“Cin, aku dulu waktu SMP suka banget loh ngelacak nomor dan
paling seneng banget kalau nyambung dan ternyata itu cowok yang ngangkat.
Hihiii.”
“Kayaknya kita semua emang pernah mengalami masa-masa kayak
gitu lah ya Cin?”
“Mu jugak ya?”
“Iyaaa.. hhaaha.”
“Tulah. Kadang, ada yang baik dan emang mau berkawan. Tapi
kadang ada juga yang nyebelin. Aku sering banget membayangkan wajah si cowok
itu, ganteng apa ngga ya? Apalagi kan dulu itu nggak ada FB atau HP yang
canggih kayak sekarang buat kirim-kiriman foto. HPku aja dulu jadul banget.”
“Dulu kan adanya Friendster Cin. Udah punya mu dulu?”
“Aku tahu Friendster tu waktu SMA Cin. Itu pun cuma tahu,
tapi nggak punya. Hehe.”
“Aku punya dulu pun waktu SMA. Dibikinkan sama teman
sekelas. Duh, baik banget mereka tuh!”
Kamu sih semua orang
dibilang baik Cin. Kamu emang sesuatu banget bagiku! Anugerah.
***
“Jam berapa mu TOEFEL Cin?”
“Jam 8 Cin.”
Oh, berarti sekarang belum jam 8 kan? Hemm…. Ya udah, aku
tidur lanjut tidur bentar. Dan, ketika aku membuka mata, Lia udah nggak ada.
Pas aku baru bangun dan ngucek-ngucek mata di atas tempat tidur, Rini
berkomentar,
“Ya ampuuuuuun, brau bangun kok El kelihatan makin gemuk
sih?”
Aku hanya mengernyitkan dahi.
“Ya Allah, iya loh El. Beneraaann. Itu haaa, rahang El
sampai nggak kelihatan lagi saking bulatnya. Apa lagi El pakai baju daster
gitu, persis kayak ibu hamil jadinya. Hiihhh!!!” Rini geram.
Dikatai gemuk, aku langsung sigap bergerak. Ngumpulin
piring-piring kotor, nyapu kamar, beresin tempat tidur dan nyuci baju padahal masih
sedikit, sampai-sampai Rini komentar lagi, “El kok tumben rajin kali nyuci
baju? Biasanya nunggu dicuciin dulu.”
Emang ngajak berantem si Rini nih ya. Grrr…. Haha.
Teringat bahwa aku belum menuliskan secara real
target-target Ramadhanku, maka aku segera mencari kertas usang dan spidol lalu
menuliskan 10 target Ramadhanku. Di sudut kanan bawah, ku tulis Better Late
than Never, sebagai titimangsanya. Hihii. Semoga setiap yang membacanya
mendoakanku. Rini mencoba mencuri-curi lihat, giliran aku yang berkomentar,
“Hushhh! Jangan nyonteklah!” padahal ntah tertarik ntah
nggak pun si Rini tuh. Hahaha.
***
Pukul 11.00wib
Lia udah pulang.
“Gimana tadi ujiannya Cin?”
“Alhamdulillah lancar. Tapi, ntah gimanalah nilainya tuh,
nggak kebayang aku.”
“Targetnya 570 kan Li?” tanya Rini.
Sok tempe amat nih Rincuy, bathinku.
“Iya, aamiin ya Allah,” jawab Lia.
Ah, aku baru ingat. Rini pasti menerka dari tempelan di
dinding kamarnya Lia kemarin. Memang di sana tertulis target TOEFELnya 570.
Karena, jurusan bahasa inggris itu memang lebih tinggi target kelulusannya.
Merka 500 minimal scorenya, sedangkan kami yang selainnya minimal 450.
Lia mengingatkan kami tentang perbaikan KTI MTQ. Ya, hari
ini adalah pembinaan terakhir dan kami harus berikhtiar maksimal. Kami membuka
kembali catatan saran dari ustad Fahri dari Rabu kemarin.
“Rin, tolong carikan hasil penelitian yang membuktikan bahwa
Al-Quran itu meningkatkan kepemimpinan,” pintaku.
Sementara aku dan Lia, sibuk mendiskusikan tentang korelasi
dan komparasi antara ODOS dan ODOJ.
“Cin, jadi kita menjadikan ODOS ini berdiri sendiri aja atau
bergabung ke ODOJ?”
“Kalau berdiri sendiri, berarti kita harus sosialisasi lagi
dari awal. Tapi, kalau gabung ke ODOJ, berarti kita bisa pakai anggota ODOJ
juga untuk bergabung di ODOS.”
“Tapi, kalau yang udah ODOJ bergabung ke ODOS, apa itu nggak
penurunan namanya Cin? Dari levelnya ya.”
“Iya ya. Terus gimana nih? Atau anggota kita adalah ODOJ dan
non ODOJ, jadinya bebas. Target kita kan ODOS ini untuk setahun, jadi sasaran
utamanya adalah mereka yang ngajinya masih pemula gimana?”
“Bagus juga tuh. Tapi, pemula gimana maksdunya Cin?”
“Dia udah bisa ngaji, tapi belum intens dan jarang-jarang
aja ngajinya gitu. Gimana?”
“Aha! Gimana kalau kita fokuskan aja ke pemuda Cin? Berdasarkan
pasal…emm..pasal berapa yaaa?”
“Bentar-bentar, aku ada nyatat pasal itu kemarin.” Rini
mendadak ikutan nimbrung. Ia membolak-balik catatannya“Undang-undang nomor 4 tahun 2009 nih!”
“Loh, Rini dapat materi tentang pemuda dari mana?” tanya
Lia.
“Dari pelatihan DISPORA kemarin.”
“Terus Cin, setelah setahun dibimbing bersama ODOS,
diteruskan ke ODOJ deh para anggota itu, gimana?”
“Iya, setuju. Jadi, mereka meningkat terus kapasitasnya ya. Eh,
tapi, kalau di ODOJ nggak diwajibkan membaca terjemahan dan setor makna, nggak
nyambung donk Cin ntar?”
“Hemm…iya juga. Gimana ya? Aha! Atau kita jadikan itu
sebagai rekomendasi aja untuk ODOJnya? Untuk mewajibkan membaca terjemahnya dan
disetorkan juga?”
“Setuju. Kalau masalah pemimpin bergilir, mereka kan udah
punya PJ hariannya juga ya.”
“Iya, kalau yang itu sih udah cucoklah.”
Setelah diskusi selesai, aku meracik ide-ide tersebut di
atas kertas. Tak sampai 5 menit kemudia,
Lia udah tewas aja. Rini apalagi. Hemm… yang penting ini udah kelar dan udah
ada bahan omongan ntar.
***
“Seperti yang kita tahu bersama, hari ini adalah hari pembinaan
terakhir sebelum besok diputuskan untuk memilih 1 yang terbaik untuk dikirim ke
UI. Diingatkan lagi bahwa siapapun yang terpilih nantinya, semuanya harus
ikhlas ya. ODOS, bagaimana? Apa perbaikan dan tambahan dari yang kemarin?”
Aku memang udah berniat angkat tangan tadinya untuk jadi
yang pertama bicara. Eh, pucuk dicinta, ulampun tiba.
“Ehemm..jadi begini ustad, kami sudah berdiskusi tentang
tindak lanjut setelah ODOS ini dilaksanakan. Dan, kami telah merumuskan bahwa
ODOS ini akan berlangsung selama 1 tahun dan diasumsikan bahwa kedisiplinan
mengaji sudah terasah dan dilanjutkan ke ODOJ supaya kualitas dan kuantitas
mengajinya semakin meningkat. Tapi, ada 1 rekomendasi untuk ODOJ agar menambah
keharusan untuk membaca terjemahnya, karena kalau dari ODOS udah terlatih untuk
membaca terjemah selalu tapi di ODOJnya nggak dianjurkan kan jadi nggak
sinkron. Kalau untuk Pemimpin Bergilir, di ODOJ sudah ada yang disebut PJ
harian, Ustad.”
“… nanti bisa ditambahkan dengan hasil penelitian dari
Jerman, itu saya lupa nama penelitinya, bahwa untuk membentuk kebiasaan itu
diperlukan 5000 kali pengulangan. Supaya jadi terbiasa, karena sesuatu yang
sudah terbiasa itu nggak perlu dipancing dia akan hadir dengan sendirinya. Atau
mungkin kalau alasan 1 tahun itu dijabarkan ke dalam perkalian bahwa 2 halaman
per hari dikali 365 hari, maka dalam setahun sudah bisa khatam 1 kali. Karena jumlah
halaman Al-Quran kita rata-rata 604 halaman.”
Aku, Lia dan Rini mencatat semua saran dari Ustad Fahri
sebagai perbaikan dan pemantapan.
“Saya berharap ide ini tidak terhenti hanya sebatas ide. Mungkin
bisa dipublikasikan ke Riau Pos atau Koran lainnya supaya bisa dibaca oleh
masyarakat. Jangan sampai Riau yang dikenal sebagai negeri Melayu yang identik
dengan islam justru masyarakatnya buta aksara Al-Quran. Nah, buta aksara
Al-Quran ini yang paling berbahaya. Tapi, jangan dipublish dulu ya sebelum
pasti siapa yang diputuskan untuk berangkat.”
***
“Cin, merasa nggak sih kalau Ustad itu tadi condong banget
ke kelompok kita?”
“Iya, aku juga mikir gitu.”
“Aamiin ya Allah. Eh, kita jangan bahas-bahas itu dulu
sebelum pasti besok siapa yang terpilih. Pamalik!”
“Iya, ya. Pamalik nih kita ntar. Kita diem-diem aja dulu.”
“Cin, mampirin aja aku sama Rini di BEM FKIP. Okta katanya
mau ketemu. Jadi, mu bisa langsung ke DPM deh.”
“Kalau bisa kita besok ngirim berkasnya pas subuh ya Cin?”
usul Lia.
“Kenapa gitu Cin?”
“Ya, siapa tahu ustadnya sedang seger dan bisa fokus baca
tulisan kita. Ya nggak?”
“Ide bagus tuh. Yuhuuuu…”
“Pasti ada nilai plusnya bagi orang-orang yang tepat waktu
Cin.”
***
Sore ini Lia buka bareng anak-anak BEM KT, ini aku aja ke
musholanya jalan kaki sendirian. Udah jam 20.35wib tadi waktu aku berangkat,
aku kira aku udah terlambat. Eh, ternyata belum ada orang toh. Huft!
Aku menunggu azan sambil membaca Al-Quran di teras mushola,
tempat shaf makmum juga. Eh, kak Yil muncul bareng Nanda dan mamanya. Aku men-senyumi
mereka semua. Nggak bisa dipungkiri, sekarang semuanya jadi lebih kaku.
Sungguh, aku nggak menyukai keadaan ini. Aku memang belum pandai menyikapi
keadaan dan harus banyak belajar untuk itu semua.
Aku basa-basi menanyakan tentang KKNnya Nanda. Dan, ternyata
dia pun ikut KKN kebangsaan. Keren! Plok plok plok. Setelah obrolan itu, aku
kembali berwudhu dan berpindah ke dalam mushola. Lagi-lagi aku dapat posisi
paling depan dan gorden pembatasnya selalu aja nyangkut di kepalaku waktu aku
tegak. Huft! Kalau ku hindari, sujudku yang jadi nggak sempurna.
Pak ustad yang ceramah malam ini aku mengatakannya mirip
ustad Yusuf Mansyur. Gaya berceramahnya adalah komunikasi 2 arah; tanya-jawab.
Beberapa ustad sebelumnya akan mendominasi penyampaian, barulah jamaah diminta
bertanya tapi nyatanya nggak ada yang pernah nanya. Eh, mala mini banyak banget
yang nanya sampek 15 menit lebih lama dari waktu biasanya. Weeww!
“…sholat sunah Tasbih itu dilaksanakan 1 kali sehari, kalau
nggak sanggup 1 kali seminggu, kalau nggak sanggup juga 1 kali sebulan, 1 kali
setahun atau paling tidak 1 kali seumur hidup. Kalau nggak mau juga
melaksanakannya, ntahlah!. Sholat sunah tasbih ini bisa menghapuskan semua dosa
yang pernah kita lakukan. Sampai ada yang mengatakan bahwa hadist itu dhoif. Masa
semua dosa bisa diampuni seketika? Ada yang ragu tentang hal itu. Padahal,
tidak ada yang perlu diragukan. Tapi, contohnya nih kita menipu orang dan
merampas hartanya, lalu kita ingin bertobat dengan sholat sunah tasbih ya tentu
tidak bisa. Orang tersebut harus menyelesaikan urusannya dengan orang yang
dizalimi tadi. Semua dosa yang dimaksud di sini adalah selain hutan-piutang
karena itu termasuk ke muamalat. Nah, muamalat ini berat urusannya Pak, Bu. Jangan
disepelekan.”
DEG! Aku kembali diingatkan akan hal ini. Ya Allah, setelah
hutang piutangku lunas, aku akan belajar untuk menjauhi hutang. Bismillah!
***
Aku tiba-tiba pengen makan. Padahal udah jam 11 nih! Tadi waktu buka ditemani dengan es Oyen dan pecel yang ku titip beliin sama Rini. Rasanya udah kenyang banget dan akhirnya aku memutuskan nggak makan nasi. Tapi, sekarang lihatlah apa yang terjadi? Aku malah mengulang makan. Nggak kalah lahap pula tuh.
"Hemm...katanya mau dieeeeeeet," sindir Rini.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar