Perutku lapar banget. Tadi sempat nggak mau makan siang aja karena belum terasa lapar. Eh, pas mau makan Papi nelvon. Bingung. Kalau ku angkat sambil makan, ntar aku dimarah baru makan siang jam segini dan lebih takut lagi kalau ditanya makan pake apa. Jadi, makan ku tunda dulu dan telvon ku angkat.
"Pi, masih teringat setahun yan glalu di tanggal yang sama, El menghadiahi Papi dengan kabar gembira; El juara 3 MAWAPRES dan diundang ke Thailand. Tahun ini, El akan mengabarkan bahwa acara penganugerahan tadi lancar dan sangat meriah. Meskipun El nggak di posisi sebagai juara di sana, tapi setidaknya El menjadi ketua pelaksana tahun ini."
"Berarti posisimu tertinggi di kepanitian ya?"
"Iya donk! El gitu loh. La jadi?"
"Ah, kok kayaknya mustahil ya? Jangan-jangan kamu seksi konsumsi nggak?"
"La jadi?"
"Kalau di rumah hemm.. tidur aja kerjanya. Ngeleler geraknya (baca: lelet)..."
"Iyaa, kalau disuruh ke warung salah terus yang dibeli. Disuruh beli kemiri, malah beli ketumbar, disuruh beli telur pecah semua. Masuk ke mobil aja lewat bagasi, ahaha" aku melengkapi sangkaan papi terhadap sosoku. Dan memang, yang dikatakan papi itu benar. Aku memang rada kurang beres sejak kecil. hahaa
"Itulah! Kok kayaknya yang kamu ceritakan itu mustahil ya." *papi macam apa ini? haha.
"Pi, selamat ulang tahun ya yang ke-48."
"Apalah ulang tahun tu, ngapain diingat-ingat. Ngucapin selamat kayak orang *ahudi ajaa."
Aku sudah tahu itu komentar papi. Aku tidak menyalahkan pandangannya itu, tapi aku juga sudah mengantisipasi agar aku tidak berkecil hati dan suasana tetap cair.
"La jadi? Siapa yang mengingat? Orang El cuma keceplosan aja kok! hehe (ini strategi untuk mengurangi kalimat papi yang ekstrim tadi). Semoga dosa-dosa papi yang telah berlalu diampuni oleh Allah dan juga yang akan datang." Ternyata suara Aamiin dari papi terdengar juga.
"Semoga gula darahnya stabil terus, punya rezeki yang banyak terus sehingga El bisa kuliah lagi yang tinggi, terus semoga nggak gendut kayak El, hehee."
Papi sempat menanyakan skripsi. Tapi, nadanya tidak terkesan menghakimi atau memaksaku. Ia justru bertanya: "Kalau nggak bisa wisuda tahun ini, berarti kapan wisudanya? Tahun depan lagi adanya?" lalu ku jawab:
"Doakanlah tahun ini selesai, Pi. Kan masih 4 bulan lagi nyooo," serasa kayak skripsi itu semudah maka bakwan ya? haha. "Konsepnya juga udah jelas kok Pi, tinggal di....."
Tiba-tiba telvon terputus. Mungkin jaringan. Aku menyendok nasi yang baru saja matang di magic.com. Tiba-tiba Papi nelvon lagi,
"Kenapa mati, Pi?"
"Batrainya lewah tadi."
"Lah sekarang memangnya nggak?"
"Ini sambil dicas."
"Heh, nggak boleh Pi nanti meledak karena panas. Ngeriii. Biarin aja dicas dulu, Pi. 10 menit dulu baru nelvon lagi," saranku.
"Ini mau habis TMnya padahal masih banyak."
"Tunggu agak berisi dulu aja, Pi bentar lagi." *padahal aku nggak sabar lagi mau makan, hehe.
Love You papi...... ^_^ Muaach....
*walaupun papi dan mami bilang nggak usah ngucapkan dan mengingat hari ulang tahun, El akan tetap melakukannya Pi. Cobalah lihat dan dengar apa yang El lakukan dengan momen yang 1 ini. Adakah yang menyalahi agama? Lagian, bukan cuma orang *ahudi aja kan yang punya umur dan berulang tahun? Pokoknya El akan tetap mengucapkannya, Pi, Mi. Ananda yang mencintai kalian karena Allah. ^_^
"Pi, masih teringat setahun yan glalu di tanggal yang sama, El menghadiahi Papi dengan kabar gembira; El juara 3 MAWAPRES dan diundang ke Thailand. Tahun ini, El akan mengabarkan bahwa acara penganugerahan tadi lancar dan sangat meriah. Meskipun El nggak di posisi sebagai juara di sana, tapi setidaknya El menjadi ketua pelaksana tahun ini."
"Berarti posisimu tertinggi di kepanitian ya?"
"Iya donk! El gitu loh. La jadi?"
"Ah, kok kayaknya mustahil ya? Jangan-jangan kamu seksi konsumsi nggak?"
"La jadi?"
"Kalau di rumah hemm.. tidur aja kerjanya. Ngeleler geraknya (baca: lelet)..."
"Iyaa, kalau disuruh ke warung salah terus yang dibeli. Disuruh beli kemiri, malah beli ketumbar, disuruh beli telur pecah semua. Masuk ke mobil aja lewat bagasi, ahaha" aku melengkapi sangkaan papi terhadap sosoku. Dan memang, yang dikatakan papi itu benar. Aku memang rada kurang beres sejak kecil. hahaa
"Itulah! Kok kayaknya yang kamu ceritakan itu mustahil ya." *papi macam apa ini? haha.
"Pi, selamat ulang tahun ya yang ke-48."
"Apalah ulang tahun tu, ngapain diingat-ingat. Ngucapin selamat kayak orang *ahudi ajaa."
Aku sudah tahu itu komentar papi. Aku tidak menyalahkan pandangannya itu, tapi aku juga sudah mengantisipasi agar aku tidak berkecil hati dan suasana tetap cair.
"La jadi? Siapa yang mengingat? Orang El cuma keceplosan aja kok! hehe (ini strategi untuk mengurangi kalimat papi yang ekstrim tadi). Semoga dosa-dosa papi yang telah berlalu diampuni oleh Allah dan juga yang akan datang." Ternyata suara Aamiin dari papi terdengar juga.
"Semoga gula darahnya stabil terus, punya rezeki yang banyak terus sehingga El bisa kuliah lagi yang tinggi, terus semoga nggak gendut kayak El, hehee."
Papi sempat menanyakan skripsi. Tapi, nadanya tidak terkesan menghakimi atau memaksaku. Ia justru bertanya: "Kalau nggak bisa wisuda tahun ini, berarti kapan wisudanya? Tahun depan lagi adanya?" lalu ku jawab:
"Doakanlah tahun ini selesai, Pi. Kan masih 4 bulan lagi nyooo," serasa kayak skripsi itu semudah maka bakwan ya? haha. "Konsepnya juga udah jelas kok Pi, tinggal di....."
Tiba-tiba telvon terputus. Mungkin jaringan. Aku menyendok nasi yang baru saja matang di magic.com. Tiba-tiba Papi nelvon lagi,
"Kenapa mati, Pi?"
"Batrainya lewah tadi."
"Lah sekarang memangnya nggak?"
"Ini sambil dicas."
"Heh, nggak boleh Pi nanti meledak karena panas. Ngeriii. Biarin aja dicas dulu, Pi. 10 menit dulu baru nelvon lagi," saranku.
"Ini mau habis TMnya padahal masih banyak."
"Tunggu agak berisi dulu aja, Pi bentar lagi." *padahal aku nggak sabar lagi mau makan, hehe.
Love You papi...... ^_^ Muaach....
*walaupun papi dan mami bilang nggak usah ngucapkan dan mengingat hari ulang tahun, El akan tetap melakukannya Pi. Cobalah lihat dan dengar apa yang El lakukan dengan momen yang 1 ini. Adakah yang menyalahi agama? Lagian, bukan cuma orang *ahudi aja kan yang punya umur dan berulang tahun? Pokoknya El akan tetap mengucapkannya, Pi, Mi. Ananda yang mencintai kalian karena Allah. ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar