Aku terjaga pukul 08.00wib. Bangun perlahan, nyabut cas
laptop dan kemudian meneruskan kantuk yang masih tersisa. Barulah aku terbangun
lagi pukul 08.30wib. *hoaaammm… selamat
pagi dunia. Seketika, aku teringat akan pak Riadi. Kemarin, beliau menyuruhku datang
sebelum pukul 9 kalau mau mengajukan judul. Tapi, kali ini aku benar-benar
enggan dulu bertemu dengannya. Aku pernah berkata kepada Rini begini, “Rin,
ngerasa ngak sih kalau hari Jumat itu adalah hari yang pendek dan singkat?”
Kadang, yang mengecewakan hati itu adalah terlau cepatnya staff pelayanan di
kampus itu hengkang sebelum jam kantor usai. Intinya, hari ini aku sedang tidak
ingin dikecewakan.
Baju kotor di ember sudah menumpuk. Saatnya aku mencuci
baju. Lia bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Katanya mau ngurus ujian
TOEFELnya.
“Cin, uangnya udah ada belum?” tanya Lia.
“Udah Cin. Alhamdulillah semalam udah dikirim sama Papi.
Bawa aja ATM aku ini, ntar ambil aja. passwordnya…”
“Masa aku yang ngambilin Cin? Mu nggak curiga?”
“Ya enggaklah! Haahha.”
Setelah Lia pergi, aku menunggu rendaman sambil menulis
cerpen. Sudah cukup lama rasanya aku tidak menulis cerpen dengan serius.
Kemarin siang, aku membaca kumpul cerpen majalah TEMPO dan aku benar-benar
dibuatnya terkesima. Itu cerpen keren bingitsss cin. Nggak salah kalau Tempo
menerbitkannya. Nah, sekarang aku ingin memanfaatkan nuansa hatiku untuk
mengasah cerpen ini. Tokoh utamanya bukan aku, tapi Okta. Aku mengangkat
konfliknya dari perpaduan konflikku dan konfliknya. Bismillah..semoga kece
badai.
***
Sejam berlalu.
“Rin, baca ya cerpenku dan komentari. Nih!” aku menyodorkan
laptopku kepada Rini. Rini menyambutnya dan mulai membaca. “Cuma 2 halaman kok.
Tapi ku asah banget emosinya. Kerenan mana dengan cerpen psikopat kemarin?”
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan mulai mengucek pakaian.
Rini masih tekun membaca.
“Hemmmm..udah selesai,” kata Rini. “Tapi, aku lebih suka
dengan yang kemarin lagi El.”
“Masa iya? Kenapa gitu?”
“Ya, kalau yang kemarin itu kelihatan kali El psikopatnya.
Kalau yang ini sih cuma sedih aja.”
“Tapi, sedihnya dapet kan?” aku memburu jawaban Rini yang
bisa memuaskanku.
“Dapeeet. Tapi, aku lebih suka yang psikopat kemarin El..”
“Hemmm….”
Masa aku harus jadi psikopat untuk bikin Rini seneng?
Huahhhh…
***
“Cin? Sholat Ashar yuksss?”
Lia membuka matanya perlahan. Matanya agak merah. Bola mata
itu bergerak ke sana ke mari, mencoba mengumpulkan fokus dan kesadaran
sepenuhnya.
Aku pun nyaris tertidur tadi kalau tidak segera duduk dan
mulai mengangsur menuliskan kisah tentang hari ini. yah, lumayanlah tertulis
juga 2 halaman nih!.
“Cin? Mu bubar ntar jam berapa?” tanyaku kepada Lia setelah
sholat Ashar.
“Jam 6 Cin. Kenapa?”
“Aku kan bubar bareng anak FLP di jalan Pembangunan nih.
Sebentar lagi aku langsung capcusss, soalnya ada acara bagi-bagi takjil dulu
ntar di sana. Nah, motorku kan nggak baik tuh, jadi boleh nggak pinjam
motormu?”
“Oh gituuu. Pake aja.”
“Mu ntar ke tempat Pak Ulis gimana?”
“Gampang. Minta jemput aja sama anak DPM yang lain.”
Aku segera bersiap-siap dan pergi. Tujuan pertamaku adalah
ke pesantrennya Nilam. Mami memintaku menanyakan bisa atau tidaknya Nilam untuk
ikut ke loket besok sore, bertemu dek Edo sebelum bus berangkat.
“Kak? Ada nggak yang beratnya di bawah 3 kg aja?” Aku sedang
membeli semangka di jalan Delima. Tinggal 100 meter lagi ke tujuan.
Kakak penjual semangka memilih-milih semangka yang lain.
“Nggak ada Dek. Ini yang paling kecil cuma yang 3kg aja. Mau?”
“Hemmm..boleh lah Kak. Daripada yang 3,5kg tadi. Eh, tapi
ini semangkanya warna apa ya Kak?”
“Merah lah Kak,” jawab Kakak itu dengan tawa kecil.
Aku hanya mengantisipasi, jangan-jangan itu semangka kuning.
Syukurlah kalau ternyata merah.
***
“Tolong panggilkan Nilam, Dek?” pintaku kepada gadis
bercadar yang berada di teras pondok.
“Nilaaamm? Nilaamm? Ada yang nyariin nih,” teriaknya dari
bawah tangga. Ia mendongakkan kepalanya hingga ke lantai teratas, lantai 3.
Yang dipanggil agak lama turunnya. Aku udah sempat
terbengong-bengong dan duduk nganggur di ruang tamu.
“Ada apa Mbak?” tanya Nilam sambil menyalami tanganku.
Aku langsung menceritakan perihal kepulangan Edo besok sore
dan memintanya untuk segera menanyakan boleh atau tidaknya aku menjemputnya
besok.
Nilam ke luar dari dalam ruang makan. “Mbak, boleh kata
ustazahnya. Asal, besok sholat Tarawihnya di sini.”
“Oh, berarti kalau agak telah ke sininya nggak apa-apa ya?”
tanyaku.
“Nggak apa-apa.”
“Eh, Lam, kok banyak banget semangka sih di sini?”
“Iya, itu dari GS kemarin. Mbak Ela sih, kenapa bawaian
semangka juga? Nggak ada yang lain yang dibawa nih?” Nilam melongok ke kiri,
kanan dan belakangku.
“Nggak ada. Cuma semangka aja. Kalau gitu, Mbak bawa ajalah
ya buat anak-anak FLP, soalnya kami mau bubar hari ini. Masih ingat kan nilam
dengan FLP?”
“Hemmm, masih. La jadi?”
***
Aku sudah berada di jalan Pembangunan, gang di sebelah kiri
dari bentangan jalan Tuanku Tambusai. 100 meter dari bibir gang ini, aku
menemui perempatan dan mulailah aku galau. Apalagi setelah mendapati HPku tidak
ada di dalam tas. Pati ketinggalan di
atas rak buku tadi, nih! Eh, tunggu dulu, tadi sewaktu aku bertemu dengan
kak Juniar di tempat beli semangka, dia ada bilang alamatnya bubarnya di dekat
kantor BRIMOB.
Aku nekat berbelok ke kanan Siapa tahu tak jauh lagi akan ku
temui kantor BRIMOB tersebut. Eh, di ujung jalan malah aku jadi ketemu lagi
dengan jalan Tuanku Tambusai. *Macam mana nih bah?! Ku putar arah dan aku
memilih untuk terus lurus, artinya aku memilih berbelok ke kiri jika merunut
dari arah datang tadi.
Setelah menelusuri jalan ini sekitar 100meter-an, aku mulai
ragu.
“Bu, mau tanya, kantor BRIMOB di sini di mana ya, Bu?”
“Oh, masih jauh lagi Dek. Lurus aja kan, ntar mentok, baru
belok ke kiri. Langsung jumpa tuh di sebelah kirinya.”
“Oh gitu. Makasih ya Bu.”
Minyak yang seharusnya bisa ku hemat, akhirnya harus
terkuras juga untuk menyelesaikan ketidakpastian ini. aku menuruti arahan ibu
tadi. Tapi, tunggu dulu, ini bukannya jalan SUKAJADI? Walaaahhh…kepiye iki?
Aku mengecek Androidku yang untunya terbawa.
Setelah masuk gang
Pembangunan, lurus aja. Ntar nemu DPD PAN. Nah, tempat bubar kita 2 gedung
sebelum gedung itu.
Ah, kenapa nggak ngecek dari tadi sih El? Untung aja bang
Adit standby. Dan yang mengherankan, kenapa si BRIMOB sampai benar-benar masuk
ke dalam fikiranku dan jadi tujuanku? Ah, kak Juniar sangat kuat pengaruhnya
nih, padahal baru jumpa bentar aja tadi.
“Elysaaa??? Siniii,” teriak bang Adit dari seberang jalan
ketika aku masih celingukan meneliti bangunan-bangunan di sekitar DPD PAN ini.
Aku memutar motor dan memarkirkannya di halaman
DigitalRiau.com. Ntah tempat apa ini pemirsaa…
“Haha. Kelihatan kali ini motornya Lia,” kata bang Adit
lagi.
“Yuhuuu. Ya iya donkk…” jawabku tak kalah konyol.
***
Ada sekitar 32 orang yang datang kali ini. Kami berkumpul
sebentar di aula lantai 2 gedung ini untuk mendengar pengarahan dari bang Adit.
Ntah siapanya FLP nih pemilik gedung percetakan ini. Aku udah tanya ke bang
Adit, eh dia malah nyombong, “Yah biasalah, FLP kan banyak linknya Dek.” Huft!
Setelah pembagian tugas, kami berpencar. Ada yang bagi-bagi
takjil di lampu merah kantor Gubernur, ada yang menyiapkan makanan dan tetap
tinggal di sini. Sementara aku dan dek Nadia dimintai tolong oleh mbak Sugi
untuk membeli minuman.
“Kak, kita nyarinya di mana nih?”
“Tenang aja Dek, dari perempatan itu kita akan belok kiri
dan di sana banyak yang jual bebukaan.” Dalam hatiku, Nggak sia-sia tadi aku nyasar pemirsaaaa. Karena aku jadi tahu banyak.
“Kak, itu ada es Kasturi. Coba kita tanya yuk?” pinta Nadia.
“Oke. Adek nyeberang ya. Tanyain dulu, boleh kurang nggak
kalau beli banyak. Kak tunggu di sini.”
Nadia menyeberangi jalan yang cukup padat ini dan terlihat
sedang bernegosiasi dengan penjualnya. Kemudian, dia memberi kode kepadaku
bahwa harganya Rp 5000 dan nggak bisa kurang. Aku menggeleng-geleng, tanda
tidak jadi beli. Kemudian kami menelusuri lebih jauh jalanan ini.
“Kak, gimana kalau air kelapa aja? Kayaknya seger deh Kak.”
“Boleh Dek. Yuk kita tanya.”
Aku dan dek Nadia berjalan dari parkiran menuju pedagang es
kelapa muda. Eh, di dekatnya ada juga yang jual es Kasturi. Jadi ngiler lagi
nih, soalnya kayaknya seger banget.
“Pak, berapa air kelapanya 1 bungkus?”
“Rp 5000 Dek.”
“Kalau kami ngambil 32 bungkus, boleh kurang nggak Pak?”
“Bisa Dek. Rp 4500 jadinya ya Dek. Air kelapa kami ini nggak
pakai sari manis Dek. Dijamin kalau Adek meminumnya 1 gelas ini nggak akan
terasa sait di tenggorokan karena kami pakai gula asli Dek.”
Aku dan Nadia berpandangan. Aku menanyakan budget yang
diberikan mbak Sugi kepadanya. Dan hanya ada Rp 122.000. itu artinya nggak
cukup sekalipun barusan ibu penjualnya mnegurangi jadi Rp 4000. Akhirnya aku ad
aide,
“Bu, boleh nggak Bu kalau kami belinya Rp 3000 aja, tapi
porsinya dikurangi Bu?”
“Oh, boleh Dek.”
YESSS!!! MISSION
COMPLETED.
“Bu, kami mau beli aqua gelas dulu ya Bu,” pamit Nadia.
“Di situ aja Dek,” sambil menunjuk minimarket ke seberang
jalan.
Harga Muraqua yang termurah ternyata disbanding merk
lainnya; Rp 15.500. Uang yang tersisa tinggal Rp 12.000. Rencananya mau beli
Muraquanya 2 kotak aja, tapi budgetnya kurang nih.
“Bu, masih berapa bungkus lagi yang belum selesai?”
“Ada 9 lagi nih Nak. Bentar ya, Abang sedang beli plastiknya
tuh.”
Karena khawatir kami gagal mengejar azan, “Bu, nggak apa-apa
deh pakai plastik yang besar aja Bu. Daripada ntar kami terlambat bawa minumannya
ke tempat buka.”
Sang ibu mengiyakan permohonan kami dan sigap membungkus es
kelapa muda yang kurang. Dan, benar
saja, azan sudah berkumandang sementara yang belum dibungkus masih ada 5
bungkus lagi. Akhirnya, kami diberi bonus special oleh ibu dan bapak ini.
“Ya ampuuun Dek, seger bangeeeeeeeeeeeeet. Enak banget nih
Bu esnyaaaaa..” kataku.
“Iya Bu, bener. Kayak ada rasa jeruk nipisnya gitu ya Bu?”
tanya Nadia.
“Iya, emang dikasih Jeruk Kasturi tuh. Nah, inilah jeruknya
yang kalian tanyakan tadi,” sambil menyodorkan irisan jeruk Kasturi yang hanya
dibelah 2.
“Apa bedanya dengan jeruk nipis Bu?” tanyaku.
“Dia lebih harum Dek. Dan nggak terlalu asam.”
“Oh gitu. Jadi, yang dijual dipinggir jalan itu Cuma teh es
dikasih irisan jeruk ini aja Bu?” tanyaku lagi.
“Iya, cuma gitu aja.”
“Wah, gitu aja udah jadi duit ya,” celetukku.
“Iya Kak, kreatif ya.”
***
“El, cepetan sini Ani bantu. Orang-orang di atas bener-bener
nggak ada airnya loh.”
Dibantu Ani yang mungkin hendak membeli minuman ke seberang
jalan, kami bertiga berlarian membawa minuman ini ke lantai 2. Untungnya nggak
berat-berat amat.
“Memang Elysa pas banget bawa semangkanya tadi,” sambut bang
Adit, membantuku membawa sekotak Muraqua.
“Emangnya beneran nggak ada buah ya tadinya Bang?”
“Iya, yang ada cuma semangkanya Elysa tu aja.”
Alhamdulillah. Berarti semangka itu memang dibutuhkan di
sini, oleh mereka. tadi pun waktu ketemu kak Juniar, dia nanya, “Itu mau beli
untuk persiapan di sana ya?” dan aku mengiyakannya. Eh, ternyata benar
terwujud.
Setelah menikmati takjil dan es kelapa muda, kami sholat
Maghrib berjamaah di ruangan antara aula ini dan tangga turun. Barulah setelahnya
kami menikmati makan malam bersama Ayam Penyet. Sebelumnya, Mbak sugi dan bang
Alam sudah memberikan kata sambutan dan memperkenalkan beberapa orang
pengurus/tetua FLP yang karya dan penghargaannya sudah bukan main lagi. Waktu itu,
aku berdoa di dalam hati, Ya Allah, aku
ingin juga diperkenalkan secara terhormat seperti abang dan kakak itu. insya
allah, someday will be mine. Aamiin.
***
“Ada yang mau bareng ke Panam nggak teman-teman?” tanyaku
kepada teman-teman cewek.
“Kak, sama Rahma ni Kak,” kata seorang cewek yang menunjuk
teman di sampingnya.
“Adek tinggal di mana?” tanyaku kepada cewek yang tadi
disebut Rahma.
“Di Mustamindo, Kak. Nggak usahlah Kak, takut merepotkan
Kakak nanti.”
Teringat dengan minyak motor yang emang udah kritis dan aku
nggak punya uang lagi di tas, maka aku berniat untuk bisa meminjam uangnya dek
Rahma dulu. Menolong orang sekaligus menolong diri sendiri.
“Oh, Mustamindo itu yang dek at Rimbo Panjang ya Dek? Ya udahlah
yuk sama Kakak aja. Emangnya kalau nggak sama Kakak, sama siapa Adek pulangnya?”
Dia terdiam. Lalu bicara, “Beneran nggak merepotkan nih Kak?”
tanyanya lagi.
Kalau aku mengantarkannya, aku tahu resikonya bakal
tertinggal atau bahkan benar-benar terlambat sholat di mushola Arrafah. Ah,
tapi tak apalah, Allah Maha tahu bahwa yang ku lakukan ini tak kalah mulia. Insya
Allah.
Kami melaju perlahan, barulah setelah tiba di jalan Tuanku
Tambusai, aku melaju lebih cepat.
“Dek, Adek punya uang Rp 9000? Minyak bensinnya udah mau
habis nih kayaknya.”
“Ada Kak.”
“Kak pake uangnya dulu ya Dek?”
“Udah ah, Kak. Nggak usah. Biar Adek aja yang bayar.”
Hemm…ya udah deh, kalau Adek maksa, kakak mana bisa nolak? Hihii.
Kami menepi, ke dekat kios di pinggir jalan. Aku kaget,
karena abang itu mengambil 1 botol bensin lagi setelah 1 bensin sebelumnya dituangkan ke dalam tangki minyak.
“Loh? Kok banyak banget Dek?” tanyaku kepada dek Rahma yang
tegak di belakang si abang.
“Udah, nggak apa-apa Kak. Adek makasih juga Kakak udah mau ngatarin.”
Alhamdulillah ya Allah. Alhamdulillah. Cepet banget ya
balasan kebaikan di bulan suci ini? hemm…
***
“Kak? Kakak nggak belok?” tanya Rahma.
“Kenapa belok Dek?”
“Soalnya Mustamindonya di seberang itu Kak.”
“Oh iya ya? Bukannya kita masuk ke jalur 2 itu dulu Dek?”
“Nggak Kak, nggak sampai ke sana kok.”
Oh, pantesan aja. ketika tadi disebutkan Mustamindo, aku
tiba-tiba teringat dengan kontrakannya dek Bagus di dekat Rimbo Panjang sana. Eh,
ternyata bukan toh! Hihii.
“Kak, masuk ke dalam sana masih sekitar 400meter lagi Kak. Maaf
ya Kak. Gara-gara Adek, Kakak nggak bisa sholat Tarawih.”
“Nggak apa-apa kok Dek. Sholat Tarawih kan bisa di rumah.”
Aku ingat, terakhir kali aku ke sini dulu untuk bertemu
Zira. Ah, udah setahun berlalu ternyata. Akhirnya setelah berbelok ke kanan dan
kiri dan kanan lagi, dek Rahma telah sampai di depan kosannya. Aku segera berpamitan
kepadanya.
“Allahlah yang menciptakan jin dan manusia. Tapi, Allah
tidak butuh untuk disembah oleh jin atau manusia karena ia tetaplah dzat yang
Maha Kaya dan Maha Agung. Justru kitalah yang butuh menyembah-Nya.”
Suara penceramah dari masjid yang ku lewati itu membuat
hatiku sejuk. Perjalananku menuju gerbang luar Mustamindo ini seolah diiringi
oleh suara-suara syahdu itu; suara bilal, suara penceramah dan suara ayat-ayat
yang dibaca dalam sholat.
Sepanjang jalan tadi, Dek Rahma banyak bertanya tentang
perjalananku ke Thailand. Aku menceritakan sesuai apa yang ditanyakannya dan
pada akhirnya, dia menanyakan how to get those information, aku pun
mempersilahkannya meng-add FBku untuk mendapatkan update terbaru tentang info
lomba.
“Awalnya, Kakak nyari tahu sendiri Dek, dari FB dan dari
teman-teman yang udah ke luar negeri. Tapi sekarang, informasi itu yang datang
ke Kakak.”
“Boleh kan Adek curi informasi itu nanti dari FB kakak?”
“Boleh donk. Silahkan aja. Gratis kok Dek, hehe.”
Sebab, aku sudah merasakan perjuangan dari titik NOL, maka
aku ingin orang lain pun bisa menikmati jerih payahku itu tanpa benar-benar
memulainya dari NOL, persis seperti proses panjangku.
Cin, aku langsung pulang dan sholat tarawih di kosan. Kalau mu minta jemput, sms aja ya.
Cin, aku langsung pulang dan sholat tarawih di kosan. Kalau mu minta jemput, sms aja ya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar