Sabtu, 19 September 2015

AJO; Ayok Ajolah!




 Aku pernah kehilangan seseorang yang telah melewat ribuan hari bersamaku. Sudah 2 tahun berlalu, tapi kehampaan itu masih terasa hingga kini. Hingga aku bertemu denganmu, aku berfikir bahwa kamu tak sama. Kamu berbeda. Meskipun hingga kini pun aku kerap merindukannya lewat sebut-sebut di hadapanmu. Kadang, aku berfikir, jangan-jangan kamu cemburu. Karena selama ini, hanya cemburuku saja yang selalu ku jelaskan dan kau maklumi.

Sekalipun, kau tak pernah mengisahkan bagaimana cemburumu kepadaku. Maka, hingga saat ini aku berkesimpulan bahwa kamu memang bukan pencemburu. Cemburu di matamu mungkin hanyalah tentang kebaikan orang lain yang kau rasa perlu kau tiru. Bukan tentang cemburu-cemburu tak menentu sepertiku. Tapi, inilah kita; Saling menggenapi diantara keganjilan. ^_^

***
“Mana lah orang-orang ini ya Kak Cinnn? Si Aldi katanya sedang ada kelas.”
“Hary?”
“Nggak tahu nih Hary ke mana. Pinjam HP Kak Cin untuk SMS ya. Biar Nila SMSin orang itu.”
Sambil menunggu yang lainnya pada ngumpul, aku dan Nila bercerita banyak hal. Hingga ke suatu pembahasan yang sangat mengejutkan…
“…iya loh Kak Cin, gratis. Tiket pulang-pergi di tanggung, nginapnya di Hotel bagus dan pulangnya nanti mereka dapat uang saku juga.”
“Wiiihhh..enak banget Dekkk.Berapa orang yang berangkat dari Riau?”
“Setahu Nila ada 3 Kak Cin. Hari, Kak Bela dan Arif. Nanti yang bulan November pun ada program ke Malaysia Kak Ciinnn. Kak Cin enaklah udah ada timnya. Nila ni rencananya mau ngajak teman-teman yang di Jawa aja.”
“Bulan November? Acara di mana Dek?”
“Di Malaysia loh Kak Cin. Masa Kak Cin nggak tahu? Itu fully funded juga programnya. ASEAN Meeting gituu kalau nggak salah nama acaranya.”
“Tadi Adek bilang Kakak udah ada kelompok? Maksudnya Dek?”
“Loh, bukannya Kak Cin setim sama Kak Lia ya?”
“Kapan pula Kak Lia ngajak Kakak setim sama dia?”
“Oh, berarti Nila salah.”

“Emang siapa aja teman setimnya Kak Lia yang Adek tahu?”
“Kak Cin, Kak Bela, Novi, Joni. Itu aja sih yang Nila tahu. Kan setim ada  orang Kak Cin. Setahu Nila, Bang Fahmi yang jadi team advisornya.”
What? Ada bang Fahmi. Ada Bela. Ada Novi. Ada Joni. Kok Lia nggak pernah ngasih tahu aku ya?
“Dek…” pandanganku kosong, fikiranku kosong. “Inilah yang Kakak khawatirkan.”
“Apa Kak Cin?”
“Kakak nggak suka bersaing dengan sahabat sendiri. Mungkin Kak Lia nggak ingat sama Kakak.”
“Jangan buruk sangka dulu Kak Cin, mending kita pastikan dulu.”
Aku ada ide. Ku minta dek Nila SMS Lia untuk nanya; Kak Cin, teman sekelompok ASEAN Meting Kak Cin siapa aja?. Niat banget akunya, sampai-sampai ngusahain pinjam HP orang karena HPku udah kehabisan pulsa. Hiksss.
“Lah? Kak Cin, kok kita nggak pesen sama Adek tadi kalau ada balasan di kirim ke mana ya? huaahhhh.. gimana Adek tu bisa ngasih tahu kita kalau kita nggak ngasih tahu nomor kita Kak?”
“Huaaahhh..iya ya Dek. Mana udah pergi pula orangnya. Arggghhh, mungkin Kak Lia balasnya ke sana tuh ntar. Hiksss. Y udahlah Dek.”
Hatiku masih tak menentu. Kenapa nggak ngajak aku Cin? Kenapa? Aku nggak bisa bersaing denganmu. Aku jadi teringat dengan masa laluku; Perpisahan dengan sahabat karena sebuah persaingan. Aku nggak mau itu terulang lagi. Sedih, kecewa, bertanya-tanya, semuanya bercampur menjadi satu saat ini. tapi, di depan Nila, aku berusaha biasa saja. Nggak mampu ku bayangkan bagaimana aku ketika nanti bertemu Lia. hiksss.

***
“..Kemarin aku kan posting di FB; Alhamdulillah, lolos program yang satu ini. Terus, ada seseorang yang komen Kak; Program apa Ri? Gratisan ya? gitu katanya.”
“Dia ngomong gitu? Ya ampuuun!” tanyaku tak percaya.
“Iya Kak. Terus , Hary jawablah; Iya Bang. Nggak lama kemudian, Kak Owa minta ditelvon, katanya penting banget. Pas Hary telvon, Kak Owa tu minta Hary ngelihat wallnya Abang tadi. Eh, rupanya dia balas bikin status gini; Nggak nyangka yaa, hari gini masih ada mahasiswa yang doyang ikut program yang dibiayai oleh Negara. Disaat rakyat Indonesia sedang krisis. Kak Owa sampai nangis Kak, dia bilang; ‘Dek, Kakak nggak terima Adek diginiin. Emang dia fikir gampang bikin komunitas? Emang dia fikir gampang ngumpulin orang?’ Dia emang orang kaya sih Kak, orang tuanya aja 2 2nya dokter. Selama ini pun kalau abroad itu ya pakai uang sendiri.”

“Dia bisa ngomong kayak gitu karena dia nggak pernah ngerasain susahnya nyari sponsor supaya kita bisa tetap pergi, Dek. Dia nggak pernah ngerasain posisi di bawah. Lah, sekalipun program yang Adek ikuti besok tu fully funded, itu kan memang udah ada posnya dan memang udah dianggarkan. Bukan dana selundupan kan. Kenapa pula mesti dipermasalahin sama dia.”
“Itulah Kak yang Hary heran. Eh iya Kak, Bang Ridwan nggak bisa pergi ternyata. Coba Kakak tanya sama Kak Owa, siapa tahu Kakak bisa nggantiin Bang Ridwan.”
“Oke, oke, Kakak SMS nih ya Kak Owanya. Kalau ternyata bisa, berarti Kakak bakal ngos-ngosan donk malam ini nyiapain semuanya ya Dek.”
“Iya lah Kak. Siapa tahu kan memang bisa digantiin.”
Aku bertanya ke Hary, apakah dia tahu siapa aja teman se-timnya Lia untuk acara yang di Malaysia. Ternyata dia mengaku tahu dan namaku disebutnya juga. Huahhhh… am i?
“Hai Ciiinn, apa kabar Cin?” sapa Bela.
“Kabar baik Ciinnn.. Ciyeee… yang mau terbang besookkk. Oleh-oleh yaa.”
“Eh, ada program yang fully funded juga loh Cin ke Malaysia. Yuk kita cobaaaa…” ajak Bela. Selanjutnya, dia fokus kepada HPnya.

Aku berbisik kepada Nila, “Dek Cin, tolong tanyain ke Kak Bela pastinya, apakah Kakak ini masuk ke tim mereka atau nggak? Eh, nanyanya jangan sampai Kakak dengar ya.”
Nila segera melaksanakan tugasnya. Leganya, ketika Bela langsung menjelaskan kepadaku bahwa aku dan dia benar-benar se-tim. Ternyata, selama ini mereka udah chatingan di FB. Hihiii.. berarti akunya yang kudet nih! Hihii.. maafin aku ya Cinta… Aku pun yakin bahwa kamu nggak mungkin ninggalin aku.
“Woooyyy..tolonglah bantuin nggeser-nggesr kursi ini wooyy,” pinta Nila dengan imutnya.
Segala sesuatunya harus di-clear-kan hari ini. Mulai dari tata ruang, MC, konsep, PJ-PJ, snack, spanduk, goodie bag de el el. Setelah Ashar, dek Novi nongol bersama Lia. Aku heran, kok mereka bisa datang berdua ya?
“Mu kok bisa kefikiran jemput Novi Cin?”
“Lah? Novi kira Kak Lia ini utusan kakak loh. Karena setelah tadi Kakak nanyain Novi lagi di mana, Kak Lia langsung nongol. Oh, utusan Kak Elis nih pasti! Fikir Novi.”
“Hehhee.. nggak tahu juga Cin kenapa tadi kok tiba-tiba ingat dia. Kebetulan pula udah nggak ada urusan lagi di kampus.”

Karena Novi belum mengenal siapapun di sini kecuali Nila dan Lia, maka ia duduk di dekat soundsystem, memperhatikanku dan Bela latihan nge-MC.
“Eh, cobalah iringi kami pakai backsound wooyyy, biar bisa langsung klop nih!” pinta Bela.
Ada dek Romi yang menjadi PJ soundsistem hari ini.
“Novi ada backsound nih Cek!” kata Novi.
“Udah lengkap tuh Dek untuk rangkaian seminar?”
“Udahhh…”
Novi mendadak punya kegiatan. Dia yang ngatur sound effect, yang bacain prolog pemanggilan MC dan dia yang nyaranin gimana ke luar dan masuknya sesi.
“Cek, gimana kalau Cek baca puisi besok waktu pembukaan? Kakak udah tanya sama Joshua, dia setuju.”
“Ngapain Novi baca puisi Cek? Nggak tempatnya loh. Ini bukan lomba puisi.”
“Iya, memang bukan. Tapi, Kakak pengen Novi ‘muncul’ besok. Bacain aja puisi tentang Indonesia atau pemuda Cek. Cucok tuh.”
“Nggak mau ah Cek. Novi ngendaliin soundsistem aja!” tegasnya.
“Ohh..oke,” pasrahku. Baru kali ini aku ditolak seperti ini. Agak sakit rasanya. Tapi, cepat-cepat ku obati dengan menyadarkan diri bahwa ada kalanya aku nggak bisa membuat orang sama sepertiku. Hemmm… padahal niat Kakak, pengen membuatmu ‘dikenal’ loh Dek. Kakak pun kalau ditempat baru, biasanya Kakak ingin memikul suatu tugas yang membuat semua orang tahu; “Hey, aku ada loh di sini!”. Tapi, baiklah Dek, itu pilihanmu.

***
Biasanya, yang duduk di belakangku dan selalu ku bonceng adalah Rini. Tapi, hari ini dan beberapa hari yang telah berlalu tanpanya sudah beberapa orang yang menggantikan posisinya. Kali ini Novi. Kami baru saja selesai dari dekorasi dan gladi resik acara workshop besok pagi. Karena sudah maghrib, ku singgahkan Novi di mushola Arrafah. Sambil menunggunya sholat, aku berniat untuk mengangsurkan tulisan. Tapi, baru saja jemari mulai menari…
“Cek di mana?”
“Di Arrafah.”
“Udah makan?”
“Belum.”
“Ya udah Okta ke sana.”
Belum sempat aku menarik nafas baru, Okta udah berada di belakangku, di teras mushola. Huaahhhh!
“Sini!”
Aku menolak. Tapi, Okta memaksaku untuk ke luar. Dia mau lihat baju panitia untuk acara besok. Pas ku tunjukin kaosnya, dia histeris karena suka banget dengan kaosnya. Aku yang tadinya udah batalin pesanan untuk bajunya akhirnya dipaksa untuk memesan kembali kaos itu.
“Muat lah Cekk. Ini kan melar bahannya. Elastis. Pasti muat sama Okta. Cepat pesankan yang XL!”

Awalnya, aku memesan ukuran XXXL untuknya, tapi karena ternyata ukuran yang terbesar hanya XL, makanya ku batalkan ditambah lagi setelah melihat Hari ketika tadi memakainya. Maka untuk Okta, aku semakin tak yakin.
“Kita mampir dulu ke suatu tempat ya Cek!” pekikku kepada Okta dari atas motor.
Oh…inilah kiranya tempat les bahasa inggris yang diceritakan Novi kemarin; Mr. J English Course, we present to solve your problem!
“Kak Cek, sinilah masuk dulu!” ajak Novi kepadaku.
Ah, benar juga. Kenapa aku nggak masuk? Setidaknya aku bisa ngobrol dengan si Mr. di dalam, bakal seru kayaknya.
“Hello Sir..”
“Oh ya, please. Just sit down, come on…”
Aku duduk di tengah, Okta di sebelah kanan dan Novi di sebelah kiri. Ternyata firasatku benar, kami bukan hanya diajak bicara tentang program  yang mereka tawarkan, tapi kami juga dinasehati banyak hal tentang mengajar dari pengalamannya menjadi guru puluhan tahun.
“Dek, zaman sekarang kalau lihat anak muda pandai berbahasa inggris itu udah biasa. Nah, kalau ada yang masih belum bisa berbahasa inggris itu loh yang luar biasa. Makanya bro, ku sarankan kau ambil yang kelas Beginner ini dulu. Karena kau benar-benar buta ku lihat,” jelas Mr. Jay dengan logat bataknya.

“Udah sejak lama Bang, saya pengen ikut les bahasa inggris ini. Nanti dijamin nggak Bang setelah 3 bulan saya bisa bahasa inggris?” tanya Okta, ragu.
“Gini ya, sejak ngajar, Abang nggak pernah menggaransi orang bisa menguasai bahasa inggris dalam waktu tertentu. Tapi, kalau kau mau serius Dek, nggak usah nunggu 3 bulan, sebulan pun udah bisa. Gini Dek, cara yang paling cepat dan mudahnya menguasai banyak vocab itu, waktu kau jalan dari kos ke kampus atau dari kos ke mana pun itu, coba transletkan setiap benda yang kau lihat di jalan; lampu lalu lintas, perempatan jalan, mobil, pembelokan, semuanya lah pokoknya!”
“Gitu ya Bang?”
“Dengarkan aku Dek, everything is possible if you want. Itu dia kuncinya. Apapun adalah mungkin asal kamu mau.”
Mendengar penjelasan bang Jay bahwa kami boleh datang 2 kali dalam sehari untuk latihan speaking, aku yang tadinya udah memutuskan untuk nggak ikut akhirnya berubah fikiran. Ada 3 hal yang aku lihat; 1. Kunci belajar speaking itu kita harus bisa keep in speak dengan guru kita, nah insya allah aku bisa dapatkan itu di sini. 2. Pergaulannya. Aku pengen melebarkan ‘link’ di sini. Kalau aku nggak bergabung, bagaimana aku bisa dengan leluasa ‘keluar-masuk’ ke sini? 3. Aku ingin membentuk kampung inggris di desaku. How delighted.

“Bang, saya pengen banget daftar nih. Tapi, uang saya nggak cukup untuk saat ini.”
“Banyak juga yang daftar ini ngadu seperti itu sama saya Dek, jadi saya kasih keringanan deh. Boleh diangsur, tapi dalam seminggu ini dilunasinya. Karena kalau daftar setelah hari ini, akan dikenakan biaya pendaftaran Rp 200.000, jadi totalnya Rp 700.000. Rp 500.000 itu untuk setahun ya.”
Aku berbisik ke Novi.
“Bisik-bisik tetanggaa,,” Okta mulai bernyanyi.
Aku meminjam uang Novi Rp 100.000 supaya bisa langsung deal karena ini hari terakhir mereka launching.
“Kalian semester berapa dek?”
“Saya semester 5. Abang ini semester 7. Kakak ini semester 9.”
“Kendalanya di mana Dek?” tanya Mr. Jay dan menghentikan coretannya pada kwitansi.
“Nggak ada kendala Bang, hehhee.”
“Kau mau ngajar les Dek? Abang punya rencana besar untuk Adek-adek yang berasal dari FKIP. Pengen sekali Abang berbagi gimana cara mengajar. Seorang tutor Bimbel kalau disuruh jadi guru, bakal kejang-kejang Dek, karena semua jenis anak berkumpul di situ. Nah, kalau dari guru jadi tutor bimbel, pasti bisa menguasai kelas dengan baik, tapi mungkin wawasannya yang agak kurang. Karena, tutor itu dianggap murid sebagai orang yang serba tahu Dek.”

Ketika obrolan kami semakin seru, Mr. Jay mau memanggilkan si bule dari prancis untuk ikut ngobrol dengan kami. Tapi….
“Eh, jangan dulu Bang, nanti nggak surprise lagi! Hehehe,” cegahku.
“Iya Bang, kami juga agak buru-buru ini,” tambah Okta.
Aku tahu udah sejak tadi dia lapar, makanya mau ngajakin kami makan bareng. Cukup lama juga kami di sini ternyata.
“Makan di mana kita Bang Okta?”
“Tempat Ajo.”
“Ajo mana?”
“Pokoknya Ajo. Ayok ajolah!”
“Ahaaa! Ide judul blog hari ini Cek; AJO- AYOK AJOLAH! hahaaaa…”
“Eh, iya ya? Kok bisa cocok gitu. hahaa.”

Tidak ada komentar: