Rabu, 27 Mei 2015

E-Commerce: Tomini Terlalu Kecil Untukku

“Mana nih si Teguh? Udah El sms kan kalau kita di sini?”
Aku hanya manggut-manggut. Ekspresi yang meragukan sebenarnya. Lalu, kami melanjutkan melahap perkedel jagung yang tersisa di piring ini.
“Hei?” Teriakku sambil melambaikan tangan kepada Teguh yang melintas perlahan.
“Malah ganti PM dulu, bukannya cepat-cepat berangkat. Huh!”
Teguh hanya tersenyum sambil menyodorkan charger laptop yang akan ku bawa duluan.
“Dek, Daeng emang udah positif masuk 10 besar kan? Tapi Mak sedih Dek, semalam aja dia udah sombong gitu sama Mak.”
“Eh Mak, Mak kira status adek tadi tu buat siapa? Ya buat nyindir dia itulah. Adek kan nanya siapa aja yang masuk 10 besar, tapi dia malah mengalihkan ke obrolan lain.”
“Ya Allah Dek, sama kali kita. Mak saking tersinggungnya sampai nangis semalam. Tuh tanyalah Kak Rini Dek. Mak sampai bilang gini; Oh ya maaf ya Yudi. Saya siapa, kamu siapa. *maaf. Tapi, statusmu itu kurang ngena Dek, maunya bilang aja; Tiba-tiba merasa seperti orang lain. Itu baru ngena Dek!”
“Iya Mak, Adek pun merasa kayak gitu. Ntah apa yang mau kita emberkan kalau pun kita tahu hal itu kan?”
“Lagian panitia juga aneh. Kan udah pasti 10 orang itu yang terpilih dan 5 di antaranya bakal berlayar, terus kenapa harus main sembunyi-sembunyian segala? Memangnya bakal ada perubahan? Tiba-tiba yang nggak masuk ke dalam 10 besar itu bakal berangkat? Kan nggak mungkin. Howalaaah. Ntahlah Dek. Seleksinya mati-matian, pengumumannya sembunyi-sembunyian.”
“Udahlah Mak. Biarin aja. Jalan untuk kita masih terbuka lebar. Insya Allah kita juga bisa.”
Setelah itu Teguh langsung pergi sambil berteriak, “Ntar habis masuk, Adek langsung nyusul ke sana Mak.” Dan aku menjawab, “Yuhuuuuuu.”

***
Menjelang perempatan stadion utama dan Arengka, aku memelankan lajuku. Sengaja ku damping sisi kanan mobil pick up untuk melindungiku melewati perempatan yang rawan ini. Tiba-tiba, BRAAKKKK! Ada motor yang jatuh 3 meter dari depanku. Pengendaranya seorang wanita berkerudung merah yang tadi sempat menyelipku. Hanya beberapa orang saja yang berhenti dan menolong. Karena, posisinya tepat sekali di badan jalan, di pusat perempatan, aku pun perlahan melintas karena takut menambah macet. Semoga si kakak nggak kenapa-napa.

“Kayaknya Kakak tuh mau pindah jalur ke kiri Rin. Dan, karena kurang hati-hati akhirnya ban belakangnya nyangkut atau tersenggol dengan sisi depan mobil Avanza putih tadi. Hemmm, harus hati-hati nih. Bismillahi fi awalluhu wa akhiruhuu.”
Hidup sederhanaaaa… Rasanya asin
Ada air susu… rasanya manisss..
Aku mulai bersenandung dengan 2 lagu yang nggak nyambung dan nggak saling berhubung.
“Kok bisa sejauh itu lah El khayalan lagunya?” ledek Rini. Aku mah apa atuh? Emang kreatif dan aneh.
“Eh, Disperindag di mana alamatnya Rin? Nanti kita nyasar pula?” tanyaku.
“Tapi kita di hotel Premier? Macam mana nyaaa?”
“Oh iya, iya. Lupa. Padahal tadi pagi tu aku udah bertanya dalam hati dan aku udah tahu jawabannya bahwa kita acaranya di Premier. Tapi, kok barusan aku nanyain itu lagi ya? Hahha. Selalu aja salah fokus,” aku menyadari diri sendiri.

***
“Lantai berapa nih, El?”
“Coba ku tanya sama receptionist dulu!”
Setelah ku tanyakan, ternyata acara e-commerce workshopnya di lantai 2. Aku mengode Rini dengan mengangkat 2 jari.
“Kapan kita ke sini terakhir kalinya ya?
“Waktu seminar AXA dulu,” jawab Rincuy.
Kami bergegas ke arah kiri setelah ke luar dari lift. Suasana tidak terlalu sepi dan tidak terlalu ramai. Ada beberapa orang yang mengantri mengisi absen di bibir pintu masuk. Kami mendekat dan segera menandatangani absen. Ada sekitar  100 nama yang tertera di sana, tapi untung ukuran ballroom seluas ini, jumlah itu tidak terlalu berarti. Kami menduduki bangku tengah, hanya berselisih 4 deret dari barisan terdepan.
“Rin, abang yang duduk paling depan sebelah kanan kita itu adalah salah satu penilai KPN kemarin. Aku rasa, dia nggak pernah menganggapku waw. Angka percobaan 3x tidak berarti apa-apa baginya.”

“Hemmm… kambuh lagi dah!” kata Rini lemas karena aku teringat kembali masa-masa itu.
Mak, ngurus SKCK gimana caranya? Posisi terancam nih karena berkas belum lengkap.
“Baca nih sms dari Daeng! Hemmm,,, nih jawabanku,” ku ketikkan kata; auk di sana.
“Hemmm… kasihan Daeng. Dia harus menerima konsekuensi dari kepolosan dia mematuhi sumpah. El kok kejam kali?”
“Makanya jangan macam-macam sama aku!”
“Hemm…kalau gitu, aku akan macam-macam ah sama El. hehee. Ah, tapi mungkin besok El udah nggak semarah ini lagi tuh sama Daeng. Hari ini aja kayak gini.”
“Huh, salah. Malah tambah parah besok, Cuy! Nih, Teguh udah ku hasut buat nggak merespon Daeng. hahaha” tertawa seperti orang jahat.
“Kasihan Daeng. ckckck. Kejam kalinya El niii? Eh, kok aku jadi belain Yudi ya?”
“Ya udah, nggak usah pulang sama aku nanti. Pulang sendirian aja sana!”
“Oke ya! Awas kalau nanti ngajak aku bareng ya?”
Pede amat nih bocah, fikirku. Tapi, ntahlah! Sejujurnya, aku pun nggak ingin berbuat seperti itu ke Yudi. Hati ini tiba-tiba khawatir jika keberhasilan yang ia dapatkan seinstan ini. Aku juga khawatir, ada persahabatan yang akan renggang karenanya. Buktinya saja saat ini, hati Teguh pun sudah tergores. Kamikah yang terlalu sensitif? Ntahlah!

Acara dimulai pukul 09.00wib dan dibuka secara resmi oleh Kepala Disperindag Provinsi Riau; bapak Muhammad firdaus, S.E., M.M.
“Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk memunculkan para eksportir, membukan wawasan dan menambah pengetahuan seluruh peserta. Kita mencoba mengembangkan sesuai arahan dari pak Mentri dan presiden untuk meningkatkan ekspor sampai 300%. Tidak harus sebagai produsen, kita juga bisa menjualnya walau pun kita tidak memproduksinya. Penjualan melalui web akan meningkatkan devisa negara juga tapi tanpa kejujuran dan keterbukaan negara ini justru akan distempel sebagai bangsa yang tidak bisa dipercaya bahkan bisa saja kita diblacklist. Maka, seriuslah dan tetaplah jujur dalam bertransaksi supaya hidup kita pun ikut mujur,” tuturnya dalam prolog sebelum meresmikan acara.

Ah, kabar baiknya adalah di sini tersedia wifi gratisss dan kami bisa menikmati sepuasnya.
“Tulah, kenapa El nggak bawa android tadi? Padahal kenceng nih wifinya.”
Androidku sekarang lebih banyak boboknya. Semenjak casnya hilang, aku jadi malas menggunakannya. Ada charger dan power bank aja masih malas ngecas, apalagi casannya nggak ada. Lagian, yang paling ku andalkan dari androidku itu ya BBMnya. Toh, tanpa BBM pun aku nggak apa-apa nih, karena FB masih bisa ku nikmati dari laptop dengan modem. Biarlah nggak usah ngisi paket android asalkan pula modem jalan terus, karena itu yang lebih penting. Biarlah TRI yang mengambil alih layanan kuota androidku untuk setahun ini. ehhe, always on sih…

Yesss! Aku bisa buka FB sambil tetap menyimak materi dari bang Maulana. Ku update status di sana dengan inbox dari bang Alam yang membuatku be 100% on lagi; Mungkin Tomini itu terlalu kecil untuk seorang Elysa. Yakinlah Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih besar di sana. Terimakasih tak hingga untuk bang Alam atas rezeki hari ini; rezeki kalimat inspiratif. Lalu, ku ganti foto profilku dari Sail Tomini menjadi fotoku di depan gerai Apple. Aku sangat yakin, tak lama lagi aku akan melintasi nusantara dengan cara ajaib yang tak tertebak. Insya allah, bismillah.!
***
“Kita telah berada di era informasi. Ada sebuah negara yang tidak lagi punya batasan ruang dan waktu, yaitu negara dunia maya. Ada sebuah gaya komnukasi di dunia fisik berubah ketika di dunia digital. Ada kebiasaan yang berbeda jauh pada orang kebanyakan, misalnya ketika di dunia maya dia adalah orang yang suka tebar pesona, ramah-tamah dan kayak artis tapi ternyata di dunia nyata orangnya pendiamnya minta ampun, ibaratnya kalau dibentak dikit aja bisa nangis. Nah, ini adalah peluang. Kalau kita tidak pandai membaca kondisi ini, maka kita tidak bisa bersaing untuk mendapatkan keuntungan,” jelas mas Maulana sebagai pembicara pertama.

“Ilmu internet marketing itu berbeda dengan internet strategis. Kenapa kita harus masuk dunia digital? Karena inilah negara tanpa sekat-sekat, penduduknya ya kita-kita juga. Kapan pun kita mau menyapa orang di luar sana, bisa kita lakukan saat itu juga karena tidak ada perbedaan waktu, semuanya sama. Sebenarnya, e-commerce baru masuk tahun 2012 ke Indonesia. Menurut teman-teman IT, Indonesia bisa berkembang internet marketingnya di sekitar tahun 2020. Manfaatlah 5 tahun yang tersisa ini untuk mengumpulkan asset digital (email, database, website). Jadi, kita ini dalam tahap sedang berkembang dan akan menjadi pionirnya. Sebelum berangkat ke jualan-jualana-an, kita harus faham dulu bahwa visiter yang datang akan menaikkan nilai website (termasuk juga facebook dan medsos lainnya) kita, persis seperti tanah yang semakin naik harganya. Kalau kita nggak membangun dari sekarang, maka akan sangat mahal harganya nanti untuk dibeli. Di Indonesia, kita masih bisa ngiklan dengan budget 100 perak. Tapi, kalau Indonesia sudah seperti Amerika, bisa jadi harganya akan 20x lipat. Ada masanya akan terbentuk lazy market, dimana semua orang udah malas belanja secara konvensional tapi tinggal klak-klik-klak-klik doank. Ketika tidak dimulai dari hari ini, kita hanya akan jadi konsumen dan tidak akan jadi Raksasa Digital. Contohnya, Lazada sudah mengucurkan 300 Triliun untuk market diindonesia dan belum BEP. Hal itu bukan kerugian baginya, tapi merupakan investasi baginya untuk membangun sebuah kota digital dimana semua orang tidak terasa sudah tinggal dan beraktivitas di dalamnya,” jelas mas Maulana lebih lanjut.

Keren banget nih orang. Aku aja sampai terperanga. Ini masih ilmu kulitnya doank, belum lagi ke tingkatan yang lebih rumit. Dia mengaku nggak nyangka akan berbicara di sini, karena ia memprediksi hanya akan berbicara dengan komunitas tertentu. Baru aja turun gunung, eh udah diajak ke Riau. Dia mau-mau aja karena emang suka berbagi. Depok-Pekanbaru pun ia arungi meski badan belum teristirahatkan. Ya Allah, kapan aku bisa seperti dia? Terbang ke sana kemari karena ilmuku dibutuhkan oleh orang lain.
 
Mulailah mas Maula mengetik di Ms. Word lewat layar proyektornya.
“Internet Marketing, sebenarnya adalah tentang Trafic/visitor/potential customer. Ada yang tahu tentang traffic  belum? Misalnya nih, kita punnya website, tapi nggak ada pengunjungnya, lah buat apa ya? Coba ketik aja, google keyword panner tool, kodenya Zhm 203, atau https://adwords.google.com/ko/KeywordPlanner/ untuk mengetahui seberapa tinggi traffic di online. Makanya, sebelum jual-jualan, kita perlu tahu kata kunci apa yang paling diminati di internet dan sering dicari orang. Itulah yang memenangkan kita di bisnis online itu sebenarnya. Dunia internet itu memudahkan kita untuk meriset sesuatu. Tambahan kata-kata ‘jual, murah, beli’ adalah bayi keyword yang bisa menarik visitor untuk mengklik website kita. Nah, shorttale adalah keyword dengan kata-kata yang pendek, contohnya jual jilbab murah. Sedangkan kalau longtale adalah untuk kata-kata yang panjang, contohnya jual jilbab murah di Riau, ini lebih targeted karena lebih spesifik sesuai yang diinginkan pencari info.”

Seorang ibu dari depan sebelah kiri mengangkat tangan. Ternyata beliau ingin meminta penjelasan dari singkatan-singkatan yang disebutkan mas Maula tadi dan tidak dimengertinya. Ia pun mengaku masih sangat awam dalam bidang yang satu ini.
“Sebenarnya, ini memang yang akan saya jelaskan berikutnya. Nah, langsung aja ya tentang Traffic source/sumber traffic.
1. SEO (Search Engine Optimization), adalah yang muncul di halaman pertama pencarian, tapi nggak ada lambing iklannya (ads). SEO adalah ilmu untuk memunculkan website kita menjadi muncul di halaman pertama di pencarian.
2. Paid Traffic (Traffic yang berbayar); FB Ads, Google adwords (buat ngiklan):

a. Edge rank (like (1), comment (2), share (3), mention(4)) Nilai terkecil adalah like. Setiap feedback yang dilakukan orang lain, itu menambah nilai FB kita. Ketika dia telah memberikan nilai kepada kita, maka dia akan nongol teratas ketika kita buka FB pertama kali.
b. GSN (Google Search network). Bagaimana iklan kita muncul di halaman pertama google. Ada tulisan Ads kecil berwarna kuning di ujungnya.
c. GDN (Display), iklan kita yang muncul di website yang bekerjasama dengna Google. Sebenarnya nggak Cuma ol shop atau jualan barang aja di internet, kita bisa juga bikin artikel untuk dibaca banyak orang dan kalau pengkliknya udah tinggi, semakin mahal hargnya per kliknya.
d. Youtube Ads. Kalau kita buka youtube biasanya kan ada iklannya tuh, kalau itu bisa kita skip berarti itu masih murah. Kalau nggak bisa diskip, berarti iklannya mahal bisa mencapai 300juta an.
3. SMO (Socil Media Optimization)
Attention kita di FB bisa dilihat dari pertemanan kita di FB. Kalau ada yang suka ngeluh-ngeluh, berarti itulah cerminan dari diri kita. Hal-hal yang muncul di timeline kita seharusnya kita program untuk memunculkan informasi bergizi setiap saat. Setelah manfaat facebook ini kita fahami, barulah kita manfaatkan untuk jualan. Mengiklan di FB itu bagus banget, bisa dimulai dari biaya Rp 10.000 per hari. Murah kan? Kita akan lebih fokus ke target dibandingin kalau kita bagi-bagi selebaran di lampu merah. Bisa jadi setelah diambil langsung dibuang kertasnya sama orangnya.”

***
Ada lauk telur dadar, dendeng, ikan Gurami, gulai pucuk ubi dan kerupuk di atas piringku. Hemmm… Alhamdulillah, bisa makan siang seenak ini akhirnya.
“El, ambilin sup donk? 1 aja, kita bagi bareng. Biar seger dan ada kuahnya makanan kita,” pinta Rini.
Aku kembali lagi ke meja saji dan menuangkan kuah sup ke dalam mangkuk kecil berisi mie bihun. Setelah sup terhidang di meja makan, barulah kami memulai santap siang ini,
“Rin, nggak habis?” pertanyaan klasikku. haha.
Rini melotot dan merespon, “Belum dimulai loh!”
Sambil menyuap makanan, mulutku sambil terus mengucapkan Alhamdulillah atas nikmatnya makanan ini. Semoga berkah. *mulai khawatir bakal ngantuk nih!. Setelah itu, aku sholat Zuhur di lantai 3, sengaja lewat tangga biar makanannya cepat berubah jadi energy, hehe. Sepatuku yang tinggi ini sempat membuatku nyaris jatuh kemarin, saat menuruni tangga Balai Bahasa. Itu karena aku belum bisa menyesuaikan (alias belum dapat kemistrinya, ehhe), tapi sekarang udah enjoy aja.
Menyadari banyak perempuan yang ngantri mukena membuatku urung melaksanakan sholat sunah ba’diah Zuhur seperti biasanya. Menurutku lebih baik meminjamkan mukena/memberikan mereka tempat untuk bisa segera sholat daripada tetap keukeh melaksanakan sholat sunnah sementara mereka belum bisa sholat Zuhur. Aku khawatir aja, ibadahku justru jadi egoku.

***
“Rin, Abang itu ganteng banget ya? Tapi, itu yang di sampingnya istrinya atau emaknya ya?”
“Istrinya tuh! Udahlah jangan jelalatan.”
“Mereka kok kaku gitu? Ih, nggak romantis banget sih! Tapi, perhatikanlah istrinya, terkesan lebih tua daripada suaminya kan? Itulah resikonya kalau kita menikah dengan yang dekatan umurnya, Rin.” Aku malah bergosip pula dengan Rini.
“Eh, Rin, kayaknya Abang pemateri itu suka deh sama aku?”
Rini melotot sambil menjauhkan badannya dariku. “Pede kalilah El ni!” celetuknya.
“Iya. Sumprit dah! Lihatlah matanya, sering kali dia melihat ke arahku. Tuh..tuhh kaaan, bener. Lihatlah Rin!” aku memang paling lihai untuk masalah kepedean, heehe. Tapi, kalau itu beneran, justru aku selalu menunjukkan gelagat penolakan dan sebisa mungkin menghindar. haha. Jadi ingat gelar untukku dari senior di SMA dulu; Elysa itu jinak-jinak Merpati.

Mataku benar-benar mengantuk. Beberapa kali ku pasrahkan diriku tertidur sejenak di atas meja, tapi kantuk tidak juga mereda. Padahal materi sedang seru-serunya; Berbisnis lewat Instagram.
“Cara dapat 1000 follower di Instagram itu gampang. Rumusnya; You follow me, I follow you, and than I unfollow you. Saya akan follow competitor saya dulu, lalu follow semua anggotanya si competitor. Tunggu aja, dia pasti bakal follback lagi. Ntar kalau pertemanan kita udah meningkat, giliran kita mengunfollow mereka. Tujuannya untuk menimbulkan kesan wow kepada mereka; busyet nih orang sampai ribuan yang mengikuti, tapi nggak banyak yang dia ikuti. Perbagus conten kita, supaya ilmu marketing onlinenya nggak mubazir. Oh ya, biasanya orang akan mencari kata kunci lewat hastag di IG. Untuk menarik minat pembeli, postinglah 50 foto per hari, cantumkan deskripsi produk, CP, harga dan cantumkan 20 hastag per postnya. Keunikan penduduk di IG itu pengennya serba cepet, kalau kita lama mereka bakal beli di tempat lain.”

Oh ya, waktu acara baru dibuka tadi, seluruh peserta workshop dikasih tas baru. Tasnya warna hitam dan multi fungsi, bisa jadi tas selempang dan bisa juga jadi tas ransel. Alhamdulillah, aku bersyukur banget karena tas pink-ku emang udah tinggal nunggu jinjingannya putus. hikssss. Yeyeee, tas baruuu. Jadi teringat kata-kata Teguh waktu kemarin tes Duta Bahasa; “Nggak apa-apalah nggak lolos Duta Bahasa, yang penting udah dapat pensil, pena, penghapus dan peraut baru, hahaa.” Konyol emang.
“Setelah Ashar, kita akan melanjutkan dengan proses tanya jawab. Bagi yang ingin lebih jelas, nanti bisa ditanyakan semuanya,” ujar bapak instruktur.
“Dek, kita ikutan komunitas Puisi aja Yuk habis sholat ini?”
“Yang di UIN itu ya? (aku manggut-manggutt). Nggak mau ah, ada Daeng pasti.”
“Eh, emang Daeng diajak sama Novi? Nggak deh kayaknya.”
“Iyaaa!”
Teguh berlalu dan Rini geleng-geleng, “Kenapa semuanya jadi seperti ini pemirsaaa?”
Aku gentian mengambilkan coffe break untuknya. Ada onde-onde berwarna hijau dan perkedel kentang berisi sayuran di tengahnya, heeemmmm.
“El, nggak solat Ashar?” tanya Rini.
“Nggak ah! Lagi malas!”
Hampir saja Rini tersedak mendengar jawabanku. Lalu, kami sama-sama tertawa geli. Aku pun nggak punya rencana bisa mengeluarkan kalimat konslet seperti itu.
“Jawaban macam apa itu? Ya ampuun El, El. Hoawalaaah. Orang kalau memang sengaja nggak sholat pun nggak sepede itu loh ngomongnya,” kami sama-sama tertawa cekikikan. Ah, bukan aku namanya kalau bener omongannya, huaahhh.

***
“Rin, kok akrab kali sih sama si Ari?” tanyaku dalam langkah mendekat pada lift.
“Nggak tahulah, dia nanya-nanya tadi. Pokoknya setiap kali El pergi, dia selalu ngajak aku ngobrol.”
“Dia pasti suka sama Rini!”
“Halaaaahhh, selalaapnya (baca: selalu) El ngomong gitu. Semuanya aja bilang suka sama aku El, semuaanyaaa.”
Aku menggerak-gerakkan alis dan mataku kea rah kiri. Memberi isyarat kepada Rini bahwa Ari mendekat ke arah kami berdua. Seketika, lift terbuka dan kami segera memasukinya,
“Eh, ini kenapa bunyi-bunyi? Udah penuh ya?” tanyaku.
“El pulaknya berat kali,” jawab Rini. Kami berdiri tepat di dekat tombol di dalam lift. “Masuk aja ayooo, eh maaf yaa,” ajak Rini kepada Arif. Tapi, sayangnya pintu lift mulai tertutup.
“Hiksss, colii aku memisahkan kalian. Coliii naa,” pintaku dengan gaya cadel plus dialek Thailand.
“R nya jangan diubah jadi L juga, Mbak…!” kata pria gendut berkemeja putih di belakangku. Aku menoleh ke arahnya, tapi tak faham apa maksudnya.
Pintu lift terbuka, kami berhamburan ke luar untuk meminta cap di resepcionist di tiket kendaraaan biar gratis, ehhe. Barulah au tertawa sampai terkekeh-kekeh saat itu karena sadar bahwa yang disindir pria tadi adalah ‘colii’ yang ku ucapkan tadi. huaaahhhh, bikin malu aja El…

1 komentar:

Nurjamaliah mengatakan...

selalu ada emas di balik butiran pasir di sungai nan luas lagi dalam..

apanya komen aku :D

selamat cin icint
maulah ilmunya, apa ndak keren ini :)