“Emangnya udah jam berapa ini?”
“Setengah 6.”
“Laa illa haillallah!. Astaghfirullahal aziim. Kok bisa
nggak terbangun sih? Ya allah.”
“Tulah, aku pun nggak sadar sama sekali.”
“Astaghfirullah. Laa illa ha illallah. Ya ampuuuun, yah,
nggak sahur berarti.”
“Cin, bangun, bangun! Udah jam setengah 6 haa.”
Lia mencolek tubuhku. Sebenarnya, tanpa dibangunkan pun aku
sudah sadar. Bahkan sejak zikir pertama yang diucapkan Lia ketika kaget.
“Bener kan feelingku semalam? Kuat kali firasatku kalau kita
nggak terbangun pagi ini,” kataku dengan mata yang masih menyipit.
“Iya ya Cin? Padahal alarm di atas kepala loh,” tambah Lia.
Hemm..alarmku pun di
atas kepalaku Cin, tapi hehe, ya beginilah aku adanya.
Belum sempat ngaji banyak-banyak, karena kami harus segera
menggarap KTIA kami yang sebenarnya diniatkan sebelum subuh sudah dikirim.
Tapi, apalah daya, tangan tak sampai.
“Rin, tolong cari penjelasan tentang orang yang semakin jauh
dari Al-Quran akan semakin buruk!” pintaku.
“Cin, tolong cari pembuktian ilmiah tentang manfaat Al-Quran
dalam membentuk emosional!”
Sementara aku, sibuk memperbaiki kembali ejaan dan
menyempurnakan tanda baca.
“Aku tadi itu sedang mimpi tentang pengumuman ini loh.”
“Ha, jadi gimana hasilnya dimimpi itu Rin?”
“Itulah yang nggak sempat aku tahu. Jurinya tinggal ngumumin
siapa yang terpilih padahal loh, tapi itulah aku jadi terbangung gara-gara
dengar suara burung sama ayam. Kan, biasanya kalau udah ada suara burung itu
udah lewat dari jam 5, makanya ku bangunin Lia cepat-cepat. Eh, ternyata bener
kalian belum sahur.”
“Itulah Rin, tadi malam memang udah ada firasat kali si El
ni. Aku tanya, ‘Cin, mu ada bawa uang? Kita belum beli lauk loh’ Eh,
dijawabnya, ‘Tenang aja, Rini udah beliin kok!’ Ternyata emang bener kita nggak
jadi makan.”
“Untung aku tadi malam udah makan kan?”
“Iya ya, mu udah ada firasat banget ya Cin. Nggak
biasa-biasanya mu makan malam lagi setelah buka.”
“Itulah. Bahkan, sebelum tidur, aku kan udah wanti-wanti
sampai pesen ke Rini buat bangunin kita kalau alarmnya bunyi. Eh, ternyata eh
ternyata.”
“Yah, semoga ada hikmahnya yaaa..”
Setelah semua data yang dibutuhkan didapatkan, aku
meramunya. Setelah itu, mengecheck ulang EYD dan tata bahasanya.
“Ini sebenarnya jamnya mana yang bener sih? Di HPku udah jam
7.40. Di laptopmu jam 7.46. Di HPmu Rin?” tanya Lia secara bergiliran.
“Cin, buruan deh standbykan Yahoonya biar ntar tinggal
upload filenya. Takutnya lola pula.”
Rini ku minta untuk cepat melengkapi footnote dan daftar
pustaka. Sementara Lia, sudah mulai merangkai kata sebagai pembuka di badan
email. Tak lupa pula ku tambahkan pantun pembuka dan penutupnya.
Pukul 07.50wib,
bismillah, uploading… Sent!!!
***
“Cin, bukannya kita seharusnya berdoa sekarang?”
“Kenapa gitu?”
“Ya, soalnya ustad Fahri pasti di sana juga sedang bimbang
memutuskan siapa yang berangkat. Makanya kita bantu doa dari sini.”
Doa yang dimaksud Lia adalah Dhuha.
Aku yang tengah asyik melengkapi property blogku harus
berhenti sejenak. Merapikan kamar dan membersihkan diri. Eh, kalau yang
merapikan kamar sih cuma Lia dan Rini aja kok hehe, soalnya pas aku selesai
nulis, kamar udah jadi rapi seketika.
Ya Allah, kami sudah
berikhtiar semaksimal daya. Hari ini, keputusan-Mu ditentukan. Jika kami
terpilih ke UI, maka tanggung jawab kami setelah itu semakin besar.
Lapangkanlah dada kami atas apapun keputusan-Mu itu ya Allah. Jika tidak di UI,
kami pasti punya takdir yang lebih hebat daripada itu
“Cin, ada workshop nih jam 2 siang nanti.”
“Workshop apaan Cin?”
“Workhsopnya bang Put. Ya, mungkin tentang bukunya itulah.
Gimana caranya keliling dunia, gratis. Ikut yuk?”
“Mau sih, tapi aku harus standby nih buat nyambut dek Edo.”
“Oh iya ya, Adikmu udah berangkat ya?”
“Udah Cin. Barusan dia sms udah sampek di Duri katanya.”
Jujur, aku salut banget dengan bang Put. Beliau bermodalkan
hasrat ingin berbagi kepada sesama tentang bagaimana caranya keliling duni
gratis. Pengalamannya adalah contoh nyata, meskipun aku lihat di beberapa
bagian diselipkan juga pengalaman teman-temannya yang lain. Seperti apapun dia
meraciknya, aku takjub. Ya Allah, hari ini bang Put yang ngadain workshop di
Gramedia, besok bolehkah giliran aku???????????............. aamiin.
Kuncinya adalah: Berikan kebaikan yang dibutuhkan orang
lain.
***
Pukul 13.54wib
Mbak, Edo udah di
kandis2 gitu.
“Cin, pinjem HPmu donk? Minta sms gratisnya.”
Lia menyodorkan HPnya kepadaku.
Edo naik bus apa tadi? Kata mama, Edo pesan minyak angin ya?
Ada lagi nggak pesanan yang lain?
ALS Mbak. Iya, edo pesan minyak dan waktunya mbak buat jumpa
sama Edo. Itu aja.
“Cin, lihatlah Adekku ini, so sweet kalilaaah. Dia bilang,
dia nggak minta apa-apa lagi selain minta waktuku untuk bisa ketemu sama dia.”
“Duh, so sweetnya. Udah ketularan mu pulak dia dah!”
Satu jam kemudian, aku menanyai posisinya.
“Cin, nih balasan dari dek Edo!” kata Lia.
“Tolonglah bacakan Cin. Aku lagi rempong nih siap-siap.”
“Oke. Katanya, sampek
di jalan Yundoyoso. Apa ini status jalannya belum jelas. Jalan apa ya Cin ini maksudnya?”
“Tadi sih
katanya dia udah sampek Kandis. Berarti, sekarang mungkin udah sampek Minas
atau Rumbai gitu.”
“Oh,
jangan-jangan jalan Yos Sudarso nih!” Lia mengetikkannya untuk Edo. Dan,
ternyata benar saja, Edo yang salah baca.
“Cin,
katanya lagi, Sama pekanbaru? Apa ya maksudnya? Oh, mungkin dia
fikir Rumbai itu beda dengan Pekanbaru Cin. Ahhaha.” Lia terdiam, membaca pesan
demi pesan yang baru saja masuk ke HPnya. “Cin, so sweet kali nih Adekmu, dia
bilang minta bisa jumpa walaupun
sebentar.”
Aku
tersenyum mendengarnya. “Cin, tolong bilangin ke dia supaya sms ke HPku aja.
Ini aku bakal beli vocher dulu kok sebelum ke sana. Dah ya, aku pergi.
Assalamualaikuum…”
Cuaca di
luar sangat terik. Aku meminjam jaket BEM KTnya Lia untuk melindungiku. Padahal
aku udah pakai blazer juga di dalam. Aku pun minjem motornya Lia nan lembut dan
sangat nyaman dipakai ini. Setelah membeli vocher, aku langsung tancap gas
untuk menjemput Nilam. Vocher nanti saja diisi ketika nunggu Nilam turun.
Edo udah di dekat
kota pekanbaru nih!
Aku
berhenti sebentar sebelum ke luar dari jalan Kutilang Sakti untuk memriksa HP.
Ada sms Edo tersebut dan 1 panggilan tak terjawab dari Mami. Wah, jangan sampai gara-gara aku lelet
njemput Nilamnya, akhirnya aku dan Edo sama sekali nggak bisa jumpa! Ya Allah,
tolong hamba. Pertemukan kami di sini. Aku yakin, semua ini akan berjalan
dengan baik. Doaku di atas kereta yang terus melaju.
Sepertinya
ideku untuk mengerjai Edo udah dilancarkan oleh Lia. Tadi, aku minta Lia untuk
bilang sepertinya aku nggak bisa ketemu Edo karena ada urusan mendadak. Hehe.
Edo berkali-kali mengSMSku untuk memastikan kedatanganku.
***
Mana sih Nilam ni? Lama bangeettt.
Udahlah ngetuk pintu dan ngucapin salam pun sampai berkali-kali baru direspon. Sudah hampir 10 menit aku tegak di
depan pesantren ini.
“Lama kali
sih? Udah tahu orang nungguin di bawah. Besok lagi jangan lama-lama gitu ah
kalau Mbak jemput ya!” sambutku kepada Nilam ketika dia ke luar dari dalam
pondok.
“Tadi Kakak
pamitan dulu sama Kak Maya. Soalnya kan izin yang kemarin itu buat hari Sabtu.
Ternyata Mbak Ela datangnya hari minggu, makanya izin lagi,” jelas Nilam
“Oh,
gituuuuu.”
Kami sudah
sampai di loket ALS setelah muter-muter nyari loketnya dan dikira mau nabrak
orang truk yang lagi benerin ban di tengah jalan, padahal aku kan mau nanya
tentang loket ALS ciiinnn. Untunglah mereka nggak salah ngasih petunjuk. Di
halaman loket ini ada 1 bus ALS yang terparkir. Aku fikir Edo udah sampai,
ternyata waktu baca sms dari mami barulah aku tahu bahwa Edo sedang di terminal.
Karena
penasaran, aku langsung nanya ke abang penunggu meja sambut, “Bang, bus yang
dari Ujung Tanjung kira-kria mampir ke sini nggak ya?”
“Berapa
nomor mobilnya Dek?”
Ah,
untunglah mami ngasih tahu berapa plat busnya tadi, “Ini Bang, BK 7853 DK.”
“Bukan nomor
yang itu Dek. Kalau yang itu aku nggak hafal. Maksudku nomor pintu kayak gitu.”
Si abang
menunjuk nomor 169 di bawah pintu bus.
“Wah, saya
nggak tahu kalau yang itu Bang. Jadi, gimana ya ni mampir nggak ke sini
busnya?”
“Mampir
tuu.”
Assalamualaikum.SELAMAT
KEPADA TIM
-
DHIAH
HANA MUFIDA
-
ISRA
HASYYATILLA
-
INTAN
PUTRI AZHARI
Insya allah akan
diutus untuk mewakili Universitas Riau pada cabang KTIA MTQ. Kepada teman yang
belum terpilih, mohon maaf. Semoga ada kesempatan di lain waktu. Terimakasih.
Aku membaca
pengumuman itu. sudah dinanti sejak pagi, tapi baru kini ia menghampiri. Hemm..
agak sedih sih, tapi ada rasa lega dan puas atas semua ilmu yang didapat selama
pembinaan. Tapi, ada juga tanya di hati, Dimana
ya letak kekurangan kami dibanding mereka?
Aku tidak
ingin merusak momen penyambutan ini dengan menghayati kesedihan. Aku harus
terus bergerak maju, melangkah ke depan. Mencari TAKDIR Allah di tempat lain.. Aku
dan Nilam berencana ngerjain Edo. Mbak
nggak bisa datang Do, maaf yaa…
Eh, dia
malah balasnya ke Lia. Lia memforward SMS Edo itu ke aku, Ya nggak apa-apa. Tengok foto Edo aja mbak
yaa.
Aku sempat
heran, kok dia nggak marah atau sedih ya? Malah enjoy aja gitu.
Mbak Ela jahat! Gak
sayang adeknya. Gak mau meluangkan waktu buat adeknya.
Baru deh,
aku terkekeh membacanya. Tapi, kayaknya mami tahu deh aku sedang ngerjain Edo,
buktinya mami SMS dan mendukung misiku. Aku bingung, mami tahu darimana ya?
Sekarang,
aku dan Nilam sedang duduk di dalam loket ALS. Memantau kedatangan bus dan
mengintai penumpang busnya. Hehe.
Edo pakai baju
tangan pendek biru, coklat agak kuning. Pakai jas kayak punya El hitam
Bus yang
dinanti baru saja berhenti. Aku bersama Nilam mengamati satu persatu penumpang
cowok yang bajunya sesuai dengan gambaran dari mami barusan. GLEKKKK! “Lam, itu
pasti Edo Laamm.”
“Iyaaa
Mbak. Dia lagi kebingungan kayaknya tuh!”
Mami
nelvon, “Udah sampek dia El?”
“Udah Mi.
kami udah lihat wajahnya, Tapi dia belum lihat kami Mi soalnya kami di dalam
loketnya nih. Eh, tapi ternyata dia nggak jauh beda kok kayak yang difoto dulu
tu ya Mi?”
“Ya iyalah,
masa beda jauh toh? Mana dia sekarang?”
Ketika aku
sedang melongok-longok, mencoba memata-matai Edo dari kaca tembok yang
memantulkan pemandangan di halaman, eh Edo lewat di belakangku.
“Duh Mi,
dia lewat loh barusan! Kayaknya dia udah tahu lah kalau ini Ela. Agak senyum
gitu dia lewat. Kayaknya ke toilet langsung tuh.”
“Ajak dulu
dia sholat itu, sekaligus sama sholat Zuhurnya ya.”
“Oke Mi.
Ntar diajak.”
Aku dan
Nilam segera ke luar dari loket dan mendapati Edo yang sedang duduk di ujung
dekat tembok rumah makan ALS ini.
“Lam? Coba
lihatin Edo lagi ngapain dia? Ngelihatin kita nggak?” tanyaku. Aku membelakangi
Edo dan menghadap kepada Nilam. Jadi, Nilam bisa curi-curi pandang dari sisi
kerudungku.
“Nggak
Mbak. Dia lagi main HP. Kayaknya coba ngubungi Umi tuh.”
“Pasti
nggak diangkat sama Umi, Umi kan tadi bilang mau sholat.”
Nilam terus
sesekali melirik ke arah Edo, memantau apa yang dilakukannya di sana.
“Lam,
samperin sekarang ajalah yuk? Ntar kalau kelamaan ngakunya, makin lama kita
bersamanya.”
Nilam
setuju. Kami melangkah mendekatinya, terus mendekat dan sekarang sudah berada
di sampingnya tapi dia nggak juga noleh.
“Edo ya?”
sapaku akhirnya.
“Mbak Ela
ya?” tanyanya pula. Setelah aku mengangguk, ia langsung menyalamiku.
***
“Edo, Mbak
ajak main ke kampus Mbak yuk?” ajakku setelah ia melaksanakan sholat Ashar dan
Zuhur diqhosor seperti yang ku ajarkan.
“Emangnya
dimana kampus Mbak?”
“Deket
banget bahkan. Kita tinggal lurus aja dan belok ke kiri. Nyampek deh!”
“Ayoklah
Mbak!”
Aku kembali
menemui abang loket untuk memastikan bahwa keberangkatan busnya masih sejam
lagi. Mungkin si abang bosan ku tanya-tanya sejak tadi, kali ini jawabannya
agak bernada tinggi. Aku sih nggak mau ambil pusing.
“Lam, nggak
apa-apa ya Nilam di sini aja? Pegang HP Mbak Ela nih, nanti kalau ada
tanda-tanda busnya mau berangkat, sms ke nomor Bang Edo ya?”
Nilam
awalnya berat. Dia pun ingin ikut sebenarnya. Tapi mau bagaimana? Nggak mungkin
kan kami semotor bertiga? Dilangsir pun tambah mustahil lagi. Akhirnya, setelah
aku memberi penjelasan kepadanya, dia bisa menerimanya.
Aku
memasang jaket Lia dan helmnya sebelum melaju.
“Pelan-pelan
Mbak El,” kata Edo. Padahal aku belum laju loh.
“Yuhuuuuu…”
Dan, kurang
dari 1 menit kami sudah tiba di depan gerbang UR Arengka. Jalur masuk hanya
bisa dari jalur ke luar saja sementara yang satu lagi diportal. Mungkin karena
hari libur dan sepi.
“Nah, inilah
dia kampus Mbak!” jelasku setelah kami memasuki kawasan UR dan mulai mendekat
ke kolam di depan rektorat. Tersajilah pemandangan penyambut kedatangan Edo di
Universitas ini.
“Wiiihhh,
besar banget nih Mbak kampusnya!”
“Edo udah
pernah ke Universitas Lampung?”
“udah, tapi
nggak seluar inilah kampusnya. Gedungnya deket-deketan. Ini mah luas banget
Mbak.”
“Nah,
gedung yang besar dan bulat itu adalah Stadion utama Riau Do, letaknya masih di
kawasan UR juga. Dan, UR sendiri punya stadion mini, itu temboknya kelihatan
dari sini,” aku menunjuk ke 2 arah yang berbeda, bergantian. “Jadi intinya, ada
2 stadion di dalam kawasan kampus ini.”
“Waaahhh…
luas banget ya Mbak. Ini baru bener-bener kampus! Nggak bakal bosan kayaknya
kalau Edo kuliah di sini nih!”
Aku membawanya
berkeliling UR, ke FKIP, FE, FISIP, FMIPA< TEKNIK, FAPERI dan FAPERTA.
Kemudian, memfotonya di jembatan kupu-kupu dan di kolam depan rekorat itu.
“Edo, coba
lompat ya!” pintaku ketika Edo tepat memunggungi tulisan Universitas Riau,
www.unri.ac.id. Dan, berbagai gaya lainnya yang ku ajarkan secara mendadak
kepadanya. Eheh.
“Bener ya
kata Mama, kalau Mbak Ela suka foto. Pantesan aja fotonya banyak.”
“Mama
ngomong gitu ya? Hehee, emang iya. Makanya sampai bela-belain punya kamera
sendiri nih,” aku memamerkan si merah kepada Edo. “Eh, coba lihat HPmu, ada sms
dari Nilam nggak?”
“Ada nih
Mbak, barusan. Bang Edo, cepetan
ke sini nanti ditinggal bus pula.”
Setelah
mendengar Edo membacakan SMS itu kami berhembus pulang. Lagian, emang pas
banget kami udah berada di spot hunting terakhir.
***
Ternyata
busnya belum akan berangkat. Nilam aja yang terlalu khawatir ditinggal sendiri
lama-lama. Akhirnya, kami menghabiskan waktu dengan ngobrol renyah yang
diselingi dengan telvon dari mami papi ke Nilam, aku dan Edo bergantian.
Selama Nilam
ngobrol dengan mami, aku ngobrol dengan Edo, “Dek, udah terima rapor?”
“Udah Mbak.”
“Gimana
hasilnya? Nggak ada merahnya kan?”
“Ada Mbak. Malah
banyak.”
“Loh, kok
bisa? Males belajar ya? Atau main voli aja?”
“Hehhe, iya
Mbak. Sering ngumpul-ngumpul sama kawan.”
“Ngumpul
ngapain?”
“Yah,
ngumpul-ngumpul aja Mbak.”
“Do,
dengerin Mbak ya, masa muda kita itu cuma sebentar disbanding dengan masa tua
nanti. Makanya, kita harus rajin belajar di masa muda, supaya setelah tua nggak
menyesal karena nggak berilmu. Edo tahu kan kemarin Mbak pernah ke Thailand?”
“Tahu Mbak.”
“Nah,
ketika Mbak udah ke Thailand dan ke beberapa tempat lainnya, sekarang Mbak baru
nyadar, kenapa ya nggak sejak SMA dulu aku memulainya? Yah, waktu SMA dulu Mbak
nggak jauh beda sih dari Edo. Pulang sekolah ya tidur, jalan-jalan, gitu aja. Nggak
ada sesuatu yang lebih. Disitulah Mbak menyesal.”
“Wah, Mbak
Ela aja yang udah kayak gini menyesal ya, apalagi Edo? Hahhaa,” tawanya.
“Nih,
minyak anginnya,” aku menyodorkan minya angin titipan Edo. “Dan, ini Al-Quran
buat Edo, rajin-rajin dibaca ya. Apalagi di bulan ramadhan kayak gini, biar
pahala kita semakin banyak.”
“Oh iya ya
Mbak, makasih ya.”
***
Edo luar
biasa. Waktu aku menanyakan tentang pusing atau mual nggak selama di perjalanan
tadi, dia mengaku sangat menikmati perjalanan dan nggak mual sama sekali. Bahkan,
dia pun nggak tidur sama sekali. Kece banget kan? Cucok nih orang kayak gini
diajak traveling. Kalau aku sih, pasti ngerasa mual, tapi baisanya ku paksa
tidur untuk mengalihkannya.
Sudah pukul
17.15, tapi belum juga ada tanda-tanda keberangkatan. Aku teringat ada acara
bubar anak-anak PE 2011 nih di samping Robinson. Tapi, aku belum mandi pula.
Atau aku langsung ke sana aja ya?
“Eh, ini lemari di dapur ya Do?”
“Iya Mbak.”
“Ih, ini
kan lemari kaca yang ada keramiknya itu kan?”
“Iya Mbak.”
Aku
memperhatikan foto Salsa yang sedang nagkring di atas rak piring itu. Wahh,
mami beli barang baru nih buat rumah kitaaa. Lalu, ku geser ke foto-foto
berikutnya di HP Edo ini.
“Ini
foto-foto dari HP Mama atau langsung difoto pakai HP ini?”
“Ada yang
dikirim dari HP Mama. Kalau yang asli dari HP Edo tu gambarnya agak buram Mbak.”
Sekarang, gantian
Nilam yang ngotak-ngatik HP Edo.
“Ih, ini
jalan rumah kita ya Mbak?” tanya Nilam kepadaku. Aku melirik kepada Edo.
“Iya Mbak. Udah
semen jalannya.”
“Waktu
Edo datang emang udah disemen atau
setelah Edo datang baru disemen?” tanyaku.
“Waktu Edo
datang udah disemen Mbak. Tapi, Edo tahu dulunya berkrikil dari foto-fotonya.”
“Yah, tapi
nanggung banget nih, mana muat mobil masuk ke dalamnya.”
“Muat kok
Mbak!”
“Oh, muat
yaaa?”
Aku mulai
melamun, Ya Allah, aku pengen segera
punya uang dan aku berikan ke mami papi untuk nyumbang beli mobil. Jadi,
dimobil itu pun ada uangku yang digunakan. Hehe. Aku masih terus menatap
jalanan semen di halaman rumahku itu.
“Atau
jangan-jangan mobilnya emang udah ada?” tanyaku asal-asalan.
“Emang udah
ada puuun,” jawab Edo.
Mataku melebar.
Nilam juga. Aku dan Nilam saling berpandang-pandangan. Terkejut.
“Masa iya
Do? Seriuslah?” buruku.
“Iya Mbak,
nggak percaya. Makanya, cepet pulang biar bisa lihat.”
“Ah, Bang
Edo nih bercanda aja!” kata Nilam.
“Ya Allah
beneran, ngapain Edo bohong-bohong pula?” Edo menjawab dengan ekspresi khasnya;
tersenyum mesam-mesem, kalau kata orang jawa.
“Nanti
kalau ternyata Edo bohong awas loh ya? Marah Mbak ntar.”
“Ya Allah,
beneran loh Mbak. Abi aja tiap pagi diajarin sama bapak-bapak yang sering
nganterin timun ke rumah kita.”
“Timun
Suri?” celetuk Nilam. Lalu dia ber-oooo panjang. Sepertinya dia tahu siapa orangnya.
“Warna apa
mobilnya Do?”
“Putih,
minimalis Mbak.”
“Merknya
apa?”
“Wah, nggak
pula Edo perhatikan itu.”
“Abi setiap
habis Subuh pasti latihan nyetir tuh. Moza yang sering ikut.”
“Terus,
kenapa tadi Mama ngantarkan Edo ke Ujung Tanjungnya pakai motor?”
“Ya, kan
Abi belum pandai bawa mobilnya Mbak. Lagian biar cepet.”
“Oooohhh,
gituuuuu,” meskipun masih belum terlalu percaya, tapi aku udah mulai yakin. Aku
melihat Nilam, matanya mulai berkaca-kaca, “Aiiii Lam? Nangis pula? Terharu?”
“Masih
nggak percaya aja rasanya Mbak. Nggak nyangka.”
Bukan hanya
Nilam sih yang nggak nyangka, mbak juga gitu. Apalagi kalau ingat papi itu
kayak apa orangnya. Rasanya bermimpi punya mobil pun agak mikir-mikir lagi.
Papi selalu aja ogah dan terlihat nggak niat kalau diminta beli sesuatu. Katanya
mubazir lah, nggak penting lah, tunggu dulu lah. Eh, tapi apa yang terjadi hari
ini, yang ku dengar hari ini benar-benar karunia dari Allah.
Fabiayyi ‘alaa irobbikuma
tukadsibaaan…
Pukul 17.35wib,
seluruh penumpang diminta masuk ke dalam bus. Aku meminta tolong seorang cewek
yang kemungkinan adalah penumpang juga untuk memfotoku, Nilam dan Edo di badan
bus bertuliskan Antar Lintas Sumatera ini.
Setelah Edo
naik, aku dan Nilam pun pergi. Sebenarnya masih mau melihat sampai Edo
benar-benar pergi. Tapi, baru saja ada bus ALS yang datang dan menghalangi kami
memandang Edo yang pas banget duduk di dekat jendela.
***
“Nilam mau
Mbak antar pulang langsung atau kita buka dulu?”
“Buka dulu
lah kita Mbak.”
“Mau buka
pake apa emangnya? Kan enakan di pondoklah karena udah disiapin semuanya.”
“Di pondok cuma
dapat semangka aja sama air putih biasa.”
“Terus,
Nilam nggak pernah minum es teh?”
“Pernah. Ya
kalau mau minum es teh beli sendiri esnya di luar dan bikin sendirilah.”
Owalah,
kasihannya adikku ini. Akhirnya ku putuskan untuk membatalkan kehadiran di
bubar PE 2011 hanya untuk seseorang; Nilam, dia lebih penting dari apapun
sekarang.
“Lam, mau
es kelapa muda?”
“Mau mau
aja.”
“Ya udah,
kita beli es Degan (baca: kelapa muda) aja dan gorengan. Gimana? Terus kita
buka puasanya di mesjid dekat pondokmu aja, baru setelah sholat Maghrib, Mbak
antar nilam ke pesantren.”
Nilam
setuju. Setelah semua bebukaan terbeli, kami menghabiskan masa tunggu azan
berbuka dengan membaca Al-Quran di mesjid Al-Ikhlas di dekan pesantren. Duh, so
sweet banget deh kami. Yuhuuuuu…
El Buka di mana? Biar
tau aku, SMS dari Rini
masuk.
Aku buka sama Nilam
Rin. Tapi ntar setelah sholat Maghrib, aku makannya di rumah kok!
Lalu, aku
mengSMS Lia pula, Cin, Rin,
maafin eke ya, eke nggak pandai bawa kalian terbang ke Jakarte.
***
Aku sampai
di kosan dengan selamat. Rini dan Lia pas banget baru akan memulai makan. Yuhuuuuu…aku
langsung ikutan makan. Hemmm…kali ini mereka masak tumis brokoli, wortel dan
kol, lauknya ikan salai dan telur dadar. Ya Allah, makasiih.
“Semenjak
Lia di sini, kita sejahtera ya El!” kata Rini.
“Iya,
selama Lia di sini kita sejahtera. Kita sejahtera karena Lia. Maka, Lia sama
dengan kesejahteraan.”
“Apalaaaaaaah
El ni,” ujar Rini, geram. Aku hanya tertawa.
Kami menyantap
hidangan nikmat ini sambil nonton Malam Minggu Miko. Aku nggak pengen ngerusak
suasana hikmat ini dengan membahas keputsan juri tadi.
Eh,
jangan-jangan ini adalah kejutan? Rini dan Lia sekongkolan untuk mengSMSku
tentang pengumuman KTI dan sebentar lagi mereka akan mengakuinya kepadaku. Lalu,
aku akan berekspresi seperti orang yang sedang jantungan. Hihii. Tapi, ini kan
bukan hari ulang tahunku? Ah bodoh banget sih! Penting kali mereka ngasih
kejutan gituan untukku? Huft! Terima ajalah El kenyataan ini.
Mu udah berusaha
keras dan kami udah coba berlari, namun tetangga mungkin minum pocary sweat
jadi lebih cepat sampai ke garis finish. Hahah. Makasih ya Cint. Pulang segera
ya. Ada tumis brokolli+wortel nih.
Aku baru
saja membaca balasan pesan dari Lia. Ah, aku fikir dia tadi sengaja nggak mau
balas. Lagi-lagi mikir untuk kejutan. Tapi, setelah membaca pesannya barusan,
aku sadar bahwa ini NYATA.
“Cin, mu
mikir nggak sih kalau Jakarta ternyata bukan jodoh kita, maka Negara mana jodoh
kita?”
“Huaaaaaaaaahhhhhhhh..aamiin
ya Allah. Mari kita keliling dunia,” jawab Lia.
Rini hanya
tersenyum-senyum di balik layar HPnya.
***
“Kalau saya
bilang, barusan saya buka google untuk nyari materi ceramah, kira-kira
adek-adek akan tertawa nggak?” tanya pak Ustad.
Ada suara
tawa yang terdengar samar dari beberapa orang jamaah.
“Nah, di
facebook itu ka nada berita ya Pak, Bu, barusan saya membaca bahwa ternyata
sekitar 2,3 juta jiwa penduduk Indonesia murtad setiap tahunnya.”
“Astaghfirullah,”
terdengar dari para jamaah.
“Kenapa itu
bisa terjadi? Yak arena lemahnya iman. Kenapa iman bisa lemah? Ya karena tidak
ditingkatkan. Kenapa tidak meningkat? Ya mungkin, karena nggak ada yang
mengingatkan. Nah, makanya Pak, Bu, tugas menyebarkan agama ini bukan tugas per
orangan, bukan tugasnya pak ustad saja, tapi ini tugasnya jamaah, tugasnya
seluruh umat islam.”
Aku jadi
teringat dengan ceramah di malam sebelumnya, bahwa keistimewaan akhir zaman itu
adalah tidak akan pernah Allah menurunkan nabi lagi sekalipun kondisi sangat
awut-awutan dan berat huru-haranya. Makanya, tugas kenabian itu diteruskan oleh
seluruh umat Rosulullah; ya kita semua ini.
“Untuk
menjadi muslim yang sempurna, kita kan punya 5 rukun ya. Nah, yang pertama
inilah yang sering kali terganggu. Yaitu, ucapan syahadat. Itu bukan ucapan
sembarangan Pak, Bu. Kalau kita udah faham maknanya, kita nggak akan mungkin
murtad dari agama rahmatan lil alamiin ini…” lanjutnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar