"Ciyeee…yang tulisannya udah banyak di blogggg…” pujiku
kepada Lia.
“Ehhh…mu baca yaaa?” tanyanya.
“Iyaa donk. sihiiyy! Udah
rame aja nih blog, kataku semalam. Aku memang sedang ngecheck beberapa blog
yang pernah ku bimbing. Alhamdulillah, nemu yang udah ada peningkatan. Hehee.”
“Ya iyalah. Emaknya udah ribuan, masak anakanya seratus aja
belum ada.”
“Yang tentang review film tu kata-katamu sendiri?”
“Iya. Aku yang nulis.”
“Sumpah itu rapi banget Ciiin. Bener-bener rapi. Aku aja
bacanya senyum-senyum.”
“Iya yaa? Alhmdulillah kalau gituuuu. Sungguh, luar biasa
banget loh Cin rasanya setelah menuliskan semua itu! Kalau diniatin, emang apa
yang ada di dalam kepala itu mengalirrrr aja. Benar-benar lega setelah semuanya
tertulis. Kan itu udah ku tulis di FB sebelum ku post di blog. Mu belum baca
ya?”
“Rasanya nggak ada terbaca yang itu di FB deh! Oh ya, aku
kan kemarin pernah malas-malasan, nggak ada nulis selama 2 hari Ciin. Jadi,
kepalaku ini sakiiit banget rasanya. Kalau dipijat tu nggak tersentuh bagian
sakitnya ntah di mana, pokoknya rasanya itu berdenyut-denyut banget di bagian
kanan dalam. Dan, hari itu aku paksain lah nulis dari pagi sampai sore, aku
nggak ada ke mana-mana selain nulis di kamar Cin. Eh, sorenya sakitnya ilang
dengan sendirinya. Aku baru tahu Ciinn, ternyata salah satu penyebab kerusakan
otak itu adalah ketika otak nggak digunakan.”
“Iya yaaa… masya Allaah… karena menulis itu kan menuangkan
fikiran ya Ciinnn. Ada proses berfikir di sanaa.” Bukan hanya Lia yang
terkejut, Yaumil, Nurisa, Novi dan Ratih juga terkejut dengan pernyataanku
barusan.
