Minggu, 13 September 2015

Seharian Sendiri Bersama Diri



“Kak, Kak Elisaaa. Kaakkk…”
Suara Fajri membangunkanku. Mimpiku barusan seolah terhubung dengan suara ini, tapi ketika aku beranjak dari tempat tidur, seketika mimpiku terlupa. Ntah tentang apa tadi.
“Ya, ada apa Dek?”
“Kak, pinjam motor.”
“Mau ke mana memangnya?”
“Mama mau jumpain Papa.”
Wahhh….gaswat nih. Don’t-don’t (baca: Jangan-jangan) akan ada perkelahian lagi setelahnya. Ah, syudahlah, itu bukan urusanku.
“Nih kuncinya. Nanti pegang aja dulu ya Fajri, Kakak mau lanjut tidur nih.”
Ku picingkan mata, menatap ke layar HP. Ternyata jam 1 dini hari. Huaammmm… ada baiknya kalau aku lanjutkan tidur dulu. Alarm ku set ke jam 3. Kalau sekarang aku ngetiknya, badanku yang bakal sakit ntar. Tapi, untuk beberapa menit selanjutnya, aku belum juga berhasil tertidur. Fikiranku menembus tembok dan menelusuri jalan di sekita kosan ini. Yap, fikiranku terjaga dan berjaga di luar sana, seolah akan menyaksikan apa yang sebentar lagi terjadi.

***
Alhamdulillahillazi ath’amanaa wasaqonaa waj’allana minal muslimin…
Bersyukur aku bisa terbangun pukul 4.50wib. Terimakasih ya Allah, bangun ini sudah terasa lebih mudah sekarang. Aku memang harus mulai membiasakannya, karena nggak ada lagi Rini yang akan membangunkanku.
1 panggilan tak terjawab. Rini. Pukul 4.40wib
Ah, dia pasti berusaha membangunkanku tadi. Hemmm.. alarm yang ku set pukul 3 pun rasanya nggak terdengar di telingaku tadi. Meskipun nggak sempat tahajud, tapi setidaknya aku bisa sholat Subuh di awal waktu kali lini. Sendiri tentunya. Tanpa Rini yang ku imami.

“Makin parah aja ya Kak asapnya! Serasa kayak sedang bakar-bakar sampah aja asapnya.”
“Iya El.. makin parah.”
“El beli mie 1 dan kerupuk satu Kak.”
“Rp 3000 ya semuanya,” kak Dewi menyerahkan uang Rp 2000 kepadaku. Tapi, aku masih belum bergeming di hadapannya.
“El, kembaliannya pas kan? El kan belanjanya tiga ribuu.”
“Oh iyaa ya Kak. Kok El mikirnya kembaliannya yang tiga ribuu ya? hahah.”
“Howalahhh El, El. Gara-gara nggak malam mingguan nih semalam pastiii…”
Loh? Kok ke sana pula sih arahnya? Ahhaa. Aku langsung masuk ke kamar aja tanpa merespon tentang malam minggu. Sebenarnya, aku pengen membentuk pola baru; Nggak sarapan. Tapi, kayaknya belum pagi ini karena perutku melilit banget pemirsaaa.. kelaperan. Hiksss.
Gue udah sampek rumah. Dingin. Di sini hujan. Bububuyuu.
Received from Rincuy. 08.05.26. 13 Sept 2015

***
“Cek, pokoknya Cek siapkan betul-betul konsep LKTI Nasionalnya ya. Soalnya mau dibuat spanduknya. Mulai dari biaya pendaftaran, kapan presentase, kapan jadwal mereka tiba di sini. Semuanya ya pokoknya Cek.”
“Emang Kakak udah disetujui sebagai Co Cek?”
“Udah dah. Bang Deni udah setuju dia.”
“Okeeehhh Deh. Eh, Cek, sedang di luar kan? Tolonglah agak-agak dilihatkan koran Riau Pos hari ini. Udah terbit belum wajah Kakak di sana? Hehhe.”
“Terus? Dibeli korannya?”
“Kalau emang udah terbit, tolong belikan Cek. Tapi kalau ternyata belum terbit, nggak usah dibeli deh. Hehe.”
“Okeeh nanti Oka ke BEM aja. Soalnya kan BEM UNRI tu langganan koran juga Cek.”
“Oke deh. Makasih yaa..”

Tak lama kemudian…
“Cek, belum terbit ternyata. Hari ini cewek pakai baju pink yang terbit.”
“Siapa namanya?”
“Ntahlah lupa Okta siapa namanya. Mungkin Cek minggu depan tuhh.”
“Ya deh, semoga minggu depan terbitnya.”
Hari ini, aku berusaha melengkapi segala kekurangan diaryku di blog. Beberapa hari aja nggak diperjuangkan nih target bakal molor dan sekarang kelabakan nombokinnya. Hiksss.
Cuy, tolonog smskan Kakak lauk donk. Pesan nasi bungkus lauknya telur dadar ya. Makaciihh...
Bahkan ketika Rini udah jauh pun masih juga ku repotkan. Hiksss.. sankyu ya Riinnn udah membiayai SMS College-ku.
Kak, pesan nasi bungkus pake telur dadar 1 ke pondokan Chici, kamar bawah nomor 2.
“Lah? Ini kok SMSnya dikirim ke aku sih Cuy?” bathinku. “Nyadar nggak ya Rini kalau SMSnya salah alamat? Kayaknya sadar deh. Semoga aja.”

10 menit ku tunggu dan ternyata azan Zuhur sudah berkumandang. Aku segera sholat. Rasanya badanku agak oyong, kayaknya aku kelaperan deh pemirsaaa. Setelah sholat, pesananku nggak datang-datang juga. Badanku semakin gemetaran. Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur, berharap bisa mengalihkan perhatian dari rasa lapar ini.
Cuy, SMSnya nggak nyasar kan? Akhirnya ku SMS lagi si Rincuy. Terpaksa deh minta biayain lagi SMSku. Tak lama, pesananku datang. Ah, mungkin sebenarnya tadi Rini udah langsung sadar kalau SMSnya salah kirim. Segera  ku santap nasi bungkus yang masih hangat ini sambil menikmati film Conan.

***
Setelah Maghrib, lampu tiba-tiba padam. Wahh… udah lama banget nggak mati lampu kayak gini. Aku mulai parno dengan kegelapan. Laptopku lowbat pula, nggak ada deh pengalih perhatian yang ku punya selain HP.
“Ren, pinjam korekkk.”
Reni menyodorkan koreknya dan segera ku nyalakan lilin. Ahhh.. akhirnya kamar jadi jauh lebih terang karena satu lilin kecil ini. Ku perhatikan kamar ini, tempat tidur berserak, plastik dan bungkus makanan berserak di dekan rak piring, lantai ngeres, beuh kok bisa pula ku niatkan untuk besok saja membersihkannya? Hiiiii… Karena nggak tahu mau ngapain sekarang, akhirnya ku bereskan kamar ini. Kemarin sore sih emang udah dibereskan tata letaknya, tapi piring-piringnya belum ku cuci juga sampai sekarang, masih menumpuk di kamar mandi. Segera ku bereskan semuanya. Dan, tugasku besok pagi hanya tinggal nyuci baju saja pemirsaaa…

“Duh, nyaamuuuuukkkk!” keluhku karena dengingan suaara nyamuk serasa 2 kali lipat banyaknya saat mati lampu begini. Udah ku semprot dengan sofell tangan dan kakiku tapi tetap aja nggak mempan. Emang buas banget nih nyamuk!
Assalamualaikum Cek, profil kakak beum terbit hari ini rupanya. Cek gimana proposalnya? Yakin untuk tetap lanjut atau mundur?
Ku kirim ke Novi karena yakin Novi pasti mau membayarkan SMSku. Hufft, kok jadi parasit gini sih El? hemmm..kalau sampai besok, voucher SMS Tri-nya belum ada juga, apa boleh buat, aku harus beli pulsa.
Waalaikumsalam..wahhh..iya ya? Ntar Novi coba tanyain ke kakak tu lagi ya kak. Maju kayaknya kak. besok mau ke rektorat dan ke biro dulu. Kalau misalnya dapat, berarti maju. Kalau nggak dapat, berarti berhenti. Kata kak Yana berjuang dulu sampai titik akhir.
Wkwkwk. Cek, kok banyak kali blog Cek?

Bener tuh kata Yana Cek. Kadang, kita justru akan mantap maju atau mundur kalau udah berada di titik terakhir. Haha.. karena banyak banget ide di kepala kakak cek. Harus disalurkan.
Hahhaa..jadi, 1 ide 1 blog? Jadi blogger terkenal lah
nanti kakak yaa...

Aamiin cek. Kakak cuma nggak mau berhenti di 1 titik Cek. Kalau bisa dikembangin, akan kakak kembangin terus.

Karena nggak tahu lagi mau ngapain, akhirnya ku matikan lilin dan ku paksa mataku untuk tertidur.
Met bobok. Have a nice dream… see you again. Muaaccchhh…
Aku tersenyum membaca pesan dari mami barusan. Dan, setelah aku sempat tertidur beberapa menit, akhirnya pada jam 21.35wib, lampu menyala.
Suara “Alhamdulillaahh…” terdengar serentak dari beberapa sumber. Aku pun. Baca juga puisiku hari ini yaa.. http://elysarizka.blogspot.co.id/2015/09/1-hari-setelah-kepergianmu.html

Tidak ada komentar: