Aku sudah sampai di jalan Riau. Ku parkirkan motorku di
halaman Auto Mobil yang tutup rukonya. Tidak jauh setelah Mall Ciputra Seraya,
supaya Jimmy mudah menemukanku di sini. Aku sudah mengabarinya posisiku.
Sambil menunggu, aku membaca buku di pot bunga permanen berbentuk
persegi di pinggir jalan. If you wanna see the change, you have to be
a part of the change. Aku akan takjub jika melihat anak muda yang khusuk
menekuni bukunya di pinggir jalan, maka aku harus menjadi bagian dari
ketakjuban yang ku impikan tersebut.
Sekitar 3 menit di dudukku ini, mulai ku cium aroma tak
sedap yang ku duga berasal dari genangan air di depanku. Aku segera berpindah
dan menjauh dari genangan air tersebut ke pot bunga selanjutnya. Bukan hanya aromanya
yang busuk, tapi aku pun khawatir akan terciprat air kotor nan legam itu.
Maklumlah, ini jalan raya, orang-orang penuh gesa dengan tujuannya masing-masing.
“Heyyy?” sapa seorang laki-laki berwajah nyaris secantik
wanita. Dia Jimmy. “Coba dilihat dulu. Siapa tahu ada lecetnya..”
Aku mengeluarkan kameraku dari dalam dompet merahnya. Dan, Alhamdulillah
aku tidak menemukan tanda-tanda buruk darinya. Hehe.
“Nggak ada aku keluarin pun dari lemari. Ehhe,” jelasnya. Ia
langsung berpamitan tanpa berusaha menyalamiku seperti kemarin.
“Senang bertransaksi dengan andaaa,” kataku dengan penuh
senyum sebelum ia melaju.
Akhirnya, kamu kembali
kepadaku juga, Meraaahh. Sini-sini kita
foto-foto yaaa. Aku mengambil beberapa moment sebelum berbalik arah, menuju
pulang. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya malam
ini dan besok aku sudah dibersamai dan dilengkapi oleh kamera kesayanganku ini.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.
***
Dek, jemput Kakak
ya. Kak Rini nggak bisa ikutan nonton ternyata.
Dalam
hitungan menit saja, Yana udah sampai di depan kosan. Rini yang sedang menunggu
temannya di teras pasti mengatakan kepada Yana, aku sedang siap-siap. Yana masuk
ke kamarku dan kami ke luar bersama.
“Cinnn..kamu
di mana?” tanya Andin dari seberang telvon.
“Aku di BEM
FKIP. Ke sini aja langsung Cin. Ada Romi juga nih di sini.”
Tak lama,
Andin pun jadi ikutan bercuap-cuap konyol bersama kami. Romi sedang nungguin
helmnya yang dipinjam Novi katanya. Hemmm..kaciaaan…
“Eh,
perjalanan ke Aek Matuo itu gimana sih, Dek?” Tanyaku kepada Romi.
“Jauh Mbak.
Nanti turunnya ke air terjun itu harus hati-hati karena curam banget medannya.
Dan waktu pulang harus merayap dan pegangan di akar-akar pohonnya. Biasanya
orang ke sana itu naik motor Mbak. Soalnya nanti kita harus melewati jembatan
gantung dulu dan itu mobil nggak bisa masuk. Berarti kalian harus jalan lagi
tuh besok, ngelewati kebun-kebun. Tapi tenang aja kok, jalannya semen. Kalau
naik motor bisa cepet sampek ke dekat hutannya barulah jalan kaki masuk ke
dalamnya.”
“Wah,
berarti nggak bisa pake high hills donk ya?” tanyaku centil
“Mampuslah
kalau pake high hill Mbak. Ya ampuun, kok mentel kali sih?” kata Romi.
“Ini belum
seberapa dengan kelakuannya di kamar Dek. Ketika yang ada hanya Kakak dan Rini
aja. hemm…lebih ngeri lagi dari yang kalian kira ini Dek,” tambah Andin.
“Tapi,
semua kelelahan itu pasti akan terbayar kalau udah ngelihat air terjunnya Mbak.
Airnya dingiiin banget dan sangat bersihhh. Rasanya pasti nggak pengen pulang.”
***
Dari
mushola Araffah, kami bertolak langsung ke Batra untuk menyaksikan Teater Gila Gula Gala. Baru saja kami sampai
di parkiran motor, di halaman Pendidikan Bahasa Indonesia, suara Okta dan Vera
yang langsung terdengar oleh kami. Mereka ngeMC malam ini.
Setelah
mengisi buku tamu dan mengambil kolah plus air mineral, kami menemukan celah
untuk duduk di sebelah kanan ruangan ini. Sebenarnya lebih asyik duduk di
bagian tengah, tapi apa hendak di kata karena yang di tengah udah penuh muatan.
Yang penting, kami bisa menyaksikan dengan jelas sekalipun hanya dari sayap
kanan.
“Mari kita
persembahkan Alfatihah untuknya…”
Baru saja
terduduk, kami langsung mendengar berita duka dari seorang sesepuh BATRA.
Meskipun kami nggak kenal siapa beliau, tapi Alfatihah ini adalah wujud doa
sebagai sesama muslim. Ya Allah, ampuni
segala dosanya dan terimalah segala amal baiknya.
Karena ini
adalah malam perayaan ulang tahun BATRA yang ke 29, maka acara didahului oleh peniupan
lilin dan pemotongan kue oleh pak Iyal sebagai Pembina UKM BATRA dan seluruh
pengurusnya. Ini nih yang selalu jadi pertanyaan, kalau kita ngucapin selamat
ultah ke seseorang, ada yang bilang ‘Orang yang umur dan jatah hidupnya
berkurang kok diselamatin sih?’ Nah, bagaimana halnya kalau yang berulang tahun
itu adalah organisasi atau kota atau negara? Itu semua kan benda mati dan nggak
akan mungkin dianalogikan seperti batas hidupnya manusia, kan?
“Si Okta
itu ganteng banget malam ini,” kata Andin.
“Iya,
mungkin karena dia pakai baju merah, ndak?”
Kemarin
Andin yang disebut Okta sebagai Bidadari bersayap Biru. Berarti malam ini Okta
adalah Bidadara Bersaya Merah donk. Hahaha. *huh, nggak lucu tauk! Hiksss.
Setelah
acara tiup lilin dan potong kue, dilanjutkan dengan penampilan Tari Zapin
Kreasi.
“Kok nggak
pakai jilbab ya? Sayang kali,” kata Andin.
Aku
mengiyakan. Lagian menurutku, pakai jilbab sekalipun menari tetap saja nggak
pantas dilakukan. Kadang, aku juga bertanya,
seberapa pentingkah budaya dalam pandangan islam? Kalau itu menyangkut
tentang kesastraan dan bangunan, aku sih no problem. Tapi kalau menyangkut
tentang tari-tarian ini loh yang agak gimanaaa gicuuu.
“…hadirin
sekalian, selamat menyaksikan persembahan teater Gila Gula Galaaa..”
Aku tahu
siapa pembaca prolog itu. Menyaksikannya tampil dalam 1x pementasan saja sudah
membuatku hafal dengan karakter suaranya. Mungkin itu yang disebut orang Impression ya…
“El, aku
mau lihat seberapa keren teman-temanku dulu yang nampilin teater Gila Gula Gala
ini waktu ngambil nilai Stumel.”
“Ya tentu
jauhlah Ciin. Temanmu itu bukan orang sanggar. Sedangkan orang ini, memang
inilah kerjaannya.”
“Itulah aku
mau lihat gimana versi kerennya dari mereka ini, Ciin.”
Kami
sama-sama terpaku, menyimak dengan takzim setiap scan pelakonan di panggung itu.
Cahaya lampu silih berganti bertukar warna, sesuai suasana dan kontes
pertunjukan. Benarlah kiranya bahwa panggung itu adalah tempat penuh sandiwara.
Setiap mata bisa disihir dan dibaut terpana. Meskipun nyatanya apa yang dilihat
dari para pelakon di panggung itu tak sama dengan apa yang terlihat di waktu
biasa.
“Kak, dunia
tater itu sebenarnya abu-abu. Orang-orangnya kalau kita perlakukan baik, maka
akan baiklah dia. Tapi, kalau kita jahatin, akan jahatlah mereka. Di dalam
teater juga, kita susah banget untuk tetap idealis. Kalau perannya sebagai
pelacur, ya melacurlah dia. Nggak bisa kita pilih-pilih.”
Penjelasan
yang pernah disampaikan Okta itu terngiang olehku. Maka, insya Allah, dunia pena
yang ku pilih ini adalah jalan terbaik yang mengizinkanku untuk jujur kepada
diri sendiri, jujur kepada apapun selainku. Bismillah, semoga yang ku pilih ini
adalah benar jalan keselamatan dan terjaga dari kebengkokan.
Setelah
penampilan teater usai, Okta dan Vera mempersilahkan kepada penonton yang ingin
berfoto bersama para pemainnya. Aku cukup minta difotokan oleh Andin dari bawah
panggung aja. Sebenarnya, aku sedang menunggu Okta berteriak memintaku untuk
berfoto bersamanya di sana, tapi ia pun sedang sibuk dengan urusannya. Joni pun
tidak dipanggilnya dan mungkin Joni sama denganku adanya.
Aku mengode
Okta tanpa bersuara, “Yuda nggak jadi baca puisi?” tanyaku memastikan karena
Okta baru mengumumkan bahwa acara berikutnya adalah pertunjukan band di halaman
Bahasa Indonesia dan selanjutnya pesta kembang api lalu bakar-bakar ayam.
Tapi, Okta
salah kaprah, dia akhirnya berhasil membuatku malu.
“Yudaaa,
ada seorang penggemar yang berkirim salam kepadamu. Namanya Elysa Riska Armala.”
Mesti ya
Dek nyebut nama selengkap itu? howaalahhh.. seharusnya aku hafal apa resikonya
kalau ngomong tentang cowok ke Okta. Huh.
Setelah
itu, Okta kembali bercengkrama dengan teman-temannya yang lain. Bahkan, ketika
aku dan Andin langsung beringsut pulang pun, ia nggak menyadarinya.
Lantaran
gerbang di FKIP sudah ditutup, aku dan Andin akhirnya berputar ke gerbang Arengka.
Besok, Andin akan pulang ke Rokan Hulu dan anggap aja ini adalah malam Q-timeku
dengannya. Kami mampir di kantin Alif, aku beli mie goreng dan Andin nasi
goreng.
“Udah sejak
semester 1 loh El aku pengen banget nonton teater di BATRA itu. Tapi, karena
nggak tahu info dan nggak ada kawan, makanya nggak pernah jadi nonton.”
“Untung aja
malam ini udah tuntas rasa penasaranmu yaa..”
“Yuhuuuuuuu..akhirnya.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar