Minggu, 19 April 2015

Happy Competer: Aku Terlanjur Cinta

Penyakitku adalah: kalau udah terlanjur nulis, nggak mau gerak dan beranjak. hiksss. Lihat ke luar jendela, udah terang ya ternyata? Lihat HP, oh sudah jam setengah 7 rupanya. Bimbang, pergi atau nggak ya?
"Cuy! CFD-an yuksss?"
"Kalau mau CFD-an, perginya jam 6, El. Bukan jam segindrang," jawab Rini sok cuek. Lagian, dia jam 9 mau ke BEM UR juga ngurusin PPRU-nya sementara aku mau lanjut sampek siang di COMPETER. Dengan bismillah, aku beringsut dari tempat tidur dan bergegas pergi. Lihat jam lagi, eh udah jam 7.30wib aja. Nggak apa-apa deh, kan sampek sana udah mulai acaranya, nggak pake nunggu-nunggu lagi.

Rencananya mau lewat UR aj. Tapi karena KTM-ku belum juga ketemu dan males ditanya-tanyain satpam, akhirnya ku putuskan lewat Subrantas dan berbelok ke Arengka 2. Udah ada firasat nggak enak dengan gas yang stabil. Ah, aku berusaha cuek, selama ini juga sering mendadak rendah gasnya. Tapi, aku nggak bisa mengelak lagi ketika motorku semakin nyaris berhenti. Aku melaju dengan kecepatan tinggi, kalau pun mogok di dekat stadion utama aja jadi gampang kalau minta pertolongan. *fikiran jenis apa ini?. Daaan... niatku terjadi, mogok di samping stadion utama, di depan halte TMP.



Menyadari uang sepeser pun yang nggak ku bawa, tidak membuatku panik. Muncullah rencana untuk menelvon beberapa orang untuk menolongku. Tapi, aku mikir lagi, buat apa mereka ke sini jauh-jauh cuma buat ku pinjem uangnya dan mereka balik lagi. Ah, aku aja paling malas kalau waktuku nggak padat maknanya. Kenapa aku membuang waktu orang lain untuk jarak yang cukup jauh ini? Pagi-pagi pula. Aha! Aku ada ide. Aku berjalan cepat menyeberang ke warung kecil di seberang stadion.

"Pak? Bensinnya siapa yang jual ni, Pak?" tegurku kepada seorang bapak yang sedang memindahkan baju-baju dagangan yang bergantung di kayu mirip jemuran ke pinggir jalan.
"Bapak," jawabnya singkat.
"Pak, jadi gini pak, motor saya mogok di seberang sana. Itu motornya! (tunjukku ke seberang jalan). Nah, saya kan nggak punya uang sepeser pun, Pak. Tapi saya jual pulsa, jadi gimana kalau saya beli bensinnya pakai pulsa?"
"Hhahaha (lah? nggak boleh ya, Pak?), bolehlah (ah, sykurlah akhirnya)."
"Saya isikan Rp 10.000 ya, Pak. Nomor bapak boleh tolong diktekan, Pak?"
Setelah pulsa terkirim, aku menyebrangi jalan lagi sambil membawa corong minyak dan sebotol bensin. Ah, leganya. Terimakasih ya Allah atas pertolongan-Mu.
"Pak, terimakasih banyak ya, pak!" sapaku sebelum kembali melaju.

***
Kelinglunganku kembali terulang. Dari jalan Sumatera,  aku lupa gang mana yang bisa menerobos ke samping Arya Duta. Eh, kebablasan sampek ketemu jalan (ntah apa namanya, yang jelas di depan POLDA dekat bundara zapin). Akhirnya, aku berbalik arah dan menentang berbagai bunyi klakson. Singkate cerita, akhirnya aku nemuin tujuan yang ku cari, meski harus beberapa kali salah jalan. Ah, kalau aku teliti dan linglung-ku nggak kambuh, aku nggak perlu membuang waktu hanya untuk muter-muter gini.

Setelah parkir, aku nyamperin Lia di depan jalan Ronggowarsito dan ternyata ada Yuni juga di sampingnya (Yuni bukan orang yang aku cemburui kok! hehe). Lalu, kami berjalan bersama, menentang arus lautan manusia. Aha, sambil jalan udah pasti aku memfoto-foto momen ini. Di depan Arya Duta, kami berhasil menemukan tempat mangkal Hary dkk. Ah, ternyata mereka udah mulai berorasi. Ada Nila yang sedang duduk sambil megang karton bertuliskan kalimat anti kekerasan terhadap anak. Ada juga cat untuk men-cap tangan berwarna merah, kemudia di sisi kirinya ada beberapa notes kecil untuk menuliskan harapan terhadap anak-anak di Indonesia. Aku dan Lia ikutan menulis di sana. Sementara untuk sidik jari, kami nggak ikutan karena males nyuci-nyuci tangannya.

"Kak Cin, belilah gorengannya Kak. Keuntungannya buat disumbangkan ke anak yatim, Kak Ciiin," ujar Nila kepadaku dan Lia.
Melihat Nila, aku teringat sesuatu darinya. Tadi pagi, aku sms dia dan bertanya dia pergi dengan siapa ke CFD? Dia nggak balas, mungkin nggak ada pulsa dan aku menelvonnya.
"Nila dengan teman Nila, Kak Cin dari UIN. Soalnya mau ngambil kue dulu," jawabnya di seberang telpon.
Hemmm..pantesan aja dia nggak sibuk ngajakin aku buat ikutan acara pagi in. Yah, karena dia udah dapat tumpangan ke tujuan. Biasanya, doi paling rajin ngajakin aku biar bisa barengan dengannya. Kadang, 1 hari sebelum hari H udah gencar tuh ngajakin aku. Sedikit merasa gimanaaaa gitu, ah, semoga aku nggak seperti itu. Aku ingin selalu hadir di kehidupan orang-orang yang biasa aku hadiri. Agar persaudaraan tetap terjaga dan tiada buruk sangka. Andai aku bisa!

Jam 10.00wib, CFD disudahi. Aku, Lia dan Yuni berpamitan kepada Hari. Ikutan ke kosan Lia untuk ngomongin kalsium yang pengen aku beli dari 'Bunda'nya. Tapi, bu Dokter yang disapanya Bunda itu sedang tidak di rumah. Akhirnya, aku capcusss juga ke COMPETER yang tadinya mungkin ku batalkan kalau Bunda ada di rumah dan aku bisa ikut Lia ke sana.

Udah ada beberapa orang di pinggiran jalan Mesjid Agung An-Nur.
"Elysa, kamu biki dulu mahkota kamu. Kalau belum ada, belum boleh duduk!" teriak bang Asqol kepadaku.
"Pake ini aja dulu, Kak," sapa Tari sambil menyodorkan mahkotanya. Lalu, giliran ia membuar mahkota baru dan mulailah ia menariki rerumputan di sekitar tempat kami duduk ini. *jadi, mahkotanya itu adalah rumput nih yeee?. Hehhe, setelah perkenalan dan menyampaikan makna surat Marie Marilke dan seluruh keluarga COMPETER udah pada datang, kami masuk ke pelataran masjid ini, di sebuah pohon petai Cina yang rimbun lagi asri.

Acara dibuka dengan tahfiz Quran oleh bang Adit, doa dan sambutan dari pemilik sangkar: Bang Asqolani Eneste.
"...karena inilah rumah dunia, beralaskan rumput dan beratapkan langit. Tidak ada yang mampu membatasi kita, kecuali Tuhan. Competer adalah sangkar burung yang tidak pernah menyangsikan jika ada yang ingin datang atau pergi. ....keadaanlah yang memaksa saya untuk menulis awalnya. Tapi, setelah saya faham, saya berfikir bahwa saya tidak bisa mengandalkan perasaan kehilangan saya kepada sosok Ayah untuk menulis. Maka, mulailah saya beranjak untuk menuliskan segala tema," ujar bang Asqol dengan penuh semangat. Beliau memang seperti itu orangnya.

Selanjutnya adalah permainan Rangking 1, dicari 2 orang pemenang dan akan dihadiahi buku. Aku mauuuuuu! Kami diminta menyimak gulungan kertas yang berisi judul puisi dan pengarangnya yang dibacakan oleh bang Asqol. Aku menyimak dengan takzim dan mengandalkan keajaiban cara menghafal dengna menggunakan OTAK KANAN. Dan, hasilnya? Akulah pemenangnya di pertanyaan ke 6. Insya allah sebenarnya kalau Bang Asqol memintaku untuk menebak lagi sampai kertas-kertas tadi habis pun, aku akan ingat dan bisa menjawabnya. *cee illeee. Eh, ciyus nih pemirsa. Aku bukan orang yang jenius, tapi aku kreatif. Cara menghafalku bukan dengan cara bagaimana orang cerdas menghafal. Mau tahu? Silahkan kepoin saja mbah google. ehhe

Aku dipersilahkan memilih buku-buku yang tersedia dan ku pilihlah buku Kumpulan Cerpen oleh Bang OLYRINSON. Yeyeee! Bukunya bersampul biru dan berjudul : sebuah peluru di badan puisi, kalau tidak salah. hehe. Sebenarnya, acara masih berlanjut hingga pukull 14.0wib. Tapi, setelah makan bersama dan sholat Zuhur, aku permisi dengan bang Asqol dan teman-teman yang lain.
"...Elis nggak punya uang sepeser pun buat bayar parkiran, Bang. Boleh nggak Elis minta uang Rp 2000? hiksss," ujarku polos di hadapannya.
"Cuma buat parkiran aja?" tanyanya. Aku mengangguk. Lalu ia mengambil uang 2 lembar Rp 2000.
"Cuma Rp 2000 aja Bang udah cukup."
"Nggak apa-apa. Ambil aja."
Ya udah deh, aku mah nggak nolak heheh.

***
"Kita kemana nih?" tanyaku kepada Lia.
"Tapi ke Qodiiiimmm. Temani aku ya Cin? Pliissss. Aku baru menyadari, kalau mau ke sana itu bawalah orang yang ngerti fashion, atau orang yang hobinya sama atau orang yang kesukaannya sama kayak kita. AKu pernah ke sana sama Uni, tapi nggak ada yang buatku tertarik. Aku cuma ngikutin Uni aja ke sana kemari," jelas Lia.

Niatnya sih cuma nemamin doank, tapi akhirnya ada juga yang menggoda imanku. Aku beli 2 barang dan salah satunya adalah dress yang udah ke-4 kalinya ku pegang yang awalnya dulu adalah pilihan Rini, tapi karena jengkis akhirnya nggak dibelinya. Akhirnya, hari ini dia jadi milikku karena belum juga terjual padahal bagus dan itu udah sebulan yang lalu. Ah, memang rezekiku nampaknya. ehe

Nggak pake pulang, langsung go ke rumah Bu Dokter. Sebelumnya, kami sholat di mesjid cantik sebelum rumah Bunda. Ada tuh difoto-fotonya.
"Mau check kesehatan juga?" tanya bunda setelah kami disambut hangat di rumahnya yang sangat adem dan lapang ini.
"Mauuuu!" jawabku antusias.
"Eh, nggak takut dia? Kemarin si Lia aja ketakutan tuh," respon Bunda.
"Pake apa nge-checknya Bun?" aku mulai penasara,
"Pake listrik" jawab Lia. Aku terperanga.
"Nanti kalau di tubuh kita ada ketidakberesan, dia akan sedikit nyetrum, Cin," lanjut Lia.
"Hiiiii takut. Ntar aku kejang-kejang pula. Tegangannya berapa tuh Cin?"
"1000 volt. hahhhahha," jawab Lia bercanda. Bunda geleng-geleng.
"Adduuuuuh, sakit Bun," pekikku ketika jempol bagian telapak tangan kiriku terasa seperti tersengat listrik.
"Berarti ada apa-apanya dengan usunya itu, Elysa"
Dan, ternyata bukan hanya di bagian usus yang terdeteksi, bagian rahim, lambung, leher, jantung, ginjal. huaaahhhh, saya tidak sesehat yang terlihat, pemirsaaa, hiksss."
Setelah membayar Rp 300.000 untuk susu kalsium dan zinc-nya, kami berpamitan.

Diperjalanan....
"Cin? Ada satu kalimat Bunda yang aku highlight tadi. Dia bilang gini: nanti kalau ada rezeki, sedekahin ya buat beli suplemen tubuh ya Elysa, jangan hanya sedekah ke orang lain aja, ke diri sendiri juga iya ya. Gitu katanya Cin. Aku mengangguk-angguk, iya juga ya fikirku. Selama ini kita justru luput dengan pemenuhan hak-hak diri kita. Makna sedekah ternyata bukan hanya memberikan yang terbaik untuk orang lain, tetapi juga untuk diri kita sendiri, baik itu kesehatan, ilmu, pendidikan dan lainnya. Keren kan, Cin?"
"Subhanallah... iya, ya Cin. Aku kita mu tadi mau bilang: ih, bunda nih kok ngajak-ngajakin aku ikutan bisnisnya sih?. Aku kira mu mau bilang gitu Cin. Ah, ternyata hal itu yang mu ingat ya? Luar biasa banget. Investasi kepada diri sendiri itu memang harus ya, Cin."
"Oh ya, Cin, kata Bunda tadi aku seharusnya rajin berenang untuk memaksimalkan tinggi badanku. Aku mau berenang sama mu besok pagi. Anak-anak udah masuk sekolah kan?" tanyaku.
"Udah masuk  Cin. Jadi, mu malam ini mau nginap di asramaku?" tanya Lia.
"Iyaaaaaaaaa. Mendadak nginap nih judulnya," jawabku dengan sumringah.
"Okeeeee Ciiiiinnn. yeyeeee!"

Setelah sholat Isya, aku merasa suntuk. Kalau aku bawa laptop nggak usah ditanya, aku pasti bakal ngetik-ria. Tapi, kini? Lia pun lagi sibuk ngajarin bahasa inggris ke-lima ekor anak asrama ini. hiksss. Ambil lepinya Lia yang nganggur dan mulailah aku mengetikkan kalimat di ms.wordnya.

"Taraaaammmm... udah jadi Cin,"  teriakku penuh kelegaan yang mengundang penasaran anak-anak itu. ahha
"Apa tuh Cin?" tanya Lia.
"Cerpen yang ku janjikan untukmu. 10 halaman. Selamat membaca ya...."
Anak-anak itu sibuk mau baca, tapi mana mungkin aku kasihkan itu kan rahasia perpacaranku dengan Lia. haha. *jadi Elysa lesbi? hiiii, ya kagak toh pemirsa. Masa perempuang baik-baik kayak aku gitu? haha. Lia membaca cerpenku setelah anak-anak itu berpulang ke kamarnya. Dia ketawa, terdiam, tersenyum dan berkomentar,
"Jadi, ceritanya, aku juara 2 ya Cin?" tanya Lia tak menyangka.
"Iyaaa Cin. hikssss, maaf cuma itu yang bisa ku lakukan buatmu."
"Ah, aku juara 3 aja udah mikir gini kemarin: ntah apalah yang udah dilakukan si cint ini buat mendongkrakku? hahaha. ternyata lebih dahsyat dari yang ku duga. Aku yang seharusnya berterimakasih Cin. Cerpennya luar biasa bangetttssss."

Oh ya, tadi siang Mami sms tetang si meong. Begini bunyinya:
Dari sore, meong dimarahin Abi gara-gara makan anak ayam.
Tapi, dia diem aja pura-pura tidur.
Umi gorengkan ikan pura-pura nggak tertarik.
Setelah dikasih kepala ikan campur nasi, dipanggil barulah datang.
Terus, sekarang tidur benera di depan.

Aku ketawa cekikikan membaca pesan mami itu.
Dia sebenarnya dengering kalau mau dibuang, tapi katanya udah terlanjur cinta.
Tambah mami lagi. Tolong jaga dan pelihara kucing kuning kesayangan keluargaku itu ya Allah. ^_^

Tidak ada komentar: