Selasa, 27 Oktober 2015

Aku nggak Punya Alasan untuk Nggak PEDE



“Nilam ajaklah Kak Rini sarapan dulu ntah di manaa gituu. Bilang sama Kak Rini, Mbak ketemu sama Bang Yudi dan Teguh dulu ya.”
“Iyaa Mbak.”
Dengan tergesa-gesa, aku melaju ke perpus UR. Khawatir kalau Yudi dan Teguh terlalu lama menungguku. Sesampainya di perpus, aku celingukan sendiri karena nggak ngelihat wujudnya Yudi ataupun Teguh. Aku beralih menilik lorong perpus di sebelah kiri.
“Mana si Teguh?” tanyaku pada Yudi yang juga terlihat gusar.
“Nggak tahu. Katanya tadi udah mau ke siniii, jam 10. Di mana ya kita duduknya? Bangkunya penuh semua.”
“Ada kok yang kosong, di tempat favorit kita tuh!” jelasku sambil berjalan menuju tempat yang berbulan-bulan ini asing. Asing karena selama itu pula tak pernah lagi kami sambangi. Aku dan Teguh memang sering bertemu di perpus, tapi bukan di tempat itu. Ntah kenapa, hari ini semesta bagai merestui, aku kembali ke tempat ini dengan ‘lengkap’.

“Eh, kita TOTnya di puncak, Bogor kan?”
“Iyaaa.”
“Yesss! Asiiiikkk!” teriakku kegirangan.
“Harga tiket pesawat berapa sih sekarang? Kalau nggak jauh-jauh beda, mending kita naik pesawat aja.”
“Memangnya udah pasti pesawatnya ndak delay sekarang nii?’
“Iya juga sihh,” sadarku kemudian.
Ku coba menghubungi Teguh lewat WA. Bah! Ternyata dia baru akan berangkat dari kontrakannya. Huft! Aku harus segera ke SKA bersama Nilam dan Rini sesuai rencana kemarin. Dan, jam 4 nanti sudah ada deadline lain yang menunggu, so Dekk…plisss Dek, buruan datang!
“Hooihhh.. lama betuulll!” gerutuku ketika dia baru saja datang.
“Sorri Mak.”
Kami membahas pertimbangan tanggal keberangkatan dan keraguan Teguh tentang lomba debatnya di Malang yang akan menuntutkan pulang-pergi.
“Ya udah Guh, bilang aja sama dosenmu gini; ‘Bukk.. mohon maaf saya tidak bisa mengikuti kelas Ibuk besok karena saya ada agenda yang mendesak Buuk dari Kemendiknas.’ Bilang aja gitu. Mau gimana lagi? Daripada bolak-balik gitu.”

“Dosenku ini Bapak-bapak loh Daeeenng. Bukan Ibuk-ibuk,” sanggah Teguh.
Yudi dan aku langsung terkekeh mendengar sanggahan nggak pentingnya Teguh itu. Mesti banget ya ditegasin gitu Dek? Hehee.
“Yakin Dek Lorena ini sampai ke Bogor langsung?” tanyaku.
“Yakin Mak. Soalnya Kakak iparku itu berangkat dari Bogor ke sini kemarin pakai Lorena.”
“Bedalah Dek keberangkatan dari sana ke sini dan dari sini ke sana. Coba pastikan dulu, apa terminal perhentiannya itu sama dengan yang dimaksud panitia? Kalau pas, ya udah nggak susah-susah kita nantinya. Tapi kalau beda? Susah juga nantinya.”
“Coba pastikan dulu Guh,” kata Yudi pula.
“Dana kita ini belum tentu diganti loh oleh panitia. Dan, kalaupun diganti, akan disamaratakan dengan fasilitator yang dari Jakarta. Jadi, asumsi dananya disamaratakan gitu. Kayaknya kita harus survey langsung ke Lorenanya deh.”
“Eh, ada casan nggak ya di busnya tuh?”
“Ada kayaknya. Tapi di depan, dekat supir.”
“Ah, rawanlah kalau gitu. Ntar pas kita tidur, lengah, hilanglah sudah barang kita. Gimana?”
“Aku bawa cok sambunglah kalau gitu. Biar dari tempat supir itu kita tarik ke belakang. Hhhaa, biar bisa ngecas tapi tetap aman.”

“Hhaa…ide bagus tuh! Lagian kan ada power bank Dek.”
“Mana cukup Mak. Ini 2 hari loh. 50 jam perjalanan.”
Beberapa menit berlalu, dan aku menyadari yang kami bahas ini bukan hal-hal teknis. Kesulitas dan keraguan kami masing-masing masih belum terjawab juga.
“Emmm… Dek, Yud, aku pamit duluan yaa. Yang penting kan udah fix ya kita berangkat hari jumat. Berarti hari kamis setidaknya kita udah booking tiketnya ya.”
“Iya. Kita berangkat sore ya. Biar aku bisa kuliah dulu siangnya,” tambah Teguh.
Aku buru-buru ke kosan Rini, takut kalau dia menunggu terlalu lama.
“Rin. Yuukk!” ajakku setelah pintu kamarnya ku buka. Rini dan Nilam sedang berbaring santai sambil menonton TV.
“Udah jam segini El. Nanggung kali. Udah nggak bisa pulang malam juga. Aku besok ajalah ke SKAnya sendirian aja.”
“Loh, kok nggak jadi?”
“El lamaa kali pun. Tadi pagi nggak bilang kalau mau ketemu Yudi sama Teguh dulu. Aku besok ajalah.”

Hatiku berkecamuk. Tak menentu. Gabungan antara engah-engah lelah karena berlarian barusan dan juga kecewa. Barangkali.
“Ya udah deh. Yuk Lam!” aku merapikan jilbab untuk mencari kesibukan sambil menunggu Nilam. Aku yakin, ekspresi wajahku sudah berubah. Dingin. Kalau Rini memperhatikannya, ia pasti menyadarinya.
“Bahas apa tadi? KTI ya?” tanyanya, melunak.
“He’emm..” jawabku singkat.
Setelah Nilam siap, “Kami pergi yaa.. assalamualaikum.”
Aku bergerak maju. Meninggalkan Rini sendirian di kamarnya. Membawa sedikit rasa tidak enak di hati ini. Semoga ia akan memudar, diterbangkan angin jalanan. Aamiin.

***
“Mbak, yakin nih nggak apa-apa kita masuk ke sini?”
“Ya nggak apa-apalah. Acara ini kan untuk umum,” jawabku, santai. “Nah, kita parkir di sini aja. Biar gratis dan dekat ke tempat acaranya.” Aku memarkirkan motorku di depan Indomart, dekat Co Ex SKA.
“Lam..tolong fotokan Mbak donk!” pintaku ketika melihat spanduk besar bertuliskan; Selamat Datang di Riau Expo. Pameran terbesar di Provinsi Riau 19 Oktober-2 November 2015.
Dan… ketika baru memasuki gedung SKA Co Ex, aku kembali minta difotokan oleh Nilam di depan gapura sterofoam bertuliskan Selamat Datang.
“Ih, Mbaakk Ela ni kok pede kali lah!”
“Lah? Memangnya apa yang membuat Mbak harus merasa nggak pede?”
“Ini bukan tempat foto loh Mbaakk.”
“Lah, kalau nunggu foto di tempat foto, kapan fotonya Lam?”

Akhirnya, aku memasuki ruangan utama Co Ex SKA yang maha besar dan indah ini. Aku dan Rini pernah gagal
memasukinya sewaktu ingin melihat Indonesia-China art exhibition beberapa bulan yang lalu. Aku nggak membayangkan betapa meriahnya acara di dalam ruangan ini kemarin. Sekarang, ruangan ini sudah berbentuk kubus-kubus stand dari berbagai instansi dan pameran.
“Nggak dibalas pula nih sama Kak Dilanya. Ntah di stand mana dia berada,” keluhku kepada Nilam. Aku celingukan ke kiri dan kanan. Sampai nemu stand pameran ular. Tertarik untuk lihat-lihat, tapi nggak berminat untuk memegangnya sama sekali.
“Elisss!” teriak seseorang dari arah belakangku.
Setelah aku menoleh. Ternyata… pucuk dicinta ulam pun tiba.. “Kak Diiiilll.. ya Allah, pas banget loh Elis sedang nyariin Kakak nih!” aku berhamburan ke stand Dina Koperasi Provinsi Riau itu.
“Kakak pun kok rasanya kenal ya dengan gaya cewek itu. Ternyata bener, Elis.”
Kak Dila menyuguhiku dan Nilam kripik cabe dan air mineral. Kami bercerita banyak hal di stand ini sambil sesekali Kak Dila mempersilahkan orang-orang untuk melihat-lihat barang-barang di stand ini.
“Dek, lucu kali loh Ibuk ini. Masa dia cuma menawarkan barang dagangannya sendiri. Seharusnya kan nggak boleh kayak gitu kan? Parahnya lagi, dia menjelek-jelekkan barang orang Dek, padahal masih sama-sama 1 stand loh. Harusnya kan kalau ada yang mau beli barang lain ya dipersilahkan aja, nggak perlu menjelek-jelekkan produk kawan supaya produknya yang dibeli. Kadang, ntahlah Dek!”
“Kakak udah coba nasehati Ibu itu?” tanyaku.
“Pengen sih Dek.. tapi… emm…payahlah! Agak susah Dek kalau dengan orang yang lebih tua nih cara masuknya.”
Tapi, bukan kak Dila namanya kalau tidak pandai memaafkan dan bersikap seperti teman baik di depan orang yang tidak baik perbuatannya kepadanya. Siang ini, aku diajaknya makan bersama ibu tadi dan juga seorang temannya yang sudah sering pameran bersamanya. Yang lebih aku syukuri adalah karena siang ini aku dan Nilam ditraktir oleh kak Dila. Ternyata ada rumah makan yang lebih murah di samping SKA ini dari tempat makanku kemarin dengan Rini, walaupu masih sama-sama Ampera.

“Ke SKA lah yuk Dek! Nanggung nih, udah deket banget kita dengan SKAnya.”
“Hayuukklah Kak! Ngadem.”
Nilam belum pernah ke sini sama sekali. Meskipun tidak membeli apa-apa, tapi setidaknya dia sudah pernah berjalan di sini. Oh ya, udah pernah kok duluuuu Nilam ke sini bareng adek-adek juga dan mami sewaktu liburan 2 tahun lalu.
Ketika melewati tempat-tempat make up, aku menemukan suatu kesimpulan… “Kak, sebenarnya mudah aja mengukur apakah make-up atau riasan yang kita gunakan ini apakah berlebihan atau tidak.”
“Gimana Dek caranya?”
“Yang pertama. Kalau kita menghabiskan waktu terlalu lama di depan kaca untuk make-up-an, berarti itu udah berlebihan. Yang kedua. Kalau kita merasa sulit berwudhu atau malah malas berwudhu karena terhalang oleh riasan tadi, maka  itu udah pasti berlebihan. Kalau yang dua itu nggak ada, insya allah nggak berlebihan tuh.”
“Betul tuh Dek. Jangan sampai pula kita malas sholat gara-gara sayang menghapus make-up kan.”
Aku dan Nilam mengikuti ke mana kak Dila melangkah. Dan, sekarang kami sudah berada di dalam Matahari, di lantai 2.

“Dek, sini!” panggil kak Dila kepadaku.
Aku mendekat ke rak-rakan sepatu bertuliskan; Beli 2, diskon 50%. Beli 3, diskon 70%.
“Dek, belilah satu ha. Pilihlah! Cuma Rp 45.000 loh. Di mana lagi kau temukan Nevada semurah ini harganya Dek?”
Sebenarnya tadi sudah sempat melihat ke sini, tapi aku nggak tertarik makanya nyelonong aja. Tapi, sekarang tergiur pula karena ajakan kak Dila. Setelah susah payah memilih warna, model dan ukuran, akhirnya aku beli 2 sepatu; untuk Nilam dan untukku, sedangkan kak Dila beli 1.
“Suka kan Lam dengan sepatu ini?” tanyaku lagi kepada Nilam setelah uang dibayarkan.
“Sukaaa baangeeet. Kalau nggak liburan sama Mbak Ela nggak mungkin Kakak dapat sepatu baruu nih!”
“La jadii?”
Kami yang niatnya mau segera kembali ke Co Ex akhirnya nolongin si ibu memilih lipstick yang cocok dengannya.
“Berapa harganya nih Kak?” bisikku kepada kak Dila.
Kak Dila menge-check harganya dan… “Rp 85.000 Dek.”
“Busyeeett. Lipstik Elis yang pixy itu aja cuma Rp 20.000 dan Elis awet-awet makenya sampai 6 bulan. Hihiii.”

“Dek, tolong pakai. Ibuk mau lihat warnanya,” pinta Ibu itu kepadaku. Aku menyanggupi dan segera mencobanya. Setelah ia tertarik, barulah ia membelinya.
“Kak, lipstiknya kayaknya nggak bagus nih komposisinya. Agak terasa suatu rasa di tenggorokan dan bibir kita rasanya tebal dibuatnya. Kayak pakai lipstick bertumpuk-tumpuk aja.”
“Iya nih Dek. Makanya Kakak hapus langsung pakai tisyu.”
Ketika kami ke luar dari pintu Kampar, kak Dila bertemu dengan murid MAN-nya dulu. Tadi di dalam, kak Dila sempat ditelvon olehnya karena kebingungan menemukan Co Ex SKA. Syukurlah, kami bertemunya tepat pada waktunya. Aku dan Nilam pun diperkenalkan kepadany oleh kak Dila. Sesampainya kami di dalam Co Ex, dek Aisyah itu mengajak Nilam untuk keliling-keliling melihat berbagai stand. Nilam yang awalnya menolak, ku nasehati…
“Nggak apa-apa loh Lam. Kapan lagi belajar berani?”
Akhirnya Nilam menurut. Sementara Nilam dan Aisyah pergi, aku dan kak Dila mulai menggosip tentang cinta. Hehehe.
“… itulah kemarin Kak tanya dia, memangnya udah siap menikah? Belum, katanya Dek. Ha, terus ngapain pula dia berniat mencari cewek? Kecuali kalau dia memang udah siap menikah, berarti nggak lama lah kan prosesnya.”

“Pokoknya Kak, kalau dia memang benar-benar cari cewek, berarti kesimpulannya dia labil. Mungkin cewek itu akan diajaknya pacaran, meskipun awalnya dia ngakunya nggak akan ngajak pacaran. Tapi, siapa yang tahu kan Kak? Untung aja dia kemarin sukanya sama Elis; yang Alhamdulillah nggak mau pacaran. Coba kalau Elis mau, pasti dia akan luluh juga. Cewek kan adalah KUNCI Kak. Nggak mungkin seorang cowok bisa masuk ke dalam rumah kita kalau kita nggak membuka kunci.”
“Dahlah Dek, Allah kan udah berjanji; laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik. Insya Allah , niat Elis kan bukan karena apa-apa  atau karena siapa-siapa, tapi untuk Allah, maka Allah pasti akan mengganti yang pergi itu dengan yang lebih baik Dek.”
“Aaamiin ya Allah. Elis sangat bersyukur atas nikmat ini Kak. Mampu membedakan mana yang harus ditinggalkan dan mana yang harus dipertahankan juga adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri ternyata. Karena nyatanya nggak semua orang bisa merasakannya.”
Setelah sholat ashar, aku berpamitan dengan kak Dila karena ada rapat URC sore ini yang sifatnya mendesak dan prioritas. Nilam saja sampai-sampai ku singgahi di dekat labor Biologi dan seterusnya jalan kaki sampai kosan. Untungnya udah dekat.

***
“Kak, gimana? Udah Kakak tanyakan sama mamanya Adek tuu?”
“Udah Lis. Tapi, Elis jangan tersinggung ya. Kakak hanya menyampaikan apa yang dikatakan Adek itu aja nih.”
“Iyaa Kak, nggak apa-apa.”
“Gini katanya; ‘Ante tu cuma dikasihnya kami tugas, terus kami kerjakan sendiri sementara Ante tu cerita-cerita sama kawannya. Malaslah aku les lagi jadinya,’ gitu katanya Lis.”
DEGGG! Aku udah menulis ini kemarin; Aku harus bersiap-siap atas alasan kecewa orang lain terhadapku, sekalipun itu adalah hal yang tidak terduga. Karena memang, aku sudah sering mengalami hal itu; seseorang mengaku kecewa kepadaku tapi dengan alasan yang meleset dari prediksiku. Ah, sudahlah!

Setelah kak Era berangkat ke Stadion… “Ndah, Indah kemarin merasa Ante acuhkan memangnya?”
“Iya sih Nteee. Tapi kan, nggak mungkin juga Ante ngasih tahu semua jawabannya sama kami kaan?”
“Nah, itu dia Ndah! Kam kemarin kalian memang nggak ada PR, jadi Ante minta kalian menjawab soal di buku paket yang belum dijawab. Kalau nggak ngerti baru tanya sama Ante, kan gitu yang Ante bilang kemarin. Nggak nyangka aja Ante, ternyata itu adalah Zikri nggak mau les lagi sama Ante.”
“Dia memang kayak gitu Nte orangnya. Mudah tersinggung, dulu aja pernah berantem sama guru loh di sekolah Nte..”
“Oh iya yaa? Kayaknya dia lugu dan pendiam gitu padahal.”
“Nggak kayak gitu dia orangnya Ntee. Susah kalau udah marah,” tambah Tasya.
“Biarin ajalah dia tuh Nte.”
“Yang Ante heran, kok Mamanya mau begitu aja nurutin maunya anaknya ya? Nggak habis fikir. Padahal, terakhir kali les kemarin Ante antarin loh dia pulang karena Mamanya belum jemput. Ingat kan Ndah?”
“Ingat Nte. Biarin ajalah dia Nte. Nggak usah difikirin Nte. Kan yang penting ada Indah yang sayang Ante.”
Aku terenyuh mendengar gombalan mautnya Indah barusan. Ternyata ia berhasil menghiburku.

Tidak ada komentar: