Setelah sholat Zuhur, aku segera
bersiap-siap untuk ke Krema Kafe di jalan Rajawali Sukajadi, ada janji temu
dengan tim HIGH IMPACT Public Speaking hari ini. Di perjalanan menuju Krema,
aku baru tersadar bahwa pagi ini aku nggak produktif. Bahkan, diary tentang
hari kemarin pun belum selesai. Hiksss.
Kalau sudah tiada, baru terasaaa..
Lagu dangdut itu bener banget ya
maknanya. Bukan hanya tentang perpisahan, tapi juga tentang kesia-siaan. Selagi
ada, kita memang sering abai. Aku terus melaju dengan kecepatan sedang.
Tapi…tiba-tiba.. BRUUUKKKKKKKkk!
2 motor di depanku sam-sama jatuh
ntah bagaimana ceritanya. Mungkin, aku terlalu fokus untuk berhati-hati
mengitari tugu Songket ini dan kejadiannya pun sangat cepat terjadinya. Aku
hanya melintas perlahan lalu kembali melaju. Maaf yaaa Allah, hamba benar-benar buru-buruu. Ada beberapa orang
yang sigap menolong mereka. Aku menduga salah satu dari pengendara motor itu
ada yang berbelok mendadak sementara yang satunya lagi ngebut. Tiba-tiba aku
teringat dengan keluargaku nun jauh di sana…
“Ya Allah, hamba mohon jagalah keluargaku
dari segala macam bentuk KECELAKAAN dalam PERJALANAN dan PEKERJAAN. Izinkan
kami menghadapmu dalam kondisi tubuh yang baik, terpuji dan dengan hati yang
RIDHO lagi Engkau RIDHOI. Aamiin.”
Bukankah untuk perkara sandal
putus pun kita harus meminta pertolongan kepada Allah? Apalagi untuk hal serius
seperti ini.
***
“Baru sampai juga ya Kak?” tanya
Bung Misnan padaku.
“Iyaa. Sama kita. Eh, itu
mobilnya Bang Wira atau bukan ya?”
“Bukan kayaknya.”
“Hemmmm… berarti Bang Wira belum
datang nih! Kita langsung ke atas aja yuk?”
Setelah memesan minuman, aku
minta tolong kepada Misnan untuk memfotokanku. Ini nih enaknya kalau difotoin
cowok, dia nggak merasa keberatan kalau kita suruh ngulang lagi dan lagi motion
kita karena hasilnya kurang sesuai dengan keinginan. Ehhee. Kalau sama cewek
kan pastinya harus ada imbalannya; gantian motoin dia sebanyak yang udah
dijepretkan. Huahhhh
“Meskipun sudah berkali-kali aku kemari,
tetap saja ada cara baru untuk menikmati momennya. Selalu ada cara baru untuk
berfoto di tempat yang sama. Sebab aku tak pernah kehabisan cara untuk MENIKMATI.”
Yoga baru saja datang. Di luar
dugaan, ternyata Yoga pun minta difotokan dengan angel persis seperti saat Bung
Misnan ku fotokan. Huahhh.. ternyata Yoga ketularan narsis pemirsaaa.
“Padahal Yoga udah sering ke sini
loh Kak, tapi baru kali ini foto-foto,” Yoga mengakui sesuatu.
“Haaa…tu kan! Kalau nggak
ngelihat Kakak, mungkin Adek nggak bakal kefikiran kan buat foto-foto kayak
gini?”
“Iyaaa. Yoga yakin dah kalau Kak
Elisss yang motoin! Hahaa.”
2 cowok lugu ini nurut aja ketika
ku arahkan pose mereka pada beberapa spot background. Anehnya, mereka selalu
bilang kalau jepretanku bagus. Alhamdulillah. Sampai bang Wira terheran ketika
ia baru tiba…
“Ndehhh… ada sesi foto pula
ternyata orang ini!” celetuknya.
“Memanfaatkan waktu menunggu
Bang, ehhee.”
“Tadi banyak yang nanya tentang
acara HIGH IMPACT PUBLIC SPEAKING besok, makanya Abang tertahan di beberapa
tempat.”
“Ooohhhh..gituu. Yuk kita mulai
bahas konsep acaranya Bang!” ajakku.
Bang Wira mulai menjelaskan desain
training HIGH IMPACT PUBLIC SPEAKING yang akan dilaksanakan hari Minggu ini.
Ini nih yang aku saluti dari bang Wira; Dunia training ini sudah seperti
hembusan nafas baginya, sehingga ilmu dan wawasannya tentang training sangat
luas. Bang Wira memang tidak pernah main-main kalau berbicara tentang training,
komunikasi atau psikologi. Dahsyat! Dia adalah guruku. Lebih dari itu, hampir
setiap pertanyaanku selalu ia jawab dengan judul buku. Aku sudah sering
menuliskan tentang ini di beberapa medsosku.
“Intinya di training kali ini ada
2 goal untuk peserta; 1. Self Mastery. Peserta akan diminta untuk
mengeksplorasi diri; siapa dia, apa tujuan hidupnya, apa nilai hidupnya. Sehingga
nantinya dia akan pede ketika berbicara dan nggak pakai topeng lagi. Dari sini,
akan lahir VISI HIDUP. 2. Public Speaking Mistery. Peseta akan diarahkan untuk bisa
berbicara yang ‘Gue bangeeet!. Inilah alasannya, di sesi awal, Abang adakan
Self Mastery yang tujuannya mengubah mindset dulu, setelah itu barulah dilatih
public speakingnya. Kenapa bisa muncul tindakan? Karena fikiran MENGIYAKAN. Kenapa
bisa timbul kebiasaan? Karena terjadi pengulangan tindakan. Makanya, hati-hati
dengan fikiranmu!”
“Oooo…gituuuuu..” anggukku,
berkali-kali.
Tak terbatas membicarakan
training dan atau public speaking, bang Wira juga mengajari kami nilai hidup.
“…Makanya, kalau kita punya
KEMAMPUAN, antarkanlah orang lain kepada IMPIANNYA. Atau kata lainnya; CIPTAKANLAH
PANGGUNG untuk orang lain.”
Usai sholat Ashar, aku diminta
bang Wira untuk mengisi 5 buah soal yang akan menerjemahkan Cara Belajar dan
Berprilakuku. Hanya 5 buah soal memang, tapi jawabannya sangat membuat hati
bimbang. Ada 3 jawaban untuk masing-masing soal dan aku harus mengurutkannya
dari mulai yang ‘Gue banget’ sampai yang bukan ‘Gue banget.’ Setelah ditotalkan
dengan menggunakan rumus, hasilnya adalah 11A 11K dan 8V.
A= Auditory
K = Kinestetik
V = Visual.
“Apa Lis yang tertinggi?” tanya
bang Wira.
“Emmm.. A dan K kok sama ya Bang
hasilnya?” tanyaku balik.
“Ohhhh… pantesan.”
“Pantesan apa Bang?”
“Gini, Auditory itu berarti
cenderung suka menyimak, mendengarkan sedangkan Kinestetik itu adalah tipe
orang yang nggak betah kalau duduk berlama-lama dan lebih suka bergerak bebas. Nanti,
carilah pekerjaan yang menggabungkan 2 unsur ini. Elis tipenya adalah learning
by doing. Baca bukunya dikit aja dan langsung prakteknya. Sedangkan orang-orang
Visual itu sangat mementingkan penampilan. Elis nggak suka make up kan? Makanya
V-nya rendah. Intinya, berpenampilan sesuai kenyamanan aja.”
“Hemmm…bener banget tuh Bang!”
“Itulah sebabnya tulisan Elis
agak berantakan. Untuk ide dan kreativitas bolehlah, tapi untuk kerapian
tulisan, serahkan aja deh ke editor. Hehee,” lanjut bang Wira.
“Hehee… emangnya seberantakan apa
sih tulisan Elis, Bang? Heehe.”
Aku harus buru-buru permisi
kepada bang Wira, Yoga dan Misnan karena pukul 4 ini sudah terjanji dengan
dengan teman-teman URC dan MURC untuk mengadakan diskusi ilmiah tentang Ekonomi
Islam bersama dek Afif. Eh, sesampainya di TKP ternyata baru ada dek Reza dan
dek Afif. Grrr… yang lainnya pada ke manaaaa nih?
Teman-teman udah pada di mana? Baru ada Reza,
Afif dan aku loh di sini. Segera datang yaa.
Tulisku di 2 grup itu. tapi…
still silent, stil no respon. PENGABAIAN macam inilah yang membuatku sering
memilih BUNGKAM ketika mereka sedang mendiskusikan sesuatu di grup. Ini semacam
bentuk protes dan BALAS DENDAM. Balas Dendam? Ya! Balas dendam. Aku dendam
dengan PENGABAIAN. Dan membalas MENGABAIKAN adalah caraku membebaskan dendam.
“Kita lanjut aja ya sekalipun
hanya bertiga! Mohon maaf ya Dek Afif,” kataku.
“Nggak apa-apa Kak. Sedikit
asalkan fokus lebih baik Kak.”
“Fif, Za mau nanya. Jadi, sejauh
ini bank syariah yang benar-benar syariah itu baru bank Muamalat ya? Gimana nih
Fif? Kami harus ganti Bank berarti? Tapi, alasan Za masih pakai BRI itu karena
ATMnya banyak di mana-mana, transfer beda bank juga cepat dan potongannya
sedikit. Kalau pakai bank Muamalat agak Rp 25.000 juga potongannya kalau nggak
salah. Apalagi kalau mau narik uang beasiswa Za yang selama ini pakai bank BRI.
Gimana tuh?”
“Za, kebenaran itu kan nggak
kenal PEMAKLUMAN. Hukum tetaplah HUKUM. Nggak akan berubah dari asalnya yang
HARAM, lantas menjadi HALAL dikarenakan satu atau beberapa alasan. Kecuali,
kalau kita tinggal di tempat terpencil dan untuk mencapai ATM, harus menempuk
puluhan kilo meter dan yang ada pun hanya ATM bank konvensional, nah itu baru
kondisi darurat dan keterpaksaan karena nggak ada pilihan lain. Tapi, ini kan
kita tinggal di kota, akses ke mana-mana mudah, fasilitas lengkap, apa lagi
yang menghalangi kita untuk taat?” jelas Afif.
“Huhuuhuuu.. Kak
Eliiiissss..berarti PR kita setelah diskusi ini adalah PINDAH BANK, Kak!
huhuuuhu,” kata Reza.
Aku tertawa melihat tingkahnya
itu. haha.
“…konsep EKONOMI Modern itu
adalah MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN sedangkan konsep EKONOMI Islam adalah
MENGOPTIMALKAN KEUNTUNGAN. Terasa kan bedanya? Betapa mulianya agama Islam ini.
Sangat mengutamakan kesejahteraan dan kemaslahatan hidup. Makanya, Afif
berencana ngambil S2 Ekonomi Islam di UK. Karena apa yang Afif tahu ini baru
kulitnya saja dan butuh didalami lagi.”
“Di UK ada jurusan Ekonomi Islam
Dek?” mataku membulat, berbinar.
“Ada Kak. Justru Bank Centralnya
adalah Bank Syariah.”
"Huahhh... luar biasaaaa!"


Tidak ada komentar:
Posting Komentar