Sabtu, 13 Juni 2015

Yudi Muchtar (Alumni FIM 17)


Aku mengenalnya bukan seperti puisi yang tersusun dari rintik hujan, bukan jua dari petikan dawai yang menciptakan musik. Atau dari sajak melarik indah dalam lafaz pujangga. Tapi aku mengenalnya seperti kertas yang membutuhkan tinta. Untuk menuliskan apa arti dari menulis. #pejuangpena.

Sambutanku : 
Aku mengenal Yudi sejak 2 tahun silam. Ketika itu, ia dan sahabatnya sedang membacakan puisi dalam penutupan MTQM Universitas Riau. Lalu, kami benar-benar menjadi sahabat dan keluarga di dalam buku Tentang Januari. Kami telah saling berjanji untuk kembali ke sini kemana pun raga nanti pergi. Sebab Januari bukan sekedar pembaru mimpi, tapi juga penyatu hati. Aku menjuluki Yudi sebagai sahabat tanpa Dendam. Sebab, semarah/menyebalkannya aku, ia tetap membalasnya dengan senyum tentram. Semoga yang baik akan selalu diingat dan yang buruk selalu dimaaf. Silahkan berteman dengan Yudi di FB: https://www.facebook.com/yudi.muchtar.1

Gila Gula Gala


Aku sudah sampai di jalan Riau. Ku parkirkan motorku di halaman Auto Mobil yang tutup rukonya. Tidak jauh setelah Mall Ciputra Seraya, supaya Jimmy mudah menemukanku di sini. Aku sudah mengabarinya posisiku.
Sambil menunggu, aku membaca buku di pot bunga permanen berbentuk persegi  di pinggir jalan. If you wanna see the change, you have to be a part of the change. Aku akan takjub jika melihat anak muda yang khusuk menekuni bukunya di pinggir jalan, maka aku harus menjadi bagian dari ketakjuban yang ku impikan tersebut.
Sekitar 3 menit di dudukku ini, mulai ku cium aroma tak sedap yang ku duga berasal dari genangan air di depanku. Aku segera berpindah dan menjauh dari genangan air tersebut ke pot bunga selanjutnya. Bukan hanya aromanya yang busuk, tapi aku pun khawatir akan terciprat air kotor nan legam itu. Maklumlah, ini jalan raya, orang-orang penuh gesa dengan tujuannya masing-masing.
“Heyyy?” sapa seorang laki-laki berwajah nyaris secantik wanita. Dia Jimmy. “Coba dilihat dulu. Siapa tahu ada lecetnya..”
Aku mengeluarkan kameraku dari dalam dompet merahnya. Dan, Alhamdulillah aku tidak menemukan tanda-tanda buruk darinya. Hehe.
“Nggak ada aku keluarin pun dari lemari. Ehhe,” jelasnya. Ia langsung berpamitan tanpa berusaha menyalamiku seperti kemarin.
“Senang bertransaksi dengan andaaa,” kataku dengan penuh senyum sebelum ia melaju.
Akhirnya, kamu kembali kepadaku juga, Meraaahh. Sini-sini kita foto-foto yaaa. Aku mengambil beberapa moment sebelum berbalik arah, menuju pulang. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya malam ini dan besok aku sudah dibersamai dan dilengkapi oleh kamera kesayanganku ini. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.

Inspirasi: Bila engkau Ingin Berdoa

"Bila engkau ingin berdo'a, sementara waktu begitu sempit, padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka jadikan seluruh isi do'amu berupa permohonan maaf kepada Allah. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya." - Ibnul Qayyim

#dari FB bro Yunus

Kita tidak mampu Adil

Sampai bila pun
Kita tidak akan mampu adil
Terutama pilihan lebih dari satu
Kini, kita bisa berkata 'aku mampu adil'
Adalah karena yang ada hanya satu
Satu jutu, satu-satu

Juniku Juni 2015