“Nilam ajaklah Kak Rini sarapan dulu ntah di manaa gituu.
Bilang sama Kak Rini, Mbak ketemu sama Bang Yudi dan Teguh dulu ya.”
“Iyaa Mbak.”
Dengan tergesa-gesa, aku melaju ke perpus UR. Khawatir kalau
Yudi dan Teguh terlalu lama menungguku. Sesampainya di perpus, aku celingukan
sendiri karena nggak ngelihat wujudnya Yudi ataupun Teguh. Aku beralih menilik
lorong perpus di sebelah kiri.
“Mana si Teguh?” tanyaku pada Yudi yang juga terlihat gusar.
“Nggak tahu. Katanya tadi udah mau ke siniii, jam 10. Di
mana ya kita duduknya? Bangkunya penuh semua.”
“Ada kok yang kosong, di tempat favorit kita tuh!” jelasku
sambil berjalan menuju tempat yang berbulan-bulan ini asing. Asing karena
selama itu pula tak pernah lagi kami sambangi. Aku dan Teguh memang sering
bertemu di perpus, tapi bukan di tempat itu. Ntah kenapa, hari ini semesta
bagai merestui, aku kembali ke tempat ini dengan ‘lengkap’.
“Eh, kita TOTnya di puncak, Bogor kan?”
“Iyaaa.”
“Yesss! Asiiiikkk!” teriakku kegirangan.
“Harga tiket pesawat berapa sih sekarang? Kalau nggak
jauh-jauh beda, mending kita naik pesawat aja.”
“Memangnya udah pasti pesawatnya ndak delay sekarang nii?’
“Iya juga sihh,” sadarku kemudian.
Ku coba menghubungi Teguh lewat WA. Bah! Ternyata dia baru
akan berangkat dari kontrakannya. Huft! Aku harus segera ke SKA bersama Nilam
dan Rini sesuai rencana kemarin. Dan, jam 4 nanti sudah ada deadline lain yang
menunggu, so Dekk…plisss Dek, buruan
datang!
“Hooihhh.. lama betuulll!” gerutuku ketika dia baru saja
datang.
“Sorri Mak.”
Kami membahas pertimbangan tanggal keberangkatan dan
keraguan Teguh tentang lomba debatnya di Malang yang akan menuntutkan
pulang-pergi.
“Ya udah Guh, bilang aja sama dosenmu gini; ‘Bukk.. mohon
maaf saya tidak bisa mengikuti kelas Ibuk besok karena saya ada agenda yang
mendesak Buuk dari Kemendiknas.’ Bilang aja gitu. Mau gimana lagi? Daripada
bolak-balik gitu.”
Yudi dan aku langsung terkekeh mendengar sanggahan nggak pentingnya
Teguh itu. Mesti banget ya ditegasin gitu Dek? Hehee.
“Yakin Dek Lorena ini sampai ke Bogor langsung?” tanyaku.
“Yakin Mak. Soalnya Kakak iparku itu berangkat dari Bogor ke
sini kemarin pakai Lorena.”
“Bedalah Dek keberangkatan dari sana ke sini dan dari sini
ke sana. Coba pastikan dulu, apa terminal perhentiannya itu sama dengan yang
dimaksud panitia? Kalau pas, ya udah nggak susah-susah kita nantinya. Tapi
kalau beda? Susah juga nantinya.”
“Coba pastikan dulu Guh,” kata Yudi pula.
“Dana kita ini belum tentu diganti loh oleh panitia. Dan,
kalaupun diganti, akan disamaratakan dengan fasilitator yang dari Jakarta.
Jadi, asumsi dananya disamaratakan gitu. Kayaknya kita harus survey langsung ke
Lorenanya deh.”
“Eh, ada casan nggak ya di busnya tuh?”
“Ada kayaknya. Tapi di depan, dekat supir.”
“Ah, rawanlah kalau gitu. Ntar pas kita tidur, lengah,
hilanglah sudah barang kita. Gimana?”
“Aku bawa cok sambunglah kalau gitu. Biar dari tempat supir
itu kita tarik ke belakang. Hhhaa, biar bisa ngecas tapi tetap aman.”
“Hhaa…ide bagus tuh! Lagian kan ada power bank Dek.”
“Mana cukup Mak. Ini 2 hari loh. 50 jam perjalanan.”
Beberapa menit berlalu, dan aku menyadari yang kami bahas
ini bukan hal-hal teknis. Kesulitas dan keraguan kami masing-masing masih belum
terjawab juga.
“Emmm… Dek, Yud, aku pamit duluan yaa. Yang penting kan udah
fix ya kita berangkat hari jumat. Berarti hari kamis setidaknya kita udah
booking tiketnya ya.”
“Iya. Kita berangkat sore ya. Biar aku bisa kuliah dulu
siangnya,” tambah Teguh.
Aku buru-buru ke kosan Rini, takut kalau dia menunggu
terlalu lama.
“Rin. Yuukk!” ajakku setelah pintu kamarnya ku buka. Rini
dan Nilam sedang berbaring santai sambil menonton TV.
“Udah jam segini El. Nanggung kali. Udah nggak bisa pulang
malam juga. Aku besok ajalah ke SKAnya sendirian aja.”
“Loh, kok nggak jadi?”
“El lamaa kali pun. Tadi pagi nggak bilang kalau mau ketemu
Yudi sama Teguh dulu. Aku besok ajalah.”
Hatiku berkecamuk. Tak menentu. Gabungan antara engah-engah
lelah karena berlarian barusan dan juga kecewa. Barangkali.
“Ya udah deh. Yuk Lam!” aku merapikan jilbab untuk mencari
kesibukan sambil menunggu Nilam. Aku yakin, ekspresi wajahku sudah berubah.
Dingin. Kalau Rini memperhatikannya, ia pasti menyadarinya.
“Bahas apa tadi? KTI ya?” tanyanya, melunak.
“He’emm..” jawabku singkat.
Setelah Nilam siap, “Kami pergi yaa.. assalamualaikum.”
Aku bergerak maju. Meninggalkan Rini sendirian di kamarnya.
Membawa sedikit rasa tidak enak di hati ini. Semoga ia akan memudar,
diterbangkan angin jalanan. Aamiin.
***
“Mbak, yakin nih nggak apa-apa kita masuk ke sini?”
“Ya nggak apa-apalah. Acara ini kan untuk umum,” jawabku,
santai. “Nah, kita parkir di sini aja. Biar gratis dan dekat ke tempat
acaranya.” Aku memarkirkan motorku di depan Indomart, dekat Co Ex SKA.
“Lam..tolong fotokan Mbak donk!” pintaku ketika melihat
spanduk besar bertuliskan; Selamat Datang
di Riau Expo. Pameran terbesar di Provinsi Riau 19 Oktober-2 November 2015.
Dan… ketika baru memasuki gedung SKA Co Ex, aku kembali
minta difotokan oleh Nilam di depan gapura sterofoam bertuliskan Selamat Datang.
“Ih, Mbaakk Ela ni kok pede kali lah!”
“Lah? Memangnya apa yang membuat Mbak harus merasa nggak
pede?”
“Ini bukan tempat foto loh Mbaakk.”
“Lah, kalau nunggu foto di tempat foto, kapan fotonya Lam?”
Akhirnya, aku memasuki ruangan utama Co Ex SKA yang maha
besar dan indah ini. Aku dan Rini pernah gagal memasukinya sewaktu ingin melihat Indonesia-China art exhibition beberapa bulan yang lalu. Aku nggak membayangkan betapa meriahnya acara di dalam ruangan ini kemarin. Sekarang, ruangan ini sudah berbentuk kubus-kubus stand dari berbagai instansi dan pameran.
“Nggak dibalas pula nih sama Kak Dilanya. Ntah di stand mana
dia berada,” keluhku kepada Nilam. Aku celingukan ke kiri dan kanan. Sampai
nemu stand pameran ular. Tertarik untuk lihat-lihat, tapi nggak berminat untuk
memegangnya sama sekali.
“Elisss!” teriak seseorang dari arah belakangku.
Setelah aku menoleh. Ternyata… pucuk dicinta ulam pun tiba..
“Kak Diiiilll.. ya Allah, pas banget loh Elis sedang nyariin Kakak nih!” aku
berhamburan ke stand Dina Koperasi Provinsi Riau itu.
“Kakak pun kok rasanya kenal ya dengan gaya cewek itu.
Ternyata bener, Elis.”
Kak Dila menyuguhiku dan Nilam kripik cabe dan air mineral.
Kami bercerita banyak hal di stand ini sambil sesekali Kak Dila mempersilahkan
orang-orang untuk melihat-lihat barang-barang di stand ini.
“Dek, lucu kali loh Ibuk ini. Masa dia cuma menawarkan
barang dagangannya sendiri. Seharusnya kan nggak boleh kayak gitu kan? Parahnya
lagi, dia menjelek-jelekkan barang orang Dek, padahal masih sama-sama 1 stand
loh. Harusnya kan kalau ada yang mau beli barang lain ya dipersilahkan aja,
nggak perlu menjelek-jelekkan produk kawan supaya produknya yang dibeli.
Kadang, ntahlah Dek!”
“Kakak udah coba nasehati Ibu itu?” tanyaku.
“Pengen sih Dek.. tapi… emm…payahlah! Agak susah Dek kalau
dengan orang yang lebih tua nih cara masuknya.”
Tapi, bukan kak Dila namanya kalau tidak pandai memaafkan
dan bersikap seperti teman baik di depan orang yang tidak baik perbuatannya
kepadanya. Siang ini, aku diajaknya makan bersama ibu tadi dan juga seorang
temannya yang sudah sering pameran bersamanya. Yang lebih aku syukuri adalah
karena siang ini aku dan Nilam ditraktir oleh kak Dila. Ternyata ada rumah
makan yang lebih murah di samping SKA ini dari tempat makanku kemarin dengan
Rini, walaupu masih sama-sama Ampera.
“Ke SKA lah yuk Dek! Nanggung nih, udah deket banget kita
dengan SKAnya.”
“Hayuukklah Kak! Ngadem.”
Nilam belum pernah ke sini sama sekali. Meskipun tidak
membeli apa-apa, tapi setidaknya dia sudah pernah berjalan di sini. Oh ya, udah
pernah kok duluuuu Nilam ke sini bareng adek-adek juga dan mami sewaktu liburan
2 tahun lalu.
Ketika melewati tempat-tempat make up, aku menemukan suatu
kesimpulan… “Kak, sebenarnya mudah aja mengukur apakah make-up atau riasan yang
kita gunakan ini apakah berlebihan atau tidak.”
“Gimana Dek caranya?”
“Yang pertama. Kalau kita menghabiskan waktu terlalu lama di
depan kaca untuk make-up-an, berarti itu udah berlebihan. Yang kedua. Kalau
kita merasa sulit berwudhu atau malah malas berwudhu karena terhalang oleh
riasan tadi, maka itu udah pasti
berlebihan. Kalau yang dua itu nggak ada, insya allah nggak berlebihan tuh.”
“Betul tuh Dek. Jangan sampai pula kita malas sholat
gara-gara sayang menghapus make-up kan.”
Aku dan Nilam mengikuti ke mana kak Dila melangkah. Dan,
sekarang kami sudah berada di dalam Matahari, di lantai 2.
“Dek, sini!” panggil kak Dila kepadaku.
Aku mendekat ke rak-rakan sepatu bertuliskan; Beli 2, diskon 50%. Beli 3, diskon 70%.
“Dek, belilah satu ha. Pilihlah! Cuma Rp 45.000 loh. Di mana
lagi kau temukan Nevada semurah ini harganya Dek?”
Sebenarnya tadi sudah sempat melihat ke sini, tapi aku nggak
tertarik makanya nyelonong aja. Tapi, sekarang tergiur pula karena ajakan kak
Dila. Setelah susah payah memilih warna, model dan ukuran, akhirnya aku beli 2
sepatu; untuk Nilam dan untukku, sedangkan kak Dila beli 1.
“Suka kan Lam dengan sepatu ini?” tanyaku lagi kepada Nilam
setelah uang dibayarkan.
“Sukaaa baangeeet. Kalau nggak liburan sama Mbak Ela nggak
mungkin Kakak dapat sepatu baruu nih!”
“La jadii?”
Kami yang niatnya mau segera kembali ke Co Ex akhirnya
nolongin si ibu memilih lipstick yang cocok dengannya.
“Berapa harganya nih Kak?” bisikku kepada kak Dila.
Kak Dila menge-check harganya dan… “Rp 85.000 Dek.”
“Busyeeett. Lipstik Elis yang pixy itu aja cuma Rp 20.000
dan Elis awet-awet makenya sampai 6 bulan. Hihiii.”
“Dek, tolong pakai. Ibuk mau lihat warnanya,” pinta Ibu itu
kepadaku. Aku menyanggupi dan segera mencobanya. Setelah ia tertarik, barulah
ia membelinya.
“Kak, lipstiknya kayaknya nggak bagus nih komposisinya. Agak
terasa suatu rasa di tenggorokan dan bibir kita rasanya tebal dibuatnya. Kayak
pakai lipstick bertumpuk-tumpuk aja.”
“Iya nih Dek. Makanya Kakak hapus langsung pakai tisyu.”
Ketika kami ke luar dari pintu Kampar, kak Dila bertemu
dengan murid MAN-nya dulu. Tadi di dalam, kak Dila sempat ditelvon olehnya
karena kebingungan menemukan Co Ex SKA. Syukurlah, kami bertemunya tepat pada
waktunya. Aku dan Nilam pun diperkenalkan kepadany oleh kak Dila. Sesampainya
kami di dalam Co Ex, dek Aisyah itu mengajak Nilam untuk keliling-keliling
melihat berbagai stand. Nilam yang awalnya menolak, ku nasehati…
“Nggak apa-apa loh Lam. Kapan lagi belajar berani?”
Akhirnya Nilam menurut. Sementara Nilam dan Aisyah pergi,
aku dan kak Dila mulai menggosip tentang cinta. Hehehe.
“… itulah kemarin Kak tanya dia, memangnya udah siap
menikah? Belum, katanya Dek. Ha, terus ngapain pula dia berniat mencari cewek?
Kecuali kalau dia memang udah siap menikah, berarti nggak lama lah kan
prosesnya.”
“Pokoknya Kak, kalau dia memang benar-benar cari cewek,
berarti kesimpulannya dia labil. Mungkin cewek itu akan diajaknya pacaran,
meskipun awalnya dia ngakunya nggak akan ngajak pacaran. Tapi, siapa yang tahu
kan Kak? Untung aja dia kemarin sukanya sama Elis; yang Alhamdulillah nggak mau
pacaran. Coba kalau Elis mau, pasti dia akan luluh juga. Cewek kan adalah KUNCI
Kak. Nggak mungkin seorang cowok bisa masuk ke dalam rumah kita kalau kita nggak
membuka kunci.”
“Dahlah Dek, Allah kan udah berjanji; laki-laki yang baik
hanya untuk wanita yang baik. Insya Allah , niat Elis kan bukan karena
apa-apa atau karena siapa-siapa, tapi
untuk Allah, maka Allah pasti akan mengganti yang pergi itu dengan yang lebih
baik Dek.”
“Aaamiin ya Allah. Elis sangat bersyukur atas nikmat ini
Kak. Mampu membedakan mana yang harus ditinggalkan dan mana yang harus
dipertahankan juga adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri ternyata. Karena
nyatanya nggak semua orang bisa merasakannya.”
Setelah sholat ashar, aku berpamitan dengan kak Dila karena
ada rapat URC sore ini yang sifatnya mendesak dan prioritas. Nilam saja
sampai-sampai ku singgahi di dekat labor Biologi dan seterusnya jalan kaki
sampai kosan. Untungnya udah dekat.
***
“Kak, gimana? Udah Kakak tanyakan sama mamanya Adek tuu?”
“Udah Lis. Tapi, Elis jangan tersinggung ya. Kakak hanya
menyampaikan apa yang dikatakan Adek itu aja nih.”
“Iyaa Kak, nggak apa-apa.”
“Gini katanya; ‘Ante tu cuma dikasihnya kami tugas, terus
kami kerjakan sendiri sementara Ante tu cerita-cerita sama kawannya. Malaslah
aku les lagi jadinya,’ gitu katanya Lis.”
DEGGG! Aku udah menulis ini kemarin; Aku harus bersiap-siap atas alasan kecewa orang lain terhadapku,
sekalipun itu adalah hal yang tidak terduga. Karena memang, aku sudah
sering mengalami hal itu; seseorang mengaku kecewa kepadaku tapi dengan alasan
yang meleset dari prediksiku. Ah, sudahlah!
Setelah kak Era berangkat ke Stadion… “Ndah, Indah kemarin
merasa Ante acuhkan memangnya?”
“Iya sih Nteee. Tapi kan, nggak mungkin juga Ante ngasih
tahu semua jawabannya sama kami kaan?”
“Nah, itu dia Ndah! Kam kemarin kalian memang nggak ada PR,
jadi Ante minta kalian menjawab soal di buku paket yang belum dijawab. Kalau
nggak ngerti baru tanya sama Ante, kan gitu yang Ante bilang kemarin. Nggak
nyangka aja Ante, ternyata itu adalah Zikri nggak mau les lagi sama Ante.”
“Dia memang kayak gitu Nte orangnya. Mudah tersinggung, dulu
aja pernah berantem sama guru loh di sekolah Nte..”
“Oh iya yaa? Kayaknya dia lugu dan pendiam gitu padahal.”
“Nggak kayak gitu dia orangnya Ntee. Susah kalau udah
marah,” tambah Tasya.
“Biarin ajalah dia tuh Nte.”
“Yang Ante heran, kok Mamanya mau begitu aja nurutin maunya
anaknya ya? Nggak habis fikir. Padahal, terakhir kali les kemarin Ante antarin
loh dia pulang karena Mamanya belum jemput. Ingat kan Ndah?”
“Ingat Nte. Biarin ajalah dia Nte. Nggak usah difikirin Nte.
Kan yang penting ada Indah yang sayang Ante.”
Aku terenyuh mendengar gombalan mautnya Indah barusan. Ternyata
ia berhasil menghiburku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar