“Mana nih si Teguh? Udah El sms kan kalau kita di sini?”
Aku hanya manggut-manggut. Ekspresi yang meragukan sebenarnya. Lalu, kami melanjutkan melahap perkedel jagung yang tersisa di piring ini.
Acara dimulai pukul 09.00wib dan dibuka secara resmi oleh Kepala Disperindag Provinsi Riau; bapak Muhammad firdaus, S.E., M.M.
Aku hanya manggut-manggut. Ekspresi yang meragukan sebenarnya. Lalu, kami melanjutkan melahap perkedel jagung yang tersisa di piring ini.
“Hei?” Teriakku sambil melambaikan tangan kepada Teguh yang melintas
perlahan.
“Malah ganti PM dulu, bukannya cepat-cepat berangkat. Huh!”
Teguh hanya tersenyum sambil menyodorkan charger laptop yang
akan ku bawa duluan.
“Dek, Daeng emang udah positif masuk 10 besar kan? Tapi Mak
sedih Dek, semalam aja dia udah sombong gitu sama Mak.”
“Eh Mak, Mak kira status adek tadi tu buat siapa? Ya buat
nyindir dia itulah. Adek kan nanya siapa aja yang masuk 10 besar, tapi dia
malah mengalihkan ke obrolan lain.”
“Ya Allah Dek, sama kali kita. Mak saking tersinggungnya
sampai nangis semalam. Tuh tanyalah Kak Rini Dek. Mak sampai bilang gini; Oh ya maaf ya Yudi. Saya siapa, kamu siapa.
*maaf. Tapi,
statusmu itu kurang ngena Dek, maunya bilang aja; Tiba-tiba merasa seperti orang lain. Itu baru ngena Dek!”
“Iya Mak,
Adek pun merasa kayak gitu. Ntah apa yang mau kita emberkan kalau pun kita tahu
hal itu kan?”
“Lagian panitia juga aneh. Kan udah pasti 10 orang itu yang terpilih dan 5 di antaranya
bakal berlayar, terus kenapa harus main sembunyi-sembunyian segala? Memangnya
bakal ada perubahan? Tiba-tiba yang nggak masuk ke dalam 10 besar itu bakal
berangkat? Kan nggak mungkin. Howalaaah. Ntahlah Dek. Seleksinya mati-matian,
pengumumannya sembunyi-sembunyian.”
“Udahlah
Mak. Biarin aja. Jalan untuk kita masih terbuka lebar. Insya Allah kita juga
bisa.”
Setelah itu
Teguh langsung pergi sambil berteriak, “Ntar habis masuk, Adek langsung nyusul
ke sana Mak.” Dan aku menjawab, “Yuhuuuuuu.”
***
Menjelang perempatan stadion utama dan Arengka, aku
memelankan lajuku. Sengaja ku damping sisi kanan mobil pick up untuk
melindungiku melewati perempatan yang rawan ini. Tiba-tiba, BRAAKKKK! Ada motor
yang jatuh 3 meter dari depanku. Pengendaranya seorang wanita berkerudung merah
yang tadi sempat menyelipku. Hanya beberapa orang saja yang berhenti dan menolong.
Karena, posisinya tepat sekali di badan jalan, di pusat perempatan, aku pun
perlahan melintas karena takut menambah macet. Semoga si kakak nggak kenapa-napa.
“Kayaknya Kakak tuh mau pindah jalur ke kiri Rin. Dan,
karena kurang hati-hati akhirnya ban belakangnya nyangkut atau tersenggol
dengan sisi depan mobil Avanza putih tadi. Hemmm, harus hati-hati nih.
Bismillahi fi awalluhu wa akhiruhuu.”
Hidup sederhanaaaa…
Rasanya asin
Ada air susu… rasanya
manisss..
Aku mulai bersenandung dengan 2 lagu yang nggak nyambung dan
nggak saling berhubung.
“Kok bisa sejauh itu lah El khayalan lagunya?” ledek Rini.
Aku mah apa atuh? Emang kreatif dan aneh.
“Eh, Disperindag di mana alamatnya Rin? Nanti kita nyasar
pula?” tanyaku.
“Tapi kita di hotel Premier? Macam mana nyaaa?”
“Oh iya, iya. Lupa. Padahal tadi pagi tu aku udah bertanya
dalam hati dan aku udah tahu jawabannya bahwa kita acaranya di Premier. Tapi,
kok barusan aku nanyain itu lagi ya? Hahha. Selalu aja salah fokus,” aku
menyadari diri sendiri.
***
“Lantai berapa nih, El?”
“Coba ku tanya sama receptionist dulu!”
Setelah ku tanyakan, ternyata acara e-commerce workshopnya
di lantai 2. Aku mengode Rini dengan mengangkat 2 jari.
“Kapan kita ke sini terakhir kalinya ya?
“Waktu seminar AXA dulu,” jawab Rincuy.
Kami bergegas ke arah kiri setelah ke luar dari lift.
Suasana tidak terlalu sepi dan tidak terlalu ramai. Ada beberapa orang yang
mengantri mengisi absen di bibir pintu masuk. Kami mendekat dan segera
menandatangani absen. Ada sekitar 100
nama yang tertera di sana, tapi untung ukuran ballroom seluas ini, jumlah itu
tidak terlalu berarti. Kami menduduki bangku tengah, hanya berselisih 4 deret
dari barisan terdepan.
“Rin, abang yang duduk paling depan sebelah kanan kita itu
adalah salah satu penilai KPN kemarin. Aku rasa, dia nggak pernah menganggapku
waw. Angka percobaan 3x tidak berarti apa-apa baginya.”
“Hemmm… kambuh lagi dah!” kata Rini lemas karena aku
teringat kembali masa-masa itu.
Mak, ngurus SKCK
gimana caranya? Posisi terancam nih karena berkas belum lengkap.
“Baca nih sms dari Daeng! Hemmm,,, nih jawabanku,” ku ketikkan
kata; auk di sana.
“Hemmm… kasihan Daeng. Dia harus menerima konsekuensi dari
kepolosan dia mematuhi sumpah. El kok kejam kali?”
“Makanya jangan macam-macam sama aku!”
“Hemm…kalau gitu, aku akan macam-macam ah sama El. hehee. Ah, tapi
mungkin besok El udah nggak semarah ini lagi tuh sama Daeng. Hari ini aja kayak
gini.”
“Huh, salah. Malah tambah parah besok, Cuy! Nih, Teguh udah ku
hasut buat nggak merespon Daeng. hahaha” tertawa seperti orang jahat.
“Kasihan Daeng. ckckck. Kejam kalinya El niii? Eh, kok aku jadi
belain Yudi ya?”
“Ya udah, nggak usah pulang sama aku nanti. Pulang sendirian aja
sana!”
“Oke ya! Awas kalau nanti ngajak aku bareng ya?”
Pede amat nih bocah, fikirku. Tapi, ntahlah! Sejujurnya, aku pun
nggak ingin berbuat seperti itu ke Yudi. Hati ini tiba-tiba khawatir jika
keberhasilan yang ia dapatkan seinstan ini. Aku juga khawatir, ada persahabatan
yang akan renggang karenanya. Buktinya saja saat ini, hati Teguh pun sudah tergores.
Kamikah yang terlalu sensitif? Ntahlah!
Pede amat nih bocah, fikirku. Tapi, ntahlah! Sejujurnya, aku pun
nggak ingin berbuat seperti itu ke Yudi. Hati ini tiba-tiba khawatir jika
keberhasilan yang ia dapatkan seinstan ini. Aku juga khawatir, ada persahabatan
yang akan renggang karenanya. Buktinya saja saat ini, hati Teguh pun sudah tergores.
Kamikah yang terlalu sensitif? Ntahlah!Acara dimulai pukul 09.00wib dan dibuka secara resmi oleh Kepala Disperindag Provinsi Riau; bapak Muhammad firdaus, S.E., M.M.
“Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk memunculkan
para eksportir, membukan wawasan dan menambah pengetahuan seluruh peserta. Kita
mencoba mengembangkan sesuai arahan dari pak Mentri dan presiden untuk
meningkatkan ekspor sampai 300%. Tidak harus sebagai produsen, kita juga bisa
menjualnya walau pun kita tidak memproduksinya. Penjualan melalui web akan
meningkatkan devisa negara juga tapi tanpa kejujuran dan keterbukaan negara ini
justru akan distempel sebagai bangsa yang tidak bisa dipercaya bahkan bisa saja
kita diblacklist. Maka, seriuslah dan tetaplah jujur dalam bertransaksi supaya
hidup kita pun ikut mujur,” tuturnya dalam prolog sebelum meresmikan acara.
Ah, kabar baiknya adalah di sini tersedia wifi gratisss dan
kami bisa menikmati sepuasnya.
“Tulah, kenapa El nggak bawa android tadi? Padahal kenceng
nih wifinya.”
Androidku sekarang lebih banyak boboknya. Semenjak casnya
hilang, aku jadi malas menggunakannya. Ada charger dan power bank aja masih
malas ngecas, apalagi casannya nggak ada. Lagian, yang paling ku andalkan dari
androidku itu ya BBMnya. Toh, tanpa BBM pun aku nggak apa-apa nih, karena FB
masih bisa ku nikmati dari laptop dengan modem. Biarlah nggak usah ngisi paket
android asalkan pula modem jalan terus, karena itu yang lebih penting. Biarlah
TRI yang mengambil alih layanan kuota androidku untuk setahun ini. ehhe, always
on sih…
Yesss! Aku bisa buka FB sambil tetap menyimak materi dari
bang Maulana. Ku update status di sana dengan inbox dari bang Alam yang
membuatku be 100% on lagi; Mungkin
Tomini itu terlalu kecil untuk seorang Elysa. Yakinlah Allah telah menyiapkan
sesuatu yang lebih besar di sana. Terimakasih tak hingga untuk bang Alam
atas rezeki hari ini; rezeki kalimat inspiratif. Lalu, ku ganti foto
profilku dari Sail Tomini menjadi fotoku di depan gerai Apple. Aku sangat
yakin, tak lama lagi aku akan melintasi nusantara dengan cara ajaib yang tak
tertebak. Insya allah, bismillah.!
***
“Kita telah berada di era informasi. Ada sebuah negara yang
tidak lagi punya batasan ruang dan waktu, yaitu negara dunia maya. Ada sebuah
gaya komnukasi di dunia fisik berubah ketika di dunia digital. Ada kebiasaan
yang berbeda jauh pada orang kebanyakan, misalnya ketika di dunia maya dia
adalah orang yang suka tebar pesona, ramah-tamah dan kayak artis tapi ternyata
di dunia nyata orangnya pendiamnya minta ampun, ibaratnya kalau dibentak dikit
aja bisa nangis. Nah, ini adalah peluang. Kalau kita tidak pandai membaca
kondisi ini, maka kita tidak bisa bersaing untuk mendapatkan keuntungan,” jelas
mas Maulana sebagai pembicara pertama.
“Ilmu internet marketing itu berbeda dengan internet
strategis. Kenapa kita harus masuk dunia digital? Karena inilah negara tanpa
sekat-sekat, penduduknya ya kita-kita juga. Kapan pun kita mau menyapa orang di
luar sana, bisa kita lakukan saat itu juga karena tidak ada perbedaan waktu,
semuanya sama. Sebenarnya, e-commerce baru masuk tahun 2012 ke Indonesia.
Menurut teman-teman IT, Indonesia bisa berkembang internet marketingnya di sekitar
tahun 2020. Manfaatlah 5 tahun yang tersisa ini untuk mengumpulkan asset
digital (email, database, website). Jadi, kita ini dalam tahap sedang
berkembang dan akan menjadi pionirnya. Sebelum berangkat ke jualan-jualana-an, kita
harus faham dulu bahwa visiter yang datang akan menaikkan nilai website
(termasuk juga facebook dan medsos lainnya) kita, persis seperti tanah yang
semakin naik harganya. Kalau kita nggak membangun dari sekarang, maka akan
sangat mahal harganya nanti untuk dibeli. Di Indonesia, kita masih bisa ngiklan
dengan budget 100 perak. Tapi, kalau Indonesia sudah seperti Amerika, bisa jadi
harganya akan 20x lipat. Ada masanya akan terbentuk lazy market, dimana semua
orang udah malas belanja secara konvensional tapi tinggal klak-klik-klak-klik
doank. Ketika tidak dimulai dari hari ini, kita hanya akan jadi konsumen dan
tidak akan jadi Raksasa Digital. Contohnya, Lazada sudah mengucurkan 300 Triliun
untuk market diindonesia dan belum BEP. Hal itu bukan kerugian baginya, tapi merupakan
investasi baginya untuk membangun sebuah kota digital dimana semua orang tidak
terasa sudah tinggal dan beraktivitas di dalamnya,” jelas mas Maulana lebih
lanjut.
Keren banget nih orang. Aku aja sampai terperanga. Ini masih
ilmu kulitnya doank, belum lagi ke tingkatan yang lebih rumit. Dia mengaku
nggak nyangka akan berbicara di sini, karena ia memprediksi hanya akan
berbicara dengan komunitas tertentu. Baru aja turun gunung, eh udah diajak ke
Riau. Dia mau-mau aja karena emang suka berbagi. Depok-Pekanbaru pun ia arungi
meski badan belum teristirahatkan. Ya
Allah, kapan aku bisa seperti dia? Terbang ke sana kemari karena ilmuku
dibutuhkan oleh orang lain.
Mulailah mas Maula mengetik di Ms. Word lewat layar
proyektornya.
“Internet Marketing, sebenarnya adalah tentang
Trafic/visitor/potential customer. Ada yang tahu tentang traffic belum? Misalnya nih, kita punnya website,
tapi nggak ada pengunjungnya, lah buat apa ya? Coba ketik aja, google keyword panner tool, kodenya Zhm
203, atau https://adwords.google.com/ko/KeywordPlanner/ untuk mengetahui seberapa tinggi
traffic di online. Makanya, sebelum jual-jualan, kita perlu tahu kata kunci apa
yang paling diminati di internet dan sering dicari orang. Itulah yang
memenangkan kita di bisnis online itu sebenarnya. Dunia internet itu memudahkan
kita untuk meriset sesuatu. Tambahan kata-kata ‘jual, murah, beli’ adalah bayi
keyword yang bisa menarik visitor untuk mengklik website kita. Nah, shorttale
adalah keyword dengan kata-kata yang pendek, contohnya jual jilbab murah.
Sedangkan kalau longtale adalah untuk kata-kata yang panjang, contohnya jual
jilbab murah di Riau, ini lebih targeted karena lebih spesifik sesuai yang
diinginkan pencari info.”
Seorang ibu dari depan sebelah kiri mengangkat tangan.
Ternyata beliau ingin meminta penjelasan dari singkatan-singkatan yang
disebutkan mas Maula tadi dan tidak dimengertinya. Ia pun mengaku masih sangat
awam dalam bidang yang satu ini.
“Sebenarnya, ini memang yang akan saya jelaskan berikutnya.
Nah, langsung aja ya tentang Traffic source/sumber traffic.
1. SEO (Search Engine Optimization), adalah yang muncul di
halaman pertama pencarian, tapi nggak ada lambing iklannya (ads). SEO adalah
ilmu untuk memunculkan website kita menjadi muncul di halaman pertama di
pencarian.
2. Paid Traffic (Traffic yang berbayar); FB Ads, Google
adwords (buat ngiklan):
a. Edge rank (like (1), comment (2), share (3), mention(4))
Nilai terkecil adalah like. Setiap feedback yang dilakukan orang lain, itu
menambah nilai FB kita. Ketika dia telah memberikan nilai kepada kita, maka dia
akan nongol teratas ketika kita buka FB pertama kali.
b. GSN (Google Search network). Bagaimana iklan kita muncul di
halaman pertama google. Ada tulisan Ads kecil berwarna kuning di ujungnya.
c. GDN (Display), iklan kita yang muncul di website yang
bekerjasama dengna Google. Sebenarnya nggak Cuma ol shop atau jualan barang aja
di internet, kita bisa juga bikin artikel untuk dibaca banyak orang dan kalau
pengkliknya udah tinggi, semakin mahal hargnya per kliknya.
d. Youtube Ads. Kalau kita buka youtube biasanya kan ada iklannya tuh, kalau itu
bisa kita skip berarti itu masih murah. Kalau nggak bisa diskip, berarti
iklannya mahal bisa mencapai 300juta an.
3. SMO (Socil Media Optimization)
3. SMO (Socil Media Optimization)
Attention kita di FB bisa dilihat dari pertemanan kita di
FB. Kalau ada yang suka ngeluh-ngeluh, berarti itulah cerminan dari diri kita. Hal-hal
yang muncul di timeline kita seharusnya kita program untuk memunculkan informasi
bergizi setiap saat. Setelah manfaat facebook ini kita fahami, barulah kita
manfaatkan untuk jualan. Mengiklan di FB itu bagus banget, bisa dimulai dari
biaya Rp 10.000 per hari. Murah kan? Kita akan lebih fokus ke target
dibandingin kalau kita bagi-bagi selebaran di lampu merah. Bisa jadi setelah
diambil langsung dibuang kertasnya sama orangnya.”
***
Ada lauk telur dadar, dendeng, ikan Gurami, gulai pucuk ubi
dan kerupuk di atas piringku. Hemmm… Alhamdulillah, bisa makan siang seenak ini
akhirnya.
“El, ambilin sup donk? 1 aja, kita bagi bareng. Biar seger
dan ada kuahnya makanan kita,” pinta Rini.
Aku kembali lagi ke meja saji dan menuangkan kuah sup ke
dalam mangkuk kecil berisi mie bihun. Setelah sup terhidang di meja makan,
barulah kami memulai santap siang ini,
“Rin, nggak habis?” pertanyaan klasikku. haha.
Rini melotot dan merespon, “Belum dimulai loh!”
Sambil menyuap makanan, mulutku sambil terus mengucapkan
Alhamdulillah atas nikmatnya makanan ini. Semoga berkah. *mulai khawatir bakal
ngantuk nih!. Setelah itu, aku sholat Zuhur di lantai 3, sengaja lewat tangga
biar makanannya cepat berubah jadi energy, hehe. Sepatuku yang tinggi ini
sempat membuatku nyaris jatuh kemarin, saat menuruni tangga Balai Bahasa. Itu
karena aku belum bisa menyesuaikan (alias belum dapat kemistrinya, ehhe), tapi
sekarang udah enjoy aja.
Menyadari banyak perempuan yang ngantri mukena membuatku
urung melaksanakan sholat sunah ba’diah Zuhur seperti biasanya. Menurutku lebih
baik meminjamkan mukena/memberikan mereka tempat untuk bisa segera sholat
daripada tetap keukeh melaksanakan sholat sunnah sementara mereka belum bisa
sholat Zuhur. Aku khawatir aja, ibadahku justru jadi egoku.
***
“Rin, Abang itu ganteng banget ya? Tapi, itu yang di
sampingnya istrinya atau emaknya ya?”
“Istrinya tuh! Udahlah jangan jelalatan.”
“Mereka kok kaku gitu? Ih, nggak romantis banget sih! Tapi,
perhatikanlah istrinya, terkesan lebih tua daripada suaminya kan? Itulah
resikonya kalau kita menikah dengan yang dekatan umurnya, Rin.” Aku malah
bergosip pula dengan Rini.
“Eh, Rin, kayaknya Abang pemateri itu suka deh sama aku?”
Rini melotot sambil menjauhkan badannya dariku. “Pede
kalilah El ni!” celetuknya.
“Iya. Sumprit dah! Lihatlah matanya, sering kali dia melihat
ke arahku. Tuh..tuhh kaaan, bener. Lihatlah Rin!” aku memang paling lihai untuk
masalah kepedean, heehe. Tapi, kalau itu beneran, justru aku selalu menunjukkan
gelagat penolakan dan sebisa mungkin menghindar. haha. Jadi ingat gelar untukku
dari senior di SMA dulu; Elysa itu
jinak-jinak Merpati.
Mataku benar-benar mengantuk. Beberapa kali ku pasrahkan
diriku tertidur sejenak di atas meja, tapi kantuk tidak juga mereda. Padahal
materi sedang seru-serunya; Berbisnis
lewat Instagram.
“Cara dapat 1000 follower di Instagram itu gampang.
Rumusnya; You follow me, I follow you, and than I unfollow you. Saya akan
follow competitor saya dulu, lalu follow semua anggotanya si competitor. Tunggu
aja, dia pasti bakal follback lagi. Ntar kalau pertemanan kita udah meningkat,
giliran kita mengunfollow mereka. Tujuannya untuk menimbulkan kesan wow kepada
mereka; busyet nih orang sampai ribuan
yang mengikuti, tapi nggak banyak yang dia ikuti. Perbagus conten kita,
supaya ilmu marketing onlinenya nggak mubazir. Oh ya, biasanya orang akan
mencari kata kunci lewat hastag di IG. Untuk menarik minat pembeli, postinglah
50 foto per hari, cantumkan deskripsi produk, CP, harga dan cantumkan 20 hastag
per postnya. Keunikan penduduk di IG itu pengennya serba cepet, kalau kita lama
mereka bakal beli di tempat lain.”
Oh ya, waktu acara baru dibuka tadi, seluruh peserta
workshop dikasih tas baru. Tasnya warna hitam dan multi fungsi, bisa jadi tas
selempang dan bisa juga jadi tas ransel. Alhamdulillah, aku bersyukur banget
karena tas pink-ku emang udah tinggal nunggu jinjingannya putus. hikssss.
Yeyeee, tas baruuu. Jadi teringat kata-kata Teguh waktu kemarin tes Duta
Bahasa; “Nggak apa-apalah nggak lolos Duta Bahasa, yang penting udah dapat
pensil, pena, penghapus dan peraut baru, hahaa.” Konyol emang.
“Setelah Ashar, kita akan melanjutkan dengan proses tanya
jawab. Bagi yang ingin lebih jelas, nanti bisa ditanyakan semuanya,” ujar bapak
instruktur.
“Dek, kita ikutan komunitas Puisi aja Yuk habis sholat ini?”
“Yang di UIN itu ya? (aku manggut-manggutt). Nggak mau ah,
ada Daeng pasti.”
“Eh, emang Daeng diajak sama Novi? Nggak deh kayaknya.”
“Iyaaa!”
Teguh berlalu dan Rini geleng-geleng, “Kenapa semuanya jadi
seperti ini pemirsaaa?”
Aku gentian mengambilkan coffe break untuknya. Ada onde-onde
berwarna hijau dan perkedel kentang berisi sayuran di tengahnya, heeemmmm.
“El, nggak solat Ashar?” tanya Rini.
“Nggak ah! Lagi malas!”
Hampir saja Rini tersedak mendengar jawabanku. Lalu, kami
sama-sama tertawa geli. Aku pun nggak punya rencana bisa mengeluarkan kalimat
konslet seperti itu.
“Jawaban macam apa itu? Ya ampuun El, El. Hoawalaaah. Orang
kalau memang sengaja nggak sholat pun nggak sepede itu loh ngomongnya,” kami
sama-sama tertawa cekikikan. Ah, bukan aku namanya kalau bener omongannya,
huaahhh.
***
“Rin, kok akrab kali sih sama si Ari?” tanyaku dalam langkah
mendekat pada lift.
“Nggak tahulah, dia nanya-nanya tadi. Pokoknya setiap kali
El pergi, dia selalu ngajak aku ngobrol.”
“Dia pasti suka sama Rini!”
“Halaaaahhh, selalaapnya (baca: selalu) El ngomong gitu.
Semuanya aja bilang suka sama aku El, semuaanyaaa.”
Aku menggerak-gerakkan alis dan mataku kea rah kiri. Memberi
isyarat kepada Rini bahwa Ari mendekat ke arah kami berdua. Seketika, lift
terbuka dan kami segera memasukinya,
“Eh, ini kenapa bunyi-bunyi? Udah penuh ya?” tanyaku.
“El pulaknya berat kali,” jawab Rini. Kami berdiri tepat di
dekat tombol di dalam lift. “Masuk aja ayooo, eh maaf yaa,” ajak Rini kepada
Arif. Tapi, sayangnya pintu lift mulai tertutup.
“Hiksss, colii aku memisahkan kalian. Coliii naa,” pintaku
dengan gaya cadel plus dialek Thailand.
“R nya jangan diubah jadi L juga, Mbak…!” kata pria gendut
berkemeja putih di belakangku. Aku menoleh ke arahnya, tapi tak faham apa
maksudnya.
Pintu lift terbuka, kami berhamburan ke luar untuk meminta
cap di resepcionist di tiket kendaraaan biar gratis, ehhe. Barulah au tertawa
sampai terkekeh-kekeh saat itu karena sadar bahwa yang disindir pria tadi
adalah ‘colii’ yang ku ucapkan tadi. huaaahhhh, bikin malu aja El…


1 komentar:
selalu ada emas di balik butiran pasir di sungai nan luas lagi dalam..
apanya komen aku :D
selamat cin icint
maulah ilmunya, apa ndak keren ini :)
Posting Komentar