
“Kak, Kak Elisaaa. Kaakkk…”
Suara Fajri membangunkanku. Mimpiku barusan seolah terhubung
dengan suara ini, tapi ketika aku beranjak dari tempat tidur, seketika mimpiku
terlupa. Ntah tentang apa tadi.
“Ya, ada apa Dek?”
“Kak, pinjam motor.”
“Mau ke mana memangnya?”
“Mama mau jumpain Papa.”
Wahhh….gaswat nih. Don’t-don’t (baca: Jangan-jangan) akan
ada perkelahian lagi setelahnya. Ah, syudahlah, itu bukan urusanku.
“Nih kuncinya. Nanti pegang aja dulu ya Fajri, Kakak mau
lanjut tidur nih.”
Ku picingkan mata, menatap ke layar HP. Ternyata jam 1 dini
hari. Huaammmm… ada baiknya kalau aku lanjutkan tidur dulu. Alarm ku set ke jam
3. Kalau sekarang aku ngetiknya, badanku yang bakal sakit ntar. Tapi, untuk
beberapa menit selanjutnya, aku belum juga berhasil tertidur. Fikiranku
menembus tembok dan menelusuri jalan di sekita kosan ini. Yap, fikiranku
terjaga dan berjaga di luar sana, seolah akan menyaksikan apa yang sebentar
lagi terjadi.
***
Alhamdulillahillazi
ath’amanaa wasaqonaa waj’allana minal muslimin…
Bersyukur aku bisa terbangun pukul 4.50wib. Terimakasih ya
Allah, bangun ini sudah terasa lebih mudah sekarang. Aku memang harus mulai
membiasakannya, karena nggak ada lagi Rini yang akan membangunkanku.
1 panggilan tak
terjawab. Rini. Pukul 4.40wib
Ah, dia pasti berusaha membangunkanku tadi. Hemmm.. alarm
yang ku set pukul 3 pun rasanya nggak terdengar di telingaku tadi. Meskipun
nggak sempat tahajud, tapi setidaknya aku bisa sholat Subuh di awal waktu kali
lini. Sendiri tentunya. Tanpa Rini yang ku imami.
“Makin parah aja ya Kak asapnya! Serasa kayak sedang
bakar-bakar sampah aja asapnya.”
“Iya El.. makin parah.”
“El beli mie 1 dan kerupuk satu Kak.”
“Rp 3000 ya semuanya,” kak Dewi menyerahkan uang Rp 2000
kepadaku. Tapi, aku masih belum bergeming di hadapannya.
“El, kembaliannya pas kan? El kan belanjanya tiga ribuu.”
“Oh iyaa ya Kak. Kok El mikirnya kembaliannya yang tiga
ribuu ya? hahah.”
“Howalahhh El, El. Gara-gara nggak malam mingguan nih
semalam pastiii…”
Loh? Kok ke sana pula sih arahnya? Ahhaa. Aku langsung masuk
ke kamar aja tanpa merespon tentang malam minggu. Sebenarnya, aku pengen
membentuk pola baru; Nggak sarapan. Tapi, kayaknya belum pagi ini karena
perutku melilit banget pemirsaaa.. kelaperan. Hiksss.
Gue udah sampek
rumah. Dingin. Di sini hujan. Bububuyuu.
Received from Rincuy.
08.05.26. 13 Sept 2015
***
“Cek, pokoknya Cek siapkan betul-betul konsep LKTI
Nasionalnya ya. Soalnya mau dibuat spanduknya. Mulai dari biaya pendaftaran,
kapan presentase, kapan jadwal mereka tiba di sini. Semuanya ya pokoknya Cek.”
“Emang Kakak udah disetujui sebagai Co Cek?”
“Udah dah. Bang Deni udah setuju dia.”
“Okeeehhh Deh. Eh, Cek, sedang di luar kan? Tolonglah agak-agak
dilihatkan koran Riau Pos hari ini. Udah terbit belum wajah Kakak di sana? Hehhe.”
“Terus? Dibeli korannya?”
“Kalau emang udah terbit, tolong belikan Cek. Tapi kalau
ternyata belum terbit, nggak usah dibeli deh. Hehe.”
“Okeeh nanti Oka ke BEM aja. Soalnya kan BEM UNRI tu
langganan koran juga Cek.”
“Oke deh. Makasih yaa..”
Tak lama kemudian…
“Cek, belum terbit ternyata. Hari ini cewek pakai baju pink
yang terbit.”
“Siapa namanya?”
“Ntahlah lupa Okta siapa namanya. Mungkin Cek minggu depan
tuhh.”
“Ya deh, semoga minggu depan terbitnya.”
Hari ini, aku berusaha melengkapi segala kekurangan diaryku
di blog. Beberapa hari aja nggak diperjuangkan nih target bakal molor dan
sekarang kelabakan nombokinnya. Hiksss.
Cuy, tolonog smskan
Kakak lauk donk. Pesan nasi bungkus lauknya telur dadar ya. Makaciihh...
Bahkan ketika Rini udah jauh pun masih juga ku repotkan. Hiksss..
sankyu ya Riinnn udah membiayai SMS College-ku.
Kak, pesan nasi
bungkus pake telur dadar 1 ke pondokan Chici, kamar bawah nomor 2.
“Lah? Ini kok SMSnya dikirim ke aku sih Cuy?” bathinku. “Nyadar
nggak ya Rini kalau SMSnya salah alamat? Kayaknya sadar deh. Semoga aja.”
10 menit ku tunggu dan ternyata azan Zuhur sudah
berkumandang. Aku segera sholat. Rasanya badanku agak oyong, kayaknya aku
kelaperan deh pemirsaaa. Setelah sholat, pesananku nggak datang-datang juga. Badanku
semakin gemetaran. Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur, berharap bisa
mengalihkan perhatian dari rasa lapar ini.
Cuy, SMSnya nggak nyasar kan? Akhirnya ku SMS lagi si Rincuy.
Terpaksa deh minta biayain lagi SMSku. Tak lama, pesananku datang. Ah, mungkin
sebenarnya tadi Rini udah langsung sadar kalau SMSnya salah kirim. Segera ku santap nasi bungkus yang masih hangat ini
sambil menikmati film Conan.
***
Setelah Maghrib, lampu tiba-tiba padam. Wahh… udah lama
banget nggak mati lampu kayak gini. Aku mulai parno dengan kegelapan. Laptopku lowbat
pula, nggak ada deh pengalih perhatian yang ku punya selain HP.
“Ren, pinjam korekkk.”
Reni menyodorkan koreknya dan segera ku nyalakan lilin. Ahhh..
akhirnya kamar jadi jauh lebih terang karena satu lilin kecil ini. Ku
perhatikan kamar ini, tempat tidur berserak, plastik dan bungkus makanan
berserak di dekan rak piring, lantai ngeres, beuh kok bisa pula ku niatkan
untuk besok saja membersihkannya? Hiiiii… Karena nggak tahu mau ngapain
sekarang, akhirnya ku bereskan kamar ini. Kemarin sore sih emang udah
dibereskan tata letaknya, tapi piring-piringnya belum ku cuci juga sampai
sekarang, masih menumpuk di kamar mandi. Segera ku bereskan semuanya. Dan,
tugasku besok pagi hanya tinggal nyuci baju saja pemirsaaa…
“Duh, nyaamuuuuukkkk!” keluhku karena dengingan suaara
nyamuk serasa 2 kali lipat banyaknya saat mati lampu begini. Udah ku semprot
dengan sofell tangan dan kakiku tapi tetap aja nggak mempan. Emang buas banget
nih nyamuk!
Assalamualaikum Cek,
profil kakak beum terbit hari ini rupanya. Cek gimana proposalnya? Yakin untuk
tetap lanjut atau mundur?
Ku kirim ke Novi karena yakin Novi pasti mau membayarkan
SMSku. Hufft, kok jadi parasit gini sih El? hemmm..kalau sampai besok, voucher
SMS Tri-nya belum ada juga, apa boleh buat, aku harus beli pulsa.
Waalaikumsalam..wahhh..iya
ya? Ntar Novi coba tanyain ke kakak tu lagi ya kak. Maju kayaknya kak. besok
mau ke rektorat dan ke biro dulu. Kalau misalnya dapat, berarti maju. Kalau nggak
dapat, berarti berhenti. Kata kak Yana berjuang dulu sampai titik akhir.
Wkwkwk. Cek, kok
banyak kali blog Cek?
Bener tuh kata Yana
Cek. Kadang, kita justru akan mantap maju atau mundur kalau udah berada di
titik terakhir. Haha.. karena banyak banget ide di kepala kakak cek. Harus disalurkan.
Hahhaa..jadi, 1 ide 1
blog? Jadi blogger terkenal lah
nanti kakak yaa...
Aamiin cek. Kakak cuma
nggak mau berhenti di 1 titik Cek. Kalau bisa dikembangin, akan kakak kembangin
terus.
Karena nggak
tahu lagi mau ngapain, akhirnya ku matikan lilin dan ku paksa mataku untuk
tertidur.
Met bobok. Have a
nice dream… see you again. Muaaccchhh…
Aku tersenyum
membaca pesan dari mami barusan. Dan, setelah aku sempat tertidur beberapa
menit, akhirnya pada jam 21.35wib, lampu menyala.
Suara “Alhamdulillaahh…”
terdengar serentak dari beberapa sumber. Aku pun. Baca juga puisiku hari ini yaa.. http://elysarizka.blogspot.co.id/2015/09/1-hari-setelah-kepergianmu.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar