Sabtu, 03 Oktober 2015

Memaksa Diri Membunuh Kemalasan



Sudah 4 hari aku alfa menulis.  Alasan awalnya sih karena ‘penyesuaian’ (penyesuaian dengan keadaan dan penyesuaian dengan harapan). Tapi, ini sudah hari ke-4 dibulan Oktober, masa sih aku belum sesuai-sesuai juga? Lamaaa banget El, kamu butuh waktu berapa lama lagi emangnya? Sebenarnya, keadaan ini sering sekali tidak aku inginkan; kebingungan/linglung/bimbang/ragu. Di kepalaku sedang bertengker banyak hal, ada yang masih berupa rencana, ada yang sudah berupa ide. Bingung seperti ini selalu menyita waktuku dan parahnya kalau aku merasa lelah dan sejenak menyerah. Tapi, aku sadar bahwa ini adalah bagian dari proses ‘pencarian dan penemuan’ku. Setelah segala bimbang, semoga kan hadir segala senang.

Hari ini kembali ku perbarui niat. Sebisa mungkin ku paksa untuk tetap menulis tanpa merasa-rasa apa yang dirasa, tanpa bertanya-tanya apa dan bagaimana. Apapun yang terjadi, tetaplah menulis di segala musim!



***

“Eh, kok pindah-pindah terus sih tempat seminarnya nihh!”
“Seminar apa Rin?”
“Itu yang tentang kesehatan reproduksi. Kemarin di aula RS UR katanya, dipindah ke FMIPA, sekarang pindah lagi ke rektorat lantai 4.”
“Ah, nggak jadilah ikut kalau gitu Rin! Capek juga naik ke atas tuu.”
Rini setuju. Ia berpindah ke plan B; nge-net di Puskom dan minjam laptopku supaya bisa lebih awet batrainya. Aku baru nyadar, sebenarnya aku yang nggak punya tujuan hidup hari ini. hiksss. Biasanya, tanpa rencanya pun hariku akan tetap terisi dengan ngeblog. Hari ini, aku harus tega membunuh segala rasaku supaya bisa kembali ke rutinitas itu.
“Daaaa… Ell. berarti hari ini kita berbeda jalan,” Rini berpamitan kepadaku.
“Iyaaa.. hiksss. hat-hat yaa!”
Tinggal 3 hari lagi Rini bersamaku di kamar ini. Setelah itu, ia akan nebeng ke kosan Risky atau Andin sampai tanggal 20 –hari wisudanya. Semoga aku tak terlalu sedih.

Benar kata Mario Teguh, hidup kita ini lebih banyak memperbaiki yang salah daripada membanyak yang baru (yang benar). Setelah Rini ke Puskom, aku berusaha memaksa diri untuk menulis. Ternyata, rasanya cukup menyiksa ketika hati sedang tidak ingin menulis sementara tangan ku paksa dengan logika untuk terus menulis. Jemari tak selancar biasanya mengetik. Apa mungkin ini adalah pengaruh dari kecondonganku mengetik di android beberapa hari ini ya? Soalnya, aku jadi lebih sering update di Instagram karena dirasa lebih praktis.

Tapi, tidak bisa ku bohongi hati ini bahwa lebih puas dan lebih lega ketika bisa menuliskan segala sesuatunya di blog. Mungkin, akan lebih baik lagi kalau aku bisa update di semua medsos. Ya Allah, bantu aku untuk terus berkarya tanpa harus menunggu mood dan keadaan mendukung. Bantu aku memaksa diri melawan kemalasan dan penundaan. aamiin.

Kita sudah dipermudah untuk menciptakan jejak di zaman serba canggih ini. Lalu, kenapa tidak kita manfaatkan saja? sebuah quotes mendadak tercipta.

***
Sepeninggalannya Rini aku malah tertidur beberapa menit di depan laptop. Kayakny aku sedang berada di titik rendah (belum terendah) saat ini. Kalau sedang seperti ini, sangat penting bagiku untuk ‘ditemani’ supaya aku nggak ngawur dan tetap bisa sharing.
Allahumma inni a’uzubika minal hammi wal khazan!!!
Aku mencari kesibukan lain untuk membunuh rasa malasku. Ternyata permak baju batik semalam belum selesai lengan sebelahnya. Aku segera menyelesaikannya dan segera disetrika.  Kalau memang belum mood untuk menulis, setidaknya ada hal lain yang bisa ku lakukan. Setelah selesai, aku membereskan kamar, mandi, sholat Dhuha dan memaksa diri untuk mengetik lagi.

Ya Allah, aku butuh meledak! Aku nggak boleh terus stabil seperti ini. Yah, aku butuh ledakan! Big Explosive that make poeple shock.
 
Assalamualaikum Dek… kayaknya kakak nggak cocok untuk adek wawancarai, setelah kakak fikir-fikir. Karena, ini bukan komunitas dek, hanya gerakan. Daripada berita adek jadinya nggak memadai. Sory ya dek.
Aku sangat berharap dia bisa mengerti. Aku hanya nggak mau beritaku itu diterbitkan tapi nyatanya itu ‘kelabu’. Insya allah, akan tiba masanya. Bismillah. Di hatiku, mimpi untuk berkontribusi itu selalu ada.
HPku berdering…
Sengaja tak ku angkat. Bahkan, melihat siapa yang memanggilku pun aku nggak mau. Ku biarkan saja. Yap, beginilah aku kalau memang sedang ingin sendiri. Lebih mengkhawatirkan kalau ternyata yang menelvon adalah si adek wartawan, memohon untuk tetap mewawancaraiku. Akan lebih bingung lagi bagaimana caraku menolaknya. Dan, sejam kemudian ketika ku cek HP, ternyata balasan si adek wartawan adalah...
ya Kak, nggak apa-apa kak. makasih ya kak.
Syukurlah, ternyata dia faham. Aku lega. Semoga dia mendapatkan yang lebih baik.
“Assalamualaikum…” Rini pulang.
“Waalaikumsalam.”
“El udah sholat Zuhur?”
“Udah. Rini?”
“Udah jugak. Emanglah ya, kabinetnya Bang Zulfa kemarin nggak tergantikan. Yang sekarang ini jauh lebih hancur.”
“Loh, kok Rini bicara gitu? Memangnya Rini ada ngikutin acara BEM?”
“Tadi kan aku ke seminar itu dulu di rektorat. Barulah ke puskom setelah aku ngerasa boring.”
“Loh? Jadi jugak Rini ke sana tadi?”
“Iya, kan tadi udah ku bilang bah! MC dan moderatornya gagok-gagok ngomongnya (baca: tergagap). Bagusanlah El dan Okta lagi. Pematerinya pun terlambat datangnya. Terus, yang dibahas itu bukang tentang PENTINGNYA reproduksi wanita tapi GIMANA reproduksi wanita.”

“Lah? Kalau bagaimana itu kan kita udah tahu dan udah belajar sejak SMP pun. Aku juga udah sering kali ikut seminar yang tentang organ reproduksi wanita.”
“Itulah makanyaaaaa. Pokoknya nggak dapatlah poinnya. Tapi, untungnya pesertanya ramelah tadi.”
“Mungkin karena gratis nggak?”
“Mungkin juga. Masa ada senam pinguinnya juga coba? Kan
jadinya riuh gitu, aku nggak mau goyang-goyang tadi. Pura-pura ngerekam aja. Boring kali lah pokonya tadi.”
“Siapa MCnya tadi Rin?”
“Nggak tahu juga siapa. Kayaknya angkatan 2013.”
“Ohh.. berarti mereka masih baru belajar tu Rin.”
“Mungkin. Memang lah, MC tu enaknya yang suaranya berat. Kalau cempreng itu sakit telinga dibuatnya.”
“Bener Rin. Suaraku pun cempreng kalau nggak dibantu sama mic. Beda dengan suaranya Okta yang memang udah berat dan bulat. Suaraku ini nggak bisa menjangkau suara yang riuh, susah, sakit leherku kalau ku paksakan. Okta, Vera, Key, Ditra itu memang udah kece banget lah orang tu jadi MC.”

***
“Hallooo Lisss?”
“Iya buuukk.”
“Ke sinilah Elisss, si Okta udah di sini haaa.”
“Motor Elis mogok Bukk, udah nggak bisa jalan lagi. Bensinnya bener-bener habis.”
“Owalah, ya udah tunggu aja situ biar si Okta ke sana yaaaa.”
“Iyaa Bukk.”
Duh, segitunya ibuk kantin memintaku untuk datang di pesta pernikahan saudaranya itu. Udah sejak 2 minggu yang lalu sih ibuk ngasih tahu, emang kebangetan banget kalau aku nggak datang hari ini.
“Rin, ikut yuk kondangan di rumah saudaranya Ibuk kantin FKIP tu?”
“Nggak apa-apa aku ikut nih?”
“Nggak apa-apa. Okta udah ngajak Rini pun sejak tadi sebenarnya.”
“Emmmm….ikut nggak yaa?” Rini sok-sok mikir. “Ya udah deh, kalau El memaksaku!” katanya pula. Huaahhhhh.

Okta datang dengan Vera dan membawa 1liter bensin. Langsung deh ku curahkan ke dalam tangki motorku dan langsung saja kami melaju berempat ke TKP.
“Segan kita Kak, datang nggak bawa apa-apa,” bisik Vera kepadaku.
“Iya Dek, itu juga yang Kakak fikirkan. Ah, tapi kita kan diundang Ibukkk. Hehe.”
Di deretan terdepan ibu-ibu penyambut tamu, ada buk In yang sudah siaga menyambut kedatangan kami. Hilanglah segan, terbitlah kepedean. Hihiii.
“Rendannya di sebelah sini Liss,” kata ibuk, menunjuk meja hidang di sebelah kiriku.
“Okeh Bukk. Lah, tapi ini memangnya bukan rendang Bu?”
“Itu Kalio.”
“Ohhhhh…”
Aku ingat, kemarin waktu bantu mami belajar bikin rendang lewat internet, terbaca olehku bahwa ada tingkatan makanan bersantai versi minang; Gulai, Kalio dan Rendang. Rendang adalah hasil terkering dari santan sedangkan kalio adalah pertengahan dan gulai adalah yang terbanyak genangan santannya.
“Rin, ada miso jugaaaa,” bisikku kepada Rini.
“Aman tuh! Trip kedua.”
Kami duduk setengah melingkar di kursi tanpa meja, linear arahnya dengan pelaminan.
“Cantik ya Dek pelaminannya. Simpel tapi cantik.”
“Iya kan Kak? Vera juga suka. Cantik.”

Okta dan Ditra udah makan duluan rupanya sebelum kami datang. Mereka ngobrol dan kami bertiga melahap makan siang ini.
“Tunggu ya, 15 menit lagi,” kata Rini ketika ku kode untuk trip ke dua setelah suapan terakhirnya.
“Yuhuuuuu…”
Tapi, trip yang dinantikan gagal karena Ditra ngajakin pulang. Okta harus turut bersamanya karena tadi berangkatnya semotor dengan Ditra. Lagipula, Okta  memang nggak terlihat sama sekali mau ke trip kedua kayak aku dan Rini.
“Tumben Okta nggak antusias makan ya Rin.”
“Iya, aku pun heran.”
“Oh, mungkin karena ada Ditra nggak? Dia pengen jaim. Hehehe.”
“Mungkin. Bisa jadi, bisa jadi.”
“Padahal kita udah pengen nambah kali kaan.”
“Hikssss..iya, malu pula kalau cuma kita berdua.”
Padahal siang ini ada rapat di BEM UR perihal Mahakarya Biru Langit. Kalau Okta nggak datang, aku kurang klik kalau datang. Insya Allah, sosialisasi lomba LKTIN terus berjalan kok! Itu yang terpenting karena itu porsiku.

***
“Yaaahhhh… El. Tutuppppp…”
“Yaaaaahhhh..iya Riin. Gimana donk? Beli sate aja?”
“Lagi nggak pengen.”
“Atau beli mie ayam aja kita?”
“Lagi nggak pengen juga.”
“Gorengan aja?”
“Yuklah!”
2 bakwa dan 2 tempe pun terbeli. Aku dan Rini kembali ke kosan dengan berjalan kaki. Ini ideku dan Rini setuju, supaya aku kurusan katanya.
“Rin, mie goreng Brebes yang di tengah Manyar sana pasti buka deh. Jarang banget Mas itu nggak buka kan?”
“Iyaaa.. biasanya Mas itu buka.”
“Ahaaaa.. kita langsung ke sana yuk naik motor?” ajakku ketika hampir nyampek kosan. Rini mah ayuk-ayuk aja.
Dugaan kami benar. Alhamdulillah mie goreng brebesnya buka.
“El, lihat ini!” Rini menunjuk seceret air minum yang tergenang es batu di dalamnya.
“Waaahhhh..emang niat banget menjamu pembeli nih si Mas. Luar biasa ya!”

Rini manggut-manggut, sepakat.
“Rin, aku ini aneh loh. Kalau aku punya waktu luang, bukannya bersegera malah sering menunda. Terus, kalau tiba saatnya aku sibuk, barulah aku mikir; ‘Aku harus ini, harus itu, harus efesiensi waktu’. Aku baru cerdas kalau terdesak Rin. Memanglah ya, ternyata aku ini tipikal orang yang bergerak kalau ada ditakuti ancaman daripada diiming-imingi kesenangan.”
“Eyaaakkk. Nanti kalau udah ketemu jawaban dari kebingungan El, itu ajalah ya terus kerjaan El. Autis. Nggak tahu waktu.”
“Kayaknya sih emang bakal kayak gitu Rin. Aku butuh fokus intinya. Kalau ragu, ya kagak jadi.”
“Arassoohh.”

***
Udah lama nggak makan mie goreng bareng Rini. Sore ini kami putuskan jalan kaki ke ujung jalan Bina Krida untuk beli mie goreng Brebes. Seperti biasa, aku mengajak Rini lewat jalan pintas di tengah jalan kosan kami.
“Yahhhhh… kaaannnn.. tutuuuuuppp.”
“Iya yaa, kok tutup sih? Apa mungkin gara-gara asap? Hihii.. tapi orang kan tetap butuh makan sekalipun sedang kabut asap? Jadi, kita beli apa nih? Mie ayam aja gimana?”
“Lagi nggak pengen mie ayaaam. Beli gorengan aja gimana?” usul Rini.
“Ya udah gorengan aja.”
Kami beli 2 bakwan dan 2 tempe goreng. Dalam perjalanan pulang…
“Rin, ke manyar sakti yuk? Beli mie goreng Brebes yang di sana. Naik motor aja kita.”
“Ayukkkk! Siapa takutt!”
Niat banget nuntasi rasa ngidam ini akhirnya kami berhasil mendapatkan apa yang kami mau dan menyantapnya setelah sholat Maghrib.
“Gorengannya untuk besok aja gimana El?”
“Ya udah. Tapi, aku kayaknya bakal keceplosan deh Rin ngabisin sekarang. Hehehe.”
“Selalaapnyaa!”

Kami makan sambil menikmati Mata Najwa dari laptopnya Rini. Rini sedang gelisah, sambil nonton tangannya terus mengetik SMS.
“…susah kali pun ngajak orang ni. Pas ku bilang setelah wisuda aku nggak di sini lagi barulah orang ni mau ku ajak ke Siak.”
“Jadi, kapan perginya?”
“Belum pasti lagi. Orang ni banyak yang nggak bisa. Kalau ada 4 orang aja yang bisa pergi, insya allah jadi. Mungkin besok siang perginya.”
“Mau donk ikutttt?”
“Yuklah!”
Ah, tapi aku teringat dengan janji untuk meet up dengan teman-teman fasilitator BAT besok sore. Apa aku batalkan aja ya? Tapi, bukankah aku yang pertama kali mengusulkan meet up di hari esok? Hiksss. Ini sih namanya kau yang berjanji kau yang mengingkari.
“Jam berapa kira-kira berangkatnya besok Rin?”
“Mungkin jam 1, habis Zuhur lag.”

I-YES Mengajar sesuai jadwal akan selesai jam 11. Setelah itu, aku akan langsung ketemu mbak Wien dan bang Wira; silaturahmi sekaligus izin untuk nggak bisa ikutan di sorenya. Hemm.. ya, ya, sepertinya itu solusi yang tepat. Setelah yakin, aku langsung memilih beberapa baju untuk ku pakai dan ku bawa besok.
“Rin, ke Istana Siak kan pastinya?”
“Emm…kalau yang itu belum tahu sih El, orang itu ntah mau ntah nggak.”
“Tugas Rini lah maksa merekaaaa. Kalau aku yang minta ya nggak mungkin. Siapa kali aku ini?”
“Ya udah, biar ku bilang sama si Teda. Besok kita pake mobilnya dia, otomatis dia yang harus dilobi.”
Kapan lagi aku bisa ngelihat desa KKNnya Rini yang terdengar ramah-tamah penduduknya dari cerita-cerita Rini.
“Nanti kalau penduduk situ nanya aku siapa, gimana donk Rin? Rini jelaskan ya kalau aku teman sekamar Rini.”
“Perlu pula ku jelaskan dari awal ke orang tu El?”
“Yap, perlu! Ceritakan gimana awalnya kita bisa sekamar sampai sekarang ya.”
“Howalaaahhhh. Apa-apakah ini?”

Tidak ada komentar: