Sabtu, 18 Juli 2015

Lebaran ke-2; Kita Harus Terus Bersama, Mii



“Hooaaammm… udah jam setengah limaaa,” kata mami.
Aku ngehnya setengah 5 itu adalah setengah 6. Busyeet dah, udah pagi banget. Kok bisa nggak ada yang sadar ya untuk bangun?
Tapi, aku lihat mami masih belum bergeming di atas sofa. Bah, ntah sejak kapan pula mami pindah tidur di atas sofa itu? Lampu juga belum dinyalakan oleh mami dan kami pun belum dibangunkan. Ah, aku nunggu dibangunkan mami aja deh! Hoaammm…
Dan, ternyata benar aku tertidur lagi. Aku terbangun ketika papi menghidupkan motor dan pergi ke mesjid bersama Alfi. Hemmm, berarti tadi itu bukan setengah 6, tapi setengah 5 dan mami hanya memberi aba-aba saja. Huaaahhh..
Aku udah berwudhu duluan dan bahkan udah batal lagi gara-gara nungguin adek-adek yang susah banget dibangunin. Diam-diam, aku coba mengaktifkan hot spot dari HP papi untuk tattering wifi. *mumpung orangnya sedang sholat, eheeh. Tapi, ntah kenapa nggak juga berhasil terbuka tuh blogku. Aku coba buka FB, juga nggak terbuka padahal udah nyambung wifinya. Akhirnya, ku restart laptopku, barangkali laptopku yang ngambek. Eh, ternyata masih nggak mau juga. Aku chek *889# untuk mengechek bonus data yang papi punya, eh banyak kok! Karena sebel, akhirnya ku matikan laptopku.

“Pi, tadi El coba hidupin wifi HP Papi tuh, tapi kok nggak bisa terbuka ya webnya? Padahal udah terkonek kok dengan laptop,” tanyaku setelah papi pulang.
“Udah dihidupkan belum paket datanya?”
“Loh, itu bukannya tinggal dipake aja ya Pi?”
“Nggak. Ada yang harus diaktifkan dulu.”
“Hemmm…pantesaaan.”
elysarizka.blogspot.com, ku masukkan alamat itu ke pencarian, tapi leletnya luar biasa. Terus, ku buka FB, eh cepetnya bukan main loadingnya. Aku cari ide gimana caranya new entry di blogku bisa terbuka tanpa harus log in dari awal. Dan, ku bukalah menu bar history, ku pilih riwayat new entry blogku di sana. Alhamdulillah, ideku manjur. Mulailah aku mengupload beberapa tulisan yang udah rampung.
Teguh udah lama banget nih pengen baca! Dalam hatiku.

***
“Pi, ini paket datanya sampek jam berapa?”
“Jam 8,” jawab papi dari ruang tamu.
Baguslah kalau begitu! Aku masih bisa melanjutkan kegilaannku ini. Ada beberapa informasi penting yang ku lihat di FB dan beberapa tulisan yang ku update di blog.  Ada sebuah rasa penasaran ketika membaca status seseorang di FB yang serupa ini, Selamat lebaran ya. Mohon maaf lahir dan bathin, kadang diakhiri dengan namanya dan diikuti label ‘keluarga besar’. Lalu, pertanyaannya adalah, “Benarkah dia menuliskan itu dari hatinya dengan penuh kesadaran? Ia meminta maaf kepada semua orang, berarti dia pun sudah melakukan hal yang sama kepada semua orang, bukan?” Dan, kalau kalimat itu ditulis oleh seseorang yang aku tahu tidak menyukaiku, pertanyaan itu akan bertambah menjadi, “Benarkah statusmu itu pun kau tujukan kepadaku? Tapi kenapa sikapmu tak mencerminkannya?”
Ah, syudahlah pemirsaaa! Aku nggak mau sedih lagi gara-gara hal demikian. Itu hanya luahan pertanyaan yang aku fikir itu unik dan datangnya nggak setiap saat.
Biasanya, kalau di kosan, kapanpun aku mau nulis ya tinggal buka laptop aja. Kalau di sini, mana bisa kayak gitu. Aku harus menyesuaikan diri; kalau sekiranya aku nggak ‘diperluin’ barulah aku menulis ria. *yaaaa, gicuu dehh. Aku mengecheck apa yang sedang mami kerjakan di dapur. Siapa tahu butuh bantuanku. Tapi, ternyata ada Nilam di sana dan mami sedang motongin sayuran. Hemm, berarti aku bisa kembali ke hobiku lagi nih, hehe.
Dek… udah mak up date tuh. Baca ya...
Sent to Teguh
“Piii? Udah nih HPnya.. matiin aja wifinya,” teriakku kepada papi. Tapi, papi ntah di mana. Ketika ku check ke dapur nggak ada, ke kamar nggak ada, eh rupanya udah tidur di ruang tamu toh! Melongo pula tuh tidurnya. *jangan lewatkan momen unik ini hehe, 2 jepretan untuk 2 sudut pandang.

***
Setelah sarapan, mami langsung nyuci baju dan aku langsung beresin rumah. Diam-diam, ku foto mami yang sedang nyuci di kamar mandi dan duduk di bangku kecil membelakangiku. Aku sedih banget; Masa ketika aku di rumah, masih mami juga sih yang nyuci baju? Tapi, mami memang melarangku karena katanya hasil cucianku nggak bersih dan nggak memuaskan. Hiksss.
“Aiii Mi? Sejak tadi baru dapat segini cuciannya? Telaten banget sih nyucinya Mi? Kalau El udah selesai sejak tadi tuh! Karena cuma dikucek-kucek dikit aja, yang penting bau air. Ehhe.”
Mami memang begitu; teliti banget dengan cucian. Tetangga aja kalau dengar mami nyuci sampai bilang, “Kok marem tenan ngerungukke koe nyuci Mbak (kok  mantap kali  suaramu nyuci baju itu Mbak).” Mungkin, kuman-kuman pun pada mudik kalau udah kena kucekan tangan mami, ehhe. 

Aku pernah bilang  ke mami untuk beli mesin cuci aja. Tapi, mami bilang nggak puas dan nggak yakin dengan hasil kerja si mesin. Lagian, apalagi kerjaan di rumah nanti kalau semuanya dicuci pakai mesin? Gitu kata mami. Hemm… kalau udah mami yang ngomong sih aku yes aja pemirsaa.
Setelah beres-beres, aku mengambil laptop dan duduk di sebelah kanan motor baru dan 2 meter dari toilet, tempat mami nyuci.  Apalagi kalau bukan untuk nyuri waktu mengetik? Nah, yang harus pemirsa ketahui dari kebiasaanku di rumah adalah; aku nggak bisa jauh-jauh dari mami, mungkin paling jauh itu hanya 10 meter saja. Kalau bangun tidur siang, biasanya pertanyaanku  pertama kali adalah, “Mami manaaa?” atau kalau di sekitarku nggak ada orang, aku akan teriak, “Mamiiiiiiiii?” hehe. That’s me!
“Jadi, kamu itu sedang ngangsur nulis SKRIPSI?” tanya papi sambil ngelap-ngelap motor baru.
“Mana pula Pi. Orang bimbingan aja belum pernah.”
“Jadi sebenarnya tujuannya nemuin dosen itu apa sih?”
“Ya, sebenarnya nggak ada sih Pi. Cuma ngobrol-ngobrol aja, nanyain kabar, nanyain kesibukan. Ya gitu aja,”jawabku. Tentunya itu bukan jawaban serius.
“Kalau memang tak ponting, usah leeeh nemuin-nemuin terus tuuh! Tulis aja sampai selesai, barulah nanti ketemu minta tandatangan sambil ngasihkan uang Rp 200.000.” Papi dapat referensi untuk menyongok dengan uang Rp 200.000 itu karena semalam baru dapat bocoran bahwa temanku yang kuliah di Pekanbaru juga ada yang kayak gitu.

“Heleeh, mana mau Bapak tu kayak gitu Pi?”
“Siapa tahu El? Jangan-jangan koe aja yang terlalu polos, eh ternyata kejadiannya emang kayak gitu.”
Aku berfikir sejenak, “Ah, tapi El yakin dosen El nggak kayak gitu deh Mi.”
Mami tiba-tiba nyuci tangan dan kakinya, padahal aku lihat cucian belum siap.
“Duh, nggak sanggup lagi rasanya nih! Mau muntah rasanya. Pusing kali,” kata mami, gemetaran.
“Mami kenapa? Biar Ela aja yang nyuci. Tu kaann, bandel. Maunya biar Ela aja yang nyucii, Mami nggak percaya sih sama Keweng-keweng (baca: Ela).”
“Iya, takutnya nggak bersih,” sambung papi.
Aku segera mematikan laptop dan meletakannya di ruang ke luarga. Aku masuk ke kamar mami untuk melihat keadaannya.
“Kok tiba-tiba sakitnya Mi? Tadi waktu sarapan masih baik-baik aja kan padahal?”
“Sebenarnya sejak ke Tanah Merah waktu diboncengmu kemarin udah nggak enak badan rasanya,” jawab mami dengan mata tertutup.
Sejak ke Tanah Merah? Itu kan puasa hari terakhir? Berarti udah sejak 3 hari yang lalu mami sakit. Ya Allah, itu kan lama ya Allah. Hiksss. Jaga mami ya Allah. Sehatkan tubuhnya.
“Udah pake fekeng (baca: Freshcare, dialeknya Moza kecil) Mi?”
“Udah pake minyak cap kapak.”
Aku menyelimuti mami sebelum ke luar menuju cucian.

***
Dalam waktu kurang dari setengah jam, aku sudah menyelesaikan semua cucian. Nilam membantuku membilas pakaian sekaligus menjemurinya. Aku buru-buru mandi dan berbaring di sisi mami.
“Mami mencret ya Mi?” tanyaku.
“Iya, udah 8 kali nih.” Tak lama setelah mami menjawab pertanyaanku itu, ia kembali masuk ke toilet.
Begitu ke luar, ia langsung menyuruh kami, “Eh, kalian mainlah ke rumah bu Sumini sana. Tempat Dona apa, tempat Nek Hasyim juga sana.”
“Nggak mau Mi. Mami sedang sakit, masa kami pergi? Kami maunya pergi sama Mami. Kita harus susah senang sama-sama Mi. Pergi sama-sama, nggak pergi ya harus sama-sama juga.” kataku.
Mami kembali masuk ke toilet. Aku sedih. Ya Allah, kalau boleh aku meminta ditukar, aku ingin sakitnya mami ditukar denganku saja? *oke pemirsaa, ini emang persis banget kayak yang di TV-TV rusak itu, tapi percayalah ini adalah reality show. Ah, daripada aku semakin sedih, lebih baik aku segera sholat Dhuha untuk mendoakan mami.

“Ya Allah, sehatkan mami-papiku hingga akhir hayat mereka. bahagiakanlah mereka dan sejahterakanlah kehidupan dunia dan akhirat mereka. Lagi-lagi hamba memohon, jika benar pahala bisa dilimpahkan alias diatasnamakan, maka biarlah seluruh pahal yang ku punya ini ku berikan kepada mami dan papi. Biar aja Ela cari pahala yang baru lagi ya Allah.“
Usai sholat Duha, aku kembali berbaring di samping mami.
“Eh, dibilang pergilah sana nggak pergi juga ini orang!”
Salsa masuk ke kamar dan ikut-ikutan tidur di sampingku dan mami.
“Kalau gara-gara penyakit ini Ummi meninggal barulah kalian mau pergi ya?”
“Alahee, Ummi ni haa ntah ngomong apa!” kata Salsa.
“Semakin nggak mau pergi El!”
Mami lalu masuk lagi ke dalam toilet.
“Mbak, ayuklah kita pergi Mbak! Kasihan naa Ummi Mbak,” desak Salsa dengan rengekan.
“Apalah koe ni? Udah tahu Mami sakit, malah semangat pula pergi. Sendirian na Sal Ummi di rumah nii.”

“Udahlah ayoklah cepat kita pergi Mbaakk!” rengekannya semakin menjadi-jadi. Saranku barusan nggak jadi pertimbangannya.
Akhirnya aku pasrah kepada paksaan Salsa. Aku mengajak Nilam, Moza dan Salsa untuk cepat bersiap-siap. Ternyata bersiap-siap pun nggak bisa cepat siap karena adek-adek ini minta dipakein eye liner 1 per 1. Huaaahh, padahal akunya aja nggak kefikiran mau pakai itu.
“Mbak, pintu kamarnya dikunci sama Ummi ya dari dalam?”
“Ntahlah. Coba dibuka lebih kuat lagi!” jawabku.
Positiflah sudah bahwa mami memang mengunci pintu kamarnya dari dalam, supaya kami benar-benar pergi dan nggak masuk-masuk ke kamar, mungkin. Firasatku sempat nggak enak dan parno sendiri dengan tingkah mami ini. Kalau mami memang mau pergi, kenapa dia nggak membiarkan kami tetap di sisinya ajaaaaa? Pekiku dalam hati. Ya Allah, jaga mami. Itu saja pintaku.
Ada suara motor berhenti di halaman rumah dan setelahnya berucaplah Assalamualaikum dari teras.
“Lam, bangunin Mami. Ada tamu bilang Laaa!”

Mami bangun dan setelah pintu dibuka, ternyata yang datang adalah rombongannya om Giyat, tukang dodos sawit keluarga kami. Hemmm… kalau kayak gini, nggak mungkin kan kami jadi pergi? Hehe, terimakasih ya Allah yang udah mengirimkan om Giyat dan keluarganya sehingga mami ke luar dari kamar dan kami nggak jadi meninggalkannya.
“Elysa makin gemuk ya Mbak?” tanya bu Ati, istrinya om Giyat. “Kok bisa gemuk El?” tanyanya kepadaku pula.
“Ntah nih Buk. Padahal kalau dibilang gara-gara congok makan, sejak kurus dulu pun memang udah congok nyaa!”
“Gimana nggak gemuk Mbak, lihatlah udah berapa banyak yang dia makan sejak duduk tadi?”
Aku baru nyadar kalau sejak om Giyat datang tadi, aku udah minum Soya, makan Peyek dan Jeruk. Hehehe.
“Kalau Salsa memang waktu kecilnya pun badannya gemuk  ya Mbak, Nilam pun nggak kurus-kurus kali sejak dulu.”
“Iya, yang kurus kali ya cuma Moza ini. Belum pernah gemuk sejak kecil. Kan yang kembang kempes ya memang cuma Ela ni aja. Waktu SD kurus kali, kelas 5 sampai SMP gemuk, waktu SMA kurus lagi sampek kuliah. Nah, sekarang udah hampir selesai kuliah ini gemuk lagi. ” jelas mami.
“Melembung Buk, kayak balon, hehe,” kataku.


***
Benarlah kiranya bahwa tamu itu kedatangannya membawa rahmat dan kepulangannya menghapus dosa penghuni rumah. Alhamdulillah, setelah om Giyat pulang, mami udah nggak lemas lagi. Bahkan, mami ngajak ke rumah bu Sumini. Mungkin mami geram, karena daritadi nyuruh kami pergi tapi kami nggak pergi-pergi. Tapi, kali ini kami yang senang, karena inilah yang kami ingini; Perginya bareng mami.
"Riko wes mangan? Aku nggawe pecel kae neng burii?" (Mbak udah makan? Aku bikin pecel di belakang tu.)
Ya Allah, aku rindu dengan suasana yang hangat seperti ini. Obrolan berbahasa jawa yang ringan dan nggak ada kesombongan sedikitpun. Obrolan ala orang-orang desa, tapi luar biasa dalam kesederhanannya. Aku rindu mendengar bu Sumini, bu Iram dan mami ngobrol seru. Kadang, yang dibicarakan itu sepele, yaa..hanya pertanyaan sederhana seperti 'Masak apa? Udah nyuci baju belum? Mau ke mana hari ini?' tapi justru hal-hal sepele seperti ini yang kini semakin langka adanya. Sekali lagi, tidak ada kesombongan, tidak ada kedengkian dan yang ada hanya kehangatan. Siapa yang tidak rindu kalau begini?

Setelah zuhur, kami langsung capcuss ke rumah bibik Saunah dan ke Trans; ke tempat kak Nini, Alm. Puput, Kakek Wakidi dan Mbak Dewi. Sempet jumpa kak Jayu, sempat ngobrol dan sempat lihat 'calon'nya yang kebetulan sedang lebaran ke rumahnya. Jujur, kalau udah lihat teman bakal nikah, semakin segan mau ngajak dia jalan-jalan dan gila-gilaan kayak dulu. Everything becomes different.

Dan, hal yang sudah bisa dipastikan sejak lebaran pertama kemarin adalah.......
"Ya ampuuunnn.. Elysa kok tambah gemuk ya sekarang? Pipinya temben kaliii." Yap, itu yang selalu dikatakan orang-orang setiap kali bertemu denganku. Salsa dan Alfi sampai berancang-ancang setiap kami bertamu, "Tunggu aja bentar lagi, pasti Mbak Ela bakal dibilang gendut lagi." *GLEK!!!

"Eh, kita mampir dulu yuk ke tempat Panji? Lebaran dulu kita ke sana," tanyaku ketika kami akan melewati pekuburan.
Aku fikir, Alfi atau Salsa bakal takut. Tapi, justru... "Ayuukkk! Kuburannya Mas Panji yang mana Mbak?" tanya Alfi yang ku bonceng.
"Itu Bang, yang kayunya tinggal 1, dekat kuburan yang ada rumahnya ituu," kata Salsa.
Assalamualaikum ya Panjiii...
Kataku ketika melewati kuburan dek Panjiii.

Tidak ada komentar: