Sabtu, 16 Mei 2015

Mengawetkan Syukur-Sabar-Sayang

Kehilangan manfaat dari benda-benda pemudah urusan adalah kesedihan tersendiri. Cas laptop Asusku rusak, sementara cas android Asusku juga belum ketemu sampai sekarang. Bertumpuklah rasanya kehilangan ini. Ya Allah, rasanya beraaat banget kalau harus membeli semuanya dalam waktu yang bersamaan seperti ini. Bolehkah aku memilih yang lain? Mendapatkan 2 barang itu tanpa harus mengeluarkan uang? Aku yakin boleh. Sebab, memang Engkaulah tempatku mengadukan segala keluh kesah. Lapangkan ya Allah, lapangkan, lapangkan lagi sempit ini.

Pagi ini, aku terpaksa harus merampok laptopnya Rincuy dan jadi autis karena NULIS. Ada sesuatu yang baru dair blog ini, aku sedang menghimpun testimoni dari orang-orang terdekat sampai terjauh. Gunanya apa? Selain untuk mempererat silaturahmi, menyemangatiku, membuat mereka lebih dekat denganku, juga untuk meningkatkan rating pengunjung blogku, ehhe *modus!. Tapi serius nih, secara otomatis aku sudah memberikan ruang khusus untuk mereka dan aku bahagia. Ngerasa punya banyak saudara dan keluarga itu adalah nikmat yang tiada dua.

Nasehat: Gelas Kosong atau Gelas Penuh?

Berasal dri ketidakpuasan, membuatku bertanya kepada kak Dita dan inilah jawabannya:
"Dek... seleksi ini bukan seleksi biasa. Bukan seperti lomba menulis Puisi atau Menulis KTI. Karena itu memang udah jelas apa yang dinilai. Ini seleksi kepemudaan Dek. Jadi, yang paling utama dilihat adalah 'sosoknya' bukan hanya prestasinnya semata."

Aku masih belum puas saat itu dan menagih form rekap penilaian dan inilah jawabannya:
"Dek, pernah lihat pemilihan Putri Indonesia? Emangnya pernah kita melihat nilai-nilai mereka diexpos ke publik? Nggak pernah kan? Itu karena tidak semua penilaian dan pertimbangan harus diketahui publik. Sekali lagi, karena yang dinilai itu bukan hanya apa yang tertera di kertas."

Lalu, aku mempertanyakan tentang diriku. Apakah aku tidak pantas? dan inilah jawabannya:
"Dek, yang kami cari adalah si gelas kosong. Adek pernah memperhatikan kan bagaimana kejadiannya jika gelas yang sudah penuh diisi lagi dengan air? Tumpah! Nah, kita nggak mencari orang yang sempurna, Dek. Kita mencari sosok yang 'mau belajar', yang rela menuangkan gelas penuhnya demi agar gelasnya bisa diisi dengan air lagi."

Sudah hampir 3 tahun berlalu dan aku masih mengenang kalimat bertuah itu. Saat itu, aku tidak langsung bisa mengerti maknanya. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, aku jadi lebi faham dan tahu, aku terlalu sombong saat itu. Akulah si gelas Penuh itu.
#Inspirasi dari kak Dita

Akulah Dia

Mengkhawatirkannya sama seperti diri
Resah bila resahnya tak jua enyah
Tiada dirinya jika tanpa diri
Mencintai diri seperti mencintainya. 


Hujung kantuk pukul 12.07wib