Rabu, 02 September 2015

Wajah Jelita



Aku punya ativitas tambahan mulai pagi ini. Kalau biasanya aku hanya nulis diary untuk  blog, kali ini aku disibukkan dengan ngeshare informasi yang kece badai cetar membahana badai halilintar dari 8share, hehe. Aku sedang mencari tahu apakah aku bisa ngeshare informasi dari tulisanku sendiri atau nggak? kalau ternyata bisa kan berarti hobi nulisku udah menemukan ‘tempat’ yang indah ^_^. Aku nggak muluk-muluk sih berharapnya, semoga bisa beli Android impian, Rumah impian, Mobil impian dan Travelling impian. Nggak muluk-muluk kan? Hehhe.

Ya Allah, terimakasih karena telah menunjukkanku jalan ini. Semoga walaupun hasilnya nggak terlalu besar, tapi aku yakin yang kecil pun akan menjadi besar nantinya kalau aku serius membesarkannya. Tunjukanlah hamba jalan yang lainnya ya Allah, agar semakin dekat langkah ini kepada tujuan. aamiin. 

Tiba-tiba dapat inspirasi untuk nulis status baru di FB...
Apa alasanku update tulisan/gambar setiap hari?
=> karena aku ingin berkabar.
Kepada siapa?
= > Kepada siapapun yang ingin mengetahui kabar.
Jika tidak ada yang ingin bagaimana?
= > Setidaknya kabarku sudah menjadi JEJAK. That's it!

***
“El, utangku berapa ya semuanya?”
“Hitunglah yuk bareng!” aku dan Rini sama-sama berusaha mengingat berapa yang udah ku hutangkan dan berapa hutangku. Eh, sebenarnya yang bener itu bukan hutang loh pemirsaa, tapi utang. Karena rumus harta di dalam akuntansi itu H=U+M. U nya itu adalah utang dan M nya adalah modal. *Info.
“Huahhhhhh.. Rp 200.000 El. Banyaakkkk kalii!”
“Apaah? Rp 500.000? Busyett!”
“Dua ratus lohh, El.”
“Ohhh..” kambuh lagi pekakku.
“Aku pinjam uang El Rp 10.000 lagi ya, untuk beli pulsa. Biar ku total sekalian di sini.”
“Yuhuuuu…”
Pagi ini, giliran Rini yang masakin aku. Ye yeee.. Dia bikin telur dadar gosong. Hemm..tapi enak kok. Nggak masalah buatku, justru gurih.
Papi memanggil…
Aku mengangkatnya segera. Ternyata papi mau nanya gimana caranya thatering dari VIVO ke laptop di rumah. Aku jelaskan caranya tapi papi terkendala untuk menemukan security key yang ada di VIVO. Aku berusaha membantu, tapi nggak berhasil juga. Hiksss…
“OL pake HP ajalah Pii. Repot kali puuu,” pintaku.
“Hemmm..ya udah deh, habis pula pulsanya ntar lama-lama nelvoon. Daaaa,” tutup papi.
Hiksss.. maaf ya Pi, nggak bisa bantu. Susah juga ngarahinnya kalau bendanya nggak kelihatan gini.
Ini jalan kita… kamu dengan KESIBUKANMU dan aku dengan RUTINITASKU. Semoga masih ada celah untuk KITA sekedar BERCANDA. Met beraktivitas… ^_^

Ku baca pesan dari mami yang masuk tak lama setelah papi menutup telvon. Aku terharuuu.. apa mami merasa aku sibuk ya? Padahal kan kagak. Tapi, waktu papi nelvon tadi kok mami nggak nimbrung ngomong bentar siih? El kan mau ngomong juga. Hehe.. Anything happens, semoga Allah senantiasa membahagiakan dan mensejahterakan mami, papi, adek-adek di sana  yaa.. aamiin.

***
Aku buru-buru ke luar kosan ketika Okta meneriakiku dari teras. Dia datang bersama pasukan gorengannya, pemirsaaa.hihii. Seperti biasa dan selalu begini, setiap kali akan membicarakan sesuatu yang penting, kita akan selalu membicarakan ‘bumbu-bumbu’nya sampai nggak terasa waktu sudah banyak tersita. Bener kan? Contohnya: Niatnya datang ke rumah si A untuk nanyain tugas Statistik, tapi pas sampek sana kita ngobrolin tentang si B si C atau hal lainnya. Kalau dipersentasekan mungkin 70:30 besarannya. 70 untuk bumbunya, 30 untuk intinya. Hehe.
Begitu pun yang terjadi kali ini. Aku dan Okta belum sempat ‘nyeggol’ obrolan utama eh udah kedatangan pembicara ketiga aja. Dek Rafli tiba-tiba lewat di depan kosan dan kami panggil. Eh, si doi mampir dan ikutan nimbrung. Ada hikmahnya juga sih, 1 tiket workshopnya laku karenanya. Alhamdulillah. Malah, saking antusiasnya dia minta 3 lembar brosur untuk dibagikan ke teman-temannya di kosan dan di kampus. *sankyu adekkk.
HP Okta berbunyi. Ternyata yang menelvon adalah Joni. Mereka ada rencana untuk pagi ini. Aku pun, setengah jam lagi ada pemotretan. *Ciyee..berasa kayak artis aja nih. Hehe. Okta membonceng dek Rafli sampai ke kosannya dan aku bersiap untuk cap cusss segera.
Cek… kata abang itu jadinya jam 1 Cek, nggak jadi jam 11 ini.
Hemm…untung aja aku belum ready. Bakalan kezeeel kalau udah dan ternyata jadwalnya tertunda.

***
“Cek, Cek cantik banget hari iniii..”
“Ihh, makacih. Kakak juga cantiiikk,” balas Novi.
“Mana Abang itu Dek?”
“Itulah nggak ada dikabarinya lagi Novi. Tadi katanya jam satu, ini udah jam setengah dua pun. Mending kita kirimin foto kita yang udah ada kan Cek? Nggak perlu nunggu-nunggu gini kita.”
“Bener tuh. Lagian, yang dipakai kan cuma 1 foto aja.”
“Iya, bener tuh.
“Gimana kalau kita ke hutan FISIP aja Cek?”
“Boleh. Emang ada tempat duduk di sana?”
“Nggak ada sih, kita hunting aja berdua di sana. Sambil nungguin Abang tu datang. Cantik loh pemandangannya Cek.”
“Iya, Novi tahu, kayak yang di foto Kakak itu kan?”
“Yuhuuu.. di sanalah Kakak foto-foto kemarin tuu.”
Sensasi hunting foto bareng Rini, Lia dan Novi ternyata selalu berbeda-beda. Kalau sama Rini, dia gampang bosannya ngeladeni permintaanku –persis kayak Nilam. Kalau sama Lia, asyik walau kadang banyak rambu-rambunya. Kalau sama Novi, beda lagi serunya. Dia mau diajak gantian dan nggak bosenan. Sama gilanya kayak aku kalau udah nemu spot dan teknik pengambilan yang baru. Cihuyyy.. sejam pun di sini jadinya nggak kerasa pemirsaaa.
“Cek, HPmu bunyi. Itu Abang tu nggak?”
Novi berlari menghampiri tasnya yang diletakkan 5 meter dari posisi pose kami.
“Abang boncengan berdua yaa?... oh ya, terus aja ke arah depan Bang, terus belok kiri…. Haa..iya, ini ada yang melambaikan tangan ke arah Abang.”
Aku yang melambaikan tangan atas permintaan Novi, dari pinggir jalan. Eh, ternyata orang yang ku lambai barusan bukan si abang fotografer, buktinya mereka nggak lagi megang HP sementara Novi masih nyerocos juga. Hihii. Jadi malu..
Aku mengkode Novi bahwa kami salah orang.
“Cek, kita disuruh ke belakang Sutan Balia,” kata Novi.
Dan, ternyata abangnya muncul dari samping gedung ini. Dia langsung jongkok, memasang lensa DSLRnya dan memintaku berjalan 10 meter ke arah depan.
“Loh, Abang emangnya nggak ke depan lagi?” tanyaku, heran.
“Nggak. Abang tetap diam di sini aja. Malas Abang gerak-gerak tuu,” jawabnya.
Halaaahhh..bilang aja kalau kamera Abang udah canggih makanya bisa ngeshoot dari jauh!
Hanya beberapa kali jepretan dan sekarang gantian dengan Novi.
“Lihat ke arah atas Dekk.. yaapp, bagus. Jangan gituu senyumnyaaa… angkuh. Coba Nampak gigi!” pinta abang itu kepada Novi. Busyeet, senyumnya Novi dibilang angkuh pemirsaaa.

***
“Novi udah sejak SMP loh Cek pengen banget nampil di halaman Jelita tuu. Satu halaman full loh Cek buat 1 orang. Kan kece tuuhh!”
“Hiksss… Kakak yang nggak pernah bermimpi langsung dapat melalui Novi. Inilah hikmah persaudaraan. Makacih ya Cekkk.”
“Yuhuu sama-sama.”
Melihat kebaikan Novi ini membuatku terdorong untuk mengatakan apa yang beberapa waktu ini ku tahan.
“Cek, Kakak mau bilang sesuatu..”
“Eh, bentar Cek,” Novi memeriksa HPnya. “Apa, apa, tadi Cek mau bilang apa?”
“Sebelumnya Kakak minta maaf karena nggak bilang informasi ini ke Novi.”
Novi menatapku serius.
“Ada pemilihan Duta Lingkungan Cek.”
“Iyaa…kemarin juga Novi dapat BCnya. Tapi udah agak lama juga sih, pas bulan puasa kemarin. Kayaknya udah lewat DLnya ya Cek?”
“Belum Cek, diperpanjang sampai tanggal 18 September. Orang-orang banyak yang nggak tahu hal ini Cek. Kakak bisa tahu karena Kakak nekat bertanya. Eh, ternyata langsung dikabari kalau ada perpanjangan waktu. Kakak sering banget lucky karena sering mempertanyakan DL event loh Cek. Walaupun yang tertera itu udah jelas-jelas lewat DL, tapi Kakak sering tanya kepastiannya.”
“Weeww, kece. Apa syaratnya Cek?”
“Nah, inilah yang special. Tahun in perdana dilaksanakan pemilihan ini Cek dan syaratnya adalah KTI bertema Pekanbaru sebagai Green City menuju Kota Madani. Nggak ada catwalk-catwalk-an Cek kayak pemilihan duta yang lainnya selama ini. Makanya Kakak sangat excited banget untuk ikut.”
“Novi pernah lihat kok Cek sebelumnya ada juga Duta Lingkungan, tapi dari SMA manaaa gituu.”
“Nah, itu khusus anak SMA Cek, khususnya SMA yang bergelar Adiwiyata. Makanya mereka ada pemilihan duta lingkungannya. Nah, Kakak pengen banget memanfaatkan status Kakak sebagai mahasiswa ini cek karena syaratnya harus masih berstatus mahasiswa.”
“Oh,,gitu ya Cek. Nanti lah Novi fikirkan apa ide untuk KTInya.”
“Cek, Kakak nggak mau ngasih Cek kemarin karena khawatir kejadian kayak **di kemarin terulang lagi. Kakak nggak mau bersaing dengan orang terdekat Cek. Berjanjilah Cek apapun yang terjadi jangan pernah ada yang berubah.”
“Insya Allah Kak. Novi nggak akan kayak gituu.”
“Cek udah makan siang?”
“Udah Kak. Yuklah Novi temanin Kakak.”
Tadinya mau nongkrong di Balai Bahasa, tapi karena ayam penyetnya udah habis akhirnya aku beralih ke Pondok Hijau. Ditemani ngobrol oleh Novi. Ini udah pukul 15.10wib tapi aku baru makan siang, hehe. Setelah selesai, aku anterin Novi ke Balai Bahasa dan aku kembali ke kosan terindah.

***
“Gimana hasil palakan hari ini Rin?”
“Lumayan banyak juga,” jawabnya.
“Kan Rp 5000 wifi.id itu untuk waktu 12 jam kan? Kok Rini pulang sebelum jam 5 sore? Nggak sayang sisanya?”
“Capek loh El duduk lama-lama.”
“Oh gituu ya? heheh. Mana Mario Teguhku? Ada kaan didownloadkan tadi?”
Rini menengadahkan tangan dan menggerak-gerakkan jemarinya. Mengkodeku untuk menyerahkan hardisk kepadanya untuk mengkopi video permintaanku.
“Ada berapa Rin yang didownload buatku?”
“Enggg… 4 kayaknya nii. Lihatlah nanti.”

Setelah ku buka hardisk-ku, ternyata ada 5 video di dalamnya.
“Kata Rini 4, ternyata 5 kok ini!”
“Ya udahlah hapus aja yang satu lagi tuu!”
“Lohh?” aku mengernyitkan dahi.
“Susah kali pun. Gitu aja diributkan.”
Idiihh, sensitive kali sih neng. Mungkin di dalam hatinya Rini sana; ‘Udah capek-capek ku downloadkan pun! Ribut pula’ hehe. Sory tantee.. hihii.
Aku langsung nonton yang judulnya Salah Mencintai. Tiba-tiba perhatianku sekarang bukan hanya berfokus kepada papi Mario Teguh, tapi kepada hostnya yang keren banget itu loh; Ghivari Pahlevi. Mendadak jadi stalker nih dengang nyari nama FBnya dan setelah dapat langsung aja ku add.
“Riiinn, ternyata Abang ni penyiar radio jugaa.”
Rini geleng-geleng melihat tingkahku.
“Riiinn… tapi kayaknya Abang ini udah punya calon deh..”
“Huuu..kasihan deh looo.”
“Ternyata Abang ini adalah alumni Abang None Jakarta tahun 2009 Riin. Ah, aku mau ngirimin dia puisi ah, siapa tahu dia suka. Kan kalau kenalanna cuma bilang; Kak, aku ngefans sama Kakak atau Kak, boleh kenalan nggak? itu kan udah mainstream banget. Kalau dengan puisi kan agak Nampak bermodal dikit. Hehe.”
“Nyadar lah Ell. Jangan menghayal napa!”

“Rin, semuanya itu harus diawali dengan bermimpi. Termasuk untuk urusan jodoh, kita harus memimpikan ingin seperti apa jodoh kita nantinya. Eh, aku akan bikin novel tentang rakyat jelata yang ngefans sama host TV nasional dan akhirnya mereka berjodoh. Hayoooo.. kerenn kan? Hiihii.”
“Buatlah buaattt,” kata Rini, pasrah.
Well, jadilah aku menyambut senja dengan menyimak seksama nasehat-nasehat bijaknya Mario Teguh. Seharusnya hari ini aku latihan musikalisasi puisi bareng teman-teman FLP ranting UR, tapi miss komunikasi karena SMS dari bang Adit yang ku terima tadi bukannya tertulis hari rabu, tapi hari selasa. Ya otomatislah aku nggak datang karena ku fikir hari ini nggak ada latihan dan SMS bang Adit yang kemarin baru nyampek hari ini. hihiii. Baru ketahuan kalau bang Adit salah ngetik waktu tadi dia nanyain kenapa aku nggak datang. Huaahhhh.

Tidak ada komentar: