Sabtu, 27 Juni 2015

Ramadhan ke-10; Utang adalah Penghalang


“Cin, aku dulu waktu SMP suka banget loh ngelacak nomor dan paling seneng banget kalau nyambung dan ternyata itu cowok yang ngangkat. Hihiii.”
“Kayaknya kita semua emang pernah mengalami masa-masa kayak gitu lah ya Cin?”
“Mu jugak ya?”
“Iyaaa.. hhaaha.”
“Tulah. Kadang, ada yang baik dan emang mau berkawan. Tapi kadang ada juga yang nyebelin. Aku sering banget membayangkan wajah si cowok itu, ganteng apa ngga ya? Apalagi kan dulu itu nggak ada FB atau HP yang canggih kayak sekarang buat kirim-kiriman foto. HPku aja dulu jadul banget.”
“Dulu kan adanya Friendster Cin. Udah punya mu dulu?”
“Aku tahu Friendster tu waktu SMA Cin. Itu pun cuma tahu, tapi nggak punya. Hehe.”
“Aku punya dulu pun waktu SMA. Dibikinkan sama teman sekelas. Duh, baik banget mereka tuh!”
Kamu sih semua orang dibilang baik Cin. Kamu emang sesuatu banget bagiku! Anugerah.
***
“Jam berapa mu TOEFEL Cin?”
“Jam 8 Cin.”
Oh, berarti sekarang belum jam 8 kan? Hemm…. Ya udah, aku tidur lanjut tidur bentar. Dan, ketika aku membuka mata, Lia udah nggak ada. Pas aku baru bangun dan ngucek-ngucek mata di atas tempat tidur, Rini berkomentar,
“Ya ampuuuuuun, brau bangun kok El kelihatan makin gemuk sih?”
Aku hanya mengernyitkan dahi.
“Ya Allah, iya loh El. Beneraaann. Itu haaa, rahang El sampai nggak kelihatan lagi saking bulatnya. Apa lagi El pakai baju daster gitu, persis kayak ibu hamil jadinya. Hiihhh!!!” Rini geram.
Dikatai gemuk, aku langsung sigap bergerak. Ngumpulin piring-piring kotor, nyapu kamar, beresin tempat tidur dan nyuci baju padahal masih sedikit, sampai-sampai Rini komentar lagi, “El kok tumben rajin kali nyuci baju? Biasanya nunggu dicuciin dulu.”
Emang ngajak berantem si Rini nih ya. Grrr…. Haha.
Teringat bahwa aku belum menuliskan secara real target-target Ramadhanku, maka aku segera mencari kertas usang dan spidol lalu menuliskan 10 target Ramadhanku. Di sudut kanan bawah, ku tulis Better Late than Never, sebagai titimangsanya. Hihii. Semoga setiap yang membacanya mendoakanku. Rini mencoba mencuri-curi lihat, giliran aku yang berkomentar,
“Hushhh! Jangan nyonteklah!” padahal ntah tertarik ntah nggak pun si Rini tuh. Hahaha.

***
Pukul  11.00wib
Lia udah pulang.
“Gimana tadi ujiannya Cin?”
“Alhamdulillah lancar. Tapi, ntah gimanalah nilainya tuh, nggak kebayang aku.”
“Targetnya 570 kan Li?” tanya Rini.
Sok tempe amat nih Rincuy, bathinku.
“Iya, aamiin ya Allah,” jawab Lia.
Ah, aku baru ingat. Rini pasti menerka dari tempelan di dinding kamarnya Lia kemarin. Memang di sana tertulis target TOEFELnya 570. Karena, jurusan bahasa inggris itu memang lebih tinggi target kelulusannya. Merka 500 minimal scorenya, sedangkan kami yang selainnya minimal 450.
Lia mengingatkan kami tentang perbaikan KTI MTQ. Ya, hari ini adalah pembinaan terakhir dan kami harus berikhtiar maksimal. Kami membuka kembali catatan saran dari ustad Fahri dari Rabu kemarin.
“Rin, tolong carikan hasil penelitian yang membuktikan bahwa Al-Quran itu meningkatkan kepemimpinan,” pintaku.
Sementara aku dan Lia, sibuk mendiskusikan tentang korelasi dan komparasi antara ODOS dan ODOJ.
“Cin, jadi kita menjadikan ODOS ini berdiri sendiri aja atau bergabung ke ODOJ?”
“Kalau berdiri sendiri, berarti kita harus sosialisasi lagi dari awal. Tapi, kalau gabung ke ODOJ, berarti kita bisa pakai anggota ODOJ juga untuk bergabung di ODOS.”
“Tapi, kalau yang udah ODOJ bergabung ke ODOS, apa itu nggak penurunan namanya Cin? Dari levelnya ya.”
“Iya ya. Terus gimana nih? Atau anggota kita adalah ODOJ dan non ODOJ, jadinya bebas. Target kita kan ODOS ini untuk setahun, jadi sasaran utamanya adalah mereka yang ngajinya masih pemula gimana?”
“Bagus juga tuh. Tapi, pemula gimana maksdunya Cin?”
“Dia udah bisa ngaji, tapi belum intens dan jarang-jarang aja ngajinya gitu. Gimana?”
“Aha! Gimana kalau kita fokuskan aja ke pemuda Cin? Berdasarkan pasal…emm..pasal berapa yaaa?”
“Bentar-bentar, aku ada nyatat pasal itu kemarin.” Rini mendadak ikutan nimbrung. Ia membolak-balik catatannya“Undang-undang nomor  4 tahun 2009 nih!”
“Loh, Rini dapat materi tentang pemuda dari mana?” tanya Lia.
“Dari pelatihan DISPORA kemarin.”
“Terus Cin, setelah setahun dibimbing bersama ODOS, diteruskan ke ODOJ deh para anggota itu, gimana?”
“Iya, setuju. Jadi, mereka meningkat terus kapasitasnya ya. Eh, tapi, kalau di ODOJ nggak diwajibkan membaca terjemahan dan setor makna, nggak nyambung donk Cin ntar?”
“Hemm…iya juga. Gimana ya? Aha! Atau kita jadikan itu sebagai rekomendasi aja untuk ODOJnya? Untuk mewajibkan membaca terjemahnya dan disetorkan juga?”
“Setuju. Kalau masalah pemimpin bergilir, mereka kan udah punya PJ hariannya juga ya.”
“Iya, kalau yang itu sih udah cucoklah.”
Setelah diskusi selesai, aku meracik ide-ide tersebut di atas kertas. Tak sampai  5 menit kemudia, Lia udah tewas aja. Rini apalagi. Hemm… yang penting ini udah kelar dan udah ada bahan omongan ntar.

***
“Seperti yang kita tahu bersama, hari ini adalah hari pembinaan terakhir sebelum besok diputuskan untuk memilih 1 yang terbaik untuk dikirim ke UI. Diingatkan lagi bahwa siapapun yang terpilih nantinya, semuanya harus ikhlas ya. ODOS, bagaimana? Apa perbaikan dan tambahan dari yang kemarin?”
Aku memang udah berniat angkat tangan tadinya untuk jadi yang pertama bicara. Eh, pucuk dicinta, ulampun tiba.
“Ehemm..jadi begini ustad, kami sudah berdiskusi tentang tindak lanjut setelah ODOS ini dilaksanakan. Dan, kami telah merumuskan bahwa ODOS ini akan berlangsung selama 1 tahun dan diasumsikan bahwa kedisiplinan mengaji sudah terasah dan dilanjutkan ke ODOJ supaya kualitas dan kuantitas mengajinya semakin meningkat. Tapi, ada 1 rekomendasi untuk ODOJ agar menambah keharusan untuk membaca terjemahnya, karena kalau dari ODOS udah terlatih untuk membaca terjemah selalu tapi di ODOJnya nggak dianjurkan kan jadi nggak sinkron. Kalau untuk Pemimpin Bergilir, di ODOJ sudah ada yang disebut PJ harian, Ustad.”
“… nanti bisa ditambahkan dengan hasil penelitian dari Jerman, itu saya lupa nama penelitinya, bahwa untuk membentuk kebiasaan itu diperlukan 5000 kali pengulangan. Supaya jadi terbiasa, karena sesuatu yang sudah terbiasa itu nggak perlu dipancing dia akan hadir dengan sendirinya. Atau mungkin kalau alasan 1 tahun itu dijabarkan ke dalam perkalian bahwa 2 halaman per hari dikali 365 hari, maka dalam setahun sudah bisa khatam 1 kali. Karena jumlah halaman Al-Quran kita rata-rata 604 halaman.”
Aku, Lia dan Rini mencatat semua saran dari Ustad Fahri sebagai perbaikan dan pemantapan.
“Saya berharap ide ini tidak terhenti hanya sebatas ide. Mungkin bisa dipublikasikan ke Riau Pos atau Koran lainnya supaya bisa dibaca oleh masyarakat. Jangan sampai Riau yang dikenal sebagai negeri Melayu yang identik dengan islam justru masyarakatnya buta aksara Al-Quran. Nah, buta aksara Al-Quran ini yang paling berbahaya. Tapi, jangan dipublish dulu ya sebelum pasti siapa yang diputuskan untuk berangkat.”

***
“Cin, merasa nggak sih kalau Ustad itu tadi condong banget ke kelompok kita?”
“Iya, aku juga mikir gitu.”
“Aamiin ya Allah. Eh, kita jangan bahas-bahas itu dulu sebelum pasti besok siapa yang terpilih. Pamalik!”
“Iya, ya. Pamalik nih kita ntar. Kita diem-diem aja dulu.”
“Cin, mampirin aja aku sama Rini di BEM FKIP. Okta katanya mau ketemu. Jadi, mu bisa langsung ke DPM deh.”
“Kalau bisa kita besok ngirim berkasnya pas subuh ya Cin?” usul Lia.
“Kenapa gitu Cin?”
“Ya, siapa tahu ustadnya sedang seger dan bisa fokus baca tulisan kita. Ya nggak?”
“Ide bagus tuh. Yuhuuuu…”
“Pasti ada nilai plusnya bagi orang-orang yang tepat waktu Cin.”

***
Sore ini Lia buka bareng anak-anak BEM KT, ini aku aja ke musholanya jalan kaki sendirian. Udah jam 20.35wib tadi waktu aku berangkat, aku kira aku udah terlambat. Eh, ternyata belum ada orang toh. Huft!
Aku menunggu azan sambil membaca Al-Quran di teras mushola, tempat shaf makmum juga. Eh, kak Yil muncul bareng Nanda dan mamanya. Aku men-senyumi mereka semua. Nggak bisa dipungkiri, sekarang semuanya jadi lebih kaku. Sungguh, aku nggak menyukai keadaan ini. Aku memang belum pandai menyikapi keadaan dan harus banyak belajar untuk itu semua.
Aku basa-basi menanyakan tentang KKNnya Nanda. Dan, ternyata dia pun ikut KKN kebangsaan. Keren! Plok plok plok. Setelah obrolan itu, aku kembali berwudhu dan berpindah ke dalam mushola. Lagi-lagi aku dapat posisi paling depan dan gorden pembatasnya selalu aja nyangkut di kepalaku waktu aku tegak. Huft! Kalau ku hindari, sujudku yang jadi nggak sempurna.
Pak ustad yang ceramah malam ini aku mengatakannya mirip ustad Yusuf Mansyur. Gaya berceramahnya adalah komunikasi 2 arah; tanya-jawab. Beberapa ustad sebelumnya akan mendominasi penyampaian, barulah jamaah diminta bertanya tapi nyatanya nggak ada yang pernah nanya. Eh, mala mini banyak banget yang nanya sampek 15 menit lebih lama dari waktu biasanya. Weeww!
“…sholat sunah Tasbih itu dilaksanakan 1 kali sehari, kalau nggak sanggup 1 kali seminggu, kalau nggak sanggup juga 1 kali sebulan, 1 kali setahun atau paling tidak 1 kali seumur hidup. Kalau nggak mau juga melaksanakannya, ntahlah!. Sholat sunah tasbih ini bisa menghapuskan semua dosa yang pernah kita lakukan. Sampai ada yang mengatakan bahwa hadist itu dhoif. Masa semua dosa bisa diampuni seketika? Ada yang ragu tentang hal itu. Padahal, tidak ada yang perlu diragukan. Tapi, contohnya nih kita menipu orang dan merampas hartanya, lalu kita ingin bertobat dengan sholat sunah tasbih ya tentu tidak bisa. Orang tersebut harus menyelesaikan urusannya dengan orang yang dizalimi tadi. Semua dosa yang dimaksud di sini adalah selain hutan-piutang karena itu termasuk ke muamalat. Nah, muamalat ini berat urusannya Pak, Bu. Jangan disepelekan.”
DEG! Aku kembali diingatkan akan hal ini. Ya Allah, setelah hutang piutangku lunas, aku akan belajar untuk menjauhi hutang. Bismillah! 

***
Aku tiba-tiba pengen makan. Padahal udah jam 11 nih! Tadi waktu buka ditemani dengan es Oyen dan pecel yang ku titip beliin sama Rini. Rasanya udah kenyang banget dan akhirnya aku memutuskan nggak makan nasi. Tapi, sekarang lihatlah apa yang terjadi? Aku malah mengulang makan. Nggak kalah lahap pula tuh.
"Hemm...katanya mau dieeeeeeet," sindir Rini.

Tidak ada komentar: