Aku bergeser sedikit ke sisi kanan tempat tidur, supaya Rini bisa sholat
menghadap ke kiblat, bukan menghadap kepadaku. Hehe. Setelah itu, perlahan aku
tertidur lagi. Sayup-sayup ku dengar suara Rini mulai mengaji.
Eh, ini kucing mana? Kok lembut kali bulunya? Gumamku.
Ku sipitkan mata dan melirik kepada kucing yang baru saja
berlabuh ketiakku. Hissss,,, emang harum y anis ketiak ekee? Ternyata kucing
laki-laki yang warnanya hitam-putih. Ku biarkan saja dia tidur dan aku pun ikut
tertidur.
“Rin, ini kucing kok jadi manja gini ya sama aku? Bukannya
dia biasanya preman dan galak ya? Ini kok sok sweet gini tidur di deket aku?”
tanyaku yang baru saja terjaga. Si kucing udah pindah ke dekat pinggangku.
“Ntah tuh. Tumben mau deket-deket dia sama kita.”
“Wahhhh! Jangan-jangan dia mau POSESIF-in aku ya Rin? Atau
jangan-jangan dia mau minta izin buat ngelamar aku? Waduuuhh Nissss…aku belum
mau nikah lohh!”
“Udah gilak nyaa?”
Setelah cuci muka, aku langsung menekuni lagi PROPOSALku
yang harus ku bawa ke hadapan pak Danur dan pak Suarman. Tangan kananku
mengendalikan keyboard sambil terus meneliti tulisan-tulisanku, sementara
tangan kiriku sibuk mengelus-elus leher si ganteng. Tapi, tiba-tiba di lari
ketika kucing abu-abu nongol dari balik tempat tidurku. Oh, ternyata sejak tadi
dia sedang nungguin pujaan hatinya toh!
“Tadinya aku fikir dia tulus sama aku Rin! Tapi ternyata aku
hanya pelarian belaka!”
“Heemmmm…” jawab Rini, datar.
Ku relakan kucing itu pergi dan memilih yang lain.
PROPOSALku jauh lebih penting daripada si ganteng.
***
Sebelum melaju ke Gobah, akan lebih baik kalau aku
memastikan keberadaan pak Danur terlebih dahulu.
“Assalamualaikum Bang Joni?”
“Iya Bukk.”
Waduh, aku dipanggil Ibuk. “Bang, pak Danurnya kira-kira ada
nggak ya di Gobah pagi ini?”
“Seharusnya jam segini udah di sini Buk. Soalnya ada ujian
hari ini. Ibuk langsung ke sini aja, supaya bisa cepat ketemu sama Bapak waktu
Bapak datang nanti.”
“Oh, oke makasih ya Bang.”
Aku bergegas memprint 28 halaman PROPOSALku yang ntah udah
matang atau belum ini keadaannya. Eh, jumpat Tika lagi deh. Aku harus
banyak-banyak bersyukur setiap kali mendengar rintangan yang dialami Tika dalam
proses bimbingannya. Ternyata keadaanku jauuuuuh lebih baik dan bersahabat
daripada Tika, ini yang tak boleh lupa ku syukuri.
“Semangat ya Yank!” kata Tika ketika aku aka beranjak.
“Kamu juga Yank!” kataku sambil mengelus punggungnya.
Aku berinisiatif menemui pak Suarman terlebih dahulu supaya
hatiku lebih mantap. Eh, tapi kok mobilnya nggak ada ya di parkiran?
“Haloo Pak, Bapak hari ini ke kampus kah?”
“Saya di Jakarta Elysa.”
JAKARTAAAAAA??????????...Oke, coba tenang dulu El,
tenaaaang. “Kira-kira kapan Bapak pulang ke Pekanbaru, Pak?”
“Siang ini saya pulang.”
“Oh gituu. Ya deh Pak, hati-hati di jalan. Asalaamualaikum.”
Huaaaaaaaaaaaaahhhhhh.. bagaimana ini pemirsaa? Aku nggak
mungkin bisa daftar ujian kalau begini ceritanya. Hiksss. Atau aku minta izin
untuk memalsukan tanda tangan pak Suarman aja ya ntar kalau ternyata pak Danur
cepat ACCnya? Ahhhh, tapi kalau pak Danur nggak ACC gimana pula?
Sisi gelapku mulai berbicara,
Jangan salahkan
keadaan! Salahkan saja dirimu, El! Kamu penyebab semua kesulitanmu ini! KAMU!
Ya, aku memang bersalah. Aku memang selalu zalim terhadap
diriku sendiri. Maafkan aku wahai
dirikuu...
Aku melaju bersama SUPRA kecintaan. Panam-Gobah serasa bagai
pemompa darah; setiap detiknya darahku terasa lebih cepat mengalir karena
desir-desir khawatir.
***
“Loh? Kamuu?” sapa bu Mahdalena seolah sedang menebak
sesuatu.
“Iyaa Ibuuuk, saya mahasiswa Ibuk. Masih S1 kok Bukk,” aku
membuat pengakuan, daripada keduluan ditanya tentang per-SKRISPI-an, hehe.
“Iyaa, saya tapi kok udah jarang sekali lihat kamu ya?”
“Ya kan kalau sedang SKRISPI itu kerjanya di balik layar
Buu. Makanya nggak kelihatan.”
“Oh, gitu ya? Di balik layar?” ujar bu Lena sambil masung ke
ruang ujian.
Huft! Aku fikir, bakal ada sesuatu yang buruk tadi. Ternyata
aku baik-baik aja pemirsaaaa.
Aku gelisah. Bingung. Celingukan nungguin bang Joni nongol dari
salah satu ruangan yang tertutup di depanku. Setelah dia ke luar, aku bertanya
kepadanya apa yang sebaiknya ku lakukan…
“Loh? Bu Lusi kan? Waaaahhh…jumpa di sini kitaaaa Buuu.”
“Elysa ya?”
Aku langsung menyalami guru SMPku itu. Wah, nggak nyangka
sama sekali ketemu bu Lusi di sini. Beliau
sedang nyusun Tesis dan dalam seminggu ini tinggal di Pekanbaru dulu. Sempat ngobrol
sebentar sebelum beliau naik ke lantai 2. Tapi, kok aku baru nyadar ya kenapa
aku nggak minta nomor HPnya tadi? Hiksss… kangen guru-guruku duluu pemirsaa.
Assalamualaikum Pak…
Hari ini jam berapa bapak ke kampus Gobah? Elysa mau bimbingan sama Bapak..
Alaikumsalam. Saya udah
di sini sejak jam 8.15 tadi.
Upssss! Malu dah jadinya! *tepok jidat. Kenapa nggak sabaran
nunggu bang Joni nongol dan nanya ke dia tentang bapak ya? Gara-gara buru-buru
gini, aku jadi malu sendiri. hiksss..
Oh, sudah di kampus
ya Pak. Maaf ya Pak.. Kalau gitu, Elysa nunggu bapak aja dulu di koridor..
Tapi, setelah ku fikir-fikir, tidak perlu rasanya aku
berkata seperti itu. Karena, terkesan seolah-olah aku meminta bapak untuk
cepat-cepat ke luar karena aku sedang menunggu. Duh,
“..mau minta tanda tangan aja kan Dek? Ya udah, sini serahin
ke Abang, nanti Abang bawa masuk ke dalam.”
Aku semakin ragu, walaupun sedikit lega. “Emmm…kayaknya ada
juga yang bakal dikritik Bapak deh Bang. Ntar kalau dititipin ke Abang,
kesannya nggak sopan dan saya kayak nggak bisa ngertiin posisi Bapak yang
sedang nguji. Gimana menurut Abang?” tanyaku, memelas.
“Iya juga sih. Ya udah, tungguin aja dulu Bapaknya, Dek.”
“Huummm.. sampek jam berapa ya kira-kira Bapaknya, Bang?”
“Kurang tahu juga sih Dek. Nggak pasti nih. Yah, tunggu aja
siapa tahu Bapaknya ada ke luar-ke luar sebentar gitu kan.”
Sembari ngisi waktu, aku mendaftar TM dan mencoba mencari
tahu informasi dari teman-teman. Pas butuh gini, aku baru nyadar kalau nomor
teman-teman Pekon udah banyak yang hilang. Untunglah si Risky punya nomor-nomor
mereka yang ku butuhkan. Thanks ya Risky…
“…Jadi, besok belum ada jadwal ujian ya?” tanyaku. Sedikit lega
tapi sedikit resah.
“Ya belum lah Lis, yang daftar aja baru 2 orang. Ini kami
masih revisi dulu. Kayaknya akhir bulan lah baru ada jadwal ujian…”
Tuh kan Eeellll! Ini bukan
lomba KTI yang hari itu selesai, hari itu bisa dikirm langsung ke
penyelenggara. Kamu melupakan sesuatu dari prosedur per-SKRIPSI-an; Bahwa kamu
nggak akan bisa ujian kalau quota peserta belum mencukupi, bahwa kamu nggak bisa ujian kalau Pembimbing 1 dan 2 belum setuju, bahwa kamu nggak bisa ujian kalau kamu nggak punya uang ratusan ribu untuk daftar. Lupaku ternyata terlalu banyak.
“Kaa, aku mau tanya lagi nih. Emangnya berapa jumlah peserta
ujian minimal supaya bisa diadakan ujian?”
“7 orang Lis. Kalau lebih dari 7 barulah dibuka 2 ruang
ujian untuk hari itu juga.”
7 ORAAAAAANG ELLLLL! Hayoo,
mau cari ke mana 5 orang lagi untuk daftar supaya kamu bisa ujian?! *Think about
that, Elll.!
“Gara-gara suka menunda. Gara-gara suka menunda. Gara-gara
suka menunda.” Aku mengulang terus kalimat itu dengan suara lirih.
Aku mencoba emnghubungi teman-temanku yang ku fikir mereka
sudah siap ujian, supaya segera mendaftar. Tapi, kenyataannya mereka pun sedang
revisi-an. Ah, El andai aja kamu udah
ujian tanggal 10 kemarin, pasti bakal beda lagi ceritanya! Pliss El, plisss
fokus!
***
“Bu, ikan laut bakarnya satu ya. Makan di sini.” Perutku keroncongan
karena belum diisi sama sekali sejak tadi pagi. Ini kebiasaanku kalau fikiran
sedang kusut; menikmati kesendirian bersama makanan. Hehe.
“…Cek, menurutmu gimana dengan judul Mbak itu?” tanyaku
kepada Romi. Alhamdulillah katanya dia sedang nggak sibuk. Biasanya dia selalu
punya ide brilliant, makanya aku pengen minta petuahnya.
“Ya sensitive sih menurut Romi Mbak. Soalnya ntar sedikit
banyaknya terungkap kan tentang kejelekan KOPMA itu.”
“Oh, nggak Dek. Mbak nggak ngorek-ngorek tentang itu. Mbak
cuma pengen tahu gimana persepsi mahasiswa Pekon terhadap KOPMA. Kata Bapak itu
tadi, mana mungkin mahasiswa Pekon itu bisa ditanyai gimana persepsinya
sementara mereka aja nggak gabung di dalamnya. Tapi kan Dek, kita ini secara
otomatis udah jadi anggota umumnya KOPMA karena kita bayar iuran pokok waktu
pertama kali masuk kuliah. Terus, kata Bapak itu, KOPMA yang sekarang itu
tinggal namanya aja tapi pelayanannya nggak ada. Makanya mahasiswa Pekon nggak
mau gabung, karena mereka nggak merasakan pelayanan itu. Terus, dijelaskannya
lagi bahwa persepsi adalah penilaian yang timbul karena kita mengenal. Tapi,
menurut teori yang Mbak baca, persepsi itu bisa timbul kapan aja. Nggak mesti
nunggu kenal, hanya sekedar melihat atau mendengar pun bisa jadi timbul
persepsi."
“Terus, apa kata Bapak itu Mbak?”
“Bapak tu malah bilang gini; ‘Kalau kamu ngotot gini
kayaknya saya nggak bisa jadi pembimbing kamu’ GLEKK, Mbak udah takut kali loh
Dek. Kan kalau ganti pembimbing cari kerjaan baru aja namanya tuh. Tapi, Alhamdulillah
Mbak bisa giring obrolan menjadi lebih cair dan akhirnya Bapak tu bilang; ‘Ya
udah kalau kamu tetep mempertahankan judul kamu ini, saya tinggal tanda tangan
saja sekarang. Tapi saya nggak bisa ngasih komentar, kalau Pak Suarman udah
ACC, saya ngikut aja.”
“Baguslah tuh Mbak. Lagian memang pembimbing I itu yang
lebih penting Mbak. Pembimbing II itu ibaratnya tinggal menyempurnakan aja.”
“Eh, ntar bantu Mbak ngolah data pake SPSS yaa Cek! Makanya cepetlah
pulang KKN tuu. Biar Mbak gretong (baca: Gratis) nggak perlu ke lembaga
pengolah data. Hihii.”
“Issss.. dasar. Ada maunya aja!”
“Eh, mu nggak nulari virus rempong kan di sana Cek?”
“Ah, telat Mbak. Mereka udah keracunan semua. Haha. Eh, Mbak
mau ke mana lagi dalam waktu dekat ini?”
“Mau ke mana? Ke mana memangnya Dek?”
“Alaaahhh.. yang Mbak lolos lagi barusan loh. Masa nggak
ingat?”
Sebenarnya aku tahu sih apa yang Romi maksud, tapi yang aku
herankan adalah; Darimana dia dapat gossip itu?
“Bangladesh?”
“Haaa..iya itu. Ya ampuunn, kok keren kali Mbakk.”
“Duh, Mbak nggak mikirin itu sama sekali loh Dek. Masih dipusingkan
dengan SKRIPSI ini. Pending dulu mikirin Bangladeshnya. Hiksss. Eh, tunggu
dulu, Adek tahu darimana emangnya?”
“Dari Blog Mbak kemarin kalau nggak salah.”
“Ciyeeee…baca-baca ya?”
“Ah, nggak ah, kemarin nggak tahu kok terbaca yang itu.”
“Oh gitu. Ya deh, makasih ya dah mau dengerin cerita Mbak.”
Romi agak gugup jawabnya tadi pemirsaaa, kayaknya dia udah
jadi Teguh deh; Jadi pembaca setia blogku. Hihiii. Ah, eke jadi maluuu.
*Huweekkk!
Setelah selesai makan, aku nelvon Rini untuk nanya lauk apa
yang ingin ku belikan. Dia minta sambal tempe, tapi ternyata nggak ada dan
akhirnya tuker sama ayam pop. Yuhuuu…
***
“Ciyeee…yang hari ini bakal SIP-SIPan (baca: S.Ip).
cemunguddd!”
Rini sedang membaca-baca SKRIPSInya menjelang ujian nanti.
Rok hitam, blazer hitam dan kemeja putih sudah selesai disetrika dan siap
dipakai. Aku merebahkan tubuh dengan hati-hati di atas tempat tidur, jangan
sampai bajunya berantakan gara-gara akyuu..
“Pembimbing 2-ku nggak setuju dengan judulku,” kataku dengan
nada lirih, persis orang yang mau pingsan. “Katanya itu nggak masuk akal..”
lanjutku lagi dengan lemah yang lebih parah.
“Kok baru sekarang Bapak itu nggak setujunya?”
“Iyaahhh.. Karena aku baru ketemu bapak tuu,” jelasku dengan
suara yang semakin parau.
Sisi gelapku berkata…
Ini kesalahanmu El!
Coba kalau kamu mau berusaha lebih giat lagi dan nggak nunda-nunda, pasti
kemarin udah bisa ujian proposal dan sekarang sedang menuju ujian hasil. Ah,
kau fikir ini lomba KTI El? yang hari itu Deadline dan hari itu juga bisa
langsung dikejarrr????? Beda loh El, bedaaaa banget yang ini. GRRRRRR!!!
Tapi, kemudian sisi putihku berkata…
Udahlah El! jangan
nyalahin dirimu terus. Allah pasti punya rencana yang lebih indah dibalik semua
ini. Asal aku terus berprasangka yang baik-baik. Kasihan dirimu El, jangan
disalahkan teruuss..
***
Aku janji ketemuan sama Lia di mushola FISIP sebelum
sama-sama masuk ke labor HI; tempat Rini ujian SKRIPSI. Rini dapat giliran
ujian jam 3 an tapi sayangnya Lia cuma bisa datang bentar dan ngasih ucapan
selamat plus semangat buat Rini kemudian dia pamit tepat ketika Rini mulai
presentase. Hikss..
Lia sempat menjelaskan hasil diskusi tentang Workshop
Keliling Dunia dengan bang Put dan teman-teman panitia lainnya. Aku diminta
merekrut 4 LO; 2 cewek dan 2 cowok yang bisa keep standby ngeshare info tentang
workshop itu. Hemm…siapa ya kira-kira? Aku kefikiran dek Teguh, Okta dan Novi.
1 cewek lagi dek Nila rencananya. Tapi belum pasti dia udah ada di sini atau
belum.
Hayooooo pemirsaa, udah pada daftar belum nih di acara
workshop tersebut? Cuma Rp 100.000 doank dan kalian akan mendapatkan ilmu special
yang aku yakin susah ditemukan di tempat lain. Pembicaranya udah level
internasional loh. Mereka itu masih muda, nggak jauh beda dengan kita tapi
semasa kuliahnya udah melalang buana ke Negara antah brantah sana. Nah, jangan
diem aja, segera curi ilmu mereka bagaimana caranya kalian bisa lebih dari
mereka? Dengan Rp 100.000 itu kalian udah dapet seminar kit, buku Keliling
Dunia Gratis (untuk 100 pendaftar pertama) dan photoboot untuk 200 orang. WOWWW
bangetsss deh pokoknya. Cucok buat kamu yang ngakunya masih muda.
*Kalau gue
sih udah nggak muda, hikssss..
Oke deh, back to Rini…
Aku duduk tepat di belakang Rini. Rini menghadap ke depan
dan para juri itu duduk menghadap ke arah kami dan Rini. Aku merekam beberapa
part yang seru dan pastinya berkesan dari ujian ini juga beberapa moment saat
Rini presentase. Setelah tanya jawab dan klarifikasi, kami semua diminta ke
luar beberapa menit supaya para penguji bisa berdiskusi tentang keputusan hasil
ujian.
Ketika kami dipersilakan masuk kembali ke dalam ruangan, aku
sudah siap dengan kamera di tangan…
“…Nilai saudara adalah 8,2 dan dinyatakan lulus dengan masa
perbaikan tulisan selama 1 bulan.”
Kami semua tepuk tangan mendengar kabar bahagia itu. Rini
yang semula menyangka nilanya B ternyata mendapat nila A-, Alhamdulillah.
Congrats for My
APPLE, aku mulai mengetikkan status di FB untuk Rini. Tapi, tunggu dulu,
masa APPLE sih? Emang Rini suka APPLE?
“Rin, buah kesukaanmu apa?” tanyaku kepada Rini yang sedang
diselamati teman-temannya.
“Emmm..apa yaa. Rambutan.”
Aku terkekeh mendengar jawaban polos Rini barusan. Kalau aja
dia tahu apa tujuanku menanyakan buah kesukaannya itu, pasti Rini nggak bakal
mau jawab Rambutan. Hhehe, dijamin dah! Hhhaa. Tapi, karena aku adalah penulis
yang jujur, maka akan ku tuliskan berdasarkan hasil riset barusan. Hihii.
Congrats for My
Rambutan; Rini Vidianty yang telah mendapatkan tambahan gelar di ujung namanya;
Rini Vidianty S.Ip. Semoga berkah ya, jangan tinggalkan dakuuu.. keep stay here
for a moment. ^_^
Setelah Rini, giliran Ika yang ujian. Aku nggak ikutan masuk
ke dalam, aku lebih memilih nulis di ruang diskusi aja. Eh, si Andin datang
ternyata. Katanya, hari ini dia bisa pulang sore karena dapat sift pagi. Ya udah
deh, kami bernarsis riau di depan lab HI sebagai ungkapan syukur untuk semesta.
Ketika Ika ke luar dari dalam ruang ujiannya, ia memeluk
Andin histeris karena kelegaannya. Ika juga dapat nilai A- pemirsaaa, ntar aku
dapat nilai berapa ya? Mungkinkah A dengan judul yang tadi udah dikritik
habis-habisan itu? all iz well.
“Seneng banget ya
emangnya rasanya Ndin?”
“Nggak El. Biasa aja,” jawab Andin setelah berpelukan dengan
Ika.
“Emang segitu parah ya senangnya, Ndin?” tanyaku lagi.
*pertanyaan macam apa ini? huahhh.
“Nggak kok El, cuma kayak dapat uang lima ribu aja. huh!”
jawab Andin, malas.
Sore ini, aku dan Andin ditraktir makan di Ayam Gopek sama
Rincuy. Alhamdulillah…
“Ndin, kita dibayarin Rini lohhh..” bisikku kepada Andin.
Rini udah duluan ke kasir untuk bayarin.
“Alhamdulillah, kalau gitu sering-sering aja dia ujian ya
El. Kalau bisa sehari 5 kali. Hehe.”
Innalillahi wa inna
ilaihirojiun.. El, Jefri anak Jhon Jeri tadi kecelakaan sama bapaknya, berdua
meninggal dunia.
“Innalillahiii,” gumamku setelah membaca pesan dari mami
tersebut.
Mami mengirimkan sms yang sama sampai 4 kali kepadaku. Ini
HPku yang macet atau mami memang merasa ingin aku segera membacanya? Langsung saja,
aku menelvon mami…
“…El kenal nggak ya Mi dengan Jefri tuu?”
“Kenallah, orang dulu pernah Ummi ajar waktu MDA.” Aku menangkap
suara mami yang parau. Seperti flu. Atau mami baru saja menangis karena murid
MDAnya dulu meninggal dunia? Atau hanya aku yang salah dengar? Aku berusaha
pura-pura nggak tahu aja dan nggak bertanya tentang suara mami tersebut. Takut,
malah aku yang jadi nangis di sini.
Aku mencoba mengingat dengan keras kenangan di masa kecilku.
Tapi, aku tetap nggak berhasil mendapat gambaran wajah atau kisah tentang Alm.
Jefri itu.
“Nggak ingat El, Mii.”
“Padahal dia itu lulus kuliah di Jember loh dan sebentar lagi
mau diantarkan sama Bapaknya,” jelas mami. Terdengar mami seperti sedang
menarik nafas di sana. Nafas sesak seperti baru menangis. Tapi, benarkah mami
baru saja menangis?
“Ohh…berarti Allah nggak bolehin dia kuliah jauh-jauh tuh
Mi, makanya dia dipanggil Allah langsung menemui-Nya aja.”
“Iya, nggak boleh tuh.”
“Anak-anak mana Mi?”
“Lagi main di depan.”
“Papi?”
“Tuh, lagi tidur.”
“Mami lagi ngapain?”
“Baru aja pulang dari keluyuran.”
“El ikuttt napaaa..?”
“Orang udah pulang kok baru mau ikut toh?”
Kematian memang peringatan yang paling ampuh untuk setiap orang. Ia bisa datang kapanpun dan dengan
cara apapun. Kemarin, waktu di Gramedia, aku baca buku tentang kematian. Ada 3
cara kematian datang kepada seseorang; Ada yang tiba-tiba, perlahan dan cepat
(kalau nggak salah ingat ya). Intinya, nggak semua orang dapat peringatan atau
firasat atau tanda-tanda bahwa dirinya akan meninggal. Apalagi kalau cara
meninggalnya karena suatu kejadian, misalnya kecelakaan atau kebakaran,
biasanya kejadiannya mendadak dan nggak diduga-duga.
Well, intinya aku mau berdoaa dulu…
Ya Allah, Pemilik kalimat
yang sempurna.. jaga keluargaku di sana. Selamatkanlah kami dari segala bentuk
kecelakaan dalam pekerjaan dan perjalanan kami. hamba mohon berilah hamba
kemudahan dalam menyelesaikan studi ini dengan penuh tenaga dan doa. Setelah ini
selesai, tunjukilah hamba kepada kesibukan dan pergaulan yang lebih bermakna. Bantu
hamba juga dalam melunasi segala hutang piutang hamba dengan segera supaya
kapanpun Engkau menjemputku, aku siap. Aamiin…


Tidak ada komentar:
Posting Komentar