Minggu, 28 Juni 2015

Ramadhan ke-11; Menyayangi yang Ada di Sisi


“Emangnya udah jam berapa ini?”
“Setengah 6.”
“Laa illa haillallah!. Astaghfirullahal aziim. Kok bisa nggak terbangun sih? Ya allah.”
“Tulah, aku pun nggak sadar sama sekali.”
“Astaghfirullah. Laa illa ha illallah. Ya ampuuuun, yah, nggak sahur berarti.”
“Cin, bangun, bangun! Udah jam setengah 6 haa.”
Lia mencolek tubuhku. Sebenarnya, tanpa dibangunkan pun aku sudah sadar. Bahkan sejak zikir pertama yang diucapkan Lia ketika kaget.
“Bener kan feelingku semalam? Kuat kali firasatku kalau kita nggak terbangun pagi ini,” kataku dengan mata yang masih menyipit.
“Iya ya Cin? Padahal alarm di atas kepala loh,” tambah Lia.
Hemm..alarmku pun di atas kepalaku Cin, tapi hehe, ya beginilah aku adanya.

***
Belum sempat ngaji banyak-banyak, karena kami harus segera menggarap KTIA kami yang sebenarnya diniatkan sebelum subuh sudah dikirim. Tapi, apalah daya, tangan tak sampai.
“Rin, tolong cari penjelasan tentang orang yang semakin jauh dari Al-Quran akan semakin buruk!” pintaku.
“Cin, tolong cari pembuktian ilmiah tentang manfaat Al-Quran dalam membentuk emosional!”
Sementara aku, sibuk memperbaiki kembali ejaan dan menyempurnakan tanda baca.
“Aku tadi itu sedang mimpi tentang pengumuman ini loh.”
“Ha, jadi gimana hasilnya dimimpi itu Rin?”
“Itulah yang nggak sempat aku tahu. Jurinya tinggal ngumumin siapa yang terpilih padahal loh, tapi itulah aku jadi terbangung gara-gara dengar suara burung sama ayam. Kan, biasanya kalau udah ada suara burung itu udah lewat dari jam 5, makanya ku bangunin Lia cepat-cepat. Eh, ternyata bener kalian belum sahur.”
“Itulah Rin, tadi malam memang udah ada firasat kali si El ni. Aku tanya, ‘Cin, mu ada bawa uang? Kita belum beli lauk loh’ Eh, dijawabnya, ‘Tenang aja, Rini udah beliin kok!’ Ternyata emang bener kita nggak jadi makan.”

“Untung aku tadi malam udah makan kan?”
“Iya ya, mu udah ada firasat banget ya Cin. Nggak biasa-biasanya mu makan malam lagi setelah buka.”
“Itulah. Bahkan, sebelum tidur, aku kan udah wanti-wanti sampai pesen ke Rini buat bangunin kita kalau alarmnya bunyi. Eh, ternyata eh ternyata.”
“Yah, semoga ada hikmahnya yaaa..”
Setelah semua data yang dibutuhkan didapatkan, aku meramunya. Setelah itu, mengecheck ulang EYD dan tata bahasanya.
“Ini sebenarnya jamnya mana yang bener sih? Di HPku udah jam 7.40. Di laptopmu jam 7.46. Di HPmu Rin?” tanya Lia secara bergiliran.
“Cin, buruan deh standbykan Yahoonya biar ntar tinggal upload filenya. Takutnya lola pula.”
Rini ku minta untuk cepat melengkapi footnote dan daftar pustaka. Sementara Lia, sudah mulai merangkai kata sebagai pembuka di badan email. Tak lupa pula ku tambahkan pantun pembuka dan penutupnya.
Pukul 07.50wib, bismillah, uploading… Sent!!!

***
“Cin, bukannya kita seharusnya berdoa sekarang?”
“Kenapa gitu?”
“Ya, soalnya ustad Fahri pasti di sana juga sedang bimbang memutuskan siapa yang berangkat. Makanya kita bantu doa dari sini.”
Doa yang dimaksud Lia adalah Dhuha.
Aku yang tengah asyik melengkapi property blogku harus berhenti sejenak. Merapikan kamar dan membersihkan diri. Eh, kalau yang merapikan kamar sih cuma Lia dan Rini aja kok hehe, soalnya pas aku selesai nulis, kamar udah jadi rapi seketika.
Ya Allah, kami sudah berikhtiar semaksimal daya. Hari ini, keputusan-Mu ditentukan. Jika kami terpilih ke UI, maka tanggung jawab kami setelah itu semakin besar. Lapangkanlah dada kami atas apapun keputusan-Mu itu ya Allah. Jika tidak di UI, kami pasti punya takdir yang lebih hebat daripada itu
“Cin, ada workshop nih jam 2 siang nanti.”
“Workshop apaan Cin?”
“Workhsopnya bang Put. Ya, mungkin tentang bukunya itulah. Gimana caranya keliling dunia, gratis. Ikut yuk?”
“Mau sih, tapi aku harus standby nih buat nyambut dek Edo.”
“Oh iya ya, Adikmu udah berangkat ya?”
“Udah Cin. Barusan dia sms udah sampek di Duri katanya.”
Jujur, aku salut banget dengan bang Put. Beliau bermodalkan hasrat ingin berbagi kepada sesama tentang bagaimana caranya keliling duni gratis. Pengalamannya adalah contoh nyata, meskipun aku lihat di beberapa bagian diselipkan juga pengalaman teman-temannya yang lain. Seperti apapun dia meraciknya, aku takjub. Ya Allah, hari ini bang Put yang ngadain workshop di Gramedia, besok bolehkah giliran aku???????????............. aamiin.
Kuncinya adalah: Berikan kebaikan yang dibutuhkan orang lain.

***
Pukul 13.54wib
Mbak, Edo udah di kandis2 gitu.
“Cin, pinjem HPmu donk? Minta sms gratisnya.”
Lia menyodorkan HPnya kepadaku.
Edo naik bus apa tadi? Kata mama, Edo pesan minyak angin ya? Ada lagi nggak pesanan yang lain?
ALS Mbak. Iya, edo pesan minyak dan waktunya mbak buat jumpa sama Edo. Itu aja.
“Cin, lihatlah Adekku ini, so sweet kalilaaah. Dia bilang, dia nggak minta apa-apa lagi selain minta waktuku untuk bisa ketemu sama dia.”
“Duh, so sweetnya. Udah ketularan mu pulak dia dah!”
Satu jam kemudian, aku menanyai posisinya.
“Cin, nih balasan dari dek Edo!” kata Lia.
“Tolonglah bacakan Cin. Aku lagi rempong nih siap-siap.”
“Oke. Katanya, sampek di jalan Yundoyoso. Apa ini status jalannya belum jelas. Jalan apa ya Cin ini maksudnya?”
“Tadi sih katanya dia udah sampek Kandis. Berarti, sekarang mungkin udah sampek Minas atau Rumbai gitu.”
“Oh, jangan-jangan jalan Yos Sudarso nih!” Lia mengetikkannya untuk Edo. Dan, ternyata benar saja, Edo yang salah baca.
“Cin, katanya lagi, Sama pekanbaru? Apa ya maksudnya? Oh, mungkin dia fikir Rumbai itu beda dengan Pekanbaru Cin. Ahhaha.” Lia terdiam, membaca pesan demi pesan yang baru saja masuk ke HPnya. “Cin, so sweet kali nih Adekmu, dia bilang minta bisa jumpa walaupun sebentar.”
Aku tersenyum mendengarnya. “Cin, tolong bilangin ke dia supaya sms ke HPku aja. Ini aku bakal beli vocher dulu kok sebelum ke sana. Dah ya, aku pergi. Assalamualaikuum…”
Cuaca di luar sangat terik. Aku meminjam jaket BEM KTnya Lia untuk melindungiku. Padahal aku udah pakai blazer juga di dalam. Aku pun minjem motornya Lia nan lembut dan sangat nyaman dipakai ini. Setelah membeli vocher, aku langsung tancap gas untuk menjemput Nilam. Vocher nanti saja diisi ketika nunggu Nilam turun.
Edo udah di dekat kota pekanbaru nih!
Aku berhenti sebentar sebelum ke luar dari jalan Kutilang Sakti untuk memriksa HP. Ada sms Edo tersebut dan 1 panggilan tak terjawab dari Mami. Wah, jangan sampai gara-gara aku lelet njemput Nilamnya, akhirnya aku dan Edo sama sekali nggak bisa jumpa! Ya Allah, tolong hamba. Pertemukan kami di sini. Aku yakin, semua ini akan berjalan dengan baik. Doaku di atas kereta yang terus melaju.
Sepertinya ideku untuk mengerjai Edo udah dilancarkan oleh Lia. Tadi, aku minta Lia untuk bilang sepertinya aku nggak bisa ketemu Edo karena ada urusan mendadak. Hehe. Edo berkali-kali mengSMSku untuk memastikan kedatanganku.

***
Mana sih Nilam ni? Lama bangeettt. Udahlah ngetuk pintu dan ngucapin salam pun sampai berkali-kali baru direspon. Sudah hampir 10 menit aku tegak di depan pesantren ini.
“Lama kali sih? Udah tahu orang nungguin di bawah. Besok lagi jangan lama-lama gitu ah kalau Mbak jemput ya!” sambutku kepada Nilam ketika dia ke luar dari dalam pondok.
“Tadi Kakak pamitan dulu sama Kak Maya. Soalnya kan izin yang kemarin itu buat hari Sabtu. Ternyata Mbak Ela datangnya hari minggu, makanya izin lagi,” jelas Nilam
“Oh, gituuuuu.”
Kami sudah sampai di loket ALS setelah muter-muter nyari loketnya dan dikira mau nabrak orang truk yang lagi benerin ban di tengah jalan, padahal aku kan mau nanya tentang loket ALS ciiinnn. Untunglah mereka nggak salah ngasih petunjuk. Di halaman loket ini ada 1 bus ALS yang terparkir. Aku fikir Edo udah sampai, ternyata waktu baca sms dari mami barulah aku tahu bahwa Edo sedang di terminal.
Karena penasaran, aku langsung nanya ke abang penunggu meja sambut, “Bang, bus yang dari Ujung Tanjung kira-kria mampir ke sini nggak ya?”
“Berapa nomor mobilnya Dek?”
Ah, untunglah mami ngasih tahu berapa plat busnya tadi, “Ini Bang, BK 7853 DK.”
“Bukan nomor yang itu Dek. Kalau yang itu aku nggak hafal. Maksudku nomor pintu kayak gitu.”
Si abang menunjuk nomor 169 di bawah pintu bus.
“Wah, saya nggak tahu kalau yang itu Bang. Jadi, gimana ya ni mampir nggak ke sini busnya?”
“Mampir tuu.”
Assalamualaikum.SELAMAT KEPADA TIM
-          DHIAH HANA MUFIDA
-          ISRA HASYYATILLA
-          INTAN PUTRI AZHARI
Insya allah akan diutus untuk mewakili Universitas Riau pada cabang KTIA MTQ. Kepada teman yang belum terpilih, mohon maaf. Semoga ada kesempatan di lain waktu. Terimakasih.
Aku membaca pengumuman itu. sudah dinanti sejak pagi, tapi baru kini ia menghampiri. Hemm.. agak sedih sih, tapi ada rasa lega dan puas atas semua ilmu yang didapat selama pembinaan. Tapi, ada juga tanya di hati, Dimana ya letak kekurangan kami dibanding mereka?
Aku tidak ingin merusak momen penyambutan ini dengan menghayati kesedihan. Aku harus terus bergerak maju, melangkah ke depan. Mencari TAKDIR Allah di tempat lain.. Aku dan Nilam berencana ngerjain Edo. Mbak nggak bisa datang Do, maaf yaa…
Eh, dia malah balasnya ke Lia. Lia memforward SMS Edo itu ke aku, Ya nggak apa-apa. Tengok foto Edo aja mbak yaa.
Aku sempat heran, kok dia nggak marah atau sedih ya? Malah enjoy aja gitu.
Mbak Ela jahat! Gak sayang adeknya. Gak mau meluangkan waktu buat adeknya.
Baru deh, aku terkekeh membacanya. Tapi, kayaknya mami tahu deh aku sedang ngerjain Edo, buktinya mami SMS dan mendukung misiku. Aku bingung, mami tahu darimana ya?
Sekarang, aku dan Nilam sedang duduk di dalam loket ALS. Memantau kedatangan bus dan mengintai penumpang busnya. Hehe.
Edo pakai baju tangan pendek biru, coklat agak kuning. Pakai jas kayak punya El hitam
Bus yang dinanti baru saja berhenti. Aku bersama Nilam mengamati satu persatu penumpang cowok yang bajunya sesuai dengan gambaran dari mami barusan. GLEKKKK! “Lam, itu pasti Edo Laamm.”
“Iyaaa Mbak. Dia lagi kebingungan kayaknya tuh!”
Mami nelvon, “Udah sampek dia El?”
“Udah Mi. kami udah lihat wajahnya, Tapi dia belum lihat kami Mi soalnya kami di dalam loketnya nih. Eh, tapi ternyata dia nggak jauh beda kok kayak yang difoto dulu tu ya Mi?”
“Ya iyalah, masa beda jauh toh? Mana dia sekarang?”
Ketika aku sedang melongok-longok, mencoba memata-matai Edo dari kaca tembok yang memantulkan pemandangan di halaman, eh Edo lewat di belakangku.
“Duh Mi, dia lewat loh barusan! Kayaknya dia udah tahu lah kalau ini Ela. Agak senyum gitu dia lewat. Kayaknya ke toilet langsung tuh.”
“Ajak dulu dia sholat itu, sekaligus sama sholat Zuhurnya ya.”
“Oke Mi. Ntar diajak.”
Aku dan Nilam segera ke luar dari loket dan mendapati Edo yang sedang duduk di ujung dekat tembok rumah makan ALS ini.
“Lam? Coba lihatin Edo lagi ngapain dia? Ngelihatin kita nggak?” tanyaku. Aku membelakangi Edo dan menghadap kepada Nilam. Jadi, Nilam bisa curi-curi pandang dari sisi kerudungku.
“Nggak Mbak. Dia lagi main HP. Kayaknya coba ngubungi Umi tuh.”
“Pasti nggak diangkat sama Umi, Umi kan tadi bilang mau sholat.”
Nilam terus sesekali melirik ke arah Edo, memantau apa yang dilakukannya di sana.
“Lam, samperin sekarang ajalah yuk? Ntar kalau kelamaan ngakunya, makin lama kita bersamanya.”
Nilam setuju. Kami melangkah mendekatinya, terus mendekat dan sekarang sudah berada di sampingnya tapi dia nggak juga noleh.
“Edo ya?” sapaku akhirnya.
“Mbak Ela ya?” tanyanya pula. Setelah aku mengangguk, ia langsung menyalamiku.

***
“Edo, Mbak ajak main ke kampus Mbak yuk?” ajakku setelah ia melaksanakan sholat Ashar dan Zuhur diqhosor seperti yang ku ajarkan.
“Emangnya dimana kampus Mbak?”
“Deket banget bahkan. Kita tinggal lurus aja dan belok ke kiri. Nyampek deh!”
“Ayoklah Mbak!”
Aku kembali menemui abang loket untuk memastikan bahwa keberangkatan busnya masih sejam lagi. Mungkin si abang bosan ku tanya-tanya sejak tadi, kali ini jawabannya agak bernada tinggi. Aku sih nggak mau ambil pusing.
“Lam, nggak apa-apa ya Nilam di sini aja? Pegang HP Mbak Ela nih, nanti kalau ada tanda-tanda busnya mau berangkat, sms ke nomor Bang Edo ya?”
Nilam awalnya berat. Dia pun ingin ikut sebenarnya. Tapi mau bagaimana? Nggak mungkin kan kami semotor bertiga? Dilangsir pun tambah mustahil lagi. Akhirnya, setelah aku memberi penjelasan kepadanya, dia bisa menerimanya.
Aku memasang jaket Lia dan helmnya sebelum melaju.
“Pelan-pelan Mbak El,” kata Edo. Padahal aku belum laju loh.
“Yuhuuuuu…”
Dan, kurang dari 1 menit kami sudah tiba di depan gerbang UR Arengka. Jalur masuk hanya bisa dari jalur ke luar saja sementara yang satu lagi diportal. Mungkin karena hari libur dan sepi.
“Nah, inilah dia kampus Mbak!” jelasku setelah kami memasuki kawasan UR dan mulai mendekat ke kolam di depan rektorat. Tersajilah pemandangan penyambut kedatangan Edo di Universitas ini.
“Wiiihhh, besar banget nih Mbak kampusnya!”
“Edo udah pernah ke Universitas Lampung?”
“udah, tapi nggak seluar inilah kampusnya. Gedungnya deket-deketan. Ini mah luas banget Mbak.”
“Nah, gedung yang besar dan bulat itu adalah Stadion utama Riau Do, letaknya masih di kawasan UR juga. Dan, UR sendiri punya stadion mini, itu temboknya kelihatan dari sini,” aku menunjuk ke 2 arah yang berbeda, bergantian. “Jadi intinya, ada 2 stadion di dalam kawasan kampus ini.”
“Waaahhh… luas banget ya Mbak. Ini baru bener-bener kampus! Nggak bakal bosan kayaknya kalau Edo kuliah di sini nih!”
Aku membawanya berkeliling UR, ke FKIP, FE, FISIP, FMIPA< TEKNIK, FAPERI dan FAPERTA. Kemudian, memfotonya di jembatan kupu-kupu dan di kolam depan rekorat itu.
“Edo, coba lompat ya!” pintaku ketika Edo tepat memunggungi tulisan Universitas Riau, www.unri.ac.id. Dan, berbagai gaya lainnya yang ku ajarkan secara mendadak kepadanya. Eheh.
“Bener ya kata Mama, kalau Mbak Ela suka foto. Pantesan aja fotonya banyak.”
“Mama ngomong gitu ya? Hehee, emang iya. Makanya sampai bela-belain punya kamera sendiri nih,” aku memamerkan si merah kepada Edo. “Eh, coba lihat HPmu, ada sms dari Nilam nggak?”
“Ada nih Mbak, barusan. Bang Edo, cepetan ke sini nanti ditinggal bus pula.”
Setelah mendengar Edo membacakan SMS itu kami berhembus pulang. Lagian, emang pas banget kami udah berada di spot hunting terakhir.

***
Ternyata busnya belum akan berangkat. Nilam aja yang terlalu khawatir ditinggal sendiri lama-lama. Akhirnya, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol renyah yang diselingi dengan telvon dari mami papi ke Nilam, aku dan Edo bergantian.
Selama Nilam ngobrol dengan mami, aku ngobrol dengan Edo, “Dek, udah terima rapor?”
“Udah Mbak.”
“Gimana hasilnya? Nggak ada merahnya kan?”
“Ada Mbak. Malah banyak.”
“Loh, kok bisa? Males belajar ya? Atau main voli aja?”
“Hehhe, iya Mbak. Sering ngumpul-ngumpul sama kawan.”
“Ngumpul ngapain?”
“Yah, ngumpul-ngumpul aja Mbak.”
“Do, dengerin Mbak ya, masa muda kita itu cuma sebentar disbanding dengan masa tua nanti. Makanya, kita harus rajin belajar di masa muda, supaya setelah tua nggak menyesal karena nggak berilmu. Edo tahu kan kemarin Mbak pernah ke Thailand?”
“Tahu Mbak.”
“Nah, ketika Mbak udah ke Thailand dan ke beberapa tempat lainnya, sekarang Mbak baru nyadar, kenapa ya nggak sejak SMA dulu aku memulainya? Yah, waktu SMA dulu Mbak nggak jauh beda sih dari Edo. Pulang sekolah ya tidur, jalan-jalan, gitu aja. Nggak ada sesuatu yang lebih. Disitulah Mbak menyesal.”
“Wah, Mbak Ela aja yang udah kayak gini menyesal ya, apalagi Edo? Hahhaa,” tawanya.
“Nih, minyak anginnya,” aku menyodorkan minya angin titipan Edo. “Dan, ini Al-Quran buat Edo, rajin-rajin dibaca ya. Apalagi di bulan ramadhan kayak gini, biar pahala kita semakin banyak.”
“Oh iya ya Mbak, makasih ya.”

***
Edo luar biasa. Waktu aku menanyakan tentang pusing atau mual nggak selama di perjalanan tadi, dia mengaku sangat menikmati perjalanan dan nggak mual sama sekali. Bahkan, dia pun nggak tidur sama sekali. Kece banget kan? Cucok nih orang kayak gini diajak traveling. Kalau aku sih, pasti ngerasa mual, tapi baisanya ku paksa tidur untuk mengalihkannya.
Sudah pukul 17.15, tapi belum juga ada tanda-tanda keberangkatan. Aku teringat ada acara bubar anak-anak PE 2011 nih di samping Robinson. Tapi, aku belum mandi pula. Atau aku langsung ke sana aja ya?
 “Eh, ini lemari di dapur ya Do?”
“Iya Mbak.”
“Ih, ini kan lemari kaca yang ada keramiknya itu kan?”
“Iya Mbak.”
Aku memperhatikan foto Salsa yang sedang nagkring di atas rak piring itu. Wahh, mami beli barang baru nih buat rumah kitaaa. Lalu, ku geser ke foto-foto berikutnya di HP Edo ini.
“Ini foto-foto dari HP Mama atau langsung difoto pakai HP ini?”
“Ada yang dikirim dari HP Mama. Kalau yang asli dari HP Edo tu gambarnya agak buram Mbak.”
Sekarang, gantian Nilam yang ngotak-ngatik HP Edo.
“Ih, ini jalan rumah kita ya Mbak?” tanya Nilam kepadaku. Aku melirik kepada Edo.
“Iya Mbak. Udah semen jalannya.”
“Waktu Edo  datang emang udah disemen atau setelah Edo datang baru disemen?” tanyaku.
“Waktu Edo datang udah disemen Mbak. Tapi, Edo tahu dulunya berkrikil dari foto-fotonya.”
“Yah, tapi nanggung banget nih, mana muat mobil masuk ke dalamnya.”
“Muat kok Mbak!”
“Oh, muat yaaa?”
Aku mulai melamun, Ya Allah, aku pengen segera punya uang dan aku berikan ke mami papi untuk nyumbang beli mobil. Jadi, dimobil itu pun ada uangku yang digunakan. Hehe. Aku masih terus menatap jalanan semen di halaman rumahku itu.
“Atau jangan-jangan mobilnya emang udah ada?” tanyaku asal-asalan.
“Emang udah ada puuun,” jawab Edo.
Mataku melebar. Nilam juga. Aku dan Nilam saling berpandang-pandangan. Terkejut.
“Masa iya Do? Seriuslah?” buruku.
“Iya Mbak, nggak percaya. Makanya, cepet pulang biar bisa lihat.”
“Ah, Bang Edo nih bercanda aja!” kata Nilam.
“Ya Allah beneran, ngapain Edo bohong-bohong pula?” Edo menjawab dengan ekspresi khasnya; tersenyum mesam-mesem, kalau kata orang jawa.
“Nanti kalau ternyata Edo bohong awas loh ya? Marah Mbak ntar.”
“Ya Allah, beneran loh Mbak. Abi aja tiap pagi diajarin sama bapak-bapak yang sering nganterin timun ke rumah kita.”
“Timun Suri?” celetuk Nilam. Lalu dia ber-oooo panjang. Sepertinya dia tahu siapa orangnya.
“Warna apa mobilnya Do?”
“Putih, minimalis Mbak.”
“Merknya apa?”
“Wah, nggak pula Edo perhatikan itu.”
“Abi setiap habis Subuh pasti latihan nyetir tuh. Moza yang sering ikut.”
“Terus, kenapa tadi Mama ngantarkan Edo ke Ujung Tanjungnya pakai motor?”
“Ya, kan Abi belum pandai bawa mobilnya Mbak. Lagian biar cepet.”
“Oooohhh, gituuuuu,” meskipun masih belum terlalu percaya, tapi aku udah mulai yakin. Aku melihat Nilam, matanya mulai berkaca-kaca, “Aiiii Lam? Nangis pula? Terharu?”
“Masih nggak percaya aja rasanya Mbak. Nggak nyangka.”
Bukan hanya Nilam sih yang nggak nyangka, mbak juga gitu. Apalagi kalau ingat papi itu kayak apa orangnya. Rasanya bermimpi punya mobil pun agak mikir-mikir lagi. Papi selalu aja ogah dan terlihat nggak niat kalau diminta beli sesuatu. Katanya mubazir lah, nggak penting lah, tunggu dulu lah. Eh, tapi apa yang terjadi hari ini, yang ku dengar hari ini benar-benar karunia dari Allah.
Fabiayyi ‘alaa irobbikuma tukadsibaaan…
Pukul 17.35wib, seluruh penumpang diminta masuk ke dalam bus. Aku meminta tolong seorang cewek yang kemungkinan adalah penumpang juga untuk memfotoku, Nilam dan Edo di badan bus bertuliskan Antar Lintas Sumatera ini.
Setelah Edo naik, aku dan Nilam pun pergi. Sebenarnya masih mau melihat sampai Edo benar-benar pergi. Tapi, baru saja ada bus ALS yang datang dan menghalangi kami memandang Edo yang pas banget duduk di dekat jendela.

***
“Nilam mau Mbak antar pulang langsung atau kita buka dulu?”
“Buka dulu lah kita Mbak.”
“Mau buka pake apa emangnya? Kan enakan di pondoklah karena udah disiapin semuanya.”
“Di pondok cuma dapat semangka aja sama air putih biasa.”
“Terus, Nilam nggak pernah minum es teh?”
“Pernah. Ya kalau mau minum es teh beli sendiri esnya di luar dan bikin sendirilah.”
Owalah, kasihannya adikku ini. Akhirnya ku putuskan untuk membatalkan kehadiran di bubar PE 2011 hanya untuk seseorang; Nilam, dia lebih penting dari apapun sekarang.
“Lam, mau es kelapa muda?”
“Mau mau aja.”
“Ya udah, kita beli es Degan (baca: kelapa muda) aja dan gorengan. Gimana? Terus kita buka puasanya di mesjid dekat pondokmu aja, baru setelah sholat Maghrib, Mbak antar nilam ke pesantren.”
Nilam setuju. Setelah semua bebukaan terbeli, kami menghabiskan masa tunggu azan berbuka dengan membaca Al-Quran di mesjid Al-Ikhlas di dekan pesantren. Duh, so sweet banget deh kami. Yuhuuuuu…
El Buka di mana? Biar tau aku, SMS dari Rini masuk.
Aku buka sama Nilam Rin. Tapi ntar setelah sholat Maghrib, aku makannya di rumah kok!
Lalu, aku mengSMS Lia pula, Cin, Rin, maafin eke ya, eke nggak pandai bawa kalian terbang ke Jakarte.

***
Aku sampai di kosan dengan selamat. Rini dan Lia pas banget baru akan memulai makan. Yuhuuuuu…aku langsung ikutan makan. Hemmm…kali ini mereka masak tumis brokoli, wortel dan kol, lauknya ikan salai dan telur dadar. Ya Allah, makasiih.
“Semenjak Lia di sini, kita sejahtera ya El!” kata Rini.
“Iya, selama Lia di sini kita sejahtera. Kita sejahtera karena Lia. Maka, Lia sama dengan kesejahteraan.”
“Apalaaaaaaah El ni,” ujar Rini, geram. Aku hanya tertawa.
Kami menyantap hidangan nikmat ini sambil nonton Malam Minggu Miko. Aku nggak pengen ngerusak suasana hikmat ini dengan membahas keputsan juri tadi.
Eh, jangan-jangan ini adalah kejutan? Rini dan Lia sekongkolan untuk mengSMSku tentang pengumuman KTI dan sebentar lagi mereka akan mengakuinya kepadaku. Lalu, aku akan berekspresi seperti orang yang sedang jantungan. Hihii. Tapi, ini kan bukan hari ulang tahunku? Ah bodoh banget sih! Penting kali mereka ngasih kejutan gituan untukku? Huft! Terima ajalah El kenyataan ini.
Mu udah berusaha keras dan kami udah coba berlari, namun tetangga mungkin minum pocary sweat jadi lebih cepat sampai ke garis finish. Hahah. Makasih ya Cint. Pulang segera ya. Ada tumis brokolli+wortel nih.
Aku baru saja membaca balasan pesan dari Lia. Ah, aku fikir dia tadi sengaja nggak mau balas. Lagi-lagi mikir untuk kejutan. Tapi, setelah membaca pesannya barusan, aku sadar bahwa ini NYATA.
“Cin, mu mikir nggak sih kalau Jakarta ternyata bukan jodoh kita, maka Negara mana jodoh kita?”
“Huaaaaaaaaahhhhhhhh..aamiin ya Allah. Mari kita keliling dunia,” jawab Lia.
Rini hanya tersenyum-senyum di balik layar HPnya.

***
“Kalau saya bilang, barusan saya buka google untuk nyari materi ceramah, kira-kira adek-adek akan tertawa nggak?” tanya pak Ustad.
Ada suara tawa yang terdengar samar dari beberapa orang jamaah.
“Nah, di facebook itu ka nada berita ya Pak, Bu, barusan saya membaca bahwa ternyata sekitar 2,3 juta jiwa penduduk Indonesia murtad setiap tahunnya.”
“Astaghfirullah,” terdengar dari para jamaah.
“Kenapa itu bisa terjadi? Yak arena lemahnya iman. Kenapa iman bisa lemah? Ya karena tidak ditingkatkan. Kenapa tidak meningkat? Ya mungkin, karena nggak ada yang mengingatkan. Nah, makanya Pak, Bu, tugas menyebarkan agama ini bukan tugas per orangan, bukan tugasnya pak ustad saja, tapi ini tugasnya jamaah, tugasnya seluruh umat islam.”
Aku jadi teringat dengan ceramah di malam sebelumnya, bahwa keistimewaan akhir zaman itu adalah tidak akan pernah Allah menurunkan nabi lagi sekalipun kondisi sangat awut-awutan dan berat huru-haranya. Makanya, tugas kenabian itu diteruskan oleh seluruh umat Rosulullah; ya kita semua ini.
“Untuk menjadi muslim yang sempurna, kita kan punya 5 rukun ya. Nah, yang pertama inilah yang sering kali terganggu. Yaitu, ucapan syahadat. Itu bukan ucapan sembarangan Pak, Bu. Kalau kita udah faham maknanya, kita nggak akan mungkin murtad dari agama rahmatan lil alamiin ini…” lanjutnya.

Tidak ada komentar: