Ini sudah
pukul 1.14wib dini hari tapi mata ini masih enggan terpejam. Kantuk sebenarnya
sudah mengetuk sejak tadi, tapi resah di hati belum bisa juga diajak kompromi. Aku
udah main Instagram, WA, BBM, bahkan udah buka FB juga untuk nyemprot tuh
buaya, tapi masih juga akunya belum ngantuk. *eh, tentang nyemprot menyemprot
itu belum aku lakukan kok, aku hanya takut malah nambah masalah kalau aku ikut
campur. Mending aku diam dan perang dingin aja. hihii.
“Kenapa dia
bohong Lis? Kenapa nggak ngaku aja? Ini yang menyakitkan banget,” teringat lagi
olehku kalimat mami tadi.
“Semoga aku
nggak pernah ketemu lagi dengan cowok kayak kamu ya! Dan, hati-hati adikmu,
kasihan dia kalau dapat karma nanti karena kelakuan Abangnya,” gerutuku
sendiri.
Mata ini ku
paksa terpejam. Ku jauhkan laptop dan HP dari dekatku. bismillah!
***
Sudah
setengah jam aku menunggu mami tapi mami nggak juga muncul. Aku juga udah
mengisi waktu dengan menulis. Lama-lama aku jadi ngantuk juga. Tapi, tiba-tiba
HPku bergetar. Mami asliku menelvon...
“…katanya
Abi besok atau lusa mau ke Pekanbaru El.”
“Masa iya Mi?
Ngapain Mi?”
“Katanya
kangen sama anaknya, mau ketemu si gembrot duluu.”
“Mpreeettt..
nggak percaya Mi. Paling-paling ada acara di PT Diamond kan?”
“Nggak.
Nah, kok nggak percaya sih dibilangin? Malah ketawa berderai-derai pula dia.”
Mami memang gitu, suka nukar-nukar kata-kata. Nangis tu dipasangkan dengan Terbahak-bahak, sedangkan Ketawa itu
dipasangkan dengan Berderai-derai.
Haahaa… makanya anaknya juga aneh gini. Hihi.
“Nggak
percaya El doohh Mii.. la jadi?”
“Mau pesan
apa? Mau dibawain sambal? Beras masih banyak?”
“Serius nih
Mi, Papi mau ke sini?”
“Howalahh…dibilangin
dari tadi kok nggak percaya sih.”
“Ya
udaaahhh..kalau gitu El nitip sambal ikan asin yaaa.”
“Pokoknya
bawain sambal ikan asin Mi. Nggak mau tahu harga ikan asinya semahal apa.
hehehe. Mi, by the way El sendirian aja sekamar nggak apa-apa lah ya Miii
menjelang tamat nii.”
“Sak
karepmuu El, El.” *artinya: terserah kamu.
“YESSS!
Soalnya nggak ada lagi El nemuin orang yang kayak Rini Miii.”
“Mana ada
orang yang tahan dihina-hina Eelll.”
“Loh?
Memangnya Rini ada El hina-hina Mi? hahaa.”
“Ya nggak
sih. Mana ada orang yang kayak dia tuu, diem-diem, senyam-senyum, main laptop
aja kerjanya.”
“Itulah
makanya El sendirian aja ya Mi. Muaachhh.”
Setelah
mami menutup telvon, aku benar-benar menuruti kantukku. Aku kembali lagi
ke dalam mushola dan mulai memejamkan
mata. Mushola sedang sepi.
“Yunn, Yuni
sedang nungguin seseorang?” tanyaku pada Yuni yang duduk 3 meter dariku.
“Iya
Lisss.”
“Aku titip
agak-agak dilihatkan ya HPku yang sedang dicas itu. Nanti kalau Yuni udah mau
pergi, bangunkan aku yaa. Makaciiihh Yuunn… aku ngantuk banget nih.” Dan… dengan santainya aku tidur di sini.
Aku
terbangun ketika SMS dari mami masuk. Dia sedang terjebak hujan sejak tadi
ternyata dan meminta izin untuk menunda jumpa hingga esok saja karena hujannya
sepertinya akan awet. Aku membalasnya dengan menyampaikan harapan besar untuk
bisa bertemu dengannya hari ini segera. Lagian, di sini langit masih cerah
meskipun sesekali Guntur terdengar dari kejauhan.
“Ah,
mungkin Mami memang nggak jadi ke sini nih! Mending aku wifian aja di perpus
daripada bengong di sini.”
Aku
berjalan kaki menjauhi mushola rektorat. Kali ini melewati koridor di depan
rektorat, sebuah jalan yang berbeda dengan arah datangku tadi. Berharap
menemukan inspirasi baru atau sekedar merasakan sensasi baru berjalan sendirian
di sini.
Mami udah di dekat
kampus Lis.
Loh? Udah dekat aja nih mami. Hemmm… aku udah di penghujung
koridor dan selangkah lagi tiba di trotoar di depan LEMLIT. Seketika ku putar
arah dan perlahan jalan menuju mushola lagi. Kasihan kalau mami udah ke sini
tapi ternyata aku di perpus; bakalan bolak-balik dan repot, lagian pulsaku juga
udah sekarat. Selangkah… 2 langkah… 3
langkah… aku sengaja jalan pelan-pelan supaya nggak terlalu terasa lama
menunggu kedatangan mami. Udah sempat selfie-selfie juga di depan gedung
rektorat dan udah sempat juga duduk-duduk di potongan batang pohon di samping
mushola. Sekarang, aku kembali duduk di pinggiran teras mushola, seperti tadi.
sesering mungkin aku mengecheck HP, siapa tahu sinyalnya sudah normal lagi dan
ada info dari mami.
“Katanya udah dekat kampus, tapi kok belum datang juga ya
nih mami? Ya allah, jaga Mami. Selamatkan mamiii,” gumamku, lirih.
Dann… rasanya aku mulai jenuh. Tapi, firasatku mengatakan
bahwa mami sudah sangat dekat.
Elis di mana? Mami
sedang jalan menuju mushola nih.
Elis masih di mushola rektorat Mii. Sinilah!
Aku celingak-celinguk ke segala arah, tapi nggak ku temukan
sosok mami di sekita sini. Wah, jangan-jangan mami nyasar nih; mushola rektorat
dikirain mushola FKIP.
Ehhee.. mami salah.
Malah ke mushola FKIP nih.. Bentar ya, mami ke sanaaa.
Aku semakin antusias menunggu mami. Tak lama, mami benar
datang. Dia sangat cantik hari ini. jilbabnya sudah terulur lebar dan semakin
cantik dengan gamis birunya.
“Mamiiii… cantikkk ngeeetssss,” sapaku sambil menyalaminya,
mencium pipinya kiri kanan padahal helmyna belum dilepas. Hihiii.
“Maacih Yaankkk.. Ini gamis Ibuknya Mami nih Yaankk.”
“Cantik loh. Nggak kelihatan juga kalau itu punya Ibuk. Elis
juga sering mencilok baju Mama Elis Miii.”
Kami memilih duduk merumput di pinggir kolam yang airnya
sudah mongering bahkan tanahnya sampai retak-retak. Dulu, ada jembatan berwarna
merah nan cantik yang menghubungkan antara UP2B ke mushola rektorat ini. Tapi, angin
yang cukup kuat telah merobohkan jembatan yang usianya sudah cukup tua itu.
Sayangnya jembatan itu nggak dibangun kembali, ntah
karena apa dibiarkan ambruk begitu saja.
karena apa dibiarkan ambruk begitu saja.
“Banyak nyamuk ya Yank di sini kayaknya,” kata mami.
“Iya nih kayaknya Mi. Cuekin ajalah ya Mi. Yang penting
tempatnya nyaman.” *darimana bisa nyaman kalau nyata-nyata banyak nyamuk.
Hihii. “Jadi, gimana cerita mulanya Mi kok bisa Mami tahu kalau dia udah
tunangan?” tanyaku, langsung ke poinnya.
“Gini Lisss…” mami menceritakan detil kronologis kejadian
itu sampai ia tahu bahwa laki-laki itu sudah bertunangan.
Aku memperhatikan raut wajah mami. Bola matanya agak basah.
Pipinya agak merah. Aku mampu merasakan sesuatu yang sangat pedih di hatinya
sana. Tapi, aku juga bisa merasakan betapa kuatnya mami terhadap kenyataan ini.
“Yang Mam sedih itu Lis, kenapa dia mesti berbohong? Dan
Mami baru tahu dari teman sekelasnya yang juga teman Mami, bahwa dia itu udah
mempersiapkan pertunangan ini sejak jauh-jauh hari, Liisss. Dan, 3 minggu yang
lalu dia baru membuat pengakuan ke Mam bahwa cewek itu hanya dianggapnya
sebagai Adik, nggak lebih. Kakaknya pun udah curiga dan nyuruh Mami nyelidiki,
tapi ya gituuu setelah Mami tanyain baik-baik, dia mengaku hanya berteman aja.”
“Seriuslah Mi, pengen kali Elis tonjok dia tuuuhh haaa! Elis
nggak pernah kenalan sama dia tapi Elis udah lebih dulu benci sama dia. Hilang
wibawa dia tu di mata Eliss, Miii. Ya Allah, geraaaam kali Eliss haa!”
“Tadi malam, setelah Elis telvon Mami, hati ini udah agak
tenanglah Lis. Biasanya Mami nggak pernah tidur dengan lampu padam, tapi tadi
malam Mami sengaja matikan lampu dan termenung. Sebelum tidur, Mami sugestikan
ke diri Mami gini; ‘Udahlah, dia itu bukan yang terbaik buatmu. Aku harus
bersiap-siap untuk jodoh yang JAUHHH lebih baik darinya dan udah Allah
persiapkan di suatu tempat nun jauh di sanaaa. Aku harus kuat!’ Dan,
Alhamdulillah Lis meskipun waktu tadi pagi bangun tu masih agak sakit rasanya
tapi udah jauh lebih ringan daripada semalam.”
“Mi, ada 1 kalimat yang luar biasa dari Mario Teguh yang
cocok buat Mami; ‘Hanya laki-laki BAIK
yang bisa membahagiakan wanita BAIK. Tidak mungkin seorang wanita BAIK mampu
dibahagiakan oleh laki-laki yang tidak
BAIK’ dann… sekarang sudah jelas Mi, Allah ingin menjauhkan dia dari Mami
dengan cara ini. Mami harus bersyukur, karena kalau nggak dengan cara kayak
gini mungkin dia bisa membuat Mami lebih sedih nantinya.”
Mami memandangku tanpa berkedip. Mungkin ia masih terkesima
dengan nasehat Mario Teguh itu. Lalu perlahan ia mulai tersenyum.
“Iya ya Lisss. Bener.”
“Semangat Mamiii!”
“Iya Lis. Mungkin karena Mami udah terbiasa segera
menyelesaikan masalah ya Lis, makanya Mami nggak mau berlama-lama gelisah kayak
gini. Tadi malam Mami sempat berfikir; ‘Kalau aku nekat memisahkan dia dan
tunangannya itu dan akhirnya dia menikah denganku, jangan-jangan suatu saat
nanti aku pun akan dibohonginya seperti dia membohongiku hari ini’ Akhirnya
Mami tersadar lagi Lis, Mami nggak perlu memaksakan takdir supaya dia bisa
bersama Mami. Karena kalau itu terjadi, berarti Mami yang bodoh karena menerima
penghianat seperti dia. Pengkhianat bagi tunangannya ini dan pengkhianat untuk
mami nantinya.”
“Beneeer Banget, Miiii. Intinya gini, kalau dia tega
berpisah dengan tunangannya untuk mengejar Mami, maka suatu saat nanti dia
pasti akan tega meninggalkan Mami demi orang yang lebih dicintainya.”
Mami terdiam, mematung. Aku kini bertopang dagu, menerawang
beberapa kenangan dimasa lalu.
“Mi, mungkin kalau Elis di posisi Mami sekarang ini, belum
tentu loh Elis bisa sekuat Mami. Kita kan belajar menjaga hati ini awalnya
adalah dalam rangka menjaga hati dari dia yang kita suka. Dan, setelah kita
berhasil menjaga hati dari dia yang kita suka, maka kita perlahan belajar lagi
untuk menjaga hati demi siapapun jodoh yang dipilihkan Allah untuk kita.
Biasanya seperti itu urutannya. Dan, kalau Elis sedang berada di tahap awal
lalu kenyataannya Kak *** itu menikah dengan orang lain, mungkin Elis juga akan
‘jatuh’ Mi. Perjalanan menjaga hati ini memang panjang Mi. Elis yakin Mami
kuat!”
“Iya Liss, aamiin. Insya Allah. Teman-teman Mami kan pada
kepo waktu Mami bikin PM sedih gitu di BBM, tentang cuplikan perasaan Mami gitu
Lis, mereka bilang gini; Yankkk… mu
nggak apa-apa kan?. Terus Mami jawab; ‘Nggak
apa-apa. Plis ya wooyy, aku capek banget ditanya-tanya tentang ini, aku malas
membahasnya lagi. Terus mereka minta Mami cerita ke mereka Lis tentang
semua kejadian ini. Bukan apa-apa Lis, untuk menyelesaikan masalah-masalah
kecil aja mereka nggak bisa, gimana mau menyimak semua cerita mami ini? Apa
ter-cover oleh mereka? Mohon maaf, bukannya Mami mengatakan masalah Mami ini
lebih tinggi levelnya, tapi setidaknya ini bukan permasalah yang lazimnya orang
hadapi kan Liss. Mami hanya nggak pengen cerita dengan orang yang nggak tepat.
Mami bilang aja ke mereka kalau Mami sedang berusaha melupakan semua ini. Dan,
setelah semua ini berhasil Mami lupakan, Mami pun nggak akan ingin lagi untuk
menceritakannya. Elis ngerti kan?”
“Ngerti bangetlah Miii. Sabar ya Miii. Ihhh.. kok rasanya
semua ini kayak di film-film gitu ya Miii.. hahaa.”
“kalau ada yang mau memfilmkan kisah ini silahkan Lisss..
Mami nggak apa-apa haa.”
“Ntar Elis garap cerpennya ya Mi.”
“Haaa.. tulislah Lisss. Nanti Mami bacaaa. Mami bilang gini
kan ke teman-teman Mami; Jangan
tunggu-tunggu aku untuk cerita ya wooy.
Supaya mereka nggak ngarep kan Liss. Mami sampai jam 4 aja nih Lis bisa
cerita sama Elis karena Bapak Mam mau makai motornya jam setengah lima nanti.”
Aku bersiap-siap mengeluarkan kado yang tadi pagi sudah ku
bungkus. Nggak terlalu rapi sih karena buru-buru tadi. Yang penting kan isinya
yaa..
“Ini hadiahh buat Mami! Mulai hari ini Mami nggak boleh
sedih lagi pokoknya.”
“Ihhhh.. makaciiih Yaannkk. Elis ni udah seriiiing banget
ngasih Mami hadiahh sementara Mami belum
pernah ngasih Elisss.”
“HAH? Masa iya sih Mi? Bukannya ini yang pertama kalinya
ya?”
“Dulu, Elis kan pernah ngasih Mami Al-Quran warna pink.
Terus ada juga kado yang dibungkus di dalam kotak kue gitu.”
“Apa isinya memangnya Mi?”
“Lupa pula ntah apa tuh dulu isinya. Al-Quran pink itu
sekarang dipakai sama Adik Mami. Makasiih ya Elisss. Buka sekarang boleh?”
“Yap, nggak apa-apa Mi. Buka aja, semoga bermanfaat ya.
Eitsss,, tunggu dulu Mii, difoto dulu! Hehe.”
“Selalu yaaaa.”
Kemudian kadoku itu dibuka oleh mami. Dan… dia sangat suka
dengan isinya. Kebetulan, salah satunya bisa langsung digunakannya sekarang.
Alhamdulillah.
“Ihhh…cantik banget ya Liss.”
“Iya, emang Mi. Dan hampir aja Elis ngambil itu jadi milik
Elis. Sampai-sampai kata si Rini; ‘Ah, El selalu kayak gitu, kalau nemu yang
cantik pasti langsung diambil padahal udah diniatin untuk dikasihkan sama
orang!’ hahaa. Tapi, nggak jadi kok Mi. Itu kan buat Mamiiii. Semoga Mami suka
yaa.”
“Suka bingiitttsss Yank.”
“Bububuyuuu yaaa.”
“Itu artinya; Selamat
dipakai ya hadiahnya, kan Lis?”
“Hahaha.. bener miii. Kok Mami pinter banget sih mengartikan
Bububuyuuu..? ahahaha.”
Tanpa direncanakan sebelumnya, setelah kami sholat Ashar,
aku langsung mengajak mami untuk hunting foto sebagai special Guest Monthly-ku
di blog. Ahaaa! Tak diduga sebelumnya kami menemukan spot yang elok dan cantik
banget di sekitar sini. Aku mewajibkan mami untuk nurut dengan arahanku dan
mami pun dengan sukarela bersedia.
“Arahin aja Mami Lisss.. Silahkan! Mami nggak pandai doh,
Elis yang pandai kayak gini haa”
“Okeehhh.. Mami pokoknya harus nurut yaa!”
Aku bertingkah seolah seorang photographer sungguhan.
Memotret dari berbagai posisi bahkan aku sampai merumput demi mendapatkan angel
yang pas dan menampakkan view langit plus ranting pohon yang mengering. Setelah
beberapa kali jepretan dan ku rasa sudah cukup, mami pun berpamitan.
“Satu cita-cita Mami berarti udah tercapai nih Lis.”
“Apa itu Mi?”
“Salah satu dari daftar mimpi Mami itu adalah Berteman dengan Penulis. Alhamdulillah
udah kesampaian. Hehehe.”
“Alhamdulillah Mi. Buruan ya tulisannya Elis tunggu.
Ceritain aja gimana Mami dapat hidayah untuk berhijab syar’i, bagus tuh!”
“Sip! Pokoknya kalau ada yang kurang, Elis tambahin dan
percantik lah yaa. Daaa Lisss… Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Bububuyuu ya Mii.”
“Artinya; Hati-hati di jalan, kan?”
“Iyaa Mii. Hahaaa. Bener kata Lia, bububuyu itu multifungsi.
Hahaa.”
Ya Allah… jaga dia
dalam penjagaan-Mu.. aamiin
***
“Duh, ke mana ya? Anak-anak URC sekarang nggak sih
dekornya?” aku kebingungan. Mana android nggak ada sinyalnya pula nih!
Umil di mana? Kita dekornya di mana?
Ku kirim ke Yaumil. Tapi ternyata pesanku gagal terkirim.
Ah, lagi-lagi pulsa. Aku jadi teringat dengan Mr. J, mungkin lebih baik kalau
aku segera ke sana untuk konfirmasi tentang jadwal belajar dengan native
speaker. Aku melaju meninggalkan lingkungan FISIP kemudian menuju ke FKIP. Di
pertengahan jalan, aku melihat seorang laki-laki beralmamater biru langit sedang
mendorong motornya. Aku kira dia kehabisan bensin, tapi ternyata ku lihat ban
belakangnya kempes. Ah, aku nggak tahu caranya menolongnya. Ya Allah, semoga
ada laki-laki baik hati yang menolongnya mendorong motor dengan motor lainnya.
Aamiin.
“Kak Yillll?” sapaku kepada kak Yil yang sedang duduk di
teras.
Rencanaku berubah seketika. Menyinggahi kak Yil sepertinya
jauh lebih mendesak daripada ke Mr. J yang masih bisa besok saja. Lagian, sudah
3 minggu juga aku nggak mampir ke sini.
“Ke mana aja Eliss?” tanyanya.
“Di kos, kampus aja Kak. nggemukkan badan. Hahaa.”
“Apalagi yang mau ditambah? Udah gemuk gituuu.”
Aku berhasil mencairkan suasana. Setelah ngobrol-ngobrol,
aku minta dibuatkan telur penyet special kesukaanku oleh kak Yil. Kak Yil
meminta beberapa film dariku untuk dipindahkan ke flashdisknya supaya bisa
ditontong di TVnya. Aku menunggu kak Yil masak sambil memilih-milih film
untuknya. Di luar, hujam mulai me-lebat. Kalau setelah sholat Maghrib pun masih
deras, berarti aku nggak ngajar les malam ini. Tapi, ternyata Allah memintaku
untuk tetap mengajar, sehingga setelah maghrib hujan pun sempurna me-reda. Bismillahi tawakaltuu!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar