Mungkin karena kita terlalu dekat, kita tidak pandai lagi
membedakan mana hal yang harus dipuji dan mana hal yang harus diperingati.
Semua hal tentangnya seolah-olah menjadi biasa saja dimata kita; obrolan yang
biasa, prestasi yang biasa, perjuangan yang biasa, bahkan luar biasa pun
dianggap biasa. Itulah kita. Mungkin kita melihat terlalu dekat dan butuh
mundur sedikit supaya bisa melihat kesempurnaan itu.
Aku bukan orang yang haus pujian. Tapi itu tidak berlaku
untuk orang-orang yang dekat denganku. Kekuatanku ada pada mereka. Maka, ketika
tiba saatnya aku lelah, aku sangat berharap mereka mendukungku. Kalaupun
mengkritik, silahkan saja! Tapi bukan kritikan asal jadi yang semakin
merendahkan hati. Karena, aku tidak pernah main-main dengan pertanyaanku; “Bagaimana
penampilanku tadi? Apa yang harus diperbaiki? Bagian mana yang bagus dariku?”
Sejak kecil, aku memang selalu ingin ditunjukkan tentang ‘kelebihanku’
disamping pengkritikan terhadap ‘kekuranganku’.
***
“Buuukk, boleh nggak aku numpang makan di sini, besok pagi
baru aku bayar, Buk?”
“Boleehh…” jawab Ibuk dengan lembut.
“Dek, Malam Botak itu akan dipentaskan kapan Dek?” tanyaku
sambil memandang spanduk yang terpasang di depan sekre BATRA.
“Adek pergi juga ke sana?”
“Engggg.. tahun ini nggak Kak. Soalnya tahun kemarin Adek
udah berangkat dan tahun ini gantian. Karena pesertanya kan terbatas Kak. Ya
udah lah nggak apa-apa biar yang lainnya dapat giliran juga.”
“Yuda berangkan Dek?”
“Iya. Dia berangkat. Kemarin Kakak ada nonton teater kami
yang judulnya Rani?”
“Ada. Wahh…itulah pertama kalinya Kakak lihat Yuda. Keren banget
penjiwaannya ya?”
“Iya Kak. Dia memang udah mantap tuh. Kalau Adek ni lebih
suka ke desain panggung Kak. kalau disuruh milih, mau main di panggung atau
desain panggung, Adek pilih desain panggung aja Kak.”
“Oh gituuu.. berarti panggung kemarin ituu?”
“Adek yang desain Kak.”
“Mantap ah! Lanjutkan Dek! Tapi Kakak merasa ada yang kurang
nyambung loh antara prolog dengan pementasan Rani kemarin Dek. Diprolognya kan
disebutkan bahwa sebagai manusia, kita sering kali lupa apa tujuan hidup kita
sebenarnya, gitulah ya kira-kira? Eh, terus isinya ternyata tentang cowok yang
patah hati karena pacarnya bunuh diri. Ini ntah Kakak yang nggak pandai menilai
atau gimana ya. heehe.”
“Itulah Kak, kami ni kekurangan orang yang pandai bikin prolog.”
Eheemmmm…. Bisakah aku
menjadi pengisi?
“Oh gituuu. Kakak fikir isi teaternya itu tentang preman
yang udah membunuh dan merampok, tapi akhirnya tobat setelah mendapat petunjuk.
Eh, kok jadi cinta-cintaan gituu. Hehe. Tapi, kalau nggak dihubung-hubungkan
dengan prolognya sih keren banget isinya. Kakak sangat menikmatinya. Memang udah
cocok banget tuh si Yuda jadi pelatih teater dan mungkin tinggal ikut casting
untuk main film tuh.”
“Nggak akan Kak.”
“Maksudnya?”
“Biasanya anak teater nggak mau masuk ke perfilman. Beda ranahnya
Kak. Beda juga kepuasannya. Anak-anak teater itu kalau nggak jadi sutradara,
biasanya perginya ke tulis menulis.”
“Oh, nulis scenario ya Dek?”
“Iya, terus puisi juga.” Si adek menyebutkan satu per satu
nama seniornya yang sudah mempunyai buku antologi puisi dan pantun.
Aku langsung teringat pada Okta. Dia harus segera
mengkayakan bukunya untuk segera di ISBNkan. Yap, harus!
“Buk, Elis mau bayar makan tadi,” kataku sambil menyodorkan
uang Rp 100.000 kepadanya.
“Ada tukar uang Rp 100.000?” tanya ibuk kepada beberapa
mahasiswa yang sedang makan. Tak ada satu pun dari mereka yang punya.
“Adek ada tukar uang Dek?” tanyaku kepada si adek teater
yang nggak kefikiran olehku menanyakan namanya.
“Udah jelas Adek ngutang dulu di sini Kak. huaahh!”
“Oh iyaa ya. sorii. Adek nggak pulang kampung?”
“Nggak dibolehin Ibuk Kak. Katanya nanggung cuma libur 4 hari. Ongkos udah pasti habis ratusan,
daripada untuk pulang biarlah dikirim aja uang tu ke sini, gitu kata Ibuk Kak.
hahaa. Sedih hati awak Kak.”
“Hhaaa.. baru kali ini Kak dengar Ibuk ngelarang anaknya
pulang lebaran. Tapi, bener juga sih pemikiran Ibuk itu Dek. Capek aja di badan
kalau pulang cuma sebentar tu.”
“Abangku dibolehinnya pulang Kak karena liburnya 10 hari. Hemmm..ya
udah deh nggak apa-apa.”
***
“Maaakkk.. lama kali Kakak di sini Kak?” tanya dek Imam yang
baru kembali dari sholat zuhur.
“Hehheee..iya nih Dek.”
Teguran dek Imam itu seolah jadi pengusiran halus kepadaku
oleh diriku sendiri. Aku merasa jadi sangat ingin segera pergi dari sini. Semakin
lama aku di sini, semakin terlihat seperti orang yang tidak punya aktivitas. Meskipun,
sebenarnya aku sedang mengerjakan sesuatu dengan laptop di hadapanku. Hemmm…
aku menyimpulkan sesuatu bahwa seorang penulis itu hidupnya memang terkesan
santai. Tapi setelah hasilnya dituai, semua orang baru terperanga karena rupanya
selama ini jemariku lah yang lelah bekerja. *aseeekkkk….
“Buk, Ibuk punya TM? Mau numpang nelvon Okta bentar.”
Ternyata benar, Okta sedang di UNRI Gobah. Semalam dia memang
bercerita kepadaku. Aku kira dia akan ngeMC di sana, ternyata nggak. “Kak,
tolonglah fahami Ditra tu gimana,” hanya itu jawabannya. Mungkin dia ingin
menemaninya di sana. Aku memintanya untuk segera kembali ke sini sesegera
mungkin. Aku ingin dia segera menyelesaikan KTInya untuk Duta Lignkungan.
“Kakak ajalah ya yang maju. Okta nggak mungkin bisa siap
hari ini Kak. Kan hari ini terakhir.”
Kadang, diawal pengajaran, aku memang harus memberikan
keajaiban. Tiba-tiba aku teringat ceritanya bahwa KTInya sudah setengah jadi
dari Romi dan ia tinggal melanjutkannya lagi. Ahaaaa!
“Cek, Kakak boleh numpang pake emailmu?” rengekku. Kalau Okta
bertanya untuk apa, aku juga sudah punya jawabannya.
“Pakelah.”
Oh syukurlah dia tidak curiga. “Emailnya dan paswordnya apa?”
Setelah Okta menyebutkannya, telvon ku matikan dan aku segera mendownload filenya.
“Sakit kali kepala Ibuuuk Lisss.. ya Allahh. Makanya Ibuk
malas marah-marah, kalau udah marah tengkuk Ibuk ni sakitnya minta ampuuunn. Kalau
udah pusing gini, biasanya Ibuk harus muntah dulu ni baru lega. Tolong lihatkan
kedai Ibuk dulu ya Lis, Ibuk mau tidur sebentar.”
“Iya Buk, tidur aja dulu.”
Ibuk tidur di atas bangku panjang, di sebelah kananku. Aku nggak
mungkin tega tiba-tiba pergi dari sini sedangkan Ibuk sedang tidur. Setidaknya aku
bisa menjaganya di sini. Teringat dengan Teguh, akhirnya aku menghubunginya dan
ternyata dia sama pasrahnya dengan Okta. Ah, kalau seperti ini jadinya, aku
yang rugi. Penundaan 2 hari kemairn harusnya bisa membuatku bertambah teman
ketika nanti mengumpulkan. Bukannya tetap sendirian. “Adek belum bisa dilepas sendirian
Mak,” jelas Teguh.
***
Hello brothers and
sisters, I wanna remind you that we have class today at 4pm. Thank you for your
attention.
Sekarang udah
pukul 14.22wib. Ibuk sedang menjemput gas elpiji dan meminta tolong kepadaku
untuk menjaga warungnya. Hemmm… aku semakin nggak bisa pergi. Ah, lagian
sebentar lagi Okta juga kembali. Bukankah lebih baik kalau aku segera
membantunya mengerjakan KTI?
“Ceeeekkkkk!”
pekiknya dari jauhh. Dan…”Jelek kalii puuunnn!” katanya setelah mendekat.
“Cepat
kerjakan KTImu.”
Dia kembali
merengek dan ingin menyerah untuk tidak ikut. Dia memintaku untuk
mendownloadkan file KTI dari emailnya. Meskipun sebenarnya sudah sejak tadi ku
downloadkan, aku hanya menjawab, “Sebentar lagi ya, laptopnya sedang low banget
Cek nggak bisa disentuh kursornya.”
“Okelah.
Cek….” Raut mukanya berubah seketika. “Sesuatu telah terjadi hari ini. Okta
hanya mau bercerita sama Kakak karena Okta berfikir Kakaklah yang mengerti
Okta. Jadi gini….”
Aku menyimak
cerita demi cerita yang mengalir dari mulutnya. Sebenarnya ini tema lama. Tapi,
kisahnya baru. Diujung ceritanyam , Okta hanya menyimpulkan dengan 1 pertanyaan
untukku, “Menurut Kakak, cara Okta udah benar belum? Seperti apapun orang lain
memperlakukan kita, kita harus bisa cuek dan jangan izinkan itu membuat kita
galau. Bener nggak Kak?” aku menjawab dengan anggukan mantap.
“Kak, tahu
siapa aja yang ikut Duta lingkungan ini?”
Aku menggelengkan
kepala.
“Semua
duta-duta bahasa kemarin tu ikut Kak.”
“Iya Dek?”
tanyaku terperanga. “Dek, Kakak berdoa, semoga kita bisa menang dalam pemilihan
yang belum professional ini. Yang penting, kita dapat ‘nama’ Cek dan kita akan
membesarkan diri dan nama tersebut bersamaan.”
“Aamiin
Kak.”
“Tadi Kakak
udah nelvon panitia kan, ternyata yang nggak boleh ikut itu bukan yang pernah
menang duta-dutaan lain, tapi yang pernah menang duta serupa yaitu duta
lingkungan juga. Terus Kakak tanya gini; ‘Loh, tahun ini kan baru pertama kalinya
Bang, ya tentu ajalah nggak ada peserta yang mengikuti 2 kali.’ Dan dijawab
Abang itu siapa tahu ada yang udah pernah menang pemilihan Duta lingkungan di
tempat lain, nggak boleh lagi ikut di sini. Gitu Cek.”
“Ohhh…”
“Tapi, yang
ditingkat Provinsi belum ada karena kalau mau diadakan, berarti dari
masing-masing kabupaten dan kota harus mengirimkan utusannya dulu. Semoga kita
menang di kota Pekanbaru ini ya Cek. Aamiin. Oh ya, di LKTI itu Kakak tambahkan
1 sub tema lagi Cek; Promosi seni dan budaya bangsa melalui penciptaan games
online. Keren nggak? Siapa sih yang nggak suka main games hari gini? Siapa tahu
ada yang kreatif membuat games berbasis seni dan budaya kan.”
“Betulllll
banget Cekkk.. bububuyuu.”
“Dan di
ujung temanya kakak tambahin kalimat juga; Peran Pemuda dalam Mempromosikan
Seni dan Budaya Bangsa Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
dalam menghadapi Komunitas Sosial-Budaya ASEAN. Gimana Cek? Orang kan selama
ini lebih condong berbicara tentang Ekonominya (MEA atau AEC) dari ASEAN
Community. Padahal ada 3 pilar di sana; ekonomi, keamaanan dan sosial-budaya. Nah,
sosial-budaya ini jarang banget dibahas padahal nggak kalah pentingnya. Gimana Cek?”
“Bagus
bagus aja kok!” jawabnya datar.
Karena Okta
mengaku belum makan, ia mendadar telur yang dicampurnya dengan mihun. Katanya itu
disebut omlete. Hemm… ntah iya ntah nggak pun. Hehe. Aku ikut gangguin dia
makan. Ternyata enak juga masakanya. Dia, Joni dan Romi memang cowok-cowok
sholeha yang pinter banget masak pemirsaaa… heehe.
“Dek, tadi
anak-anak BEM FKIP kan ngumpul semua di
halaman itu untuk bersiap-siap aksi. Kakak malu kali loh di sini, dengan
santainya Kakak baca buku tapi nggak ada ikut aksi. Heheeh. Itulah makanya Kak
suruh Adek cepat-cepat ke sini tadi.”
“Orang tu
aksi untuk apa?”
“Menagih
penyelesaikan kasus asap katanya Dek.”
“Eh,
Fauziii…kalian mau aksi ya? Di manaa?” pekik Okta kepada Fauzi yang sudah
bersiap untuk berangkat bersama temannya.
“Iya. Di…
enggg… polda.”
“Haa..baguslah
tuh. Emang harus didemo Polda tu soalnya aku sering ditangkapnya di jalan. Hahaha,”
kata Okta sambil tertawa lepas.
Setelah Okta
selesai makan, aku segera membantunya menulis KTI. Katanya, kalau nggak ku
tolong, dia nggak akan mungkin serius mengerjakannya. Huahhhh! Waktu Okta
sedang mengerjakan KTI, Yana datang untuk bertemu Ibuk. Tapi, si ibuk belum
juga kembali sejak tadi. Sekarang udah pukul 16.35wib dan aku udah memutuskan
untuk nggak ikut opening course hari ini demi Okta dan membatalkan niat untuk mengumpulkan berkas ke BLH juga supaya besok bareng aja dengan Okta. Kalau aku datang ke sana,
itu untuk diriku sendiri. Kalau aku menolong Okta, itu untuk diriku juga dan
untuk orang lain. Meskipun Okta sudah mendapat kepastian kelonggaran waktu 2
hari, tapi aku maunya besok semua berkas sudah diserahkan kepada panitia. Sooner
better.
***
Aku, Okta
dan Yana membantu Ibuk membawakan perlengkapan warungnya ke rumahnya sore ini. Aku
baru tahu rumah Ibuk di Taman Karya dan cukup besar juga rumahnya. Setelah barang-barang
di turunkan, kami segera berpamitan karena azan maghrib sudah berkumandang.
“Kak, Bapak
tu kalau dilihat dari wajahnya kayaknya orangnya baik dan lucu ya Kak?”
“Bener Dek.
Hemmm.. tapi kadang, wajah itu menipu Dek, ada orang yang mukanya jahat
ternyata hatinya baik banget. Ada orang yang kayaknya baik ternyata jahatnya
minta ampun. Pokoknya Dek, kalau suami udah judi atau main perempuan, biasanya
rumah tangga bakal hancur.”
“Iya ya
Kak, emang bahaya banget 2 hal itu,” kata Yana.
“Naudzubillah
ya Allah. Kak, ada lomba KTI loh dari bank BNI. Kalau menang, S2nya bakal
dibiayai ke luar negeri.”
“Waawww..
kece banget tuh!”
“Ada juga
dari bang CIMB, kalau menang akan dibiayai untuk berwirausaha. Hadiahnya 60jt
kalau nggak salah Kak.”
“Cocoklah
tu dengan Romcek Dek. Kalian kan udah punya usaha catering tuh.”
“Kenapa
nggak dengan Kakak aja?”
“Dengan
Kakak?”
“Iya. Soalnya
lebih leluasa kalau dengan cewek sih Kak.”
“Boleh. Yuklah!
Kita eksekusi.”
Kami berpisah
di perempatan Bina Krida dan Balam Sakti. Sesampainya di kosan, aku baru nyadar
kalau aku nggak punya air minum setetes pun. Mau mesan air gallon, HP pun nggak
berpulsa. Bagaimana ini pemirsaaa? Akhirnya, aku cari kesibukan lain;
ngangkatin baju dari jemuran dan langsung menyetrikanya.
“Dek, boleh
minta air minumnya? Air gallon Kakak habiss,” pintaku kepada dek Resi.
“Cuma
segelas aja Kak? Cukup nii?” tanyanya.
“Cukup Dek.
Makasih yaaa.”
Setelah kembali
ke kamar, perutku rasanya mual banget. Nyaris saja muntah, tapi langsung saja
ku teguk air di tangan. Malam ini, aku kembali tidak makan. Bukan disengaja,
tapi memang aku nggak merasakan lapar sama sekali. Ku habiskan malam ini dengan
bersantai sambil menonton film di laptop ditemani dengan si ganteng di
sampingku. Dia akan tidur bersamaku malam ini. Tak lupa, sebuah doa sebagia
penutup hari; Allahummaghfirlii dzunubii
waliwaa lidayya warkhamhumaa kamaa robbayani soghiroo.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar