Jumat, 11 Desember 2015

Bagaimana Kamu Padaku adalah Bagaimana Aku Padamu


Aku memburu senja. Berusaha mendahului petang sebelum petang sampai di peraduan. Masih ada jejak-jejak senja yang tertinggal di langit Pekanbaru, pertanda masih ada harapan untuk menandingi datangnya petang. Aku sudah tiba di pembelokan tugu Songket, Panam sudah menyambutku. Okta dan Nova mungkin sudah ketinggalan jauh di belakang. Lajuku memang ku pacu, demi sebuah demi.
“Umumnya Pembaca tak pernah mau TAHU bagaimana Penulis Menulis.”
Ntah ilham dari mana ini. Belakangan aku baru menyadari bahwa ternyata aku selalu ngobrol dengan fikiran dan hatiku sendiri. Maka, tak heran jika kalimat-kalimat ‘supranatural’ seperti yang barusan itu bermunculan.  Untungnya aku selalu sadar dan segera mememenjarakannya dalam ingatan. Adapun maksud kalimat itu seperti ini…
“Pembaca tulisan-tulisanku yang rajin banget nagih tulisanku setiap kali aku terlambat update itu tidak pernah bertanya; ‘Kenapa terlambat meng-up-date? Apa kendalanya?’. Tidak pernah. Mereka tidak pernah mau tahu itu. Yang terpenting adalah TULISANKU HARUS SELALU TERHIDANG. Tak peduli, betapa sibuknya aku, betapa tidak sempatnya aku, betapa lelahnya aku dan betapa aku pun sering kali ‘kalah’ dan dipecundangi oleh diriku sendiri.”
Ah…. Tapi tak apa. Aku justru menikmati semua momen indah bersama tulisan dan segala resiko ‘tagihan’ yang mengiringinya. Aku suka sekali dipaksa oleh keadaan seperti ini.
“Ya Allah, izinkan hamba hidup dalam ‘kemewahan’ hati, rasa dan cinta dalam tulisan dan persahabatan yang menghebatkan. Aamiin.”


Aku jadi teringat dengan pertanyaan seorang junior setelah membaca blogku…
“Kakak nggak capek nulis terus Kak?”
“Nggak. Justru seneeeng banget. Hehee,” jawabku. Sebuah kalimat pun berlanjut diam-diam di dalam hati...
             Dek, justru MENULIS ini adalah cara kakak BERISTIRAHAT.
Aku sudah sampai di jalan Kayu Manis…
“Yuhuuuuuuu… Indaaahh..buka pintunya buat Anteee donk?” teriakku dari teras.
“Loh? Kok les Nteee?” tanya Indah sambil membuka pintu.
Aku terbengong. Berfikir keras tentang ‘Ini hari apa memangnya?’. Dan… “Astaghfirullah! Iyaaa yaaa.. kok Ante datang ke sini ya sekarang? Huahhhhh… padahal, tadi siang Ante tu udah nyadar loh kalau malam ini nggak les. Tapi, tadi sore kok Ante bisa lupa yaa. Makanya Ante ngeloyor langsung ke sini tanpa pikir panjang, heheee.”
“Tulah Ante niii!” Indah terlihat sedang bingung mencari sesuatu di kamarnya.
“Jadi Ante nggak boleh nih bertamu ke sinii?” tanyaku dengan wajah memelas sambil menggulung lengan baju untuk berwudhu.
“Boleh! Tapi, Etaaa nggak mau belajar! Dan, tolong Ante jangan matikan TVnyaa ya!” pinta Keysa dengan sangat.
“Bububuyuuu yaaa!”

Tanpa bertanya; ‘Indah udah sholat?’, aku langsung berkata; “Ndah… yuk sholat Maghrib bareng kita!”. Alhamdulillah, Indah langsung menurut dan kamipun sholat bersama. Alhamdulillah, aku juga bisa mengarahkan Keysa dan Indah untuk mengaji dan  belajar membaca. Engkau pasti punya rencana mengirimkanku ke sini ya Allah. Ya mungkin untuk hal ini.
“Bunda kapan perginya tadi Ndah?”
“Sejak sore Nte.”
“PR Matematika semalam udah dinilai?”
“Belum dinilai Nte, tapi udah diperiksa.”
“Terus? Yang benar berapa?” aku sangat berharap mendengar jawaban ‘100’ dari Indah. Rasanya, selama hampir 1 tahun aku mengajarnya, belum pernah aku mendengar kabar baik dengan angka tersebut.
“Benar 6 salah 4,” jawab Indah.
“WHAT? Salah 4? Banyak kaliiiii. Kok bisa siiiih?” pekikku. Indah hanya menggelengkan kepala. “Indah tulis nggak jawaban yang benarnya tadi?” tanyaku lagi.
Indah geleng-geleng lagi. Ya Allah… rasanya sedih banget, padahal aku merasa udah maksimal ngajarin Indah semalam. Tapi, kadang, aku juga merasakan beberapa keanehan dari cara gurunya Indah menilai. Sering ku temui jawabanku benar, tapi ternyata salah. Ah, pusing!

***

Dreettt..dreeettt…
Dengan memicing sebelah mata, ku lihat siapa yang menelvonku. Okta. Lalu ku angkat dengan malas. Dia mengingatkanku untuk segera bersiap berangkat. Aku beranjak dari tempat tidur, mencuci muka, sholat Zuhur dan dress up.
“Cek, ke Ayam Gemulai ya! Okta OTW ke sana juga,” pinta Okta lewat telvon.
“Heh! Udah jam berapa ini? Nggak ada cerita doh! Cepat kita berangkat lagi!” tolakku.
“Iya iya iyaaa!!! Okta OTW ke sana nih!”
Ternyata benar Okta belum makan. Aku tak peduli, yang terpenting adalah segera sampai di BLH dan kalau masih harus menunggu teman-teman yang lain, barulah ngurusin perut. Kami melewati UR menuju Arengka II.
“Cek! Kakak mau tanya nih!” kataku ketika kami melintas di depan gedung Gasing.

Okta melambatkan laju motornya untuk mengiringiku.
“Kalau seandainya Cek memenangkan sesuatu, atau habis terbang ke manaaa gitu, atau sedang ulang tahun, terus ada seseorang yang nggak ngucapkan selamat ke Cek padahal dia cukup tahu Cek dan Cek yakin dia tahu tentang kisah Cek tadi, nah gimana sikap Cek ke dia?”
“Emmm…biasa aja sih. Okta tu tipenya kalau orang ngasih selamat ya Okta bahagia, kalau nggak dapat ucapan selamat ya nggak apa-apa.”
“Ini bukan tentang apa-apa atau nggak apa-apanya Cek. Tapi ini lebih kepada gimana Cek ‘membalas’ orang tersebut. Sederhananya gini, ketika dia tahu ulang tahun Cek tapi ntah karena alasan apa ternyata dia nggak ngucapin selamat, maukah Cek nanti ngucapin di hari ulang tahunnya?” tanyaku dengan intonasi dan ekspresi power full sehingga Okta mudah memahaminya.
“Nggak! Okta nggak mau ngucapin!” jawab Okta akhirnya.
“Iya. Sama. Kakak juga! Ini bukan tentang benar dan salah kan Cek? Ini hanya soal PILIHAN. Lagian, kita nggak SALAH kan kalau kita memilih untuk nggak ngucapin ke dia?”

“Iya, bener tuh! Kita kan nggak berhutang apa-apa sama dia. Ucapan itu pun adalah pilihan kita. Kalau mau ngucapin ya silahkan, kalau nggak mau ya itu pilihan kita.”
Aku manggut-manggut dan kami kembali fokus pada kemudi kami masing-masing. Tapi, ketika memasuki jalan Tuanku Tambusai, aku teringat sebuah kalimat yang semalam ku tulis sebagai caption di Instagram.
“Intinya gini Cek, BAGAIMANA kamu padaku adalah BAGAIMANA aku padamu,” jelasku sambil membuka helm.
“Sihiyyyyyyyyy!” kata Okta.
“Eh, ada satu pertanyaan lagi nih ternyata!” kataku. “Kalau dalam suatu kelompok, Cek tahu ada orang yang nggak suka sama Cek, apakah Cek akan berusaha membuatnya menyukai Cek atau Cek biarkan aja dia?” tanyaku.
“Okta akan berusaha mengklarifikasinya Cek! Tapi, bukan
dengan menjelaskannya menggunakan kata-kata, tapi dengan perbuatan Okta. Bahwa Okta nggak seperti yang kamu fikirkan loh!”
“SIhiyyyyyyy.” Kataku. Gantian.
"Cek, semalam tiba-tiba Okta nangis. Okta berfikir keras tentang kita, ke-10 Duta Lingkungan ini. Setelah mendapat selempang, sebenarnya tugas kita semakin berat. Tapi, lihatlah apa yang terjadi setelah final? Susaaaaahh kali ngumpulkan orang ini. Dan, parahnya hari ini dia bilang bisa, besok mendadak dia bilang tak bisa. Okta khawatir jadinya Cek."
"Iya, Kakak juga."

***

“Sambil nunggu yang lainnya, kita cari makan di seberang jalan yuk?” ajak Okta kepadaku dan Nova. Kami setuju.
Ternyata ada warung Ayam Penyet di depan kantor BLH ini, tepat bersebelahan dengan Plaza Citra. Aku nggak berniat makan lagi karena tadi udah makan, tapi aku niat mencuri makanan Okta dan Nova kali ini, ehehe.
“Nova udah makan atau belum tadi?” tanyaku.
“Belum sih. Ini mau pesen juga deh!”
Aku yang tak tahu malu ini langsung milih tempat duduk di sudut ruangan, tepat di dekat TV dan di bawah kipas angin. How lucky this corner, guys!
“Tengoklah dia ni Kak Nova, nggak maluuu kaan?” Okta menyindirku.
Aku mana peduli. Ketika Ayam Penyet pesanan Okta dan nasi rames berlauk sambal Cumi-cumi milik Nova tiba, aku langsung ikut ‘andil’ di dalamnya. Hehhee. Tak lama kemudian, dek Osbron pun tiba. Dia segera bergabung bersama kami, tapi tidak ikut memesan makanan.
“Tengok Kakak ni Dek, nggak pesan makanan tapi bisa makan. Heehee,” kataku pada dek Osbron. Dia tertawa geli mendengarnya.

“Kalau dia ni emang selalu buat malu nya!” celetuk Okta.
Tepat setelah kami selesai makan siang, dek Osbron mengatakan bahwa bang Ardi sudah sampai di BLH. Kami segera beranjak dari tempat duduk menuju kasir. Selagi Okta dan Nova membayar makanan, aku meminta tolong dek Osbron memfotokanku. Tapi, belum lagi aku sempat berganti pose, Okta langsung melibatkan diri dalam fotoku. Hiksss.. *pengganggu!
“Mana nih Bang Ardinya? Kok nggak kelihatan sih?” tanyaku.
“Mungkin dia di dalam ruangan bu Elma kali. Yuk lah kita masuk aja,” kata Nova.
Benar saja, kami mendapai bang Ardi sedang ngobrol dengan bu Elma di ruang tamu. Kami langsung menyalami bu Elma, kak Tami dan kak Ema. Aku duduk di samping bu Elma dan yang lainnya duduk di depanku.
“..Buk, Okta mau nanya, kalau seandainya kami diundang untuk menghadiri suatu acara dengan menggunakan selempang, apakah kami harus izin dulu ke BLH atau bagaimana Buk? Soalnya besok Duta Lingkungan ini diundang untuk menghadiri peresmian Rumah Kanker Indonesia, Buk.”
“Nah…jadi seperti ini, Duta Lingkungan ini kan sekarang adalah asset BLH, nanti akan ada MoU antara BLH dengan kalian tentang segala kegiatan kontributif dan administratif yang harus kalian patuhi. Nah, besok tolong minta surat pengantarnya dari mereka kepada BLH ya Okta. Sebagai permohonan secara resmi bahwa mereka mengundang kalian, dan diketahui oleh BLH.”
“Ohhh..gitu ya Buk.”

“Oh ya Buk, kapan kami ngelihat Bank Sampah di tempat Ibuk tuu?” tanyaku, setengan berbisik.
“Nah… inilah kendalanya, dalam waktu dekat ini kan kami harus kejar tayang untuk program-program di tahun 2015 ini yang belum selesai, makanya BLHnya masih kerepotan dan sibuk sekali. Insya Allah, bulan Januari nanti kita bisa benar-benar memulai kegiatan ini, masing-masing kalian akan tahu apa yang harus kalian lakukan nantinya. MoU yang Ibuk katakan tadi pun belum terkonsep secara utuh karena belum bisa fokus ke sana dulu untuk saat ini.”
“Ooooo.”
Kami dan kak Tami mohon izin dengan bu Elma untuk berdiskusi tentang komik di aula BLH. Nova menyerahkan konsep komik yang seminggu lalu sudah kami rumuskan kepada kak Tami. Hal yang di luar ekspektadi ternyata terjadi di menit-menit selanjutnya. Kak Tami meminta kami untuk membuka bicara tentang kondisi riil pergaulan dan komunikasi di antara kami.
“…Kalian ini bukan hanya komunitas, tapi Kakak menyebutnya sebagai Keluarga Duta Lingkungan kota Pekanbaru. Keluarga itu konsepnya adalah, ketika ada yang lemah, maka yang lainnya menguatkan. Ketika ada yang ‘berlebih’, maka berbagilah kepada yang lainnya. Dan, perlu diingat lagi bahwa ini sudah bukan aura kompetisi lagi ya. Saat ini adalah masa BAKTI kalian, bukan persaingan memperebutkan juara lagi,” jelas kak Tami.

Kami menyimak takzim nasehat kak Tami tersebut.
“…meskipun kalian bukan remaja lagi, tapi Kakak tahu bahwa sifat-sifat remaja itu masih terbawa-bawa oleh kalian. Ingat, ada hal-hal di antara kalian yang tidak mungkin dipecahkan dan diurusi oleh para orang tua kita di BLH ini. Perjalanan kalian masih sangat panjang dan ini baru saja dimulai. Yang harus kalian lakukan saat ini adalah MENYATU antara satu sama lain sehingga kalian sama-sama enak dan program ini bisa berjalan dengan baik.”
Aku pribadi nggak nyangka kalau pertemuan kami ini cenderung lebih mirip ajang temu kangen daripada rapat, ehhee. Alhamdulillah, bisa senyaman ini dengan teman-teman dan juga kak Tami yang ternyata adalah sosok kakak yang benar-benar sangat peduli kepada kami, adik-adiknya.
“Untuk setiap kalian yang 10 besar ini, aku punya catatan tersendiri. Jujur, ketika final kemarin aku semapt ditanya tentang siapa bakal pemenang Duta Lingkungan ini aku benar-benar bingung jawabnya dan hanya aku satu-satunya yang nggak nggak punya jagoan. Aku melihat kalian sebagai sosok-sosok yang belum matang dan menonjol bagiku. Masing-masing orang tua kita di BLH ini udah punya jagoannya masing-masing, tapi nggak perlu lah disebutkan ya siapa-siapanya. Sekalipun sekarang udah ada pemenang-pemenangnya, tapi aku nggak mau mendewakan kemenangan itu dan di mataku kalian tetaplah kalian yang dulu, sebelum final. Bahkan, aku masih sering lupa nih gelar-gelar ke-6 pemenang lainnya. Hehee.”

“Kak, cepeten nilai kamiiii!” pekikku, tak sabar.
“Dia tu udah nggak sabaran tu Kak!” kata Okta yang ternyata sadar bahwa selama aku mendengarkan kak Tami bercerita, sebenarnya catataan khusus kak Tamilah yang sangat ku tunggu.
Pertama, bang Ardi yang dinilai oleh kak Tami.
“Bagi aku… Ardi ini adalah sosok pemimpin. Ada karakter leadership dalam dirimu dan ada juga wawasan yang luar biasa, tapi kadang itu redup bahkan nggak kelihatan. Kalau bagi aku, kamu punya looks untuk dipilih sebagai leader di komunitas Duta Lingkungan ini. Tapi, ini harus kalian bicarakan bersama yang lainnya juga tentang struktur komunitas sehingga nanti kalau BLH ingin menginfokan sesuatu, nggak susah payah lagi ngirimin SMS ke semuanya. Cukup ke ketuanya dan dialah yang menyampaikan ke yang lainnya.”
“Kak, aku mau klarifikasi tentang penilaian Kakak tadi,” kata bang Ardi.
“Oh, silahkan.”
“Aku tu tipe orang yang kalau sudah diberi posisi sebagai leader, aku akan langsung bagiin job desk sama anggota supaya bisa segera dieksekusi. Dan, kalau ternyata aku lihat ada yang nggak bergerak atau lambat geraknya, biasanya aku yang akan langsung turun untuk nanganinnya Kak. Itu tuh masalahnya. Intinya, aku sangat nggak bisa tenang kalau apa yang ku tugasin itu nggak selesai. Jadi, seolah-olah aku tu nggak percaya sepenuhnya kalau anggotaku itu mampu menyelesaikannya kan Kak?”

Bang, tugas pemimpin itu adalah MENGGERAKKAN sebenarnya. Jadi, Abang harus pandai MENGGERAKKAN orang-orang yang nggak mau gerak itu untuk BERGERAK.
Sahutku dalam hati. Selanjutnya, pengulasan tentang dek Osbron.
“…aku nggak nyangka ternyata Osbron yang sekarang itu lebih tengil daripada yang awal ku lihat. Tengil itu adalah… emmm…bandel yang menarik sebenarnya. Hehe. Di malam puncak itu, aku pun melihat Osbron sebagai orang yang benar-benar ‘ke luar’, ke luar pedenya, jawabannya bagus banget dan yaahhh… ini bukan Osbron yang ku lihat sehari-hari deh intinya!”
Dek Osbron berkali-kali tertawa ketika kak Tami menjelaskan tentang dirinya. Dan, yang berikutnya adalah Okta.
“Untuk Okta, petama… aku pengen nanya ada hubungan apa antara kamu dengan Elis?” tanya kak Tami dengan wajah yang semi-serius.
Aku sontak tertawa mendengar pertanyaan kak Tami. Okta juga.
“Banyak sih orang yang nanyain hal ini sebelumnya Kak, tapi emang bener-bener cuma teman aja. Dia udah kayak adik sendiri. Kami sering terlibat dalam satu acara dan emang klop banget. Jadi, ya kami nggak lebih. Kayaknya banyak nih pihak yang harus kita klarifikasi tentang ini ya Dek? Ahhha,” tanyaku pada Okta.

“Ih, ogahhh banget suka sama dia Kak!” kata Okta.
“Tapi yang jelas kami kan bisa berbaur dengan yang lainnya Kak?” tanggapku.
“Iyaaa.. Elis dan Okta memang lebih mudah berbaur dengan yang lainnya dibanding Ardi dan Sri.”
“Hah? Kok gitu Kak?’ tanya bang Ardi.
“Gini, kalau Elis dan Okta itu bisa masuk di berbagai obrolan, sementara antara kamu dan Sri itu seolah punya obrolan tertentu yang lebih eksklusif dan nggak semua orang tahu tentang itu,” jelas kak Tami.
“Ohhh…mungkin karena kami sering satu kegiatan dan komunitas juga kali Kak.”
“ Bisa jadi. Okay, ternyata kamu normal Okta. Aku kira kamu nggak normal, ehee. Jadi gini, Okta sekalipun kami bukan anak Ilmu Komunikasi, tapi aku akui kamu punya ilmu itu. Kamu punya kemampuan istimewa untuk bisa masuk ke berbagai obrolan. Kamu sangat cair dan lues. Tapi, tolong tingkatkan lagi pedenya. Eemmm.. seperti yang pernah kamu katakan, kamu agak minder dengan badan kamu, tapi di Duta Lingkungan ini yang terpenting bukan fisikmu, tapi KAMUnya. Siapa yang peduli dengan fisikmu kalau ternyata gara-gara kamu Pekanbaru ini jadi hijau? Siapa yang peduli dengan fisikmu kalau ternyata gara-gara kamu masyarakat Pekanbaru jadi pinter memilah sampah dan lain sebagainya. Bener kan?”

Dan, komentar kak Tami tentang Nova dan dek Yona ternyata ada kesamaan; Yona dan Nova sering kali invisible, antara ada dan tiada. Mungkin karena karakternya yang tertutupi dengan karakter lain yang lebih kuat dan mencolok. Hemmm… ternyata benar kalimat ini; “Ada 2 tipe anak di sekolah yang paling mudah dikenali; Yang TERLALU cerdas atau TERLALU pendiam.” Dan, ternyata dalam kehidupan sehari-hari pun demikian, posisi ‘sedang-sedang’ saja memang agak susak disadari keberadaan dan keadaannya.
“Elis lagi Kak, Elis lagiiiii!” pintaku kegirangan, sambil menunjuk diri sendiri dengan antusias.
“Hahhaah..dia tu udah dari tadi loh nunggu Kak!” sahut Okta. “Aha Kak! Sebelumnya, Okta mau cerita Kak, ini udah sejak sebelum final sebenarnya mau Okta ceritakan tapi dilarang-larangnya karena dia nggak mau ‘menonjolkan’ diri. Dia itu PENULIS loh Kak! Blognya ada 6 pula dah!”
“Kelihatan kok! Aku udah curiga juga sejak kemarin,” kata kak Tami.
“Dan, Kakak perlu tahu, bahwa sebenarnya setelah gagal di Duta Bahasa kemarin, Okta nggak mau lagi ikut duta-dutaan lagi. Nah, berkat dialah Okta ikut Duta Lingkungan Kak. Sejak Okta KKN lagi Kak udah ditelvonnya untuk ikut pemilihan ini, pas Okta udah selesai KKN malah nggak berminta lagi Okta jadinya Kak. Yaaa..seperti yang Kakak bilang tadi, Okta lebih suka ngomong daripada nulis, nah berkat si Pemaksa Ulung inilah KTI Okta akhirnya selesai dan jadilah sampai sekarang ini.

“Oooooo…..” kak Tami ber-Oooo panjang.
“Iya Kak, bener banget tuh! Bagusssss banget kata-katanya Kak Elis tu Kak. Bener-bener baguuusss. Ini aku kirimin link blognya ke Kakak lewat LINE ya!” sahut bang Ardi lagi.
“Ternyata justru bang Ardi yang yang paling hafal dengan kutipan-kutipan kak Elisss,” kata Yona.
“Hhaha..iyaaa, itulah kemarin sampai aku tulis waktu Kak Elis ngomong. Hehee. Di Instagramnya juga bagus-bagus Kak kata-katanya,” kata bang Ardi lagi.
“Oh, kalau gitu aku harus add Instagram kamu nih Lis, hehee,” kata kak Tami.
“Tapi woy, aku nggak menyarankan kalian berteman dengan dia di Instagram kalau kalian nggak mau quota kalian cepat habis gara-gara postingan dia yang banyaknnya naudzubillah itu. hehehee,” sahut Okta lagi. Aku hanya tertawa saja menyaksikan lempar-lemparan obrolan ini.
“Kak Tamiii…lanjut donk peniliaian tentang Elisss Kak! Belum jadi-jadi juga kan gara-gara si Okta nii haa!”
“Okeeyy, kalau bagi aku, Elis itu adalah sosok yang sangat TENANG, KEIBUAN, KALEM dan… dalam keadaan yang kronik dan genting, Elis mampu hadir sebagai PENYEJUK di sana. Yahhh…intinya, kalau nanti di rumah tangga, sosok IBU itu sudah melekat sekali dalam dirinya. Pedenya juga udah bagus, pemilihan kata-katanya kalau bicara juga rapi.”
Hemmmm… kak Tami belum tahu aja kalau aku nggak suka anak kecil dan suka nyubit anak yang bandel karena geram banget, hihiii.

“Kalem itu sebenarnya apa sih Kak?” tanya Okta.
Aku benar-benar nggak nyangka dia bakal nanya hal yang udah familiar begini ke kak Tami.
“Kalem itu bukannya sama aja dengan CALM dalam bahasa Inggris ya? Intinya, nggak grusa-grusu, nggak sembrono, tenang, nggak agresif. Gitulah kira-kira. Tapi, aku baru ngelihat juga Elis yang hari ini.”
“Kakak kalau mau tahu lebih jauh tentang si Elis ini, ajaklah dia makan! Akan keluarlah semua sifat aslinya di sana. Hahaha,” tambah Okta lagi.
Nah, lanjut lagi! Aku nggak tahu Elis bisa menjadi orang yang high emotion atau nggak nih?”
“Bisa Kak. Dan, dalam waktu yang berdekatan juga Elis bisa tiba-tiba menjadi normal lagi, hehee. Jadi, gini Kak, Elis mau klarifikasi...”
“Apanya yang mau diklarifikasi? Kayaknya belum ada penilaian yang menekan Elis deh daritadi!” sahut kak Ami disusul tawa dari yang lainnya.
Pembicaraan selanjutnya tak kalah menarik. Mulai dari CFD, BLH vc RAPP, komik dan terakhir tentang strategi SINDIRAN untuk masyarakat sebagai pengguna dan peramai CFD yang nyatanya penuh sampah.
“Ahaaa! Kita bikin lagu parody aja gimana? Kayak Bekasi gitu?” usulku.
“Yang tentang Bekasi itu bukannya tentang jauhnya ke sana ya Kak? Bukan sampahnya,” kata bang Ardi.

Aku jadi teringat dengan video songnya Andovi dan Jovial tentang Bekasi. Dan, memang iya sih itu bukan tentang sampah tapi tentang betapa macetnya Bekasi sehingga untuk ke sana, kita harus ready 3 jam sebelum jam H. Tapi, sebenarnya kan bisa juga dipakai untuk sindiran CFD ini juga. Jadi teringat pula dengan Romi yang pinter banget mengaransemen lagu. Romi (checked).
“Aku pengennya kalian yang bersepuluh ini dan yang ketujuh peserta lainnya itu bikin team bulding. Jadi, kekompakan kalian itu udah solid sebelum mulai melaksanakan program kerja nantinya. Karena, tugas kalian nantinya akan sangat banyak dan perjalanan kalian akan sangat panjang. Dan, semua itu nggak mungkin bisa berjalan dengan mulus kalau kalian belum kompak dan ‘menyatu’,” tutup kak Tami.
Sudah pukul 17.30wib, pertemuan kami berakhir di menit ini. Sementara teman-teman yang lain sudah pulang, aku, Okta dan Nova keluyuran dulu di Plaza Citra. Kami nggak beli apapun, yang ada hanya numpang foto dan lihat-lihat doank.
“Dek, ini sih kasihan Kak Nova, cuma ngelihatin kita foto-foto aja! hehehe,” kataku.
“Nggak apa-apa kok! Lagian aku juga udah nggak ada urusan lagi.

Hanya sekitar 15 menit saja kami berada di dalam dan sebelum nyebrang lagi ke halaman BLH, kami beli gorengan di samping Plaza Citra dan menikmatinya bersama di halaman BLH sambil memandang senja.
“Va, emangnya kami ini kelihatan deket banget ya Va? Sampai-sampai Kak Tami begitu menyoroti kami,” tanyaku di sela suap.
“Iyaaa.. gimana yaa.. Antara kalian berdua itu kayak udah ada kemistrinya, jadi sekalipun Okta dan Elis nggak berdekatan secara fisik, tapi kalian tetap terkesan ‘dekat’ dalam berbagai hal. Kalau Ardi dan Cirip kan saat ngobrol aja baru kelihatan akrabnya.”
“Ooooo….giiituuu. Yang dibilang Kak Tami tentang Nova tadi tu gimana menurut Nova?”
“Iya, aku memang sejak dulu itu kekurangannya Lis. Kalau masalah ilmu, dalam beberapa perlombaan yang aku ikuti sebenarnya aku merasa unggul, tapi aku nggak bisa menunjukkan keunggulanku itu lewat percaya diriku. Yah, jadinya kayak gini.”
“Emmm…berarti keunggulan Nova itu masih tersimpan di dalam, belum berhasil dikeluarkan dan akhirnya belum bisa dilihat oleh dunia. Gitu yaa.”

Okta belum ikutan nimbrung karena dia sedang sibuk memilih-milih foto malam final dari laptop Nova untuk disalin ke HPnya.
“Woy, masa kata Kak Tami aku punya ilmu komunikasi yang baik Woy?”
“Iyaaa, emang Cek. Cek itu bagus kalau di komunikasi lapangan dengan orang lain dalam pergaulan sehari-hari dan ilmu panggungnya juga ketika ngeMC, tapi kalau dalam momen final kayak kemarin emang belum muncul dia.”
“Ohh..berarti kalau Michi itu bagus di ilmu komunikasi panggungnya, kalau Okta di komunikasi lapangan ya Cek,” tutup Okta.
“Yuhuuuu. Nova? Ini apa?”
“Perkedel Jagung, Lis.”
“Aku ambil yaa?! Hehee.”
“Ambillah Lis.”
“Heh, dasar nggak tahu malu! Tadi Nova itu nyumbang 5 ribu loh untuk gorengan ini, Cek mana adaa? Malah Nova yang cuma makan 2. Huh!” ejek Okta.
“Bububuyuuuu ya!”
Maghrib sebentar lagi menjelang. Kami segera berhamburan ke dalam hiruk pikuk jalanan demi mengejar pertemuan denganNya.

Tidak ada komentar: