Aku pernah kehilangan seseorang yang telah melewat ribuan hari bersamaku. Sudah 2 tahun berlalu, tapi kehampaan itu masih terasa hingga kini. Hingga aku bertemu denganmu, aku berfikir bahwa kamu tak sama. Kamu berbeda. Meskipun hingga kini pun aku kerap merindukannya lewat sebut-sebut di hadapanmu. Kadang, aku berfikir, jangan-jangan kamu cemburu. Karena selama ini, hanya cemburuku saja yang selalu ku jelaskan dan kau maklumi.
Sekalipun, kau tak pernah mengisahkan bagaimana cemburumu kepadaku. Maka, hingga saat ini aku berkesimpulan bahwa kamu memang bukan pencemburu. Cemburu di matamu mungkin hanyalah tentang kebaikan orang lain yang kau rasa perlu kau tiru. Bukan tentang cemburu-cemburu tak menentu sepertiku. Tapi, inilah kita; Saling menggenapi diantara keganjilan. ^_^
***
“Mana lah orang-orang ini ya Kak Cinnn? Si Aldi katanya
sedang ada kelas.”
“Hary?”
“Nggak tahu nih Hary ke mana. Pinjam HP Kak Cin untuk SMS
ya. Biar Nila SMSin orang itu.”
Sambil menunggu yang lainnya pada ngumpul, aku dan Nila
bercerita banyak hal. Hingga ke suatu pembahasan yang sangat mengejutkan…
“…iya loh Kak Cin, gratis. Tiket pulang-pergi di tanggung,
nginapnya di Hotel bagus dan pulangnya nanti mereka dapat uang saku juga.”
“Wiiihhh..enak banget Dekkk.Berapa orang yang berangkat dari
Riau?”
“Setahu Nila ada 3 Kak Cin. Hari, Kak Bela dan Arif. Nanti
yang bulan November pun ada program ke Malaysia Kak Ciinnn. Kak Cin enaklah
udah ada timnya. Nila ni rencananya mau ngajak teman-teman yang di Jawa aja.”
“Bulan November? Acara di mana Dek?”
“Di Malaysia loh Kak Cin. Masa Kak Cin nggak tahu? Itu fully
funded juga programnya. ASEAN Meeting gituu kalau nggak salah nama acaranya.”
“Tadi Adek bilang Kakak udah ada kelompok? Maksudnya Dek?”
“Loh, bukannya Kak Cin setim sama Kak Lia ya?”
“Kapan pula Kak Lia ngajak Kakak setim sama dia?”
“Oh, berarti Nila salah.”
“Emang siapa aja teman setimnya Kak Lia yang Adek tahu?”
“Kak Cin, Kak Bela, Novi, Joni. Itu aja sih yang Nila tahu. Kan
setim ada orang Kak Cin. Setahu Nila,
Bang Fahmi yang jadi team advisornya.”
What? Ada bang Fahmi. Ada
Bela. Ada Novi. Ada Joni. Kok Lia nggak pernah ngasih tahu aku ya?
“Dek…” pandanganku kosong, fikiranku kosong. “Inilah yang
Kakak khawatirkan.”
“Apa Kak Cin?”
“Kakak nggak suka bersaing dengan sahabat sendiri. Mungkin
Kak Lia nggak ingat sama Kakak.”
“Jangan buruk sangka dulu Kak Cin, mending kita pastikan
dulu.”
Aku ada ide. Ku minta dek Nila SMS Lia untuk nanya; Kak Cin, teman sekelompok ASEAN Meting Kak
Cin siapa aja?. Niat banget akunya, sampai-sampai ngusahain pinjam HP
orang karena HPku udah kehabisan pulsa. Hiksss.
“Lah? Kak Cin, kok kita nggak pesen sama Adek tadi kalau ada
balasan di kirim ke mana ya? huaahhhh.. gimana Adek tu bisa ngasih tahu kita
kalau kita nggak ngasih tahu nomor kita Kak?”
“Huaaahhh..iya ya Dek. Mana udah pergi pula orangnya. Arggghhh,
mungkin Kak Lia balasnya ke sana tuh ntar. Hiksss. Y udahlah Dek.”
Hatiku masih tak menentu.
Kenapa nggak ngajak aku Cin? Kenapa? Aku nggak bisa bersaing denganmu. Aku jadi
teringat dengan masa laluku; Perpisahan dengan sahabat karena sebuah
persaingan. Aku nggak mau itu terulang lagi. Sedih, kecewa, bertanya-tanya,
semuanya bercampur menjadi satu saat ini. tapi, di depan Nila, aku berusaha
biasa saja. Nggak mampu ku bayangkan bagaimana aku ketika nanti bertemu Lia.
hiksss.
***
“..Kemarin aku kan posting di FB; Alhamdulillah, lolos
program yang satu ini. Terus, ada seseorang yang komen Kak; Program apa Ri?
Gratisan ya? gitu katanya.”
“Dia ngomong gitu? Ya ampuuun!” tanyaku tak percaya.
“Iya Kak. Terus , Hary jawablah; Iya Bang. Nggak lama
kemudian, Kak Owa minta ditelvon, katanya penting banget. Pas Hary telvon, Kak
Owa tu minta Hary ngelihat wallnya Abang tadi. Eh, rupanya dia balas bikin
status gini; Nggak nyangka yaa, hari gini masih ada mahasiswa yang doyang ikut
program yang dibiayai oleh Negara. Disaat rakyat Indonesia sedang krisis. Kak Owa sampai nangis Kak, dia bilang; ‘Dek, Kakak nggak
terima Adek diginiin. Emang dia fikir gampang bikin komunitas? Emang dia fikir
gampang ngumpulin orang?’ Dia emang orang kaya sih Kak, orang tuanya aja 2 2nya
dokter. Selama ini pun kalau abroad itu ya pakai uang sendiri.”
“Dia bisa ngomong kayak gitu karena dia nggak pernah
ngerasain susahnya nyari sponsor supaya kita bisa tetap pergi, Dek. Dia nggak
pernah ngerasain posisi di bawah. Lah, sekalipun program yang Adek ikuti besok
tu fully funded, itu kan memang udah ada posnya dan memang udah dianggarkan. Bukan
dana selundupan kan. Kenapa pula mesti dipermasalahin sama dia.”
“Itulah Kak yang Hary heran. Eh iya Kak, Bang Ridwan nggak
bisa pergi ternyata. Coba Kakak tanya sama Kak Owa, siapa tahu Kakak bisa
nggantiin Bang Ridwan.”
“Oke, oke, Kakak SMS nih ya Kak Owanya. Kalau ternyata bisa,
berarti Kakak bakal ngos-ngosan donk malam ini nyiapain semuanya ya Dek.”
“Iya lah Kak. Siapa tahu kan memang bisa digantiin.”
Aku bertanya ke Hary, apakah dia tahu siapa aja teman
se-timnya Lia untuk acara yang di Malaysia. Ternyata dia mengaku tahu dan
namaku disebutnya juga. Huahhhh… am i?
“Hai Ciiinn, apa kabar Cin?” sapa Bela.
“Kabar baik Ciinnn.. Ciyeee… yang mau terbang besookkk.
Oleh-oleh yaa.”
“Eh, ada program yang fully funded juga loh Cin ke Malaysia.
Yuk kita cobaaaa…” ajak Bela. Selanjutnya, dia fokus kepada HPnya.
Aku berbisik kepada Nila, “Dek Cin, tolong tanyain ke Kak
Bela pastinya, apakah Kakak ini masuk ke tim mereka atau nggak? Eh, nanyanya
jangan sampai Kakak dengar ya.”
Nila segera melaksanakan tugasnya. Leganya, ketika Bela
langsung menjelaskan kepadaku bahwa aku dan dia benar-benar se-tim. Ternyata,
selama ini mereka udah chatingan di FB. Hihiii.. berarti akunya yang kudet nih!
Hihii.. maafin aku ya Cinta… Aku pun yakin bahwa kamu nggak mungkin ninggalin
aku.
“Woooyyy..tolonglah bantuin nggeser-nggesr kursi ini wooyy,”
pinta Nila dengan imutnya.
Segala sesuatunya harus di-clear-kan hari ini. Mulai dari
tata ruang, MC, konsep, PJ-PJ, snack, spanduk, goodie bag de el el. Setelah
Ashar, dek Novi nongol bersama Lia. Aku heran, kok mereka bisa datang berdua
ya?
“Mu kok bisa kefikiran jemput Novi Cin?”
“Lah? Novi kira Kak Lia ini utusan kakak loh. Karena setelah
tadi Kakak nanyain Novi lagi di mana, Kak Lia langsung nongol. Oh, utusan Kak
Elis nih pasti! Fikir Novi.”
“Hehhee.. nggak tahu juga Cin kenapa tadi kok tiba-tiba
ingat dia. Kebetulan pula udah nggak ada urusan lagi di kampus.”
Karena Novi belum mengenal siapapun di sini kecuali Nila dan
Lia, maka ia duduk di dekat soundsystem, memperhatikanku dan Bela latihan nge-MC.
“Eh, cobalah iringi kami pakai backsound wooyyy, biar bisa
langsung klop nih!” pinta Bela.
Ada dek Romi yang menjadi PJ soundsistem hari ini.
“Novi ada backsound nih Cek!” kata Novi.
“Udah lengkap tuh Dek untuk rangkaian seminar?”
“Udahhh…”
Novi mendadak punya kegiatan. Dia yang ngatur sound effect,
yang bacain prolog pemanggilan MC dan dia yang nyaranin gimana ke luar dan
masuknya sesi.
“Cek, gimana kalau Cek baca puisi besok waktu pembukaan?
Kakak udah tanya sama Joshua, dia setuju.”
“Ngapain Novi baca puisi Cek? Nggak tempatnya loh. Ini bukan
lomba puisi.”
“Iya, memang bukan. Tapi, Kakak pengen Novi ‘muncul’ besok. Bacain
aja puisi tentang Indonesia atau pemuda Cek. Cucok tuh.”
“Nggak mau ah Cek. Novi ngendaliin soundsistem aja!”
tegasnya.
“Ohh..oke,” pasrahku. Baru kali ini aku ditolak seperti ini.
Agak sakit rasanya. Tapi, cepat-cepat ku obati dengan menyadarkan diri bahwa
ada kalanya aku nggak bisa membuat orang sama sepertiku. Hemmm… padahal niat
Kakak, pengen membuatmu ‘dikenal’ loh Dek. Kakak pun kalau ditempat baru, biasanya
Kakak ingin memikul suatu tugas yang membuat semua orang tahu; “Hey, aku ada
loh di sini!”. Tapi, baiklah Dek, itu pilihanmu.
***
Biasanya, yang duduk di belakangku dan selalu ku bonceng
adalah Rini. Tapi, hari ini dan beberapa hari yang telah berlalu tanpanya sudah
beberapa orang yang menggantikan posisinya. Kali ini Novi. Kami baru saja
selesai dari dekorasi dan gladi resik acara workshop besok pagi. Karena sudah
maghrib, ku singgahkan Novi di mushola Arrafah. Sambil menunggunya sholat, aku
berniat untuk mengangsurkan tulisan. Tapi, baru saja jemari mulai menari…
“Cek di mana?”
“Di Arrafah.”
“Udah makan?”
“Belum.”
“Ya udah Okta ke sana.”
Belum sempat aku menarik nafas baru, Okta udah berada di belakangku,
di teras mushola. Huaahhhh!
“Sini!”
Aku menolak. Tapi, Okta memaksaku untuk ke luar. Dia mau
lihat baju panitia untuk acara besok. Pas ku tunjukin kaosnya, dia histeris
karena suka banget dengan kaosnya. Aku yang tadinya udah batalin pesanan untuk
bajunya akhirnya dipaksa untuk memesan kembali kaos itu.
“Muat lah Cekk. Ini kan melar bahannya. Elastis. Pasti muat sama Okta. Cepat pesankan yang XL!”
Awalnya, aku memesan ukuran XXXL untuknya, tapi karena
ternyata ukuran yang terbesar hanya XL, makanya ku batalkan ditambah lagi
setelah melihat Hari ketika tadi memakainya. Maka untuk Okta, aku semakin tak
yakin.
“Kita mampir dulu ke suatu tempat ya Cek!” pekikku kepada
Okta dari atas motor.
Oh…inilah kiranya
tempat les bahasa inggris yang diceritakan Novi kemarin; Mr. J English
Course, we present to solve your problem!
“Kak Cek, sinilah masuk dulu!” ajak Novi kepadaku.
Ah, benar juga. Kenapa aku nggak masuk? Setidaknya aku bisa
ngobrol dengan si Mr. di dalam, bakal seru kayaknya.
“Hello Sir..”
“Oh ya, please. Just sit down, come on…”
Aku duduk di tengah, Okta di sebelah kanan dan Novi di
sebelah kiri. Ternyata firasatku benar, kami bukan hanya diajak bicara tentang
program yang mereka tawarkan, tapi kami
juga dinasehati banyak hal tentang mengajar dari pengalamannya menjadi guru
puluhan tahun.
“Dek, zaman sekarang kalau lihat anak muda pandai berbahasa
inggris itu udah biasa. Nah, kalau ada yang masih belum bisa berbahasa inggris
itu loh yang luar biasa. Makanya bro, ku sarankan kau ambil yang kelas Beginner
ini dulu. Karena kau benar-benar buta ku lihat,” jelas Mr. Jay dengan logat
bataknya.
“Udah sejak lama Bang, saya pengen ikut les bahasa inggris
ini. Nanti dijamin nggak Bang setelah 3 bulan saya bisa bahasa inggris?” tanya
Okta, ragu.
“Gini ya, sejak ngajar, Abang nggak pernah menggaransi orang
bisa menguasai bahasa inggris dalam waktu tertentu. Tapi, kalau kau mau serius
Dek, nggak usah nunggu 3 bulan, sebulan pun udah bisa. Gini Dek, cara yang
paling cepat dan mudahnya menguasai banyak vocab itu, waktu kau jalan dari kos
ke kampus atau dari kos ke mana pun itu, coba transletkan setiap benda yang kau
lihat di jalan; lampu lalu lintas, perempatan jalan, mobil, pembelokan, semuanya
lah pokoknya!”
“Gitu ya Bang?”
“Dengarkan aku Dek, everything
is possible if you want. Itu dia kuncinya. Apapun adalah mungkin asal kamu
mau.”
Mendengar penjelasan bang Jay bahwa kami boleh datang 2 kali
dalam sehari untuk latihan speaking, aku yang tadinya udah memutuskan untuk
nggak ikut akhirnya berubah fikiran. Ada 3 hal yang aku lihat; 1. Kunci belajar
speaking itu kita harus bisa keep in speak dengan guru kita, nah insya allah
aku bisa dapatkan itu di sini. 2. Pergaulannya. Aku pengen melebarkan ‘link’ di
sini. Kalau aku nggak bergabung, bagaimana aku bisa dengan leluasa
‘keluar-masuk’ ke sini? 3. Aku ingin membentuk kampung inggris di desaku. How
delighted.
“Bang, saya pengen banget daftar nih. Tapi, uang saya nggak
cukup untuk saat ini.”
“Banyak juga yang daftar ini ngadu seperti itu sama saya
Dek, jadi saya kasih keringanan deh. Boleh diangsur, tapi dalam seminggu ini
dilunasinya. Karena kalau daftar setelah hari ini, akan dikenakan biaya
pendaftaran Rp 200.000, jadi totalnya Rp 700.000. Rp 500.000 itu untuk setahun
ya.”
Aku berbisik ke Novi.
“Bisik-bisik tetanggaa,,” Okta mulai bernyanyi.
Aku meminjam uang Novi Rp 100.000 supaya bisa langsung deal
karena ini hari terakhir mereka launching.
“Kalian semester berapa dek?”
“Saya semester 5. Abang ini semester 7. Kakak ini semester
9.”
“Kendalanya di mana Dek?” tanya Mr. Jay dan menghentikan
coretannya pada kwitansi.
“Nggak ada kendala Bang, hehhee.”
“Kau mau ngajar les Dek? Abang punya rencana besar untuk
Adek-adek yang berasal dari FKIP. Pengen sekali Abang berbagi gimana cara
mengajar. Seorang tutor Bimbel kalau disuruh jadi guru, bakal kejang-kejang
Dek, karena semua jenis anak berkumpul di situ. Nah, kalau dari guru jadi tutor
bimbel, pasti bisa menguasai kelas dengan baik, tapi mungkin wawasannya yang
agak kurang. Karena, tutor itu dianggap murid sebagai orang yang serba tahu
Dek.”
Ketika obrolan kami semakin seru, Mr. Jay mau memanggilkan
si bule dari prancis untuk ikut ngobrol dengan kami. Tapi….
“Eh, jangan dulu Bang, nanti nggak surprise lagi! Hehehe,”
cegahku.
“Iya Bang, kami juga agak buru-buru ini,” tambah Okta.
Aku tahu udah sejak tadi dia lapar, makanya mau ngajakin
kami makan bareng. Cukup lama juga kami di sini ternyata.
“Makan di mana kita Bang Okta?”
“Tempat Ajo.”
“Ajo mana?”
“Pokoknya Ajo. Ayok ajolah!”
“Ahaaa! Ide judul blog hari ini Cek; AJO- AYOK AJOLAH!
hahaaaa…”
“Eh, iya ya? Kok bisa cocok gitu. hahaa.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar