
“El, El, sahurrr! Kita makan pakai sambal tempe aja, soalnya
kompornya udah habis minyaknya rupanya. Nggak bisa goreng telur.”
Aku menyipitkan mata, melihat sekitar. Aroma kompor sudah
tercium tapi Rini bilang nggak jadi masak. Aku beranjak dari tempat tidur dan
mendapati banyak batang korek di lantai. Hemmm…ternyata ini adalah jejak upaya
Rini untuk menghidupkan kompor. Great.
Meskipun ku lihat sudah pukul 4.30wib, tapi tak ada salahnya
ku sempatkan menunaikan 2 rakaat sebelum sahur.
“Rin, hidup ini kadang memang aneh. Selain ada orang yang
tiba-tiba menghilang dari hidup kita, ada juga yang tiba-tiba datang dalam
hidup kita. Iya kan?”
Rini memanggut cepat.
“Semalam Bang **o tiba-tiba nelvon aku Rin. Ingat kan siapa
dia?”
Rini berfikir sejenak dan mengangguk ragu. Ah, tak masalah
lah. Dia memang seperti itu; tak terlalu ingat kalau belum pernah melihat
secara langsung.
“Beberapa hari sebelumnya, dia tu pernah inbox aku di FB
gini; Elis, mana nomor HP Elis?. Nggak
ada basa-basi, persis banget kayak sedang neror aku. Hahha. Ya, semalam itu dia
nanya kabar, udah sampek mana proses SKRIPSIku. Aku sempat terpancing juga sih
untuk cerita gimana ribetnya ngajuin judul kemarin. Anehanya Rin, aku merasa
dia itu kok bedaaaaa banget ya sekarang. Kok ngomongnya nggak ngotot lagi,
rendah hati banget, ngalah, tempo ngomongnya lebih lambat. Ini pencitraan atau
dia sedang kesambet apaa gitu? hehehe. Tapi ya, semoga itu memang dia. Dan
semoga dia lebih baik.”
Rini mendengarkanku sambil terus menyuap nasi ke dalam
mulutnya. Nasinya hampir habis, sedangkan aku baru beberapa suapan.