Sabtu, 24 Oktober 2015

The Power of Recommendation



Aku kembali menyaksikan kamar ini tanpa Rini. Meskipun ada Nilam bersamaku saat ini, tapi tetap saja keberadaan dan ketiadaan Rini jelas terasa bedanya. Mungkin aku sudah teramat dekat dengannya. Bukan hanya sebagai dan seperti sahabat, tapi lebih dari saudara. Selama 3 tahun sekamar dengannya, baru di tahun terakhir ini aku sadar bahwa dia adalah salah satu dari beberapa saja yang COCOk denganku. Karena memang tak banyak yang berhasil cocok denganku. Tapi Rini berhasil menjadi salah satunya. Aku bisa bercerita apa saja dengannya. Dari A sampai Z. Meskipun kadang dia nggak ngerti dengan pembicaraanku, tapi didengar olehnya saja sudah membuatku seolah difahami. *sihiyyyy.

“Kalau orang sedang cerita tu didengerin! Jangan nyuekin orang gara-gara gadget!” tegurku pada suatu hari kepada Rini. Kadang, aku mendadak nggak mood cerita ketika matanya tidak melihat ke arahku, tapi ke arah HPnya. Nggak masalah sih kalau dia bisa fokus ke 2 hal. Ini tidak. Kita kan terasa ya pemirsaaa kalau sedang dicuekin dan orang yang diajak ngomong nggak ‘ngeh’ dengan omongan kita? Terus, ngapain juga dilanjutin? Tapi, hari ini aku sadar bahwa Rini udah berubah. Aku pun sudah berubah. Lebih nyadar diri, nyadar waktu, nyadar tempat. Kalau memang Rini sedang fokus main HP ya aku tunda dulu ceritaku. Dan, kalau aku sedang menggebu-gebu ingin cerita, Rini pun akan meminta izin; ‘El, bentar yaa, bentaaarrr, ku balas dulu BBM ini. Penting soalnya!’ Dan, setelah itu, dia pun fokus untukku. *sihiiy..

***
“Rin, si kawanmu itu dengan pacarnya sekarang udah biasa aja kan hubungannya? Lebih kayak sahabat aja dan terlihat nggak bergelora seperti dulu.”
“Iyaa.. memang kayak teman aja orang tu sekarang.”
“Ya, karena memang begitulah masa sebuah CINTA Rin; Ada batasnya dan sementara sifatnya. Yang melanjutkannya adalah pengertian, kedewasaan, penghormatan dan teman-temannya itulah pokoknya! Aku ingat kali gimana hebohnya dia sewaktu pertama jadian dulu. Sampai-sampai dia bilang gini; ‘Elysa nggak mau pacaran? Awas ya nanti kalau iri waktu lihat aku sama pacarku jalaaann’ Hahhaa.. nggak sedikit pun aku iri Rin. Andaikan aja bisa, pengen banget aku bilang ke dia sekarang; ‘Semuanya hanya sementara, termasuk rasa cintamu yang dulu kamu besar-besarkan itu. Nyatanya apa? Baru setahun, tapi seolah sudah menahun’ Tapi kan nggak mungkin ya Rin aku nyeplos kayak gituu.”
“Hihiii… iya ya El.”
“Jomblonya seseorang bagiku justru menunjukkan betapa elegan dan berkelasnya dia. Cobalah Rini bayangkan, ada seorang cewek yang cantiiiik banget, pintar dan mengagumkan, eh ternyata dia nggak pacaran pula! Keren banget kan? Apalagi kalau ternyata alasannya nggak pacara adalah; ‘Cinta ini hanya untuk dia yang pantas karena memantaskan dirinya saja’ WEWWWWW. Keyeeen.”
“So sweet dank…”

Aku dan Rini selalu punya bahan obrolan menarik dan unik di pagi hari. Kali ini, aku akan mengajaknya sarapan di warung Bunda. Sudah seminggu lebih kami nggak pernah lagi ke sana. Tapi, ketika aku mengeluarkan motor…
“Rini masih di sini El?”
Gerakku tertahan karena sebuah pertanyaan. Aku mengode Rini supaya jangan ke luar dulu.”
“Iya Kak. Dia masih nunggu Ijazahnya karena belum bisa diambil.”
“Marah Ibuk kos nanti kalau lama-lama gitu.”
“Kan tinggal dibayar aja berapa hari dia di sini seperti kata Kakak kemarin.”
“Yaa… kalau memang mau lama di sini ngapa nggak sekalian bayar uang kosnya berdua aja sama El kemarin?”
“Rugilah Kak kalau dia bayar lagi. Kan dia cuma sebentar aja di sininya,” jawabku, tegas.
Butuh beberapa detik menunggu hingga Rini aman ke luar. Aku terus saja memanaskan motor dan akhirnya ku bunyikan klakson; kode supaya Rini segera ke luar.
“Aku dengar semuanya El.”
“Tulah! Aku pun jadi nggak enak hati sekarang ini Rin. Sejak tadi emang udah nggak enak firasatku. Ternyata benar, ada pertanyaan itu.”
“Nanti sore langsung ke luarlah aku dari sini El. Ke kos si Riski aja aku, kebetulan hari ini dia pulang lagi ke Medan dan kamarnya kosong.”

“Iya Rin, meskipun aku masih ingin Rini lama-lama di kamarku, tapi lebih baik dan lebih aman kalau Rini di kosnya Riski. Mau sampai kapan kita kayak bandit Rin? Setiap mau ke luar kosan harus lirik kiri-kanan dulu, lihat-lihat keadaan dulu dan nyesek kalau ditanya kayak tadi. Aku rela Rin, Rini pergi. Daripada Rini nggak nyaman kayak gini.”
“Iya, nanti sore bantuin aku ngangkatin barang-barang ya El.”
“Padahal Rini tuh bukannya baru kemarin sore loh ngekos di situu. Udah 4 tahun loh! Bayangkanlah Rin! Kenapa sih nggak bisa sedikit aja toleransi untuk Rini yang sebentar lagi akan pamit pergi. Heran kali aku dibuatnya! Ibu kos itu nggak akan tahu kalau nggak ada pengaduan Rin. Hehh!” aku menggeleng-gelengkan kepala, tak menyangka. “Kalau ada pertanyaan; ‘Kenapa sih hidupku begini-begini aja?” sebenarnya jawabanny ada pada dirinya sendiri. Sebaik-baiknya seseorang adalah sepantas-pantas rezeki yang baik baginya.”
“Bener banget!”

Aku dan Rini menikmati sarapan pagi dengan rasa pecal yang terasa lezat di lidah, tapi dengan rasa gundah di dalam dada.
“Aku benar-benar nggak ngerti Rin dengan orang yang nggak pandai mengerti!” gumamku lagi.
“Benar-benar kena kali loh El pertanyaan yang tadi itu. Aku dengar dengan jelas. Karena aku masih berdiri di depan pintu kamar.”
“Aku tahu perasaanm Rin. Bahkan aku juga sedang merasakannya sekarang.”
Setelah mengantarkan Rini kembali ke kosan, aku berniat untuk segera ke ruang H1 saja karena Teguh sudah berulang kali menelvonku karena dia akan tampil. Ah, nanti siang saja ku jemput Nilam  karena keadaan sedang tidak mengenakkan seperti ini ku khawatirkan akan berefek pada Nilam pula.
“Daaaa… Riinn. Kunci aja kamarnya dari dalam Rin. Kalau ada yang manggil, jangan pedulikan. Jangan bersuara ya!”
“Siiippp. Aku langsung packing-packing aja!”
Di penghujung jalan, mendadak aku berubah fikiran. Aku harus menjemput Nilam terlebih dahulu! Udah sangat lama aku nggak bertemu dengannya. Ngisi materi kan masih 2 jam lagi. Lebih baik terlambat daripada harus mengecewakan Nilam dan membuatnya menunggu lama! Apalagi sudah sejak kemarin dia berpesan kepadaku untuk sepagi mungkin menjemputnya.

“Mbak ada bawa sandal?” tanya Nilam yang ternyata menyadari kedatanganku.
“Sandal? Nggak ada. Buat apa?”
“Sandal Kakak hilang loh,” jelasnya.
“Kok bisa pula?” tanyaku terheran-heran. “Cepetan gih siap-siap! Mbak mau pergi lagi ni haaa. Nggak apa-apa nyeker aja,” ajakku.
5 menit aku menunggunya bersiap-siap dan kemudian aku melaju bersamanya. Nilam nggak jadi nyeker karena dia dapati pinjaman sandal dari temannya.
“Berapa lama liburnya Lam?”
“Seminggu. Kemarin asapnya ngeri banget ya Mbak sampai kuning warnanya. Sebenarnya nggak masuk ke dalam pondok sih asapnya, tapi mungkin karena berbahaya kali, makanya kami dilburkan.”
Hemmm… sama doank sih Lam sebenarnya. Libur pun kita masih berada di Provinsi ini juga pun! Kecuali kalau kita dievakuasi ke dalam Gua Anti Asap (kata mami) heehe.
“Jadi, berapa semuanya?” tanyaku. Ini salah satu jenis pertanyaan yang nggak nyambung.
“10 juta.”
“Oohhhh.”
Setelah menyinggahkan Nilam di depan kosan, aku segera berpamitan.

***
“Kita anggap aja menulis itu sebagai kebutuhan. Kita butuh makan kan? Tidak bisa tidak. Ya udah, anggap aja kalau kita nggak nulis, kita bakal merasa lapar. Kalau aku menulis, berarti aku bisa berbagi. Kalau menulis, berarti aku bisa dapat pahala. Kalau aku menulis, berarti aku bisa
menginspirasi. Tapi, kalau aku nggak nulis, aku nggak akan dapat apa-apa,” papar Teguh dengan semangat.
Aku tersenyum-senyum mendengarnya. Luar biasa kamu dek!
“Sokrates adalah gurunya Plato. Tapi yang lebih terkenal siapa? Plato kan? Karena Sokrates tidak pernah menuliskan ide-idenya. Dia hanya mengajar, mengajar dan mengajar.”
Di tengah materinya, Teguh mengajak seluruh peserta melakukan senam otak. Lalu, ia menayangkan sebuah video inspiratif tentang seorang bapak tua yang buta dan mengemis di pinggir jalan. Ada tulisan di sebelah kanannya… I Blind and please help me. Recehan-recehan dolar pun dilemparkan sembarangan oleh orang yang berlalu lalang dan dia tidak berhasil memungutnya karena ia buta. Akhirnya, seorang wanita berpenampilan necis berinisiatif menolong bapak itu dengan mengganti kalimat tadi, menjadi… It’s a beautiful day and I cant see it.
Respon sekitar ternyata luar biasa berbeda. Akhirnya, ia mendapatkan banyak recehan karena orang-orang yang berlalu lalang memberikannya tepat di depan si bapak tua, tidak dilempar sembarang seperti sebelumnya. Pesan akhir dari video itu adalah… Change your world, change your words.Luar biasa!

Teguh, layaknya Okta. Sukaaaa banget memuji sampai aku dibuatnya salah tingkah. Aku hanya sempat menyaksikannya 20 menit, tapi ntah sudah berapa kali namaku disebut-sebutnya. Hhaaahaa… aku teringat, aku pun dulu begitu. Selalu menyebut nama kak TAUFANNI meskipun beliau udah menikah dan ntah berada di mana, tapi inspirasinya tetap hidup di kampus ini, di ruang hati ini. Demikianlah mungkin waktu berkebalikan. Kelak, pun akan ada orang yang menyebut-nyebut Teguh seperti ia menyebut-nyebutku hari ini. Jika dia rajin menanam dan menabur ilmunya kepada orang lain. Insya Allah.
“Terimakasih kepada Bang Teguh Pambudi yang telah berbagi ilmu kepada kita semua. Selanjutnya adalah penyerahan kenang-kenangan,” ujar pembawa acara.
Aku turut memfoto Teguh ketika penyerahan plakat. Setelah itu, giliran namaku yang dipanggil. Teguh masih di sini, memfotokanku beberapa kali ketika aku berbicara dan barulah ia meninggalkan tempat ini.
“Sebenarnya Kakak agak merasa gimanaaa gitu. Soalnya kemarin panitia meminta Kakak berbicara tentang KTI awalnya, eh kemarin mendadak dikabari oleh panitia bahwa Kakak harus berbicara tentang PROPOSAL SKRIPSI. Huaaahhh… shock gitu dengarnya! Dan… baiklah Kakak akan berusaha membagikan ilmu sebanyak yang Kakak tahu hari ini tentang KTI dan tentang PROPOSAL SKRIPSI. Karena pada dasarnya keduanya saling berhubungan meskipun ada beberapa perbedaan,” jelasku.

Setidaknya ada 4 hal yang ku jelaskan hari ini :
1.       Judul KTI berbeda dengan judul PROPOSAL. Di dalam KTI, kita boleh menggunakan istilah buatan kita sendiri atas ide kreatif yang ktia gagas, sedangkan di dalam PROPOSAl tidak diperbolehkan. Dalam KTI juga kita bebas berbica tentang solusi apa saja yang bisa kita gagas, tapi di dalam PROPOSAL kita tidak dituntut untuk menemukan solusi atas permasalahan; lebih kepada analisis fenomena.
2.       Trik menyusun latar belakang di dalam KTI sama dengan PROPOSAL.
3.       Banyaknya jumlah rumusan masalah harus sama jumlahnya dengan sub bab pada BAB PEMBAHASAN.
4.       Perbedaan KESIMPULAN dan ABSTRAK. Kesimpulan memuat simpulan dari BAB PEMBAHASAN sedangkan Abstrak memuat simpulan semua BAB. Makanya, menyusun Abstrak itu adalah yang paling terakhir. Bisa direkayasa barangkali kalau itu adalah KTI sosial.
“Baik, ada yang ingin bertanya?” tanyaku. Tapi, semuanya hening…
“Boleh tentang apa saja, bebas. Tidak hanya tentang KTI atau PROPOSAL saja.”
Salah satu dari mereka mengangkat tangan, “Kak, apa alamat blog Kakak?”
Huaaahhhh… ternyata si adek malah penasaran dengan blogku. Teguh pun udah menyebut berulang kali tadi tentang blog ini, pantas saja mereka begitu penasaran. Setelah ku sebutkan alamatnya, ada 2 orang lagi yang bertanya tentang materi dan ia mengaku jadi sangat ingin mencoba lomba KTI.
“Walaupun Adek-adek di sini sudah semester 5 dan sebentar lagi diwajibkan menyelesaikan PROPOSAL, tapi jangan menutup diri dari mengikuti hal-hal lain yang juga bermanfaat ya. Siapa tahu sebelum wisuda sudah mengumpulkan piala-piala di rumah, kaan lumayan yaa.  Jangan sampai usia kuliah Adek-adek habis dengan cara biasa, karena rasanya rugi sekali loh Dek kalau kita sama saja dengan yang lainnya. Sip?” sebuah ajakan persuasive meluncur dari mulutku. Dan materi pun berakhir.

Sebelum meninggalkan ruangan, ku sempatkan mengobrol dengan dek Nilma –koordinatorku beberapa hari ini dan ia pun pernah sekos denganku.
“Kak, tadi Bang Teguh nampilin foto Kakak loh sebelum Kakak datang.”
“Masa iya Dek? Kenapa ditampilin? Emangnya nyambung dengan materinya? Hahaha.”
“Abang itu kan menjelaskan 2 sumber inspirasi menulis; GAGASAN dan PERASAAN. Kalau gagasan, ya sumbernya dari permasalahan yang ada di sekitar nah waktu menjelaskan tentang perasaan itu, yang ditampilin tu foto Kakak. Katanya gini; ‘Kak Elysa ini, setiap hari menuliskan tentang perasaannya. Coba aja kalikan selama setahun, sudah berapa banyak tulisan yang dihasilkannya dari perasaan tadi?’ gitu Kak kata Bang Teguh tadi.”
“Hahaha segitunya ya Dek? Emang lah yaa tu anakkk!,” aku merasa, wajahku sedang tersipu. “Kebetulan, kami juga memang dekat Dek, jadi nggak nyangka aja kalau ternyata bisa barengan gini.”
“Orang yang merekomendasikan Kakak itu pun merekomendasikan Bang Teguh soalnya Kak.”
Barangkali orang itu tahu kalau aku dan Teguh dekat. Alhamdulillah, hanya Allah yang bisa membalasnya. I always called this as THE POWER OF RECOMMENDATION. Kadang, kita dipercaya untuk berbicara itu bukan serta-merta karena faktor kehebatan kita sendiri, tapi karena ada pihak ketiga yang merekomendasikan kita untuk berbicara. Eyaaakkkk!

***
“Loh? Udah langsung packing-packing aja nih Rin?” tanyaku ketika baru saja sampai kosan.
“Iya. Udah nggak tenang lagi hatiku di sini El.”
“Aku pun nggak tenang kalau Rini kayak gini. Nih ada kue dan buah!” ku letakkan parcelku di dekat lemari buku.
“El, tolong antarkan aku ke tempat Riski donk? Aku mau ngambil kunci kamarnya.”
Padahal aku baru saja angin-anginan sambil rebahan di lantai. “Hemmmm… biar aja kuncinya dititipkan Riski sama penjaga kosnya Rin. Kan kayak kemarin juga, nggak apa-apa toh?”
“Masalahnya, aku juga mau ke kampus bareng Riski juga El ngurus SK-ku. Yoklah antarkan aku! Plisss.”
“Nanti kalau si Kakak ada di teras dan dia nanyain Rini yang aneh-aneh lagi gimana?”
“Ah, biarlah. Lagian pun aku udah mau pergi dari sini.”
Ternyata keadaan sedang aman, Rini bisa ke luar dari kosan tanpa dilihat oleh penglihatan yang tak diharapkan. Aku mengantarkannya ke kosan Riski dan segera kembali lagi ke kosan.


Setelah sholat Maghrib, Rini buru-buru ingin pergi.
“Nggak nunggu sholat Isya dulu memangnya? Biar nanti sampai di sana langsung tidur aja.”
“Udah nggak enak perasaanku lagi di tempat ini El. Lebih cepat pergi, lebih baik.”
Kebetulan, mereka sedang kedatangan tamu dan si kakak sedang masak di dapur, ini adalah kesempatan yang baik untuk Rini berpamitan. Sementara aku membantunya mengeluarkan barang-barang bawaannya dan menyalakan mesin motor, bersiap segera membawa Rini melaju.

“Apa Rini bilang tadi ke Kakak tu?”
“Aku bilang gini; ‘Kak, Rini pergi lagi Kak. Ini uang untuk Rini beberapa hari di sini’ terus malah dijawabnya; ‘Eh, nggak usah Rin, nggak usah’ ku bilanglah; ‘Loh? Kok nggak usah, kan kemarin katanya bayar. Nggak apa-apalah Kak’ tetap aja Kakak tu nggak mau, ya udah ku ambil lagi lah! Kan lumayan, uangku nggak ngurang. Ehhee.”
“Kayaknya dia merasa bersalah Rin.”
“Mood-moodan kan. Tadi pagi lain, sekarang lain pula. Ke Abang, tadi ku bilang selintas aja; ‘Bang, pamit Rini lah ya Bang,’ kebetulan kan Abang tu ngobrol sama tamunya juga.”
“Hemmm… setidaknya walaupun sendiri, Rini tenang di sini. Aku pun tenang karena Rini tenang.”
Kami sudah sampai. Aku sengaja agak berlamaan di sini.
“El, Ditraaa!” seru Rini ketika ia menghidupkan TV.
“Iyaaaaa… baru kali ini aku lihat dia nyiar loh Rin,” sahutku. DETAK NEWS RTV. Ku perhatikan seksama bagaimana Ditra bicara dan membacakan satu per satu berita. “Kereeen banget ya si Adek niii.  Tapi, ada 1 hal yang ku herankan Rin. Menjadi penyiar radio dan pembaca berita itu kan harus ada ilmunya, tapi yang ku lihat kok permintaan ke Ditra justru minim ya? Apa karena orang-orang nggak tertarik untuk jadi penyiar atau presenter? Ah, tapi rasanya banyak kok yang tertarik. Atau memang Ditranya tidak memberi sinyal bahwa ia sukarela mengajari mereka?”

“Maksudnya El?”
“Gini loh! Contohnya aku, ada ajaa yang minta aku jadi juri, minta aku jadi pembicara tapi kenapa ke Ditra belum pernah ku dengar? Padahal, menurutku Ditra itu udah bisa jadi juri Public Speaking. Dan… memang sih, lomba pembaca berita atau penyiar itu pun minim, tapi lomba-lomba lain yang berbasic public speking kan banyak.”
“Terusss…?”
“Ya nggak ada apa-apa sih, aku hanya sedang menganalisa keadaan aja. Ketika sedang ngobrol sama Ditra, kok aku nggak pernah terfikir ya untuk nanya ke dia; ‘Gimana sih Dek caranya jadi presenter kayak Adek?’ nggak pernah. Aku pun heran, kenapa aku nggak kefikiran untuk ngepoin dia. Padahal, menjadi pembaca berita itu adalah cita-citaku sejak dulu loh, bahkan sebelum aku jatuh cinta dengan tulisan.”
“Hemmmm… arassooh.”

***
"Mak, Adek udah di depan!" kata Teguh dari televon.
Dia meminta tolong kepadaku untuk membantunya menulis essay tentang pendidikan. If he luck, he will be invited to flight to Bali.. ye yeeee..
"Apa idemu Dek?"
"Gini Mak, pendidikan di Indonesia ini kan nggak merata, tapi dipaksa sama rata."
Aku tersenyum mendengar rangkaian kalimat barusan. Telingaku seketika menajam.
"Ujian Nasional adalah buktinya. Setiap daerah di Indonesia ini kan punya standar pendidikan yang berbeda-beda. Masa sih standar kelulusannya disamakan dan disusun seperti standarnya sekolah-sekolah di Jawa, ya mana bisalah! Jadi, Adek menggagas pentingnya dibentuk sebuah badan yang Adek singkat; BAPER (Badan Pelaksana Evaluasi Regional) yang fokus tentang standar pendidikan di masing-masing pulau besar di Indonesia, Mak. Jadi, badan inilah yang nantinya menjadi jalur koordinasi antara pemerintah pusat ke setiap regional. Dengan begitu, semua masalah ketidakmerataan pendidikan jadi lebih mudah dan fokus penanganannya. Gimana Mak?"

Aku mengangguk-angguk dan mulailah aku mengetikkan kalimat-kalima pemikiran di kepalaku. Laptopnya Teguh baru aja eror setelah hardisku dicolokkan ke laptopnya, hehehe. Manjanya jadi kambuh deh, merengek memintaku menuliskan untuknya. Setelah selesai mentahnya, nanti dia yang akan mematangkannya.
"Mak, apel yang dari acara tadi masih ada?"
"Ada. Kenapee?"
"Minta donk Mak. Tadi waktu aku pulang, langsung ku kasihkan ke Abang dan Istrinya, jadi aku nggak kebagian, heheeh."
"Bentar yaa."
Aku masuk ke kamar, mencuci Apel merah ini dan ke luar dengan membawa pisau+piring kepadanya. Sambil ngetik, tanganku sambil mengambil satu per satu potongan Apelnya.
"Lah? Ini yang minta siapa, yang ngabisin siapaaa?" tegur Teguh.
"Eh! Keceplosannn..hehe."
"Kak Rincuy mana Mak?"
"Emmm.... Enggg..."
"Di kamar ya dia?"
"Emmm..iya, sedang di kamar dia. Di mana lagi memangnya? ehhe."

Tidak ada pilihan di tengah-tengah bagiku. Cerita atau diam. Hanya itu pilihannya. Karena aku tidak ingin mengulang rasa yang tidak enak dari cerita tadi pagi, maka aku putuskan untuk diam sama sekali.

2 komentar:

Teguh Pambudi mengatakan...

Ada saatnys kita mendengar, ada saatnya kita didengar.
Semua ada saatnya...

Teguh Pambudi mengatakan...

Ada saatnys kita mendengar, ada saatnya kita didengar.
Semua ada saatnya...