Aku bergeser sedikit ke sisi kanan tempat tidur, supaya Rini bisa sholat
menghadap ke kiblat, bukan menghadap kepadaku. Hehe. Setelah itu, perlahan aku
tertidur lagi. Sayup-sayup ku dengar suara Rini mulai mengaji.
Eh, ini kucing mana? Kok lembut kali bulunya? Gumamku.
Ku sipitkan mata dan melirik kepada kucing yang baru saja
berlabuh ketiakku. Hissss,,, emang harum y anis ketiak ekee? Ternyata kucing
laki-laki yang warnanya hitam-putih. Ku biarkan saja dia tidur dan aku pun ikut
tertidur.
“Rin, ini kucing kok jadi manja gini ya sama aku? Bukannya
dia biasanya preman dan galak ya? Ini kok sok sweet gini tidur di deket aku?”
tanyaku yang baru saja terjaga. Si kucing udah pindah ke dekat pinggangku.
“Ntah tuh. Tumben mau deket-deket dia sama kita.”
“Wahhhh! Jangan-jangan dia mau POSESIF-in aku ya Rin? Atau
jangan-jangan dia mau minta izin buat ngelamar aku? Waduuuhh Nissss…aku belum
mau nikah lohh!”
“Udah gilak nyaa?”
Setelah cuci muka, aku langsung menekuni lagi PROPOSALku
yang harus ku bawa ke hadapan pak Danur dan pak Suarman. Tangan kananku
mengendalikan keyboard sambil terus meneliti tulisan-tulisanku, sementara
tangan kiriku sibuk mengelus-elus leher si ganteng. Tapi, tiba-tiba di lari
ketika kucing abu-abu nongol dari balik tempat tidurku. Oh, ternyata sejak tadi
dia sedang nungguin pujaan hatinya toh!
“Tadinya aku fikir dia tulus sama aku Rin! Tapi ternyata aku
hanya pelarian belaka!”
“Heemmmm…” jawab Rini, datar.
Ku relakan kucing itu pergi dan memilih yang lain.
PROPOSALku jauh lebih penting daripada si ganteng.