Di sela-sela seleksi MAWAPRES kemarin, setelah Romi tampil, ia duduk di sebelahku...
"Dek, menurutmu calon jodoh buat Mbak cocoknya yang tipenya gimana?" tanyaku iseng.
"Sabar."
"Kok sabar?"
"Iya, intinya dia itu harus orang yang sabar dan mengerti keras kepalanya Mbak, ehehe."
Mulutku manyun, "Adek tahu dari mana emangnya Mbak keras kepala?" tanyaku sok polos.
"Dari cara Mbak memaksaku, hehee."
Aku terkekeh mengingat trauma yang dialami Romi dari cerpennya. Jujur, aku nggak tahu kalau selama bertahun-tahun ini dia terlalu takut ketemu aku karena khawatir bakal ditagih karyanya dan dipaksa bikin karya kalau dia nyebutkan alasan. haha. Intinya, beralasan pun nggak guna ya? haha
"Kira-kira siapa orangnya? Bang *ir*a?"
"Hihhh, apaan pula dia? Sok cool dia, Mbak."
"Atau Bang *en*r*?"
"Hihhh, gak boleh! Angkuh!"
"Terus siapa donk?" rengekku. Niatnya cuma iseng, jadi keterusan nanya. hhaa
"Heh! Nggak boleh mikirin jodoh. Kuliah aja belum selesai! hhehe" ejek Romi.
"Hhehe, iya ya? Kan dari sekarang difikirin hehe."
"Aha! bang *o*o aja Mbak. Dia bagus banget tuh! Pkoknya recomended lah."
"Dia kan orangnya tegas, Dek! Kalau sama Mbak, ntar kami berantem terus pastinya," tebakku.
"Nggak Mbak. Mbak nggak akan berantem sama dia."
"Yakin?"
"Yakin. Soalnya, Romi udah berkali-kali gonta-ganti **ro*bbi dan dialah yang terakhir. Sampek sekarang, Romi nggak kefikiran buat ganti lagi. Mbak juga pasti akan ngikutin dia. Abang itu kerenlah Mbak pokoknya. Dia panda menempatkan diri, kapan harus serius, kapan bercanda, kapan rempong-rempongan sama kami."
"Okelah Abang tu keren, tapi masalahnya sekarang dia nggak mungkin memilik Mbak. Pastilah dia milih perempuan yang kualitasnya seimbang dengannya. Bukan yang alay, pecicilan dan suka keluyuran kayak Mbakmu ini. Nah, dia itu cocoknya sama kak A**, Dek!"
"Ah, Kakak itu egois. Kalau rapat, dia selalu maksa pendapat dia yang harus didengarkan."
"Rapat apa emangnya, Dek? Kok bisa ketemu dengan dia?"
"Rapat ADK Pekon loh, Mbak."
"Oooh... Kok Mbak nggak pernah ikutan ya? (mikir sendiri)"
"Kemane aje lohhh?" tanya Romi mulai lekong hehe.
"Eh, Dek kalau dengan si *a*i gimana? haha"
"Jangan lagi! Kurapan dia tuh," kata Romi dengan ekspresi gimanaa gituh. Aku kembali terkekeh. Di sela-sela finalis presentasi, bisa-bisanya kami menikmati obrolan rahasia ini.
"Nah, Mbak tu hanya butuh 2 tipe: Orang yang sabar menghadapi Mbak atau orang yang bisa membuat Mbak mengikutinya. Itu aja. Nggak ada yang lain lagi hehe," jelas Romi lagi.
Aku hanya berdehem dan rasanya pernyataan terakhir Romi itu ada benarnya. *ciyeeeeee. Tentang siapakah orangnya? Aku titipin sama Allah aja deh! *so, buat kamu yang mau cari tahu, tanya sama Allah-ku aja yak! sipp?
"Dek, menurutmu calon jodoh buat Mbak cocoknya yang tipenya gimana?" tanyaku iseng.
"Sabar."
"Kok sabar?"
"Iya, intinya dia itu harus orang yang sabar dan mengerti keras kepalanya Mbak, ehehe."
Mulutku manyun, "Adek tahu dari mana emangnya Mbak keras kepala?" tanyaku sok polos.
"Dari cara Mbak memaksaku, hehee."
Aku terkekeh mengingat trauma yang dialami Romi dari cerpennya. Jujur, aku nggak tahu kalau selama bertahun-tahun ini dia terlalu takut ketemu aku karena khawatir bakal ditagih karyanya dan dipaksa bikin karya kalau dia nyebutkan alasan. haha. Intinya, beralasan pun nggak guna ya? haha
"Kira-kira siapa orangnya? Bang *ir*a?"
"Hihhh, apaan pula dia? Sok cool dia, Mbak."
"Atau Bang *en*r*?"
"Hihhh, gak boleh! Angkuh!"
"Terus siapa donk?" rengekku. Niatnya cuma iseng, jadi keterusan nanya. hhaa
"Heh! Nggak boleh mikirin jodoh. Kuliah aja belum selesai! hhehe" ejek Romi.
"Hhehe, iya ya? Kan dari sekarang difikirin hehe."
"Aha! bang *o*o aja Mbak. Dia bagus banget tuh! Pkoknya recomended lah."
"Dia kan orangnya tegas, Dek! Kalau sama Mbak, ntar kami berantem terus pastinya," tebakku.
"Nggak Mbak. Mbak nggak akan berantem sama dia."
"Yakin?"
"Yakin. Soalnya, Romi udah berkali-kali gonta-ganti **ro*bbi dan dialah yang terakhir. Sampek sekarang, Romi nggak kefikiran buat ganti lagi. Mbak juga pasti akan ngikutin dia. Abang itu kerenlah Mbak pokoknya. Dia panda menempatkan diri, kapan harus serius, kapan bercanda, kapan rempong-rempongan sama kami."
"Okelah Abang tu keren, tapi masalahnya sekarang dia nggak mungkin memilik Mbak. Pastilah dia milih perempuan yang kualitasnya seimbang dengannya. Bukan yang alay, pecicilan dan suka keluyuran kayak Mbakmu ini. Nah, dia itu cocoknya sama kak A**, Dek!"
"Ah, Kakak itu egois. Kalau rapat, dia selalu maksa pendapat dia yang harus didengarkan."
"Rapat apa emangnya, Dek? Kok bisa ketemu dengan dia?"
"Rapat ADK Pekon loh, Mbak."
"Oooh... Kok Mbak nggak pernah ikutan ya? (mikir sendiri)"
"Kemane aje lohhh?" tanya Romi mulai lekong hehe.
"Eh, Dek kalau dengan si *a*i gimana? haha"
"Jangan lagi! Kurapan dia tuh," kata Romi dengan ekspresi gimanaa gituh. Aku kembali terkekeh. Di sela-sela finalis presentasi, bisa-bisanya kami menikmati obrolan rahasia ini.
"Nah, Mbak tu hanya butuh 2 tipe: Orang yang sabar menghadapi Mbak atau orang yang bisa membuat Mbak mengikutinya. Itu aja. Nggak ada yang lain lagi hehe," jelas Romi lagi.
Aku hanya berdehem dan rasanya pernyataan terakhir Romi itu ada benarnya. *ciyeeeeee. Tentang siapakah orangnya? Aku titipin sama Allah aja deh! *so, buat kamu yang mau cari tahu, tanya sama Allah-ku aja yak! sipp?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar