Selasa, 31 Maret 2015

Seharian Ber-Wifi Ria bersama DL PKM

"El, buruaaan. Laper kali aku! Tau kan kalau aku lapar gimana bentuknya?" Ancam Rini.
"Iyaaa. Nih udah siap loooh," jawabku tergesa-gesa.
Bismillah. Semoga motornya masih sanggup membawa kami ke Bina Krida. Kalau pun habis minyaknya, bisa di isi segera. Hikss. Daaan, alhamdulillah ternyata persediaan masih cukup untuk hari ini. Kami memilih tempat biasanya. Aku memesan pecal dan Rincek lontong. Bakwan yang mirip pipiku udah habissss, hiks. Yang tersisa tinggal 1 bakwan yang udah lembek dan 1 perkedel jagung, hemmm bolehlah daripada nggak ada sama sekali.
"Eh, ada Memeel. Hayooo, pasti belum mandi yaa?" tanyaku pada Melia sembarangan.
"Hehhe, Elis. Iya nih. hihii."
"Melia gimana udah ngajuin judul?" tanyaku lebih lanjut.
"Udah, El."
"Trus kapan ujiannya, Mel?"
"Doakan aja cepat ya, Lis. Soalnya sekarang beda caranya. Setelah kita ngajukan, baru dibuatkan SK dosennya, El. Trus, nunggu giliran lagi. Soalnya, kemaren Fitra aja udah nunggu sampai 3 minggu belum juga ujian."
"Oooooohhh.. Gitu pula ya?"

Truly Elysa on Green March


Cecer Senja

Segala hajat tertunai sudah meski belum
sudah sebenar tunai, tapi setidaknya telah
nyaris tinggallah sempurna menanti
gesa. Sebab,
waktu tak
banyak
tersedia
aku menoleh pada senja yang masih
ber-mentari. akankah esok hari boleh ku
miliki? Dalam rengkuh lebih lembut
oleh tangan
yang ku
hindari kusut
uban-uban boleh bertumbuh lantaran tugas melaut
coba tetap ku coba-coba yakini diri sanggup berbuat
berarti untuk janji. Moga janji bisa diajak berdamai
Berkenalan pada Senja, Maret bungsu 2015