Kalau udah kehilangan, barulah aku berkata; ‘Seharusnya ini,
seharusnya itu’ untuk melampiaskan rasa bersalah. Udah sejak hari senin kemarin
padahal aku tanya ke Atika kapan ada jadwal ujian. Atika mengatakan tanggal 10
bahkan dia mendesakku untuk segera mendaftar ujian. Tapi……., ya bukan Elysa
namanya kalau tidak menunda pekerjaan. Bak kata si kawan lama, ‘Elysa ni suka
kali ngerjakan yang sunnah dulu. Utamakanlah yang wajib duluan, El’ sampai
sekarang aku masih ingat kata-katanya itu. Kalau sampai saat ini dia masih ada,
dia pasti akan bilang, ‘Elysa nggak pernah berubah ya ternyata dari dulu.’
Aku menamai sifatku ini Terlalu Optimis, tapi nggak logis.
Kadang, di beberapa kesempatan, aku memang sering beruntung dan mendapatkan miracle. Dan, nggak jarang juga aku
bernasib sial karena kehilangan kesempatan. Kemarin, aku terlalu yakin bisa
menyelesaikan proposal itu dalam sekejap mata dan baru hari Jumat kemarin aku
tersadar bahwa hari ini adalah hari Sabtu; kesempatan terakhirku untuk
mendaftar ujian proposal. Nyatanya apa? Keoptimisanku itu lesap seketika. Yang
tersisa tinggallah penyesalan diam-diam dan berusaha pura-pura tidak menyesal.
Inilah aku yang ku akui.
“Elis harus merubah kebiasaan Elis menunda. Karena belum
tentu nantinya Elis selalu beruntung. Kalau nggak beruntung gimana? Mau
diperbaiki, Elis udah nggak punya waktu lagi. Kalau cepat selesai kan cepat
disempurnakan lagi,” nasehat itu terngiang kembali.
Yap, intinya adalah cepat
menyelesaikan supaya sempat memperbaiki.
***
“El, El, sahur.”
“Udah jam berapa ini?”
“Setengah 5.”
Aku teringat bahwa jatah gorenganku semalam udah ku
habiskan. Jadi, aku nggak punya makanan lagi untuk sahur.
“Aku udah Rin. Lanjutlah.”
Lalu, aku kembali merebah setelah sempat terduduk sebentar.
“Belum azan kan Rin?” tanyaku sambil mengisi air minum ke
dalam gelas.
“Itu sedang azan.”
Ku letakkan kembali gelasku ungu itu, padahal tinggal
diminum aja. Yah, mau bagaimana lagi. Waktu sudah menyudahi. Aku segera membaca
niat di dalam hati.
Assalamualaikum Cin,
kita pilih trip jam 1 nanti ya, habis zuhur dulu dari kampus. Ajak Rini juga
yaa.
Waalaikumsalam wr.
Wb. Hah? Acara apa emangnya Cin?
Acara mendoa di
rumah Iqbal loooh. Bise Cin? Ada acara lain mu? Hiksss..
Biscaaa kok.
Aku sampai lupa kalau aku ada janji sama Lia untuk berangkat
bareng ke rumah Iqbal. Ah, itu nanti dululah ku fikirkan. Yang terpenting
sekarang, aku segera menemuin pak Suarman untuk revisi. Semoga nggak banyak
kesalahan deh di tulisanku ini.
“Loh? Kok kosong?” tanyaku dalam hati. Dari jauh, aku sudah
bisa memastikan bahwa pak Sua nggak ada di kampus karena nggak ada satu pun
mobil di sana.
“Yaaahhh.. gimana ini ya Allah?”
Assalamualaikum Pak.
Hari ini Bapak ke kampus? (sent to pak Sua)
Dan, SMS yang sama tapi dengan redaksi berbeda ku kirimkan
juga kepada pak Danur, Assalamaulaikum
Pak, apakah pagi ini bapak berada di kampus gobah?
Aku bingung harus ke mana. Akhirnya, muncullah inisiatif
untuk wifian di perpus UR. Baru aja duduk dan ngonekkin jaringan, aku jadi
ngidam mie bihun goreng. *Makan? (Iya, makan!) Tapi, tadi katanya puasa? (Oh
iya, aku lupa bilang bahwa aku udah batalin puasa karena undangan ke rumah
Iqbal tadi, RIni juga udah) Oooohhh, gituu. Hehe.
“Heemmmmmmm….. enak banget nih mie bihun goreng. Rasanya
nggak lebai, simpel, tapi semua takarannya pas banget,” aku berbicara sendiri,
pelaan.
Sambil menyuap mie ke dalam mulut, tanganku sesekali
menjelajah ke dunia maya. Aku baru saja menyelesaikan 3 cerita untuk diikutkan
lomba menulis di blog tentang Pengalaman Lebaran yang Lebih Baik oleh Sunlife
Finance. Yuhuuu…semoga menang. Aamiin. Aku udah menabur umpan dengan 3 naskah
ceritaku; Antara Bangladesh dan Skripsi,
2 Dosa 2 Pengampunan dan Maaf Tak Kenal
Batas. Semoga salah satunya ada yang ‘nyantol’ ammiin.
Insya Allah, jam 11
saya udah ada di kampus
Aku melirik jam. Masih pukul 10.17wib. Masih ada waktu
sekitar sejam lagi di sini untuk menunggu pak Suarman.
Saya sudah di sini sejak tadi pagi. Sudah 9 orang yang
bimbingan dengan saya
Pesan dari pak Danur barusan menyentakku. Aku terlalu tidak
berani mengambil keputusan untuk ke Gobah tadi pagi. Tapi, aku sudah terlanjur
membuat janji dengan pak Suarman sekarang. Ah, aku yakin semua ini ada
hikmahnya. Aku ditentukan untuk bertemu pak Suarman dulu sebelum pak Danur.
***
Di atas motor yang melaju perlahan, aku menjauhi perpus dan
mendekat ke Pekon. Sekarang, aku sudah berada di lajur kiri dan bersiap
berbelok ke kanan, ke parkiran Pekon. Tapi, tunggu dulu! Aku memelankan laju
motorku untuk memastikan siapakah kelima orang yang sedang berjalan bersamaan
dari parkiran itu. Ah, itu kan Atika, Doni dan yang lainnya.
Tanpa perencanaan apa pun, aku berbelok ke lajur kanan demi
menghindari pertemuan dengan mereka. Teruusss saja aku melaju ke arah LPM, Puskom lalu kembali lagi ke jalan linta
di depan Perpus. Perjalanan macam apa ini? Kurang kerjaan banget.
Sekarang, aku tidak melihat mereka lagi di sana. Tanpa ragu,
ku masuki pelataran Pendidikan Ekonomi dan bergegas ke ruangan pak Suarman.
***
“Rin, ternyata naluri ilmiahku udah memudar.”
“Memudar?”
“Iya, memudar. Tadi proposalku lumayan banyak dapat coretan
dari Pak Sua. Ada juga hal-hal kecil yang seharusnya aku tahu, tapi nyatanya
aku luput.”
Ku hempaskan badanku di atas lantai keramik ini. Sebenarnya,
seusai dari pak Suarman tadi aku masih punya waktu untuk OL di perpus. Tapi,
setelah ku fikir-fikir, sebaiknya aku kembali ke kos saja. Sekarang, aku sedang
tidak butuh fokus, aku butuh cerita.
“Aku juga nggak bisa ujian senin besok Rin karena nggak
keburu lagi daftarnya. Aku kurang antisipasi.”
“Ya udaaah.. nggak apa-apa.”
“Pak Suarman itu baiiiiiiik banget Rin. Waktu aku masuk ke
ruangannya tadi, aku mikir dia bakal nanya, ‘Ke mana aja lah Elysa ni? Masa
ngerjain proposal aja sampai seminggu lebih?’ ternyata nggak Rin. Bapak cuma
nanya, ‘Gimana progresnya Elysa?’ dah, cuma itu aja loh. Terus, ku kasihkanlah
print-an proposalku. Ternyata banyak banget yang dikoerksi sama bapak tu Rin.
Bahkan, ada hal-hal yang udah aku tahu selama nggarap KTI, tapi dikasih tahu
lagi dengan bapak tu. Dalam hatiku, ‘Ya Allah jangan sampek Bapak ini nyalahkan
aku atau ngungkit-ngungkit tentang KTI yang sering ku menangkaaan’ dan ternyata
itu memang hanya kekhawatiranku aja Rin.”
“Alhamdulillah kala gitu. Bapak kita baik-baik semuaa.”
“Tadi Bapak itu bilang, ‘Kalau saya sih selalu standby di
sini, kecuali kalau ada ujian. Nah, hari senin besok ini ada ujian, mungkin
saya nguji’. Sejujurnya, aku takut kali Bapak itu nyindir aku, ‘Seharusnya
jadwal ujian besok itu bisa Elysa kejar kalau Elysa cepat ngerjainnya’ tapi
Alhamdulillah Rin, bapak itu nggak ada nyindir aku sama sekali. Ya Allah, kok
baik banget ya bapak ituu. Meskipun aku lambat gini, bapak itu pun nggak pernah
bilang ‘Elysa sih lama kali mulai nggarapnya’ nggak pernah Rin, nggak pernah
sama sekali itu dilakukannya.”
“Emang kita ini kurang asem kali ya El, bapak kita baik
banget. Tapi, eh malah kita yang macam bandit gini. Bapak kita sama-sama mudah
ditemui. Kalau Bapakmu itu karena dia ketua jurusan makanya selalu standby. El
tahu kan pak Faisal?”
“Yang kemarin pake baju koko putih bukan sih? Waktu nguji
Yudi kan?”
“Iya. Bapak itu selalu memudahkan urusan orang. Kadang, ada
kan dosen lain yang terlalu jujur, dalam artian kalau dia nggak bisa nolong
kita atau nggak sesuai prosedur, dia bener-bener nggak mau bantu. Tapi, kalau
Bapak ini beda, dia selalu mengupayakan dulu yang bisa dia bantu untuk orang. Eh,
kawan-kawanku kan ngajak kondangan ke tempat kawan kami yang nikah. Tapi, ntah
kenapa loh aku males kali ketemu anak-anak HI tuu. Duh, gimana ya?”
“Tapi kita mau ke tempat Iqbal. Pilih ajalah salah satu Rin.
Tadi pun aku takut banget ketemu teman-teman aku. Sampek aku rela loh Rin muter
lagi ngelewati FISIP, LPM, Perpus dan balik lagi ke Pekon demi agar nggak
ketemu mereka. Nggak siap ditanya-tanya dan nggak siap untuk tahu bahwa mereka udah
sampai ini dan itu prosesnya.”
“Samalah El penyakit kita.”
“Aku ngerasa semakin jauh aja dengan teman-teman di Pekon
itu Rin. Sejak dulu sih aku emang agak beda dengan mereka. Aku punya kesibukan
sendiri. Apalagi masa-masa kayak gini, makin nggak ada jalanku untuk
berakrab-akrab ria sama mereka. Kalau bisa, aku pengen ujian diam-diam, sidang
diam-diam aja biar ntar mereka tahunya pas wisuda aja. Kemarin aku lihat foto
temanku yang udah sidang kan Rin, dipakein mahkota lah, dipakein selempang lah,
dikasih bunga lah, ya ampuuun pokoknya teman-temannya pada ngerayainlah. Terus,
aku bertanya di hati, ‘Besok siapa ya kawanku yang nggituin aku?’ kayaknya
nggak ada deh. Yang dari Pekon loh ya maksudku.”
“Pas sidang, bukannya nggak boleh dilihat ya?”
“Dulu nggak boleh. Sekarang boleh kok.”
Setelah sholat Zuhur, aku dan Rini langsung cawww ke jalan
Rawa Bening, Arifin Ahmad, rumah kediaman Iqbal. Karena ragu-ragu dengan
alamatnya, kami sempat kebablasan sampai ke Sudirman dan resikonya adalah kami harus
untuk muter balik cukup jauh. Parahnya, hari ini jalanan padet banget, nggak
separah biasanya. Belum lagi debu knalpot yang tengik dan matahari yang terik.
Lia udah nunggu di simpang Rawa Indah. Kami masuk ke dalam bersama. Ternyata
mamanya Iqbal akan berangkat haji, awalnya sih kami fikir mendoa untuk rumah
baru. Hehe.
“Semoga menjadi haji yang mabrur ya Pak, Buu.”
“Semoga berkah ya perjalanannya..”
“Semoga selamat sampai tujuan ya Buu…”
Satu per satu kami saling menyalami kedua orang tua iqbal
beriringan dengan doa. Ketika kami hendak pulang pun kami kembali menyalami
mereka.
“Rin, kok aku ngerasa pusing ya? Apa karena dendeng yang
kita makan barusan?” kataku di parkiran motor.
“Kalau nggak sanggup berhenti dulu Ell.”
“Kayaknya aku darah tinggi deh, soalnya kemarin waktu cek
tensi, normal. Biasanya aku kan 100 atau 110, ini kemarin normal 120. Eh,
sekarang makan daging, mungkin dia naik lagi. “
“Tulah, jangan merepeet aja kerjanya. Biar nggak darah
tinggi El.”
“Loh?”
***
Sekarang pukul 21.49wib. Aku baru saja mengusap air mata
yang jatuh di penghujung film Assalamualaikum Beijing. Yap, aku memang udah
menontonnya di bioskop bersama Lia bulan Januari lalu. Tapi, malam ini aku
ingin sekali mengulang menontonnya. Biasanya, aku akan dapat energy baru ketika
menonton sesuatu yang subhanallah. Setiap kali nonton film-film berlatar luar
negeri, aku berdoa di dalam hati, “Ya Allah, aku pengeeen ke saanaa.” Dan,
setiap kali nonton film cinta yang so sweet, aku juga berdoa, “Ya Allah, aku
pengen kisah cintaku seindah itu.” hhehe.
Aku pernah ke Lia,
“Cin, kalau nonton sesuatu yang menurutmu bagus, berdoalah saat itu juga semoga
film itu akan menjadi nyata dalam hidupmu.”
“Semoga tulisan-tulisan ini menjadi tambahan pahala di sisi
Allah untuk bersiap siaga kapan saja Allah mau menjemputku,” kata Asma di dalam
film tadi.
Ya Allah, maaf, maaf, maaf kalau hamba lupa untuk senantiasa
meniatkan tulisanku untuk-Mu. Hari ini, Engkau kembali mengingatkanku bahwa
segala sesuatnya harus demi Engkau. Aku sering lupa itu. Demi-demi yang lain
sering kali mahir menyelip di antara aku dan Engkau. Mungkin, aku juga yang
rela begitu. Ampuun ya Allahh.. aamppuun. Terima segala apa yang ku tulis ini
sebagai persembahanku untuk-Mu. Hanya kita.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar