Minggu, 22 Februari 2015

Inspirasi: Pelayanan menuntut Keprofesionalan



Ku serahkan 2 lembar uang Rp 2000 dan 1 recehan Rp 1000 kepada si abang atas kartu bebas Pustaka Wilayah yang diuruskannya.
“Heeemmm..nggak usah lah Dek kalau gitu.”
“Loh kenapa Bang?”
“Kasihan kali lihatnya.”
WHATTTT? Apa masalahnya sih dengan uang recehan begini Bang? Mirip pengemis, gitu maksudnya? Ini uang juga loh Bang. Tanpa Rp 5000 (sekalipun receh), uang 1 milyard itu nggak akan lengkap.
“Lagian nggak terlalu penting juga,” tambah abang tadi.
“Oh, ya udah deh. Makasih Bang,” jawabku sambil tetap tersenyum. Insting ‘tersinggung’ku sedang tidak aktif sepertinya. Aku merasa tetap enjoy dan nggak merasa marah sama sekali dengan abang itu. Hemmm.. tapi aku menyimpulkan bahwa ternyata orang Indonesia itu hobi banget meminta-minta ya? 

Kamu pasti pernah diminta membayar lebih kan padahal itu nggak ada aturannya. Nah, aku juga sering mengalaminya. Kadang, insting ‘Kritikus’ku sedang aktif, aku pengen banget nanya, ‘Ini biaya yang harus saya bayar memang ada aturannya ya Pak/Bu?’ Tapi, biasanya, sebelum aku melancarkan niatku itu, orang disebelahku sering membisikkan kata-kata teduh, ‘Udah lah El, itung-itung sedekah sama mereka. Itu uang tambahan gaji mereka, lagian kan mereka juga udah susah payah ngurusin ini itu buat kita.’

Sebenarnya, aku punya jawaban lebih lanjut untuk si kawan itu, ‘Ya mana bisa gitu donk, itu kan memang udah tugasnya mereka untuk melayani kita. Kalau mau sedekah, udah lain topik lagi tuh. Mungkin yang dipungutin per orang emang nggak besar, tapi kalau dikalikan 50 orang atau 100 orang? Lumayan juga hasilnya tuh. Kalau memang itu ada aturannya sih aku no problem. Yang dipertanyakan sekarang adalah tentang KEJUJURAN.’

Tidak ada komentar: