Masa hanya gara-gara Sofhia kabur dari rumahnya dihari pernikahan sampai membuat si Mada nggak mau balik lagi ke Indonesia sih? Lebay! Huh,’ gerutuku di dalam hati.
“Banyak kali  barang-barangku ini ternyata. Heemmm…”
“Emang kapan sih mau pulangnya? Besok? Kok cepat amat beres-beresnya?” tanyaku, akhirnya.
“Masih 2 minggu lagi loh. Tapi diangsur dari sekarang.”
2 minggu lagi. Jawaban yang melegakan. Tapi, aku tak cukup berani untuk memastikan tanggal berapakah itu. Setidaknya, aku bisa mensugesti diriku tetap tenang karena masih berteman di kamar ini 2 minggu ke depan. Sejujurnya, aku sedang berusaha membebalkan hati karena merasa akan ada kesedihan yang luar biasa di depan sana jika aku tetap peka. Aku takut terlalu sedih ketika kepergiannya, takut merasa sakit ketika aku ‘terlalu’ sedih padahal dia tak ‘seberapa’ menyedihiku, takut terlalu mengharapkannya tetap di sini beberapa waktu lagi padahal dia ingin segera pergi. Yap, aku tidak boleh lemah di hadapannya.

Rabu, 02 September 2015

Diam yang Berbeda

Sekalipun diammu selalu lebih banyak, perpisahan ini akan menjadi diam yang berbeda. Aku tetap tenang ketika melihatmu sibuk sendiri dan tidak menyapaku. Jauh beda ketika kamu memang tak pulang; sepi, hening, mencekam. Apalagi jika kau pergi? Ntahlah! Membayangkannya pun aku masih takut.

September dan Perpisahan 2015

Wajah Jelita



Aku punya ativitas tambahan mulai pagi ini. Kalau biasanya aku hanya nulis diary untuk  blog, kali ini aku disibukkan dengan ngeshare informasi yang kece badai cetar membahana badai halilintar dari 8share, hehe. Aku sedang mencari tahu apakah aku bisa ngeshare informasi dari tulisanku sendiri atau nggak? kalau ternyata bisa kan berarti hobi nulisku udah menemukan ‘tempat’ yang indah ^_^. Aku nggak muluk-muluk sih berharapnya, semoga bisa beli Android impian, Rumah impian, Mobil impian dan Travelling impian. Nggak muluk-muluk kan? Hehhe.

Ya Allah, terimakasih karena telah menunjukkanku jalan ini. Semoga walaupun hasilnya nggak terlalu besar, tapi aku yakin yang kecil pun akan menjadi besar nantinya kalau aku serius membesarkannya. Tunjukanlah hamba jalan yang lainnya ya Allah, agar semakin dekat langkah ini kepada tujuan. aamiin. 

Tiba-tiba dapat inspirasi untuk nulis status baru di FB...
Apa alasanku update tulisan/gambar setiap hari?
=> karena aku ingin berkabar.
Kepada siapa?
= > Kepada siapapun yang ingin mengetahui kabar.
Jika tidak ada yang ingin bagaimana?
= > Setidaknya kabarku sudah menjadi JEJAK. That's it!

INFO: 9 Trik Rahasia Pengguna Facebook


Sudah berapa lama main Facebook? Pernah kesal karena dapat undangan main games? Pernah penasaran sama teman yang bisa dapat uang dari Facebook? Kalau “iya”, teruskan baca artikel ini!


Silahkan baca selengkapnya di sini  ya:
http://elysarizkaarmala.sharethisstory.net/id-699862-2644?utm_source=twitter&utm_medium=web&utm_campaign=share

INFO: 8Share for Appriciatte What u Share From

Halo teman-teman...
Sudah saatnya kamu memaksimalkan manfaat Medsosmu dengan cara berbagi informasi dari 8share dan dapatkan imbalannya berupa uang atau point. Nggak pake ribet, mudah dan gratis. Kapan lagi? Pelajari selengkapnya di sini :
http://po.st/jfpOmf