“Mi, sebenarnya kita
silaturahmi ke rumah orang-orang tu sekaligus jugaa..”
“Mi, El lebih bagus pakai baju ini atau yang tadi?” tanyaku
kepada mami yang sedang menyiapkan bekal di dapur. Yang ini= Rok hitam+manset
hitam+rompi biru mirip dress. Yang tadi= Rok hitam+blazer cokelat.
Aku, Salsa, Nilam dan Alfi menjawab serentak; “Mie Ayam” dan
mami akhirnya memutuskan untuk demokratis; 2 Mie Ayam dan 2 Miso. Kami sedang melancarkan
misi rahasia kami yang ku inisiasi barusan kepada mami, “Mi, kita pesan aja
beberapa menu supaya kita bisa duduk di tempat makan ini. Setelah itu, barulah
kita keluarkan bontot (baca: bekal) kita. Cucok kan?” lalu mami menjawab,
“Bener juga tuh!”
yuhuuu, idenya siapa duyuu?
Akhirnya, aku bisa juga menyebranginya. Huft! Melegakan
sekali pemirsa. Kalau Rini tahu, dia pasti akan bilang, “Makanya, kakinya
jangan pendek gitu.” *tega dia pemirsaaa.
“Mbak, Waktu itu kita makan sosis goreng kan Mbak di sini?
Sekarang kita makan Gulali,” kata Salsa sambil mencuil gulali pinknya yang udah
agak kempes. Dia rebutan sama Alfi, Moza, Nilam dan mami. Biasalah ya, kalau
makanan tinggal sedikit tuh memicu orang lain untuk merebutnya. Ehhe.
“Ngabisin makanannya?”
“Lah? Itu udah pasti. Tapi, ada lagi selain yang itu Mi.
Cobalah berapa banyak orang yang udah tau gimana cara bersalaman dan berpakaian
yang bener-bener syar’I Mi.”
“Tapi gimana kalau orang tu udah duluan ngulurkan tangannya?
Kayak pak RT semalam tu udah keduluan dungkeman pula di depan Ummi. Padahal
waktu kemarin kita ke rumahnya, udah Ummi salamin dari jauh. Eh, malah semalam
dia datang ke sini sungkeman.”
“Setidaknya Mami udah pake jilbab lebat. Jadi kan tetap
terjaga Mi. La jadi?”
“coba aja seandainyaa…”
“Eh, ini nanti nasinya diwadahi, piring semua dicuci, maknan
itu ditaruk di atas,” kata mami sambil berlalu dari dapur.
Aku hanya mendengarkan instruksi mami, tapi tak terfahami.
Karena, fokusku terpusat kepada mataku yang tak bergeming dari memandang mami. Masih ada loh Mi yang mau El omongkan. Mami
selalu aja gitu. Kapan kita bisa bicara dalam waktu yang lama dan ‘nyambung’?
Kalimat yang belum sempat tersampaikan kepada mami akhirnya
hanya terangkai di hati, Mi, ada sesuatu
yang lebih tinggi dan mulia dari sekedar memikirkan diri sendiri (untuk
terhindar dari bersalaman, yaitu kita
telah berhasil memberitahu kepada setiap orang yang kita temui bahwa bersalaman
itu nggak boleh, memakai baju ketat itu nggak boleh, nggak menutup aurat itu
nggak boleh. Ya apalagi kalau bukan lewat penampilan kita itu. Sebab Islam itu
adalah care and share.
Aku juga mau bilang gini tadi sebenarnya, “Mi, coba
seandainya orang yang seperti ini (yang udah tahu aturan Islam), nggak mau
bergaul dan berinteraksi dengan warga yang kebanyakan masih awam, darimana
mereka bisa terinspirasi untuk lebih baik? Sedangkan mereka nggak punya
referensi ‘figur’ islami dalam pergaulan mereka sehari-hari.”
Aku terus saja
mencuci piring dengan penuh nada-nada di dada; nada yang kadang tak mampu
menjadi lagu nyata. Setelah selesai, aku beranjak ke ruang keluarga, ternyata
mami sedang menelvon mbah. Ini hal yang paling aku kagumi dari mami; hampir
setiap hari ia menelvon mbah dan yang lebih menakjubkan lagi ia seolah tak
pernah kehabisan bahan pembicaraan. Kadang, aku bertanya di dalam hati;
“Mampukah aku seperti Mami ketika kelak aku sudah berumah tangga dan tinggak
berjauhan dengannya?” Aku berharap; aku mampu. Karena sebenarnya kita nggak
harus berlama-lama meluangkan waktu untuk bisa menyapa; hanya beberapa menit
pun sudah sangat berharga lagi bernilai.
“Eh, kalian mandilah cepat! Kita mau ke jalan-jalan Bagan,”
kata mami.
“Yeyyee..kita mau ke jembatan besarr,” kata Salsa.
“Yeyeee, kita mau ke rumah Kak ***,” kata Moza.
“Ssttttt…” aku mengode Moza untuk bungkam menyebut nama
barusan.
Selagi anak-anak mandi, aku merapikan ruang keluarga, ruang
tamu dan dapur. Setelah itu, aku mengetik cerita pemula pada hari ini untuk
‘nyangkutin ide’ supaya kalaupun aku nggak sempat menyelesaikannya hari ini,
setidaknya aku sudah punya permulaan untuk memicuku meneruskan.
***
“Mi, El lebih bagus pakai baju ini atau yang tadi?” tanyaku
kepada mami yang sedang menyiapkan bekal di dapur. Yang ini= Rok hitam+manset
hitam+rompi biru mirip dress. Yang tadi= Rok hitam+blazer cokelat.
“Yang ini aja, agak aneh modelnya. Biar koe senang,” jawab
mami, praktis. Soalnya mami paling tahu kalau aku suka banget kalau pakaianku
dibilang aneh, alias lain daripada yang lain. Aku kegirangan dan beralih dari
dapur ke kamar lagi.
“Keleeppii (baca: Alfi), menurutmu cantikan Mbak Ela pakai
yang ini atau yang tadi?”
“Yang ini.”
“Bener nih?”
“Iya, biar sama kayak kata Mak Uwo.”
Huh, nyontek biar praktis toh jawabanmu Dek! Nggak mau
direpotin mbak mu yang rempong ini ya? Hehe.
“Mbak, pakeilah celaknya di mataku cepeettt,” pinta Nilam.
Aku melihat Salsa yang yang udah selesai memakaikan eye
liner sendiri. “WIihh, kamu cantik sekali Ciliciiil. Bisa make sendirian
pulaaa. Memangnya Kak Siyam nih nggak bisa?”
“Mbak, cepetlah!” desak Nilam lagi.
Aku memkaikan eye Liner di kelopak matanya Nilam yang atas.
Dan, dia suka banget. Moza jadi ikut-ikutan lagi minta dipakein juga. Ini udah
hari ke-4 selama selama lebaran, mereka kecentilan pengen pake eye linerku.
Huaahh, naluri kecewekkan mereka sudah muncul pemirsaaa.
Setelah semuanya selesai, kami berhamburan menuju 2 motor
yang sudah dipersiapkan papi di halaman. Aku membonceng Salsa dan Alfi dengan Kharisma
sedangkan mami membonceng Moza dan Nilam dengan Supra. Kami berpamitan kepada
papi yang memang setiap tahunnya nggak suka jalan-jalan bareng kami. Papi lebih
suka jagain rumah katanya, ehee.
Perjalanan selama kurang lebih setengah jam kami tempuh dari
Bantayan ke Batu 7 (7 kg sebelum kota Bagansiapiapi). Lalu lalang kendaraan pagi
ini menuju Bagansiapiapi tidak terlalu ramai. Sebaliknya, keramaian kendaraan
didominasi ke arah yang berlawanan dari Bagansiapiapi. Kalau diperhatikan,
kemarin adalah puncak arus liburan ke Bagansiapiapi sedangkan hari ini mereka
tentu sudah punya tujuan lain.
Kota Bagansiapiapi,
Sinaboi (panah ke atas)
Pedamaran (panah ke kiri)
Petunjuk jalan di hadapan kami ini menuntun kami untuk
berbelok ke kiri, memasuki kawasan wisata Jembatan Pedamaran nan megah lagi
bermarwah ini. Di antara 2 lajur jalan, ada pembatasan jalan yang dihiasi
dengan aneka patung-patung hewan. Salsa dan Alfi sudah heboh menebak nama
binatang itu sejak awal pembelokan tadi.
“Yang ini Kuda Bang.”
“Iya, kalau yang itu Kijang. Yang ini Beruang. Hiii, Beruang
hitamnya sereem.”
“Kalau yang ini Kucing,” kataku sambil menunjuk patung
musang. Tapi, sialnya anak-anak nggak pernah ada yang percaya dengan tebakan
konyolku. Mereka sudah terlalu pintar pemirsaaa.. hehe.
Setelah patung-patungan itu terlewati, kami segera disambut
dengan tanjakan Jembatan Pedamaran yang telah diresmikan 2 tahun yang lalu dan
kalau aku nilai sih ini jauh lebih bagus daripada Jembatan Siak. Pilar besar
yang berdiri gagah di kiri-kanan jembatan dihiasi dengan ukiran pucuk rebung
berpadu dalam warna hijau-kuning-ungu. Pilar-pilar ini adalah penyangga
jembatan dan kita temui di setiap jarak 100 meter. Setelah tepi jembatan, masih
ada permukaan selebar 1meter dari pinggirannya. Mami mensyukuri hal ini karena
kakinya tidak gamang ketika berdiri di pinggirannya untuk melihat sungai besar
di bawahnya. Lampu-lampu taman di sepanjang jembatan ini tak kalah dalam
berperan menambah apik dan cantiknya ornament.
Namun, dari semua keindahan itu ada yang teramat disayangkan
dari pandangan; SAMPAH. Kami di sambut di jembatan ini dengan tebaran sampah ke
mana mata memandang. Miris banget. Kalau seperti ini siapa yang salah?
Pemerintah yang mengizinkan PKL berjualan di sepanjang jembatan atau kita yang
tak sadar diri? Aku melihat ke sekeliling pun memang tak melihat tempat sampah.
“Aiih Mbak? Sampah pun difoto?” tanya Nilam ketika kami baru saja berhenti di tengah jembatan.
“Ini untuk bukti Lam, betapa joroknya jembatan ini.”
“Aiih Mbak? Sampah pun difoto?” tanya Nilam ketika kami baru saja berhenti di tengah jembatan.
“Ini untuk bukti Lam, betapa joroknya jembatan ini.”
“El, fotokan dulu tukang ojeknya ni!”
Aku celingukan, memperhatikan siapa tukang ojek yang mami
maksud. Hampir saja aku memfoto bapak-bapak berjaket tebal, persis seperti
tukang ojek yang berjalan mendekat.
“Hooiii, ini loh tukang ojeknya! Apa pula yang koe cari
itu?” kata mami sambil menunjuk dirinya.
“Hhehehe. El kira ntah siapa tadi Mi. hehe.”
Aku memfoto mami, adek-adek dan terakhir kami ber-welfie ria
dengan menggunakan timer dan meletakkan kameranya di pinggir badan lampu jalan.
“Puja berdiri aja biar kelihatan. Agak ke depan lagi Pujaa!
Oke ya, 10 detikkkk,” aku berlari mengambil posisi yang ku perkirakan sendiri
sebelum menekan timer. Kami berwelfie ria dengan aneka gaya dan kegilaan.
Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju jembatan kedua
yang terlebih dahulu dipisahkan oleh jalan semenisasi sejauk 1km dan semak
belukar di kiri-kanan jalannya. Jembatan kedua ini masih sama saja desainnya
dengan jembatan pertama tadi, hanya saja ukurannya yang lebih minimalis dan aku
tidak melihat lagi ukiran Pucuk Rebung di pilar-pilarnya, mungkin pengerjaannya
saja yang belum selesai.
“Ih, itu kok ada botol-botolan di atas pohonnya Mi?” teriak
Salsa.
“Iya naa Mi. Aneh kali,” kata Nilam.
“Iya yaaa, kurang kerjaan kali orang yang naik ke atas Cuma
buat gantungin botol-botol itu.”
Awalnya, aku mengira itu adalah buah dari pohon Bakau yang
memang bentuknya seperti botol. Tapi, setelah anak-anak mengheboh, aku baru
nyadar kalau itu benar-benar botol yang digantungkan di atas sana. Muncul juga
pertanyaan di benakku, “Kok kurang kerjaan banget ya tuh orang? Dan, apa
tujuannya?”
“Mungkin waktu pasang, mereka baru manjat ke atas pohon Mi,”
kataku.
Ah, tapi di sini kan
nggak ada kapal yang berlabuh seperti di Rupat kemarin. Lalu, apa mungkin tuh
orang berenang dari pinggir jembatan ini ke pohon Bakau itu? Benar-benar kurang
kerjaan banget!
“Tapi bayanginlah Mi, masak mereka berenang sih ke sana cuma
buat masang botol itu aja?”
Atau jangan-jangan itu
jimat? Atau ada mantra atau jampi-jampinya? Tanyaku berlanjut di dalam
hati.
Setelah lelah menanyakan keanehan si botol, kami mengakhiri
kunjungan ke jembatan ini dengan berfoto ria. Kali ini kami nggak berwelfie,
aku dan mami yang gantian menjadi fotografernya.
“Mi, tadi kami lihat ada orang gila naa di sana.”
“Kemarin lebih parah lagi, dia tu telanjang waktu Ummi ke
sini sama Edo.”
“Hisss Jorkiii…”
***
Yap, the next destination is on Batu 6 (6km sebelum kota
Bagansiapiapi). Di sinilah komplek MTQ itu berada dan segala macam museum
maupun kantor dinas berada. Katanya sih, akan dijadikan pusat perkantoran.
Wacana itu udah sejak aku masih kelas 2 SMA dan sekarang aku udah semester 8,
rencana itu belum juga terelasisasi. Bahkan, yang sangat membuatku miris adalah
ketika melihat beberapa kantor yang belum sempat di tempati ini sudah terlebih
dulu ditumbuhi belukar. Ini yang salah siapa?
Gedung dengan 9 lantai yang mirip banget dengan white house
di AS tak kalah membuatku geram. Belum sempat ditempati, pondasinya sudah
keropos dan permukaannya menjadi cekung. Pertanyaannya adalah; “Dapat inspirasi
darimana untuk membangun gedung setinggi itu di tanah rawa seperti ini?”
Mungkin kalaupun tayangan Uka-uka diminta live bikin acara di situ pun ogah
karena takut tertimbun gedung yang bisa tiba-tiba runtuh. Hiiisss… atuuttt.
“Lam, difoto haaa pemandangan di sepanjang jalan tadi. Apo
guno kamera dipogang kalau tak dipakai? Iyo nah! Gedung putih yang tinggi tadi
tu haaa, difoto maunya.”
“Eh, kalian mau Mie Ayam atau Miso?” tanya mami.
Aku, Salsa, Nilam dan Alfi menjawab serentak; “Mie Ayam” dan
mami akhirnya memutuskan untuk demokratis; 2 Mie Ayam dan 2 Miso. Kami sedang melancarkan
misi rahasia kami yang ku inisiasi barusan kepada mami, “Mi, kita pesan aja
beberapa menu supaya kita bisa duduk di tempat makan ini. Setelah itu, barulah
kita keluarkan bontot (baca: bekal) kita. Cucok kan?” lalu mami menjawab,
“Bener juga tuh!” yuhuuu, idenya siapa duyuu?
Sambil menunggu pesanan terhidang, kami menikmati pop corn
yang tadi di beli sewaktu di Jembatan. Sengaja hanya 1 bungkus pop corn saja
yang dimakan, 1 popcorn dan 1 gulali disisakan untuk nanti.
“Alfi, kita kongsi berdua ya!” kataku kepada Alfi ketika Mie
Ayam telah terhidang. Moza mengambil semangkuk Mie Ayam untuk dirinya sendiri,
Salsa semangkuk Miso dan Mami+Nilam berkongsi Miso.
“Wihhh, ini baru puas makannya! Hemmm,” kataku sambil
menciduk nasi dan sayur tumis daun ubi yang dipersiapkan mami tadi.
“Pipi Mbak Ela itu nggak bisa dijintet (baca: diikat atau
dikecilkan) apa?” tanya Alfi. Mungkin dia geram melihat pipiku yang membulat
ketika mengunyah makanan.
“Mantapnyaaaaaaa! Mungkin orang-orang yang lewat itu heran,
kok kayakyna enak kalilah yang kita makan ini Mi,” kata Salsa, sambil mengambil
martabak telur dari wadahnya.
“Mungkin orang sebelah kita ini juga heran, kok kita bisa
punya daun ubi gini? Dia kira emang disediakan, eh ternyata setelah dipesan
cuma ada Mie Ayam sam MIso aja.”
“Mi, Ibu ini kayak nggak niat jualan aja,” kataku.
“Loh? Kenapa emangnya?”
“Masa kita nggak dihidangkan air minum? Untung aja kita bawa
Aqua sendiri. Terus, rasa Mie Ayamnya nggak
nggenah (baca: Nggak jelas) nih.”
“Mana ah? Menurut Ummi pas kok nih rasanya kalau Misonya.”
“KUrang kental nih Mie Ayamnya dan mienya pakai Supermie
pula.”
Tapi, enak nggak enak, kami tetap menikmati makan siang kami
yang masih di jam 11.00 ini. Biasanya, setelah dari Batu 6, kami akan lanjut ke
rumah Kak Dila. Tapi, karena kak Dilanya sedang di Medan, maka kami putuskan
untuk lebih berlama lagi di sini. Sebab, tujuan kami tinggal Taman Kota
Bagansiapiapi saja.
“Kalau gini, kita bisa cepat pulang nih sebelum sore,” kata
mami.
“Kenapa gitu Mi?”
“Ya, biar Abi bisa sholat Ashar di mushola. Udahlah sholat
Zuhurnya nggak ke mushola, masa Asharnya juga nggak ke mushola?”
Kami beralih dari café ini ke taman bermain yang terletak di
sekitar Bundaran Patung Elang. Sebenarnya tadi kami udah berhenti di sini
lantaran Salsa melihat topi pantai dan minta dibeliin. Tapi, mami bilang,
“Sayang kali lah kalau kita cuma beli topi aja. Mending kita cari tempat makan
dulu.”
“Berapa ni Bang?” tanya mami.
“Rp 45.000 Bu.”
Mami melirikku seolah bertanya pendapatku.
“Murah lah tu Mi. Kemarin El beli di Yogya aja 35 nggak
boleh kurang.”
“Iyalah ya, murah dah ni yaa.”
Akhirnya, dibelilah 2 buah topi pantai berwarna krem dan
pink dengan harga tawar Rp 80.000. Langsung dipakai oleh Salsa dan mami dan
diabadikan oleh kamera. Kami juga berfoto di pinggir patung Buaya, patung
Kura-kura dan patung Udang, mami yang mengajaknya, “Heh, yuk kita foto dulu di
pinggir Udang Galah itu!” Udah Galah adalah salah satu jenis udang yang pasti
nggak ada nama ilmiahnya di buku Biologi. Karena, penambahan Galah itu hanya
dari orang-orang sini saja. Makanya, lucu rasanya ketika mami menyebutnya tadi.
Hihii.
Terakhir, kami berfoto di bundaran patung Elang. Untuk
mencapai tengah bundaran; tempat Elang bertengger, kami harus melewati kolam
yang di antaranya ada beberapa pijakan kak, mirip potongan balok kayu. Persis
banget kayak acara TV Benteng Takesi aja.
“Mbak Ela cepetan lah!” teriak Salsa dan Nilam bergantian
ketika melihatku tidak berani juga melangkah.
“Takut x El Miiii. Jauh nih jaraknya,” jawabku sambil tetap
dalam posisi kuda-kuda. *kuda yang nggak berani melompat, ehhee.
“Moza aja bisa, masa koe nggak bisa?” teriak mami pula
sambil mengejek. Moza ketawa namanya disebut begitu.
“Lewat sana haaa Mbaak,” kata Alfi sambil menunjuk jenjang
yang lebih sempit.
Akhirnya, aku bisa juga menyebranginya. Huft! Melegakan
sekali pemirsa. Kalau Rini tahu, dia pasti akan bilang, “Makanya, kakinya
jangan pendek gitu.” *tega dia pemirsaaa.
***
“Wiiiihhh, di sini nggak kalah banyak sampahnya!” kata mami.
Sebenarnya, aku juga sudah mengeluhkan hal yang sama ketika
baru memasuki taman kota ini. Adek-adek pun sama komentarnya. Memang luar biasa
banget nih sampahnya; separah-parahnya sampah yang pernah ku lihat selama
berkunjung ke sini.
“Beuhhh! Bauk apa lagi ni?” kata mami ketika kami sudah
duduk melingkar di atas semen bundar, membelakangi pohon kelapa.
“Huweeek! Paling-paling bauk sampah busuk inilah Mi.”
“Lam, kalau kayak gini kondisinya, siapa yang mau
disalahkan?” tanyaku kepada Nilam sambil menunjuk tebaran sampah-sampah.
“Petugas kebersihannya pun ntah mana. Kan ini tugas mereka.”
Aku berfikir, mungkin pemikiran Nilam inilah pemikiran
masyarakat kebanyakan; menganggap bahwa menjaga kebersihana itu adalah
tanggungjawab Petugas Kebersihan.
“Kok nungguin mereka membersihkan pula? jadi, kalau mereka
nggak kerja, kita pun nggak akan mau menjaga kebersihan?”
“Mereka kan digaji memang untuk itu Mbak.”
Lagi-lagi aku berfikir, mungkin pendapat Nilam ini pun adalah
yang difikirkan banyak orang.
“Lam, menjaga kebersihan ini adalah tugas semua orang.
mentang-mentang udah ada petugasnya, nggak berarti juga kita bisa seenaknya
buang sampah. Mungkin, bupati kita sedanga menyindir kita untuk mencutikan
petugas itu hari ini supaya kita tahu betapa nggak enaknya hidup bareng sampah
gini. Ini taman kota, tapi jadinya kayak tempat pembuangan sampah aja.”
“Tong sampahnya pun nggak disediakan, wajarlah kalau orang
malas buang sampah ke tempatnya.”
Aku celingukan ke kiri dan ke kanan, berusaha menemukan tong
sampah supaya bisa mematahkan pendapat Nilam barusan.
“Ha, ha, ha. Emang nggak ada kan tong sampahnya?” sindir Nilam lagi.
Aku mulai keheranan dan tak habis fikir terhadap 2 hal
sekaligus.
“Iya ya Lam. Mana tong sampahnya?” aku masih terus
mengedarkan pandangan. “Nah, itu di belakang kita ada 1 tong sampahnya!”
“Yah, cuma 1 aja. Itu pun udah penuh.”
Nilam benar. Pemikiran polosnya itu kini setengahnya ku
iyakan. Ada ketimpangan tanggung jawab dan kepedulian dalam kasus ini.
*alangkah lucunya negeri ini.
Setelah makan gulali itu, tenggorokan jadi haus. Untung aja
masih ada stok 2 Aqua gelas di dalam tas.
“Eh, kalian nih foto-fotolah sana. Kalau nggak mau ya udah
kita pula aja yuk?”
“Kan biasanya Mami juga ikutan foto,” jawabku.
“Males ah, panasnya teng-tengan (baca: terik banget) ini.”
“Ya udah yuk, Kodok kita foto-foto ke sana!” ajakku kepada
adek-adek.
Aku mengajak mereka ke dinding-dinding penuh relief di
pinggiran taman kota ini. Gantian, kadang Nilam dan Salsa yang ku foto, kadang
Nilam saja dan kadang aku yang difoto.
“Keleppiiii, fotolah sana!” teriakku kepada Alfi yang hanya
memandangi kami saja. Tapi, dia menggeleng. Ternyata Moza nggak ikutan ke sini
juga. Tapi, ah biarlah dia nemenin mami aja.
“Kalau gitu, tolong fotoin kami bertiga ya Keleppiii!”
Alfi nurut. Dengan sabar dia menjepret-jepret kami yang
nggak nanggung narsisnya ini. *Siapa dulu gurunya? Hehe.
“Eh, kita ini belum pernah foto di depan rumah kita ya?”
“Iya yaa Mi..” jawabku. Padahal, kemarin di hari pertama
lebaran, kamera dibawa sholat ied. Kan, seharusnya setelah pulang sholat ied,
bisa berfoto bersama dulu di depan rumah. Hoawalahh, nggak kefikiran pula
kemarin. Hiksss. *aku menyesal karena ceroboh terhadap hal yang 1 ini
pemirsaaa.
Mami sudah bergerak duluan meninggalkan kawasan taman kota
sementara aku baru mulai menyalakan mesin motor ketika Cilicil dan Kelepi naik
ke atas motor. Baru saja berjarak 30 meter, mesin motor ini agak tersendat
seolah akan mati.
“Lah, Mbak? Ini kok kayaknya mau habis bensinnya ya?” tanya
Alfi.
“Iya nih. Wah gawat!”
“Cepet digas Mbak! Kita cari tempat jual bensiiim,” pekik
Salsa.
Aku menggas lebih kencang motor ini supaya kalaupun mogok,
udah terhenti di depan tukang jual bensin. Tapi sayangnya, setelah ku putari
kembali kawasan taman kota ini, nggak juga ku temukan si tukang bensin. Kok
bisa ya di tengah kota gini nggak nemu? Aku mulai bergerak ke jalan perdagangan
di samping kantor Bupati. Terus saja aku melaju sampai terhubung dengan jalan
Bulan.
“Ya Allah, tolong kami. Jangan sampai motornya berhenti di
tempat yang sepi.”
“Ummi mana sih! Ngebut kali puun!” keluh Salsa seperti akan
menangis.
Untungya motor masih bisa diajak kompromi sejauh ini. Pandanganku
tajam melihat sekeliling, tidak ingin melewatkan 1 penjual bensin pun.
“Isss, kok nggak ada sama sekali yang jual sihhh?!” gerutu
Salsa. Aku pun demikian. Tapi, hanya ku gerutui di dalam hati, karena aku udah
sangat deg-degan; khawatir kami harus mendorong motor.
Jalan Bulan cukup panjang. Tapi, kami sudah hampir tiba di
ujung belum juga ngelihat si bensin nongkrong di pinggir jalan. Kios-kios di
pinggir jalan tempat bensin di jual sih banyak, tapi bensinnya kosong. Hiskss.
“Mbak! Itu diaaaaa!” teriak Alfi.
Aku segera menepi di salah satu rumah etnis tionghoa.
“Berapa liter?” tanyanya.
“2 liter.”
“Hampirr aja kejadian!” kata Salsa dengan lega.
“Untung aja Mak Uwo tadi udah ngasih uang ya,” kata Alfi. Ia
segera menyerahkan uang Rp 100.000 kepada ibu itu dan memperoleh kembalian Rp 82.000.
***
Di perjalanan pulang,
“Mbak, ini sebenarnya NEGERI SERIBU KUBAH atau KUBU sih? Aku
lupa.” tanya Salsa. Dia pasti teringat dengan ukiran berwarna kuning emas
berlatar hitam di pangkal Batu 6 tadi.
“KUBAH,” jawabku.
“KUBU nggak Mbak?” tanyanya lagi. Bandel.
“KODOK ajalah!”
“Hhehe… Seriuslah Mbak, c epet!”
“KUBAH loh Cilicciilll.”
“Kubah itu apa memangnya?”
“Itu loh yang di atas atap mesjid.” Tapi, aku khawatir
jawabanku nggak sepengertian dengan Salsa. “Yang bentuknya kayak payung di atas
atap masjid itu. Tahu kan Cil?”
“Ooohh, tau-tau.”
Kami sudah sholat Zuhur di masjid Khairunnas tadi. Inilah
masjid tempatku dan Nilam ngadem ketika menunggu bu Zur kembali ke rumahnya.
Selalu ada hal yang membuatku miris ketika sholat di masjid bagus itu; wudhunya
harus di luar dan itu terbuka+menyatu dengan tempat wudhu cowok juga. Tadi
sempat sih mau wudhu di dalam toilet aja bareng mami setelah buang air. Tapi,
kran airnya malah mati. akhirnya kami terpaksa berwudhu di luar karena nggak
sah rasanya kalau pakai air bak yang ntah udah kecipratan apa gitu.
“Bang Alfi ngomongnya jangan dekat-dekat ngapa! Bauk telur
busuk naaa mulutmuu! Nanti aku muntah lagi kayak kemarin!” pekik Salsa di atas
motor yang melaju ini.
“Mana ada lagi aku makan Tapai hari ini Sal. Kalau makan
itu, baru iya mulutku bauuuk,” jawab Alfi.
“Alaaahheee, sama aja nyooo,” balas Salsa lagi. Aku tahu
sekarang dia tengah menutup hidungnya dengan jilbabnya. Tadi, ketika berangkat,
Alfi mengatai jilbabnya Salsa itu nggak cocok dengan baju cantik yang Salsa
pakai karena terkesan seperti jilbab untuk main. Tapi apa tanggapan Salsa?
“Biarlah Bang. Yang penting hepiiii.” Hahaha, aku saja geli mendengarnya.
Salsa dan Alfi terus saja berbual dalam kemudiku. Kadang
mereka berantem, kadang tertawa, kadang mengejekku dan kadang saling
ejek-ejekan. Aku mendengar semuanya, tapi aku hanya diam saja. Bukan karena aku
berpura tidak mengerti, tapi karena aku berfikir kadang ada hal-hal yang mesti
dinikmati dan disenyumi. Sedangkan kita memposisikan diri sebagai pengamat dan
penikmat saja dalam momen itu.
Aku menggas motor agak laju karena tadi keduluan oleh Nilam
dan aku mengira mereka pasti sudah lebih dulu sampai di rumah. Tapi, ternyata
yang terjadi kebalikannya,
“Loh? Ummi mana? Kok belum sampai?” tanya Salsa ketika kami
sampai di halaman rumah.
“Iya ya. Bukannya tadi mereka udah duluan?” tanya Alfi.
“Ah, jangan-jangan mampir ke rumahnya Alya nih,” tebak
Salsa.
Kami duduk-duduk di bangku santai di bawah pohon mangga. Ada
Dewi dan 3 anak-anak lainnya.
“Kami mau balas dendam haa Mbak Elaa.”
“Balas dendam sama siapa?”
“Kemarin kami waktu ke Bagan Batu dilempar sama telur busuk.
Huyaaahh, bauk kali baju kami kemarin Mbak. Sekarang, gantian telur ini yang
melayang!” kata Dewi sambil melirik telur di genggaman tangannya.
“Loh? Kau mau balas dendam tapi kan mereka belum tentu yang
melempari kalian kemarin Wi?” tanyaku keheranan.
“Ah, tak peduli doh! Yang penting aku balas dendam.”
Aku terbengong. Nggak ngerti dengan jalan fikirannya
anak-anak ini.
“Iya, aneh naa Dewi niii. Jangan sembarangan ngelempar mobil
orang Wi. Nanti kau dimarah,” kata Salsa pula.
Salsa duduk di sampingku dan aku merebahkan kepala di
pangkuannya sehingga mukaku kena perut buncitnya yang menggemaskan itu.
“Aneh kali kau ni Wi! Jangan sembarangan gitu!” timpal Alfi
pula. Tapi, sayangnya orang yang diteriakiinya itu sudah tak mempedulikan
nasehat itu dan sudah beranjak pergi.
“Mbak Ela, udahlah Mbak. Awaslah, aku mau pergi dulu!” kata
Salsa karena risih perutnya ku cium-cium. Hehe.
“Eh, Abi ada di rumah ya? Coba buka pintunya Fi? Bisa
nggak?”
Ketika pintu terbuka, aku beranjak masuk. Tapi, belum
sempurna pintu ku tutup, aku menoleh lagi ke jalan raya dan terlihatlah Nilam
dan Mami yang baru aja nyampek.
“Kami tadi main ke Ar-Ridhoo duluuuu,” kata mami.
“Ngapain ke sana Mi?” tanyaku. Aku kembali membuka pintu.
“Ya lihat-lihat aja. Penasaran gimana sih kampusnya?” jawab
mami sambil masuk ke dalam rumah. Disusul Moza dan Nilam.
“Dan, ternyata?”
“Bagus sih gedungnya. Tapi, gersang kali.”
“UIN kayak gitu juga Mi. Bangunannya bagus-bagus, tapi
gersang. Yang ademkan UNRI boookkk. La jadi?”
Kami semua berbaring di atas karpet bludru di depan TV,
kecuali Alfi dan papi. Lama kelamaan, kami tertidur sangat lelap karena
kecapean. Apalagi sepoy-sepoy dari kipas anginnya kagak nahan boook!
***
“Bakso, baksooo… siapa yang mau Bakso?” teriak mami dari
dapur. Mami dan Moza sejak jam 5 tadi
pergi ntah ke mana dan tiba-tiba pulang dengan membawa bakso.
Kami langsung menyerbu dapur
“Nggak ada Mie Ayam Mi?” tanyaku.
“Ini lagi, nanya-naya barang yang nggak ada. Tadi kan udah
makan Mie Ayam juga.”
“Beli di mana Ummi ni?” tanya Salsa.
“Di Tanah Merah. Tadi sebenarnya nggak ada niat ke sana,
tapi karena tiba-tiba pengen Bakso, ya
udahlah langsung tancap,” jawab mami.
“Hemmm… nyam-nyam-nyam. Enaknyaaa,” kataku ketika mengunyak
Baksonya.
“Enakan ini atau yang dulu pernah koe beli sama Kak Har itu
Sal?”
“Enakan ini,” jawab Salsa, tak terlalu meyakinkan.
“Ya iyalah, yang dulu kan udah nggak terasa lagi ya?” sindir
mami. “Menurutku nggak enak ni!” kata mami.
“Mendinganlah ini daripada yang di Batu 6 tadi Mi. Jauh!”
“Menurut Mami enakan ini atau enakan Miso yang di Batu 6
tadi?” tanya Nilam.
“Enakan yang di Batu 6 lah,” jawab mami.
“Ih, mana pula Mi! Hambar gitu. Makanya El bilang Ibu itu
kayak nggak niat jualan.”
Walaupun ada yang berpendapat bakso ini kurang enak, tapi
nyatanya nggak ada yang bersisa di mangkok kecuali mienya Moza. Heheh.
Usai sholat maghrib, aku langsung mencuci piring dan
mengepel dapur. Aku ingat banget dengan betapa rajinnya sosok kak Jayu. Dari
penampilannya aja aku bisa melihatnya sebagai orang yang sangat pembersih. Dari
wajahnya, dari pakaiannya, dari giginya yang terlihata ketika ngomong. Hemm…
dia pasti nggak pernah ngasal-ngasalan kalau kerja.
***
“Eh, siapa yang nelvon ini Mbak?” teriak Salsa ketika HPku
berdering.
“Yuhuuuuu?” kataku ketika mengangkat telvon.
“Heh, pasti si Cek itu!” kata Nilam.
“Cek apa kabar?” tanya Okta.
“Baik Cek. Bububuyu ya?”
“Bububuyu yaa. Kok Cek nggak ada ngucapin maaf lahir bathin
sih sama Okta? Emang Kakak durhaka nih cek!”
“Udah tapi kemarin?”
“Kapan?”
“Sebelum puasa, ehhe. Heleeh, Okta pun nggak ada kok ngucapin sama Kakak.”
“Ya udah, Okta ucapin sekarang ya. Cek, maaf lahir bathin
yaa?”
“Yuhuuuu… Eh, kok ribut banget sih Cek? Sedang di jalan ya?”
“Iya. Okta baru aja ngantar Abang Okta. Dia balik ke Padang,
tapi motornya Okta yang bawa. Jadi, besok waktu ke Pekanbaru, Okta bawa motor
Ceeek.”
“Sihiyyy, bisa jalan-jalan donk. Bububuyu ya?”
“Yah, Cek, Okta ke Pekanbaru tanggal 21 loh. Nggak bisa
jumpa deh kita. Setelah Agustus baru kita bisa jumpa lagi ya?”
“Iya. Bulan September. Dan, waktu Adek selesai KKN, Kakak
udah nggak ada lagi.”
“Heleeeh, penelitian aja belum. Masih jumpa nyo kita! Tak
ada tuh dooo. Mengapo kau ko?” Kata Okta dengan logat Bagan lagi.
“Cek, katanya Nilam kangen sama kamuuu,” kataku sambil
melirik Nilam yang kelihatan geli mendengarku ngobrol dengan Okta.
“Hiiiii,” kata Nilam.
“Cek, coba tanya sama Adek-adek Cek, ‘Kalian stress nggak
punya Kakak kayak Mbak?’ Coba Cek.”
“Heey, kata si Cek dia mau tanya, ‘Kalian stress nggak punya
Kakak kayak Mbak?’,”?
“Streeesss kaliii,” jawab Nilam, secepat kilat. Mami pun
ikut-ikutan. Hihii. Okta ikut tertawa mendengarnya.
“Cek, Mami apa kabar? Dia pasti makin cantik kan?”
“Iya donkk. Anaknya juga cantiiik. Mau ngomong sama Mami
nggak?”
“Nggak Cek. Takut. Nanti Okta dimarah sama Mami. Ehhe. Eh,
Cek, Mami Kakak kayak gituuu makanya anaknya kayak gini ya? Hehe. Okta
penasaranlah sama Papi Kakak. Gimana ya orangnya?”
“Pendiam kali dia Cek. Beda kali sama Mami. Eh, Cek Kakak
Vi*in putus ya sama pacarnya?”
“Itulah Cekkk, Okta pun penasaran loh. Akhir-akhir ini
status dia memang agak melo gitu. Bububuyu yaaa.”
Tak ada suara lagi. Hening. Aku fikir Okta sedang mencari
tempat yang lebih tenang untuk bicara. Tapi, ku panggil-panggil, tetap aja
nggak ada suara. Akhirnya, telvon ku matikan. Ku tunggu beberapa menit, tapi
nggak ada panggilan ulang dari Okta.
Cek?
Aku mengSMSnya. Tapi, tetap aja hening. Ah, paling-paling
Okcek kehabisan pulsa tuh.
Melihat keceriaan
abadi Oma-Opa ini membuatku ingin bertanya, “Mungkinkah jodoh bisa ketukar?”
Sihiiiyyy, keren
Dek. Tulislah di blog. Apalagi?
SMS dari Teguh itu membuatku teringat dengan filmnya Raditya
Dika. Dia bilang cinta itu bisa kadaluarsa. Dan, aku sempat percaya.
Kepercayaan itu ku dapat dari hikayat perasaanku sendiri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar