Sabtu, 16 Mei 2015

Nasehat: Gelas Kosong atau Gelas Penuh?

Berasal dri ketidakpuasan, membuatku bertanya kepada kak Dita dan inilah jawabannya:
"Dek... seleksi ini bukan seleksi biasa. Bukan seperti lomba menulis Puisi atau Menulis KTI. Karena itu memang udah jelas apa yang dinilai. Ini seleksi kepemudaan Dek. Jadi, yang paling utama dilihat adalah 'sosoknya' bukan hanya prestasinnya semata."

Aku masih belum puas saat itu dan menagih form rekap penilaian dan inilah jawabannya:
"Dek, pernah lihat pemilihan Putri Indonesia? Emangnya pernah kita melihat nilai-nilai mereka diexpos ke publik? Nggak pernah kan? Itu karena tidak semua penilaian dan pertimbangan harus diketahui publik. Sekali lagi, karena yang dinilai itu bukan hanya apa yang tertera di kertas."

Lalu, aku mempertanyakan tentang diriku. Apakah aku tidak pantas? dan inilah jawabannya:
"Dek, yang kami cari adalah si gelas kosong. Adek pernah memperhatikan kan bagaimana kejadiannya jika gelas yang sudah penuh diisi lagi dengan air? Tumpah! Nah, kita nggak mencari orang yang sempurna, Dek. Kita mencari sosok yang 'mau belajar', yang rela menuangkan gelas penuhnya demi agar gelasnya bisa diisi dengan air lagi."

Sudah hampir 3 tahun berlalu dan aku masih mengenang kalimat bertuah itu. Saat itu, aku tidak langsung bisa mengerti maknanya. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, aku jadi lebi faham dan tahu, aku terlalu sombong saat itu. Akulah si gelas Penuh itu.
#Inspirasi dari kak Dita

Tidak ada komentar: