Senin, 13 Juli 2015

Ramadhan ke-26; Home Sweet Home

Aku terbangung sebelum alarmku berdering, karena suara gaduh. Lagi-lagi, abang dan kakak kos berseteru dijam ini. Suaranya sampai mengusik siapapun yang sedang terlelap di rumah ungu ini.
Setelah Tahajud, aku mendadar 1 butir telur yang sengaja ku beli setelah sholat Tarawih.
Selamat sahur terakhir di Pekanbaru ya Mak.
Teguh nggak tahu kalau aku berencana untuk pulang hari selasa. Tapi, SMSnya barusan seolah punya ‘energi’ dan membuatku bertanya kembali, “Benarkah aku memilih pulang hari selasa? Atau jangan-jangan doa Teguh ini akan menjadi kenyataan?”
Setelah telur dadar matang, aku meniriskannya ke dalam piring. Untung aja sebelum tidur, aku nggak lupa memasak nasi. Hemmm, kalau sempat lupa, syudahlah pemirsaaa!
“Yuhuu Mi?” mami menelvonku. Seperti biasa, ia ingin memastikan aku sudah bangun.
“Udah bangun?”
“Udah. La jadi Mi?”
“Makan pake apa?”
“Pake telur dadar aja Mi. La jadi?”
“Ya udah, makanlah. Yupp. Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..”
Aku menyuap makanan ke dalam mulut dengan fikiran terpusat kepada keributan yang belum juga mereda di depan. Aku tebak, di teras TKPnya. Permasalahan apa gerangan yang menyulut keributan itu lagi ya kira-kira? Aku ingin sekali melerai atau menasehati kak Dewi. Tapi, how could? Dia nggak pernah cerita sama aku? Aku juga belum berkeluarga dan masih cocok kalau disebut anak ingusan. How how how? Tapi, kalau diam aja pun rasanya aku nggak bisa. Untung aja Fajri dan Ami tidurnya sangat lelap sehingga mereka tidak mendengar apa yang memang tidak pantas didengar ini.
Reni, di kamarnya mungkin sekarang pun sudah terjaga lantaran keributan ini.

***
Aku masih ragu. Okta, Vera dan Joni akan pulang hari ini. Reni pun kemungkinan besar iya. Kampus? Belum tentu pegawainya standby. Kalaupun standby, belum tentu semuanya bisa terselesaikan hari ini. Ya Allah, mohon berilah hamba petunjuk-Mu.
Ku raih map kuning dari bawah tempat tidurku. Ini adalah map yang selalu ku gunakan dalam perjuangan mengajukan judul tempo hari. Ku raih selembar kertas yang teletak paling atas, bertuliskan Persyaratan Calon Penerima Beasiswa Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir. Ku baca satu per satu persyaratan yang tertulis di sana. Oke, nggak ada masalah dari sekian banyak poin yang wajib ku lengkapi itu, tapi ada 1 poin yang ku garis bawahi; Melampirkan Surat Keterangan tidak mampu dari RT atau Kepala Desa setempat. Is that must be? For me?
Bismillah, aku yakin untuk tidak mendaftar beasiswa ini ya Allah. Akan ada rezeki yang jauh lebih baik dan mulia ketika aku lebih memilih untuk bertindak jujur. Insya Allah.
Aku menyengaja untuk tidak tidur lagi setelah sholat Subuh dengan nonton Comic Story. Sekarang sudah pukul 06.45wib. aku harus nanya ke Joni dan Okta, jam berapa mereka dijemput travel. Karena, kalau ternyata aku pulang jam 8.00wib, berarti sebelum itu motorku harus udah mereka kembalikan supaya ku masukkan ke dalam kamar.

Cek, jam berapa dirimu pulang ntar?
Pesanku tak berbalas beberapa menit kemudian. Tapi, Joni akhirnya menelvonku dengan suara parau, mungkin dia baru bangun tidur setelah ku miscall.
“Ada apa Cek?”
“Gini, Kakak kan berangkatnya jam 8, jadi motornya mau Kakak masukkan ke kamar dulu Cek.”
“Oh ya udah, kami ke sana ya sekarang. Taa… Okta, bangun Ta. Kita ke kos si Elis.” Joni pasti sedang membangunkan Okta di sampingnya.
Aku mematikan telvon.
Nomor Indah Karya baru saja ku terima dari mami. Ku coba menghubungi, tapi tak diangkat-angkat. Ah, mungkin karena ini masih jam 7 ya? Akhirnya, ku putuskan untuk membereskan kamar terlebih dahulu, menyeleksi barang-barang mana yang akan ku bawa dan merendam beberapa baju kotor.
08527827XXXX memanggil…
Ah, ini kan nomor Indah Karya tadi? Baik amat dia langsung nelvon balik, fikirku.
‘Hallo Kak? Mobil yang ke Bagansiapiapi pagi ini jam berapa berangkatnya?” tanyaku langsung.
“Jam 10 Kak.”
Huft, syukurlah karena aku tak perlu buru-buru. Makasih ya Allah. Mobil yang jam 8 udah penuh atau memang untuk hari ini yang terpagi adalah jam 10?
“Atas nama siapa ini?”
“Elysa Kak.”
“Dijemput di mana nanti?”
“DI Balam Sakti ujung ya Kak.”
“Oke, ditunggu ya Kak.”
Cek, eke dijemputnya jam 10 ternyata. Nggak perlu buru-buru ke sini kok Cek.
Setidaknya, mereka pun bisa bersiap-siap untuk sekaligus berangkat. Kasihan juga kalau motor itu cepat dikembalikan kepadaku dan selanjutnya mereka kesulitan geraknya.. Hiksss.. *I know that feel bro. So that I don’t wanna do that to you.

***
Mobil baru saja berhenti di rumah makan Kota Buana. Tapi, kali ini berbeda. Ini bukan tempat persinggahan yang biasanya. Ntah tempatnya yang memang berpindah atau tujuannya yang kini berbeda? Ntahlah! Lagian, aku tidak ada urusan dengan makanan itu kali ini. Aku segera berwudhu dan sholat Zuhur sekaligus menjamak sholat Ashar karena khawatir akan macet di Duri.
Subhanallah, pak supirnya juga sholat ya Allah.
Di depan sebelah kananku, aku melihat adek yang duduk di sampingku pun sholat. Aku terinspirasi untuk menjamak sholat Ashar adalah karena aku melihatnya 2 kali sholat 4 rakaat. Senang sekali rasanya ketika bertemu dengan orang yang cerdas plus sholeh seperti dia.
Setelah sholat Ashar, aku duduk di dekat parkiran mobil. Ada kak *** di sebelah kananku, berjarak sekitar 2 meter. Ah, dia tidak sholat ternyata. Ya Allah, gimana caranya aku mengingatkannya? Ehmmm… aku pernah bilang ke Rini begini, “Rin, kalau cowok nggak sholat, apa lagi alasan yang bisa menguatkan kita kalau kita bisa bahagia bersamanya? Allah aja dilawan perintah-Nya, apalagi kita?”
“Kak?”
“Ya Dek?”
“Adek boleh tukar tempat duduk nggak? Kakak yang dekat jendela, Adek yang paling tepi dekat pintu?”
“Oh, boleh Dek. Kenapa? Nggak enak ya di situ?”
“Sempit kali Kak tempat kakinya.”
Oke, akhirnya dari Duri hingga Bantayan, aku mengalah untuknya pemirsa. Nggak ada alasan untuk menolak permintaan dari anak baik seperti dirinya.
“Udah sampek juz berapa Kak?” tanyanya ketika aku baru saja membuka Al-Quran.
“Emmm..ini udah juz 26 Dek,” kataku.
“Insya Allah terkejar tuh Kak khatamnya.”
“Aamiin Dek.”
Sesekali, kalau merasa pusing, aku menghentikan bacaanku. Lalu, melanjtukannya lagi ketika aku merasa baik-baik saja. Lumayan kan kalau selama diperjalanan aku bisa menyelesaikan 1 juz?
Di Tanah Merah, aku menanyai gadis di sebelahku, “Dek, turun di mana?”
“Di Bagan Punak Kak.”
“Oooh. Tadi naiknya dari mana Dek?”
“Dari Kandis.”
“Aslinya tinggal di Bagan atau di Kandis nih?”
“Di Bagan Kak.”
“Jadi, di Kandis ngapain?”
“Sekolah Kak.”
Sebenarnya, bukan itu poin utamaku. Tapi, aku butuh pengantar sebelum sampai kepada tujuan.
“Adek puasa hari ini?” tanyaku. Hampir mengena, sedikit lagi.
“Saya bukan orang Islam Kak,” jawabnya sungkan.
“Oooh, gitu.”
Ah, akhirnya aku tidka perlu sampai kepada pertanyaan utamaku karena jawabannya barusan sudah menjawab apa yang menjadi tujuan.

***
Pukul 16.00wib
Aku sudah tiba di depan rumah. Papi dan Alfi melangkah ke arahku untuk membantu mengangkat koper dan 2 kardus bawaan. Jalan di halaman rumah ini persis seperti yang ku lihat di HPnya Edo kemarin; sudah disemen. Ukurannya memang muat untuk mobil jika benar ada moibilnya.
“Assalamualaikum..” sapaku ke seisi rumah.
Seperti pulang-pulang sebelumnya, Salsa dan Moza pasti dalam kondisi tidur. Aku menyalami dan menciumi mereka satu per satu.
“Iko gomuk botul ko haaa (ini gemuk kali sih),” kataku kepada Salsa yang semakin membulat saja badannya. Salsa hanya tersenyum.
“Haaa, iko padek kocik koo (ini kurus kali sihh)” kataku pula kepada Moza yang semakin terlihat tinggi lantaran ia kurus.
“Enak nih Mi supirnya. Santai, tapi cepat. El aja nggak nyangka secepat ini nyampeknya.”
“Nggak macet di Duri tadi?”
“Nggak Mi.”
“Kalau waktu Ummi pulang kemarin tu ugal-ugalan kali. Yang sebelumnya memang pelan, tapi kayak ragu-ragu gitu, jadi sering kali ngerem mendadak.”

“Eh, ini motor siapa ni Mi?” tanyaku, terkejut ketika melihat Honda Supra 125cc One Heart terparkir di ruang belakang.
“Ntah, motor siapa tuh,” jawab mami.
“Seriuslah Mi. Motor yang satu lagi nggak ada ya?” tanyaku sambil berjalan ke luar, meninjau keberadaan Kharisma. Ternyata dia ada di luar.
“Ih, ini motor baru kita ya Mi?” tanyaku lagi yang masih belum dijawab oleh seisi rumah. Mereka senang sepertinya meilhatku kebingungan. “Ah, udah pasti nih motor baru kita nih!”
“Mantap?” tanya mami.
“Mantap Mi. Nggak ada mobil baru, motor baru pun jadilah. Yang penting, lebaran nanti kita bisa jalan sama-sama. La jadi?”
“Mbak, Mbak ada lagi loh kejutan lainnya 1 lagi,” kata Salsa sambil jingkrak-jingkrakan.
“Apa tuuh Cinn?”
“Biarlah dia tahu sendiri Salsa. Menyibuk kali puun,” kata mami.
Aku menelesuri rumah ini dan membuka pintu dapur.
“Loh, Mi? dapur kita kok penuh barang-barang gudang kayak gini?” teriakku.
Ah, ini pasti kejutan yang dimaksud Salsa tadi.
“Pindah ke mana dapur kita ni?” tanyaku.
“Ke sampiing,” teriak Salsa.
Aku membuka pintu belakang yang sebelumnya adalah gudang.
“WEWWW! Ini baru mantap. Wiihh, mantapnya dapur baru kita niii. Sihiiyyy, pakai wastafel dankkk,” teriakku kegirangan. Udah sejak lama banget aku mendambakan tempat mencuci piring seperti ini. Kapanpun mau nyuci piring, ya tinggal dicuci aja. nggak perlu basah-basahan ke kamar mandi, lebih hemat air juga dan walaupun udah rapi berpakaian tetap nggak ngerusak penampilan setelah nyuci piring. Tinggal di cuci aja tangannya, Hehe. Yeyee, Alhamdulillah ya Allah.

***
Mami ini termasuk orang yang nggak mau ribet. Kami udah terbiasa dengan es teh dan gorengan aja untuk buka puasa. Seperti sore ini, mami baru ke dapur untuk nyiapin semuanya sekitar jam 17.45wib. Aku bantuin mami ngiris bawang dan cabe, sementara mami baru saja pergi beli gorengan ke SK 6. Jadi, kami tinggal masa untuk makan beratnya saja dan menu kali ini adalah Tumis Remis (Mirip kerang, tapi tak bergerigi dan kalau udah masak, cangkangnya terbuka lebar), sayur bening bayam+kecambah dan sambal ikan sungai kecil-kecil yang belum habis sejak semalam.
“Aii? Banyak ko gorengannya Mi?”
“Rp 2000 dapat 3 buah. Murah kan?”
“Wew murah banget Mi. Hemat waktu, hemat uang dan dapat banyak.”
Pesanan utamaku pun udah mami belikan; bakwan.
“Sekarang, buka jam 6 lewat berapa Mi?”
“Lewat 30.”
“Aiii? Kok makin lama ya?”
“Memang kayak gitu.”
Dan, ketika azan dari HP papi berkumandang, kami segera meneguk sepuasnya es teh ala Tea Jus ini. *sebenarnya kan sebaiknya kita minum air putih dulu, makan kurma dulu, baru makan yang agak berat. Everyone know that, but that’s hard to works. Ehhe.
“El, langsung makan ya. Biasanya emang gini kalau di Pekanbaru, pasti langsung makan. Jadi, habis sholat tenang, nggak mikirin makan lagi. La jadi?” kataku sambil mengambil piring dan nasi.
Salsa dan Moza malah ikut-ikutan aku.
“Dah, dah, dah sholat maghrib kita. Yang lambat ditinggal!” kata mami setelah papi dan Alfi ke mushola.
“Kalau nggak, Mami duluan aja. Nanti El sama Salsa berjamaah berdua.”
“Sholat sama siapa inyong? Sama hantu?” tanya mami.
Aku baru ngeh kalau Nilam sedang nggak sholat dan mami nggak punya teman untuk berjamaah.
Ketika aku sedang memasang mukena, Moza menarik dan menciumnya lalu berkata, “Hemm..biasanya punya Mbak Ela apek, ini nggak. Malah punyaku yang apek. Heehe.”
“La jadi? Tul (baca: betul)  nii?”
Setelah sholat maghrib, mami langsung menasehati kami begini, “Eh, tahu nggak kenapa Ummi sengaja nggak ngajak langsung makan waktu berbuka?” tanya mami kepada kami. Aku memperhatikan ekspresi wajah Salsa dan moza; mereka geleng-geleng. “Si Alfi itu kan kita ibaratkan orang baru di rumah ini. Biasanya orang yang baru datang itu kan mengikuti apa kebiasaan tuan rumah. Nah, kalau kita makan sebelum sholat, takutnya dia berat hati untuk ikut Abi ke mesjid. Siapa tahu aja gitu. Makanya, biar aman kita makannya habis sholat Isya. Ini Salsa sama Moza ikut-ikutan pula makan tadi.”
“El kan pendatang baru juga nih MI, jadi nggak tahu kalau peraturannya gitu. Lagian, udah kebiasaan gitu juga di Pekanbaru. La jadi?” akuku.
Salsa dan Moza terlihat faham dengan maksud nasehat mami itu. Hemm… ternyata anak-anak lebih mudah dikasih tahu dengan cara persusif begini daripada instruktif seperti perintah tanpa penjelasan.

***
Malam ini, aku sholat Tarawih di rumah bersama pasukan cewek setelah papi dan Alfi pergi ke mushola. Aku yang jadi imamnya. Tapi, ketika akan berlanjut ke sholat Tarawih, mami bilang “Nggak nanti malam aja Tarawihnya?” tanya mami.
Aku tahu maksud mami adalah untuk mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qodr supaya menghidupkan malam dengan sholat Tarawih. “Ya udah deh, nanti malam aja kita sholatnya,” kataku.
Kami melipat mukena dan bercengkrama di ruang tengah. Nggak berubah dari yang sebelumnya ternyata, orang-orang di rumah ini (kecuali papi) masih suka mantengin film Jodha Akbar. Kalau udah itu yang dihidupkan, aku nggak ikut-ikutan karena nggak suka dan nggak ngerti jalan ceritanya. Papi dan Alfi baru saja pulang dan ternyata mereka pun belum sholat Tarawih.
“El, tahu nggak kepanjangan dari gelar Lc?” tanya mami.
Lc itu kan gelar yang biasanya ada di belakang nama ustad. Memang nggak selalu sih, tapi aku lihat kebanyakan ya gitu. “License nggak Mi kepanjangannya?”
“Salah.”
“Terus, apa memangnya?”
“La Cadiii? Ahahha.”
Aku terbengong, kok mami bisa kefikiran candaan sekonyol itu? hahaaa. “La jadi Mi?” Ternyata mami lebih parah lagi kalau udah ebrcanda pemirsaaa. Hehe.
Ada suara motor mendekat ke halaman rumah dan kemudian mematikan mesinnya.
“Assalamualaikuuum,” kata seorang laki-laki yang suaranya tak asing lagi.
“Haah! Om Giyaaaaaaaat,” teriak kami bersamaan. Om Giyat adalah tukang dodos sawit kami.
Aku, mami dan Nilam langsung ngacir masuk ke dalam kamar untuk ngambil jilbab. Tapi, hanya aku yang tetap angkrem (baca: menetap) di kamar sambil ngotak-ngatik HP barunya papi ini. Lampu kamar padam dan kipas angin tidak menyala.
Satu jam kemudian…
“Mbak Ela mana ni orangnya” tanya mami dari ruang keluarga.
“Ela di kamar Mi.. La jadi?
“Ini ada yang nelvon dari nomor baru. Dari tadi ntah udah berapa puluh kali SMS masuk ni ha. Kasihkan Mbak El asana,” pinta mami kepada Salsa.
Aku mengangkat telvon dari nomor tak dikenal ini…
“Hallo?
“Hallo?” jawabnya di sana.
Hemmm. Kayaknya ini suara Okta deh, tebakku. “Iya, ini siapa?”
“Ini Okta loh Cek.”
Kan, benar tebakanku. Dia menelvon dengan nomor ayahnya.
“Mami Kakak apa kabar? Pasti Mami makin cantik kan?” tanya Okta setelah bercerita tentang respon orang tuanya ketika melihat buku Hujan Berwarna Ungu-nya itu.
“Yuhuuu Cekkk.”
“Salam buat Mami Kakak ya.”
Aku langsung ke dapur, mami sedang menimbang kue dan beras yang ku tebak itu untuk di kasihkan ke orang-orang yang kurang mampu di sekita sini. “Kata Mami, waalaikumsalam Cek.”
“Coba tanya sama Mami Kakak, gimana perasaannya waktu Kakak selalu jawab, ‘La jadi?’ kalau ditelvonnya?”
Aku langsung bertanya kepada mami, “Cek, kata Mami mbelenger. Cek tahu nggak mbelenger tu apa artinya?
“Nggak tahu. Apa itu Cek?”
“Bosan, eneg, mual. Gitulah artinya. Hehe.”

“Cek, coba tanya sama Mami, boleh nggak Okta main ke sana nanti?”
“Kata Mami boleh Cek. Sekarang aja kalau bisa.”
“Emangnya Okta jin? Bisa menghilang dalam 1 detik. Hehehe.”
“El, tanya sama Okta kok dia bilang Ummi cuek?” pinta Mami.
“Cek kata Mami, kenapa Cek tebak sifat Mami tu cuek? Padahal kan Mami selalu merespon.”
“Iya, memang merespon. Tapi, Mami tu nggak terlalu ambil pusing, cuma sekedarnya aja gitu.”
Aku menjelaskan jawaban Okta kepada mami dan mami ber-ooo panjang. Huahhh, ini kok aku jadi mak comblangnya mami dan Okta yaa pemirsaa? Heheh.
“Tadi nyampeknya jam berapa Cek?”
“Jam 4 Cek.”
“Pasti Kakak ngabarin Teguh kan waktu udah sampek tadi?”
“Iyalah. Kan Adek pun Kakak kabari juga tapi nggak ada Adek balas.”
“SMS ajalah terus Adek kesayanganmu ituuu.”
Hahah, mulai lagi deh Bapernya nih Okcek. Hehe. Setelah telvon ditutup, giliran aku menyambung obrolan dengan mami.
“Mi, kapan dapur ni dibangun?”
“Sektiar bulan Meilah.”
“Kalau ebli motor barunya kapan?”
“Bulan Maret kalau nggak salah. Pokoknya setelah Abi pulang mandah kemarin tu.”
“Mi, apa motivasi Mami untuk beli motor baru kemarin?”
“Yak arena Kharisma tu sering kali mogok. Kemarin tu apalagi kambuhnya pas Abi lagi mandah. Beuh, repot kali jadinya. Makanya, setelah orangnya pulang mandah, langsung tak ajak beli motor baru aja.”
“Emangnya mogoknya gara-gara apa Mi?”
“Ya namanya motor itu udah tua. Udah 2 generasi tu terlewati.”
“Kalau memindahkan dapur ini ke sini apa motivasinya Mi?”
“Motivasinya…emm…Nggak ada motivasi. Tiba-tiba aja langsung pindah. Jreng jreng jreng.”
“Hahhaahhhaa. Kalau motivasi nyemen jalan di depan rumah kita tu apa Pi?” tanyaku pula kepada Papi.
“Ya biar nggak becek lah.”
“Kan udah ada kerikilnya juga toh Pi sebelumnya?”
“Mana pula, tetap aja masih becek. Kalau habis hujan tu haa nyiprat-nyiprat dia,” jelas Salsa pula.
“Tul ni? La jadi?”

***
Pukul 23.00wib
Niatnya sih pengen nulis untuk beberapa hari yang alfa ini. Tapi, aku malah terjebak untuk menonton film yang judulnya Disturbia karena waktu melihat cuplikannya bikin emosi aja. Ya, akhirnya niat menulisnya ku pending dulu.
“Mbak Ela tidur di sini?” tanya Moza dari bibir pintu kamar.
“Yuhuuu. Emangnya kenapa?”
“Ya udahlah, aku tidur di sini aja ngawankan Mbak Ela.”
Busyeeet, bijak amat nih bocah kecil ngomongnya. “Loh? Kan biasanya Dedek sama Kak Siyam, Kak Sasha dan Alfi kan? Nggak apa-apa sama mereka aja. Mbak Ela berani kok sendirian.”
“Nggak mau ah. Di sana nggak enak, sempit,” kata Moza sambil naik ke atas tempat tidur dan menurunkan satu per satu baju yang berserakan di atasnya.
“Ya udah, sinilah kawanin Mbak Ela ya. Kita bobok berdua aja. Duh, Mbak Ela nggak nyangka Dedek baik kali sama Mbak Ela, padahal biasanya aja nggak mau mepong-mepong (baca: nelvon) atau kalau Ummi mepong, Dedek nggak mau ngomong. Ih, baik sekali sih kamuuu,” kataku sambil menciumnya.
Yang dilakukan Moza selanjutnya menjadi  perhatianku. Dia menutup rapat gorden jendela dan mengganjalnya dengan parfum dan kameraku. Aku langsung berkomentar, “Ih, kamu kok rapi banget sih kerjanya? Siapa yang ngajarin emangnya?”
Moza tidak menjawab. Dia kemudian ke luar kamar dan masuk lagi dengan membawa raket nyamuk dengan tangan mungilnya itu. Raket tersebut diayunkan ke sekitar lemari, sudut-sudut tempat tidur dan tempat baju-baju tergantung di belakang pintu. Selanjutnya, dia menarik ujung-ujung seprai dan menyusun 2 bantal dengan 1 guling di tengahnya.
“Ih, ini bantalnya buat Mbak Ela yaa? Kamu kok baik sekali sih. Aku jadi terharuuuu,” pujiku lagi-lagi. Moza hanya nyengir tapi tak meresponku. Ia memeluk guling dan ikut menonton bersamaku sambil tengkurap.
“Kamu bobok aja. Udah malam ini loh Pak Deee.”Oh
Moza lalu ke luar lagi dan kembali dengan membawa cok sambung beserta lampu tidur dan langsung memasangnya. Pinter kali nih bocah! Emang udah kebiasaannya gini atau gimana ya? Aku aja kalau tidur nggak kefikiran buat ngebunuhin nyamuk-nyamuk dulu, hehe.
Kipas angin sudah dinyalakan, lampu sudah dimatikan dan Moza sudah terlelap. Sementara aku masih terus nonton sampai jam 12.45wib setelah film selesai. Aku mencium Moza dan memeluknya untuk mengalihkan rasa takutku akan heningnya malam. Aku selalu seperti ini. Sebenarnya, aku berharap untuk bisa tidur duluan sebelum semua orang tidur. Tapi, yang terjadi justru selalu kebalikannya. Huft.
Ya Allah, aku ingin menikmati hangatnya kebersamaan di rumah ini. Aku tidak ingin mengulangi kecerobohanku dimasa lalu dengan merelakan waktuku bersama keluargaku dicuri oleh seseorang yang bahkan statusnya belum pasti bagiku. “Cin, dulu aku bodoh banget. Bisa-bisanya aku dengerin Mami cerita, tapi jariku malah berbicara dengan orang lain. Telingaku mendengar, tapi jemariku berkhianat. Aku nggak mau kayak gitu lagi Cin. Semoga Allah mengampuniku.” Demikian aku pernah mengadu kepada Lia. Dan, semoga Allah selalu menjagaku dalam keadaan yang baik lagi diridhoi-Nya. Aamiin.

Tidak ada komentar: