Selasa, 18 Agustus 2015

Menolong Diri untuk Menolong Orang Lain


Aku bergeser sedikit ke sisi kanan tempat tidur, supaya Rini bisa sholat menghadap ke kiblat, bukan menghadap kepadaku. Hehe. Setelah itu, perlahan aku tertidur lagi. Sayup-sayup ku dengar suara Rini mulai mengaji.
Eh, ini kucing mana? Kok lembut kali bulunya? Gumamku.
Ku sipitkan mata dan melirik kepada kucing yang baru saja berlabuh ketiakku. Hissss,,, emang harum y anis ketiak ekee? Ternyata kucing laki-laki yang warnanya hitam-putih. Ku biarkan saja dia tidur dan aku pun ikut tertidur.
“Rin, ini kucing kok jadi manja gini ya sama aku? Bukannya dia biasanya preman dan galak ya? Ini kok sok sweet gini tidur di deket aku?” tanyaku yang baru saja terjaga. Si kucing udah pindah ke dekat pinggangku.
“Ntah tuh. Tumben mau deket-deket dia sama kita.”
“Wahhhh! Jangan-jangan dia mau POSESIF-in aku ya Rin? Atau jangan-jangan dia mau minta izin buat ngelamar aku? Waduuuhh Nissss…aku belum mau nikah lohh!”
“Udah gilak nyaa?”
Setelah cuci muka, aku langsung menekuni lagi PROPOSALku yang harus ku bawa ke hadapan pak Danur dan pak Suarman. Tangan kananku mengendalikan keyboard sambil terus meneliti tulisan-tulisanku, sementara tangan kiriku sibuk mengelus-elus leher si ganteng. Tapi, tiba-tiba di lari ketika kucing abu-abu nongol dari balik tempat tidurku. Oh, ternyata sejak tadi dia sedang nungguin pujaan hatinya toh!
“Tadinya aku fikir dia tulus sama aku Rin! Tapi ternyata aku hanya pelarian belaka!”
“Heemmmm…” jawab Rini, datar.
Ku relakan kucing itu pergi dan memilih yang lain. PROPOSALku jauh lebih penting daripada si ganteng.
***
Sebelum melaju ke Gobah, akan lebih baik kalau aku memastikan keberadaan pak Danur terlebih dahulu.
“Assalamualaikum Bang Joni?”
“Iya Bukk.”
Waduh, aku dipanggil Ibuk. “Bang, pak Danurnya kira-kira ada nggak ya di Gobah pagi ini?”
“Seharusnya jam segini udah di sini Buk. Soalnya ada ujian hari ini. Ibuk langsung ke sini aja, supaya bisa cepat ketemu sama Bapak waktu Bapak datang nanti.”
“Oh, oke makasih ya Bang.”
Aku bergegas memprint 28 halaman PROPOSALku yang ntah udah matang atau belum ini keadaannya. Eh, jumpat Tika lagi deh. Aku harus banyak-banyak bersyukur setiap kali mendengar rintangan yang dialami Tika dalam proses bimbingannya. Ternyata keadaanku jauuuuuh lebih baik dan bersahabat daripada Tika, ini yang tak boleh lupa ku syukuri.
“Semangat ya Yank!” kata Tika ketika aku aka beranjak.
“Kamu juga Yank!” kataku sambil mengelus punggungnya.
Aku berinisiatif menemui pak Suarman terlebih dahulu supaya hatiku lebih mantap. Eh, tapi kok mobilnya nggak ada ya di parkiran?
“Haloo Pak, Bapak hari ini ke kampus kah?”
“Saya di Jakarta Elysa.”
JAKARTAAAAAA??????????...Oke, coba tenang dulu El, tenaaaang. “Kira-kira kapan Bapak pulang ke Pekanbaru, Pak?”
“Siang ini saya pulang.”
“Oh gituu. Ya deh Pak, hati-hati di jalan. Asalaamualaikum.”
Huaaaaaaaaaaaaahhhhhh.. bagaimana ini pemirsaa? Aku nggak mungkin bisa daftar ujian kalau begini ceritanya. Hiksss. Atau aku minta izin untuk memalsukan tanda tangan pak Suarman aja ya ntar kalau ternyata pak Danur cepat ACCnya? Ahhhh, tapi kalau pak Danur nggak ACC gimana pula?
Sisi gelapku mulai berbicara,
Jangan salahkan keadaan! Salahkan saja dirimu, El! Kamu penyebab semua kesulitanmu ini! KAMU!
Ya, aku memang bersalah. Aku memang selalu zalim terhadap diriku sendiri. Maafkan aku wahai dirikuu...
Aku melaju bersama SUPRA kecintaan. Panam-Gobah serasa bagai pemompa darah; setiap detiknya darahku terasa lebih cepat mengalir karena desir-desir khawatir.

***
“Loh? Kamuu?” sapa bu Mahdalena seolah sedang menebak sesuatu.
“Iyaa Ibuuuk, saya mahasiswa Ibuk. Masih S1 kok Bukk,” aku membuat pengakuan, daripada keduluan ditanya tentang per-SKRISPI-an, hehe.
“Iyaa, saya tapi kok udah jarang sekali lihat kamu ya?”
“Ya kan kalau sedang SKRISPI itu kerjanya di balik layar Buu. Makanya nggak kelihatan.”
“Oh, gitu ya? Di balik layar?” ujar bu Lena sambil masung ke ruang ujian.
Huft! Aku fikir, bakal ada sesuatu yang buruk tadi. Ternyata aku baik-baik aja pemirsaaaa.
Aku gelisah. Bingung. Celingukan nungguin bang Joni nongol dari salah satu ruangan yang tertutup di depanku. Setelah dia ke luar, aku bertanya kepadanya apa yang sebaiknya ku lakukan…
“Loh? Bu Lusi kan? Waaaahhh…jumpa di sini kitaaaa Buuu.”
“Elysa ya?”
Aku langsung menyalami guru SMPku itu. Wah, nggak nyangka sama sekali ketemu bu Lusi  di sini. Beliau sedang nyusun Tesis dan dalam seminggu ini tinggal di Pekanbaru dulu. Sempat ngobrol sebentar sebelum beliau naik ke lantai 2. Tapi, kok aku baru nyadar ya kenapa aku nggak minta nomor HPnya tadi? Hiksss… kangen guru-guruku duluu pemirsaa.
Assalamualaikum Pak… Hari ini jam berapa bapak ke kampus Gobah? Elysa mau bimbingan sama Bapak..
Alaikumsalam. Saya udah di sini sejak jam 8.15 tadi.
Upssss! Malu dah jadinya! *tepok jidat. Kenapa nggak sabaran nunggu bang Joni nongol dan nanya ke dia tentang bapak ya? Gara-gara buru-buru gini, aku jadi malu sendiri. hiksss..
Oh, sudah di kampus ya Pak. Maaf ya Pak.. Kalau gitu, Elysa nunggu bapak aja dulu di koridor..
Tapi, setelah ku fikir-fikir, tidak perlu rasanya aku berkata seperti itu. Karena, terkesan seolah-olah aku meminta bapak untuk cepat-cepat ke luar karena aku sedang menunggu. Duh,
daripada terjadi salah faham berikutnya, mending ku batalkan saja pesanku itu.
“..mau minta tanda tangan aja kan Dek? Ya udah, sini serahin ke Abang, nanti Abang bawa masuk ke dalam.”
Aku semakin ragu, walaupun sedikit lega. “Emmm…kayaknya ada juga yang bakal dikritik Bapak deh Bang. Ntar kalau dititipin ke Abang, kesannya nggak sopan dan saya kayak nggak bisa ngertiin posisi Bapak yang sedang nguji. Gimana menurut Abang?” tanyaku, memelas.
“Iya juga sih. Ya udah, tungguin aja dulu Bapaknya, Dek.”
“Huummm.. sampek jam berapa ya kira-kira Bapaknya, Bang?”
“Kurang tahu juga sih Dek. Nggak pasti nih. Yah, tunggu aja siapa tahu Bapaknya ada ke luar-ke luar sebentar gitu kan.”
Sembari ngisi waktu, aku mendaftar TM dan mencoba mencari tahu informasi dari teman-teman. Pas butuh gini, aku baru nyadar kalau nomor teman-teman Pekon udah banyak yang hilang. Untunglah si Risky punya nomor-nomor mereka yang ku butuhkan. Thanks ya Risky…
“…Jadi, besok belum ada jadwal ujian ya?” tanyaku. Sedikit lega tapi sedikit resah.
“Ya belum lah Lis, yang daftar aja baru 2 orang. Ini kami masih revisi dulu. Kayaknya akhir bulan lah baru ada jadwal ujian…”
Tuh kan Eeellll! Ini bukan lomba KTI yang hari itu selesai, hari itu bisa dikirm langsung ke penyelenggara. Kamu melupakan sesuatu dari prosedur per-SKRIPSI-an; Bahwa kamu nggak akan bisa ujian kalau quota peserta belum mencukupi, bahwa kamu nggak bisa ujian kalau Pembimbing 1 dan 2 belum setuju, bahwa kamu nggak bisa ujian kalau kamu nggak punya uang ratusan ribu untuk daftar. Lupaku ternyata terlalu banyak.
“Kaa, aku mau tanya lagi nih. Emangnya berapa jumlah peserta ujian minimal supaya bisa diadakan ujian?”
“7 orang Lis. Kalau lebih dari 7 barulah dibuka 2 ruang ujian untuk hari itu juga.”
7 ORAAAAAANG ELLLLL! Hayoo, mau cari ke mana 5 orang lagi untuk daftar supaya kamu bisa ujian?! *Think about that, Elll.!
“Gara-gara suka menunda. Gara-gara suka menunda. Gara-gara suka menunda.” Aku mengulang terus kalimat itu dengan suara lirih.
Aku mencoba emnghubungi teman-temanku yang ku fikir mereka sudah siap ujian, supaya segera mendaftar. Tapi, kenyataannya mereka pun sedang revisi-an. Ah, El andai aja kamu udah ujian tanggal 10 kemarin, pasti bakal beda lagi ceritanya! Pliss El, plisss fokus!

***
“Bu, ikan laut bakarnya satu ya. Makan di sini.” Perutku keroncongan karena belum diisi sama sekali sejak tadi pagi. Ini kebiasaanku kalau fikiran sedang kusut; menikmati kesendirian bersama makanan. Hehe.
“…Cek, menurutmu gimana dengan judul Mbak itu?” tanyaku kepada Romi. Alhamdulillah katanya dia sedang nggak sibuk. Biasanya dia selalu punya ide brilliant, makanya aku pengen minta petuahnya.
“Ya sensitive sih menurut Romi Mbak. Soalnya ntar sedikit banyaknya terungkap kan tentang kejelekan KOPMA itu.”
“Oh, nggak Dek. Mbak nggak ngorek-ngorek tentang itu. Mbak cuma pengen tahu gimana persepsi mahasiswa Pekon terhadap KOPMA. Kata Bapak itu tadi, mana mungkin mahasiswa Pekon itu bisa ditanyai gimana persepsinya sementara mereka aja nggak gabung di dalamnya. Tapi kan Dek, kita ini secara otomatis udah jadi anggota umumnya KOPMA karena kita bayar iuran pokok waktu pertama kali masuk kuliah. Terus, kata Bapak itu, KOPMA yang sekarang itu tinggal namanya aja tapi pelayanannya nggak ada. Makanya mahasiswa Pekon nggak mau gabung, karena mereka nggak merasakan pelayanan itu. Terus, dijelaskannya lagi bahwa persepsi adalah penilaian yang timbul karena kita mengenal. Tapi, menurut teori yang Mbak baca, persepsi itu bisa timbul kapan aja. Nggak mesti nunggu kenal, hanya sekedar melihat atau mendengar pun bisa jadi timbul persepsi."
“Terus, apa kata Bapak itu Mbak?”
“Bapak tu malah bilang gini; ‘Kalau kamu ngotot gini kayaknya saya nggak bisa jadi pembimbing kamu’ GLEKK, Mbak udah takut kali loh Dek. Kan kalau ganti pembimbing cari kerjaan baru aja namanya tuh. Tapi, Alhamdulillah Mbak bisa giring obrolan menjadi lebih cair dan akhirnya Bapak tu bilang; ‘Ya udah kalau kamu tetep mempertahankan judul kamu ini, saya tinggal tanda tangan saja sekarang. Tapi saya nggak bisa ngasih komentar, kalau Pak Suarman udah ACC, saya ngikut aja.”
“Baguslah tuh Mbak. Lagian memang pembimbing I itu yang lebih penting Mbak. Pembimbing II itu ibaratnya tinggal menyempurnakan aja.”
“Eh, ntar bantu Mbak ngolah data pake SPSS yaa Cek! Makanya cepetlah pulang KKN tuu. Biar Mbak gretong (baca: Gratis) nggak perlu ke lembaga pengolah data. Hihii.”
“Issss.. dasar. Ada maunya aja!”
“Eh, mu nggak nulari virus rempong kan di sana Cek?”
“Ah, telat Mbak. Mereka udah keracunan semua. Haha. Eh, Mbak mau ke mana lagi dalam waktu dekat ini?”
“Mau ke mana? Ke mana memangnya Dek?”
“Alaaahhh.. yang Mbak lolos lagi barusan loh. Masa nggak ingat?”
Sebenarnya aku tahu sih apa yang Romi maksud, tapi yang aku herankan adalah; Darimana dia dapat gossip itu?
“Bangladesh?”
“Haaa..iya itu. Ya ampuunn, kok keren kali Mbakk.”
“Duh, Mbak nggak mikirin itu sama sekali loh Dek. Masih dipusingkan dengan SKRIPSI ini. Pending dulu mikirin Bangladeshnya. Hiksss. Eh, tunggu dulu, Adek tahu darimana emangnya?”
“Dari Blog Mbak kemarin kalau nggak salah.”
“Ciyeeee…baca-baca ya?”
“Ah, nggak ah, kemarin nggak tahu kok terbaca yang itu.”
“Oh gitu. Ya deh, makasih ya dah mau dengerin cerita Mbak.”
Romi agak gugup jawabnya tadi pemirsaaa, kayaknya dia udah jadi Teguh deh; Jadi pembaca setia blogku. Hihiii. Ah, eke jadi maluuu. *Huweekkk!
Setelah selesai makan, aku nelvon Rini untuk nanya lauk apa yang ingin ku belikan. Dia minta sambal tempe, tapi ternyata nggak ada dan akhirnya tuker sama ayam pop. Yuhuuu…

***
“Ciyeee…yang hari ini bakal SIP-SIPan (baca: S.Ip). cemunguddd!”
Rini sedang membaca-baca SKRIPSInya menjelang ujian nanti. Rok hitam, blazer hitam dan kemeja putih sudah selesai disetrika dan siap dipakai. Aku merebahkan tubuh dengan hati-hati di atas tempat tidur, jangan sampai bajunya berantakan gara-gara akyuu..
“Pembimbing 2-ku nggak setuju dengan judulku,” kataku dengan nada lirih, persis orang yang mau pingsan. “Katanya itu nggak masuk akal..” lanjutku lagi dengan lemah yang lebih parah.
“Kok baru sekarang Bapak itu nggak setujunya?”
“Iyaahhh.. Karena aku baru ketemu bapak tuu,” jelasku dengan suara yang semakin parau.
Sisi gelapku berkata…
Ini kesalahanmu El! Coba kalau kamu mau berusaha lebih giat lagi dan nggak nunda-nunda, pasti kemarin udah bisa ujian proposal dan sekarang sedang menuju ujian hasil. Ah, kau fikir ini lomba KTI El? yang hari itu Deadline dan hari itu juga bisa langsung dikejarrr????? Beda loh El, bedaaaa banget yang ini. GRRRRRR!!!
Tapi, kemudian sisi putihku berkata…
Udahlah El! jangan nyalahin dirimu terus. Allah pasti punya rencana yang lebih indah dibalik semua ini. Asal aku terus berprasangka yang baik-baik. Kasihan dirimu El, jangan disalahkan teruuss..


***
Aku janji ketemuan sama Lia di mushola FISIP sebelum sama-sama masuk ke labor HI; tempat Rini ujian SKRIPSI. Rini dapat giliran ujian jam 3 an tapi sayangnya Lia cuma bisa datang bentar dan ngasih ucapan selamat plus semangat buat Rini kemudian dia pamit tepat ketika Rini mulai presentase. Hikss..
Lia sempat menjelaskan hasil diskusi tentang Workshop Keliling Dunia dengan bang Put dan teman-teman panitia lainnya. Aku diminta merekrut 4 LO; 2 cewek dan 2 cowok yang bisa keep standby ngeshare info tentang workshop itu. Hemm…siapa ya kira-kira? Aku kefikiran dek Teguh, Okta dan Novi. 1 cewek lagi dek Nila rencananya. Tapi belum pasti dia udah ada di sini atau belum.
Hayooooo pemirsaa, udah pada daftar belum nih di acara workshop tersebut? Cuma Rp 100.000 doank dan kalian akan mendapatkan ilmu special yang aku yakin susah ditemukan di tempat lain. Pembicaranya udah level internasional loh. Mereka itu masih muda, nggak jauh beda dengan kita tapi semasa kuliahnya udah melalang buana ke Negara antah brantah sana. Nah, jangan diem aja, segera curi ilmu mereka bagaimana caranya kalian bisa lebih dari mereka? Dengan Rp 100.000 itu kalian udah dapet seminar kit, buku Keliling Dunia Gratis (untuk 100 pendaftar pertama) dan photoboot untuk 200 orang. WOWWW bangetsss deh pokoknya. Cucok buat kamu yang ngakunya masih muda.

*Kalau gue sih udah nggak muda, hikssss..
Oke deh, back to Rini…
Aku duduk tepat di belakang Rini. Rini menghadap ke depan dan para juri itu duduk menghadap ke arah kami dan Rini. Aku merekam beberapa part yang seru dan pastinya berkesan dari ujian ini juga beberapa moment saat Rini presentase. Setelah tanya jawab dan klarifikasi, kami semua diminta ke luar beberapa menit supaya para penguji bisa berdiskusi tentang keputusan hasil ujian.
Ketika kami dipersilakan masuk kembali ke dalam ruangan, aku sudah siap dengan kamera di tangan…
“…Nilai saudara adalah 8,2 dan dinyatakan lulus dengan masa perbaikan tulisan selama 1 bulan.”
Kami semua tepuk tangan mendengar kabar bahagia itu. Rini yang semula menyangka nilanya B ternyata mendapat nila A-, Alhamdulillah.
Congrats for My APPLE, aku mulai mengetikkan status di FB untuk Rini. Tapi, tunggu dulu, masa APPLE sih? Emang Rini suka APPLE?
“Rin, buah kesukaanmu apa?” tanyaku kepada Rini yang sedang diselamati teman-temannya.
“Emmm..apa yaa. Rambutan.”
Aku terkekeh mendengar jawaban polos Rini barusan. Kalau aja dia tahu apa tujuanku menanyakan buah kesukaannya itu, pasti Rini nggak bakal mau jawab Rambutan. Hhehe, dijamin dah! Hhhaa. Tapi, karena aku adalah penulis yang jujur, maka akan ku tuliskan berdasarkan hasil riset barusan. Hihii.


Congrats for My Rambutan; Rini Vidianty yang telah mendapatkan tambahan gelar di ujung namanya; Rini Vidianty S.Ip. Semoga berkah ya, jangan tinggalkan dakuuu.. keep stay here for a moment. ^_^
Setelah Rini, giliran Ika yang ujian. Aku nggak ikutan masuk ke dalam, aku lebih memilih nulis di ruang diskusi aja. Eh, si Andin datang ternyata. Katanya, hari ini dia bisa pulang sore karena dapat sift pagi. Ya udah deh, kami bernarsis riau di depan lab HI sebagai ungkapan syukur untuk semesta.
Ketika Ika ke luar dari dalam ruang ujiannya, ia memeluk Andin histeris karena kelegaannya. Ika juga dapat nilai A- pemirsaaa, ntar aku dapat nilai berapa ya? Mungkinkah A dengan judul yang tadi udah dikritik habis-habisan itu? all iz well.
 “Seneng banget ya emangnya rasanya Ndin?”
“Nggak El. Biasa aja,” jawab Andin setelah berpelukan dengan Ika.
“Emang segitu parah ya senangnya, Ndin?” tanyaku lagi. *pertanyaan macam apa ini? huahhh.
“Nggak kok El, cuma kayak dapat uang lima ribu aja. huh!” jawab Andin, malas.
Sore ini, aku dan Andin ditraktir makan di Ayam Gopek sama Rincuy. Alhamdulillah…
“Ndin, kita dibayarin Rini lohhh..” bisikku kepada Andin. Rini udah duluan ke kasir untuk bayarin.
“Alhamdulillah, kalau gitu sering-sering aja dia ujian ya El. Kalau bisa sehari 5 kali. Hehe.”

Innalillahi wa inna ilaihirojiun.. El, Jefri anak Jhon Jeri tadi kecelakaan sama bapaknya, berdua meninggal dunia.
“Innalillahiii,” gumamku setelah membaca pesan dari mami tersebut.
Mami mengirimkan sms yang sama sampai 4 kali kepadaku. Ini HPku yang macet atau mami memang merasa ingin aku segera membacanya? Langsung saja, aku menelvon mami…
“…El kenal nggak ya Mi dengan Jefri tuu?”
“Kenallah, orang dulu pernah Ummi ajar waktu MDA.” Aku menangkap suara mami yang parau. Seperti flu. Atau mami baru saja menangis karena murid MDAnya dulu meninggal dunia? Atau hanya aku yang salah dengar? Aku berusaha pura-pura nggak tahu aja dan nggak bertanya tentang suara mami tersebut. Takut, malah aku yang jadi nangis di sini.
Aku mencoba mengingat dengan keras kenangan di masa kecilku. Tapi, aku tetap nggak berhasil mendapat gambaran wajah atau kisah tentang Alm. Jefri itu.
“Nggak ingat El, Mii.”
“Padahal dia itu lulus kuliah di Jember loh dan sebentar lagi mau diantarkan sama Bapaknya,” jelas mami. Terdengar mami seperti sedang menarik nafas di sana. Nafas sesak seperti baru menangis. Tapi, benarkah mami baru saja menangis?
“Ohh…berarti Allah nggak bolehin dia kuliah jauh-jauh tuh Mi, makanya dia dipanggil Allah langsung menemui-Nya aja.”
“Iya, nggak boleh tuh.”

“Anak-anak mana Mi?”
“Lagi main di depan.”
“Papi?”
“Tuh, lagi tidur.”
“Mami lagi ngapain?”
“Baru aja pulang dari keluyuran.”
“El ikuttt napaaa..?”
“Orang udah pulang kok baru mau ikut toh?”
Kematian memang peringatan yang paling ampuh untuk setiap  orang. Ia bisa datang kapanpun dan dengan cara apapun. Kemarin, waktu di Gramedia, aku baca buku tentang kematian. Ada 3 cara kematian datang kepada seseorang; Ada yang tiba-tiba, perlahan dan cepat (kalau nggak salah ingat ya). Intinya, nggak semua orang dapat peringatan atau firasat atau tanda-tanda bahwa dirinya akan meninggal. Apalagi kalau cara meninggalnya karena suatu kejadian, misalnya kecelakaan atau kebakaran, biasanya kejadiannya mendadak dan nggak diduga-duga. 

Well, intinya aku mau berdoaa dulu…
Ya Allah, Pemilik kalimat yang sempurna.. jaga keluargaku di sana. Selamatkanlah kami dari segala bentuk kecelakaan dalam pekerjaan dan perjalanan kami. hamba mohon berilah hamba kemudahan dalam menyelesaikan studi ini dengan penuh tenaga dan doa. Setelah ini selesai, tunjukilah hamba kepada kesibukan dan pergaulan yang lebih bermakna. Bantu hamba juga dalam melunasi segala hutang piutang hamba dengan segera supaya kapanpun Engkau menjemputku, aku siap. Aamiin…

Tidak ada komentar: