Ini komposisi pagi
Gumamku ketika mata menyipit memandang nuansa pagi di luar jendela
kamar. Beranjak untuk melaksanakan sholat subuh yang diimami oleh adik sendiri
adalah nikmat tersendiri. Ia telah begitu kaya dengan hafalan-hafalan suratnya
sementara aku masih membarukan ayat-ayat usang. Rasanya begitu iri akan
ketaatannya. Kata Nilam, ia ingin memberikan mahkota terindah dan termahal
kepada mami papi. *aku semakin malu. Apakah yang selama ini ku raih akan
berubah menjadi hadiah bagi mereka kelak? Atau jangan-jangan, untuk menolongku
diriku sendiri pun bahkan tidak cukup?
***
“Nilam mau sarapan apa?”
“Terserah Mbak aja.”
Setelah kamar pecah kena bom nuklir ini ku rapikan, aku
bersiap-siap untuk membeli sarapan dan mengantarkan KTI ke Masjid Arfaunnas.
Jilbab hitamku ntah kemana, akhirnya aku menggunakan jilbab seadanya. Jilbab
coklat, baju berbunga coklat dan rok
berbelang coklat ini jadi penampilan yang cukup acak-adut. Ah, tapi aku mah
cuek aja. Biar semua orang tahu dan bisa melihatku dari yang versi paling jelek
dan urakan, sampai versi yang paling rapi dan cantik, ehehe. *emangnya ada yang
memperhatikan el? huaahhh.
“Ini KTInya harus dirangkap 3 dulu, Kak.”
Segera ku putar motor dari parkiran, eh aku ngelihat bang
Rokhim dan kak Nurul sedang duduk berdua di bawa pohon matoa. sihiiiiyyy.
Emmm, akankah aku seromantis itu dengan imamku kelak? Semoga
lebih. Sambil memfoto kopi, aku membeli 2 bungkus pecal dan 4 gorengan di
seberangnya. *Rini udah tahu alasanku; Optimalisasi
waktu.
“Berapa Bu? fotokopiannya nih?”
Si ibu sibuk mengetik angka-angka di kalkulatornya. “Rp
5000.”
“Wah, uangnya kurang Rp 1000 pula nih Bu. Habis beli sarapan
soalnya.”
“Ya udah nggak apa-apa.”
“Kalau gitu, saya hutang dulu ya Bu?”
Si ibu manggut-manggut sambil tersenyum ramah. Begitu pun
dengan suaminya yang berada di sampingnya.
“Ada kuliah juga hari Minggu?” tanya suaminya.
“Nggak Pak. Ini bukan tugas kampus kok! hehe.”
“Nggak habis Lam?” Ini pertanyaan klasik.
“Hehhh, Mbak Ela nih!” jawab Nilam ketus. haha.
Aku jadi ikutan nonton film Now You See Me. *hayooo, udah pernah nonton belum? Benar kata
Andin, kata-kata dalam bahasa Inggris tuh emang luar biasa. Ada banyak sekali
kalimat yang terdengar keren, padat dan berkesan, termasuk kalau diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia. Nih contohnya; Dalam beberapa hal yang ku biarkan lebih
baik tak terjelaskan. Kepercayaan
adalah kemewahan yang kini tak ku miliki. Kece kan? Aku sih Yes! Nggak
tahu mas Dhani, ehhe.
***
“Okeehhh…la jadi?”
“Eh, Nilam bilang apa tadi yang jiddan-jiddan itu?”
“Qoddim Jiddan,” jawab Nilam.
“Artinya?”
“Lama kaliiii loh, Mbak.”
“Oh gitu.. Berarti Jiddan itu artinya kali ya? Hemm…berarti
2 jiddan 2 sama dengan 4 donk?”
Nilam terpelongo. Sepertinya dia sedang berupaya keras untuk
memahami kalimatku. “Mbak ni! Mana pula bisa gitu. Kalau untuk perkalian ada
lagi bahasa Arabnya.”
“Loh? Tapi tadi katanya Jiddan itu artinya kali?”
“Iya, tapi bukan untuk perkalian,” jawab Nilam geram. Aku
terkekeh, pura-pura nggak ngerti. “Apa ya istilah lainnya? Banget! Ha.. banget
artinya jiddan tuh Mbak. Misalnya, lama banget, jauh banget. Biar Mbak ngerti
daripada pakai kali.”
“Oh gituuu… hemmm, berarti 2 jiddan 2 itu salah ya Lam?”
“Iyalah,” jawab Nilam geram.
Setelah selesai berkemas, aku mengajak Nilam makan siang di
Pondoh Hijau. Banyak orang menyebutnya, PH, biar keren gicuuuhhh.
“Enak banget makanan di sini Lam..hemm..nyam-nyam. Pesan apa
Nilam? Mbak ikan Nila Bakar aja.”
“Aku ikan laut bakarlah,” kata Nilam.
“Bu, Ikan Laut Bakar dan Ikan Nila Bakar ya Bu. Makan di
sini. Terus, tambah perkedelnya 2 ya Buuu,” pintaku. Ah, aku jadi ingat,
terakhir kali beli makanan di sini, aku harus menunda keinginanku terhadap
perkedel karena uangnya nggak cukup. Sebenarnya uang Rp 100.000 yang ku bawa
saat ini pun uang minjem, tapi nggak apa-apalah demi bisa menyambut dan
melayani Nilam dengan baik. Semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik dari
itu semua dan mencukupkan kebutuhanku. aamiin.
“Berarti Mbak sering makan di sini ya?” tanya Nilam sambil
menikmati makanannya.
“Lumayanlah…” jawabku sambil mengunyah.
***
“Kak Elysaaa…” teriak seseorang dari belakang kananku. Eh,
Heldi rupanya. “Kakak mau ke Alam Mayang juga? (aku manggut-manggut) Bareng ya
Kak? (aku manggut-manggut lagi).”
Dek Heldi kembali memelankan laju motornya supaya bisa stay
di belakangku.
“Siapa tuh Mbak?” tanya Nilam.
“Calon anggota FLP juga.”
Sejujurnya aku agak ragu dengan pertigaan di tengah perjalanan
ini. Tapi, aku putuskan untuk berbelok ke kanan ketika ku bandingkan jalan ke
kanan memang lebih ramai. Ku lirik dek Heldi dari kaca spion dan ternyata dia
masih terus mengikutiku. Berarti jalanku benar!
“Eh, kok suasananya beda ya? Asing gini..” gumamku.
“Nanti kita nyasar pula Mbak?” tanya Nilam.
Aku menghentikan motorku, “Dek? Kok kayaknya beda gini ya
jalannya? Ke mana lagi kita nih arahnya?”
“Ntahlah Kak. Adek kurang faham juga sama jalannya, makanya
ngikutin Kakak aja sejak tadi.”
Aku meminta Heldi untuk menanyakan alamat kepada 2 orang laki-laki yang sedang duduk santai di halaman rumahnya yang tidak
jauh dari jalan. Lalu, Heldi menunjuk ke a rah depan kepadaku. Ah, berarti
nggak salah alamat kok! Kalau salah, tentu disuruh laki-laki tadi untuk berbalik arah lagi.
“Oh, ternyata kita ini dari belakang Mbak!” ujar Nilam
ketika kami memasuki gerbang Alam Mayang dari arah samping. Aku mengiyakannya
di dalam hati.
Kebingungan selanjutnya adalah ketika mencari keberadaan
teman-teman FLP. Katanya di dekan kolam pancing, sedangkan di sini buanyak
banget kolam. Jadi, yang mana 1 ya? Ketemu dengan Putri dan kak Zubaidah di
tengah kebingungan dan kami mengikuti mereka yang sebenarnya sama aja
bingungnya. Tapi, Alhamdulillah akhirnya nemu juga setelah 10 menit
muter-muter. Acara baru dimulai ketika kami datang. Ah, jangan-jangan mereka
nungguin eke? ehhehe
JUMPA PENULIS DAN SOFT LAUNCHING BUKU
Tertulis kalimat itu di spanduk biru besar yang terbentang
di antara 2 pohon. Wah, ada Tentang Januari di bannernya. Ada buku dek Suci
yang judulnya Raih Prestasi dengan
Potensi (RPP) Muslimah dan juga bukunya bang Alam+mbak Sugi yang judulnya Cahaya di langit Pesantren.
“Ani udah datang?” tanya bang Alam kepada mbak Sugi. Lalu,
bang Alam memandangku seolah memberikan isyarat. Aku segera membalas kodenya
dengan menggoyangkan telapak tangan tanda menolak. Untungnya bang Alam langsung
mengerti dan meminta bang Suhardi untuk menjadi MC. Hufft! Melegakan sekali
pemirsaaa… Aku agak segan, karena rencananya aku mau ngeMC dengan Ani dengan
gaya ceria dan nonformal, tapi ngelihat kondisi akhirnya urung aja. Rasa segan
di FLP sangat besar karena yang laki-lakinya juga kebanyakan orang-orang
pengajian. Kecuali kalau duduknya nggak lesehan dan sekat antara cewek dan
cowok agak jauh.
“Selanjutnya, kita jemput ketiga penulis kita yang akan
melaunching bukunya hari ini….”
Lah? Secepat itukah? Aku fikir setelah ngaji bakal ada
sambutan atau sepatah kata dulu gitu. Eh, ternyata langsung-langsung aja. Oke
deh, siapa takut? Aku langsung maju bersama Suci dan bang Alam.
Setelah bang Alam menceritakan bukunya, sekarang giliranku,
“…nah, sebelumnya saya mau cerita tentang asal muasal buku ini
dulu..bla..bla..bla (ini cerita yang udah sering banget ku ulang-ulang setiap
promosi). Walaupun isinya masih kalah ‘nyastra’ dengan sastrawan, tapi saya
bangga dan bahagia telah menerbitkannya. Karena ada cinta dan cerita indah di
baliknya….bla bla bla. Harga bukunya Rp 38.000, bagi yang berminta boleh pesan
langsung kepada saya. Terimakasih,” tutupku.
Selanjutny, dek Suci yang menjelaskan sekilas tentang
bukunya.
“..nah, buku saya ini tipis plus mini karena ini adalah buku
saku. Nggak setebal punya Mbak sugi dan Kak Elysa, tujuannya supaya mudah
disakuin atau dibawa ke mana-mana…bla bla bla.”
Mendengar cerita dek Suci ini membuatku teringat saran mami
ketika beliau tahu bahwa bukuku lambat terjualnya, “El, gimana kalau nerbitin
buku yang ukurannya kecil aja? Kayak tips-tips gitu. Jual aja kira-kira
20ribuan, mungkin itu lebih banyak peminatnya daripada yang mahal-mahal. Karena
kalau mahal kan pasti harus nunggu dia punya uang lebih dulu.” Luar biasa!
Fikirku, atas saran mami itu. Nyaris saja aku lupa.
“Dek? Berapa emangnya harganya?” tanyaku sambil berbisik ke
telinga dek Suci.
“Rp 17.000 aja Kak,” jelas Suci. *wewww! Kece juga nih
harganya. “Ternyata udah banyak yang terjual di Yogya juga kata penerbitnya,
Kak,” lanjut Suci lagi. Hemmm, masuk akal juga nih langkahnya Suci, selain
murah dan informative, orang juga lebih mudah menyisihkan uang jajannya untuk
memiliki buku itu. Patut ku coba!
Acara dilanjutkan dengan menandatangani banner launching.
Duh! Aku seneng banget tapi sekaligus menyayangkan Yudi, Andin, Lia dan Rini
nggak ada di sini. Kemudian, Mbak Sugi memberikan materi tentang Dakwah Bil
Qolam, judul yang tidak asing lagi di telinga para anggota lama FLP.
“Lam, tadi bagus nggak waktu Mbak ngomong di depan?” bisikku
kepada Nilam
“Bagus, Mbak. Kok bisa sih Mbak kayak gitu?” tanya Nilam
akhirnya.
“Belajar aja intinya Lam. Karena Mbak terbiasa gitu, makanya
bisa. Nilam juga pasti bisa kalau mau melatihnya.”
Aku dan Nilam pamit duluan dari acara ini. Alasan pertama,
karena malas sholat Ashar dengan berwudhu di ruang terbuka dan alasan yang
kedua adalah karena khawatir Nilam akan terlambat sampai di pesantrennya.
Daripada kena denda, mending cari aman aja kan?
***
“Nilam suka pernah makan buah Matoa nggak?” tanyaku di
tengah kemudi.
“Pernah, Mbak.”
“Nggak suka?”
“Ehhh, sukalah. Apalah Mbak ni?”
Jangankan Nilam, aku pun heran dengan pertanyaan anehku itu.
“Kita sholat Ashar dulu di sini ya Lam? Tanyaku kepada
Nilam. Kami berada tepat di depan masjid Al-Ikhlas di pangkal simpang jalan ke
pesantrennya Nilam.
Pukul 16.45wib.Nyaris
aja terlambat kalau nggak cepat. Aku segera menandatangani absensi wali dan
menyerahkan kembali surat izin Nilam kepada Piket.
“Kak, boleh nggak kalau Nilamnya saya ajak makan bakso
sebentar?” tanyaku.
“Boleh kok Kak.”
Cusss, aku dan Nilam langsung berburu bakso di jalan Delima.
Tak seberapa jauh dari jalan tadi, kami menentukan sebuah warung bakso
sederhana sebagai pilihan tempat memanjakan lidah.
“Nilam pesan apa?”
“Mbak Ela apa?” tanya Nilam balik. Selalu seperti itu
memang.
“Mbak bakso deh, udah lama nggak makan bakso.
“Ya udah, kalau gitu Nilam mie ayam aja. Biar bisa saling nyicipin
nanti.”
“Setujuuuu.”
Ntah karena udah lama nggak makan bakso atau gimana, aku
merasa kuah bakso ini terlalu hambar. Atau mungkin karena selama ini aku sering
makan mie ayam yang kuahnya kental dan berasa? Ntahlah! Bakso-bakso ini pun
terasa membuat rahangku lelah mengunyah. Padahal, dulu aku hobi banget dengan
bakso. Waktu masih kecil apalagi, setiap kali ke pasar atau ke acara pesta,
pasti diajak mami beli bakso. Hemmm, apakah mami di sana masih mengidolakan
bakso seperti dulu?
“Nih Mbak,” Nilam memberikan selembar uang Rp 20.000
kepadaku.
“Buat apa?”
“Buat nambah-nambahin, masa dari tadi Mbak Ela terus yang
bayarin aku?”
“Aiiii? Macam samo siapo haaa? Usah leeehhh. Apoo kooo?” Aku
mengembalikan uang itu kepada Nilam.
“Nggak apa-apa doh Mbak.”
“Tak mau doh!”
Kami kok jadi sok sweet gini sih? Hahah. Aku tetap menolak.
Lagian nanti kalau uangnya habis ujung-ujungnya minta sama aku juga puuun.
Haha. Sama doank kan sebenarnya?
Aku mengantarkan Nilam ke pondokan dan berpamitan kepadanya.
Tapi, sebelumnya ada lagi tingkahnya,
“Ini buat Mbak Elaaa,” Nilam mengeluarkan beberapa Matoa
dari dalam plastik.
“Loh? Kan Mbak udah makan juga tadi. Buat Nilam ajalah tuh
semuaaa.”
“Mbak Ela juga harus makan lagi lah, masa semuanya buat aku
aja?”
“Hemm…ya Udah deh, kalau Nilam maksa, hehe.”
Setidaknya aku telah mengajarkan sesuatu yang baru kepada
Nilam hari ini. Besar harapanku Nilam mau bersemangat menulis juga. Meskipun
mungkin dia pun masih bingung harus menulis tentang apa. Padahal udah pernah
dan udah dari jauh-jauh hari ku ajarkan untuk menulis diary, tapi nyatanya dia
masih juga bingung, “Gimana nulisnya Mbak?” demikian tanyanya.
Liburan nanti insya allah akan jadi permulaan segala
rencana. Semoga dari sanalah Keluarga Pena-ku menjelma. Aamiin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar