“Jam berapa El?”
“Tiga.”
Rini siuman karena mendengar gerakanku mencabut cas laptop.
Yap, lagi-lagi aku ketiduran dengan keadaan laptop yang masih menyala dan
tercas. Hiksss… maafkan aku laptop. Karena merasa bersalah kepada laptop dan
juga diri sendiri, aku langsung meraih laptopku dan kembali menggarap blog
dengan mata full on.
Ya Allah, mungkin
inilah hikmah kalau tidur dibawah jam 23.00wib; aku bisa bangun sedini ini dan
menikmati heningnya sepertiga malam.
Waah… ternyata ngetik di jam-jam ini lebih khusyuk dan fokus
ya! kayaknya bagus juga nih kalau diterusin untuk membentuk pola keseharianku.
Hemmm… patut dicoba!
“Cuy! Tahajudd!” aku membangunkan Rini pukul 4.35wib.
Rini melenguh dan mengulet.
Eh, tiba-tiba aku terfikir, jangan-jangan penyebabku bisa
terbangun ini bukan karena tidur lebih awal, tapi karena tidurku belum
diniatin. Ibaratnya badanku ini tidur karena nggak sengaja, bukan karena maunya
hati. Hikss.. kasihan donk badan ini kalau gitu. Maafin aku, diriku…
Ya Allah, ini adalah
tahajud dan sholat subuhku berdampingan dengan Rini. Esok, ketika aku bangun,
tidak ada lagi sosoknya di sampingku. Engkau pasti tahu betapa beratnya aku
atas semua ini. Tapi, bukankah ini adalah perpisahan menuju tempat yang lebih
baik? Bukan karena permusuhan atau kebencian. Hamba mohon, jaga ia di sana dan
hebatkan aku di sini. Mungkin, ada sesuatu yang Engkau rencanakan untukku dalam
sendiriku ini. Datangkanlah ya Allah. Aamiin.
***
“Asapnya tebal kali ya Allah. Uhukk..uhukk.. sampai terasa
kali di tenggorokan.”
“Iya nih Rin. Kan waktu kemarin dijelasin, kalau udara itu
lebih pekat dan lembab ketika pagi, makanya asapnya parah banget gini. Ntar
kalau udah ada matahari, baru agak mendingan tu. Gimana rencana kita donk?”
“Kata Oka miscall aja dia nanti karena dia mau tidur lagi.”
“Atau kita nggak usah jogging, Rin? Kita sarapan bareng aja,
gimana? Ahaaa! Biar ku masakin nasi goreng sini!”
“Tumben?”
“Ya eyalaaahhh. Hari terakhir tapi?”
“Oke, biar ku masak nasinya yaa. Eh, tapi kompornya El?
Berarti kita harus minjam lagi sama si kawan itu?”
“Eh, iya yaa. Segan kita. Mungkin, dia marah tu gara-gara
kita nggak naruk lagi ke dapur setelah kita pakai Rinnn. Ya aku mana tahu, ku
kira kemarin tu dia mau masak di kamarnya kaaan, makanya nggak ku kembalikan ke
dapur.”
“Hemmm… gimana ni jadinya?”
“Ya udah, kita cobain soto di tempat Ibuk itu aja yuk?”
“Boleh. Siapa takut. Hiksss… besok aku udah di rumah dan El
sendiriaaann.. daaa..daaa… El.”
“Huhuuuu…iyaaa..”
“Kita pasti akan bertemu lagi. Kalau nggak di dunia, semoga
di syurgaaa…”
“Aamiinnn.. huaaa… ngeri kali emang si kawan satu ini
bahasanya. Bener banget, kita berpisah bukan karena bermusuhan atau kebencian.
Tapi, demi tempat yang lebih baik lagi.”
“Iya Rin. Soalnya kan aku udah beberapa kali kehilangan
persahabatan karena permusuhan dan akhirnya waktu benar-benar berpisah raga,
rasa sedih itu nggak terasa. Kita kan nggak gitu Rin.”
“Ngeri daaannkk.”
“Iya, jadi ternyata kemarin-kemarin itu defenisinya adalah mengalami
perpisahan hati sebelum perpisahan raga.”
“Arassoohh.”
Setelah ini, semuanya
akan jadi lebih sulit Rin. Aku tidak bisa se-leluasa ini bercerita kepadamu.
Aku akan butuh biaya, kesempatan untuk menghubungimu. Dan, kau pun butuh biaya,
kesempatan untuk meresponku. Selama kau di sini, aku bisa bebas bertanya di mana
kunci motorku, bertanya pakaian mana yang lebih bagus ku pakai, bertanya gara
jilbab seperti apa yang cocok untukku, bertanya draft tulisan sebelum ku
posting ke blog dan menceritakan ide-ide gila yang tiba-tiba melintas di
kepalaku. Semudah itulah aku kepadamu selama ini. Lalu, setelah hari ini
mungkin Semuanya akan menjadi baru Rin. Kita.
***
“Jadi nya kita sarapan ni?” tanyaku ketika sudah pukul
08.00wib.
“Jadilah. Aku udah lapar kali pun,” jawab Rini sambil
mematut film Soekarno-nya. “Heh, kau
diam lah Nisss.. nonton film Soekarno ini haa! Kalau nggak gara-gara
perjuangannya, kau nggak bisa main-main kayak gini Niiss!” kata Rini kepada
kucing belang-belang hitam itu.
“Bener tuh Nis! Kalau kita masih dijajah, kau udah disuruh
Belanda untuk ngangkutin batu, tau nggak!”
“Loh?” Rini keheranan mendengar kalimat pungutanku barusan. “Diamlah
kau Niss, jangan lasak betulll! Nggak ngerti perjuangan pahlawan kau ini bah!”
tambah Rini pula. “El, lihatlah peta ini,” Rini menyodorkan androinya. “Ini
Siantar. Kalau mau ke Danau Toba cuma 1,5 jam. Kalau mau ke Meda cuma 2,5 jam. Strategis
kan? Ayoklah cepat El mau ke sana. Cepat El selesaikan SKRIPSI El tuuu! Minimal
udah ujian Proposal dulu.”
“Hiksss… iya Rin. Doain aku ya.”
“El pun lama kali ujiannya. Aku pengen lihat padahal. Hemmm..gimana
ya El kalau sedang ujian. Hihi.”
“Ntah tuh KaProdiku ntah kapan-kapan ngasih jadwal ujiannya.
Eh, Sarapan pagi ini, biar aku yang nraktir ya.”
“Nggak usah lagi El.”
“Loh, kok Rini pula yang melarangku? Suka-suka akulah mau
nraktir Rini.”
“Hemmm… ya udah deh, kalau El maksa. Aku bilang ya sama Okta; Okta, kita sarapan bareng yuk! Elcek yang nraktir.”
"Yuhuuuu...yaaa.. ini kan hari terakhir Rini di sini."
"Kan aku balik lagi ke sini nyaaa. Kata Okta; Ciyuusss nih ditraktir? Aku mau adek. Haha, udah ketularan kita nih si Okta."
"Tanggal berapa rupanya Rini ke sininya?"
"Ya, tanggal 20 anlah setelah lebaran. Lagian, barang-barangku ini pun masih banyak yang nggak bisa ku angkut sekarang. Ahaa! Besok kan waktu aku wisuda, Bapak dan Abangku datang, paling-paling mereka cuma 2 hari aja di sini. Biar ku titipkan aja barang-barang ini duluan sama mereka."
Sebenarnya, aku punya pertanyaan lagi; Berapa lama Rini akan di sini setelah wisuda? Tapi, aku memilih untuk tidak menanyakannya. Aku nggak sanggup kalau ternyata jawabannya lebih singkat daripada jumlah yang ku harapkan. Jadi, biarlah semuanya menjadi milik waktu. Aku lebih ingin semuanya masih serba mungkin daripada menjadi pasti, karena selalu ada harapan di sana.
"El, tengoklah nih. Ada tulisan ini dp BBM orang; Hidup ini nggak semudah BACOTnya Mario Teguh. Sinis kali kan dia?"
justru untuk memudahkan cara kita hidup. Coba aja kalau dia memang hebat, tirulah kata-kata Mario Teguh yang kece itu. Mario Teguh itu bisa menjawab semua problemnya orang lain karena dia udah merasakan gimana di bawah dan gimana di atas. Waktu dia masih kecil, keluargnya bangkrut Rin tapi dia berusaha untuk tetap happy waktu main sama kawan-kawannya. Dan, kebiasaan untuk berpura-pura bahagia itu berlanjut sampai dia berumur 30 tahun. Akhirnya dia benar-benar jadi orang yang bahagia. Toh, walaupun orang lain tahu dia kesulitan, tapi ketika dia bahagia, orang lain justru hanya akan melihat kebahagiaannya, bukan kesulitannya. Makanya, dia memilih untuk bahagia aja. Kurang kece apa coba?"
"Iya, bener. Aku pun berfikir, justru yang dinasehatkan oleh Mario Teguh itu real dan aplikatif, menyederhanakan pikiran kita tentang hidup ini. Ah, emang dasar aneh nih orang!"
"Udah ketahuan kali Rin kalau hidupnya itu serba kesulitan. Dan, kesulitan hidupnya itu diakibatkan oleh mindset bobroknya itu sendiri."
"Arassooohh. Eh, udah El kopikan kan semua video Mario Teguh itu ke laptopku?"
"Lah? Bukannya memang dari laptop Rini ya? Kan Rini yang downloadkan kemarinn."
"Oh. iya yaa..hhe."
***
“Loh? Rini mesen pecel? Bukannya nggak suka ya?”
“Iya, pengen nyoba aja,” jelas Rini. Okta pun pesan pecel,
aku sendiri yang pesan soto.
Eh, tunggu dulu! Rini kok mirip kayak aku sih? Hari ini dia
seolah-olah ingin merasakan sesuatu yang ku sukai. Aku pun kemarin mengkopi
film-film kesukaannya ke dalam hardisk-ku diam-diam. belum tentu ku tonton sih,
tapi ntah kenapa aku berfikir kalau aku mengkopinya aku akan merasa lebih
ikhlas melepasnya pergi. Juga merasa tetap mencintainya dari kejauhan. Hiksss…
“Ini kurang garam!” kata Okta ketika mencicipi sotoku.
“Ah, udah pas ini Dek.”
“Iya, kurang garam nih Cek dan kurang Royco juga.”
“Beuh! Baguslah. Untuk apa banyak-banyak Royco, ntar sakit.”
“Iya, Kakak aja langsung ngerasa pusing kalau makan makanan
yang kebanyakan penyedapnya,” timpal Rini.
“Iya sih ya, takut menimbulkan kanker sebenarnya. Tapi macam
mana lagi, Okta suka kaliiii pun. Lebih banyak Royconya, lebih baik tu bagi
Okta.”
“Kakak nggak pandai menakar makanan Cek; kurang garam lah,
kurang gurih lah. Menurut Kakak semua makanan enak dan pas di lidah Kakak,”
kataku lagi.
“Kak Rini juga nggak pandai masak?” tanya Okta ke Rini.
Rini manggut-manggut.
“Selalaap nya kalian berdua ni! Pandai pula Okta masak haaa.
Eh, Cek, tanyalah ke Kak Rincuy; ‘Nggak habis pecalnya Kak?’ cepatlah!”
“Oh iya ya, kok Kakak lupa nanya itu, hehe. ‘Rini nggak habis pecalnya Rin?’ tanyaku.”
Rini malah manggut-manggut. Aku serasa bermimpi. Biasanya
kan dia akan menjawab; “Enak aja! Habis ya!”
“Serius Rin nggak habis?”
“Iya, bener. Ternyata aku lebih suka lontong sayur daripada
pecal. Aku nggak bisa menghianati lidahku El.”
Tapi, sayangnya aku keduluan sama Okta dalam menyikat ludes
sayuran di piring Rini. Hihiii. Emang dasar si Okta usil, dia mencemplungkan
ubi rebus pemberian dari Ibu warung sebelah, ke dalam sotoku. Katanya rasanya
enak. Yah, mau gimana lagi, aku harus mencoba menelannya.
“Gimana?”
“Enak Cek. Tapi, cukup sekali ini aja. Nggak mau nambah lagi
Kakak, heheh.”
“Kakak pasti belum pernah kan makan sup pakai bui rebus?”
Aku geleng-geleng kepala.
“Itu makanan khas Bugis loh Kak. Eh,
waktu Okta KKN kemarin, di desa itu penduduknya pada membuat saus loh Cek, tapi
bahannya dari tawas, bayangkanlah coba! Ngeri kan?” jelas Okta sambil memegang
botol saus di meja.
“Makanya jangan beli saus yang murah. Beli aja yang bermerk
dan terkenal. Lebih jelas.”
“Tu kenapa Kakak tadi pakai saus?”
“Lah, ini kan yang ori Dek. Kalau yang palsu itu di tangan
akan berbekas warnanya kalau terpegang. Ini nggak kok.
“Oh, iya nyaa?” Okta mempertegas. “Eh Cek, di Madinah itu
ada apa sih? Kasihaan kali loooh jamaah hajinyaa. Apa gerangan yang terjadi di
sanaa..” ekspresi wajah Okta berubah jadi sendu seketika.
Aku teringat dengan post yang dibagikan teman di google plus
tadi subuh; ada alat berat yang jatuh di masjid Madinah kalau nggak salah.
“Emang apa yang terjadi Cek? Kakak kurang jelas sih.”
“Ada badai pasir loh Cek di sana.”
“Loh, itu kan udah biasa Cek. Emang di sana itu sering ada
badai pasir.”
“Tapi ini bukan badai biasa loh Cek, gulungannya udah mirip
sama Tsunami. Haaa, bayangkanlah tu betapa seramnyaa. Ya Allah, kasihan kali
mereka Cek, ada seratus orang lebih yang menjadi korban.”
“Iya ya Cek, ada apa. Bukankah 2 kota di dunia ini yang
dijamin keselamatan dan kemurniannya adalah Mekah dan Madinah? Tapi, kalau di
Madinah sekarang Allah timpakan azab, ada pesan apa untuk semua manusia ya?”
“Haa..itulah Cek. Mekan dan Madinah itu kan yang dijamin
tidak akan dimasuki Dajjal. Nggak tahu lah Cek, yang pasti Okta prihatiin
kaliii.”
Aku bisa melihat ketulusan dari mata Okta. Ia benar-benar
menunjukkan empatinya kali ini. mungkin inilah yang disebut ukhwah islamiyah;
ketika ada saudara seiman yang berduka di bagian bumi lainnya, kita di sini pun
bisa merasakan sakitnya.
“Habis ini Cek mau ke mana?”
“Ke Bahasa Indonesia. Ada acara Prodi. Kakak mau ke mana?”
“Mau ngajarin Kak Rini naik motor nih.”
“Loh, Kak Rincuy nggak bisa naik Honda yaa?”
“Bisa kalau yang matic. Kalau yang pake gigi itu masih agak
gagok Kakak.”
“Ihhh, maunya belajar naik motornya ada Okta ya. Nggak bisa
pula Okta lihat haa.”
“Acara di Prodi itu lebih penting Cek. Nanti sianglah kita
ngumpul lagi.”
“Ayokkkk!!! Yuhuuu. Buk, ini semuanya Kakak ini yang bayar
ya Buukk,” kata Okta kepada Ibuk penjual sarapan.
Hemmm… tadi pagi aku sempat bilang ini ke Rini; “Rin,
perhatikanlah wajah Ibu yang jual lontong itu! Padahal dia biasa aja nyo
penampilannya, kadang agak kucel juga, tapi aku melihat ada keayuan di wajahnya
loh.” Ternyata Rini sepakat denganku. Maybe,
it’s called inner beauty.
***
“El jangan naik lah!”
“Lah? Macam mana nya Rini belajar bawak motor aku nggak ikut
naik?”
“Biar aku sendiri aja dulu. Kan aku udah bisa nya
nge-gasnya.”
“Oh yalah, pai lah paiiii!”
Rini menaiki motorku dan mempaskan posisi duduknya. Ternyata
kakinya sampai banget ke tanah. Bah, apa pula yang ditakutkannya lagi?
“Ini udah masuk gigi belum?”
“Belum. Pijaklah giginya tu. Masuk gigi satu.”
Perlahan-lahan, ku ikuti Rini dari belakang. Dia meng-gas
motorku pelan-pelan. Sesekali ku teriaki ketika dia mulai oleng. Kadang, ku
tertawai juga.
“Aku teriak-teriak tadi di sana loh! Mana lah El niii,
fikirku.”
“Ya capeklah aku ngikutin Rini sampek ke sana. Jauh bah!”
“Aku kesulitan muternya tadi. Sampek ngos-ngosan aku
dibuatnya.”
“Terus, gimana caranya Rini belok lagi ke sini?”
“Ku putarlah dikit-dikit motornya. Makanya tenagaku habis
haa.. hehe.. Ajarkanlah aku caranya beloook!”
Ku titah perlahan supaya Rini menggas sambil memutar stang
dengan hati-hati. Sempat agak kebablasan dan nyaris masuk selokan juga. Tapi,
setelah mencoba 3 kali syukurlah pemirsaaa, dia sudah cukup bisa. Hufft!
“Udah cukup latihannya?” ku tanyai Rini sambil duduk di atas
guguran dedaunan pohon jambu biji.
“Aku coba ke depan dulu ya. Sekali lagi nih!”
Rini kembali melaju perlahan dan aku melanjutkan
jeprat-jepret daun kering. Semenjak ada blog baruku yang mirip banget dengan
pinterest.com, aku semakin sering menjepret objek dari sudut yang tak biasa.
Bukan hanya sudut elysapict.blogspot.com.
“Udah?”” tanyaku ketika Rini mendekat.
“Udah. Aku udah bisa tadi muter agak cepat dah! Huft,
sekarang El percaya kan kalau aku udah bisa bawa motor? Hahah.”
“Percaya. Tapi, lebih percaya lagi kalau Rini ngeboncengin
aku sampai ke Binkrid.”
Rini malah ketakutan mentah-mentah atas permintaanku itu.
Belum pede bawa motor katanya. Padahal aku udah nagkring di belakangnya. Hemm..
I know that feel pemirsaaa. Kami bergerak menjauhi stadion mini UR dibawah
kemudiku. Saking ngebutnya, aku sampai lupa memetik jambu di halaman stadion
yang sejak tadi udah diniatin dipetik.
“Kok capek ya rasanya?”
“Iya, emang kayak gitu Rin kalau baru belajar. Karena, kita
tu belum nyatu dengan motornya. Gitulah ibaratnya.”
***
“Enak kok El! Cobainlah! Menurutku sih lebih enakan dikocok
gini daripada dibikin jus.”
“Masa iya sih Rin? Kemarin itu punyaku dapat serutan Alpokat
yang pahit. Huweekkk. Ya iyalah enak, namanya aja Rini masih minum bagian
atasnya. Cobalah kalau air gulanya udah habis tuh, pasti terasa pahit banget
waktu ngunyah Alpokatnya.”
“Masa iya sih? Ya diaduklah merata sebelum diminum. El tu
yang aneh, minumnya nggak diaduk dulu, langsung nyerobot aja.”
“Hemmm… tapi tetap aja sih Rin, bagi aku minuman ini terlalu
klise. Masa Alpokatnya dikorek, terus atasnya di kasih serutan es, tambah susu,
tambah bubuk coklat, tambah air gula. Udah! Gitu aja. Judulnya kan Alpokat
kocok, kenapa semua campuran itu nggak ditaruk dulu di suatu wadah dan dikocok.
Jadi, semuanya nyatu dan merata gurihnya.”
“Iya juga sih.”
“Berapa tadi harganya?”
“Kata El cuma 4ribu, ternyata tadi 7ribu. Huaahhh, selalap
nya El ni salah fokus.”
“Hahaa..untung uangnya ada ya Rin. Kalau nggak kan gaswat.
Jauh pula tuh jaraknya dari 4ribu ke 7ribu.”
Kak Elceeekk.. Novi
lolos ke Bangladesh. Padahal Novi udah lupa sama yang satu ini. Tadi malam baru
Novi buka emailnyaa.
“Rin, Novi juga lolos ke Bangladesh ternyata. Ye yeeee.”
Hemm… tapi percuma Rin. Bukannya Rini pun akan segera
pulang? Aku melihat Rini tidak terlalu besar untuk mimpinya ini. Aku juga tidak
akan memaksanya untuk berjuang. Meskipun ia mengaku ingin ke luar negeri, tapi
aku rasa bukan dengan yang satu ini jalannya.
“Udah Azan El…” Rini menyindirku untuk segera bangkit dari
hadapan laptop.
“Bilanglah lagi Rin; ‘Masih lama lagi? Nunggu cabe berbunga?’
cepatlah Rin.”
“Ah, yang ributan. Cepatlah haa!”
Dan, ketika aku bersiap untuk takbiratul ihram…
“Eh, nggak jadi El! Aku kan mau menjamak sholat Ashar ke
Zuhur, mana bisa berjamaah sholatnya.”
“Kok gitu? Kan sholat Zuhurnya bisa berjamaah ndak? Baru sholat
Asharnya sendiri.”
“Nggak El, aku baca di internet 2 2nya sholatnya udah beda
niatnya.”
“Ya udah deh, aku duluan yaa!”
“Ehh, bagus tadi aku duluan ya,” gumam Rini sambil kembali
membaca artikelnya.
Aku yang sedang membaca niat, berkata… “Oh, jadi Rini nyesal
nungguin aku?”
“Nggak loh!”
Dan, setelah sholat….
“Rini sholat Zuhurnya berapa rakaat tadi?”
“4 rakaat.”
“Sholat Asharnya?”
“4 juga.”
“Bisa disingkat jadi 2 loh Rin. Namanya Jamak-Qhasar.”
“Ya aku kan tadi cuma menjamak aja.”
“Kenapa nggak diqhasar sekalian? Kan itu kemudahan dari
Allah juga Rin.”
“Ya biarlah 4 rakaat aja. Lagian udah selesai pun sholatnya.”
“Bukan itu masalahnya Rin, kalau kita memang sedang
buru-buru di perjalanan, kenapa kita nggak ambil yang termudah aja dalam jumlah?”
“Ya kan aku belum dalam perjalanan loh El. Tapi, baru akan.
Lagian, bukannya sedang ada perang kan di sini pun!”
“HAH?” mataku terbelalak. “Anda cerdas sekali Bung! Luar biasaa!”
“Lah? Iya kan El? Bener kan yang ku bilang? Itu logika
sederhananya loh Bung! Aku kan sedang nggak terburu-buru, belum dalam
perjalanan dan di sini juga aman, nggak ada perang, makanya aku pakai rakaat
yang biasanya aja.”
“Anda memang luar biasa Bung! Saya kagum kepada anda.”
*mulai deh lebaynya. Ehhe. “Eh, Rin tahu bedak yang merknya PIGEON kan?”
“Iya. Pijen.”
“Tahu nggak aku waktu masih kecil dulu gimana baca tulisan
PIGEON itu?”
“Gimana?”
“PIGEDOT kataku Rin. Hahahaha…”
“Emang dari kecil udah ada aneh-anehnya El ni yaa! WESTPAK
dibaca WASTEPAK. Uncle K dibaca UNCLEK. Apa lagi yang kemarin tu?”
“CABERG ku baca CABREK. Vanholan ku baca VANOLANO. Hehehee.
Eh, Rin aku merasa kalau huruf-huruf ini punya banyak keterbatasan untuk
mengekspresikan sesuatu dan hanya tepat kalau diwakilkan oleh simbol-simbol. Contohnya
aja untuk mengekspresikan macam-macam suara ketawa,” kataku sambil memperagakan
beberapa cara orang tertawa, dari mulai yang paling ngakak sampai yang paling
horor.
“Iya yaa. Bener El.”
“Bener kan kalau ketawa-ketawa itu susah dituliskan? Yang selama
ini ada kan hihihi, hahaha, wkwkwk, haghaghag. Selain itu, apa lagi hurufnya?”
“Hemmm..”
***
“El, cepatlah dandannya ah! Marah ni haa si Okta.”
“Apa katanya rupanya?”
“Biasanya kan dia Bububuyulah dulu, yuhuuu lah dulu, ini
nggak. ‘Udah di mana? Cepatlah!’ gitu katanya. Makanya aku nggak berani
becanda, ku jawab ajalah; ‘Lagi otw nih’ agak gagok aku jadinya.’
“Iya bah? Gawah bah! Yuk, yuk!”
Pintu dikunci, kami langsung melaju ke depan mushola
Arrafah, meninjau wujudnya Okta atau motornya.
“Mana dia? Coba telvonlah naah!” kata Rini sambil
menyodorkan hpnya.
“Selaalap nyaaa!” yang diceritakan muncul dari belakang
tiba-tiba.
“Di mana nyaa? Kok nggak kelihatan Cek?”
“Okta di Arfaunnas loh.”
Owalah, salah fokus lagi kita pemirsaaa. Hehe. Kami langsung
menuju KFC di Giant. Dan, ternyata Bento yang mau dicoba sedang kosong.
Akhirnya aku memilih ayam dan nasi aja, minumnya kongsi dengan mango floatnya
Rini. Hhehee. Rini memilih sup dan burger untuk dimakannya nanti di bus. Dan,
Okta memilih ayam, nasi, sup dan soft drink. Hemmm… seru banget dah lunch siang
ini pemirsaaa.
Setelah makan, kami masuk ke Giant. Aku sih nggak ada
rencana mau beli sesuatu. Tapi, karena ini hari terakhir Rini di sini, aku menyamakan rasa dengan mereka;
maksimalisasi kebersamaan dalam jelang perpisahan. Semoga berkah dan
menggembirakan. Aamiin.
“Loh? Ngapain nya Kakak titipkan burger ituuu?”
“Biar ajalah. Males Kakak megangnya sambil belanja.”
“Ih, mending dipegang aja Kak. Cuma satu pun. Lucu kali si
Rincuy ini.”
“Biarlah. Abang itu aja bolehin Kok. Weeekkk.”
Okta punya ide gila, dia mengajakku dan Rini untuk
menelusuri kolom terkanan sampai terkiri Giant. Huaahhh… kayaknya seru nih!
Tapi, tunggu dulu! Tiba-tiba ada ide gila yang mendahului semua itu…
“Cek, cepatlah ke CS sanaa! Bilang, minta tolong panggilin
Okta dan Rini. Cepatlahhhh Cekkkk! Hahahah.”
Itu kan ide gilaku! Hehe. Aku segera berlari ke tempat
penitipan barang tadi dan mengatakan kepada si abang untuk memanggilkan Rini
dan Okta untukku.
“Selamat siang pelanggan setia Giant, bagi anda yang bernama
Okta dan Rini diminta oleh temannya untuk segera menemuinya di lorong barang
elektronik. Sekali lagi, diberitahukan kepada Okta dan Rini untuk segera
menemui temannya di lorong elektronik. Terimakasih.”
Aku mesam-mesem mendengar pengumuman itu sambil celingukan nyariin
2 makhluk kasar yang tiba-tiba menghilang. Setelah ku telusuri lorong
barang-barang rumah tangga, ku dapati mereka sedang tertawa terbahak-bahak di
antara rak lemari. Huaahhhh… lucu ya?
“Kayaknya baru kejadian deh Cek ada orang hilang di Giant.”
“Hhahaha… sakit perut Okta Kakk.”
“Ya Allah. Lucu kalii laaahhhhh,” kata Rini pula.
Aku pun tak kalah terkekeh melihat mereka berdua sampai
terpingkel-pingkel gitu. hehehehe. Yang
penting kalian bahagia guys, hheeh.
***
“Di mana beli Clyndamicilnya Cek?”
“Tuh. Di guardian biasanya.”
“Di sini mahaaaal loh Cek. Kemarin Okta beli di sini
15ribu.”
Ternyata di toko lain lebih mahal lagi. Bueehhh! Hampir aja
Okta deal membelinya. Untuk dia memahami kodeku. Aku yakin apotek yang
disamping Ayam Pak Ulis itu lebih murah. Dan, ternyata benar; hanya Rp 12.000
se-papan. Melegakan sekali pemirsaa bisa hemat Rp 4.000. *dasar cewek! Hehe. setelah
membeli Clyndamicil kami langsung ke kosan. Duduk-duduk di teras jelang
keberangkatan Rini sambil menikmati Lemper Ayam dari Giant tadi.
“Hemmm… nyummmiiiii…”
“Kak Rincuy udah nelvon Blue Band-nya?” (baca: Blue Bird).
“Udah. Bentar lagi datang dia.”
“Eh, Rini belum beli tali raffia kan?”
“Oh iyaaa..”
“Pergilah sama Okta sanaaa.”
“Haaa… Kak Rincuy kan katanya dah pandai naik motor. Bawalah
motor Okta niii!”
Rini nggak bisa menolak paksaan Okta. Ia berusaha
membelokkan motor dan hasilnya hampir kebablasan ke selokan. Akhirnya Okta yang
memboncengnya. Tak lama, mereka kembali lagi. 2 bungkus kuwaci kami santap
bersama sambil nonton film Aku Mau Adek ---sebutan
kami untuk filmnya Raditya Dika yang judulnya Marmut Merah Jambu.
“Iya Halooo Bang…”
1 menit kemudian taxi Blue Band tiba di depan kosan. Pak
supir membantu menaikkan kardus besar dan kopernya Rini yang masya Allah
beratnya itu. Aku bepelukan dan bercipika-cipiki dengan Rini. Eh, tiba-tiba
Nanang datang dengan stelan almamater biru langit. Benar kata Rini, niat
banget nih teman PPRUnya ngiringi kebrangkatannya. Untung yang datang cuma
Nanang sendirian, nggak bersama 7 orang lainnya.
Rini memang luar biasa
ya Allah; dicintai keberadaannya dan dirindukan ketiadaannya. Aku pernah bertanya ini ke Rini; “Siapa
kali sih Rini ini rupanya? Sampai-sampai orang tu heboh gitu.” Dan, dijawab
oleh Rini; “Mana ku tahu. Tanyalah ke mereka; ‘Siapa Rini bagi mereka’, El.”
“Baik-baik ya di rumah Nak, jangan nakal. Jangan lupa diet. Bangun
jangan kesiangan.”
“Iyaaa Mak,” jawabku.
Sekali lagi, aku memeluknyaa.
“Lambaian tanganmuuu…masih ku ingat selalu. Itu yang
terakhirr, ku melihat dirimuuuu…”
“Apanya ini? sempat pula nyanyiii,” kata Rini. Ia sudah
masuk ke dalam taxi dan membuka kaca mobil di sebelahnya.
“Daaa…. El, daaaa…Oktaaa..”
“Daaa… Kak Rincuyyyy!”
“Assalamualaikummm…” teriakku.
Well, apa ini ya Allah? Terimakasih. Aku benar-benar nggak
nangis. Ajaib. Alhamdulillah. Mungkin ini pertanda bahwa aku sudah ikhlas
atasnya.
Awalnya aku khawatir akan seketika menganis ketika memasuki
kamarku. Tapi, nyatanya tidak. Ku pandangi perubahan suasana dan beberapa kekosongan
di kamar ini. Dan, seketika aku jadi berniat mengubahnya. Ya! Aku harus
membereskan total kamar ini dan mengatur posisi baru untuk barang-barangnya. Supaya
aku tidak sempat bersedih dan tiba-tiba senja sudah menjelang. Sekarang, aku tahu bagaimana caranya supaya setiap orang bisa berdamai dengan perpisahan; Dengan menganggap orang yang pergi pasti akan kembali lagi. ^_^



Tidak ada komentar:
Posting Komentar