Minggu, 22 Februari 2015

Happy Millad for My FLP, 18th

Aku nolak berangkat bareng bang Adit dan para anggota FLP Ranting karena udah janji nganterin Rini ke rumah mertuanya kak Rindu (kakaknya Andin). Andin sedang sakit dan dirawat di sana, makanya Rini mau menjenguknya ke sana. Eh, ternyata ketemu juga dengan bang Adit di Arfaunnas dan mereka ngikutin aku sampek ke depan rumahnya kak Rindu.
"Dek Putri, boleh nggak Kakak semotor aja sama Adek karna motor Kakak lagi kurang sehat?"
Akhirnya aku bareng Putri deh. Lumayan ngirit minyak.

eh, eh, eh, ini bukan cerita hari ini rupanya. salah, salah! haduhhh, inilah akibatnya kalau nggak langsung di tulis hari itu juga. menabung cerita nih sebutannya.hiksss

Jadi gini, hari ini aku ketemu dengan teman-teman di Alam Mayang di acara Millad FLP yang ke 18th. Lumayan rame juga, sekitar 15 orang. Kami duduk di lesehan Meranti (kalau nggak salah ya) dan saling mengucapkan selamat ulang tahun  buat FLP sekaligus penyampaian harapan untuk FLP yang lebih gemilang. Setelah itu, ditraktir makan ayam penyet oleh bang Wamdi yang ternyata kerja di RM di dekat sini. Nyummiiii. Sebenarnya nggak ditraktir sih judul awalnya, tapi ketika bang Wamdi nggak mau dibayar oleh mbak Sugi, barulah namanya ditraktir. yeeyeeee! hehhe


Oh iya, ketinggalan.
Kami ada acara tukar-tukar kado juga tadi. Aku dapat apa ya? *duh, lupa. Kalau nggak salah sih buku (ngasih buku, dapatnya buku juga hehe). Bang Alam dapat gantungan kunci boneka kalau nggak salah (dih, ini kalau gngak salah melulu ceritanya hhee). Setelah lunch, kami sholat Zhuhur di mesjid yang nggak jauh dari lesehan kami tadi, tapi tetap aja kami butuh motor biar cepat.

"Kak, kena marah sama petugas itu?" tanya dek Elvira.
"Iya Dek. Itulah Kakak heran. Kenapa wudhu aja harus di luar? Kan nggak masalah kalau di dalam juga. Toh, kita kan udah bayar Rp 200 juga ke dia. Ah, aneh banget ya."
"Itulah Kak. Lihatlah mereka Kak, kasihaaan."
Pandangan kami bertumbuk kepada pria dan wanita yang saling wudhu berdekatan. Jilbab terbuka, kaki terbuka, lengan terlihat. Ah, kenapa sih nggak dibolehin di dalam aja? Ya ampun, geram banget lihatnya.

"Itulah Kak, banyak yang belum faham kalau itu nggak baik. Pelanggaran dianggap hal yang wajar karena mereka belum faham," papar dek Elvira. Aku menemukan kedamaian mendengarnya. Apalagi mesjid ini pun hanya disemen separuh (setinggi dada) dan selebihnya terbuka tanpa penghalang. Kalau pakai jilbabnya sambil berdiri, otomatis akan terlihat dengan orang lain.

Aku masih mengantri mukenah. Inilah kerugiannya kalau nggak standby dengan mukenah di dalam tas. Maafkan hamba ya Allah yang pelit dengan urusan ibadah. hiksss.
"Uda sholat?" tanya perempuan di depanku yang baru saja membuka mukenah dan terlihatlah sebagian rambutnya.
"Belum," jawabku sambil tersenyum dan ia menyodorkan mukenah itu kepadaku. Aku meraihnya dan segera sholat. Sengaja nggak ber-sunnah ba'diyah karena takut kakak itu menunggu mukenahnya ini. Aku melihatnya baru selesai berkemas dan bersiap memasang sendal di depan pintu masjid.
"Kak, makasih ya," kataku sambil menyodorkan mukenah itu.
"Letakkan aja di mesjid ini, Dek," jawabnya sambil tersenyum.
"Loh? Ini punya masjid ya Kak?"
"Bukan, punya Kakak. Tapi biar aja di sini," demikian katanya.

Lalu, ia berlalu bersama anaknya yang masih kecil. Ya Allah, hamba mendoakan pakaiannya. Semoga Engkau memberikan hidayah kepadanya untuk menyempurnakan penutupan auratnya. Aku takjud dengan apa yang baru saja ku alami. Ia sangat faham bahwa mukena di sini terbatas dan banyak yang mengantri karenanya.
"Kak, boleh pinjam mukenahnya?" pinta seseorang dari belakangku.
"Pakai aja, Dek," jawabku dengan tersenyum.

Aku juga takjub dengan dek Elvira dalam hal lain. Tadi, ia bercerita bahwa ia terbiasa menulis cerpen yang berlatar luar negeri. WOW! Mbak Sugi aja sampai nanya:
"Udah pernah ke luar negeri atau gimana nih?"
"Nggak Mbak. Belum pernah. Ya berbekal dari baca-baca dan riset kecil-kecilan tentang negara itu dari internet aja. ehhe" jawabnya lugu.
Aku? Belum tentu sanggup. Thailand aja belum ku apa-apakan ke dalam sastra. Masih sekedar cerita perjalanan yang terlalu jujur ku ceritakan. hiksss, tiba-tiba merasa bersalah dengan ketidakmaksimalan diriku dalam mengeskplorasi anugerah perjalanan dari Allah ini. hikss

Setelah foto bersama, giliran aku, Putri dan Elvira yang menyusuri Alam Mayang untuk berfoto ria. Sementara yang lainnya udah pulang sejak tadi. Ah, Alam Mayang juga punya sebuah kenangan. Terakhir kali aku ke sini adalah setahun yang lalu. Tepat di tahun baru 2014 bersama dia dan Rini. Saat itu, segalanya masih baik-baik saja. Meski pun ada sedikit pertengkaran kecil di antara kami, tapi itu tidak lebih dari sekedar coretan hikmah saja bagiku (bagiku? Oh ya Allah, aku nggak tahu apakah juga baginya? Yang jelas, aku menganggap semoga ia juga sama). Itu setahun yang lalu, bahkan hingga hari ini FLP seolah tidak pernah lagi disapanya. Semenjak tragedi itu, dia seolah mengasingkan diri dan menciptakan dunianya sendiri tanpa ada sesuatu pun yang berhubungan atau menghubungkannya denganku. hiksss....

Bersama Elvira dan Putri, aku menemukan sebuah sudut baru yang menakjubkan di sudut sana. Sebuah bangunan baru mirip candi. Kami menghampirinya dan menangkap keindahannya dengan kamera merahku. Aha! Aku merasa seperti di Yogya dengan Borobudurnya. ^_^ *rindu Yogya. Perjalanan berlanjut, aku dan Putri ke Gramedia sedangkan Elvira pulang ke rumahnya.
"Kak, beli nggak ya? Tapi bukunya bagus banget nih. Tapi, harganya lumayan juga. Eee, belikan napa Putri, Kak?" rengeknya. Aku geleng-geleng.
"Dek, untuk menjadi orang bijak, kita harus membaca buku dan harus rela menyedekahkan uang kita untuk membelinya. Nggak perlu pelit dan terlalu perhitungan dengan buku. Ayo, belajar royal dengan sumber ilmu. Ini investasi lohhh," jelasku kepadanya.

Ku perhatikan buku yang sedang dipegangnya itu. Aku lupa judulnya, tapi intinya tentang menjaga hati dalam percintaan muda-mudi masa kini gitulah.  Hemmm, aku tahu dan bisa menebak apa yang sedang dialami adek yang satu ini.
"Ehem! Hati-hati dengan hati yaaa," sindirku.
"Nggak ada apa-apa doh Kak. hehe."
Aku melongok ke dalam diriku sendiri. Teringat bahwa aku pun pernah merasakan masa-masa itu. Dan, ku namai itu sebagai masa-masa terberat. Tanpa pertolongan Allah, aku tidak mungkin bisa melewatinya dengan mudah. Alhamdulillah ya Allah, Jadi teringat dengan nasyidnya Maidany,

Tuhanku, berikan ku cinta
Yang Kau titipkan,
Bukan cinta yang pernah kutanam,
Pada seseorang...

Aku memborong buku dari bazar dan 1 buku dari dalam Gramedia. Seperti biasanya, aku hampir selalu mengeluarkan uang Rp 100.000an setiap kali membeli buku di sini. Dulunya, aku juga tidak jauh berbeda dengan Putri, hingga seseorang menasehatiku seperti caraku menasehati Putri tadi. Tapi sayangnya, aku lupa dengan pemilik kalimat itu. ah, maaf dan terimakasih untuknya.

Jam 00.30wib, aku menyambut kak Dila yang berangkat tadi sore dari Bagansiapiapi untuk mengikuti tes selanjutnya, dari rangkaian tes penerimaan tenaga akuntan oleh Pemkab ROHIL. Besok, ujian psikotes akan dilalui kak Dila. Good luck, Kakak! ^_^

Tidak ada komentar: