Kamis, 16 April 2015

MAWAPRES Hari ke-3: Presentase ke-2

Masih seperti hari-hari sebelumnya. Meja registrasi kosong. Cuma Joni, Yana dan Okta yang udah menyibuk pagi-pagi. Dan Juri udah datang lebih awal. hiksss. Aku juga salah, kenapa nggak fotokopi-in lembar penilaiannya tadi malam? Padahal tadi malam ke luar dan bolak-balik Bina Krida. hiksss. Kali ini, Rincuy nggak ikut karena jam 07.00wib tadi doi udah dijemput temannya. Sok sibuk banget dia sekarang ciin, mentang-mentang jadi tim kampanye tuuuhh. upsss!

Aku membantu mengedarkan absen dan persiapan infokus. Acara dibukan oleh Key pada pukul 08.30wib. Ah, ternyata pukul 08.00wib tidak mampu juga tergenapi. Betapa sulitkah? *tanya diri sendiri. Yaumil yang hari ini bisa menjelma sebagai panitia dan bersedia untuk aku repotkan, ehhe. Alhamdulillah, konsumsi sudah terhidang di meja juri sebelum acara dimulai. Joni kemudian diantarkan oleh Okta karena ada kuliah. Aku menitipi Okta nasi goreng. Capcusss, kami sarapan di sudut ruangan sambil menyaksikan presentase berlangsung.

Hujung Kumpul Sua Jumpa

Jelang petang. Bola mata hanya berkedip-kedip kosong menyapu dedaun di luar jendela. Aku sudah pulang. Lebih dini dari kemarin. Memang, lebih cepat pula hati me-lega. Sekaligus lengang mengenang tadi yang riuh seketika tak lagi kini. Esok apalagi. Mungkin, aku harus menjenguk canda itu di tempat terdahulu, sebelum tadi. Jangankan menunggu esok, kini-ku pun telah berteriak menagih-nagih jumpa. Semoga jumpa yang esok jauh lebih bermakna lagi ber-berkah. aamiin

Seusai lambai sapa
Truly Elysa, 16 Maret 2015

Inspirasi: Kriteria Calon Jodohku

 Di sela-sela seleksi MAWAPRES kemarin, setelah Romi tampil, ia duduk di sebelahku...
"Dek, menurutmu calon jodoh buat Mbak cocoknya yang tipenya gimana?" tanyaku iseng.
"Sabar."
"Kok sabar?"
"Iya, intinya dia itu harus orang yang sabar dan mengerti keras kepalanya Mbak, ehehe."
Mulutku manyun, "Adek tahu dari mana emangnya Mbak keras kepala?" tanyaku sok polos.
"Dari cara Mbak memaksaku, hehee."
Aku terkekeh mengingat trauma yang dialami Romi dari cerpennya. Jujur, aku nggak tahu kalau selama bertahun-tahun ini dia terlalu takut ketemu aku karena khawatir bakal ditagih karyanya dan dipaksa bikin karya kalau dia nyebutkan alasan. haha. Intinya, beralasan pun nggak guna ya? haha
"Kira-kira siapa orangnya? Bang *ir*a?"
"Hihhh, apaan pula dia? Sok cool dia, Mbak."