MENULIS adalah AKU; caraku beristirahat, caraku memaafkan, caraku mencintai dan caraku hidup abadi.
Sabtu, 18 April 2015
Aku yang Pelupa
Warung kecil di pangkal simpang Bina Bangsa udah beberapa waktu ini jadi tempat sarapan favoritku dan Rincek. Biasanya, Rincek akan makan lontong dan tempe goreng, sedagnkan aku pecel plus 2 bakwan dan 1 perkedel jagung. Kadang-kadang, tempenya Rini masih juga ku bajak. hhaha. *Sorry tante. Dan biasanya, aku nggak pernah lupa buat minta difotoin pake kamera B12nya itu.
Setelah sarapan, dia minta diantarkan ke BEM UR.
Biasalah, ngurusin PPRUnya itu. Aku bahagia banget melihatnya sibuk dalam kejelasan seperti sekarang. Baru terlihat bahwa Rini adalah orang yang penuh dedikasi dan tanggungjawab. Aku nggak nyangka juga dia segitunya. Bener-bener peduli dengan tugas dan program yang akan dijalankan. Doi termasuk ke dalam tim Kampanye dan Co acaranya. *widiihh, kereen ciin. hehe. Kenapa nggak sejak dulu ya Rin? hehe, tapi better late than never kan?
Setelah nganterin Rini, aku mampir ke BEM FKIP.
mau ngupdate blog tapi jaringannya naudzubillah. Akhirnya aku cuma baca-baca tabloid sambil nunggu respon Romcek. Aku mau ketemu PENAPPUCINO rangers hari ini buat ngomongin masalah biaya cetak buku dan beberapa data yang belum kelar. Ah, tapi Romcek nggak merespon dan aku kepalang bete diem-diem aja di BEM FKIP. hiksss. Akhirnya aku pulang, nonton film India ditemani tela-tela ubi rambat dan minuman Yakult. hehe. nyummiiii.
Setelah sarapan, dia minta diantarkan ke BEM UR.
Biasalah, ngurusin PPRUnya itu. Aku bahagia banget melihatnya sibuk dalam kejelasan seperti sekarang. Baru terlihat bahwa Rini adalah orang yang penuh dedikasi dan tanggungjawab. Aku nggak nyangka juga dia segitunya. Bener-bener peduli dengan tugas dan program yang akan dijalankan. Doi termasuk ke dalam tim Kampanye dan Co acaranya. *widiihh, kereen ciin. hehe. Kenapa nggak sejak dulu ya Rin? hehe, tapi better late than never kan?
Setelah nganterin Rini, aku mampir ke BEM FKIP.
mau ngupdate blog tapi jaringannya naudzubillah. Akhirnya aku cuma baca-baca tabloid sambil nunggu respon Romcek. Aku mau ketemu PENAPPUCINO rangers hari ini buat ngomongin masalah biaya cetak buku dan beberapa data yang belum kelar. Ah, tapi Romcek nggak merespon dan aku kepalang bete diem-diem aja di BEM FKIP. hiksss. Akhirnya aku pulang, nonton film India ditemani tela-tela ubi rambat dan minuman Yakult. hehe. nyummiiii.
Lokasi:
Aba, Nigeria
IDE: 2 Cara Mengukur Keberhasilan Menjaga Hati
"Dek, persoalan menjaga hati ini adalah persoalan yang MENGECOH. Dia nggak terlihat oleh mata, nggak terdengar oleh telinga orang lain karena ini adalah pekerjaan hari dan perkara rasa. Cuma ada 2 cara untuk mengukur keikhlasan kita dalam proses menjaga hati :
1. Seandainya detik ini, dia menikah dengan wanita lain, bagaimana perasaanmu?
Ikhlas? Biasa aja? Bagus! Kalau masih ada rasa tidak rela atau sakit hati, artinya kamu belum bisa ikhlas. Dek, orang di luar saja bisa saja mengira kita adalah orang alim dari penampilan kita. Tapi, sesungguhnya ada hal yang lebih tersembunyi tapi dialah hal dasar yang harus selesai kita kendalikan; PERASAAN. Kalau hal dasar ini saja masih amburadul, bagaimana mungkin kita bisa bicara hal yang lebih besar?
2. Seandainya detik ini, kamu dilamar oleh orang lain (bukan dirinya yang kamu ukir di hati), bagaimana perasaanmu?
Ikhlas? Akan fokus menilai bagaiman calonmu itu? Bagus!
Tapi, kalau hatimu masih memanggil-manggil namanya dan berharap agar kamu bisa menolak kedatangan laki-laki ini, artinya hatimu belum ikhlas. Ikhlas memang bukan perkara instan dan langsung jadi, bukan! Itu adalah proses panjang dan berkelanjutan. Setiap orang punya strategi dan cara untuk sampai di titik itu. Maka, bagaimana dengan stretegimu?"
Semoga Allah meneguhkan hati kita atas pilihan ini. Semoga Allah ridho. Semoga kita teguh, hingga Ia berkata; Sudah! *azekkkkkk.
Semoga bermanfaat ya ^_^
1. Seandainya detik ini, dia menikah dengan wanita lain, bagaimana perasaanmu?
Ikhlas? Biasa aja? Bagus! Kalau masih ada rasa tidak rela atau sakit hati, artinya kamu belum bisa ikhlas. Dek, orang di luar saja bisa saja mengira kita adalah orang alim dari penampilan kita. Tapi, sesungguhnya ada hal yang lebih tersembunyi tapi dialah hal dasar yang harus selesai kita kendalikan; PERASAAN. Kalau hal dasar ini saja masih amburadul, bagaimana mungkin kita bisa bicara hal yang lebih besar?
2. Seandainya detik ini, kamu dilamar oleh orang lain (bukan dirinya yang kamu ukir di hati), bagaimana perasaanmu?
Ikhlas? Akan fokus menilai bagaiman calonmu itu? Bagus!
Tapi, kalau hatimu masih memanggil-manggil namanya dan berharap agar kamu bisa menolak kedatangan laki-laki ini, artinya hatimu belum ikhlas. Ikhlas memang bukan perkara instan dan langsung jadi, bukan! Itu adalah proses panjang dan berkelanjutan. Setiap orang punya strategi dan cara untuk sampai di titik itu. Maka, bagaimana dengan stretegimu?"
Semoga Allah meneguhkan hati kita atas pilihan ini. Semoga Allah ridho. Semoga kita teguh, hingga Ia berkata; Sudah! *azekkkkkk.
Semoga bermanfaat ya ^_^
Lokasi:
Laos
Langganan:
Postingan (Atom)
