Selasa, 10 November 2015

Jaga Ia dalam Penjagaan-Mu..



Ini sudah pukul 1.14wib dini hari tapi mata ini masih enggan terpejam. Kantuk sebenarnya sudah mengetuk sejak tadi, tapi resah di hati belum bisa juga diajak kompromi. Aku udah main Instagram, WA, BBM, bahkan udah buka FB juga untuk nyemprot tuh buaya, tapi masih juga akunya belum ngantuk. *eh, tentang nyemprot menyemprot itu belum aku lakukan kok, aku hanya takut malah nambah masalah kalau aku ikut campur. Mending aku diam dan perang dingin aja. hihii.

“Kenapa dia bohong Lis? Kenapa nggak ngaku aja? Ini yang menyakitkan banget,” teringat lagi olehku kalimat mami tadi.
“Semoga aku nggak pernah ketemu lagi dengan cowok kayak kamu ya! Dan, hati-hati adikmu, kasihan dia kalau dapat karma nanti karena kelakuan Abangnya,” gerutuku sendiri.

Mata ini ku paksa terpejam. Ku jauhkan laptop dan HP dari dekatku. bismillah!

***
Sudah setengah jam aku menunggu mami tapi mami nggak juga muncul. Aku juga udah mengisi waktu dengan menulis. Lama-lama aku jadi ngantuk juga. Tapi, tiba-tiba HPku bergetar. Mami asliku menelvon...
“…katanya Abi besok atau lusa mau ke Pekanbaru El.”
“Masa iya Mi? Ngapain Mi?”
“Katanya kangen sama anaknya, mau ketemu si gembrot duluu.”
“Mpreeettt.. nggak percaya Mi. Paling-paling ada acara di PT Diamond kan?”
“Nggak. Nah, kok nggak percaya sih dibilangin? Malah ketawa berderai-derai pula dia.” Mami memang gitu, suka nukar-nukar kata-kata. Nangis tu dipasangkan dengan Terbahak-bahak, sedangkan Ketawa itu dipasangkan dengan Berderai-derai. Haahaa… makanya anaknya juga aneh gini. Hihi.
“Nggak percaya El doohh Mii.. la jadi?”
“Mau pesan apa? Mau dibawain sambal? Beras masih banyak?”
“Serius nih Mi, Papi mau ke sini?”
“Howalahh…dibilangin dari tadi kok nggak percaya sih.”
“Ya udaaahhh..kalau gitu El nitip sambal ikan asin yaaa.”

“Emang loe fikir ikan asin tu nggak mahal apa? hahaa.”
“Pokoknya bawain sambal ikan asin Mi. Nggak mau tahu harga ikan asinya semahal apa. hehehe. Mi, by the way El sendirian aja sekamar nggak apa-apa lah ya Miii menjelang tamat nii.”
“Sak karepmuu El, El.” *artinya: terserah kamu.
“YESSS! Soalnya nggak ada lagi El nemuin orang yang kayak Rini Miii.”
“Mana ada orang yang tahan dihina-hina Eelll.”
“Loh? Memangnya Rini ada El hina-hina Mi? hahaa.”
“Ya nggak sih. Mana ada orang yang kayak dia tuu, diem-diem, senyam-senyum, main laptop aja kerjanya.”
“Itulah makanya El sendirian aja ya Mi. Muaachhh.”
Setelah mami menutup telvon, aku benar-benar menuruti kantukku. Aku kembali lagi ke  dalam mushola dan mulai memejamkan mata. Mushola sedang sepi.
“Yunn, Yuni sedang nungguin seseorang?” tanyaku pada Yuni yang duduk 3 meter dariku.
“Iya Lisss.”
“Aku titip agak-agak dilihatkan ya HPku yang sedang dicas itu. Nanti kalau Yuni udah mau pergi, bangunkan aku yaa. Makaciiihh Yuunn… aku ngantuk banget nih.” Dan…  dengan santainya aku tidur di sini.

Aku terbangun ketika SMS dari mami masuk. Dia sedang terjebak hujan sejak tadi ternyata dan meminta izin untuk menunda jumpa hingga esok saja karena hujannya sepertinya akan awet. Aku membalasnya dengan menyampaikan harapan besar untuk bisa bertemu dengannya hari ini segera. Lagian, di sini langit masih cerah meskipun sesekali Guntur terdengar dari kejauhan.
“Ah, mungkin Mami memang nggak jadi ke sini nih! Mending aku wifian aja di perpus daripada bengong di sini.”
Aku berjalan kaki menjauhi mushola rektorat. Kali ini melewati koridor di depan rektorat, sebuah jalan yang berbeda dengan arah datangku tadi. Berharap menemukan inspirasi baru atau sekedar merasakan sensasi baru berjalan sendirian di sini.
Mami udah di dekat kampus Lis.

Loh? Udah dekat aja nih mami. Hemmm… aku udah di penghujung koridor dan selangkah lagi tiba di trotoar di depan LEMLIT. Seketika ku putar arah dan perlahan jalan menuju mushola lagi. Kasihan kalau mami udah ke sini tapi ternyata aku di perpus; bakalan bolak-balik dan repot, lagian pulsaku juga udah sekarat.  Selangkah… 2 langkah… 3 langkah… aku sengaja jalan pelan-pelan supaya nggak terlalu terasa lama menunggu kedatangan mami. Udah sempat selfie-selfie juga di depan gedung rektorat dan udah sempat juga duduk-duduk di potongan batang pohon di samping mushola. Sekarang, aku kembali duduk di pinggiran teras mushola, seperti tadi. sesering mungkin aku mengecheck HP, siapa tahu sinyalnya sudah normal lagi dan ada info dari mami.
“Katanya udah dekat kampus, tapi kok belum datang juga ya nih mami? Ya allah, jaga Mami. Selamatkan mamiii,” gumamku, lirih.
Dann… rasanya aku mulai jenuh. Tapi, firasatku mengatakan bahwa mami sudah sangat dekat.
Elis di mana? Mami sedang jalan menuju mushola nih.
Elis masih di mushola rektorat Mii. Sinilah!
Aku celingak-celinguk ke segala arah, tapi nggak ku temukan sosok mami di sekita sini. Wah, jangan-jangan mami nyasar nih; mushola rektorat dikirain mushola FKIP.
Ehhee.. mami salah. Malah ke mushola FKIP nih.. Bentar ya, mami ke sanaaa.

Aku semakin antusias menunggu mami. Tak lama, mami benar datang. Dia sangat cantik hari ini. jilbabnya sudah terulur lebar dan semakin cantik dengan gamis birunya.
“Mamiiii… cantikkk ngeeetssss,” sapaku sambil menyalaminya, mencium pipinya kiri kanan padahal helmyna belum dilepas. Hihiii.
“Maacih Yaankkk.. Ini gamis Ibuknya Mami  nih Yaankk.”
“Cantik loh. Nggak kelihatan juga kalau itu punya Ibuk. Elis juga sering mencilok baju Mama Elis Miii.”
Kami memilih duduk merumput di pinggir kolam yang airnya sudah mongering bahkan tanahnya sampai retak-retak. Dulu, ada jembatan berwarna merah nan cantik yang menghubungkan antara UP2B ke mushola rektorat ini. Tapi, angin yang cukup kuat telah merobohkan jembatan yang usianya sudah cukup tua itu. Sayangnya jembatan itu nggak dibangun kembali, ntah
karena apa dibiarkan ambruk begitu saja.

“Banyak nyamuk ya Yank di sini kayaknya,” kata mami.
“Iya nih kayaknya Mi. Cuekin ajalah ya Mi. Yang penting tempatnya nyaman.” *darimana bisa nyaman kalau nyata-nyata banyak nyamuk. Hihii. “Jadi, gimana cerita mulanya Mi kok bisa Mami tahu kalau dia udah tunangan?” tanyaku, langsung ke poinnya.
“Gini Lisss…” mami menceritakan detil kronologis kejadian itu sampai ia tahu bahwa laki-laki itu sudah bertunangan.
Aku memperhatikan raut wajah mami. Bola matanya agak basah. Pipinya agak merah. Aku mampu merasakan sesuatu yang sangat pedih di hatinya sana. Tapi, aku juga bisa merasakan betapa kuatnya mami terhadap kenyataan ini.
“Yang Mam sedih itu Lis, kenapa dia mesti berbohong? Dan Mami baru tahu dari teman sekelasnya yang juga teman Mami, bahwa dia itu udah mempersiapkan pertunangan ini sejak jauh-jauh hari, Liisss. Dan, 3 minggu yang lalu dia baru membuat pengakuan ke Mam bahwa cewek itu hanya dianggapnya sebagai Adik, nggak lebih. Kakaknya pun udah curiga dan nyuruh Mami nyelidiki, tapi ya gituuu setelah Mami tanyain baik-baik, dia mengaku hanya berteman aja.”
“Seriuslah Mi, pengen kali Elis tonjok dia tuuuhh haaa! Elis nggak pernah kenalan sama dia tapi Elis udah lebih dulu benci sama dia. Hilang wibawa dia tu di mata Eliss, Miii. Ya Allah, geraaaam kali Eliss haa!”

“Tadi malam, setelah Elis telvon Mami, hati ini udah agak tenanglah Lis. Biasanya Mami nggak pernah tidur dengan lampu padam, tapi tadi malam Mami sengaja matikan lampu dan termenung. Sebelum tidur, Mami sugestikan ke diri Mami gini; ‘Udahlah, dia itu bukan yang terbaik buatmu. Aku harus bersiap-siap untuk jodoh yang JAUHHH lebih baik darinya dan udah Allah persiapkan di suatu tempat nun jauh di sanaaa. Aku harus kuat!’ Dan, Alhamdulillah Lis meskipun waktu tadi pagi bangun tu masih agak sakit rasanya tapi udah jauh lebih ringan daripada semalam.”
“Mi, ada 1 kalimat yang luar biasa dari Mario Teguh yang cocok buat Mami; ‘Hanya laki-laki BAIK yang bisa membahagiakan wanita BAIK. Tidak mungkin seorang wanita BAIK mampu dibahagiakan oleh laki-laki  yang tidak BAIK’ dann… sekarang sudah jelas Mi, Allah ingin menjauhkan dia dari Mami dengan cara ini. Mami harus bersyukur, karena kalau nggak dengan cara kayak gini mungkin dia bisa membuat Mami lebih sedih nantinya.”
Mami memandangku tanpa berkedip. Mungkin ia masih terkesima dengan nasehat Mario Teguh itu. Lalu perlahan ia mulai tersenyum.
“Iya ya Lisss. Bener.”

“Semangat Mamiii!”
“Iya Lis. Mungkin karena Mami udah terbiasa segera menyelesaikan masalah ya Lis, makanya Mami nggak mau berlama-lama gelisah kayak gini. Tadi malam Mami sempat berfikir; ‘Kalau aku nekat memisahkan dia dan tunangannya itu dan akhirnya dia menikah denganku, jangan-jangan suatu saat nanti aku pun akan dibohonginya seperti dia membohongiku hari ini’ Akhirnya Mami tersadar lagi Lis, Mami nggak perlu memaksakan takdir supaya dia bisa bersama Mami. Karena kalau itu terjadi, berarti Mami yang bodoh karena menerima penghianat seperti dia. Pengkhianat bagi tunangannya ini dan pengkhianat untuk mami nantinya.”
“Beneeer Banget, Miiii. Intinya gini, kalau dia tega berpisah dengan tunangannya untuk mengejar Mami, maka suatu saat nanti dia pasti akan tega meninggalkan Mami demi orang yang lebih dicintainya.”
Mami terdiam, mematung. Aku kini bertopang dagu, menerawang beberapa kenangan dimasa lalu.
“Mi, mungkin kalau Elis di posisi Mami sekarang ini, belum tentu loh Elis bisa sekuat Mami. Kita kan belajar menjaga hati ini awalnya adalah dalam rangka menjaga hati dari dia yang kita suka. Dan, setelah kita berhasil menjaga hati dari dia yang kita suka, maka kita perlahan belajar lagi untuk menjaga hati demi siapapun jodoh yang dipilihkan Allah untuk kita. Biasanya seperti itu urutannya. Dan, kalau Elis sedang berada di tahap awal lalu kenyataannya Kak *** itu menikah dengan orang lain, mungkin Elis juga akan ‘jatuh’ Mi. Perjalanan menjaga hati ini memang panjang Mi. Elis yakin Mami kuat!”

“Iya Liss, aamiin. Insya Allah. Teman-teman Mami kan pada kepo waktu Mami bikin PM sedih gitu di BBM, tentang cuplikan perasaan Mami gitu Lis, mereka bilang gini; Yankkk… mu nggak apa-apa kan?. Terus Mami jawab; ‘Nggak apa-apa. Plis ya wooyy, aku capek banget ditanya-tanya tentang ini, aku malas membahasnya lagi. Terus mereka minta Mami cerita ke mereka Lis tentang semua kejadian ini. Bukan apa-apa Lis, untuk menyelesaikan masalah-masalah kecil aja mereka nggak bisa, gimana mau menyimak semua cerita mami ini? Apa ter-cover oleh mereka? Mohon maaf, bukannya Mami mengatakan masalah Mami ini lebih tinggi levelnya, tapi setidaknya ini bukan permasalah yang lazimnya orang hadapi kan Liss. Mami hanya nggak pengen cerita dengan orang yang nggak tepat. Mami bilang aja ke mereka kalau Mami sedang berusaha melupakan semua ini. Dan, setelah semua ini berhasil Mami lupakan, Mami pun nggak akan ingin lagi untuk menceritakannya. Elis ngerti kan?”
“Ngerti bangetlah Miii. Sabar ya Miii. Ihhh.. kok rasanya semua ini kayak di film-film gitu ya Miii.. hahaa.”
“kalau ada yang mau memfilmkan kisah ini silahkan Lisss.. Mami nggak apa-apa haa.”
“Ntar Elis garap cerpennya ya Mi.”
“Haaa.. tulislah Lisss. Nanti Mami bacaaa. Mami bilang gini kan ke teman-teman Mami; Jangan tunggu-tunggu aku untuk cerita ya wooy.  Supaya mereka nggak ngarep kan Liss. Mami sampai jam 4 aja nih Lis bisa cerita sama Elis karena Bapak Mam mau makai motornya jam setengah lima nanti.”

Aku bersiap-siap mengeluarkan kado yang tadi pagi sudah ku bungkus. Nggak terlalu rapi sih karena buru-buru tadi. Yang penting kan isinya yaa..
“Ini hadiahh buat Mami! Mulai hari ini Mami nggak boleh sedih lagi pokoknya.”
“Ihhhh.. makaciiih Yaannkk. Elis ni udah seriiiing banget ngasih Mami hadiahh sementara  Mami belum pernah ngasih Elisss.”
“HAH? Masa iya sih Mi? Bukannya ini yang pertama kalinya ya?”
“Dulu, Elis kan pernah ngasih Mami Al-Quran warna pink. Terus ada juga kado yang dibungkus di dalam kotak kue gitu.”
“Apa isinya memangnya Mi?”
“Lupa pula ntah apa tuh dulu isinya. Al-Quran pink itu sekarang dipakai sama Adik Mami. Makasiih ya Elisss. Buka sekarang boleh?”
“Yap, nggak apa-apa Mi. Buka aja, semoga bermanfaat ya. Eitsss,, tunggu dulu Mii, difoto dulu! Hehe.”
“Selalu yaaaa.”

Kemudian kadoku itu dibuka oleh mami. Dan… dia sangat suka dengan isinya. Kebetulan, salah satunya bisa langsung digunakannya sekarang. Alhamdulillah.
“Ihhh…cantik banget ya Liss.”
“Iya, emang Mi. Dan hampir aja Elis ngambil itu jadi milik Elis. Sampai-sampai kata si Rini; ‘Ah, El selalu kayak gitu, kalau nemu yang cantik pasti langsung diambil padahal udah diniatin untuk dikasihkan sama orang!’ hahaa. Tapi, nggak jadi kok Mi. Itu kan buat Mamiiii. Semoga Mami suka yaa.”
“Suka bingiitttsss Yank.”
“Bububuyuuu yaaa.”
“Itu artinya; Selamat dipakai ya hadiahnya, kan Lis?”
“Hahaha.. bener miii. Kok Mami pinter banget sih mengartikan Bububuyuuu..? ahahaha.”
Tanpa direncanakan sebelumnya, setelah kami sholat Ashar, aku langsung mengajak mami untuk hunting foto sebagai special Guest Monthly-ku di blog. Ahaaa! Tak diduga sebelumnya kami menemukan spot yang elok dan cantik banget di sekitar sini. Aku mewajibkan mami untuk nurut dengan arahanku dan mami pun dengan sukarela bersedia.
“Arahin aja Mami Lisss.. Silahkan! Mami nggak pandai doh, Elis yang pandai kayak gini haa”
“Okeehhh.. Mami pokoknya harus nurut yaa!”

Aku bertingkah seolah seorang photographer sungguhan. Memotret dari berbagai posisi bahkan aku sampai merumput demi mendapatkan angel yang pas dan menampakkan view langit plus ranting pohon yang mengering. Setelah beberapa kali jepretan dan ku rasa sudah cukup, mami pun berpamitan.
“Satu cita-cita Mami berarti udah tercapai nih Lis.”
“Apa itu Mi?”
“Salah satu dari daftar mimpi Mami itu adalah Berteman dengan Penulis. Alhamdulillah udah kesampaian. Hehehe.”
“Alhamdulillah Mi. Buruan ya tulisannya Elis tunggu. Ceritain aja gimana Mami dapat hidayah untuk berhijab syar’i, bagus tuh!”
“Sip! Pokoknya kalau ada yang kurang, Elis tambahin dan percantik lah yaa. Daaa Lisss… Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Bububuyuu ya Mii.”
“Artinya; Hati-hati di jalan, kan?”
“Iyaa Mii. Hahaaa. Bener kata Lia, bububuyu itu multifungsi. Hahaa.”
Ya Allah… jaga dia dalam penjagaan-Mu.. aamiin

***
“Duh, ke mana ya? Anak-anak URC sekarang nggak sih dekornya?” aku kebingungan. Mana android nggak ada sinyalnya pula nih!
Umil di mana? Kita dekornya di mana?
Ku kirim ke Yaumil. Tapi ternyata pesanku gagal terkirim. Ah, lagi-lagi pulsa. Aku jadi teringat dengan Mr. J, mungkin lebih baik kalau aku segera ke sana untuk konfirmasi tentang jadwal belajar dengan native speaker. Aku melaju meninggalkan lingkungan FISIP kemudian menuju ke FKIP. Di pertengahan jalan, aku melihat seorang laki-laki beralmamater biru langit sedang mendorong motornya. Aku kira dia kehabisan bensin, tapi ternyata ku lihat ban belakangnya kempes. Ah, aku nggak tahu caranya menolongnya. Ya Allah, semoga ada laki-laki baik hati yang menolongnya mendorong motor dengan motor lainnya. Aamiin.

“Kak Yillll?” sapaku kepada kak Yil yang sedang duduk di teras.
Rencanaku berubah seketika. Menyinggahi kak Yil sepertinya jauh lebih mendesak daripada ke Mr. J yang masih bisa besok saja. Lagian, sudah 3 minggu juga aku nggak mampir ke sini.
“Ke mana aja Eliss?” tanyanya.
“Di kos, kampus aja Kak. nggemukkan badan. Hahaa.”
“Apalagi yang mau ditambah? Udah gemuk gituuu.”
Aku berhasil mencairkan suasana. Setelah ngobrol-ngobrol, aku minta dibuatkan telur penyet special kesukaanku oleh kak Yil. Kak Yil meminta beberapa film dariku untuk dipindahkan ke flashdisknya supaya bisa ditontong di TVnya. Aku menunggu kak Yil masak sambil memilih-milih film untuknya. Di luar, hujam mulai me-lebat. Kalau setelah sholat Maghrib pun masih deras, berarti aku nggak ngajar les malam ini. Tapi, ternyata Allah memintaku untuk tetap mengajar, sehingga setelah maghrib hujan pun sempurna me-reda. Bismillahi tawakaltuu!

Tidak ada komentar: