“Kemarin tu
sebenarnya ada anak UIN Lis yang mau ngajar les Indah, tapi Kakak ragu. Kakak
bilang aja; ‘Sebenarnya ada Adek Kakak yang ngajar les Indah biasanya. Kemarin
dia memang nggak bisa, cobalah Kakak hubungi dia dulu ya. nanti kalau memang
dia nggak bisa, sama Adek aja Indah lesnya’. Syukurlah ternyata Elis bisa.”
Ya Allah,
bagaimana mungkin aku menolak orang yang sangat mengeharapkan dan mempercayaiku
seperti ini? Subhanallahi wabikhamdi.
“Dia agak
kecewa sih kalau Kakak lihat, tapi mau gimana lagi Lis. Elis tahu sendiri lah
gimana rumah ini, anak-anak berdua aja di rumah, Kakak sama Abang jualan sampai
malam. Kita kan harus waspada Lis, jangan sampai salah pilih orang.”
“Kakak
memang pas banget loh kemarin waktu nawarin ke Elis, soalnya Elis memang lagi
pengen ngajar untuk ngisi kekosongan ini Kak. Makasih ya Kak. Elis justru segan
karena udah lamaaaa banget nggak main ke sini, takut Kakak marah juga.”
“Ndak apa
doh Dek. Kakak bersyukur Elis bisa ngajar les Indah lagi.”
Ya Allah,
tolong katakan bagaimana caraku membalas kepercayaan yang satu ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar