Jumat, 27 Februari 2015

Inspirasi: Kain pengiring Manusia

Pada suatu pulang yang berulang, aku pernah bertanya tentang kain Jarik (baca: kain gendong) kepada mami lantaran seringnya ku dapati mami mempunyai kain Jarik baru, meskipun tidak selalu.

“Mi, kenapa sih kok suka kali punya kain Jarik gini? Ini masih baru kan?” tanyaku sambil mencium Jarik beraroma khas pakaian jawa itu.

“Kata orang, kain ini nggak pernah bisa lepas dari kita. Karena, sejak lahir sampai kita nggak ada, kain ini akan selalu mendampingi kita.”
Itu adalah jawaban yang kurang memuaskan akal sebenarnya, tapi cukup mengkayakan jiwa. Aku tersentuh mendengarnya dan tidak ingin bertanya apa-apa lagi lebih jauh.

Sebuah Tempat Bernama BNI

"Dek, urus ajalah cepat ke BNI!" desak kak Dila.
AKu berfikir sejenak dan segera bergegas untuk segera tiba di BNI, bersama kak Dila tentunya. Sekitar jam 09.00wib sekarang. Setelah memarkirkan motor, aku bergegas membuka pintu masuk. Dingin seketika memelukku. Aku memandangi satpam yang sedang berdiri di dekat meja pencabutan nomor antrian itu dan tersneyum kepadanya.
"Ada keperluan apa ya Bu?"
"Saya mau ngurus ATM saya."
"ATMnya memangnya kenapa Bu?" ah, ini satpam atau polisi sih? Apa urusannya dengan dia? Aku mulai merasa nggak nyaman dan terpaksa harus jujur.
"Saya sebenarnya nasabah BRI, Pak. Saya ke sini mau mengajukan permohonan penge-checkan sisi tivi karena sebulan yang lalu uang saja tertelan di ATM BNI, jadi pihak BRI meminta saya ke sini."
Si satpam mempersilahkanku untuk ke luar dengan isyarat tubuhnya.
"Uang itu kalau udah ke luar ya ke luar aja Bu. Nggak mungkin masuk lagi ke dalam mesin!" jelasnya dengan keyakinan 100%.
"Loh? Nggak mungkin bagaimana? Saya yang mengalaminya langsung, Pak," Kak Dila melihat ke arahku yang aku yakin dia tahu bahwa aku mulai marah.

Cerpen: SWASDEE

*Cerpen ini diikutsertakan dalam event bertema "TULUS" oleh penerbit Rasselea. Doakan ya semoga menang (atau minimal masuk 30 besar).


Aku ingin–sekali lagi–menjalin persaudaraan lintas aneka
Agar pandai ku menghargai segala beda di antara

Aku melangkah menuruni maskapai ini dengan bibir terkembang. Alam Indonesia telah beralih rupa menjadi Siam. Sebuah negeri yang belum sempat ku bayangkan untuk disambangi. Tapi nyatanya apa? Inilah. Pemandangan di atas sana jadi ajangku merapal syukur dalam deret bunyi huruf hijaiyah yang terkalimatkan. Sungguh! Ini bukan mimpi. Aku telah menginjakkan kaki di tanah tak terprediksi; tanah Siam.