Kamis, 10 Desember 2015

Aku Dendam dengan Pengabaian



Setelah sholat Zuhur, aku segera bersiap-siap untuk ke Krema Kafe di jalan Rajawali Sukajadi, ada janji temu dengan tim HIGH IMPACT Public Speaking hari ini. Di perjalanan menuju Krema, aku baru tersadar bahwa pagi ini aku nggak produktif. Bahkan, diary tentang hari kemarin pun belum selesai. Hiksss.
Kalau sudah tiada, baru terasaaa..
Lagu dangdut itu bener banget ya maknanya. Bukan hanya tentang perpisahan, tapi juga tentang kesia-siaan. Selagi ada, kita memang sering abai. Aku terus melaju dengan kecepatan sedang. Tapi…tiba-tiba.. BRUUUKKKKKKKkk!
2 motor di depanku sam-sama jatuh ntah bagaimana ceritanya. Mungkin, aku terlalu fokus untuk berhati-hati mengitari tugu Songket ini dan kejadiannya pun sangat cepat terjadinya. Aku hanya melintas perlahan lalu kembali melaju. Maaf yaaa Allah, hamba benar-benar buru-buruu. Ada beberapa orang yang sigap menolong mereka. Aku menduga salah satu dari pengendara motor itu ada yang berbelok mendadak sementara yang satunya lagi ngebut. Tiba-tiba aku teringat dengan keluargaku nun jauh di sana…

“Ya Allah, hamba mohon jagalah keluargaku dari segala macam bentuk KECELAKAAN dalam PERJALANAN dan PEKERJAAN. Izinkan kami menghadapmu dalam kondisi tubuh yang baik, terpuji dan dengan hati yang RIDHO lagi Engkau RIDHOI. Aamiin.”
Bukankah untuk perkara sandal putus pun kita harus meminta pertolongan kepada Allah? Apalagi untuk hal serius seperti ini.

***

“Baru sampai juga ya Kak?” tanya Bung Misnan padaku.
“Iyaa. Sama kita. Eh, itu mobilnya Bang Wira atau bukan ya?”
“Bukan kayaknya.”
“Hemmmm… berarti Bang Wira belum datang nih! Kita langsung ke atas aja yuk?”
Setelah memesan minuman, aku minta tolong kepada Misnan untuk memfotokanku. Ini nih enaknya kalau difotoin cowok, dia nggak merasa keberatan kalau kita suruh ngulang lagi dan lagi motion kita karena hasilnya kurang sesuai dengan keinginan. Ehhee. Kalau sama cewek kan pastinya harus ada imbalannya; gantian motoin dia sebanyak yang udah dijepretkan. Huahhhh

“Meskipun sudah berkali-kali aku kemari, tetap saja ada cara baru untuk menikmati momennya. Selalu ada cara baru untuk berfoto di tempat yang sama. Sebab aku tak pernah kehabisan cara untuk MENIKMATI.”

Yoga baru saja datang. Di luar dugaan, ternyata Yoga pun minta difotokan dengan angel persis seperti saat Bung Misnan ku fotokan. Huahhh.. ternyata Yoga ketularan narsis pemirsaaa.
“Padahal Yoga udah sering ke sini loh Kak, tapi baru kali ini foto-foto,” Yoga mengakui sesuatu.
“Haaa…tu kan! Kalau nggak ngelihat Kakak, mungkin Adek nggak bakal kefikiran kan buat foto-foto kayak gini?”
“Iyaaa. Yoga yakin dah kalau Kak Elisss yang motoin! Hahaa.”
2 cowok lugu ini nurut aja ketika ku arahkan pose mereka pada beberapa spot background. Anehnya, mereka selalu bilang kalau jepretanku bagus. Alhamdulillah. Sampai bang Wira terheran ketika ia baru tiba…

“Ndehhh… ada sesi foto pula ternyata orang ini!” celetuknya.
“Memanfaatkan waktu menunggu Bang, ehhee.”
“Tadi banyak yang nanya tentang acara HIGH IMPACT PUBLIC SPEAKING besok, makanya Abang tertahan di beberapa tempat.”
“Ooohhhh..gituu. Yuk kita mulai bahas konsep acaranya Bang!” ajakku.

Bang Wira mulai menjelaskan desain training HIGH IMPACT PUBLIC SPEAKING yang akan dilaksanakan hari Minggu ini. Ini nih yang aku saluti dari bang Wira; Dunia training ini sudah seperti hembusan nafas baginya, sehingga ilmu dan wawasannya tentang training sangat luas. Bang Wira memang tidak pernah main-main kalau berbicara tentang training, komunikasi atau psikologi. Dahsyat! Dia adalah guruku. Lebih dari itu, hampir setiap pertanyaanku selalu ia jawab dengan judul buku. Aku sudah sering menuliskan tentang ini di beberapa medsosku.

“Intinya di training kali ini ada 2 goal untuk peserta; 1. Self Mastery. Peserta akan diminta untuk mengeksplorasi diri; siapa dia, apa tujuan hidupnya, apa nilai hidupnya. Sehingga nantinya dia akan pede ketika berbicara dan nggak pakai topeng lagi. Dari sini, akan lahir VISI HIDUP. 2. Public Speaking Mistery. Peseta akan diarahkan untuk bisa berbicara yang ‘Gue bangeeet!. Inilah alasannya, di sesi awal, Abang adakan Self Mastery yang tujuannya mengubah mindset dulu, setelah itu barulah dilatih public speakingnya. Kenapa bisa muncul tindakan? Karena fikiran MENGIYAKAN. Kenapa bisa timbul kebiasaan? Karena terjadi pengulangan tindakan. Makanya, hati-hati dengan fikiranmu!”

“Oooo…gituuuuu..” anggukku, berkali-kali.
Tak terbatas membicarakan training dan atau public speaking, bang Wira juga mengajari kami nilai hidup.
“…Makanya, kalau kita punya KEMAMPUAN, antarkanlah orang lain kepada IMPIANNYA. Atau kata lainnya; CIPTAKANLAH PANGGUNG untuk orang lain.”
 
Usai sholat Ashar, aku diminta bang Wira untuk mengisi 5 buah soal yang akan menerjemahkan Cara Belajar dan Berprilakuku. Hanya 5 buah soal memang, tapi jawabannya sangat membuat hati bimbang. Ada 3 jawaban untuk masing-masing soal dan aku harus mengurutkannya dari mulai yang ‘Gue banget’ sampai yang bukan ‘Gue banget.’ Setelah ditotalkan dengan menggunakan rumus, hasilnya adalah 11A 11K dan 8V.
A= Auditory
K = Kinestetik
V = Visual.

“Apa Lis yang tertinggi?” tanya bang Wira.
“Emmm.. A dan K kok sama ya Bang hasilnya?” tanyaku balik.
“Ohhhh… pantesan.”
“Pantesan apa Bang?”

“Gini, Auditory itu berarti cenderung suka menyimak, mendengarkan sedangkan Kinestetik itu adalah tipe orang yang nggak betah kalau duduk berlama-lama dan lebih suka bergerak bebas. Nanti, carilah pekerjaan yang menggabungkan 2 unsur ini. Elis tipenya adalah learning by doing. Baca bukunya dikit aja dan langsung prakteknya. Sedangkan orang-orang Visual itu sangat mementingkan penampilan. Elis nggak suka make up kan? Makanya V-nya rendah. Intinya, berpenampilan sesuai kenyamanan aja.”

“Hemmm…bener banget tuh Bang!”
“Itulah sebabnya tulisan Elis agak berantakan. Untuk ide dan kreativitas bolehlah, tapi untuk kerapian tulisan, serahkan aja deh ke editor. Hehee,” lanjut bang Wira.
“Hehee… emangnya seberantakan apa sih tulisan Elis, Bang? Heehe.”

Aku harus buru-buru permisi kepada bang Wira, Yoga dan Misnan karena pukul 4 ini sudah terjanji dengan dengan teman-teman URC dan MURC untuk mengadakan diskusi ilmiah tentang Ekonomi Islam bersama dek Afif. Eh, sesampainya di TKP ternyata baru ada dek Reza dan dek Afif. Grrr… yang lainnya pada ke manaaaa nih? 

Teman-teman udah pada di mana? Baru ada Reza, Afif dan aku loh di sini. Segera datang yaa.

Tulisku di 2 grup itu. tapi… still silent, stil no respon. PENGABAIAN macam inilah yang membuatku sering memilih BUNGKAM ketika mereka sedang mendiskusikan sesuatu di grup. Ini semacam bentuk protes dan BALAS DENDAM. Balas Dendam? Ya! Balas dendam. Aku dendam dengan PENGABAIAN. Dan membalas MENGABAIKAN adalah caraku membebaskan dendam.

“Kita lanjut aja ya sekalipun hanya bertiga! Mohon maaf ya Dek Afif,” kataku.
“Nggak apa-apa Kak. Sedikit asalkan fokus lebih baik Kak.”


“Fif, Za mau nanya. Jadi, sejauh ini bank syariah yang benar-benar syariah itu baru bank Muamalat ya? Gimana nih Fif? Kami harus ganti Bank berarti? Tapi, alasan Za masih pakai BRI itu karena ATMnya banyak di mana-mana, transfer beda bank juga cepat dan potongannya sedikit. Kalau pakai bank Muamalat agak Rp 25.000 juga potongannya kalau nggak salah. Apalagi kalau mau narik uang beasiswa Za yang selama ini pakai bank BRI. Gimana tuh?”

“Za, kebenaran itu kan nggak kenal PEMAKLUMAN. Hukum tetaplah HUKUM. Nggak akan berubah dari asalnya yang HARAM, lantas menjadi HALAL dikarenakan satu atau beberapa alasan. Kecuali, kalau kita tinggal di tempat terpencil dan untuk mencapai ATM, harus menempuk puluhan kilo meter dan yang ada pun hanya ATM bank konvensional, nah itu baru kondisi darurat dan keterpaksaan karena nggak ada pilihan lain. Tapi, ini kan kita tinggal di kota, akses ke mana-mana mudah, fasilitas lengkap, apa lagi yang menghalangi kita untuk taat?” jelas Afif.
“Huhuuhuuu.. Kak Eliiiissss..berarti PR kita setelah diskusi ini adalah PINDAH BANK, Kak! huhuuuhu,” kata Reza.
Aku tertawa melihat tingkahnya itu. haha.



“…konsep EKONOMI Modern itu adalah MEMAKSIMALKAN KEUNTUNGAN sedangkan konsep EKONOMI Islam adalah MENGOPTIMALKAN KEUNTUNGAN. Terasa kan bedanya? Betapa mulianya agama Islam ini. Sangat mengutamakan kesejahteraan dan kemaslahatan hidup. Makanya, Afif berencana ngambil S2 Ekonomi Islam di UK. Karena apa yang Afif tahu ini baru kulitnya saja dan butuh didalami lagi.”
“Di UK ada jurusan Ekonomi Islam Dek?” mataku membulat, berbinar.
“Ada Kak. Justru Bank Centralnya adalah Bank Syariah.”
"Huahhh... luar biasaaaa!"

Tidak ada komentar: