"…Memang agak sedih rasanya Mi, tapi Elis yakin 100%
bahwa ketika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan datangkan
yang jauh lebih baik untuk kita. Nah, piala-piala Elis yang Mami lihat ini
termasuk salah satu nikmat ‘pengganti’ tadi Mi dari Allah. Setelah jauh dari
dia, prestasi Elis justru melejit banget dan semuanya serasa dipermudah aja
jalannya. Semangat buat kita, Mamiii! Elis selalu percaya bahwa tiada KEHILANGAN tanpa PENGGANTIAN. Itu udah sunatullah Mi.”
MENULIS adalah AKU; caraku beristirahat, caraku memaafkan, caraku mencintai dan caraku hidup abadi.
Selasa, 27 Oktober 2015
Pujian Ranum
Pujianmu pagi itu benar-benar baru
Memujiku sekaligus menyapaku di kali pertama
Benar-benar tak terduga bahwa kamu adalah adikku
Sudah lama ku rindu dan ku tunggu kabarmu
Tapi pagi ini baru saling sapa
Aku akan lebih bahagia jika tulisanku merajinkanmu
Menulis juga, sepertiku
Bahkan lebih dariku
Bukan tak mungkin kamu akan menjadi pesohor sajak
Di antara berjuta kata-kata sesak
Asal mau giat dan menyempat pada tulisan
Semuanya akan menjadi benih
Yang kelak akan kau tuai panennya
Terimalah puisi ini sebagai tanda ingat
Memujiku sekaligus menyapaku di kali pertama
Benar-benar tak terduga bahwa kamu adalah adikku
Sudah lama ku rindu dan ku tunggu kabarmu
Tapi pagi ini baru saling sapa
Aku akan lebih bahagia jika tulisanku merajinkanmu
Menulis juga, sepertiku
Bahkan lebih dariku
Bukan tak mungkin kamu akan menjadi pesohor sajak
Di antara berjuta kata-kata sesak
Asal mau giat dan menyempat pada tulisan
Semuanya akan menjadi benih
Yang kelak akan kau tuai panennya
Terimalah puisi ini sebagai tanda ingat
Untuk adiiku, Oki. 28 Oktober 2015.
06.52. am
Aku nggak Punya Alasan untuk Nggak PEDE
“Nilam ajaklah Kak Rini sarapan dulu ntah di manaa gituu.
Bilang sama Kak Rini, Mbak ketemu sama Bang Yudi dan Teguh dulu ya.”
“Iyaa Mbak.”
Dengan tergesa-gesa, aku melaju ke perpus UR. Khawatir kalau
Yudi dan Teguh terlalu lama menungguku. Sesampainya di perpus, aku celingukan
sendiri karena nggak ngelihat wujudnya Yudi ataupun Teguh. Aku beralih menilik
lorong perpus di sebelah kiri.
“Mana si Teguh?” tanyaku pada Yudi yang juga terlihat gusar.
“Nggak tahu. Katanya tadi udah mau ke siniii, jam 10. Di
mana ya kita duduknya? Bangkunya penuh semua.”
“Ada kok yang kosong, di tempat favorit kita tuh!” jelasku
sambil berjalan menuju tempat yang berbulan-bulan ini asing. Asing karena
selama itu pula tak pernah lagi kami sambangi. Aku dan Teguh memang sering
bertemu di perpus, tapi bukan di tempat itu. Ntah kenapa, hari ini semesta
bagai merestui, aku kembali ke tempat ini dengan ‘lengkap’.
Langganan:
Postingan (Atom)
