Aku kembali menyaksikan kamar ini tanpa Rini. Meskipun ada
Nilam bersamaku saat ini, tapi tetap saja keberadaan dan ketiadaan Rini jelas
terasa bedanya. Mungkin aku sudah teramat dekat dengannya. Bukan hanya sebagai
dan seperti sahabat, tapi lebih dari saudara. Selama 3 tahun sekamar dengannya,
baru di tahun terakhir ini aku sadar bahwa dia adalah salah satu dari beberapa
saja yang COCOk denganku. Karena memang tak banyak yang berhasil cocok
denganku. Tapi Rini berhasil menjadi salah satunya. Aku bisa bercerita apa saja
dengannya. Dari A sampai Z. Meskipun kadang dia nggak ngerti dengan pembicaraanku,
tapi didengar olehnya saja sudah membuatku seolah difahami. *sihiyyyy.
“Kalau orang sedang cerita tu didengerin! Jangan nyuekin
orang gara-gara gadget!” tegurku pada suatu hari kepada Rini. Kadang, aku
mendadak nggak mood cerita ketika matanya tidak melihat ke arahku, tapi ke arah
HPnya. Nggak masalah sih kalau dia bisa fokus ke 2 hal. Ini tidak. Kita kan
terasa ya pemirsaaa kalau sedang dicuekin dan orang yang diajak ngomong nggak ‘ngeh’
dengan omongan kita? Terus, ngapain juga dilanjutin? Tapi, hari ini aku sadar
bahwa Rini udah berubah. Aku pun sudah berubah. Lebih nyadar diri, nyadar
waktu, nyadar tempat. Kalau memang Rini sedang fokus main HP ya aku tunda dulu
ceritaku. Dan, kalau aku sedang menggebu-gebu ingin cerita, Rini pun akan
meminta izin; ‘El, bentar yaa, bentaaarrr, ku balas dulu BBM ini. Penting
soalnya!’ Dan, setelah itu, dia pun fokus untukku. *sihiiy..
***
“Rin, si kawanmu itu dengan pacarnya sekarang udah biasa aja
kan hubungannya? Lebih kayak sahabat aja dan terlihat nggak bergelora seperti
dulu.”
“Iyaa.. memang kayak teman aja orang tu sekarang.”
“Ya, karena memang begitulah masa sebuah CINTA Rin; Ada batasnya
dan sementara sifatnya. Yang melanjutkannya adalah pengertian, kedewasaan,
penghormatan dan teman-temannya itulah pokoknya! Aku ingat kali gimana hebohnya
dia sewaktu pertama jadian dulu. Sampai-sampai dia bilang gini; ‘Elysa nggak
mau pacaran? Awas ya nanti kalau iri waktu lihat aku sama pacarku jalaaann’
Hahhaa.. nggak sedikit pun aku iri Rin. Andaikan aja bisa, pengen banget aku
bilang ke dia sekarang; ‘Semuanya hanya sementara, termasuk rasa cintamu yang
dulu kamu besar-besarkan itu. Nyatanya apa? Baru setahun, tapi seolah sudah
menahun’ Tapi kan nggak mungkin ya Rin aku nyeplos kayak gituu.”
“Hihiii… iya ya El.”
“Jomblonya seseorang bagiku justru menunjukkan betapa elegan
dan berkelasnya dia. Cobalah Rini bayangkan, ada seorang cewek yang cantiiiik
banget, pintar dan mengagumkan, eh ternyata dia nggak pacaran pula! Keren
banget kan? Apalagi kalau ternyata alasannya nggak pacara adalah; ‘Cinta ini
hanya untuk dia yang pantas karena memantaskan dirinya saja’ WEWWWWW. Keyeeen.”
“So sweet dank…”
Aku dan Rini selalu punya bahan obrolan menarik dan unik di
pagi hari. Kali ini, aku akan mengajaknya sarapan di warung Bunda. Sudah
seminggu lebih kami nggak pernah lagi ke sana. Tapi, ketika aku mengeluarkan
motor…
“Rini masih di sini El?”
Gerakku tertahan karena sebuah pertanyaan. Aku mengode Rini
supaya jangan ke luar dulu.”
“Iya Kak. Dia masih nunggu Ijazahnya karena belum bisa
diambil.”
“Marah Ibuk kos nanti kalau lama-lama gitu.”
“Kan tinggal dibayar aja berapa hari dia di sini seperti
kata Kakak kemarin.”
“Yaa… kalau memang mau lama di sini ngapa nggak sekalian
bayar uang kosnya berdua aja sama El kemarin?”
“Rugilah Kak kalau dia bayar lagi. Kan dia cuma sebentar aja
di sininya,” jawabku, tegas.
Butuh beberapa detik menunggu hingga Rini aman ke luar. Aku
terus saja memanaskan motor dan akhirnya ku bunyikan klakson; kode supaya Rini
segera ke luar.
“Aku dengar semuanya El.”
“Tulah! Aku pun jadi nggak enak hati sekarang ini Rin. Sejak
tadi emang udah nggak enak firasatku. Ternyata benar, ada pertanyaan itu.”
“Nanti sore langsung ke luarlah aku dari sini El. Ke kos si
Riski aja aku, kebetulan hari ini dia pulang lagi ke Medan dan kamarnya
kosong.”
“Iya Rin, meskipun aku masih ingin Rini lama-lama di
kamarku, tapi lebih baik dan lebih aman kalau Rini di kosnya Riski. Mau sampai
kapan kita kayak bandit Rin? Setiap mau ke luar kosan harus lirik kiri-kanan
dulu, lihat-lihat keadaan dulu dan nyesek kalau ditanya kayak tadi. Aku rela
Rin, Rini pergi. Daripada Rini nggak nyaman kayak gini.”
“Iya, nanti sore bantuin aku ngangkatin barang-barang ya
El.”
“Padahal Rini tuh bukannya baru kemarin sore loh ngekos di
situu. Udah 4 tahun loh! Bayangkanlah Rin! Kenapa sih nggak bisa sedikit aja
toleransi untuk Rini yang sebentar lagi akan pamit pergi. Heran kali aku
dibuatnya! Ibu kos itu nggak akan tahu kalau nggak ada pengaduan Rin. Hehh!”
aku menggeleng-gelengkan kepala, tak menyangka. “Kalau ada pertanyaan; ‘Kenapa
sih hidupku begini-begini aja?” sebenarnya jawabanny ada pada dirinya sendiri.
Sebaik-baiknya seseorang adalah sepantas-pantas rezeki yang baik baginya.”
“Bener banget!”
Aku dan Rini menikmati sarapan pagi dengan rasa pecal yang
terasa lezat di lidah, tapi dengan rasa gundah di dalam dada.
“Aku benar-benar nggak ngerti Rin dengan orang yang nggak
pandai mengerti!” gumamku lagi.
“Benar-benar kena kali loh El pertanyaan yang tadi itu. Aku
dengar dengan jelas. Karena aku masih berdiri di depan pintu kamar.”
“Aku tahu perasaanm Rin. Bahkan aku juga sedang merasakannya
sekarang.”
Setelah mengantarkan Rini kembali ke kosan, aku berniat
untuk segera ke ruang H1 saja karena Teguh sudah berulang kali menelvonku
karena dia akan tampil. Ah, nanti siang saja ku jemput Nilam karena keadaan sedang tidak mengenakkan
seperti ini ku khawatirkan akan berefek pada Nilam pula.
“Daaaa… Riinn. Kunci aja kamarnya dari dalam Rin. Kalau ada
yang manggil, jangan pedulikan. Jangan bersuara ya!”
“Siiippp. Aku langsung packing-packing aja!”
Di penghujung jalan, mendadak aku berubah fikiran. Aku harus
menjemput Nilam terlebih dahulu! Udah sangat lama aku nggak bertemu dengannya. Ngisi materi kan masih 2 jam lagi. Lebih
baik terlambat daripada harus mengecewakan Nilam dan membuatnya menunggu lama! Apalagi
sudah sejak kemarin dia berpesan kepadaku untuk sepagi mungkin menjemputnya.
“Mbak ada bawa sandal?” tanya Nilam yang ternyata menyadari
kedatanganku.
“Sandal? Nggak ada. Buat apa?”
“Sandal Kakak hilang loh,” jelasnya.
“Kok bisa pula?” tanyaku terheran-heran. “Cepetan gih
siap-siap! Mbak mau pergi lagi ni haaa. Nggak apa-apa nyeker aja,” ajakku.
5 menit aku menunggunya bersiap-siap dan kemudian aku melaju
bersamanya. Nilam nggak jadi nyeker karena dia dapati pinjaman sandal dari
temannya.
“Berapa lama liburnya Lam?”
“Seminggu. Kemarin asapnya ngeri banget ya Mbak sampai
kuning warnanya. Sebenarnya nggak masuk ke dalam pondok sih asapnya, tapi
mungkin karena berbahaya kali, makanya kami dilburkan.”
Hemmm… sama doank sih
Lam sebenarnya. Libur pun kita masih berada di Provinsi ini juga pun! Kecuali
kalau kita dievakuasi ke dalam Gua Anti Asap (kata mami) heehe.
“Jadi, berapa semuanya?” tanyaku. Ini salah satu jenis
pertanyaan yang nggak nyambung.
“10 juta.”
“Oohhhh.”
Setelah menyinggahkan Nilam di depan kosan, aku segera
berpamitan.
***
“Kita anggap aja menulis itu sebagai kebutuhan. Kita butuh makan
kan? Tidak bisa tidak. Ya udah, anggap aja kalau kita nggak nulis, kita bakal
merasa lapar. Kalau aku menulis, berarti aku bisa berbagi. Kalau menulis,
berarti aku bisa dapat pahala. Kalau aku menulis, berarti aku bisa
menginspirasi. Tapi, kalau aku nggak nulis, aku nggak akan dapat apa-apa,” papar Teguh dengan semangat.
Aku tersenyum-senyum mendengarnya. Luar biasa kamu dek!
“Sokrates adalah gurunya Plato. Tapi yang lebih terkenal
siapa? Plato kan? Karena Sokrates tidak pernah menuliskan ide-idenya. Dia hanya
mengajar, mengajar dan mengajar.”
Di tengah materinya, Teguh mengajak seluruh peserta
melakukan senam otak. Lalu, ia menayangkan sebuah video inspiratif tentang
seorang bapak tua yang buta dan mengemis di pinggir jalan. Ada tulisan di
sebelah kanannya… I Blind and please help
me. Recehan-recehan dolar pun dilemparkan sembarangan oleh orang yang
berlalu lalang dan dia tidak berhasil memungutnya karena ia buta. Akhirnya,
seorang wanita berpenampilan necis berinisiatif menolong bapak itu dengan
mengganti kalimat tadi, menjadi… It’s a
beautiful day and I cant see it.
Respon sekitar ternyata luar biasa berbeda. Akhirnya, ia
mendapatkan banyak recehan karena orang-orang yang berlalu lalang memberikannya
tepat di depan si bapak tua, tidak dilempar sembarang seperti sebelumnya. Pesan
akhir dari video itu adalah… Change your
world, change your words.Luar biasa!
Teguh, layaknya Okta. Sukaaaa banget memuji sampai aku
dibuatnya salah tingkah. Aku hanya sempat menyaksikannya 20 menit, tapi ntah
sudah berapa kali namaku disebut-sebutnya. Hhaaahaa… aku teringat, aku pun dulu
begitu. Selalu menyebut nama kak TAUFANNI meskipun beliau udah menikah dan ntah
berada di mana, tapi inspirasinya tetap hidup di kampus ini, di ruang hati ini.
Demikianlah mungkin waktu berkebalikan. Kelak, pun akan ada orang yang
menyebut-nyebut Teguh seperti ia menyebut-nyebutku hari ini. Jika dia rajin
menanam dan menabur ilmunya kepada orang lain. Insya Allah.
“Terimakasih kepada Bang Teguh Pambudi yang telah berbagi
ilmu kepada kita semua. Selanjutnya adalah penyerahan kenang-kenangan,” ujar
pembawa acara.
Aku turut memfoto Teguh ketika penyerahan plakat. Setelah
itu, giliran namaku yang dipanggil. Teguh masih di sini, memfotokanku beberapa
kali ketika aku berbicara dan barulah ia meninggalkan tempat ini.
“Sebenarnya Kakak agak merasa gimanaaa gitu. Soalnya kemarin
panitia meminta Kakak berbicara tentang KTI awalnya, eh kemarin mendadak
dikabari oleh panitia bahwa Kakak harus berbicara tentang PROPOSAL SKRIPSI. Huaaahhh…
shock gitu dengarnya! Dan… baiklah Kakak akan berusaha membagikan ilmu sebanyak
yang Kakak tahu hari ini tentang KTI dan tentang PROPOSAL SKRIPSI. Karena pada
dasarnya keduanya saling berhubungan meskipun ada beberapa perbedaan,” jelasku.
Setidaknya ada 4 hal yang ku jelaskan hari ini :
1.
Judul KTI berbeda dengan judul PROPOSAL. Di
dalam KTI, kita boleh menggunakan istilah buatan kita sendiri atas ide kreatif
yang ktia gagas, sedangkan di dalam PROPOSAl tidak diperbolehkan. Dalam KTI
juga kita bebas berbica tentang solusi apa saja yang bisa kita gagas, tapi di
dalam PROPOSAL kita tidak dituntut untuk menemukan solusi atas permasalahan;
lebih kepada analisis fenomena.
2.
Trik menyusun latar belakang di dalam KTI sama
dengan PROPOSAL.
3.
Banyaknya jumlah rumusan masalah harus sama
jumlahnya dengan sub bab pada BAB PEMBAHASAN.
4.
Perbedaan KESIMPULAN dan ABSTRAK. Kesimpulan
memuat simpulan dari BAB PEMBAHASAN sedangkan Abstrak memuat simpulan semua
BAB. Makanya, menyusun Abstrak itu adalah yang paling terakhir. Bisa direkayasa
barangkali kalau itu adalah KTI sosial.
“Baik, ada yang ingin bertanya?” tanyaku. Tapi, semuanya
hening…
“Boleh tentang apa saja, bebas. Tidak hanya tentang KTI atau
PROPOSAL saja.”
Salah satu dari mereka mengangkat tangan, “Kak, apa alamat
blog Kakak?”
Huaaahhhh… ternyata si adek malah penasaran dengan blogku.
Teguh pun udah menyebut berulang kali tadi tentang blog ini, pantas saja mereka
begitu penasaran. Setelah ku sebutkan alamatnya, ada 2 orang lagi yang bertanya
tentang materi dan ia mengaku jadi sangat ingin mencoba lomba KTI.
“Walaupun Adek-adek di sini sudah semester 5 dan sebentar
lagi diwajibkan menyelesaikan PROPOSAL, tapi jangan menutup diri dari mengikuti
hal-hal lain yang juga bermanfaat ya. Siapa tahu sebelum wisuda sudah
mengumpulkan piala-piala di rumah, kaan lumayan yaa. Jangan sampai usia kuliah Adek-adek habis
dengan cara biasa, karena rasanya rugi sekali loh Dek kalau kita sama saja dengan
yang lainnya. Sip?” sebuah ajakan persuasive meluncur dari mulutku. Dan materi pun
berakhir.
Sebelum meninggalkan ruangan, ku sempatkan mengobrol dengan
dek Nilma –koordinatorku beberapa hari ini dan ia pun pernah sekos denganku.
“Kak, tadi Bang Teguh nampilin foto Kakak loh sebelum Kakak
datang.”
“Masa iya Dek? Kenapa ditampilin? Emangnya nyambung dengan
materinya? Hahaha.”
“Abang itu kan menjelaskan 2 sumber inspirasi menulis;
GAGASAN dan PERASAAN. Kalau gagasan, ya sumbernya dari permasalahan yang ada di
sekitar nah waktu menjelaskan tentang perasaan itu, yang ditampilin tu foto
Kakak. Katanya gini; ‘Kak Elysa ini, setiap hari menuliskan tentang perasaannya.
Coba aja kalikan selama setahun, sudah berapa banyak tulisan yang dihasilkannya
dari perasaan tadi?’ gitu Kak kata Bang Teguh tadi.”
“Hahaha segitunya ya Dek? Emang lah yaa tu anakkk!,” aku
merasa, wajahku sedang tersipu. “Kebetulan, kami juga memang dekat Dek, jadi
nggak nyangka aja kalau ternyata bisa barengan gini.”
“Orang yang merekomendasikan Kakak itu pun merekomendasikan
Bang Teguh soalnya Kak.”
Barangkali orang itu tahu kalau aku dan Teguh dekat.
Alhamdulillah, hanya Allah yang bisa membalasnya. I always called this as THE POWER OF RECOMMENDATION. Kadang, kita
dipercaya untuk berbicara itu bukan serta-merta karena faktor kehebatan kita
sendiri, tapi karena ada pihak ketiga yang merekomendasikan kita untuk
berbicara. Eyaaakkkk!
***
“Loh? Udah langsung packing-packing aja nih Rin?” tanyaku
ketika baru saja sampai kosan.
“Iya. Udah nggak tenang lagi hatiku di sini El.”
“Aku pun nggak tenang kalau Rini kayak gini. Nih ada kue dan
buah!” ku letakkan parcelku di dekat lemari buku.
“El, tolong antarkan aku ke tempat Riski donk? Aku mau
ngambil kunci kamarnya.”
Padahal aku baru saja angin-anginan sambil rebahan di
lantai. “Hemmmm… biar aja kuncinya dititipkan Riski sama penjaga kosnya Rin. Kan
kayak kemarin juga, nggak apa-apa toh?”
“Masalahnya, aku juga mau ke kampus bareng Riski juga El
ngurus SK-ku. Yoklah antarkan aku! Plisss.”
“Nanti kalau si Kakak ada di teras dan dia nanyain Rini yang
aneh-aneh lagi gimana?”
“Ah, biarlah. Lagian pun aku udah mau pergi dari sini.”
Ternyata keadaan sedang aman, Rini bisa ke luar dari kosan
tanpa dilihat oleh penglihatan yang tak diharapkan. Aku mengantarkannya ke
kosan Riski dan segera kembali lagi ke kosan.
Setelah sholat Maghrib, Rini
buru-buru ingin pergi.
“Nggak nunggu sholat Isya dulu memangnya? Biar nanti sampai
di sana langsung tidur aja.”
“Udah nggak enak perasaanku lagi di tempat ini El. Lebih
cepat pergi, lebih baik.”
Kebetulan, mereka sedang kedatangan tamu dan si kakak sedang
masak di dapur, ini adalah kesempatan yang baik untuk Rini berpamitan. Sementara
aku membantunya mengeluarkan barang-barang bawaannya dan menyalakan mesin
motor, bersiap segera membawa Rini melaju.
“Apa Rini bilang tadi ke Kakak tu?”
“Aku bilang gini; ‘Kak, Rini pergi lagi Kak. Ini uang untuk
Rini beberapa hari di sini’ terus malah dijawabnya; ‘Eh, nggak usah Rin, nggak
usah’ ku bilanglah; ‘Loh? Kok nggak usah, kan kemarin katanya bayar. Nggak apa-apalah
Kak’ tetap aja Kakak tu nggak mau, ya udah ku ambil lagi lah! Kan lumayan,
uangku nggak ngurang. Ehhee.”
“Kayaknya dia merasa bersalah Rin.”
“Mood-moodan kan. Tadi pagi lain, sekarang lain pula. Ke
Abang, tadi ku bilang selintas aja; ‘Bang, pamit Rini lah ya Bang,’ kebetulan
kan Abang tu ngobrol sama tamunya juga.”
“Hemmm… setidaknya walaupun sendiri, Rini tenang di sini. Aku
pun tenang karena Rini tenang.”
Kami sudah sampai. Aku sengaja agak berlamaan di sini.
“El, Ditraaa!” seru Rini ketika ia menghidupkan TV.
“Iyaaaaa… baru kali ini aku lihat dia nyiar loh Rin,”
sahutku. DETAK NEWS RTV. Ku perhatikan
seksama bagaimana Ditra bicara dan membacakan satu per satu berita. “Kereeen
banget ya si Adek niii. Tapi, ada 1 hal
yang ku herankan Rin. Menjadi penyiar radio dan pembaca berita itu kan harus
ada ilmunya, tapi yang ku lihat kok permintaan ke Ditra justru minim ya? Apa
karena orang-orang nggak tertarik untuk jadi penyiar atau presenter? Ah, tapi
rasanya banyak kok yang tertarik. Atau memang Ditranya tidak memberi sinyal
bahwa ia sukarela mengajari mereka?”
“Maksudnya El?”
“Gini loh! Contohnya aku, ada ajaa yang minta aku jadi juri,
minta aku jadi pembicara tapi kenapa ke Ditra belum pernah ku dengar? Padahal,
menurutku Ditra itu udah bisa jadi juri Public Speaking. Dan… memang sih, lomba
pembaca berita atau penyiar itu pun minim, tapi lomba-lomba lain yang berbasic
public speking kan banyak.”
“Terusss…?”
“Ya nggak ada apa-apa sih, aku hanya sedang menganalisa
keadaan aja. Ketika sedang ngobrol sama Ditra, kok aku nggak pernah terfikir ya
untuk nanya ke dia; ‘Gimana sih Dek caranya jadi presenter kayak Adek?’ nggak
pernah. Aku pun heran, kenapa aku nggak kefikiran untuk ngepoin dia. Padahal,
menjadi pembaca berita itu adalah cita-citaku sejak dulu loh, bahkan sebelum
aku jatuh cinta dengan tulisan.”
“Hemmmm… arassooh.”
***
"Mak, Adek udah di depan!"
kata Teguh dari televon.
Dia meminta tolong kepadaku untuk
membantunya menulis essay tentang pendidikan. If he luck, he will be invited to
flight to Bali.. ye yeeee..
"Apa idemu Dek?"
"Gini Mak, pendidikan di
Indonesia ini kan nggak merata, tapi dipaksa sama rata."
Aku tersenyum mendengar rangkaian
kalimat barusan. Telingaku seketika menajam.
"Ujian Nasional adalah
buktinya. Setiap daerah di Indonesia ini kan punya standar pendidikan yang
berbeda-beda. Masa sih standar kelulusannya disamakan dan disusun seperti
standarnya sekolah-sekolah di Jawa, ya mana bisalah! Jadi, Adek menggagas
pentingnya dibentuk sebuah badan yang Adek singkat; BAPER (Badan Pelaksana
Evaluasi Regional) yang fokus tentang standar pendidikan di masing-masing pulau
besar di Indonesia, Mak. Jadi, badan inilah yang nantinya menjadi jalur
koordinasi antara pemerintah pusat ke setiap regional. Dengan begitu, semua
masalah ketidakmerataan pendidikan jadi lebih mudah dan fokus penanganannya.
Gimana Mak?"
Aku mengangguk-angguk dan mulailah
aku mengetikkan kalimat-kalima pemikiran di kepalaku. Laptopnya Teguh baru aja
eror setelah hardisku dicolokkan ke laptopnya, hehehe. Manjanya jadi kambuh
deh, merengek memintaku menuliskan untuknya. Setelah selesai mentahnya, nanti
dia yang akan mematangkannya.
"Mak, apel yang dari acara tadi
masih ada?"
"Ada. Kenapee?"
"Minta donk Mak. Tadi waktu aku
pulang, langsung ku kasihkan ke Abang dan Istrinya, jadi aku nggak kebagian,
heheeh."
"Bentar yaa."
Aku masuk ke kamar, mencuci Apel
merah ini dan ke luar dengan membawa pisau+piring kepadanya. Sambil ngetik,
tanganku sambil mengambil satu per satu potongan Apelnya.
"Lah? Ini yang minta siapa,
yang ngabisin siapaaa?" tegur Teguh.
"Eh! Keceplosannn..hehe."
"Kak Rincuy mana Mak?"
"Emmm.... Enggg..."
"Di kamar ya dia?"
"Emmm..iya, sedang di kamar
dia. Di mana lagi memangnya? ehhe."
Tidak ada pilihan di tengah-tengah
bagiku. Cerita atau diam. Hanya itu pilihannya. Karena aku tidak ingin
mengulang rasa yang tidak enak dari cerita tadi pagi, maka aku putuskan untuk
diam sama sekali.


2 komentar:
Ada saatnys kita mendengar, ada saatnya kita didengar.
Semua ada saatnya...
Ada saatnys kita mendengar, ada saatnya kita didengar.
Semua ada saatnya...
Posting Komentar