Selasa, 26 Mei 2015

TT Duta Bahasa; Jangan Kurangi Cantikmu



Kemarin, aku sempat salah konsep. Bangun jam 3 dini hari untuk tahajud dan ngeblog karena ntah bagaimana ceritanya quota internetku ternyata ada 12.000gb untuk pukul 12 malam sampai jam  7 pagi. Tapi, karena aku belum nulis apapun dan foto-foto belum ada yang diedit, maka jadilah jam 3ku itu ku isi dengan hanya berselancar di FB. Ah, mubazir banget waktuku. Seharusnya aku sudah mengetikkan cerita dan pagi ini tinggal mempostingnya.
Aku malah ngantuk dan kepalaku pusing. Akhirnya ku bawa tidur lagi. Eh, bangunnya malah jadi jam 5 lewat, huaaahh. Memang, waktu yang paling ideal itu ya tidur jam 11 bangunnya jam 4 pagi. Atau kalau bagiku, tidur jam 1 malam aja setelah posting cerita di blog. Lebih tenang, lebih gampang mikir dan bangunnya tetap di jam yang sama juga. Kalau pagi tuh, agak susah mikir akunya brooo hehe.
Pagi ini, aku memposting 1 cerita dan 1 puisi sampai pukul 07.00wib. Lalu, aku berkemas untuk seleksi Duta Bahasa Tahap 1 pagi ini. Jangan sampai terlambat! Aku menggunakan dress berwarna peach dan dibalut dengan blazer hitam. Oh ya, sepatu baru peachku juga ku pakai pagi ini. Perfect!
"Kak, besok jam setengah 8 ya tesnya..”
Kalimat Novi semalam terngiang lagi. Ini sudah pukul 07.12wib dan aku baru saja beranjak dari candu blog. Alhasil, aku buru-buru bersiap-siap, Dhuha pun tak sempat. Sebelum aku memasuki pelataran Balai Bahasa, aku melihat banyak orang yang berdiri di depannya. Ah, baguslah kalau ternyata aku tidak terlambat.

Aku mendekat ke arah Okta, Yudi, Teguh berdiri, tepat di depan beranda utama gedung ini.
“Ciyeeeee, cantiknyaaa,” kata Okta sambil memandangi sepatu baruku. Hemmm, tau aja dia kalau ini baru. Tapi, biasa ajalah dek komentarnya, orang-orang jadi ngeliatin aku nih! Aku kan jroji jadinya, hihi.
Yudi mendekat, “Mak, ada dapat sms gari Dispora nggak?”
Wah jangan-jangan aku beneran nggak lulus nih!, “ Nggak ada tuh Bang. Bang dapat?”
“Dapat nih, tadi pagi. Bahkan diulang 2x.”
“Lihat sini!”
Aku tertegun setelah membacanya.
“Selamat ya Bang. Bang pasti terpilih tuh!”
“Belum pasti lagi Mak.”
“Udah pasti Bang. Kalau nggak, maksud sms itu apa coba? Pakai dilarang menyebarluaskan segala pula.”
“Emang kayak gitu ya, Mak cara ngumumkannya sejak tahun kemarin?”
“Iya. Yang dapat sms itu Cuma yang terpilih. Sisanya Cuma dikasih tahu lewat FB atau web atau twitter aja.” 
Masih teringat olehku ketika seleksi hari pertama, Yudi dan Teguh terlambat setengah jam dari jadwal. Dan, ketika ku tanyakan penyebabnya kepada Teguh, “Daeng tuh, Mak! Aku
udah ke luar rumah jam 07.00 wib, eh pas sampek di kosannya malah dia belum mandi, belum nyetrika baju. Makanya telat kayak tadi.” Aku pun langsung berkomentar saat itu, “Kayak nggak niat aja Abangmu tuh!” Aku mengira seperti itu kepada Yudi dan memposisikan diriku aman. Padahal, lihatlah yang terjadi sekarang? Semuanya terbalik. Justru.

Ya Allah, ini sambutan pagi yang tidak terbayangkan. Gelisah mulai menjalari seluruh tubuhku.
Sedih. Benar rupanya dirasatku semalam itu. Ku keluarkan HPku dari dalam tas dan ku periksa pesan masuknya, siapa tahu terselip. Ah, jangan-jangan HPku hang, maka ku matikan dan ku nyalakan ulang, tapi tetap saja hening. Aku mulai pesimis.
Jangan-jangan ini strategi model baru. Yudi sengaja dipanggil ke Dispora sore ini agar panitia bisa mencari tahu lebih banyak tentang ‘rang-orang terpilih’ itu. Yah, bisa jadi! Yudi dipanggil untuk ditanyai tentangku misalnya, karena dia dekat denganku.
Aku terus saya berupaya membangun argument positif di kepalaku. Kalau ku turuti gundah ini, tentu akan berimbas pada kefokusanku. Padahal, tes tertulis Duta Bahasa ini akan dimulai beberapa menit lagi. Ya Allah, aku hanya mendoakan yang baik-baik, semoga sedihku ini memakbulkan doa-doaku. Aku hanya minta, semoga aku bisa lulus seleksi tertulis Duta Bahasa ini.aamiin
***
Menuliskan kisah berarti memaksa kita untuk mengulang ingatan tentang kisah tersebut. Dan itu berat! Setidaknya untuk saat ini. Air mata telah terlanjur tumpah ketika cerita ini belum mulai dituliskan.
Orang yang bertepuk tangan untuk kita, belum tentu dia menyukai kita. Orang yang bermanis muka di depan kita, belum tentu ramah hatinya kepada kita. Persaingan kadang tidak adil, sebab kita sedang tinggal di dunia.
Send to Okta

Kak, Kakak jangan sedih lagi ya… Kan Kakak yang sebut sama Okta kalau Allah tidak suka dengan orang yang berlarut-larut dalam kesedihan. Hati Okta merdeka karena Kakak loh!

Aku tersipu membacanya, meskipun suara sesenggukan masih tersisa. Tangisan tadi memang bukan tangis basa-basi. Air mata sungguh tertumpah ketika telvon disudahi, berikutnya suburlah kecewa. Rini pakai bertanya seperti ini pula,
“El? El ini nangis karena sedih atau karena bahagia?”
Dalam hatiku; Pakai nanya, lagi nih bocah!
“Eh, pasti karena sedih ya!” jawabnya sendiri akhirnya.
Dalam hatiku; Syukurlah! Jawaban anda tepat sekali.

Okta mengingatkanku tentang rumus hati merdeka yang pernah ku ajarkan kepadanya, dalam kondisi ini aku memang butuh itu. Sesaat kemudian, dia jadi resek memintaku mengiriminya daftar prestasiku. Ntah untuk apa. Ku tanya, tapi tak dijawab. Meskipun demikian, aku tidak sakit hati kok! Berbeda ketika aku menerima sms Daeng yang satu ini,
Nggak boleh ngasih tahu siapa-siapa, mak. Tadi kami disumpah panitia. Jadi, harus menjaga amanah.
Detik itu juga aku merasa seperti orang lain bagi Yudi. Sudah jatuh tertimpa tangga. Baru saja aku menangis karena ketidaksampaian, kini harus menangis karena keterasingan. Tanpa perlu pertimbangan, aku membalas,
Baiklah Yudi.. baik..
Saya siapa, kamu siapa. *maaf
Ntahlah! Kejam atau egois itu namanya. Yang jelas, aku kecewa. Tanpa diberi tahu olehnya pun sebenarnya aku sudah tahu dari orang lain. Seseorang yang belum lama ku kenal, tapi mempercayaiku ketika aku menanyainya. Justru bukan Yudi orangnya. Ah, ini baru permulaan. Bagaimana di pertengahan nanti? Akankah ‘persaingan’ ini tetap berbalut persahabatan?

“Semangat kak Elceeekk! Tanpa KPN pun, Kakak pasti akan terus berprestasi. Hemmm, pasti sebentar lagi bakal ada LEDAKAN nih dari Kakak,” kata Novi.
“Itulah Mbak kenapa aku malas ikut-ikut lomba lagi sebenarnya. Karena aku juga kayak Mbak, suka berekspektasi terlalu jauh dan akhrinya kecewa. Semangat Mbak! Kerjakanlah lagi SKRIPSI tuh. Sekarang ni adalah masa-masa realistis sebenarnya Mbak. Mbak harus lebih serius dan fokus untuk masa depan, Mbak. Sekarang ini kita udah memasuki masa-masa pembantaian umat muslim. Contohnya Rohingya dan ini akan berlanjut sampai 3 generasi, termasuk kita di dalamnya. Sebenarnya, ini yang harus lebih kita khawatirkan, Mbak.” kata Romi. Kalimat Romi yang terakhir membuatku merenung panjang. Sedang-kah aku ke arah sana???
Kak, ada sesuatu yang harus diubah dari diri Kakak. Kak, Kakak nggak bisa menyamakan orang lain seperti persepsi Kakak. Menurut Okta, prediksi Kakak terhadap bang Hendra itu terlalu jauh dan sekarang Kakak sedang kecewa dengan semua prediksi yang udah Kakak bangun itu. Jangan terlalu yakin dengan orang Kak, karena belum tentu dia sesuai seperti apa yang Kakak yakini.
Nasehat Okta itu tiba-tiba terngiang kembali di telinga.
“Padahal pas FKIP Celebration kemarin, El sangat dielu-elukan bang Hendra ya kan?”
“Itulah Rin, disatu kondisi aku disanjung-sanjung, dihargai dan disayangi tapi di kondisi yang lain, aku justru dianggap bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Allah selalu mengajariku keduanya, Rin.”
***
“Jangan kurangi cantikmu karena keburukan mereka kepadamu. AHAAA! Kak, itu aja judul blog Kakak hari ini; Jangan kurangi cantkimu.  Awas kalau nggak ya!” ancam Okta. Aku tahu, sebenarnya ia sedang berusaha mengalihkan kecewaku kepada tawa.

Tidak ada komentar: