Sabtu, 13 Juni 2015

Gila Gula Gala


Aku sudah sampai di jalan Riau. Ku parkirkan motorku di halaman Auto Mobil yang tutup rukonya. Tidak jauh setelah Mall Ciputra Seraya, supaya Jimmy mudah menemukanku di sini. Aku sudah mengabarinya posisiku.
Sambil menunggu, aku membaca buku di pot bunga permanen berbentuk persegi  di pinggir jalan. If you wanna see the change, you have to be a part of the change. Aku akan takjub jika melihat anak muda yang khusuk menekuni bukunya di pinggir jalan, maka aku harus menjadi bagian dari ketakjuban yang ku impikan tersebut.
Sekitar 3 menit di dudukku ini, mulai ku cium aroma tak sedap yang ku duga berasal dari genangan air di depanku. Aku segera berpindah dan menjauh dari genangan air tersebut ke pot bunga selanjutnya. Bukan hanya aromanya yang busuk, tapi aku pun khawatir akan terciprat air kotor nan legam itu. Maklumlah, ini jalan raya, orang-orang penuh gesa dengan tujuannya masing-masing.
“Heyyy?” sapa seorang laki-laki berwajah nyaris secantik wanita. Dia Jimmy. “Coba dilihat dulu. Siapa tahu ada lecetnya..”
Aku mengeluarkan kameraku dari dalam dompet merahnya. Dan, Alhamdulillah aku tidak menemukan tanda-tanda buruk darinya. Hehe.
“Nggak ada aku keluarin pun dari lemari. Ehhe,” jelasnya. Ia langsung berpamitan tanpa berusaha menyalamiku seperti kemarin.
“Senang bertransaksi dengan andaaa,” kataku dengan penuh senyum sebelum ia melaju.
Akhirnya, kamu kembali kepadaku juga, Meraaahh. Sini-sini kita foto-foto yaaa. Aku mengambil beberapa moment sebelum berbalik arah, menuju pulang. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya malam ini dan besok aku sudah dibersamai dan dilengkapi oleh kamera kesayanganku ini. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.

***
Dek, jemput Kakak ya. Kak Rini nggak bisa ikutan nonton ternyata.
Dalam hitungan menit saja, Yana udah sampai di depan kosan. Rini yang sedang menunggu temannya di teras pasti mengatakan kepada Yana, aku sedang siap-siap. Yana masuk ke kamarku dan kami ke luar bersama.
“Cinnn..kamu di mana?” tanya Andin dari seberang telvon.
“Aku di BEM FKIP. Ke sini aja langsung Cin. Ada Romi juga nih di sini.”
Tak lama, Andin pun jadi ikutan bercuap-cuap konyol bersama kami. Romi sedang nungguin helmnya yang dipinjam Novi katanya. Hemmm..kaciaaan…
“Eh, perjalanan ke Aek Matuo itu gimana sih, Dek?” Tanyaku kepada Romi.
“Jauh Mbak. Nanti turunnya ke air terjun itu harus hati-hati karena curam banget medannya. Dan waktu pulang harus merayap dan pegangan di akar-akar pohonnya. Biasanya orang ke sana itu naik motor Mbak. Soalnya nanti kita harus melewati jembatan gantung dulu dan itu mobil nggak bisa masuk. Berarti kalian harus jalan lagi tuh besok, ngelewati kebun-kebun. Tapi tenang aja kok, jalannya semen. Kalau naik motor bisa cepet sampek ke dekat hutannya barulah jalan kaki masuk ke dalamnya.”
“Wah, berarti nggak bisa pake high hills donk ya?” tanyaku centil
“Mampuslah kalau pake high hill Mbak. Ya ampuun, kok mentel kali sih?” kata Romi.
“Ini belum seberapa dengan kelakuannya di kamar Dek. Ketika yang ada hanya Kakak dan Rini aja. hemm…lebih ngeri lagi dari yang kalian kira ini Dek,” tambah Andin.
“Tapi, semua kelelahan itu pasti akan terbayar kalau udah ngelihat air terjunnya Mbak. Airnya dingiiin banget dan sangat bersihhh. Rasanya pasti nggak pengen pulang.”

***
Dari mushola Araffah, kami bertolak langsung ke Batra untuk menyaksikan Teater Gila Gula Gala. Baru saja kami sampai di parkiran motor, di halaman Pendidikan Bahasa Indonesia, suara Okta dan Vera yang langsung terdengar oleh kami. Mereka ngeMC malam ini.
Setelah mengisi buku tamu dan mengambil kolah plus air mineral, kami menemukan celah untuk duduk di sebelah kanan ruangan ini. Sebenarnya lebih asyik duduk di bagian tengah, tapi apa hendak di kata karena yang di tengah udah penuh muatan. Yang penting, kami bisa menyaksikan dengan jelas sekalipun hanya dari sayap kanan.
“Mari kita persembahkan Alfatihah untuknya…”
Baru saja terduduk, kami langsung mendengar berita duka dari seorang sesepuh BATRA. Meskipun kami nggak kenal siapa beliau, tapi Alfatihah ini adalah wujud doa sebagai sesama muslim. Ya Allah, ampuni segala dosanya dan terimalah segala amal baiknya.
Karena ini adalah malam perayaan ulang tahun BATRA yang ke 29, maka acara didahului oleh peniupan lilin dan pemotongan kue oleh pak Iyal sebagai Pembina UKM BATRA dan seluruh pengurusnya. Ini nih yang selalu jadi pertanyaan, kalau kita ngucapin selamat ultah ke seseorang, ada yang bilang ‘Orang yang umur dan jatah hidupnya berkurang kok diselamatin sih?’ Nah, bagaimana halnya kalau yang berulang tahun itu adalah organisasi atau kota atau negara? Itu semua kan benda mati dan nggak akan mungkin dianalogikan seperti batas hidupnya manusia, kan?
“Si Okta itu ganteng banget malam ini,” kata Andin.
“Iya, mungkin karena dia pakai baju merah, ndak?”
Kemarin Andin yang disebut Okta sebagai Bidadari bersayap Biru. Berarti malam ini Okta adalah Bidadara Bersaya Merah donk. Hahaha. *huh, nggak lucu tauk! Hiksss.
Setelah acara tiup lilin dan potong kue, dilanjutkan dengan penampilan Tari Zapin Kreasi.
“Kok nggak pakai jilbab ya? Sayang kali,” kata Andin.
Aku mengiyakan. Lagian menurutku, pakai jilbab sekalipun menari tetap saja nggak pantas dilakukan. Kadang, aku juga bertanya, seberapa pentingkah budaya dalam pandangan islam? Kalau itu menyangkut tentang kesastraan dan bangunan, aku sih no problem. Tapi kalau menyangkut tentang tari-tarian ini loh yang agak gimanaaa gicuuu.

“…hadirin sekalian, selamat menyaksikan persembahan teater Gila Gula Galaaa..”
Aku tahu siapa pembaca prolog itu. Menyaksikannya tampil dalam 1x pementasan saja sudah membuatku hafal dengan karakter suaranya. Mungkin itu yang disebut orang Impression ya…
“El, aku mau lihat seberapa keren teman-temanku dulu yang nampilin teater Gila Gula Gala ini waktu ngambil nilai Stumel.”
“Ya tentu jauhlah Ciin. Temanmu itu bukan orang sanggar. Sedangkan orang ini, memang inilah kerjaannya.”
“Itulah aku mau lihat gimana versi kerennya dari mereka ini, Ciin.”
Kami sama-sama terpaku, menyimak dengan takzim setiap scan pelakonan di panggung itu. Cahaya lampu silih berganti bertukar warna, sesuai suasana dan kontes pertunjukan. Benarlah kiranya bahwa panggung itu adalah tempat penuh sandiwara. Setiap mata bisa disihir dan dibaut terpana. Meskipun nyatanya apa yang dilihat dari para pelakon di panggung itu tak sama dengan apa yang terlihat di waktu biasa.
“Kak, dunia tater itu sebenarnya abu-abu. Orang-orangnya kalau kita perlakukan baik, maka akan baiklah dia. Tapi, kalau kita jahatin, akan jahatlah mereka. Di dalam teater juga, kita susah banget untuk tetap idealis. Kalau perannya sebagai pelacur, ya melacurlah dia. Nggak bisa kita pilih-pilih.”
Penjelasan yang pernah disampaikan Okta itu terngiang olehku. Maka, insya Allah, dunia pena yang ku pilih ini adalah jalan terbaik yang mengizinkanku untuk jujur kepada diri sendiri, jujur kepada apapun selainku. Bismillah, semoga yang ku pilih ini adalah benar jalan keselamatan dan terjaga dari kebengkokan.
Setelah penampilan teater usai, Okta dan Vera mempersilahkan kepada penonton yang ingin berfoto bersama para pemainnya. Aku cukup minta difotokan oleh Andin dari bawah panggung aja. Sebenarnya, aku sedang menunggu Okta berteriak memintaku untuk berfoto bersamanya di sana, tapi ia pun sedang sibuk dengan urusannya. Joni pun tidak dipanggilnya dan mungkin Joni sama denganku adanya.

Aku mengode Okta tanpa bersuara, “Yuda nggak jadi baca puisi?” tanyaku memastikan karena Okta baru mengumumkan bahwa acara berikutnya adalah pertunjukan band di halaman Bahasa Indonesia dan selanjutnya pesta kembang api lalu bakar-bakar ayam.
Tapi, Okta salah kaprah, dia akhirnya berhasil membuatku malu.
“Yudaaa, ada seorang penggemar yang berkirim salam kepadamu. Namanya Elysa Riska Armala.”
Mesti ya Dek nyebut nama selengkap itu? howaalahhh.. seharusnya aku hafal apa resikonya kalau ngomong tentang cowok ke Okta. Huh.
Setelah itu, Okta kembali bercengkrama dengan teman-temannya yang lain. Bahkan, ketika aku dan Andin langsung beringsut pulang pun, ia nggak menyadarinya.
Lantaran gerbang di FKIP sudah ditutup, aku dan Andin akhirnya berputar ke gerbang Arengka. Besok, Andin akan pulang ke Rokan Hulu dan anggap aja ini adalah malam Q-timeku dengannya. Kami mampir di kantin Alif, aku beli mie goreng dan Andin nasi goreng.
“Udah sejak semester 1 loh El aku pengen banget nonton teater di BATRA itu. Tapi, karena nggak tahu info dan nggak ada kawan, makanya nggak pernah jadi nonton.”
“Untung aja malam ini udah tuntas rasa penasaranmu yaa..”
“Yuhuuuuuuu..akhirnya.”

Tidak ada komentar: